Mata Alfian penuh dengan nafsu. Pria itu kemudian menunjuk ke bagian bawah tubuhnya. "Grup Sebastian nggak perlu memikul tanggung jawab karena Bu Emilia sendiri bisa menyelesaikannya dengan mudah. Kamu hanya perlu merentangkan kakimu yang indah dan melayaniku. Bagaimana?"Ekspresi wajah Emilia tiba-tiba berubah jelek. "Pak Alfian, apa maksudmu?""Apa maksudku? Bukankah kamu ingin mendapatkan pinjaman? Aku sendiri ingin menidurimu. Dengan begitu, kita berdua mendapatkan apa yang kita inginkan, 'kan?"Alfian tidak lagi menyembunyikan hasrat dalam hatinya dan mengungkapkannya secara langsung.Emilia tampak emosi. "Nggak tahu malu!"Alfian mencibir dan menepuk pahanya. "Emilia, sekarang kamulah yang sedang meminta bantuanku dan bukan aku yang butuh bantuanmu.""Jujur saja, aku selalu ingin mencoba seperti apa rasanya wanita cantik nomor satu di Beluno kita ini.""Asalkan kamu bersedia bersenang-senang hari ini dan membuatku puas, aku akan segera mengalokasikan dananya."Emilia langsung ber
Ada darah di sudut mulut Emilia. Dia juga sangat panik.Bagaimanapun juga, ini ruangannya Alfian. Dia kini terkunci di dalamnya. Siapa yang bisa datang menolongnya?Apa dia benar-benar akan dinodai oleh pria cabul ini di sini?Tanpa sadar, air mata yang menggenang di pelupuk matanya pun turun membasahi wajahnya.Di saat kritis seperti ini, orang pertama yang muncul di benaknya bukanlah Edward, sang tunangannya.Melainkan Nathan.Tepat di saat ini!Terdengar suara pintu didobrak!Pintu ruangan Alfian ditendang hingga terbuka.Emilia dan Alfian terkejut. Keduanya langsung menoleh.Nathan melangkah masuk sambil memasang ekspresi dingin. Dia mengangkat kakinya dan langsung menendang dada Alfian.Terakhir, terdengar suara jeritan keras. Tubuh Alfian yang beratnya melebihi 100 kg terpental ke belakang dan menghantam meja.Tendangan kuat itu seketika membuat Emilia tercengang."Ke ... kenapa kamu bisa datang?"Emilia memperlihatkan tatapan kosong. Bekas tamparan di wajahnya tampak merah sekal
Para satpam dan karyawan semuanya terkejut. Langkah mereka juga terhenti.Bukankah bocah yang berani masuk ke dalam kantor Pak Alfian ini terlalu arogan?Emilia juga tercengang. Semua orang sudah datang sekarang, kenapa Nathan masih berani mengambil tindakan?"Sekelompok pecundang, kenapa kalian masih berdiri di sana? Bunuh dia sekarang. Bunuh dia!"Alfian tergeletak di lantai. Dia terus-terusan menjerit. Tatapan matanya seakan-akan ingin menelan Nathan hidup-hidup.Sejak menjabat sebagai kepala bank, dia tidak pernah mengalami kerugian seperti sekarang ini!Tepat di saat ini, ada dua mobil yang berhenti di depan bank.Tamara dan Ken, bersama dengan satpam Grup Sebastian, yang datang untuk membantu."Emilia, kamu baik-baik saja?" tanya Tamara buru-buru."Bu, aku baik-baik saja. Untung saja Nathan menyelamatkanku," jawab Emilia.Tamara malah tidak berterima kasih. "Masa? Kalau dia menyelamatkanmu, kenapa wajahmu bisa terluka?"Emilia berkata dengan tidak senang, "Bu, tolong bersikaplah
Setelah mengarang cerita, Alfian memandang anggota Keluarga Sebastian dengan ekspresi meremehkan.Beraninya mereka mempermainkannya! Dasar tidak tahu diri! Mereka terlalu melebih-lebihkan kemampuan mereka sendiri!Karyawannya segera menjawab, "Ya, kami semua melihat Bu Emilia datang menemui atasan kami untuk mengajukan pinjaman. Namun saat negosiasi gagal, Bu Emilia segera memanggil orangnya untuk menggunakan kekerasan."Emilia sangat marah. "Apa karyawan Bank Beluno begitu nggak tahu malu?"Alfian berkata, "Emilia, inilah akibatnya kamu nggak patuh. Kamu masih berpikir untuk mengalahkanku? Jangan harap!"Tamara mengumpat. "Dasar bajingan! Kami akan menggunakan rekaman CCTV sebagai bukti nanti."Alfian tersenyum sinis. "Bahkan, wanita tua sepertimu bisa memikirkan hal ini, apa kamu kira aku begitu bodoh?""Asal kalian tahu saja, CCTV bank kami hari ini semuanya bermasalah."Emilia diam-diam menggertakkan giginya. Alfian ini benar-benar kejam!Para karyawan Bank Beluno menatap anggota K
