"Apa?! Aku tidak mendapatkan itu dari siapapun! Itu milikku! Cepat kembalikan apa yang sudah kau ambil!" kesal Adrea. Dia berusaha menyerang wanita tersebut menggunakan tangannya. Namun, Adrea sama sekali tidak bisa meraihnya. Wanita itu sama sekali tidak bisa disentuh meskipun Adrea sudah yakin mendapatkannya. Dia seperti cahaya yang tidak memiliki bentuk tapi Adrea bisa melihat dengan jelas bagaimana rupanya. Dia seperti fatamorgana yang membingungkan.
"Kembalikan milikku!" pinta Adrea lagi."Maukah kau membuat kesepakatan denganku?" tawar wanita misterius.Adrea sampai berhenti menyerang karena mendengar itu. "Kesepakatan?""Akan aku pinjamkan lagi anugerah itu untukmu, tapi kau harus memakainya untuk kebaikan. Jika kau tidak menuruti kesepakatan ini, maka akan aku ambil kembali anugerahmu dan menggantinya dengan karma ... dengan kata lain, ini adalah kesempatanmu untuk memperbaiki," jelasnya."Karma? Hahah apa itu? Kau bercanda?" ejek Adrea."Kuberi satu kesempatan lagi untukmu, jika kau menolak, aku akan memberikan karmamu sekarang.""Kenapa aku harus menerima karma atau apalah itu?! Aku tidak melakukan apapun!""Kau menggunakan anugerahmu dengan tidak semestinya, aku akan memberimu kesempatan kedua untuk memperbaiki jika kau mau dan bisa berjanji," jelasnya.Adrea berpikir selama beberapa saat. Ego di dalam dirinya menolak untuk menuruti wanita itu. Dia tidak pernah menerima perintah seumur hidupnya, kenapa dia harus melakukan itu sekarang? Namun, dia juga tidak rela kekuatannya diambil begitu saja."Ck, baiklah, kuturuti maumu."Namun, di masa depan nanti, Adrea melanggar perkataannya sendiri.***"Tidak! Aku mohon maafkan aku!" pekik Adrea.Dia menangis tersedu-sedu karena kilas balik yang menakutkan itu. Dia menyesali segalanya kini. Entah kenapa dia malah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan wanita itu dulu. Seharusnya dia memanfaatkan itu dengan baik dan melakukan apa yang diperintahkan wanita itu."Aku mohon, siapapun dirimu, maafkan aku! Aku mohon bantu aku sekali ini saja! Semua kutukan itu membuatku gila," racaunya.Dia kembali mengingat semua kalimat kebencian yang diberikan rakyat kecil padanya dulu. Semua kutukan dan ratapan itu menusuknya sangat dalam kini. Dia tidak tahu lagi sebanyak apa yang dia lakukan pada mereka dulu. Dia juga takut mengenai sebanyak apa balasan yang akan dia terima.Miskin sejak kecil, kekerasan, dan kini menjadi budak dari raja yang kejam. Rasanya sudah sangat melelahkan tapi Adrea tahu ini belum seberapa. Balasan ini hanya sebagian kecil dan dia merasa takut dengan sisa balasan yang akan didapatkannya."Aku mohon maafkan aku!"Adrea meremas rambutnya dengan kasar karena tidak kuat dengan sakit di kepalanya. Tubuhnya merunduk sangat dalam di sana. Seharusnya dia memang tidak meremehkan kehidupan orang yang lebih lemah darinya. Dia tahu kesalahannya tapi hukuman ini sangat menyakitkan. Kenapa dia dulu tidak bisa melihat tangisan dari orang-orang itu? Kenapa dia bisa dengan mudah memisahkan seorang ibu dan anak? Apa seperti ini rasanya menyesal?"Kau sudah mengingatnya.""K–kau datang? Aku mohon maafkan aku! Aku ... aku akan memperbaikinya, aku mohon!" seru Adrea begitu mendengar suara indah itu. Dia merangkak dengan cepat ke arahnya dan bersujud karena terlalu takut."Bukankah sudah aku bilang bahwa Dia akan memberikanmu karma?""Tidak, tidak, aku