Dua orang gadis memakai jubah bulu memasuki sebuah resto. Satu orang terlihat santai berjalan memasuki tempat tersebut sedangkan gadis lainnya nampak sedang mengagumi seisi ruang tersebut. Bahkan ia sampai tak sadar mulutnya terbuka dan hampir ditinggal oleh temannya. Gadis yang nampak santai itu terus berjalan tanpa sadar ia hampir meninggalkan seseorang. Pria muda berpakaian pelayan resto tersebut datang mendekatinya. “Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya dengan sikap dan nada yang sopan. “Berikan aku ruangan di lantai dua dekat jendela, untuk dua orang.” Gadis yang tak lain adalah Alice menjawab pertanyaan pelayan pria muda tersebut. Tadi setelah ia memaksa Rona berganti pakaian Alice langsung membawanya ke sebuah restoran mewah yang kebetulan tak jauh dari butik tersebut. Saat melihat antusias Rona di butik tadi membuat Alice berpikir untuk membelikannya gaun. Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya atas bantuannya selama ini. Rona adalah gadis yang baik dan pelayan yang cakap.
Pagi-pagi kediaman Anderson sudah ramai sekali. Tepatnya di sebuah ruang pribadi dengan nuansa feminim dan ceria terlihat banyak pelayan tengah mengerubungi seorang gadis. Orang tersebut tak lain sang Nona Muda Anderson ialah Alice. Saat ini Alice sedang duduk manis dan membiarkan dirinya entah diapakan oleh para pelayannya. Dia baru saja selesai membilas tubuhnya dan langsung diseret oleh pelayannya kesana kemari. Setelah dibantu mengenakan gaun kini rambut panjangnya yang berwarna pirang tengah ditata. Dia tak tahu apa yang akan dibuat pada rambutnya karena nampaknya sedari tadi pelayannya itu bingung. Dari yang tadi hanya menggerainya, lalu ditambahkan beberapa aksesoris. Kemudian mencoba dikuncir dari bentuk ekor kuda, kepang hingga sanggul telah dicoba semua, namun lagi-lagi mereka melepasnya. Beruntung pelayannya itu tak lupa menyiapkan cemilan untuknya. Jika tidak mungkin ia sudah pingsan duluan sebelum sempat ke perjamuan. Ketika cangkir tehnya telah kosong bersamaan dengan it
Sejauh ini perjamuan berjalan dengan lancar. Alice merasa aman dengan keberadaan Selir Helena yang mengambil perhatian semua para nona bangsawan. Terlihat semua orang begitu berlomba-lomba melempar pujian untuk mencari muka pada sang Selir. Selir Helena pun nampak gembira dikelilingi oleh mereka, apalagi sambutannya yang ramah membuat semua jadi lebih bersemangat lagi. Alice tahu maksud mereka dengan melakukan hal itu. Pangeran Kedua yang merupakan putra dari Selir Helena sudah memasuki usia menikah, namun belum memiliki pasangan. Pangeran Alaric sendiri pun tak terlihat dekat dengan wanita manapun. Maka dari itu, mereka semua berlomba-lomba untuk menonjolkan diri agar bisa terpilih menjadi pendamping Pangeran Alaric di masa depan. “Sayang sekali, sudah ada orang terpilih. Jadi, usaha kalian itu sia-sia.” Alice melirik pada gadis yang duduk di hadapannya. Gadis tersebut mengenakan gaun berwarna kuning lembut yang memperlihatkan sosoknya jadi cantik dan anggun. Orang dihadapannya adal