Samuel berkata dengan nada wibawa, "Apa yang terjadi sebenarnya?"Alfian menunjuk ke arah anggota Keluarga Sebastian sambil mengeluh, "Pak Samuel, Grup Sebastian datang untuk meminjam uang, tapi aku nggak menyetujui permintaan mereka, jadi mereka pun memukulku.""Emilia juga mengancamku dengan perangkap madu."Wajah Samuel berubah gelap. "Ada hal seperti itu?"Dia langsung menatap anggota Keluarga Sebastian dengan ekspresi dingin.Emilia berkata dengan nada serius, "Pak Samuel, situasinya nggak seperti yang dia katakan. Alfian-lah yang menggunakan kekuatannya dan berusaha untuk menodaiku. Aku hanya membela diri."Alfian menunjuk lukanya sendiri dan berkata dengan marah, "Emilia, apa yang kamu katakan? Kamu itu CEO Grup Sebastian. Siapa yang memberimu keberanian untuk berbohong di depan Pak Samuel?""Pak Samuel, lihatlah. Luka-lukaku ini adalah buktinya. Emilia nggak berhasil mengancamku, jadi dia memanggil lelakinya untuk datang memukulku. Tolong buat keputusan untukku, Pak Samuel!"Me
"Tuan Nathan, jangan khawatir. Aku pasti akan memberikan penjelasan yang memuaskan untuk masalah ini!"Ekspresi wajah Samuel tampak serius. Nada bicaranya pada Nathan terdengar tulus.Sikap Samuel yang berbeda itu tentu membuat orang di sekitarnya tercengang.Bahkan, Emilia pun terkejut. Bukankah Pak Samuel terlalu segan pada Nathan?Nathan berkata dengan nada datar, "Pak Samuel, kamu harus memberiku sebuah penjelasan. Kalau nggak, ini bukan hanya perkara mematahkan satu tangan direktur Bank Beluno, bawahanmu ini saja!"Kelopak mata Samuel berkedut. Dia diam-diam memaki Alfian dalam hatinya dan menyebutnya bodoh.Samuel tidak peduli kalau Alfian menyinggung orang lain, tetapi mengapa dia malah berani menyinggung Tuan Nathan?Bahkan, Samuel sendiri juga ingin menjalin hubungan yang baik dengan Nathan.Alfian, si kepala bank kecil ini, sepertinya sudah bosan hidup.Makin memikirkannya, Samuel makin marah. Pria itu pun berkata dengan nada tegas, "Pak Alfian, kemarilah dan jelaskan masalah
Namun siapa sangka, suara Nathan terngiang di telinganya saat ini."Bu Emilia puas, tapi aku belum puas."Emilia tercengang. Nathan masih belum puas?Dari mana Nathan mendapatkan keberanian untuk mengajukan permintaan seperti itu? Bukankah seharusnya berhenti di saat mereka masih unggul?Samuel sangat kooperatif dan berkata, "Tuan Nathan, katakan saja bagian mana yang kamu rasa belum puas. Biar aku yang menyelesaikannya."Nathan berkata dengan nada datar, "Pertama, pinjaman yang kami butuhkan masih belum diproses. Kedua, karyawan Bank Beluno bersekongkol dengan Alfian. Mereka juga bukan orang baik.""Aku rasa Pak Samuel seharusnya nggak membiarkan parasit seperti itu terus berada dalam sistem yang melayani rakyat.""Aku akan mengutus orang lain agar segera memproses pinjaman untuk kalian."Tanpa perlu berpikir panjang, Samuel langsung setuju.Kemudian, dia melemparkan tatapan dingin ke arah karyawan-karyawan tersebut. "Bersiaplah untuk mengundurkan diri. Aku nggak ingin bicara panjang