mohon maafkan aku! Aku tidak tahu rasanya sangat menyakitkan seperti ini! A–aku mohon bebaskan aku, aku akan memperbaikinya!" pinta Adrea."Kau sudah menggunakan kesempatanmu untuk memperbaiki, kau hanya perlu menerima semua karmamu kini," balasnya.Adrea mengangkat kepalanya dan menatap wanita bertudung itu. Lagi-lagi dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di balik kain putih tersebut. Dia penasaran, tapi rasa takutnya lebih mendominasi hingga Adrea kembali menundukkan kepala ke lantai."Aku mohon bantu aku sekali lagi! Aku berjanji akan melakukannya seperti maumu!" pinta Adrea tanpa lelah. Jika dengan memohon semalaman wanita itu akan memberinya pengampunan, maka Adrea akan melakukannya tanpa ragu. Dia sudah sangat lelah dengan semua yang dialaminya. Dia hanya ingin bebas dari neraka ini. Katakanlah dia tidak tahu diri dan tidak tahu malu, tapi dia sangat menginginkan kebebasan."Aku tidak datang untuk membantumu, aku hanya menyapa," ucap wanita misterius."Tidak! Kau harus membantuku! Aku sangat membutuhkan bantuanmu! Aku bisa mati jika terus di sini! D–di sini sangat menakutkan! Aku tidak bisa! Aku mohon sekali ini saja."Adrea mencoba meraih kaki yang sedikit mengambang di udara itu. Namun, sekali lagi dia tidak bisa menyentuhnya. Wanita itu benar-benar seperti fatamorgana yang membingungkan. Dia keindahan yang membutakan semua orang tapi sangat menakutkan."Aku mohon," pinta Adrea tanpa lelah."Takdirmu sudah digariskan, kau akan mendapatkan bantuan dari orang lain, bukan dariku. Berdoalah agar mereka datang, jika bukan mereka, maka kau akan menerima balasan sesuai porsimu yang sesungguhnya. Anggaplah mereka sebagai alatmu untuk memperbaiki semuanya, bantu mereka dengan baik dan jaga mereka, itu adalah hukumanmu yang selanjutnya.""Apa? Bagaimana bisa? Siapa mereka? Bagaimana aku bisa menemuinya?" tanya Adrea."Mereka adalah keturunanmu yang lahir di waktu yang sama denganmu. Berdoa dan teruslah berharap, maka mereka akan datang.""Tu–tunggu! Bagaimana bisa aku menjaga mereka jika menjaga diriku sendiri saja tidak bisa? Dan bagaimana bisa mereka menolongku? Sebenarnya siapa yang menolong siapa di sini?! Aku yang membutuhkan bantuan, kenapa aku harus membantu mereka?!"Adrea merasa bingung dengan apa yang dikatakan wanita itu. Keturunan? Bagaimana bisa dia bertemu keturunannya? Apa yang sebenarnya wanita misterius itu inginkan? Padahal wanita itu bilang mereka akan datang untuk membantu Adrea, tapi Adrea harus membantu mereka? Apa yang bisa Adrea lakukan untuk membantu mereka?"TIDAK, TIDAK! JANGAN PERGI! AKU MOHON!" teriak Adrea histeris saat melihat tubuh wanita itu semakin memudar dan akhirnya hilang di udara."AKU MOHON KEMBALI! KEMANA KAU PERGI?! AKU TIDAK MENGERTI!"Adrea menatap seisi ruangan untuk memastikan keberadaan wanita itu. Sayang sekali matanya tidak melihat apapun. "Bagaimana bisa kau pergi begitu saja? Bawa aku bersamamu, aku mohon ...," lirihnya.Dia kembali menangis dan memeluk dirinya sendiri di lantai. Dia sangat ketakutan setelah mengingat semua masa lalunya. Belum lagi semua perkataan wanita misterius yang seperti mantra sihir itu. Apa dia akan datang lagi? Tidak bisakah dia membantu Adrea untuk terakhir kali? Rasanya Adrea ragu untuk hal itu. "Apakah benar kalian akan datang?" bisik Adrea."Aku berjanji akan melakukan apapun untuk kalian jika kalian datang. Aku mohon ...."