Namun, Sagara tidak peduli.Tangannya mencengkeram keras tanah di bawahnya, berusaha tetap sadar. Tidak. Ia tidak boleh pingsan di sini. Tidak di jalanan sepi ini, tidak dengan Reno yang masih berdiri di sana. Perlahan, ia mencoba mengangkat wajahnya. Napasnya berat, tetapi matanya tetap menatap Reno dengan dingin. “Kenapa harus sejauh ini?” gumam Sagara, suaranya serak, hampir tak terdengar. Reno menggigit bibirnya. Pisau di tangannya masih berkilat dalam cahaya pagi, ujungnya berlumuran darah. “Aku tidak punya pilihan,” jawabnya dengan nada yang tidak sepenuhnya meyakinkan. Sagara tertawa pendek, meski suara itu lebih mirip desahan lemah. “Pilihan? Kau selalu punya pilihan, Reno.” Reno menggenggam erat pisaunya, tangannya bergetar. Ia melangkah mundur, seakan ragu dengan apa yang baru saja ia lakukan. “Aku hanya aku tidak mau Bella ada di dekatmu. Kau selalu membuatnya ragu. Aku ingin dia memilihku, bukan kau.” Sagara menggeleng pelan. Rasa sakit di perutnya semakin menus
Brisa hampir berlari saat memasuki rumah sakit, matanya liar mencari informasi. Deborah sudah menunggunya di lobi. "Di mana dia?" tanya Brisa dengan napas tersengal. "Di ICU lantai tiga," jawab Deborah. Tanpa menunggu lagi, Brisa bergegas menuju lift, diikuti oleh orang tuanya dan Deborah. Begitu mereka tiba di lantai tiga, Brisa langsung menghampiri perawat yang berjaga. "Permisi, pasien tanpa identitas yang masuk beberapa hari lalu di mana ruangannya?" Perawat menatap mereka dengan waspada. "Anda siapa?" Brisa hampir menangis. "Aku... aku istrinya. Tolong, aku harus melihatnya!" Perawat itu ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Silakan ikut saya!" Brisa berjalan di belakang perawat dengan perasaan yang sulit digambarkan. Saat mereka berhenti di depan salah satu ruangan ICU, ia merasa lututnya melemas. "Pasien ini belum sadarkan diri sejak masuk," kata perawat itu. "Luka tusuknya cukup dalam. Jika Anda mengenalnya, mohon beri kami informasi agar kami bisa mengh
Di sebuah rumah mewah yang sunyi, suara telepon memecah keheningan. Pak Raditya yang sedang membaca koran mengerutkan kening saat melihat nomor Deborah di layar ponselnya. “Halo?” “Pak Raditya?” Suara di seberang terdengar ragu. “Ya, benar." “Saya Deborah, sekretaris Pak Sagara.” Jantung Pak Raditya berdetak lebih cepat. “Ada apa? Kenapa menelepon saya?” Hening sesaat. Lalu, suara Deborah terdengar lebih pelan, namun tetap jelas. “Pak Sagara ada di rumah sakit, Pak. Dia mengalami luka serius. Sekarang masih di ICU.” Seakan ada petir yang menyambar. “Apa?!” suara Pak Raditya meninggi, membuat Bu Arini yang duduk di seberang menoleh dengan bingung. Deborah segera melanjutkan, “Saya tahu ini mendadak, tapi saya pikir Bapak dan Ibu harus tahu. Kondisinya sempat kritis, tapi sekarang sudah mulai stabil.” Pak Raditya tidak bisa menjawab. Tangannya gemetar saat meletakkan ponsel. Wajahnya pucat. “Ada apa?” tanya Bu Arini cemas. Pak Raditya menatap istrinya dengan ma
Setelah tiga hari di ICU, akhirnya dokter menyatakan bahwa kondisi Sagara cukup stabil untuk dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Brisa hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit selama tiga hari ini. Ia tetap berada di sisi Sagara, meskipun pria itu terus terlelap dalam diam. Setiap kali menatap wajah pucat suaminya, hatinya terasa sesak. Ketika perawat mendorong tempat tidur Sagara menuju ruang perawatan, Brisa berjalan di sampingnya, tetap menggenggam tangan pria itu. Namun, saat Sagara membuka matanya dan melihatnya, hal pertama yang ia lakukan adalah menarik tangannya dari genggaman Brisa—tanpa sepatah kata pun. Brisa terhenyak. Sejak Sagara sadar tiga hari lalu, pria itu memang tidak banyak bicara, tetapi kali ini dinginnya begitu nyata. Begitu tiba di kamar rawat, Sagara memalingkan wajahnya ke arah jendela. Seakan kehadiran Brisa tidak berarti apa-apa. Brisa menelan ludah, lalu duduk di kursi di samping tempat tidur. “Sagara," panggilnya pelan. Sagara tidak menoleh.
