"Please, Hanan, jangan seperti ini. Di sini aku pemilik perusahaan jadi aku yang berhak memutuskan kontrak karyawan. Kamu gak berhak!" jelas Maher menghadang mereka."Jadi ini alasanmu tidak memberikan Hafsah ruangan sendiri?" tanya Hanan menatap Maher.Maher menunduk gelagapan. Matanya tak fokus sementara Hanan terus menatapnya dengan tatapan menghunus jantung. Dua lelaki itu saling serang melalui tatapan dan sikapnya. Meski pada akhirnya Maher menegakkan tubuh agar tampak tak kehilangan wibawa di hadapan karyawannya."Perhatian semua!" katanya bertepuk tangan, "minggu depan saya akan menikah dengan Hafsah! Hari tanggal dan waktunya bisa kalian lihat di website perusahaan nanti. Kalian harus datang tapi tidak perlu membawa hadiah. Cukup datang dan doakan saja!"Karyawan menggeleng frustasi dan penuh kecewa. "Pak, Kenapa harus Bu Hafsah? Kami juga mau!" celetuk salah satu karyawan dengan berderai air mata, "anda menghancurkan harapanku.""Hafsah ini bukan asal kenal yang saya tarik j
"Aku sudah mengambil keputusan." Hanan menghela napas sambil menatap keduanya bergantian. "Hafsah akan resign sampai dia sah menjadi istrimu. Setelah kalian sah menjadi suami istri terserah kalian, aku juga akan kembali ke Padang. Tapi kali ini ... sebelum kamu berjabat tangan dengan mensahkan Hafsah dengan wali hakim. Aku tidak bisa membiarkan kalian berdua. Pahamilah!" katanya menatap Maher serius."Ikutlah pulang denganku, kita akan ke apartemen dan menyusun barang-barangmu dan menemui designer ternama untuk baju kalian nanti. Kamu fokuslah bekerja sebelum masa cuti honeymoon dan sebelum nikah! Banyak persiapan dan waktu semakin menipis."Maher akhirnya pasrah dan menerima keputusan Hanan. Lelaki itu tak bisa mencegah kepergian Hafsah pulang bersama kakaknya. Menemui klien pun terpaksa ditemani oleh yang lain dan untuk sementara waktu posisi Hafsah digantikan oleh Reo. Lelaki yang ditunjuk sebagai sekretaris meski dia belum ahli desain seperti Hafsah tapi Maher mencoba memberikan k
Maher membeku, tangannya gemetar dan suaranya melembut. Lelaki itu bingung harus jujur ataukah tetap diam dan tidak menjelaskan siapa perempuan yang akan dinikahinya. Tapi dia yakin, cepat atau lambat Malini akan mengetahui atau dia sendiri yang akan mengenalkannya pada keluarganya bahwa Hafsah adalah perempuan yang dia cintai saat ini."Nanti Teteh akan tahu! Akan kukenalkan jika sudah sah menjadi istriku nanti. Tapi dia gadis yang baik. Percayalah ... pilihanku tidak salah," jelas Maher dengan penuh keyakinan.Malini menghela napas panjang. "Baiklah, Teteh tidak akan memaksa!" "Aku tutup, Teh. Mau lanjut kerja," jelas Maher sambil mematikan sambungan telepon dengan kakaknya."Ya Allah semoga Maher bertemu dengan perempuan yang baik, yang bisa menerima segala kekurangannya, yang siap menerima masa lalunya," bisik Malini menutup wajah dengan kedua tangan.Malini kembali ke ruangan di mana Aryan di rawat dan masih dipantau dokter. Dia tersenyum lalu mengecup kening sang anak. Aryan m
Mobil membawa Hanan dan Hafsah menuju bandara Sukarno Hatta. Menjemput Halimah yang datang bersama Puti-asistennya. Sepanjang perjalanan Hafsah berpikir tentang pernikahannya kelak. Dia belum sempat bicara banyak dengan Maher karena Hanan selalu menganggunya. Hatinya gelisah membayangkan akan masuk kekeluarga besar Gio Adelardo yang mana dia adalah ayah kandung Hafsah. Ayah yang menolak mengurus dan mengakuinya sebagai putri.Tiba di bandara, mereka langsung parkir lalu duduk menunggu kedatangan Halimah. Tak lama sosok perempuan sepuh itu keluar bersama Puti dengan banyak barang. Halimah tampak anggun dengan gamis dan jilbab instan lebar dengan menenteng tas mahal di tangan kirinya."Selamat datang di Jakarta, Omaa!" Hafsah merentangkan tangan dan memeluk Halimah dengan erat dan hangat."Oma sering ke sini kok," katanya mencium kening sang cucu lalu masuk kedalam mobil.Hafsah bergelayut manja di lengan sang Oma. Sedangkan Halimah mengusap kepala sang cucu dengan lembut sambil memb