*****"Destiny is predetermined and punishment is the most appropriate reward."Vancouver, British Columbia.***Rintik hujan membasahi sebagian besar kota Vancouver sejak beberapa jam yang lalu. Langit seolah enggan memberikan malam yang indah kepada setiap makhluk yang bernaung di bawahnya. Di tengah itu, Bella, gadis yang sebentar lagi berusia dua puluh satu tahun, berjalan melewati genangan air. Mantel hitamnya membungkus tubuh itu dengan sempurna, membantunya untuk mengurangi hawa dingin yang masuk. Bella menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul sebelas malam lebih sembilan menit. Seharusnya Bella sudah di rumah sejak dua jam yang lalu. Namun, hujan membuatnya bekerja lebih lama dengan dalih 'menunggu reda'. Ya, begitulah bosnya bicara. Dia seolah peduli padahal hanya memanfaatkan situasi. Dan buruknya, Bella tidak bisa menolak itu.Bella mengeratkan mantelnya karena angin tiba-tiba berhembus kencang. Dia berhenti melangkahkan kaki dan melihat sekitar. Jalanan masih ramai, tapi entah kenapa terasa sangat sepi. Mungkin karena dia sendiri? Ya
Matahari terbit di timur dengan cerahnya. Menyapa wajah sembab yang sedang tertidur di atas lantai yang dingin. Bulu mata Bella bergerak pelan, menandakan bahwa dia terganggu dengan cahaya yang masuk ke ruangan. Tubuh itu menggeliat, mencoba untuk mengumpulkan kesadaran dan bangun. "Ahh, kepalaku sakit," keluh Bella sambil memijat pelan pelipisnya. Dia duduk dengan mata yang masih terpejam. "Rasanya aku bermimpi aneh semalam," tambahnya. Dia berusaha mengingat kembali mimpi yang datang saat dirinya tertidur. Bella tidak bisa mengingat dengan jelas hal itu tapi dia bisa merasakan bahwa mimpi tersebut benar-benar menakutkan. Kepalanya sampai berdenyut kencang saat ini. "Bella! Di mana kau?!" teriak Angeline dari bawah. Bella yang namanya disebut langsung terbangun sempurna dan pergi dari loteng. Dia nyaris berlari agar Angeline tidak mencarinya lebih lama. Kenapa juga dia bisa tertidur di loteng?"Aku di sini, Bu," ujar Bella setelah menemukan Angeline sedang sibuk menyiapkan sarap
Rio de Janeiro, Brasil.***"Lusa nanti ayah akan mengundang banyak tamu penting ke rumah. Sebaiknya kalian tidak banyak bertingkah dan memperlihatkan sikap yang baik." Vins tidak mendengarkan perkataan ayahnya dengan baik. Dia memainkan makanannya menggunakan pisau. Menusuknya dengan brutal kemudian mencincangnya sampai menjadi bubur. Sementara itu, ibu dan saudaranya sedang makan dengan tenang sambil mendengarkan perkataan kepala keluarga di sana. "Kau mendengarku, Vins?" tegur William, ayah dari Vins, setelah melihat sikap anaknya."Tidak," jawab Vins dengan santai. Dia masih mengaduk-aduk makanannya hingga menjadi tidak berbentuk. "Apa?!" "Apa kau tuli? Kau menanyaiku apa aku mendengarmu atau tidak, tapi kau sendiri tidak mendengarku," ejeknya. "Berani sekali kau mengejek ayahmu seperti itu! Berhentilah membuat masalah, aku terus mendapat laporan karena kau mengacau." "Benarkah? Masalah mana yang kau bicarakan? Aku tidak mengingatnya satupun. Lagipula, untuk apa mereka menga