Brisa menggigit bibir bawahnya, merasa hatinya semakin sakit."Kesehatanmu juga penting, Brisa," lanjut Bu Arini. "Kalau kamu terus begini, bagaimana dengan bayi dalam kandunganmu? Sagara sudah cukup menderita, jangan sampai kamu juga jatuh sakit."Brisa menoleh ke arah Sagara, berharap pria itu akan mengatakan sesuatu. Apa pun.Namun, Sagara tetap diam. Bahkan, ia seakan tidak peduli dengan percakapan itu.Brisa merasakan perih yang menusuk-nusuk dadanya. Ia menunggu suaminya mencegahnya pergi. Ia ingin mendengar Sagara mengatakan bahwa ia masih menginginkannya di sini, tapi tidak ada. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.Brisa akhirnya mengangguk lemah. "Baik, aku akan pulang."Ada yang patah dalam dirinya saat mengucapkan kalimat itu. Setelah berpamitan dengan Bu Arini, Brisa berdiri, lalu berjalan mendekati Sagara. Ia menatap wajah pucat itu dengan penuh harapan."Aku akan pulang sekarang," ucapnya lirih. "Jaga dirimu baik-baik, Sagara!"Sagara tetap tidak menoleh. Brisa
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Brisa menunduk dan melihat nama Ivana muncul di layar. Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum ia mengangkat panggilan itu. "Halo, Ivana!" sapanya. Suara Ivana di seberang terdengar merajuk. "Akhirnya kamu mengangkat teleponku! Ke mana saja kau? Tidak ada kabar, tidak ada pesan! Aku khawatir, tahu!" Brisa menghela napas panjang. "Maaf, ada banyak hal yang terjadi padaku beberapa hari terakhir ini." Ivana terdengar menghela napas. "Aku bisa merasakannya. Suaramu terdengar tidak baik. Ada apa?" Brisa menggigit bibirnya. Ia belum sempat memberi tahu Ivana tentang apa yang terjadi pada Sagara. "Aku… aku tidak tahu harus mulai dari mana," ucapnya dengan suara pelan. "Maka mulai saja dari awal," kata Ivana lembut. Brisa menutup matanya sejenak, lalu mulai menceritakan semuanya. Tentang seseorang yang menyerang Sagara, tentang bagaimana pria itu hampir kehilangan nyawanya. Tentang ketakutannya saat melihat tubuh Sagara terbaring tak berdaya. Tentang b
Bu Tara menghela napas panjang sebelum menambahkan, "Sepertinya Sagara belum mengatakan apa pun pada orang tuanya tentang masalah kalian." Brisa menatap ibunya dengan kaget. "Maksud Ibu?" "Ibu memperhatikan tadi," ujar Bu Tara dengan suara pelan. "Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka tahu sesuatu. Kalau Sagara sudah memberi tahu mereka, pasti akan ada reaksi yang berbeda." Brisa merasa hatinya semakin sesak. Kenapa Sagara belum memberi tahu orang tuanya? Apakah itu artinya ia masih ragu untuk mengakhiri semuanya? Atau justru ia tidak ingin masalah ini diketahui oleh siapa pun? "Kamu masih punya kesempatan, Brisa," kata Bu Tara lembut. "Jangan biarkan semua ini menghancurkan pernikahan kalian." Brisa menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, tetapi sebelum ia bisa menjawab, suara Pak Raditya terdengar dari ruang makan. "Ayo, makan siang sudah siap!" Bu Tara menepuk tangan putrinya dengan lembut. "Ayo, kita ke meja makan!" Saat semua orang berkumpul di meja makan, su
