“HEI!! APA YANG KAMU LAKUKAN???” seru Mina dengan keras.
Sosok itu tampak terjingkat kaget dan sontak menghentikan aktivitasnya. Sementara Alby yang menunggu di sofa segera berdiri dan berlari menghampiri Mina.
“Ada apa, Sayang?” Mina terdiam dan menunjuk sosok yang masih berdiri terpaku membelakanginya.
“Dia ... dia mau menyuntik Papa dengan racun,” tuduh Mina. Alby tercengang dibuatnya, sosok itu juga terkejut dan gegas membalikkan badan.
“Tidak, tidak Nyonya, Tuan. Saya tidak menyuntikkan racun. Saya suster jaga yang bertugas memberi obat setiap beberapa jam sekali dan ini waktunya pemberian obat tersebut.”
Mina terdiam saat melihat sosok di depannya adalah petugas medis yang merawat ayahnya. Alby hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala melirik ke arah Mina.
“Maafkan istri saya, Sus. Dia panik saat dihubungi kalau ayahnya masuk rumah sakit, jadi sikapnya seperti tadi.&
“Apa maksudmu, Mina?” tanya Tuan Yuka. Pria paruh baya itu tampak terkejut saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Mina.Mina terdiam dan hanya menatap Tuan Yuka tanpa kedip. Ia sudah menduga kalau Tuan Yuka akan terkejut dengan ucapannya kali ini. Namun, Mina sudah bersikeras mengatakannya supaya Tuan Yuka percaya dengan semua dugaannya.“Aku tahu ... ini terdengar konyol dan tidak masuk akal. Namun, itu yang sebenarnya terjadi, Pa.”Tuan Yuka hanya diam tampak mendengarkan penjelasan Mina kali ini.“Di kehidupanku sebelumnya, aku mati, Pa. Aku mati karena diracun Bruno, Mama dan juga Melan. Bahkan di saat terakhirku, aku mendengar pengakuan mereka. Mereka hanya menginginkan harta dan uang asuransi jiwa kita. Hanya itu.”Tuan Yuka tidak bersuara hanya diam sambil menatap Mina dengan tatapan heran.“Lalu aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba Tuhan mengirimku kembali ke dua tahun sebe
“Benar tebakanku, bukan? Kalau memang ada yang sengaja membuat Papa seolah terkena serangan jantung,” ujar Mina.Dokter baru saja keluar dari ruang rawat inap dan kini tinggal Mina bersama Alby saja di ruangan itu. Alby hanya menghela napas panjang sambil mengangguk.“Iya, aku percaya padamu, Sayang. Lalu apa yang kita lakukan kali ini?”Mina hanya diam sambil melirik Tuan Yuka yang masih terbaring di atas kasur. Pria paruh baya itu terus terlelap usai menjalani beberapa pemeriksaan tadi.“Kalau kamu tidak keberatan, apa boleh aku merawat Papa di rumah, Alby?” pinta Mina kemudian.Alby tersenyum dan menganggukkan kepala. “Tentu, itu tidak masalah. Aku bisa mengatur dan menyiapkan kamar untuk Papa di rumah.”Mina terdiam, hanya menganggukkan kepala sambil terus memperhatikan Tuan Yuka yang masih pulas tertidur.“Namun, aku juga akan bicara padanya dulu. Aku takut Papa melakukan peno