Vins hendak mengusap keningnya yang dialiri darah menggunakan lengan bajunya yang panjang, tapi Lily menghentikan dengan cepat. Tangan kecil itu menggenggam tangan Vins tanpa rasa takut. Dia berusia tiga tahun lebih muda dari tuannya, tapi dia sudah mengerti dengan ketidak adilan yang diterima Vins sejak lama. "Jangan lakukan itu, aku mohon ikutlah denganku dan biarkan aku mengobati semua lukamu," pinta Lily. "Lepaskan aku," bentak Vins dan dengan sedikit tenaga menghempaskan tangan Lily. Meski begitu, Lily yang sempat terdorong kembali memegang tangan Vins dengan kencang. Dia bahkan menarik Vins untuk mengikutinya ke gazebo di halaman belakang rumah. "Apa yang kau lakukan?! Jangan kurang ajar! Lepaskan aku!" perintah Vins di tengah kondisinya yang ditarik paksa oleh Lily "Tidak mau! Aku harus mengobati lukamu itu lebih dulu!" tolak Lily dengan suara lebih keras. Dia bahkan menghentikan langkahnya dan menyempatkan untuk menatap Vins dengan tajam meskipun air mata menganggu pandan
Vins meneguk minuman keras yang ada di tangannya. Dia seperti orang yang kehausan selama tiga hari. Namun, bukannya minum air mineral, dia malah minum alkohol. "Berani sekali dia masuk ke dalam kamarku seperti itu," kesal Vins. Dia mengingat kembali kejadian malam kemarin saat dirinya sedang dalam pengaruh alkohol. Dia sedang tertidur dengan nyaman, tapi tiba-tiba saja seseorang berbisik padanya dan terus meminta tolong. Vins sudah mengusirnya berkali-kali meskipun tanpa membuka matanya yang terpejam. Namun, wanita itu tidak juga pergi selama beberapa saat. Kini dia tahu bisikan itu berasal dari Lily. Bisikan di taman belakang tadi sudah membuktikan semuanya. Apa yang sedang direncanakan gadis itu? Apa dia sedang mencoba untuk menggoda Vins?"Minuman jenis apa ini?! Kenapa tidak memberikan efek apapun?! Berikan aku sesuatu yang lebih!" bentak Vins kepada para bartender khusus yang menjamunya. "Tuan, apa kau tidak puas dengan pelayanan mereka? Maukah kau jika aku yang melayanimu?" g
Palembang, Indonesia.***"Kau lihat pria yang sedang duduk di bawah pohon itu?" "Wah, dia tampan sekali, kenapa dia diam di sana sendiri?" Mereka menatap seorang pria yang memiliki tinggi lebih dari enam kaki itu. Dia terlihat tenang dengan headphone yang menutupi kedua telinganya. Matanya tidak bergerak sedikitpun dari buku yang entah apa judulnya itu. Yang jelas, dia terlihat sangat menikmati dunianya sendiri. "Dia Neve Alba, mahasiswa tahun terakhir yang kabarnya sama sekali tidak pernah memulai interaksi dan pembicaraan dengan siapapun selama dia kuliah di sini," jelas wanita pertama kepada juniornya. "Benarkah?" Wanita kedua yang baru memulai masa kuliahnya itu menatap tertarik pada Neve yang berada tak jauh darinya. "Ya, dia sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan kemauannya sendiri. Meski begitu, dia memiliki banyak penggemar dan para pria tidak ingin mengganggunya." "Kenapa?" tanya seorang pria yang juga merupakan mahasiswa ta
Prediksi semua orang benar, Neve menang, sekali lagi. Namun, Neve sama sekali tidak peduli. Dia hanya ingin menjalani harinya dengan tenang. Diraihnya tas yang tergeletak di pinggir lapangan. Baru saja dia ingin pergi, tapi seseorang menghentikannya. Gadis itu, yang menjadikan dirinya sendiri sebagai barang taruhan. "Kau menang," ucap Zia. Dia datang dengan senyum yang merekah, entah apa yang sedang dia pikirkan di otaknya yang kecil itu. Sementara itu, Jack, pacarnya yang baru saja dikalahkan memandang tidak suka pada Neve. Dia sama sekali tidak rela pacarnya direbut dengan cara seperti ini. Namun, dia sendiri sudah menyetujui hal itu. "Aidan!" panggil Neve. Untuk pertama kalinya pria itu membuka mulut lebih dulu dan menyebut nama orang lain. Aidan yang dipanggil pun merasa terkejut, begitu juga dengan semua orang yang mendengar. Aidan langsung mendatangi Neve sambil berlari. "Kau memanggilku? Serius? Hahaha akhirnya kau memanggilku!" serunya. Dia bahk