Malam telah larut ketika keheningan menyelimuti rumah. Orang tua mereka telah kembali ke kediaman masing-masing, meninggalkan Brisa dan Sagara berdua di rumah besar yang kini terasa begitu dingin.Brisa berdiri di depan pintu kamar mereka, hatinya berdegup kencang. Ia berharap malam ini akan ada sedikit perubahan, berharap bahwa Sagara setidaknya akan membiarkannya tidur di sampingnya seperti dulu.Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melangkah masuk. Sagara ada di sana, duduk di tepi ranjang, mengenakan kaus putih polos dan celana tidur. Namun, bukannya menyambutnya, pria itu justru mengangkat kepala dengan tatapan tajam dan penuh kebencian."Apa yang kamu lakukan di sini?" suaranya dingin, tidak beremosi.Brisa menelan ludah, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Aku… aku ingin tidur," jawabnya lirih."Di kamar lain," potong Sagara tanpa ragu.Dada Brisa serasa diremas. "Sagara, ini kamar kita."Sagara mendengus pelan, lalu menatapnya dengan tatapan yang begitu asing, seolah ia a
Ivana tidak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan sosok Brisa dalam hidupnya. Ia pikir, kepergiannya ke Jepang sudah cukup untuk menghapus luka dan rasa tidak adil yang selama ini menggerogoti dirinya, tapi nyatanya, semua itu kembali menyeruak, jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Ia berdiri di seberang rumah itu sambil menggenggam sebuah surat yang sudah kusut di tangannya—surat dari Brian untuk Brisa yang tak pernah sampai ke tangan Brisa. Rasa bersalah sempat menghantui, tapi rasa bersalah itu ditelan oleh kebencian yang lama terpendam. Dalam matanya, Brisa adalah wanita yang selalu mendapatkan segalanya. Wajah cantik, keluarga harmonis, karir cemerlang, dan sekarang, dua pria yang sama-sama rela mengorbankan segalanya untuknya—Sagara dan Brian. Ivana menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. “Aku juga cantik. Aku juga pintar, tapi kenapa mereka tak pernah melihatku?” Kilasan masa lalu menyapu pikirannya. Waktu-waktu saat ia diam-diam memendam rasa pada Sagara,
Bu Tara menggenggam tangan putrinya. “Mama mengerti, Nak. Mama cuma ingin kamu bahagia.”Pak Aryan mengangguk pelan. “Kalian sudah jadi orang tua sekarang. Kami percaya, kalian akan tahu kapan waktu yang tepat.”Setelah suasana kembali mencair, Bu Tara tiba-tiba bertanya, “Oh iya, Brian. Orang tuamu nggak datang ke Osaka?”Brian mengangguk. “Sudah aku kabari. Mereka akan ke sini dalam satu minggu. Mereka senang sekali waktu tahu Arsaka lahir. Ayah malah bilang mau jadi guru bahasa Jawa buat cucunya.”Semua tertawa. Udara kembali hangat.***Beberapa hari kemudian, jam menunjukkan pukul delapan pagi. Brian tengah berada di ruang kerja kecil di rumah Brisa, satu tangan mengayun-ayun bouncer tempat Arsaka tidur, tangan lainnya mengetik cepat di laptop. Beberapa berkas terbuka di sekelilingnya—rencana ekspansi perusahaan dan laporan harian dari Deborah.Sejak meninggalkan Indonesia beberapa bulan lalu, Brian mengatur semua pekerjaannya dari Osaka. Sebagai CEO sebuah perusahaan, ia tidak b