Langkah kaki tergesa-gesa di sepanjang lorong terdengar. Tak lama suara pintu terbuka secara kasar menyusul membuat orang yang ada di dalamnya terkejut dan mendongak melihat siapa pelakunya. Marquess Anderson terkejut melihat wajah merah dari putrinya tersebut. “Alice, ada apa nak?” tanya sang Marquess dengan wajah heran. Alice dengan wajah emosi yang tertahan menggebrak meja kerja ayahnya hingga pria itu terlonjak kaget. Rupanya putrinya itu sedang kesal dengan sesuatu. Entah apa yang membuatnya kesal hari ini hingga ia menampilkan sosoknya yang cukup kasar hingga membuatnya terkejut. Putrinya yang ia kenal adalah seorang gadis yang ceria, baik dan penuh energi. Jarang sekali ia melihat Alice marah atau mungkin tidak pernah. Sekalipun ia marah itu hanya terjadi sebentar saja. Putrinya yang manis lebih suka tersenyum membuat hatinya selalu meleleh saat melihatnya. Namun, entah mengapa wajah kesalnya hari ini cukup membuat sang Marquess merasa sedikit takut dalam hatinya. Rasanya sepe
“Ayah, aku membutuhkan bantuanmu.” Lucas memasuki ruang kerja ayahnya. Ia berdiri di hadapan sang Ayah dengan wajah serius membuat Peter mengerut heran. Bantuan apa yang diminta oleh putranya dengan wajah yang serius itu? “Katakan ada apa? Apakah ada masalah?” tanya Peter. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan memutar menuju sofa tunggal yang diikuti oleh putranya mengambil duduk di sofa panjang. “Bantu aku melamar seseorang,” jawab Lucas masih dengan wajah seriusnya. Peter yang baru saja duduk itu langsung terpaku sejenak. “Apakah dia nona Anderson?” tebaknya. “Ya.” Peter tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat respon Lucas yang terus terang ditambah dengan wajah serius, namun terlihat jelas telinganya telah memerah tanda bahwa putranya sedang menahan malu. Hal ini mengingatkan dirinya pada masa lalu. Saat itu ia menemui ayahnya —Duke terdahulu— untuk minta bantuan melamar Anna. Pasti saatnya ayahnya juga seperti dirinya hanya bisa tertawa dengan tingkah putranya yang dimab
Aku adalah putri tunggal dari keluarga bangsawan Count Earnest. Menjadi satu-satunya anak yang ada dalam keluarga tersebut membuatku dilimpahi oleh banyak hal bagus seperti kekayaan, kasih sayang dan kehormatan. Namun, itu tidak seindah yang dibayangkan. Ayahku seorang Count yang selalu berpikir jika semua harus memiliki manfaatnya masing-masing tak terkecuali seorang anak. Ketika aku lahir Ayahku tidak kecewa meski banyak keluarga bangsawan mengharapkan seorang anak laki-laki untuk meneruskan gelarnya, tapi ia berbeda. Beliau tak mempermasalahkan anak yang lahir apakah gadis atau laki-laki karena pada akhirnya jika ada ditangannya semua akan menjadi alatnya. Di hari kelahiranku hidupku telah diputuskan oleh pria itu. Aku akan hidup menjadi bonekanya. Hidupku menjadi alat untuk membantunya menapaki kekuasaan yang lebih besar. Untuk mendukung hal itu pria itu tak ragu untuk memberikan apapun padaku karena ia yakin pada dirinya bahwa ini adalah bentuk investasinya di masa depan. Jika se
Anna memandangi putrinya yang sedang bermain salju dengan para pelayan. Ia duduk di gazebo ditemani Marie. Tak lama datanglah Lucas, putranya. Ia pun tersenyum menyambut kedatangannya. “Sudah kembali? Bagaimana dengan Alice?” Anna tahu hari ini putranya akan mendatangi Alice untuk mengutarakan lamarannya. Matanya memandangi wajah memerah putranya itu. Bibirnya pun melengkung tersenyum melihat tingkah malu-malu dari Lucas. Tak ia sangka kini ia kembalimelihat putranya tumbuh. Berbeda dengan sebelumnya, ia bisa melihat putranya menyukai seorang gadis bahkan ia bisa melihat pernikahannya. Jika dulu rumah ini dingin dan gelap, maka sekarang terasa hangat, aman dan damai. Semenjak kepergian Winna, Anna bisa merasakan dirinya dapat bernapas sejenak. “Dia tahu, jadi aku gagal membuatnya terkejut,” keluhnya dengan lemas. “Eh, bagaimana bisa?” Anna terkejut. Ia tahu bahwa Lucas meminta Max dan Marquess Anderson untuk merahasiakan ini dari Alice. Lucas mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Mungki
