Delia merasa bingung, tidak bisa hanya menonton dan menunggu, dia lalu berkata pada Reagan, “Minumanku sudah habis, bisakah aku meminta minumanmu?”
“Oh, sure, ambillah!” ucap Reagan tanpa pinggir panjang.
Delia mengangkat tangannya dan menuangkan susu milik Reagan ke dalam gelasnya. Dan apa yang terjadi? Susu itu terasa menyengat di tenggorokannya, tidak hanya itu, perutnya sudah mulas dan tidak bisa tertahankan.
Ekspresi Delia sangat lucu sekali, dan Reagan tidak bisa menahan senyum liciknya.
“Delia, ada apa denganmu?” Reagan berpura-pura terkejut, padahal dalam hati dia sudah bisa menebak hasilnya.
Sejak tadi perutnya juga ingin meledak, tidak hanya itu, rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun Reagan menahannya sejak tadi, hanya agar Delia beranggapan bahwa rencananya telah gagal.
“Reagan, Reagan, apa kamu baik-baik saja?” tanya Delia sambil meringis.
“Kenapa? Aku baik-baik saja, apa yang bisa terjadi padaku?”
“Kamu! Kamu! Pergilah!” Delia langsung berlari meninggalkan Reagan, seolah dia bisa terlambat kapan saja.
Reagan menahan perutnya karena tertawa, “Kamu yang duluan menjebakku, Nona manis!”
Dia kemudian pergi dari tempat itu, namun rasa panas kini menyerang seluruh organ tubuhnya terutama organ bagian bawah yang siap meledak kapan saja.
“Shiiittt! Ternyata gadis itu memberiku obat penambah gairah!” gerutu Reagan di dalam hati.
“Bagaimana ini? Siiaall!” Tidak hentinya dia mengumpat.
Wajah Reagan bak dipenuhi kabut hitam, siapa yang akan menyembuhkan hasratnya? Perasaan mendesak ini terus mendorongnya. Wajahnya semakin mengeras dan pembuluh darahnya bahkan seperti mau keluar.
Bagai pucuk dicinta ulampun tiba, di tempat dia terus berjalan, Reagan bertemu dengan Claire, sosok perempuan yang seakan menghantuinya sejak menginjakkan kaki di kota New York.
“Kamu?”
“Claire?”
Mereka saling memanggil, di atas jembatan yang sangat tinggi, entah apa yang dilakukan Claire di situ, Reagan kemudian bertanya dengan penasaran.
“Nona cantik, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku tidak punya kewajiban untuk memberitahumu, kan?” kata Claire meski dengan seulas senyuman.
“I−iya, benar juga.”
Semakin waktu bergulir, semakin Reagan tidak bisa menahan hasrat yang terus memuncak, tanpa pikir panjang dia langsung meraup bibir Claire.
Claire yang mendapat serangan mendadak, langsung mendorong tubuh pria itu. Tapi, kekuatan Claire tidak sebanding dengan kekuatan Reagan.
Reagan langsung mendorong Claire masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya dengan terburu-buru.
Keesokan harinya di sebuah kamar hotel, Reagan mengerjapkan matanya. Dia yang masih setengah sadar langsung merasakan sakit kepala saat membuka kedua matanya. Tapi mengingat semalam dia telah dijebak oleh Delia, dia pun juga mengerti.
“Entah apa apa yang dimasukkan oleh gadis nakal itu, huh!” gumam Reagan.
“Jika bukan karena obat sialan itu, aku tidak akan tiba di tempat ini. Ternyata hidup di kota besar tidak seindah tinggal di desa kecil.”
Reagan baru satu hari di New York, tapi masalah terus datang setiap jam bahkan setiap menit. Hingga hari ini, dia merasa pusing.
Tunggu!
Reagan tiba-tiba merasa di sebelahnya seperti masih ada satu orang, dia melihat ke sebelah dengan pelan, dan ternyata ada satu wanita cantik dengan selimut menutupi tubuh polosnya.
