BZZT! BZZT!
Puluhan drone tempur mulai bergerak, mengelilingi Johan dengan formasi sempurna. Senjata otomatis yang terpasang di bawah mereka menyala merah, bersiap menembakkan peluru berkecepatan tinggi. Leon Albrecht berdiri dengan percaya diri, senyumnya penuh kemenangan. "Kau mungkin kuat dalam pertarungan tangan kosong, Johan. Tapi coba lihat, bahkan kau tidak bisa menangkis hujan peluru dari semua arah." Johan hanya menghela napas, menatap Leon dengan tatapan dingin. "Aku sudah menumbangkan Wilhelm yang jauh lebih unggul dalam teknologi dibandingkan kau, Leon. Apa kau benar-benar berpikir ini cukup untuk menjatuhkanku?" Leon tertawa kecil, mengetuk layar di arlojinya. "Kita lihat saja." "TEMBAK!" BRRRTTTTTTT! Dalam sekejap, hujan peluru melesat ke arah Johan dari berbagai sudut. Namun, Johan tidak bergerak sedikit pun. SSetelah memastikan bahwa Leon Albrecht telah diamankan di fasilitas tahanan rahasia yang dikelola oleh Arthura Trade & Co, Johan dan timnya mulai merencanakan langkah berikutnya. Di dalam ruang taktis mereka, Evelyn membentangkan peta Astvaria, menunjuk ke wilayah berikutnya yang menjadi target mereka. "Kota Drakenfeld, markas Keluarga Rangga." Keluarga Rangga adalah salah satu dari 12 Keluarga Teratas, dikenal sebagai penguasa pasukan bayangan dan pengawal elit. Mereka memiliki sistem militer swasta yang bahkan bisa disewa oleh keluarga lain untuk perlindungan atau operasi khusus. • Kekuasaan: Pasukan bayangan dan pengawal elit. • Keunggulan: Memiliki pasukan petarung terbaik yang bisa disewa oleh keluarga lain. • Tuan Muda: Rendra Rangga – Seorang ahli bela diri dengan kekuatan luar biasa. Darius menatap peta dengan serius. "Ini akan sulit. Keluarga Rangga punya jaringan
Angin dingin berhembus di dataran luas di depan gerbang Drakenfeld. Puluhan prajurit Keluarga Rangga berdiri dalam formasi ketat, menunggu perintah. Namun, semua perhatian tertuju pada dua pria yang berdiri di tengah—Johan dan Rendra Rangga. "Aku tak punya waktu untuk duel tak berguna," kata Johan dengan nada datar. "Aku di sini untuk bicara dengan Tristan Rangga." Rendra menyeringai, lalu mengangkat kedua tangannya, meregangkan bahunya seolah-olah sedang melakukan pemanasan. "Omong kosong. Kau sudah mengalahkan beberapa keluarga, tapi itu tidak berarti aku akan membiarkanmu melewati wilayah kami begitu saja." Evelyn mendesah sambil berbisik pada Darius. "Ini sudah diprediksi. Para petarung seperti Rendra tidak akan pernah mengizinkan seseorang seperti Johan masuk tanpa bertarung." Darius mengangguk. "Tapi Rendra bukan lawan biasa. Dia pernah mengalahkan sepuluh petarung terbaik Drakenfeld sekaligus dalam waktu kurang d
BOOM! Pukulan super cepat Rendra melesat ke arah dada Johan. Namun… SWOOSH! Johan bergeser sedikit ke samping, menghindari serangan itu hanya dengan pergerakan minimal! Mata Rendra melebar. "Apa?!" Johan langsung menyerang balik! BAM! Satu pukulan telak menghantam bahu Rendra, membuat tubuhnya terdorong ke belakang beberapa langkah. Namun, sebelum Johan bisa melanjutkan serangan— Rendra menghilang lagi. TAP TAP TAP! Langkah kaki Rendra terdengar dari berbagai arah, membuat Johan tetap waspada. Darius bergumam dengan kagum. "Cepat sekali… Ini seperti ilusi." Evelyn mengernyit. "Bukan ilusi. Itu adalah ‘Langkah Serigala’—teknik khas Keluarga Rangga." Teknik ini memungkinkan penggunanya bergerak dalam pola acak dengan kecepatan tinggi
Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang tak terlihat, tetapi Johan tetap berdiri dengan tenang di hadapan Tristan Rangga dan Rendra Rangga. Keduanya memimpin keluarga yang terkenal dengan pasukan bayangan dan pengawal elit Astvaria. Tristan akhirnya bersandar di kursinya, menghela napas perlahan sebelum berbicara. "Johan, kau datang untuk memastikan kesetiaan keluargaku, tapi aku ingin tahu satu hal lebih dulu." Johan mengangguk, menunggu pertanyaan yang akan diajukan. Tristan menatap matanya dalam-dalam. "Apa yang akan kau lakukan jika aku menolak tunduk padamu? Jika aku memutuskan bahwa Keluarga Rangga tetap berdiri sendiri, tidak berpihak pada siapa pun?" Johan tersenyum kecil. "Aku tidak meminta kalian tunduk. Aku hanya meminta kalian memilih. Apakah kalian tetap berpegang pada tugas kalian untuk melindungi negara, ataukah kalian akan menjadi bagian dari mereka yang melupakan kewajibannya?" Rendra, yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kami bukan pengkhianat, Joha
Di kota Ardell, di sebuah rumah besar milik keluarga Hartono, pesta ulang tahun ke-70 Pak Surya Hartono sedang berlangsung meriah. Seluruh anggota keluarga berkumpul, mengenakan pakaian terbaik mereka, membawa hadiah mahal sebagai tanda bakti. “Semoga Pak Surya panjang umur dan selalu diberkati!” Semua anggota keluarga bersorak sambil menyerahkan hadiah mereka. Pak Surya tersenyum puas. “Hari ini aku bahagia. Aku akan mengabulkan satu permintaan dari kalian. Katakan, apa yang kalian inginkan?” “Pak, saya ingin mobil sport terbaru,” kata Rico, cucu kesayangannya. “Saya ingin jam tangan emas merek Swiss!” tambah Clara, salah satu keponakannya. Pak Surya tertawa dan mengangguk. “Baik, semua akan aku kabulkan!” Namun, suasana berubah ketika Johan, menantu dari anak sulungnya, maju perlahan dan berkata, “Pak, bisakah saya mendapatkan motor untuk pergi bekerja?” Tiba-tiba ruangan itu menjadi sunyi. Semua mata tertuju padanya. Beberapa orang mulai tertawa kecil. “Kau serius, Johan?” e
Keesokan harinya, Johan merasa penuh harapan ketika melangkah menuju perusahaan milik Butra Wijaya. Perasaan cemas dan tidak pasti masih menyelimuti dirinya, tetapi jauh di dalam hatinya, dia tahu ini adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Saat tiba di kantor Butra Wijaya, ia terpesona dengan betapa megahnya gedung tersebut. Bangunan itu menjulang tinggi, mencerminkan kekuatan dan keberhasilan perusahaan yang dipimpin oleh Butra. Johan menarik napas panjang dan menguatkan hatinya. “Aku harus bisa,” gumamnya pada diri sendiri. Setelah melapor ke resepsionis, Johan diminta untuk menunggu beberapa saat. Tidak lama kemudian, seorang pria berpakaian rapi keluar dari ruangannya. Pria itu adalah Butra Wijaya. Butra tersenyum saat melihat Johan. “Ah, ini dia. Johan, kan? Masuklah,” katanya, menunjukkan arah ke ruangannya. Johan mengikuti Butra ke ruang kerja yang luas dan mewah. Butra duduk di belakang meja kerjanya, mempersilakan Johan duduk di kursi yang ada di depannya. “Jadi,