"Neve?!" Beberapa saat lalu, Srikandi entah kenapa merasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang buruk terjadi. Dia sulit tidur dan memutuskan untuk mengambil minum ke dapur. Namun, saat kakinya melewati kamar Neve, Srikandi mendengar rintihan seperti menahan sakit. Dia memanggil anaknya itu berkali-kali, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Yang didengarnya malah rintihan menahan sakit. Tanpa banyak bicara Srikandi mengambil kunci cadangan yang dia punya dan kembali ke depan kamar Neve. Dia membuka paksa pintu itu dan masuk ke dalam kamar. "Neve?!" Dia sangat terkejut saat melihat tubuh Neve mengeluarkan cahaya dan Neve sendiri berkeringat. Neve jelas sedang kesakitan saat ini. "Neve? Dengar, Nak, ini ibu, apa kau bisa mendengarku?" ucap Srikandi sambil menepuk-nepuk pelan pipi Neve. "AAKHHH!!!" Tiba-tiba saja Neve berteriak kencang dan menutup telinganya. Di dalam sana, Neve kembali mendengar dengung yang sangat me
Adrea menatap wajahnya di cermin. Bayangan cantik yang sangat dibencinya itu benar-benar membuat Adrea muak. Seakan terus mengingatkan Adrea tentang seberapa kotor dirinya. Dulu, Adrea bahkan tidak ingin bercermin sedetik pun. Namun, kini dia merasa lelah. Rasanya masih menyakitkan, masih membuat hatinya marah, tapi Adrea sudah tidak memiliki kemampuan untuk mengungkapkannya dan hal ini adalah yang paling menyedihkan. Setelah berhari-hari bahkan berminggu-minggu Adrea memohon, tidak ada siapa pun yang datang untuk menolongnya. Sampai semalam pun Adrea masih memohon dan berdoa untuk kehadiran mereka, dia masih percaya. Meski begitu, kini dia merasa segalanya mustahil. Bantuan itu tidak akan pernah datang. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Tiba-tiba saja sepasang tangan melingkar di pinggang Adrea. Raja itu datang begitu saja dengan kekuatannya. Adrea sudah terbiasa, dia bahkan tidak terkejut lagi. Adrea hanya membiarkan pria itu memeluknya dari belakang dan menghirup aroma tubuh yang
Tepat di malam itu, berita-berita tentang gempa yang terjadi di kota mereka mulai muncul satu per satu. Informasi menyebar dengan sangat cepat. Seluruh proyektor yang ada di negeri itu menampilkan sinar biru yang membentuk berita tiga dimensi. Mereka bisa melihat dengan jelas depan belakang si pembawa acara dan kondisi tempat-tempat yang diliput para reporter. Di antara banyaknya tempat yang terdampak, ada satu tempat yang hancur total. Semuanya runtuh dan merata dengan tanah. Bahkan setelah itu terjadi masalah listrik yang mengakibatkan kobaran api muncul dan membesar di sana. Dua kecelakaan itu terjadi dengan mendadak hingga tidak ada yang mewaspadainya. Tidak ada peringatan dari organisasi yang menangani masalah bencana alam. Bahkan alat pendeteksi api rusak sebelum sempat mengeluarkan sirinenya. Riany, ibu Eve menangis tersedu-sedu setelah menyadari anaknya itu sedang berada di sana saat kejadian. Petugas yang menangani masalah ini mengatakan bahwa dia mungkin tertimbun dan ter
