Beranda / Romansa / Belenggu Hasrat CEO / 34. Korbankan Aku, Ma!

Share

34. Korbankan Aku, Ma!

Penulis: Siska Cahaya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-31 11:48:35

"Digendong? Maksudnya?" tanya Hafsah menyipitkan mata dan merasa heran.

"Iya, Ibu kenapa digendong turun tangga darurat kemarin?" tanya salah seorang karyawan menatap Hafsah yang juga menatapnya.

"Kalian tahu dari mana?" Hafsah menatap satu persatu karyawan yang menatapnya.

"Videonya masuk ke grup karyawan. Viral di perusahaan," jelas salah satu dari mereka.

Hafsah menarik napas dalam dan panjang. Dia tampak berpikir dengan memijat keningnya. Hafsah tidak tahu jika urusannya akan sepanjang ini dan dia harus menjelaskan pada karyawan.

"Bu Hafsah?" panggil mereka dengan sorot mata meminta penjelasan.

"Oke." Hafsah memejamkan mata lalu membukanya dengan mengangkat kedua telapak tangan. " Kemarin saya pingsan karena telat makan siang. Gangguan pencernaan. Oke! Saya gak bisa telat makan tapi kemarin karena presentasi ini sangat penting saya harus menghandle makan siang demi rapat. Mencoba bertahan sebelum rapat dimulai itu sulit, saya menahan mual, pusing dan mencoba tetap fokus meski ber
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Belenggu Hasrat CEO    35. Petunjuk Tentang Hafsah

    Hayati menatap putranya dengan terkejut. Wajahnya dialiri darah segar dan air mata. Perempuan itu mundur dan menatap dengan sendu. Perlahan emosinya mulai turun dan akhirnya dia menjatuhkan tubuh di sofa dengan gemetar."Lakukan apa pun yang Mama inginkan. Sesuka hati Mama. Jika dengan aku tiada, Mama bisa lega dan perusahaan Mama bisa berjaya maka aku akan mewujudkannya. Aku akan mewujudkannya," jelas Hanan dengan suara bergetar.Halimah yang sedang beristirahat di kamar keluar mendengar keributan yang terjadi di depan pintu kamarnya. Perempuan tujuh puluh dua tahun itu bergegas mendekati Hanan yang berdarah."Maafkan Mama, Hanan! Maaf Mama emosi," jelasnya berdiri dan mendekati Hanan dengan cemas, "kita kerumah sakit sekarang!" Halimah menatap putrinya dan langsung mendorongnya ketika tangannya terulur ingin menyentuh Hanan."Feni panggilkan dokter!" teriak ya gemetar."Oma aku gak papa," jelas Hanan menatap neneknya yang cemas.Halimah berjongkok dan langsung menampar pipi Hayati

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01
  • Belenggu Hasrat CEO    36. Digosipin Karyawan

    Salia menatap Halimah dan Hanan dengan dahi mengkerut. Tatapannya penuh tanya dan penasaran. Namun, sebagai seorang yang beretika dia tahu jika pemilik rumah sedang tak ingin membagi masalahnya dengan dirinya. Akhirnya Salia menarik napas sebagai pelampiasan kekecewaan yang tak dapat dia sembunyikan."Aku gak punya fotonya. Karena aku pikir Hafsah ada di Bandung dan dia tidak berjilbab. Aku gak tahu jika .. itu benaran Hafsah?" Salia menatap Hanan yang mengalihkan tatapannya."Maaf, Salia. Aku belum bisa mengatakan apa pun padamu. Tapi keterangan darimu sangat membantuku. Aku mohon berikan alamat yang jelasnya, aku akan langsung ke Jakarta. Pesawatku jam sembilan." Hanan melirik jam tangannya dan berdiri."Hati-hati, Hanan!" teriak Halimah.Sekali lagi Salia menatap semua orang dengan penasaran. Tapi akhirnya dia hanya mengangguk tersenyum lalu pamit. Langkah cepat menuju foyer berharap bisa bertemu Hanan, tapi lelaki itu sudah tancap gas meninggalkan rumahnya bersama Vas. "Jangan sa

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-02
  • Belenggu Hasrat CEO    37. Siapa Perempuan Itu?