Di samping bibirnya yang tersenyum manis itu ada dua lesung pipi, kedua kakinya yang panjang nampak tidak tertutupi selimut dengan sempurna.
Dadanya yang besar berukuran 36D juga sangat besar terlihat dari luar selimut, bahkan saat ini Reagan berharap memiliki mata yang bisa tembus pandang.
Tapi, itu bukan yang paling menusuk matanya. Yang paling menusuk mata adalah darah di atas ranjang.
“Oh my God, apa dia beneran masih perawan?” Reagan mengucek matanya yang tidak gatal, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Wanita perawan saat ini, apalagi di kota besar seperti New York sungguh sangat langka. Dia bisa mendapatkan keperawanan dari seorang wanita cantik bernama Claire Cecilia Delaney, ini adalah kemenangan dari hasil perjuangannya melewati kesialan dalam 1 hari ini.
Di saat Reagan sedang mengingat kejadian semalam dan pertemuan mereka hingga berakhir di ranjang king size ini, kepalanya semakin sakit.
“Ahhh, benar-benar sial!”
“Tapi bagaimana kalau kita buat kesialan selanjutnya, Nona Claire!”
Reagan mendekatkan wajahnya pada wajah Claire yang sedang terpejam, lalu melihat darah yang menusuk mata. Reagan benar-benar tidak tega melukai gadis cantik di sampingnya ini.
Tidak tahu kenapa, muncul rasa kasihan di hatinya. Reagan menggelengkan kepalanya, dia langsung meminum air yang tidak tahu kapan dituangnya, lalu dia mengelus pipi Claire yang lembut, bahkan gadis itu masih terlihat cantik saat tidur lelap.
“Menggoda wanita juga tidak salah, kan?” bisiknya di dalam hati.
Dia kemudian bangkit dan berjalan ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Reagan berdiri di depan cermin, menatap wajahnya yang kini sudah bersih, dia baru menyadari bahwa dirinya sangat tampan, tidak kucel dan bau seperti kemarin. Pantas saja para wanita itu memandang jijik padanya.
Aktivitas apapun yang Reagan lakukan di ruangan yang besar itu, Claire masih terus memejamkan matanya, seolah dia tidak akan terbangun walau dunia runtuh sekalipun.
Saat yang sama, mata Reagan tertuju pada pakaian yang robek di lantai, dia merasa sedikit malu mengingat betapa hebat performanya semalam.
Reagan melihat jam yang tergantung di dinding, baru pukul 08.00 pagi, mata kuliah pertama dimulai pukul 10.00 jadi dia masih memiliki waktu 2 jam untuk bersantai.
Reagan melihat kertas dan bolpoin di atas meja, kemudian punya ide untuk menuliskan sesuatu di sana, barangkali dia bisa meninggalkan pesan untuk Claire.
Waktu terus berjalan, Reagan tidak mungkin menunggu sang putri tidur bangun, dia memesan pakaian ganti dan sarapan dari pihak hotel. Reagan tidak tahu sarapan apa yang biasa di makan oleh Claire, dia hanya asal memesan.
Di dalam kertas putih itu, Reagan menulis, “Hai, Nona Claire. Terima kasih untuk malam indahmu, sentuhanmu benar-benar memuaskan. Sekedar pemberitahuan bahwa aku juga perjaka, jadi sebenarnya kita impas. Namun, jika kamu ingin pertanggungjawaban, hubungi aku di nomor (347) 555-1234.”
Berpikir untuk menciumnya sekali lagi, Reagan baru meninggalkan gadis itu. Sangat jarang bisa bertemu dengan wanita yang menggoda seperti ini, apalagi dia adalah gadis yang sangat cantik.
Reagan baru saja pergi, Claire baru membuka matanya. Dia melihat punggung Reagan yang menjauh, hatinya langsung dipenuhi dengan kekesalan dan penyesalan. Claire menggerakkan badannya dan merasakan tubuh bagian bawahnya sangat sakit, dia menggigit bibirnya menahan rasa perih.