Sebelum Nathan menjawab.Tamara sudah lebih dulu memakinya. "Nathan, mengapa kamu begitu suka membual?""Jelas-jelas Edward yang membantu kami dari belakang. Apa kamu begitu nggak tahu malu?"Nathan mendengus dingin. "Edward yang membantu kalian? Tapi mengapa orangnya nggak kelihatan? Apa mungkin Tuan Edward yang sudah melakukan perbuatan baik, tapi akan begitu rendah hati dan nggak pamer?"Tamara yang diserang balik dengan pertanyaan itu langsung terdiam. Raut wajahnya juga sangat jelek.Emilia juga heran. Mengapa Edward masih belum datang padahal masalah sudah berakhir?Apa Edward tidak menerima pesannya?Atau ada alasan lainnya?Tepat di saat ini, sebuah mobil sport melaju kencang dan berhenti di depan bank. Edward langsung keluar dari mobil dengan tergesa-gesa"Emilia, maaf. Tadi ada urusan, jadi aku datang terlambat."Begitu turun dari mobil, Edward segera minta maaf, seolah-olah dia punya alasan.Tamara tersenyum dan berkata, "Sudah kubilang, Edward pasti membantu kita dari belak
Salah satu pengawal bertanya dengan gemetar, "Tu ... Tuan Edward, apa yang harus kita lakukan?""Bocah itu menakutkan sekali. Dia bahkan menghancurkan dada Master Emir. Kalau dia mengejar kita, bukankah kita ... kita juga akan celaka?"Edward berteriak, "Sekelompok pengecut yang takut mati!""Lihat betapa pengecutnya kalian! Lebih baik Keluarga Halim memelihara anjing daripada kalian."Para pengawal itu marah, tetapi tidak berani mengatakan apa pun. Mereka hanya bisa diam-diam mencibir dalam hati.'Bukankah orang yang lebih takut mati itu Tuan Edward sendiri?'"Bawa aku untuk mengobati lukaku dulu. Setelah itu, baru pergi mencari ayahku."Tatapan mata Tuan Edward tampak begitu tajam. Dia mengatupkan giginya rapat-rapat. "Nathan, kamu tunggu saja. Pokoknya, salah satu dari kita pasti akan mati dan orang itu adalah kamu!"Di Rumah Sakit Perdana.Tamara menarik Emilia dan berbisik di telinganya, "Emilia, kesempatan Keluarga Sebastian kita sudah datang."Emilia bertanya dengan bingung, "Bu
Dua pengawal Keluarga Halim bergegas maju dan dengan susah payah memapahnya."Master Emir, kamu ...."Edward tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka akan berakhir seperti ini.Sebelum kehilangan kesadarannya, Emir masih sempat berpesan dengan pasrah, "Tuan Edward, cepat kabur."Seakan-akan kehilangan penyelamatnya, putra sulung Keluarga Halim langsung mengaum histeris.Wajah Nathan tampak dingin. Dia tidak mengejarnya.Serangan lutut yang barusan dia luncurkan itu telah menghancurkan meridian Emir.Sekalipun bisa bertahan hidup, Emir juga hanya bisa menjadi orang yang tidak berguna.Butuh waktu lama bagi Edward untuk tersadar kembali. "Apa yang kalian lakukan di sana? Huh? Semuanya pecundang. Cepat bawa aku pergi!"Memandang para pengawal yang tertegun, Tuan Edward langsung meraung frustrasi.Para pengawalnya baru terhenyak dan bersiap membawanya kabur dari tempat ini.Nathan berkata dengan nada datar, "Kalau kalian nggak ingin mati, tinggalkan pecundang itu di sini."Para pengawal
Tindakan Nathan cepat dan tegas. Gerakannya juga sangat tajam.Seketika membuat Emilia, Tiara, dan yang lainnya tercengang.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Nathan masih berani menyerang Edward. Padahal, dia ditemani oleh Master Emir hari ini.Yang lebih mengejutkan mereka lagi, bukankah Edward juga termasuk tuan muda terkenal di Beluno dan punya keterampilan bela diri yang cukup sempurna?Kenapa begitu jatuh di tangan Nathan, Edward malah seperti orang lemah dan justru dipukul secara habis-habisan? Sampai-sampai tidak bisa bangkit lagi hanya karena sentuhan ringan.Ada nyala api membara yang muncul di mata Emir."Nak, nyalinya besar juga.""Beraninya kamu menyerang orang di hadapanku. Jangan harap kamu bisa lolos hidup-hidup."Nathan melambaikan tangan ke arahnya. "Jangan omong kosong lagi. Cepatlah kalau kamu mau bertindak.""Selesai bertindak, aku masih harus memeriksa pasien lainnya."Kesabaran Master Emir seakan-akan diuji. Dia sudah hampir mengamuk. "Dasar bocah kurang aj