“Jadi maksudmu Papa kamu suruh tinggal di rumahmu, Mina?” tanya Tuan Yuka.Pria paruh baya itu sudah terbangun dari tidurnya dan kini terlihat lebih segar dari sebelumnya. Mina baru saja memberitahu tentang keinginan Mina untuk merawat Tuan Yuka di rumahnya.“Iya, Pa. Aku takut Papa sakit lagi seperti kemarin, itu sebabnya aku ingin Papa tinggal bersamaku saja. Alby juga sudah mengizinkan dan menyiapkan kamar untuk Papa.”Tuan Yuka berdecak dan menggelengkan kepala.“Tidak, Mina. Papa menolaknya. Di rumah ada mamamu yang masih bisa merawat Papa selain itu Papa tidak mau mengganggu kalian.”“Pa ... aku dan Alby sama sekali tidak merasa terganggu. Aku malah lebih tenang jika Papa tinggal bersamaku.”Tuan Yuka terdiam, menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang. Mina tampak putus asa dan menatap Tuan Yuka dengan tajam.“Apa Papa tahu hasil pemeriksaan dokter tadi?” Tuan
“Apa kamu benar-benar tidak mengingat malam itu, Mina?” tanya Damian.Dia berdiri sangat dekat di depan Mina bahkan Mina bisa merasakan hembusan napas panasnya. Mina terdiam. Ia benar-benar tidak tahu apa maksud ucapan Damian. Memangnya ada peristiwa apa di malam ulang tahun teman Melan itu? Apa memang telah terjadi sesuatu antara dia dan Damian.Tanpa menjawab, Mina menarik paksa tangannya dan meringsek mundur dari hadapan Damian.“Aku tidak tahu arti ucapanmu, Damian?” ketus Mina. Ia sudah berjalan mundur menjauh dari Damian.Damian hanya berdecak sambil menatap wanita cantik di depannya ini dengan tajam. Entah apa arti tatapan Damian kali ini yang pasti Mina sangat ketakutan.“Maaf, aku harus pergi.” Tanpa pamit kembali Mina gegas berlalu pergi dan masuk ke toilet terdekat. Mina sengaja memperlambat waktunya di toilet. Ia tidak mau bertemu Damian lagi di luar sana.Selang beberapa saat Mina keluar dari
“AAAAHHH!!!” seru Mina.Seketika Alby membuka mata karena terkejut dengan teriakan Mina. Pria tampan itu terlihat bingung dan berusaha secepat mungkin tersadar dari tidurnya.“Mina, kamu kenapa?” tanya Alby.Mina membisu sambil mengedarkan pandangannya melihat seluruh area kamar dan perlahan dia menyadari kalau ini bukan kamarnya. Pelan Mina menyibak selimut lalu bangkit dari kasur. Alby masih terdiam duduk bersandar di kepala ranjang dan melihat Mina dengan tajam.“Maaf ... aku ... aku salah kamar. Semalam ... aku ngantuk dan salah masuk.” Kali ini Mina terpaksa bicara dengan gugup.Alby hanya terdiam sambil berulang menganggukkan kepala. Sementara Mina gegas memungut bajunya yang berserakan di lantai.“Eng ... kamu masih libur hari ini?” Kembali Mina bertanya dan dijawab Alby dengan anggukkan kepala.“Baguslah. Kalau begitu teruskan tidurmu. Aku ... aku harus ke kantor.” Ta
“Memangnya ada kejadian apa di malam itu, Damian?” tanya Mina.Alih-alih menjawab pertanyaan Mina, Damian malah terkekeh. Terang saja Mina bingung melihat reaksinya. Apa mungkin jika Damian sedang mengerjainya?Mina berdecak kesal sambil menatap Damian dengan jengkel. Kemudian dia gegas berdiri dan bersiap kembali ke kursi kerjanya. Namun, yang terjadi berikutnya malah membuat Mina terkejut setengah mati. Damian tiba-tiba ikut berdiri dan langsung memeluk Mina dari belakang.Mina terjingkat kaget dan berusaha berontak dari ulah kurang ajar Damian.“Damian!!! Apa yang kamu lakukan? LEPASKAN AKU!!” sentak Mina.Damian malah terkekeh kembali dan mendekatkan wajahnya ke telinga Mina sambil berbisik lirih.“Aku hanya mencoba mengingatkan kamu dengan kejadian di malam itu. Apa kamu sudah ingat, Mina Sayang?”Mina panik, bola matanya berputar dengan napas yang tersenggal. Ia hanya diam sambil mencoba mengi