Saat mendongakkan kepala, Claire melihat kertas dan sarapan di atas meja, ada juga baju ganti di atas sofa. Jika dipikir-pikir pria ini sungguh teliti.
Claire mengambil kertas di atas meja, membaca tulisannya dengan seksama, lalu mengumpat dengan sangat marah, “Dasar, pria sialan! Akan kubunuh kau!”
Dan Reagan saat ini sedang duduk minum kopi di sebuah coffee shop dengan gaya santai.“Hhhmm, setelah bercinta, hal yang paling menyenangkan adalah istirahat sejenak sambil minum kopi.” Reagan sedang berpikir dengan tenang, tapi dalam sekejap ketenangannya hilang.“Delia, bagaimana gadis polos nan lembut seperti kamu bisa melakukan hal tolol seperti ini?” gumam Reagan dalam hatinya.Baru setelah memikirkan hal yang mengecewakan ini, ponsel keluaran lama ditambah nama seseorang yang dicintainya muncul di situ.“Reagan, kamu sekarang di mana?” Suara yang sangat bermartabat itu terdengar, tidak perlu ditebak, dia adalah ayah Reagan yang saat ini menetap di Australia.Reagan berkata dengan pasrah, “Ayah, jangan menghubungiku jika masalah tambang itu belum ada kabar baiknya. Sebaiknya Ayah kembali ke New York dan aku akan menghidupi kalian di sini.”Anthony, ayah Reagan berkata, “Kamu bicara apa? Sebaiknya kamu yang pindah ke sini, tambang litium kita sudah menghasilkan dan ayah menduga ha
Sementara di sebuah pintu gerbang bergaya Eropa, berdiri belasan bodyguard. Melihat mobil Elenio berjalan masuk, langsung semuanya menegakkan postur tubuh berdiri, ingin menunjukkan yang terbaik dihadapan bosnya.Supir perlahan menghentikan laju mobil, segera cepat-cepat turun dari mobil dan membuka pintu penumpang belakang, Elenio dengan wajah suram berjalan keluar.Dia tidak berucap sepatah kata pun berjalan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba menghentikan langkahnya sejenak, memalingkan wajahnya ke belakang dan berkata kepada seorang bodyguard, “Hari ini perketat pengamanan, tanpa seijinku, seekor lalat pun tidak boleh sampai masuk, mengerti?”“Baik!” Bodyguard segera menjawab.Kembali ke kamar tidur, Elenio duduk di sofa, perlahan menghembuskan napasnya. Di dalam rumah yang dijaga dengan sangat ketat ini, dia barulah mendapatkan perasaan aman.Sejujurnya, waktu Elenio mendengar Claire bersama dengan seorang pria asing masuk ke dalam hotel, dia sangat terkejut.Tapi malam itu, Elenio l
Namun belum sempat Reagan menjawab, Claire yang berdiri di samping mobil menjadi sedikit pusing, dan kakinya terasa lemas saat terkena angin.Reagan merasa kesal, langsung meraih ponsel gadis itu dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu menggendongnya dan pergi ke sisi lain mobil.Claire terkejut saat merasakan tubuhnya diangkat, dia buru-buru meraih kemeja pria itu dengan satu tangan dan wajahnya semakin pucat.“Reagan, turunkan aku!” Ada banyak mahasiswa yang melihatnya.Reagan mengabaikannya dan membuka pintu penumpang, lalu mendorong Claire masuk ke dalam.“Reagan, kamu gak dengar ya?” Claire berkata dengan dingin saat melihat pria itu memakai sabuk pengaman, “Aku bisa cari sopir dan kamu gak perlu khawatir. Kamu pulang saja dan persiapkan diri kamu untuk besok!”Reagan menatap wajahnya yang penuh kesedihan tapi tetap keras kepala, hal ini membuat ada debaran halus di dalam jantungnya, “Cuaca sedang sangat buruk, kalau mau memanggil sopir juga tidak bisa datang dengan cepat. Kamu saat