Johan duduk termenung di meja kerjanya, menatap tumpukan dokumen yang harus dia selesaikan untuk proyek pertamanya. Meski perasaan kecewa masih mengganggunya akibat kegagalan dalam presentasi beberapa hari yang lalu, dia tidak menyerah. Ujian yang dia hadapi bersama Butra Wijaya menjadi titik balik yang membangkitkan tekadnya. Selama beberapa hari terakhir, Johan terus berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Setiap masalah yang datang, ia hadapi dengan kepala tegak. Setiap kesulitan yang ia temui, ia pecahkan dengan cara yang berbeda. Meski hasilnya belum sempurna, dia merasa bahwa dirinya semakin berkembang. Namun, suasana di kantor tidak selalu mendukung. Beberapa kolega Butra mulai mengamati kehadiran Johan dengan pandangan meremehkan. Mereka berbisik di sudut-sudut ruangan, memandangnya dengan tatapan sinis. Sebagai menantu keluarga Hartono yang tidak dihargai, mereka melihatnya hanya sebagai orang yang tidak berkompeten, hanya beruntung bisa bekerja di perusahaan
Setelah melalui serangkaian tantangan yang mengguncang, Johan mulai merasa bahwa dia benar-benar berada di jalur yang benar. Proyek besar yang dia kelola berhasil diselesaikan dengan hasil yang memuaskan, meskipun ada beberapa hambatan di sepanjang jalan. Namun, dia tahu bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan panjangnya. Kepercayaan Butra terhadap dirinya kini semakin kuat, dan itu membuka banyak kesempatan baru. Pagi itu, Johan memasuki kantor dengan langkah yang lebih mantap. Namun, saat dia membuka pintu ruang kerjanya, dia terkejut. Butra Wijaya sudah menunggunya di sana, tampak lebih serius daripada biasanya. "Johan," Butra memulai, suaranya penuh arti. "Kamu telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam proyek terakhir. Aku percaya kamu siap untuk tantangan yang lebih besar." Johan menatap Butra dengan rasa penasaran. "Apa yang Anda maksud, Pak?" Butra tersenyum tipis. "Aku ingin kamu menjadi bagian dari tim manajemen senior. Aku ingin kamu mengelola lebih banyak proyek besar
Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang tak terlihat, tetapi Johan tetap berdiri dengan tenang di hadapan Tristan Rangga dan Rendra Rangga. Keduanya memimpin keluarga yang terkenal dengan pasukan bayangan dan pengawal elit Astvaria. Tristan akhirnya bersandar di kursinya, menghela napas perlahan sebelum berbicara. "Johan, kau datang untuk memastikan kesetiaan keluargaku, tapi aku ingin tahu satu hal lebih dulu." Johan mengangguk, menunggu pertanyaan yang akan diajukan. Tristan menatap matanya dalam-dalam. "Apa yang akan kau lakukan jika aku menolak tunduk padamu? Jika aku memutuskan bahwa Keluarga Rangga tetap berdiri sendiri, tidak berpihak pada siapa pun?" Johan tersenyum kecil. "Aku tidak meminta kalian tunduk. Aku hanya meminta kalian memilih. Apakah kalian tetap berpegang pada tugas kalian untuk melindungi negara, ataukah kalian akan menjadi bagian dari mereka yang melupakan kewajibannya?" Rendra, yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kami bukan pengkhianat, Joha
BOOM! Pukulan super cepat Rendra melesat ke arah dada Johan. Namun… SWOOSH! Johan bergeser sedikit ke samping, menghindari serangan itu hanya dengan pergerakan minimal! Mata Rendra melebar. "Apa?!" Johan langsung menyerang balik! BAM! Satu pukulan telak menghantam bahu Rendra, membuat tubuhnya terdorong ke belakang beberapa langkah. Namun, sebelum Johan bisa melanjutkan serangan— Rendra menghilang lagi. TAP TAP TAP! Langkah kaki Rendra terdengar dari berbagai arah, membuat Johan tetap waspada. Darius bergumam dengan kagum. "Cepat sekali… Ini seperti ilusi." Evelyn mengernyit. "Bukan ilusi. Itu adalah ‘Langkah Serigala’—teknik khas Keluarga Rangga." Teknik ini memungkinkan penggunanya bergerak dalam pola acak dengan kecepatan tinggi