    "Kamu bisa tertawa?" tanya Hafsah ikut tertawa dan Maher menyentuh dada."Iya. Aku kan manusia yang punya perasaan," jawab Maher tersenyum."Aku pikir kamu kaki kayak pertama kali bertemu. Itu menakutkan loh," ujar Hafsah menatap lelaki yang berdiri di depannya."Kamu mengubahnya, Hafsah. Kamu menyentuh hatiku," jelas Maher membuat Hafsah menunduk dan salah tingkah.Gadis itu menyembunyikan rona merah di pipinya. Degup jantung dan hati yang terasa syahdu membuat dia tak berani mengangkat wajah. Padahal Maher tak bisa melihatnya. Namun, tetap saja Hafsah merasa gelisah. Kedekatan mereka membuat para karyawan melirik dan saling berbisik. "Aku pake buat promosi boleh gak?" tanya Hafsah tak berani mengangkat wajah."Eummh jangan deh, aku gak pernah live atau update status. Mending kita seret aja semua pengikut ke akun baru perusahaan," jelas Maher melangkah ke layar monitor."Caranya?" tanya Hafsah mengikuti Maher."Sini ponselnya!" titah Maher dan Hafsah memberikan, "aku lulusan IT tern

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Belenggu Hasrat CEO    38. siapa kamu sebenarnya?

    "Apa Anda putra Hayati Martadinata?" tanya perempuan itu menatap Hanan yang langsung menarik diri lebih tegap dan terkejut."Anda mengenal ibu saya?" tanyanya masih dengan raut wajah terkejut.Perempuan itu tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia menekan nomor telepon yang di sisinya."Bawakan rekam medis semua pasien yang datang kemarin!" titahnya lalu menutup telepon."Siapa Anda?" tanya Hanan menatapnya."Fazana! teman kuliah ibumu waktu di Jakarta! Hah, dunia sempit ternyata. Aku bahkan bisa mengenali darah dagingnya tanpa kamu menyebutkan nama," kekehnya menarik napas.Hanan terkejut lalu menatap perempuan itu. Dia tidak banyak tahu tentang masa muda ibunya. Hayati tidak pernah menceritakan bagaimana dia melewati masa mudanya. Pun pertemuan dirinya dengan sang ayah pun tak pernah dia bagi dengan siapa pun.Hanan kembali duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Setelah itu seorang perawat masuk membawa map biru di taman kanannya. Dia mencari data pasien yang dimaksud Hanan. "Ti

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Belenggu Hasrat CEO    39. Menemui Maher

    "Sepertinya Anda begitu sangat kenal dan paham tentang orang tua saya!" tekan Hanan tersenyum lalu kembali mengatupkan tangan lalu keluar dari ruangan."Menyebalkan sekali orang yang kutemui hari ini!" katanya melangkah menuju lift diikuti Vass."Tuan, saya sudah menemukan alamat perusahaan Maher Anggara," ujar Vass menunjukkan ponselnya."Langsung ke sana, Vass!" titahnya.Hanan memejamkan mata dan kembali teringat akan Hafsah. Sekian banyak luka dan derita yang ditanggung sang adik dari kecil tanpa di pahami. Hanan hanya tahu kesedihan Hafsah tapi tidak paham bagaimana mengobatinya. Hanan berpikir jika ibunya menyayangi Hafsah masalah selesai. Nyatanya, Hayati tak peduli.Di perusahaan, karyawan terus bicara dan sesekali tertawa. Mereka melakukan live promosi berdua, agar bisa berganti jika yang satu sedang ada keperluan.Hafsah menatap mereka dan terus mengawasinya sambil membawa laptop dan mendesain beberapa produk yang akan mereka kerjakan. Sesekali dia memantaunya dan mengarahka