Keesokan harinya, Claire menjemput Reagan di kontrakan kecilnya, mereka lantas bersama-sama menuju mansion mewah milik keluarga Delaney.Mansion keluarga Delaney terletak di tengah-tengah gunung buatan. Mansion ini memiliki 3 lantai dan dekorasinya sangat mewah.Halamannya sendiri berukuran sebesar lapangan sepak bola Real Madrid. Di kota besar seperti New York, rumah mewah seperti ini cukup lumrah, namun yang memiliki rumah seluas ini mungkin tidak banyak.Dilihat dari sini, jelas, Claire adalah orang kaya.Mobil mendekat dan semakin dekat.“Claire, berhentilah sebentar.” Reagan menghentikan laju mobilnya dan membuat Claire kesal.“Ada apa?” tanya Claire.“Aku lupa membawa hadiah.”“Keluargaku tidak membutuhkan apapun, jika kamu ingin membawa sedikit hadiah, kamu cukup membeli buah-buahan.”“Oh, kalau begitu kita berhenti di mini market sana!” Reagan menunjuk ke arah mini market dekat mansion mewah itu, yang dia tidak tahu bahwa di sebelahnya adalah rumah Claire.Claire tidak banyak
Claire bahkan lebih bahagia, menahan tawanya dan memberikan kode pada Reagan untuk berhenti berakting. Lalu dia maju selangkah dan berkata dengan serius, “Ma, Pa, aku mengenal Reagan di kampus. Kami berada di vakultas yang sama, kami saling jatuh cinta. Reagan memang bukan orang kaya, tapi dia pria yang tulus.”“Claire, apa yang kamu ucapkan?” Nyonya Delanny langsung berteriak, “Jangan berbohong padaku dan papamu. Bahkan jika kamu tidak setuju untuk menikah dengan Elenio, kamu juga tidak bisa sembarangan menarik orang di jalan.”“Ma, kapan kamu pernah mengajarkan aku berbohong. Mama paling tahu aku sejak kecil, apa aku pernah membohongi kalian?”Putri mereka benar-benar sudah gila dan dibutakan cinta, bisa dikatakan dia adalah gadis paling bodoh yang menolak Elenio.“Anak muda, siapa namamu?” tanya tuan Delanny. Karena putrinya mengatakan mereka saling mencintai, paling tidak dia perlu tahu latar belakang Reagan.Reagan menoleh ke arah Claire sebelum menjawab, mungkin gadis cantik itu
Dia lalu menyeret Reagan untuk pergi.Sesampainya di mobil, Reagan melajukan mobil itu dengan tenang.Dia berhenti di sebuah taman, kemudian bertanya lagi pada Claire, “Masalah keluargamu sudah selesai, lalu ada masalah apa lagi yang butuh bantuanku?”Claire terkekeh sinis, sorot matanya menajam, “Kamu serius mau aku jadi kekasihmu? Oke, anggaplah masalah hari ini selesai. Anggap juga aku sudah gila karena menarikmu untuk menjadi pacar pura-pura.”“Lalu, kalau rencana selanjutnya adalah mengambil akta nikah, kamu mau kasih aku makan pakai apa? Pakai uang dari kiriman orang tuamu yang tidak seberapa itu?”Reagan tetap teguh dan tersenyum, “Pertama, yang dikirimkan oleh orang tuaku bukan uang mereka, tapi uangku pribadi. Kedua, aku gak seburuk yang kamu bayangkan.”Claire bertanya lagi dengan ekspresi tak percaya bertanya, “Apa yang membuatmu yakin bahwa aku memang serius mengajakmu mengambil akta nikah? Apa kamu percaya aku akan mengorbankan segalanya untukmu yang miskin dan mempertaru