Gio menatap Maher dengan mata memerah dan tajam. Tangannya terkepal erat dengan gigi saling beradu hingga menimbulkan bunyi. Lelaki itu maju dengan tegas dan tangan terkepal erat. Meski begitu, Maher tak gentar, dia tetap berdiri dan membalas tatapan kakak iparnya. Bahkan tatapan itu lebih tajam dan mengiris jantung."Bertindak sopanlah, Maher! Aku kakak iparmu! Suami kakakmu!" katanya pelan nyaris berbisik."Kamu ayah dan suami yang gagal, Gio! Lelaki pecundang yang hanya bermodalkan wajah dan kekayaan yang bermodalkan keberuntungan saja! Aku sangat membencimu dan tidak akan pernah memaafkanmu!" Maher menoleh ke samping seraya berdecih dan menarik napas. "Apa yang kamu pikirkan saat bersenang-senang dengan perempuan itu? Tentu kamu melupakan kakakku yang tengah hamil anakmu dan kamu menciptakan anak lain dari perempuan selingkuhanmu. Menyenangkan bukan saat kamu menikmati banyak perempuan sementara di rumah kamu punya yang setia dan tak kalah cantik dari selirmu!""Cukup, Maher! Kamu
Tawa Maher meledak seketika. Dia menatap kakak iparnya dengan bahu terguncang. Bahkan Hafsah mengulum senyum melihat tingkah dua lelaki itu. "Cari pacar sanaaa!'' ujarnya setelah tawanya mereda."Dasar Payah!" balas Hanan meninggalkan Maher dan memilih duduk di sofa dekat Halimah.Salah satu pegawai meminta Maher mencoba baju untuk pernikahannya. Lelaki itu menuju ruang ganti dan mencoba jas dengan warna hitam serta dalaman kemeja putih. Seorang pegawai lelaki membantunya dan Maher menatap pantulan dirinya di cermin. Seulas senyum terbit dari bibirnya. Ada binar bahagia yang tersirat dari matanya. Meski memakai jas bukanlah hal yang asing baginya, tapi kali ini jas hitam dengan kemeja putih menampakkan aura yang berbeda dari lelaki berusia tiga puluh tahun itu.Maher keluar dari ruang ganti dan menghampiri Hafsah yang tengah berswafoto bersama Halimah dan juga Hanan. Lelaki itu tersenyum dan menyebut nama Hafsah dengan lembut membuat perempuan itu menatapnya."Masyaallah kalian tam
Maher menatap Hafsah."Niat baik tidak boleh ditunda-tunda, Hafsah. Pernikahan adalah hal baik, maka mari kita menikah dua hari lagi." Maher menatap Hafsah yang menunduk sekilas lalu menatap Hanan dan Halimah."Aku tahu kamu pasti bertanya siapa Lavina dan Rania. Aku akan jelaskan!" Dia menatap Hanan. "Biarkan kami pergi berdua!""Tidak bisa!" jawab Hanan tegas."Kita akan tetap pergi bersama tapi kami akan menjauh dari kalian. Bicaralah di tempat yang aman, misal di cafe atau taman," ujar Halimah tersenyum. Maher mengangguk dan kembali mengganti pakaiannya, begitupun Hafsah. Setelah itu dia meminta beberapa diperbaiki dan minta diantar besok ke apartemennya. Adnan dan Vass berbagi tugas. Sementara anak buahnya yang lain bertugas menjaga keamanan, ada yang memesan makanan serta minuman. Pernikahan tertutup hanya di hadiri oleh beberapa orang rekan bisnis saja. Meski kabar dia akan menikah sudah langsung tersebar di sosial media dengan cepat. Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses
"Setiap orang punya masa lalu, Hafsah. Aku juga." Maher melirik Hanan yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu tengah bicara melalui sambungan seluler pintar miliknya."Aku bukan menyesali ini, Maher. Tapi rasanya sakit sekali ketika diabaikan oleh ibu kandung sendiri dan ditolak oleh ayah yang telah membuat aku ada," ungkap Hafsah menangis."Jangan menangis, Hafsah. Aku mohon," pinta Maher dengan tangan menggantung di udara ingin menghapus air mata itu tapi dia merasa sungkan karena Hafsah bukanlah mahramnya.Mahram sendiri dalam Islam adalah seseorang yang haram dinikahi karena hubungan kekerabatan, perkawinan, atau persusuan. Mahram juga bisa berarti laki-laki yang dianggap dapat melinduni perempuan. Mahram juga terbagi dua, yaitu mahram muabbad dan mahram qhairu muabbad.Mahram muabbad, yaitu orang yang haram dinikahi selamanya. Contohnya, orang tua kandung, saudara kandung, saudara sesusuan, dan mertua. Sedang mahram ghairu muabbad, yaitu orang yang haram dinikahi untuk sementa
Adnan terjaga karena dering ponsel yang begitu nyaring di sisinya. Lelaki itu masih di apartemen lama milik Maher, dia bangkit dan menatap layar dengan mengusap mata, mengusap dan berjalan ke jendela menyibak tirai, membiarkan cahaya masuk menyinari kamarnya."Ada apa?" tanyanya menatap langit biru."Perempuan itu kabur, Boss!" ungkap anak buahnya."Apa!" Adnan terperanjat dan berpaling dengan cepat, "bagaimana bisa!" "Tiba-tiba ada asap setelah itu kami semua pingsan. Saya memeriksa botol yang dilempar ternyata asap bius, Boss. Perempuan itu kabur saat kami pingsan," jelasnya."Cari Lavina! Temukan dia atau sesuatu yang buruk akan terjadi!" Adnan mengusap wajah dengan kasar."Baik, Boss!"Adnan duduk dengan cemas tapi otaknya terus berpikir. Lavina bukan gadis lemah seperti yang Maher pikirkan. Lavina bukan gadis lima tahun lalu yang begitu mengharapkan dan siap mati untuknya. Sekarang ada seseorang yang membantunya untuk balas dendam."Bagaimana cara memberitahu, Tuan. Apa kutelep
"Maher," rengek Hafsah mendadak mendayukan suaranya."Ah, merduanya suara itu menyebut namaku." Maher menyentuh dada dan memejamkan mata sambil tersenyum membuat Hafsah tersipu malu."Mandilah!" titah Hafsah sambil menyodorkan handuk baru ke hadapan suaminya.Maher menarik pergelangan tangan Hafsah hingga gadis itu menabrak dada bidang lelaki tinggi putih itu. Hafsah terkesiap dan langsung memeluk Maher karena takut jatuh membuat Hafsah memejamkan mata. "Maher." Hafsah berusaha melepaskan dekapan suaminya tapi Maher tetap mempertahannya."Aku selalu menggenggam angin saat Hanan memelukmu. Berharap waktu cepat berlalu dan tiba di mana aku dan kamu halal. Kini ... aku akan selalu memelukmu. Tidak akan kubiarkan Hanan memelukmu," katanya dengan tegas."Dia kakakku," kekeh Hafsah membuat Maher mengangkat wajahnya."Aku tahu," katanya tersenyum, "tapi aku akan balas dendam padanya. Tenang saja aku sudah mengundang Hanan dan oma untuk makan siang. Sekalian perkenalan rumah baru kita.""Ma
Suara desir angin dari balkon bertiup samar hingga menggoyangkan tirai. Menyebarkan wangi dari aroma lilin yang berkelip manja di sudut ruangan."Malam ini ... aku Rajanya," bisik Maher, suaranya terdengar rendah tapi cukup menggema di ruangan yang hanya ada mereka saja.Hafsah merasakan jemari Maher menyentuh pundaknya. Menariknya dalam kehangatan yang belum pernah dirasakan selama ini. Hafsah menahan napas saat Maher mengikis jarak antara mereka. Hafsah hanya bisa diam, tidak bisa melawan"Aku membelenggumu dengan cinta dan kesetiaan, Hafsah. Malam ini dan seterusnya aku dan kamu menjadi kita. Aku akan menjadi pelindung dan penjagamu, Istriku. Aku akan selalu menjadi garda terdepan dalam hidupmu," bisiknya seperti mantra yang mengalun indah sekaligus membunuh keberanian Hafsah untuk menatap suaminya.Hafsah menunduk dan membeku saat bayangan Maher tertangkap di mata indahnya. Napasnya berembus di permukaan kulit membuat bulu kuduknya berdiri. Hafsah ingin lari saja tapi kakinya sepe