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-05
  • Belenggu Hasrat CEO    40. Perasaan Maher

    Hafsah melihat Maher tengah bicara dengan seorang lelaki memakai pakaian rapi dan seorang lelaki bertubuh tegap dan tinggi yang berdiri dibelakangnya. Bahkan beberapa kali terlihat Maher mengangkat tangan seperti menjelaskan sesuatu dengan tegas. Perempuan itu menyipitkan mata dan berniat turun untuk menemuinya. Tapi karyawan yang melakukan promosi secara live mengatakan ada satu penonton yang berniat membeli produk mereka.Sementara di luar perusahaan, Hanan terus mendesak Maher mengatakan di mana Hafsah. Dia yakin bahwa Maher tahu di mana keberadaan sang adik."Katakan di mana Hafsah dan katakan di mana dia? Setelah itu aku akan membawanya dan tidak akan lagi membiarkan dia menganggu ketenangan rumah tangga kakakmu!" ujar Hanan tegas dan penuh penekanan."Andai kutahu apa salahnya aku katakan padamu! Dia adikmu dan aku tidak berhak," balas Maher mundur, "pergilah, aku sibuk!""Maher!" teriak Hanan kesal karena lelaki itu gegas masuk dan meminta satpam mengunci gerbang tak membiarkan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-06
  • Belenggu Hasrat CEO    41. Pertunjukan Maher

    "Hafsah!" Hanan berlari dan memeluk adiknya dengan erat. "Abang," ucap Hafsah terkejut melihat kehadiran kakak lelakinya.Hanan memeluk dan memejamkan mata. Dia mencium kepalanya berulang kali, bibirnya gemetar ingin mengucapkan banyak hal tapi tersangkut di tenggorokan. Untuk pertama kali nya Hanan menangis setelah perpisahan selama satu bulan tanpa kabar berita dari Hafsah. Hafsah pun membalas pelukan kakak yang selalu ada untuknya sejak kecil. Selalu sembunyi-sembunyi untuk memberikan keinginan dirinya yang tidak mau dipenuhi oleh Hayati. Kini lelaki itu sudah tidak bisa didikte lagi. Dia sudah bisa melawan siapa pun demi sang adik."Abang kenapa tahu aku di sini?" tanya Hafsah pelan. Hanan menarik napas lalu melepaskan pelukannya. Matanya tajam menatap Maher yang berdiri tak jauh darinya di mana juga ada Vass yang memperhatikan semua orang."Aku mengikuti orang itu!" kata Hanan menunjuk Maher.Hafsah melihat ke arah Maher yang tetap berdiri dan mengangkat wajahnya. Tatapan Mahe

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-07
  • Belenggu Hasrat CEO    42. Harimau Sumatera

    Hanan tahu bahwa adiknya sudah melewati begitu banyak luka selama ini. Menghadapi rintangan tanpa seseorang di sampingnya. Kini, usianya pun sudah sangat dewasa dan sudah paham bagaimana luka dan cinta itu. Demi kebahagiaan Hafsah, Hanan menurunkan egonya dan mengetepikan kekesalannya pada Maher.Hafsah ikut mobil Hanan dan Maher mengikutinya dari belakang. Vass menyetir dengan sesekali melirik Hafsah yang bersandar di lengan kekar Hanan. Gadis itu tampak manja dan hilang dewasanya saat bersama sang kakak. Hanan mengusap punggung tangan Hafsah dengan lembut dan penuh perhatian."Bagaimana Maher menurutmu?" tanyanya melirik sang adik yang langsung pura-pura tidur."Aku tahu kamu tidak tidur! Jawab!" titah Hanan menepuk lembut pipinya, "terima dia agar kamu punya seseorang yang siap setiap waktu memanjakan kamu!"Hafsah membuka mata dan menatap kakaknya dengan manja tapi tajam. Dia mencubit hidung Hanan hingga lelaki itu memeluk."Lemah!" ejek Hafsah tertawa."Kamu gak boleh manja kayak