Angin dingin berhembus di dataran luas di depan gerbang Drakenfeld. Puluhan prajurit Keluarga Rangga berdiri dalam formasi ketat, menunggu perintah. Namun, semua perhatian tertuju pada dua pria yang berdiri di tengah—Johan dan Rendra Rangga. "Aku tak punya waktu untuk duel tak berguna," kata Johan dengan nada datar. "Aku di sini untuk bicara dengan Tristan Rangga." Rendra menyeringai, lalu mengangkat kedua tangannya, meregangkan bahunya seolah-olah sedang melakukan pemanasan. "Omong kosong. Kau sudah mengalahkan beberapa keluarga, tapi itu tidak berarti aku akan membiarkanmu melewati wilayah kami begitu saja." Evelyn mendesah sambil berbisik pada Darius. "Ini sudah diprediksi. Para petarung seperti Rendra tidak akan pernah mengizinkan seseorang seperti Johan masuk tanpa bertarung." Darius mengangguk. "Tapi Rendra bukan lawan biasa. Dia pernah mengalahkan sepuluh petarung terbaik Drakenfeld sekaligus dalam waktu kurang d
Setelah memastikan bahwa Leon Albrecht telah diamankan di fasilitas tahanan rahasia yang dikelola oleh Arthura Trade & Co, Johan dan timnya mulai merencanakan langkah berikutnya. Di dalam ruang taktis mereka, Evelyn membentangkan peta Astvaria, menunjuk ke wilayah berikutnya yang menjadi target mereka. "Kota Drakenfeld, markas Keluarga Rangga." Keluarga Rangga adalah salah satu dari 12 Keluarga Teratas, dikenal sebagai penguasa pasukan bayangan dan pengawal elit. Mereka memiliki sistem militer swasta yang bahkan bisa disewa oleh keluarga lain untuk perlindungan atau operasi khusus. • Kekuasaan: Pasukan bayangan dan pengawal elit. • Keunggulan: Memiliki pasukan petarung terbaik yang bisa disewa oleh keluarga lain. • Tuan Muda: Rendra Rangga – Seorang ahli bela diri dengan kekuatan luar biasa. Darius menatap peta dengan serius. "Ini akan sulit. Keluarga Rangga punya jaringan
BZZT! BZZT! Puluhan drone tempur mulai bergerak, mengelilingi Johan dengan formasi sempurna. Senjata otomatis yang terpasang di bawah mereka menyala merah, bersiap menembakkan peluru berkecepatan tinggi. Leon Albrecht berdiri dengan percaya diri, senyumnya penuh kemenangan. "Kau mungkin kuat dalam pertarungan tangan kosong, Johan. Tapi coba lihat, bahkan kau tidak bisa menangkis hujan peluru dari semua arah." Johan hanya menghela napas, menatap Leon dengan tatapan dingin. "Aku sudah menumbangkan Wilhelm yang jauh lebih unggul dalam teknologi dibandingkan kau, Leon. Apa kau benar-benar berpikir ini cukup untuk menjatuhkanku?" Leon tertawa kecil, mengetuk layar di arlojinya. "Kita lihat saja." "TEMBAK!" BRRRTTTTTTT! Dalam sekejap, hujan peluru melesat ke arah Johan dari berbagai sudut. Namun, Johan tidak bergerak sedikit pun. S