Langkah kaki Maher mendekat menyongsong Hafsah yang masih menatap dalam diam. Hafsah menoleh dan langsung panik saat melihat Maher berdiri di depannya dengan sorot mata penuh kelembutan dan cinta. Menatap tersenyum.Hafsah menunduk dengan meremas jemarinya. Dia merasa gugup saat tangan besar itu menarik jemarinya yang lentik. Hafsah menoleh ke samping saat Maher menariknya lebih ketengah. Menampakkan Hafsah seutuhnya di antara cahaya lilin yang berkelip tertiup angin.Maher menatap Hafsah dengan mata menyipit. Dadanya berdegup lebih kencang dan kakinya gemetar. "Hafsah, kamu?" Maher menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lelaki itu mengangkat dagu istrinya agar lebih tegap lagi."Aku tidak percaya ini, Hafsah?" ujar Maher mengitari Hafsah dengan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikannya.Tampilan Hafsah mirip dengan malam itu. Malam di mana dia berani duduk dipangkuan Maher dengan rambut panjang dan dress yang lebih pendek meski yang dipakai saat ini lebih pendek da
Aryan mengumpat kesal karena panggilannya diabaikan. Aryan masuk ke dalam mobil dan menatap layar ponsel yang masih menampilkan notifikasi panggilan telepon yang diabaikan oleh Maher. Tak patah semangat, dia kembali menekan nomor Maher dengan cemas tapi juga kesal.Aryan merasa kesal dan kecewa. Dia tidak mengerti mengapa Maher mengabaikan panggilan telepon darinya. Apakah dia tidak ingin berbicara dengan aku? Apakah dia tidak peduli dengan perasaanku?Aryan memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada lelaki yang tengah tersenyum bahagia menyambut kedatangan Hafsah pasca dirinya usai mengucapkan ijab kabul. Aryan berharap dia akan membalas dan menjelaskan mengapa dia mengabaikan panggilannya.Tapi Adnan hanya diam menyimpan ponsel di saku jasnya."Tidak apa-apa, Oma. Aku hanya ingin tahu mengapa kamu tidak menjawab panggilanku," tulisnya lalu mengirimkan pesan kepada Maher.Tapi hingga beberapa jam kemudian, lelaki yang dipanggil Oma atau Om Maher itu masih belum membalas pesan darin
Hafsah mengangguk dengan menggigit bibirnya. Bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi malam ini. Maher melepaskan jarum pengait di kerudung Hafsah. Satu persatu dengan pelan tangan itu menarik jarum dan meletakkan ditempat khusus di meja rias yang telah dipenuhi bedak milik Hafsah.Azan ashar berkumandang membuat Hafsah secara reflek menghentikan pergerakan tangan Maher."Kita salat dulu," katanya menatap suaminya."Sendiri-sendiri dulu ya. Aku merasa belum pas takut salah," jelas Maher."Pelan-pelan kita belajar bareng. Gak papa kita coba," ajak Hafsah meyakinkan suaminya yang mengangguk juga pada akhirnya."Tapi mukenaku," bisik Hafsah menyadari dia tidak datang dengan membawa satu barang apa pun.Maher mengusap pipi itu untuk pertama kalinya membuat Hafsah membeku merasakan sesuatu dalam dirinya mengalir lebih cepat. Lelaki itu melangkah menuju walk-in closet. Tak lama dia kembali dengan mukena putih di tangannya."Ini," katanya menyodorkan kehadapan Hafsah, "pakailah!