“Boleh aku melakukan lebih dari sebuah kecupan?” desah Alby lirih.Seketika Mina terdiam, matanya kini juga tengah menatap mata pekat Alby. Sementara jantungnya berdebar lebih hebat dari biasanya. Apa yang sedang terjadi? Mengapa Alby tiba-tiba berkata seperti itu?Mina tidak menjawab hanya menunduk dan tanpa sengaja melihat tangan Alby yang sudah menerobos masuk ke dalam blusnya. Karena asyiknya memagut bibir, Mina bahkan tidak sadar jika tangan nakal suaminya sibuk mengabsen lekuk tubuhnya.Perlahan Mina menarik tangan Alby keluar dari dalam blusnya dan dengan lirih Mina bersuara.“Maaf, Alby. Kerjaanku banyak.”Tergesa Mina bangkit dari pangkuan Alby. Lalu berjalan cepat menuju kursi kerjanya. Alby hanya diam sambil menatap Mina dengan tajam. Ada sesuatu dalam dirinya yang berusaha ia padamkan. Istri kontraknya itu tiba-tiba membuat hasrat terpendamnya bangkit begitu saja dan kini Alby yang kesulitan meredamnya.&l
[“Kak, Kakak di mana? Papa, Kak ... ,”] ujar Melan di telepon malam itu.Seminggu berselang usai kejadian telepon Inah yang terputus, tiba-tiba tengah malam Mina mendapat panggilan dari Melan. Mina yang baru saja tiba di rumah sangat terkejut dibuatnya. Ia dan Alby baru saja menghadiri acara perjamuan makan malam rekan bisnis Alby.“Memangnya Papa kenapa, Melan?” seru Mina.Wanita cantik itu terlihat gelisah. Matanya berkeliaran sibuk melihat kesana kemari. Alby yang berdiri di sebelahnya ikut terkejut dan memandang ke arah Mina dengan tatapan penuh tanya.[“Lebih baik Kakak cepat ke rumah sakit. Papa tiba-tiba kolaps, Kak!!”] Melan masih berbicara dengan panik di telepon membuat Mina ikut resah juga.“Ya udah buruan, di rumah sakit mana? Aku akan ke sana!!”Melan sudah menyebutkan nama rumah sakitnya dan gegas menyudahi panggilan. Kemudian Mina menoleh ke arah Alby yang dari tadi diam memperha
“Hukuman penjara seumur hidup dan denda sebesar ... dijatuhkan kepada Tuan Bruno Fernades alias Alex Wijaya atas kasus pembunuhan terhadap Tuan Yuka Namari, Nyonya Mina Namari dan juga kasus penipuan yang melibatkan ... .” Suara hakim ketua baru saja bergema memenuhi seisi ruangan persidangan itu. Alby hanya tersenyum sambil melipat tangan mendengar semua hukuman yang diberikan untuk Bruno. Alby memang sempat bertemu dengan Mina dari kehidupan berbeda dan gara-gara info dari Mina juga dia berhasil menjebloskan Bruno ke penjara. “Tuan, kita langsung kembali ke kantor?” tanya Juan. Juan langsung menghampiri Alby yang baru saja keluar dari ruangan sidang. Alby tersenyum sambil menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Juan. Ia lalu berjalan cepat ke arah parkiran saat tiba-tiba ada seorang wanita yang menabraknya. Wanita itu berjalan sambil membawa tumpukan berkas sehingga tidak melihat Alby yang berdiri di depannya. Seketika berkas yang wanita itu bawah jatuh berhamburan ke tanah.