Tiga minggu sebelum hari perkiraan lahir, Brisa mengalami kontraksi palsu. Brian panik luar biasa. Ia membawa Brisa ke rumah sakit padahal ternyata hanya Braxton Hicks.“Aku kira dia mau lahir,” gumamnya di mobil sambil menyeka keringat.Brisa tertawa kecil. “Tenang, Brian. Masih ada waktu.”“Kalau kamu tahu rasanya jantungku waktu kamu bilang ‘sakitnya beda’ tadi rasanya kayak disetrum.”Brisa tertawa lagi, tapi kali ini lebih hangat. “Kamu panik tapi lucu.”Brian meliriknya. “Tuh, akhirnya kamu bilang aku lucu juga.”Brisa menutup mulutnya, malu, tapi senyum itu tak bisa disembunyikan.***Hari kelahiran pun tiba. Pagi hari, air ketuban Brisa pecah. Brian yang mengantar ke rumah sakit dengan tangan gemetar. Ia menelepon bibi Brisa, mengurus administrasi, menenangkan Brisa, bahkan menyempatkan diri memotret momen-momen penting.Saat Brisa berteriak kesakitan dalam proses persalinan, Brian memegang tangannya erat. “Kamu bisa, Brisa. Kamu kuat. Aku di sini.”Empat jam kemudian, tangisa
Beberapa minggu kemudian, suasana di rumah kecil Brisa di Osaka terasa jauh lebih hangat. Brian memutuskan tinggal di Jepang untuk sementara waktu. Ia membantu Brisa ke rumah sakit, ikut senam kehamilan, bahkan mulai belajar memasak masakan Jepang sederhana dari bibinya Brisa. Suatu sore, ketika matahari hampir terbenam dan sakura berguguran pelan, Brian duduk di beranda rumah dengan Brisa bersandar di bahunya. "Kurasa kita akan baik-baik saja," bisik Brisa. "Aku tahu kita akan baik-baik saja," jawab Brian. "Karena sekarang, aku punya segalanya. Kamu. Anak kita." Brisa menutup mata, tersenyum pelan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, hatinya merasa damai.***Minggu-minggu berikutnya menjadi perjalanan yang tak mudah bagi Brian. Meskipun Brisa telah memaafkannya dan memberinya tempat dalam hidup sebagai ayah dari anak yang mereka kandung bersama, bukan berarti hatinya langsung terbuka untuk cinta yang baru. Brian mengerti itu, tapi bukan berarti ia menyerah.Ia bangun le
Brisa terlihat seolah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Mata mereka bertemu dalam tatapan panjang yang menyimpan begitu banyak perasaan. Kerinduan. Luka. Bingung. Cinta. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Suaranya nyaris tak terdengar. "Aku datang karena aku harus memberitahumu sesuatu," jawab Brian lembut. "Sesuatu yang sangat penting." Brisa mundur selangkah, ragu. Tangannya secara refleks menyentuh perutnya yang kini membulat. Brian melihat itu dan hatinya terasa seperti diremas. Ia ingin menyentuh perut itu. Ingin menyentuh nyawa kecil di dalamnya—anak mereka. "Brisa, anak yang kamu kandung itu adalah anakku," ucap Brian akhirnya. Brisa terdiam. Seolah kata-kata itu butuh waktu lama untuk diproses dalam kepalanya. "Apa maksudmu?" tanyanya perlahan, keningnya mengerut bingung. "Brian, kamu bilang anak ini anakmu?" "Iya. Anak itu anakku." "Tapi bagaimana bisa? Ini hasil inseminasi buatan. Aku tidak pernah...." Brisa tidak bisa melanjutkan. Ia menatap Brian dengan
Pukul lima sore, suasana kantor pusat milik keluarga Hendratama tampak sedikit berbeda dari biasanya. Lantai tertinggi yang biasanya sibuk dengan lalu-lalang staf kini terasa lebih tenang, namun tetap formal. Penerangan hangat menyinari lorong menuju ruang CEO, dan dua staf keamanan berjaga di depan pintu utama.Pak Aryan dan Bu Tara berdiri di hadapan pintu kayu tinggi bertuliskan nama lengkap Brian Hendratama. Pak Aryan melirik jam tangannya, kemudian mengetuk pelan."Silakan masuk!" terdengar suara dari dalam.Saat pintu dibuka, Brian berdiri dari balik mejanya. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang masih rapi dengan lengan tergulung. Rambutnya sedikit berantakan, tanda ia sibuk sejak pagi, tapi matanya menyiratkan harapan."Pak Aryan, Bu Tara, silakan duduk! Saya senang sekali Bapak dan Ibu datang."Mereka bertiga duduk di sofa panjang dekat jendela besar. Kopi dan teh sudah disiapkan oleh sekretaris Brian, tapi tak satu pun dari mereka menyentuhnya.Pak Aryan memulai