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-08

Bab terbaru

  • Belenggu Hasrat CEO    80. akhir sebuah keputusan

    Adnan terjaga karena dering ponsel yang begitu nyaring di sisinya. Lelaki itu masih di apartemen lama milik Maher, dia bangkit dan menatap layar dengan mengusap mata, mengusap dan berjalan ke jendela menyibak tirai, membiarkan cahaya masuk menyinari kamarnya."Ada apa?" tanyanya menatap langit biru."Perempuan itu kabur, Boss!" ungkap anak buahnya."Apa!" Adnan terperanjat dan berpaling dengan cepat, "bagaimana bisa!" "Tiba-tiba ada asap setelah itu kami semua pingsan. Saya memeriksa botol yang dilempar ternyata asap bius, Boss. Perempuan itu kabur saat kami pingsan," jelasnya."Cari Lavina! Temukan dia atau sesuatu yang buruk akan terjadi!" Adnan mengusap wajah dengan kasar."Baik, Boss!"Adnan duduk dengan cemas tapi otaknya terus berpikir. Lavina bukan gadis lemah seperti yang Maher pikirkan. Lavina bukan gadis lima tahun lalu yang begitu mengharapkan dan siap mati untuknya. Sekarang ada seseorang yang membantunya untuk balas dendam."Bagaimana cara memberitahu, Tuan. Apa kutelep

  • Belenggu Hasrat CEO    79. Cinta Yang Hilang

    "Maher," rengek Hafsah mendadak mendayukan suaranya."Ah, merduanya suara itu menyebut namaku." Maher menyentuh dada dan memejamkan mata sambil tersenyum membuat Hafsah tersipu malu."Mandilah!" titah Hafsah sambil menyodorkan handuk baru ke hadapan suaminya.Maher menarik pergelangan tangan Hafsah hingga gadis itu menabrak dada bidang lelaki tinggi putih itu. Hafsah terkesiap dan langsung memeluk Maher karena takut jatuh membuat Hafsah memejamkan mata. "Maher." Hafsah berusaha melepaskan dekapan suaminya tapi Maher tetap mempertahannya."Aku selalu menggenggam angin saat Hanan memelukmu. Berharap waktu cepat berlalu dan tiba di mana aku dan kamu halal. Kini ... aku akan selalu memelukmu. Tidak akan kubiarkan Hanan memelukmu," katanya dengan tegas."Dia kakakku," kekeh Hafsah membuat Maher mengangkat wajahnya."Aku tahu," katanya tersenyum, "tapi aku akan balas dendam padanya. Tenang saja aku sudah mengundang Hanan dan oma untuk makan siang. Sekalian perkenalan rumah baru kita.""Ma

  • Belenggu Hasrat CEO    78. Kekaguman Maher

    Suara desir angin dari balkon bertiup samar hingga menggoyangkan tirai. Menyebarkan wangi dari aroma lilin yang berkelip manja di sudut ruangan."Malam ini ... aku Rajanya," bisik Maher, suaranya terdengar rendah tapi cukup menggema di ruangan yang hanya ada mereka saja.Hafsah merasakan jemari Maher menyentuh pundaknya. Menariknya dalam kehangatan yang belum pernah dirasakan selama ini. Hafsah menahan napas saat Maher mengikis jarak antara mereka. Hafsah hanya bisa diam, tidak bisa melawan"Aku membelenggumu dengan cinta dan kesetiaan, Hafsah. Malam ini dan seterusnya aku dan kamu menjadi kita. Aku akan menjadi pelindung dan penjagamu, Istriku. Aku akan selalu menjadi garda terdepan dalam hidupmu," bisiknya seperti mantra yang mengalun indah sekaligus membunuh keberanian Hafsah untuk menatap suaminya.Hafsah menunduk dan membeku saat bayangan Maher tertangkap di mata indahnya. Napasnya berembus di permukaan kulit membuat bulu kuduknya berdiri. Hafsah ingin lari saja tapi kakinya sepe