“Hosh ... hosh ... sialan kenapa mereka terus mengejarku?” ucap Bruno dengan napas tersenggal.Usai melakukan penusukan di rumah sakit, Bruno memang berhasil melarikan diri. Dia bahkan sudah kembali ke tempat kosnya. Sayangnya saat pergi keluar hendak membeli makan, polisi dan orang suruhan Juan mengenali Bruno. Mereka terus mengejar Bruno hingga pria itu kelelahan.“Apa yang harus aku lakukan kini? Aku lelah kalau harus terus berlari.”Mata Bruno jelalatan melihat ke sana ke mari. Kini dia berdiri di sudut gang sempit sambil bersandar ke tembok. Bruno sudah tidak punya kendaraan bahkan uang tidak tersisa di kantongnya. Gara-gara membayar jasa pembunuh bayaran kemarin, Bruno terpaksa mengeluarkan banyak uang yang pada akhirnya gagal.Pria itu kini putus asa dan ulahnya tadi di rumah sakit adalah puncak kemarahannya. Ia marah melihat Mina dan Alby terus bahagia sementara hidupnya semakin berantakan seperti ini. Bruno tersenyum menye
“Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaan istri saya?” tanya Alby.Pria tampan itu tampak panik dan langsung menyerbu ke arah dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. Telihat dokter itu berulang kali menarik napas panjang sambil sesekali melihat ke arah Alby.“Luka tusuknya sangat dalam, Tuan. Kami sudah melakukan yang terbaik untuknya.”Alby hanya diam saat dokter itu menjelaskan apa yang terjadi pada Mina. Kalau saja Alby lebih perhatian terhadap keadaan sekitar pasti hal seperti ini tidak akan terjadi. Alby tadi terlalu fokus menerima panggilan sehingga tidak menyadari ada sosok yang tiba-tiba mendekat dan menyerangnya. Kejadiannya sangat cepat bahkan bodyguard Alby yang berada di sekitar sana terkejut.“Untungnya luka tusuk itu tidak mengenai kandungan istri Anda, Tuan. Jadi bisa dipastikan kalau kandungan tidak apa-apa.”Alby seketika menghela napas lega. Setidaknya masih ada nyawa yang bernapas di sana.
“TIDAK!!! TIDAAAK!! MINA!!” seru Alby.Juan langsung berhambur keluar dan ikut membantu Alby. Mina tampak setengah tersadar menatap Alby. Wanita cantik itu memegang perutnya yang tertusuk dan sudah mengeluarkan banyak darah. Juan langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit memanggil bantuan. Sementara Alby sudah bersimpuh di tanah menyanggah Mina.“Alby ... .” Mina bersuara dengan sangat lirih.Alby sudah berurai air mata sambil terus menggelengkan kepala.“Tidak. Kamu jangan bicara. Juan sedang memanggil bantuan.”Mina hanya diam, menelan ludah sambil menatap Alby dengan sendu. Kemudian tangan Mina menyentuh wajah tampan Alby dan membelainya. Alby hanya diam menatapnya.“Ada ... ada tiga kematian, Alby.” Mina kembali bersuara lagi dan terdengar sangat lirih. Alby yang mendengarnya kembail berurai air mata dan terus menggelengkan kepala.“Enggak!! Kamu gak boleh mati, Mina. KAMU GA
“Kamu mengenalnya, Juan?” tanya Alby.Pria tampan itu kini melihat ke arah Juan dengan seksama. Juan menarik napas panjang kemudian menganggukkan kepala dengan mantap. Kemudian melihat ke arah Alby dan Mina.“Apa Anda masih ingat dengan kasus penggelapan di salah satu anak cabang perusahaan kita, Tuan? Kalau tidak salah saat itu, Anda baru saja lulus kuliah. Anda baru saja masuk perusahaan sehingga belum terlalu paham.”Alby diam sejenak seakan sedang mengingat apa yang dikatakan Juan barusan. Kemudian tidak lama, Alby mengangguk.“Akh, iya. Aku ingat. Kalau tidak salah itu dilakukan oleh orang kepercayaan Papa, seorang wanita, bukan? Apa itu ada hubungannya dengan Bruno?”Juan mengangguk lagi.“Iya, Tuan. Itu ada hubungannya dengan Bruno alias Alex Wijaya itu. Saat itu saya juga yang diminta Tuan Alvin menyelidiki kasusnya. Memang banyak kejanggalan dan saya yakin itu bukan dikerjakan hanya oleh ora