"Tapi yang kulakukan untukmu kali ini sudah cukup untuk membalas semua pengorbananmu."Nathan mengerutkan kening dan berkata, "Jadi sampai sekarang, kamu masih berpikir untuk perhitungan denganku? Kamu juga berusaha keras untuk memastikan bahwa kamu dan Grup Sebastian nggak berutang apa pun padaku lagi?"Emilia memalingkan wajahnya dan berkata dengan keras kepala, "Ya, aku nggak ingin berutang padamu."Nathan tersenyum sinis. "Kamu nggak berutang apa pun padaku. Minggirlah. Bukankah Tuan Edward sangat sombong? Bukankah dia ingin mengendalikanku? Aku akan beri dia kesempatan."Emilia tertegun sejenak. Kemudian, dia memarahi pria itu. "Nathan, kamu tahu apa yang kamu lakukan?""Mundur. Edward ditemani oleh master dari Keluarga Halim. Kalau kamu terus keras kepala seperti ini, percuma saja aku kompromi dengan Edward barusan."Nathan mendorong Emilia dan berkata dengan nada datar, "Pertama, aku sama sekali nggak butuh kamu membantuku berkompromi.""Kedua, Tuan Edward sedang pamer di wilaya
Emilia berkata dengan kaku, "Maaf, aku nggak butuh semua itu. Aku sudah bilang tadi malam, hubungan kita sudah berakhir."'Dasar wanita nggak tahu berterima kasih!'Edward diam-diam memaki Emilia dalam hatinya, tetapi wajahnya masih tetap tersenyum. "Aku tahu kamu masih marah.""Aku nggak minta kamu memaafkanku sekarang. Tapi Emilia, perasaanku padamu nggak pernah berubah. Aku akan datang ke kediaman Sebastian setiap hari untuk mengakui kesalahanku sampai kamu memaafkanku."Emilia berkata dengan nada jijik, "Edward, tahukah kamu pemikiranmu itu terlalu kekanak-kanakan?""Sudah kubilang, kamu nggak perlu mengakui kesalahanmu. Mulai sekarang, kita juga nggak perlu saling berhubungan lagi. Itu lebih baik daripada apa pun."Tamara juga ikut memarahi. "Edward, jangan ganggu putriku lagi. Bagaimanapun juga, kamu itu putra sulung Keluarga Halim. Jangan jadi orang yang nggak tahu malu."Wajah Edward tampak geram. Dia ingin menghampiri Tamara dan menghajar wanita tua itu.Namun, dia menarik nap
Thomas juga bukan orang yang bisa ditekan oleh Tiara dan juga Regina.Edward sangat senang dan berkata dengan nada datar, "Tiara, kamu pasti nggak sangka kalau aku akan mampu menekan Nathan dan memberinya pelajaran, 'kan?""Selama ini, kamu dan Regina, dua wanita paling cantik di Beluno, selalu bergaul dengan bocah itu.""Sebagai seorang kakak, entah sudah berapa kali aku memperingatkanmu. Tapi kalian keras kepala dan nggak mau dengar nasihatku.""Begini saja. Kamu panggil Nathan ke sini, lalu suruh dia berlutut dan jilat jari kakiku. Kalau aku puas, mungkin aku akan pertimbangkan untuk melepaskan nyawanya untuk sementara waktu."Melihat senyum puas Edward, Tiara merasa jijik dan juga ilfil."Edward, bagaimanapun juga, kamu termasuk tuan muda paling berbakat di Beluno dan berasal dari keluarga bangsawan.""Tapi selama ini, kamulah yang terus-terusan mencari masalah dengan Nathan. Lantaran nggak bisa mengalahkan Nathan, sekarang kamu minta para master keluargamu untuk datang membantumu.