  • Belenggu Hasrat CEO    77. Gadis malam itu

    Langkah kaki Maher mendekat menyongsong Hafsah yang masih menatap dalam diam. Hafsah menoleh dan langsung panik saat melihat Maher berdiri di depannya dengan sorot mata penuh kelembutan dan cinta. Menatap tersenyum.Hafsah menunduk dengan meremas jemarinya. Dia merasa gugup saat tangan besar itu menarik jemarinya yang lentik. Hafsah menoleh ke samping saat Maher menariknya lebih ketengah. Menampakkan Hafsah seutuhnya di antara cahaya lilin yang berkelip tertiup angin.Maher menatap Hafsah dengan mata menyipit. Dadanya berdegup lebih kencang dan kakinya gemetar. "Hafsah, kamu?" Maher menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lelaki itu mengangkat dagu istrinya agar lebih tegap lagi."Aku tidak percaya ini, Hafsah?" ujar Maher mengitari Hafsah dengan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikannya.Tampilan Hafsah mirip dengan malam itu. Malam di mana dia berani duduk dipangkuan Maher dengan rambut panjang dan dress yang lebih pendek meski yang dipakai saat ini lebih pendek da

  • Belenggu Hasrat CEO    76. Sebuah Hubungan Yang Halal

    Aryan mengumpat kesal karena panggilannya diabaikan. Aryan masuk ke dalam mobil dan menatap layar ponsel yang masih menampilkan notifikasi panggilan telepon yang diabaikan oleh Maher. Tak patah semangat, dia kembali menekan nomor Maher dengan cemas tapi juga kesal.Aryan merasa kesal dan kecewa. Dia tidak mengerti mengapa Maher mengabaikan panggilan telepon darinya. Apakah dia tidak ingin berbicara dengan aku? Apakah dia tidak peduli dengan perasaanku?Aryan memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada lelaki yang tengah tersenyum bahagia menyambut kedatangan Hafsah pasca dirinya usai mengucapkan ijab kabul. Aryan berharap dia akan membalas dan menjelaskan mengapa dia mengabaikan panggilannya.Tapi Adnan hanya diam menyimpan ponsel di saku jasnya."Tidak apa-apa, Oma. Aku hanya ingin tahu mengapa kamu tidak menjawab panggilanku," tulisnya lalu mengirimkan pesan kepada Maher.Tapi hingga beberapa jam kemudian, lelaki yang dipanggil Oma atau Om Maher itu masih belum membalas pesan darin

  • Belenggu Hasrat CEO    75. kenapa harus Maher

    Hafsah mengangguk dengan menggigit bibirnya. Bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi malam ini. Maher melepaskan jarum pengait di kerudung Hafsah. Satu persatu dengan pelan tangan itu menarik jarum dan meletakkan ditempat khusus di meja rias yang telah dipenuhi bedak milik Hafsah.Azan ashar berkumandang membuat Hafsah secara reflek menghentikan pergerakan tangan Maher."Kita salat dulu," katanya menatap suaminya."Sendiri-sendiri dulu ya. Aku merasa belum pas takut salah," jelas Maher."Pelan-pelan kita belajar bareng. Gak papa kita coba," ajak Hafsah meyakinkan suaminya yang mengangguk juga pada akhirnya."Tapi mukenaku," bisik Hafsah menyadari dia tidak datang dengan membawa satu barang apa pun.Maher mengusap pipi itu untuk pertama kalinya membuat Hafsah membeku merasakan sesuatu dalam dirinya mengalir lebih cepat. Lelaki itu melangkah menuju walk-in closet. Tak lama dia kembali dengan mukena putih di tangannya."Ini," katanya menyodorkan kehadapan Hafsah, "pakailah!