Melihat ketegangan yang terus terjadi diantara Claire dan gadis itu, Reagan lantas menyeret Claire untuk pergi dari sana.“Siapa dia?” tanya Reagan setelah dia berhasil membawa Claire pergi.“Bukan urusan kamu!” Claire yang duduk di kursi kemudi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.“Kamu gila? Kita bisa mati kalau kamu ugal-ugalan seperti ini!” seru Reagan dengan nada tinggi.“Sudah tahu rasanya mati?” tanya Claire sembari menurunkan laju mobilnya.“Akta nikah, bagaimana cara menghidupiku. Tuan Reagan harus memikirkan itu sesampainya di rumah.”Claire menurunkan Reagan di depan sebuah kontrakan kumuh, dia bergidik ngeri karena ternyata masih ada tempat seperti ini di New York. Sungguh pemandangan yang kontras dengan hiruk-pikuk kotanya yang ramai dan besar.“Sampai jumpa, Nona Claire,” ucap Reagan sambil memanyunkan bibirnya membentuk tanda kiss.Claire membuang wajahnya jijik, dan itu mampu membuat Reagan tertawa terbahak-bahak.Setelah kepergian Claire, Reagan Kembal
“Kamu hanya perlu mengikutinya.”“Siap, Bos!” Erik segera menganggukkan kepala.“Panggil aku Reagan saja, aku tidak suka mengintimidasi orang dan menggunakan kekayaan untuk mendapatkan hal yang tidak tulus.” Reagan berkata.“Baik, Reagan, aku tuangkan lagi teh untukmu.” Erik tersenyum gembira.Tengah malam, Reagan dan Erik pulang ke rumah. Tapi di Tengah jalan, mereka mendengar ada keributan dari salah satu rumah.Reagan masih membawa karakter orang desa-nya, yang selalu peduli pada lingkungan sekitar yang membutuhkan.“Bagaimana kalau kita lihat, barangkali mereka membutuhkan bantuan,” ucap Reagan pada Erik.“Ini kota besar, orang tidak suka jika urusannya dicampuri orang lain, apalagi orang asing seperti kita. Pulang saja!” Erik menarik tangan Reagan.Suara keributan semakin intens terdengar, Reagan tidak bisa pulang begitu saja.Dia semakin mendekat karena rasa penasaran yang membuncah. Saat tiba di depan pintu karena gerbang yang terbuka, Reagan semakin merasa ada yang tidak beres
Satu tangan terkilir dan diputar ke belakang. Gagang pisau yang masih di tangan pria itu, menyisakan sedikit patahan besi runcing. Jika pria itu cukup cerdik, dia bisa menghunus perut Reagan dengan itu. Sayangnya, dia tidak cukup pintar. Seringai di wajah Reagan membuat pria itu merinding. “Kamu tidak akan bisa mematahkan satupun tulangku, bajingan! Pria rendahan sepertimu sebentar lagi akan takluk pada kematian!” ucapnya. Berusaha menggoyahkan Reagan dengan kalimat-kalimat intimidasi. “Berhenti mengatakan omong kosong! Sekarang katakan padaku siapa yang menyuruhmu atau kamu memang sengaja memintaku mematahkan tulang ekor!” Ketika Reagan melayangkan ancamannya, pria itu bungkam seketika. Antara hidup dan mati saat ini nyawanya dipertaruhkan. Dia melirik ke arah temannya yang tergeletak mengenaskan. Tidak bergerak pun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Apakah dia sudah mati? Sialan! Bahkan di sisa hidupnya saja dia menyebalkan! Pria itu kini hanya bisa berdialog dengan diri