Malam yang kelam menyelimuti kota Eisenwald. Di kejauhan, Menara Aeternum berdiri megah seperti monumen kekuasaan keluarga Albrecht. Namun, malam ini menara itu bukan hanya sekadar lambang kejayaan—ia akan menjadi medan perang. Johan turun dari mobil bersama Evelyn dan Darius. Di belakang mereka, puluhan anggota pasukan elit Arthura Trade & Co telah bersiap dengan senjata lengkap. Darius menyeringai saat melihat menara yang penuh dengan penjaga. "Leon benar-benar tidak main-main. Aku menghitung setidaknya 50 penjaga hanya di bagian luar." Evelyn menghela napas dan memeriksa peluru di pistolnya. "Kita masuk dengan paksa atau menyelinap?" Johan melangkah maju, mengenakan sarung tangannya dengan tenang. "Kita masuk seperti badai." ________________________________________ Di dalam Menara Aeternum… Leon Albrecht duduk di ruangannya, menyesap anggur merah dengan
Di jantung Eisenwald, pertempuran tak kasat mata mulai berkecamuk. Leon Albrecht tidak membuang waktu. Begitu ia menyadari serangan Johan telah menghancurkan sebagian besar operasional rahasia keluarganya, ia langsung mengaktifkan Sentinel Malam—kelompok pembunuh bayangan yang selama ini menjadi kekuatan tersembunyi keluarga Albrecht. Mereka bukan sekadar algojo. Mereka adalah hantu yang bergerak tanpa suara, spesialis dalam eliminasi cepat dan bersih. Dan target pertama mereka malam ini: Johan. ________________________________________ Di markas Arthura Trade & Co, Johan sedang membaca laporan terbaru. Darius masuk dengan ekspresi tegang. "Ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa titik pengawasan kita di distrik finansial tiba-tiba terputus komunikasi." Evelyn, yang sedang duduk di meja sambil mengasah pisaunya, menegakkan tubuhnya. "Itu tidak mungkin kebetulan."
Di jantung kota Eisenwald, Johan berjalan santai di sepanjang koridor markas Arthura Trade & Co. Tangannya bersedekap di belakang punggung, ekspresinya tenang, tetapi matanya tajam seperti seekor elang yang mengamati mangsanya. "Sudah ada pergerakan dari pihak Albrecht?" tanyanya tanpa menoleh. Darius, yang berdiri di sampingnya, mengangguk sambil menyerahkan sebuah laporan. "Mereka mulai menyerang gudang-gudang kita. Beberapa agen kita di pasar saham juga menerima ancaman. Tapi ini belum serangan penuh." Evelyn, yang duduk di meja dengan satu kaki bersilang, tertawa kecil. "Leon terlalu pintar untuk bertindak gegabah. Dia pasti ingin mengujimu lebih dulu sebelum mengerahkan semua kekuatannya." Johan tersenyum tipis. "Biarkan dia mencoba. Saat dia sadar bahwa dia telah bermain di dalam permainanku, itu sudah terlambat baginya." ________________________________________ Di sisi lain kota, s
Hari itu, Eisenwald menjadi pusat perhatian seluruh Astvaria. Bursa saham yang biasanya stabil kini bergejolak liar. Para investor panik setelah membaca berita tentang kemungkinan krisis finansial yang mengancam perusahaan-perusahaan di bawah kendali Keluarga Albrecht. Di dalam gedung megah Albrecht Financial Group, Leon Albrecht berdiri di depan jendela kantornya yang luas. Matanya menatap ke kejauhan, namun pikirannya penuh dengan kemarahan. "Siapa yang berani mengguncang pasarku seperti ini?" suaranya terdengar dingin. Asisten pribadinya, Friedrich Hahn, melangkah masuk dengan wajah serius. "Tuan Muda, kami telah melacak sumber pergerakan saham yang tidak biasa ini. Tampaknya beberapa investor besar mulai menarik dana mereka secara tiba-tiba." Leon berbalik, matanya menyala dengan kemarahan yang tertahan. "Investor mana saja?" Friedrich membuka tablet di tangannya dan membacakan lapora