[“Apa benar ini Nyonya Mina Namari?”] tanya suara di seberang sana.Mina yang baru saja masuk kamar terkejut saat mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal. Ia menarik napas panjang kemudian menjawab dengan lugas.“Iya, benar sekali. Ini dari mana?”[“Sebentar, Nyonya. Ada yang ingin bicara.”] Suara di seberang sana malah sudah mengalihkan panggilannya. Mina hanya terdiam dan menunggu suara siapa yang akan bicara padanya. Entah mengapa panggilan ini mengingatkan Mina pada saat Bruno meneleponnya dulu.[“Kak, aku Melan.”] Sudah terdengar suara di sana dan Mina tampak terkejut saat tahu yang berbicara adalah Melan.“Melan? Ada apa?”Hal yang sangat aneh saat Melan tiba-tiba meneleponnya. Padahal ia sudah putus hubungan, terakhir kali Mina bertemu Melan saat ulang tahunnya. Sebelum Damian terbunuh, karena setelah itu Melan menjadi buronan. Kini setelah Melan tertangkap polisi malah a
“Iya, itu namanya. Kamu mengenalnya?” tanya Melan.Kini dia yang terkejut dan menatap wanita di depannya ini dengan bingung. Sementara wanita paruh baya itu hanya diam sambil tersenyum masam ke arah Melan. Perlahan wanita itu meringsek mendekat hingga duduk bersebelahan dengan Melan sambil bersandar di dinding.“Nama aslinya adalah Alex Wijaya. Nama itu juga yang aku kenal sepuluh tahun silam. Dia masih muda, tampan dan sangat energik. Dia itu bawahanku di kantor, tapi dia sangat menawan dan aku dengan bodohnya tergoda oleh bujuk rayunya.”Melan terkejut dan mengernyitkan alis sambil menoleh ke arah wanita di sampingnya. Wanita itu hanya menatap datar ke arah Melan.“Namaku Betty dan aku di sini karena terlibat dalam kasus penipuan serta manipulasi data. Sesungguhnya bukan aku seratus persen yang melakukannya. Aku hanya korban yang dijebak dan dijadikan kambing hitam oleh Alex atau Bruno.”Melan tampak bingung da
“Ada apa, Sayang? Apa masih ada yang kamu pikirkan?” tanya Alby.Usai berjalan pagi di taman belakang tadi, mereka kembali ke kamar dan kali ini Mina tampak sedang melamun di depan jendela. Mina menarik napas panjang dan membalikkan badan. Ia melihat Alby baru selesai mandi dan tampak lebih segar dari pada tadi. Aroma sabun nan segar dengan parfum maskulin menguar mengusik hidung Mina.Mina menarik napas panjang kemudian berjalan menghampiri Alby.“Entahlah, Alby. Hanya saja di kehidupanku sebelumnya ada tiga kematian yang harus aku lalui. Kematian Papa, Damian dan terakhir aku. Apa di kehidupan ini juga akan sama? Aku juga akan meninggal pada akhirnya?”Alby langsung terkejut saat Mina berkata seperti itu.“Sayang ... kok kamu ngomong gitu, sih. Kamu senang melihat aku bersedih karena kehilanganmu?”Mina tersenyum dan gegas menggeleng. Siapa juga yang ingin berpisah dengan orang yang dicintai. Hanya saja
“Kamu sudah bangun, Sayang?” sapa Alby pagi itu. Mina baru saja terjaga dan sedikit terkejut saat mendapati Alby sudah terbangun. Alby tidur miring sambil menyanggah kepala melihat dengan sebuah senyuman manis ke arah Mina. Mina langsung tersenyum dan mengecup pipi Alby sekilas. “Jam berapa ini, Alby? Aku tidur nyenyak sekali semalam.” Alby melihat jam di dinding kamarnya kemudian kembali melirik Mina yang terbaring di sebelahnya. “Masih jam lima. Kamu kepagian bangunnya. Apa kamu ingin melakukan aktivitas denganku?” Mina langsung mendelik sambil menggelengkan kepala. Alby hanya tersenyum melihatnya. “Apa tidak ada bahasan lain, Alby? Ini masih pagi.” “Malah masih pagi itu bagus, Sayang. Ayo, buruan bangun!! Kita jalan-jalan!!” Mina seketika terkejut mendengar ucapan Alby. Ternyata dia yang sudah salah sangka. Ia pikir Alby akan