  • Belenggu Hasrat CEO    74. Aku Akan Menjagamu!

    Maher menatap pantulan dirinya dicermin. Dia tampak gagah dengan balutan jas hitam serta rambut yang tertata rapi. Berulangkali dia menarik napas guna mengurangi kegugupan. Maher begitu gugup untuk menjalani hari ini."Rasanya menghadapi penjahat tidak segugup ini!" katanya menarik napas.Maher keluar dari kamar melewati kilauan cahaya dan kebahagiaan para tamu undangan. Ruangan dipenuhi bunga-bunga yang wanginya samar terbawa angin tapi mampu menusuk hidung ditambah lampu kristal yang menggantung mewah di langit-langit ruangan. Para tamu tersenyum dan berbisik kagum saat Maher melewatinya. Aura positif begitu menguar dari dirinya. Tampan dan berkelas. Halimah, Hanan, Puti dan Vass tersenyum menikmati pemandangan dua insan yang akan bersatu dalam ikatan suci."Kuharap setelah ini anda selanjutnya, Boss," bisik Vass yang langsung mendapat tatapan tajam dari Hanan. Maher duduk di hadapan penghulu dengan Hanan sebagai saksi dari pihak Hafsah dan Adnan dari pihak Maher. Halimah berdoa

  • Belenggu Hasrat CEO    73. menuju pernikahan

    Hayati diam. Dia sadar sebagai ibu sudah sangat keterlaluan kepada putrinya. Namun, di balik sikap keras dan tidak pedulinya, perempuan itu menyimpan luka dan kesedihan yang tidak bisa dibaginya dengan siapa pun. Sejak dia mengetahui hamil Hafsah, suaminya langsung berubah dan menanyakan tentang kehamilan. Hayati yang tidak pernah disentuh suaminya sejak beberapa bulan lalu tiba-tiba hamil tentu saja menjadi pertanyaan oleh suaminya. Suaminya jadi curiga, dingin, dan menolak satu ranjang dengannya. Bahkan saat Hayati jujur bahwa dia telah berselingkuh, suaminya memilih menceraikannya sesaat setelah melahirkan.Hayati menjadi marah dan terhina diceraikan didepan dokter dan perawat yang membantu proses melahirkannya. Namun, mereka tidak tahu penyebab perceraian itu. Andai saat itu Hayati bisa menjaga diri dan marwah rumah tangganya maka segalanya tidak akan terjadi. Di dalam kehidupan sehari-hari dan pergaulan antara lelaki dan perempuan ada batasan dan aturannya dalam Islam. Terutam

  • Belenggu Hasrat CEO    72. Lebih Menyedihkan

    "Aryan," isak Malini menutup bibir dengan kedua tangannya."Pemahaman agamaku lemah, Pa. Tapi aku tahu bahwa setetes saja seorang suami membuat air mata istrinya jatuh, maka disetiap langkahnya akan dilaknat oleh para malaikat." Aryan menatap Gio dengan kepala terangkat. "Aku sangat kecewa kepadamu, Papa. Sangat!"Aryan meninggalkan Gio yang membeku dan tidak menyangka akan ucapan Aryan. Selama ini lelaki itu selalu menunjukkan cinta dan hormat padanya. Tak pernah mengatakan hal buruk padanya. Tapi kali ini, Aryan bicara dengan tegas dan kepala terangkat. Lelaki itu menyesali segala perbuatannya tapi segalanya telah menjadi masa lalu yang tidak bisa diubah.Aryan mengambil dompet dan jaketnya di lemari lalu keluar bersama Vino menggeret koper miliknya. Lelaki itu melewati Gio begitu saja. Tapi dia memeluk Malini dan mencium keningnya. Sama setiap kali dia akan pergi, Aryan akan melakukannya. Malini hanya diam dan sedikit mengangguk saat Aryan meminta izin padanya."Aku berangkat, Ma,"

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status