Rumor itu untuk belum sampai keluar ke publik, namun begitu Peter tetap cemas. Ia tak bisa sembarangan mendatangi atau mengirim surat pada ayah mertuanya itu. Bisa saja nanti orang salah memahaminya dan beranggapan bahwa dirinya terlibat yang berakibatkan imbas buruk pada keluarganya khususnya Anna dan Lucas. Peter sadar jika ini bagian dari permainan Selir Helena. Di tengah kebimbangannya ia pun terpaksa menyetujui permintaan sang Selir untuk berdiri di pihaknya. Tentu saja hal itu mengundang banyak perdebatan oleh bangsawan bahkan Raja Eron pun juga terkejut. Usai masalah yang menimpa ayah mertuanya reda semua kembali menjadi baik tanpa ada masalah. Meski begitu Peter harus terus-terusan melawan nuraninya karena ia bertentangan dengan Selir Helena. Namun, demi istri dan anak ia harus menahannya. Ketika ia kehilangan calon anaknya dirinya mendapat kesempatan berbaikan dengan istrinya. Peter menjelaskan semua situasi yang terjadi pada Anna dan mereka berdua akhirnya berbaikan. Meski t
Setelah penangkapan Selir Helena dan bansgawan lain, maka keesokan harinya mereka langsung diadili. Raja Eron bahkan mengumumkan akan mengadakan pengadilan terbuka dan meminta rakyat Diedrich untuk menghadirinya. Maka, keesokan harinya tribun telah dipenuhi oleh rakyat Diedrich. Mereka dengan patuh duduk dan dibantu oleh ksatria penjaga mengawasi agar tak terjadi kericuhan. Namun, mereka mulai berisik saat para tahanan memasuki lapangan. Mereka menyorakinya dan melemparinya dengan kata-kata kasar.Peter bersama Lucas membawakan semua bukti kejahatan semuanya termasuk Selir Helena. Bahkan menghadirkan Winna sebagai saksi kejahatan Selir Helena selama ini. Rakyat Diedrich terkejut saat mengetahui bahwa ibu dari Pangeran Alaric memiliki saudara tiri yang lahir dari seorang pelayan. Yang lebih membuat mereka terkejut adalah rupanya Selir Helena ini sejak awal adalah orang yang jahat. Wanita itu memanfaatkan saudara tirinya dengan mengirimnya ke Chester untuk mengendalikannya. Dia berencan
“Selamat tinggal, Yang Mulia!” Usai meminumkan racun itu pada Raja Eron, Selir Helena berbalik dan melangkah keluar dengan wajah yang puas. Tinggal menunggu waktu kematian suaminya itu, setelah itu semua akan menjadi miliknya.Saat ia akan membuka pintu tiba-tiba saja pintu dibuka oleh seseorang. Kedua mata Selir Helena melebar saat melihat putranya, Pangeran Alaric berada di hadapannya. Bukan hanya ia terkejut melihat kehadiran putranya, namun adanya rombongan ksatria kerajaan di balik punggung putranya. Firasat buruk muncul dalam hatinya.“Apa yang ka—” ucapan Selir Helena terputus oleh suar Pangeran Alaric.“Periksa keadaan Yang Mulia sekarang!” perintah Pangeran Alaric pada dokter yang selalu merawat Raja Eron.Dokter tersebut langsung mengangguk dan masuk begitu saja diikuti oleh dua orang perawat melewati Selir Helena seolah-olah wanita itu tidak ada. Wajah Selir Helena pun menjadi kaku. Raja Eron baru saja meminum racun miliknya yang pasti racun itu sudah mulai bereaksi. Namun,