Maher menatap pantulan dirinya dicermin. Dia tampak gagah dengan balutan jas hitam serta rambut yang tertata rapi. Berulangkali dia menarik napas guna mengurangi kegugupan. Maher begitu gugup untuk menjalani hari ini."Rasanya menghadapi penjahat tidak segugup ini!" katanya menarik napas.Maher keluar dari kamar melewati kilauan cahaya dan kebahagiaan para tamu undangan. Ruangan dipenuhi bunga-bunga yang wanginya samar terbawa angin tapi mampu menusuk hidung ditambah lampu kristal yang menggantung mewah di langit-langit ruangan. Para tamu tersenyum dan berbisik kagum saat Maher melewatinya. Aura positif begitu menguar dari dirinya. Tampan dan berkelas. Halimah, Hanan, Puti dan Vass tersenyum menikmati pemandangan dua insan yang akan bersatu dalam ikatan suci."Kuharap setelah ini anda selanjutnya, Boss," bisik Vass yang langsung mendapat tatapan tajam dari Hanan. Maher duduk di hadapan penghulu dengan Hanan sebagai saksi dari pihak Hafsah dan Adnan dari pihak Maher. Halimah berdoa
Hayati diam. Dia sadar sebagai ibu sudah sangat keterlaluan kepada putrinya. Namun, di balik sikap keras dan tidak pedulinya, perempuan itu menyimpan luka dan kesedihan yang tidak bisa dibaginya dengan siapa pun. Sejak dia mengetahui hamil Hafsah, suaminya langsung berubah dan menanyakan tentang kehamilan. Hayati yang tidak pernah disentuh suaminya sejak beberapa bulan lalu tiba-tiba hamil tentu saja menjadi pertanyaan oleh suaminya. Suaminya jadi curiga, dingin, dan menolak satu ranjang dengannya. Bahkan saat Hayati jujur bahwa dia telah berselingkuh, suaminya memilih menceraikannya sesaat setelah melahirkan.Hayati menjadi marah dan terhina diceraikan didepan dokter dan perawat yang membantu proses melahirkannya. Namun, mereka tidak tahu penyebab perceraian itu. Andai saat itu Hayati bisa menjaga diri dan marwah rumah tangganya maka segalanya tidak akan terjadi. Di dalam kehidupan sehari-hari dan pergaulan antara lelaki dan perempuan ada batasan dan aturannya dalam Islam. Terutam
"Aryan," isak Malini menutup bibir dengan kedua tangannya."Pemahaman agamaku lemah, Pa. Tapi aku tahu bahwa setetes saja seorang suami membuat air mata istrinya jatuh, maka disetiap langkahnya akan dilaknat oleh para malaikat." Aryan menatap Gio dengan kepala terangkat. "Aku sangat kecewa kepadamu, Papa. Sangat!"Aryan meninggalkan Gio yang membeku dan tidak menyangka akan ucapan Aryan. Selama ini lelaki itu selalu menunjukkan cinta dan hormat padanya. Tak pernah mengatakan hal buruk padanya. Tapi kali ini, Aryan bicara dengan tegas dan kepala terangkat. Lelaki itu menyesali segala perbuatannya tapi segalanya telah menjadi masa lalu yang tidak bisa diubah.Aryan mengambil dompet dan jaketnya di lemari lalu keluar bersama Vino menggeret koper miliknya. Lelaki itu melewati Gio begitu saja. Tapi dia memeluk Malini dan mencium keningnya. Sama setiap kali dia akan pergi, Aryan akan melakukannya. Malini hanya diam dan sedikit mengangguk saat Aryan meminta izin padanya."Aku berangkat, Ma,"