Saat ini Reagan mengusap wajahnya frustasi. Di depannya, Delia menatapnya dengan penuh harap. “Bagaimana? Kamu mau ‘kan, Reagan?” Delia bertanya lagi. Dia meluruskan pandangannya pada Delia. Benar-benar serius. “Kita akan bahas masalah ini lain kali,” ujar Reagan dengan nada dingin. “Aku harus mencari seseorang.” Reagan hendak pergi, tetapi Delia menahannya, “Kamu mau cari Claire?” Niat Reagan tertahan. Raut wajah Delia kini berubah murung. “Apakah kamu… ada hubungan dengannya?” Kali ini dia terdengar sangat kecewa.Reagan menghela napas berat. Dia tidak merasa harus mengklarifikasi apapun pada siapapun. Delia bisa merasakan dinginnya sikap Reagan. Sesuatu yang tidak pernah dia temukan sebelumnya. “Tolong berhenti mencari tahu,” ucap Reagan. Dia hanya melontarkan beberapa kata, tetapi ucapannya cukup menusuk dada. Setelah mengatakan itu dan menyisakan kebekuan di hati Delia, Reagan pergi dengan cepat. Siapapun yang berpapasan dengannya, lekas menyingkir karena aura kuat yang pe
Tidak hanya penonton dan tamu yang datang ke acara itu yang terkejut. Reagan juga diam mematung di tempatnya. “Delia! Penggemar rahasia wanita terbaik malam ini!” Suara pembawa acara semakin membuat kesadaran Reagan hilang.“Delia?” Reagan bergumam lirih. Terlalu terkejut untuk menerima kenyataan. Di tempatnya berdiri Delia melempar senyum tipis nan malu-malu ke arahnya. Dia bahkan tidak segan menghampiri Reagan dan meraih tangan pria itu. “Hai, Reagan! Aku tidak menyangka kamu yang akan menjadi pasangan penggemar rahasiaku,” ujar Delia girang. “Dan aku akan menjaga rahasia tentang kita,” ucap Delia. Dia kini sudah mendekatkan wajahnya ketika mengatakan itu. Tubuh Reagan langsung menegang, tetapi dia juga tidak ingin terlihat lemah di hadapan Delia. Detik itu juga Reagan menyadari, dia telah salah langkah. “Ikut aku,” ucap Reagan tegas. Dia meraih tangan Delia kemudian memboyong gadis itu meninggalkan bilik. Semua orang melempar pandang ke arah mereka, penuh tanya. Bisik-bisik
Bilik penggemar rahasia berisi dua pintu. Akan ada satu orang pria dan satu orang wanita yang dipilih secara acak dari nomor gelang yang mereka pasang dengan sistem. Saat ini, panitia sedang mempersiapkan dua orang yang akan masuk ke dalam bilik. Keduanya tidak akan mengetahui siapa yang akan keluar jadi pasangannya dari bilik itu. “Nomor gelang tiga belas!” Satu panitia laki-laki bertugas memanggil kandidat lelaki di barisan. Merasa nomornya dipanggil, Reagan mengangkat tangan. “Kamu nomor tiga belas? Kemarilah!” kata pria itu. Reagan menurut. Berjalan santai mendekatinya. Dia tahu ini terlalu beresiko. Apalagi dia membawa Claire bersamanya. Bagaimana jika nantinya bukan Claire yang ditemui di bilik itu? Dia cukup khawatir ketika memikirkannya, tetapi, di sinilah tantangannya. “Kamu siap untuk masuk ke bilik?” tanya sang panitia. Reagan mengangguk. “Semoga orang di balik bilik itu adalah orang yang memang kamu harapkan,” sambungnya lagi. Panitia menyuruh Reagan masuk ke dalam bi
“TRING”Tambahan angka seribu muncul di kredit salah satu finalis. Para penonton tercengang dengan hasil yang terpampang di layar besar.Terdengar wanita hologram bersuara lagi. “Selamat! Tambahan seribu poin untuk SpectraVant!”“SpectraVant, kamu telah memenangi kompetisi peretas internasional. Berikan ucapan selamat untuknya!”Kemenangan telak telah diumumkan. Suara pendukung Reagan mulai bergemuruh menyorakkan kemenangan. Sedang Reagan sendiri di balik topengnya tersenyum tipis.Dia tahu dia bisa mendapatkan nilai sempurna dalam lima tugas itu, tetapi dia tidak berniat untuk memamerkan kemampuan