"Emilia, aku datang menjengukmu, juga Bibi, dan Ken.""Tadi malam aku memang agak impulsif. Aku juga kehilangan akal sehat. Bisakah kamu memaafkanku?"Begitu Edward sampai, dia langsung memperlihatkan sikap rendah hati, seolah-olah dia itu pria yang berperilaku baik dan berhati hangat.Tamara mendengus dingin. "Maaf, kami nggak menerima permintaan maafmu. Keluarlah dari sini."Edward sama sekali tidak peduli. Dia sudah menebak bahwa Tamara akan bersikap seperti itu.Pria itu melihat sekeliling dan mendapati Emilia tidak ada di sana, jadi dia langsung bertanya, "Di mana Emilia? Dia pergi ke mana?"Tamara tersenyum sinis. "Ke mana dia pergi? Tentu saja menjauh dari pria berengsek sepertimu.""Edward, lebih baik kamu menyerah saja. Nggak ada seorang pun anggota Keluarga Sebastian yang bisa memaafkan kelakuanmu tadi malam.""Asal kamu tahu saja, Emilia sudah balikan sama Nathan. Sekarang, mereka berdua mungkin lagi bermesraan."Wajah Edward tiba-tiba berubah muram. Tatapannya seolah ingin
"Kebetulan kakekku punya buku kedokteran yang nggak begitu dia pahami, jadi dia ingin kamu membantunya."Nathan tersenyum dan berkata, "Nggak masalah. Asal ada waktu, aku pasti akan pergi mengunjungi Pak Willy."Ada dua lesung pipit yang muncul di wajah cantik perawat itu. Dia pun melangkah pergi dengan gembira.Emilia yang berdiri di samping menyaksikan pemandangan ini dengan tatapan tidak senang."Nathan, perawat kecil ini dari Keluarga Setiawan, keluarga terpandang di Beluno, 'kan?" tanya Emilia.Nathan tidak tahu terlalu banyak tentang latar belakang Keluarga Setiawan, keluarganya Adel, jadi pria itu pun menjawab, "Aku kurang tahu."Emilia tersenyum pahit dan berkata, "Nggak perlu pura-pura lagi. Tatapan matanya yang penuh kekaguman itu sudah begitu jelas. Dia sepertinya tergila-gila padamu.""Haha. Sejak berpisah denganku, hubungan asmaramu cukup mulus juga. Sebelumnya ada Nona Regina, kemudian Nona Tiara dari Keluarga Wijaya.""Sekarang bertambah satu Adel lagi. Nathan, sepertiny
Rumah Sakit Perdana.Begitu Nathan masuk ke dalam ruangannya, Tiara bergegas menghampiri dan berkata dengan ekspresi aneh, "Nathan, mantanmu dan keluarganya berada di rumah sakit kita."Nathan terkejut dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu pada mereka?"Tiara cemberut dan berkata, "Sepertinya kamu masih punya perasaan terhadap Emilia. Kamu masih peduli padanya, 'kan?""Bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya merasa aneh," ucap Nathan tak berdaya.Tiara mendengus dan berkata, "Emilia baik-baik saja, tapi ibunya, si wanita tua galak itu, dan juga adik laki-lakinya, Ken, hampir dipukul sampai mati.""Aku lihat kondisi Emilia tampak kacau, wajahnya juga pucat, dan kebingungan. Bukankah kalian berdua kenal? Lebih baik kamu pergi lihat sendiri saja."Nathan tersenyum dan berkata, "Lantas, kenapa kamu barusan sepertinya nggak ingin aku pergi melihatnya?"Tiara membusungkan dadanya dan berkata dengan arogan, "Memang benar. Aku nggak ingin kamu terjerat dengan Emilia lagi.""Tapi bagaimanapun