Bu Tara mengangguk kecil sambil melepas kacamata hitamnya. "Terima kasih, Mbak Ani. Semua baik-baik saja, kan?" Mbak Ani tersenyum canggung. "Semuanya baik-baik saja, Bu." Pak Aryan ikut masuk, meletakkan koper di dekat sofa. Ia memutar lehernya ke kanan dan kiri, lalu bertanya dengan suara yang khas, dalam dan tenang, "Tidak ada masalah selama kami pergi?" Mbak Ani sempat ragu, namun akhirnya menjawab, "Tidak ada, Pak. Rumah baik-baik saja. Hanya kemarin...." Bu Tara yang baru saja duduk di sofa, menoleh cepat. "Kemarin? Ada apa?" Mbak Ani mengatupkan tangan di depan perutnya, menunduk sedikit. "Mas Brian sempat datang ke rumah." Keduanya saling pandang seketika. Wajah Pak Aryan yang biasanya tenang, tampak berubah. Matanya mengeras. Sementara Bu Tara mengerutkan kening, terlihat cemas. "Brian?" ulang Pak Aryan, nadanya berat. "Apa yang kamu katakan padanya?" Mbak Ani menelan ludah. "Saya bilang kalau Bapak dan Ibu sedang pergi ke luar negeri." Pak Aryan memicingkan mata, se
"Pergi? Ke mana?" "Keluar negeri, Mas. Sudah tiga hari yang lalu." Deg. Brian mengerutkan kening. "Keluar negeri? Serius? Brisa juga ikut?" Mbak Ani mengangguk pelan. "Iya, Mas. Bertiga. Ibu, Bapak, sama Mbak Brisa. Mereka nggak bilang pergi ke mana secara spesifik, cuma bilang mereka akan tinggal cukup lama di luar negeri." Brian mundur satu langkah, kepalanya mendadak ringan, seperti darah mengalir terlalu cepat ke ubun-ubun. "Mereka ninggalin Indonesia dan nggak bilang apa-apa ke aku?" Mbak Ani tampak canggung. "Maaf, Mas. Saya juga nggak tahu banyak. Saya hanya diberi tugas menjaga rumah sementara. Mereka cuma bilang bahwa mereka pergi untuk waktu yang belum bisa dipastikan." "Nggak ninggalin pesan? Nggak ada surat buat aku? Nggak ada kabar?" Mbak Ani menggeleng pelan. Brian terdiam beberapa saat. Matanya memerah, rahangnya mengeras. "Mbak, Brisa nggak bilang apa-apa sebelum pergi? Tentang aku? Tentang bayi kami?" "Saya benar-benar nggak tahu, Mas. Maaf. Mb
Malam itu, setelah semua tenang dan lampu ruangan dipadamkan, Brisa duduk sendiri di depan jendela. Di luar, salju tipis mulai turun, menyelimuti halaman rumah Bibi Rika. Ia memeluk bantal kecil sambil mengusap perutnya. “Hari pertama kita di tempat yang baru, Nak,” bisiknya lembut. “Maaf, kalau dunia belum terlalu ramah padamu, tapi Ibu janji, kita akan cari tempat yang bisa jadi rumah. Rumah yang sesungguhnya.” *** Hari-hari selanjutnya berlalu dalam keheningan yang menyembuhkan. Bibi Rika mengajaknya berjalan pagi ke taman kecil dekat kuil, mengajarkan Brisa cara membuat onigiri, dan memperkenalkan berbagai teh herbal yang bisa membuatnya rileks. Brisa mulai menulis lagi. Ia membuka laptop tuanya dan mulai mengetik catatan harian, entah untuk dirinya sendiri, untuk anaknya, atau untuk masa depannya. Pagi hari rumah itu dipenuhi aroma teh chamomile. Siang hari, suara radio Jepang mengalun pelan, kadang lagu lama, kadang sekadar berita. Malam hari, rumah itu senyap kecuali detak