Poin diungguli oleh Black Code. Kompetisi menjadi semakin sengit. Hanya perlu menambahkan poin sempurna di tugas terakhir untuk Black Code, dia menjadi kandidat terkuat untuk menang saat ini.“Tidak masalah, SpectraVant. Sejauh ini Anda sudah melakukan yang terbaik. Selesaikan salah satu tugas untuk mendapatkan poin dan menyeimbangkan lawan!” Wanita hologram itu menyemangati Reagan yang masih berkutat dengan perintah di perangkat lunak.Saat ini kamera membidik Reagan. Menaruh fokus dunia padanya. Topeng anonim yang dia pakai semakin mempersulit massa untuk menduga, siapa sosok jenius di baliknya.Di tempat lain, di Universitas Georgia, para Mahasiswa membentuk beberapa kelompok. Mereka menatap layar laptop, sedang di kelas lain lebih kreatif me
“Permintaanmu tentang rekam jejak para pejabat? Tenang, aku sudah merangkumnya. Akan aku kirimkan padamu malam ini.”Erik terlihat bangga dengan usahanya. Semalaman suntuk dia habiskan untuk mengulik setiap profil pejabat dari berbagai situs media. Tetapi, pria di sampingnya malah menggeleng.“Bukan hanya itu,” kata Reagan sambil menggelengkan kepala. “Permintaanku tentang Claire.”Saat ini Erik menjelajah setiap sudut kepalanya. “Oh, permintaan itu.” Dia mengingat sesuatu. “Sudah aku siapkan. Kamu hanya perlu membuatnya merasa spesial di malam Valentine nanti.”Reagan mengangguk puas. Senyumnya mulai terbit membayangkan bagaimana ekspresi
Di saat ini Reagan memasuki sebuah ruangan VIP yang berada tak jauh dari area lantai dansa. Dua orang penjaga yang sebelumnya mencegat Reagan di depan pintu ada di sana. Tambahan seorang pria mengenakan setelan jas rapi sedang menunduk malu di hadapan Erik. Dia juga memohon maaf pada wanita tadi. Berkali-kali seolah tahu jika tidak melakukan itu, dia akan kehilangan jabatan bahkan pekerjaannya.Ketika Reagan datang, semua orang menoleh padanya. Saat melewati dua pria bertubuh kekar, dia melengos tidak peduli. Kini Reagan menghampiri wanita itu, yang tertunduk lesu dengan pundak gemetar karena ketakutan.“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.Wanita itu mengangkat kepala. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku.”
Madison Bar mendadak berubah menjadi ring tinju dimana semua orang yang sebelumnya sibuk menghibur diri kini saling berteriak memberikan dukungan. Dibandingkan dengan pendukung pria pongah, beberapa orang yang mendukung niat baik Reagan tentu kalah jumlah. Di saat ini, pria pongah itu masih mencengkram batang leher wanita tadi hingga jejak jemarinya membekas di kulit mulus itu. Reagan melihat itu dengan sorot benci yang begitu dalam. “Pria miskin memang selalu besar kepala. Kamulah salah satunya,” ujar pria pongah mengejek. Kini dia menarik tubuh wanita itu dengan sekali hentakan. “Kalau kamu cukup percaya diri, lepaskan dia. Lawan aku satu lawan satu.” Reagan mengikis jarak dengan pria pongah dan wanita tadi. Aura mencekam dalam dirinya menguar bebas di udara. “Heh, kamu pikir siapa dirimu beraninya mengaturku?”“Kenapa? Kamu takut?” Reagan bertanya balik, itu berhasil membuat si pongah menelan ludah berat. “Kalau kamu menghindar dari tantangan yang aku berikan, harga dirimu se