Ratu Camellia yang sedang menjalani pengurungan di istananya tengah menikmati secangkir teh di balkon kamarnya. Sudah hampir sepuluh hari dia berada di kamarnya terus hingga merasa bosan. Sehari-hari yang ia lakukan hanyalah menikmati pemandangan dengan menyesap teh kesukaannya, membaca buku yang ia minta pelayannya untuk mengambilkannya di perpustakaan, lalu menyulam sesuatu untuk cucunya. Ia tak ambil pusing dengan nasib hidupnya karena ia tahu bahwa dirinya tidak akan berakhir selamat atau bebas. Ratu Camellia yakin bahwa Selir Helena akan menjatuhinya hukuman yang mana hukuman tersebut akan membuatnya tak dapat di istana. Wanita tersebut pasti sangat menikmati situasi yang sedang menguntungkannya saat ini. Pasti di setiap malamnya sekarang Selir Helena tidur dengan nyenyak dan bermimpi indah. Ratu Camellia tak khawatir tentang nasibnya. Ia memikirkan bagaimana dengan menantu dan cucunya serta suaminya yang belum kunjung sadar. Kekuatan istana sedang tak seimbang semenjak Putra Mah
Lucas dan Peter menaiki kudanya masing berjalan paling depan. Di belakangnya ada kereta kuda kecil, lalu paling belakang ada dua ksatria Chester. Hari sudah petang dan mereka telah memasuki gerbang ibu kota. Perjalanan yang memakan waktu tiga hari tersebut tak terasa telah berakhir. Mereka berhasil membawa barang bukti dengan aman dan selamat. Hanya saja tidak berupa barang yang mereka bawa melainkan juga saksi. Saksi tersebut tak lain adalah Winna. Wanita itu telah menceritakan segalanya. Rupanya Winna dan Selir Helena adalah saudara tiri. Sebuah fakta yang sangat mengejutkan mereka berdua. Siapa sangka jika Count Earnest memiliki anak dengan seorang pelayan. Mereka juga telah mendengar secara garis besar apa saja hal yang dilakukan Winna untuk Selir Helena. Tak menyangka bahwa kegilaan Selir Helena didapatkannya dari Count Earnest. Winna juga menceritakan bahwa ia diselamatkan oleh Pangeran Alaric yang merupakan keponakannya itu. Selama perawatan dari Pangeran Alaric, Winna perlahan
Peter bersama dua orang lainnya memasuki penginapan. Ia mengambil ruang paling besar yang terdapat dua ruang tidur. Masing-masing kamar berisi dua ranjang terpisah. Salah seorang ksatria pergi mencegat Lucas sedangkan yang lain memesan makanan. Peter sedang berada di kamarnya duduk terdiam dengan badan menyandar. Pikirannya melayang pada kejadian tadi. Tiba-tiba sekelebat bayangan terlintas dalam otaknya saat belati itu akan terlempar ke arahnya. Sebuah memori berputar acak yang membuatnya pusing. Namun, gambaran-gambaran tersebut sangat tak asing baginya. Beberapa hal pernah ia lihat dalam mimpinya. Hal itu membuat dadanya sesak dan nyeri. Tangan Peter terulur menyentuh dada kirinya merasakan detak jantungnya. Lucas memacu kudanya dengan sangat cepat sehingga dirinya dapat menyusul ayahnya yang telah berada di penginapan desa terdekat. Di gerbang salah seorang ksatria Chester sudah menunggunya. Usai makan bersama semua memasuki kamar untuk beristirahat tak terkecuali dirinya dan ayah
“Apa yang kau lakukan di sini?!” Lucas menatap tak percaya pada Alice. Seharusnya gadis itu sedang istirahat di kamarnya. Melihat sosoknya yang berjalan dengan kepala tertunduk membuat Lucas kesal. Alice ini benar-benar ceroboh. Dari mana datang pikirannya membuntuti mereka diam-diam begini. Beruntung sekelompok orang yang menghadang mereka tak menyadari kehadiran Alice. Kalau mereka tahu pasti orang itu akan melukai atau mungkin akan membunuhnya. Jika begitu, siapa yang bisa menolongnya karena Lucas atau bahkan seorang pun tak tahu tentang keberadaannya. “Ayah, maaf aku akan mengantar Alice kembali. Aku akan menyusul kalian secepatnya.” Tanpa menunggu jawaban dari sang ayah, Lucas langsung membawa pergi Alice. Kedua orang itu menaiki kudanya masing-masing. Peter hanya diam menatap kepergian putranya dan calon menantunya itu. Ia paham jika sekarang Lucas marah karena tunangannya diam-diam membuntuti mereka yang mana kepergian mereka ini sangat berbahaya. Baru saja mereka melewati ger
Lucas menjemput Alice ke kamar gadis itu dan mengajaknya pergi ke taman. Mereka berdua tengah menikmati pemandangan hamparan bunga yang bermekaran cantik di halaman tersebut. Alice yang sedang menikmati kue cokelatnya menggumam dengan puas. Melihat Alice yang sangat menikmati kegiatannya hari ini membuat Lucas jadi menatapnya dengan senang. Hari ini ia mengajak Alice bertemu karena dirinya ingin berpamitan dengan kekasihnya itu. Nanti malam ia dan ayahnya akan pergi ke tempat yang cukup jauh. Mungkin akan membutuhkan waktu hampir satu minggu untuk berangkat dan pulang. Maka dari itu, ia akan berpamitan pada Alice sekaligus memintanya untuk tetap berada di kediaman selama ia pergi. Tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, lebih baik mereka berjaga-jaga agar terhindar dari hal buruk. Istana saat ini sedang berduka akan kematian Putra Mahkota. Maka, selama satu minggu pusat kota akan libur berativitas untuk menunjukkan kesedihan mereka. Namun, berbeda dengan kubu rival Putra Mahkota,
Lucas berdiri menunggu kedatangan seseorang dengan dua orang ksatria Chester bersamanya. Mereka bertiga sedang duduk di atas pohon yang lebat daunnya sehingga bisa menyembunyikan diri mereka dengan baik. Bahkan pakaian mereka yang gelap semakin menyempurnakan persembunyian ketiga orang itu. Saat ini ketiga orang tersebut sedang menjalankan misi. Sesuai dengan yang dijanjikan di dalam surat Pangeran Alaric, Lucas saat ini berada di lokasi untuk menunggu. Lucas mengamati sebuh pintu kayu yang masih tertutup rapat itu. Itu adalah satu-satunya pintu masuk yang ada di sana. Lamanya ia mengamati dari atas pohon, akhirnya pintu itu terbuka. Seseorang memakai jubah bertudung warna hitam berjalan keluar dari pintu tersebut. Orang tersebut berhenti sejenak dan mengangkat tangannya membentuk sebuah kode yang ditangkap oleh Lucas. Dia pun melompat turun dan segera menghampirinya. “Yang Mulia …,” sapa Lucas dan orang itu mendongak menatapnya. “Apa kau sudah lama menunggu?” tanya orang tersebut. “
Di sebuah bangunan yang besar dipenuhi oleh orang-orang yang berpakaian hitam. Semua orang duduk berbaris rapi di sederet bangku panjang yang telah penuh itu. Beberapa menundukkan kepalanya dan sisanya menghadap ke depan menatap sesuatu di sana. Namun, ada kesamaan di antara mereka. Semua orang di sana memakai kain penutup mulut dan hidung karena bau busuk menguar membuat orang yang tidak tahan menciumnya akan muntah. Di ujung ruangan terdapat sebuah kotak kayu yang panjang dengan karangan bunga menghiasi di sekitarnya sekaligus menghalau bau busuk tersebut. Di sana ada seseorang tengah terbaring kaku dengan wajah pucat dan badan yang dingin. Pada bangku paling depan terdengar isak tangis seorang wanita. Wanita tersebut tak lain adalah Ratu Camellia. Sedangkan yang tengah ditangisinya adalah Putra Mahkota Albert. Pria tersebut semalam dinyatakan meninggal akibat penyakitnya yang rupanya semakin hari parah dan merusak organ tubuhnya. Tubuhnya menghitam dan membusuk membuat semua orang t