Gaia menatap tubuh yang sudah tidak bernyawa di hadapannya. Tidak seperti yang dia bayangkan, ternyata Eve sangat lemah. Padahal Gaia baru bersenang-senang selama beberapa jam. Sayang sekali. Tubuh Eve terlihat kacau. Rambutnya yang terpotong tak karuan, sekujur tubuhnya yang dikuliti, dan wajah yang penuh darah. Beruntung tidak ada satu bagian tubuhnya yang terpisah, kecuali satu. Gaia melihat kembali sebuah bola mata yang dia simpan di dalam wadah berbentuk tabung. Hanya mata berwarna hazel itu yang bisa menjadi kenangan untuk Gaia. Bagaimana pun Gaia harus mengingat Eve yang sudah menemaninya bermain. "Aku tidak tertarik pada bangkai," ucap Gaia. Gadis itu berdiri dan menatap rendah mayat tak berdaya Eve. Rambut pendeknya terlihat sempurna untuk gadis itu, tapi Eve harus merelakan Gaia karena dia harus berhenti di sini. Eve sudah tidak menarik di matanya. "Aku akan meratakan tempat ini dengan tanah, sebaiknya kau sedikit menjauh jika tidak ingin terkubur." Gaia membalikkan tubu
Semuanya menjadi hening saat Eve tidak melontarkan kalimat dinginnya lagi. Mereka bahkan bisa mendengar suara angin berdesir. Malam yang sepi itu semakin terasa dingin. Padahal tidak ada tragedi yang terjadi di sana. Setidaknya belum terjadi. "Baiklah, maafkan aku, aku akan mengajarimu setelah aku menemukan ibuku," ucap Eve akhirnya. Gaia mengulum bibir bawahnya beberapa kali. Dia sedang menimbang-nimbang, apakah harus memaafkan Eve atau tidak. Selang beberapa menit, akhirnya, gadis itu menganggukkan kepala. "Baiklah, aku maafkan," ucapnya. Eve menjawab dengan anggukan lalu langsung berbalik badan, berniat mencari ibunya lagi. Namun, ketika dia ingin melangkah, kakinya tertahan oleh sesuatu. Tanpa Eve sadari kakinya tertanam di dalam tanah. Dia menatap sekitar lantai yang tadinya dilapisi keramik kini berubah menjadi tanah sepenuhnya. Tanah itu terlihat seperti pasir yang ada di pantai, tapi saat Eve mencoba bergerak, pasir-pasir itu mengeras seperti tanah liat. "Kau berniat untu
Mereka menikmati makanannya dengan lahap. Tidak ada yang bisa membuat mereka berhenti makan di rumah yang juga merupakan sebuah kedai ini. Para gelandangan itu terkesan sudah menahan lapar selama tiga hari. "Aku pula-" Seorang gadis datang dan mengalihkan perhatian mereka semua. Ke tujuh orang tersebut saling pandang dengan gadis berwajah manis itu. Gadis itu menggunakan nada yang ceria tadi, tapi dia mulai menatap dengan pandangan tidak suka setelah menyadari kehadiran tujuh orang yang asing di tempatnya. "Eve? Kau sudah pulang?" sahut si ibu yang baru saja keluar dari dapur. "Ibu? Siapa mereka semua?" tanya gadis yang dipanggil Eve tersebut dengan nada ketus.Ibunya hanya bisa tersenyum tidak enak kepada para gelandangan yang dia bawa lalu mengajak paksa anaknya ke tempat lain di rumah. Setelah mereka menghilang, Gaia memutuskan untuk kembali makan diikuti yang lain. Sementara itu, di dalam dapur, sepasang ibu dan anak sedang berdebat mengenai hal yang sudah pernah mereka bicara
"Berapa lama lagi kita akan berjalan?" tanya Gaia. Untuk ke sekian kalinya Gaia melihat ke atas langit hanya untuk memastikan apa awan sudah berbaik hati menutupi matahari. Namun, nyatanya matahari itu masih bersinar dengan sombong. Dia bahkan tidak mau mengalah dan menurunkan panasnya sedikit. Hampir seharian mereka terluntang-lantung di tempat aneh ini tanpa makan dan minum. Mereka bahkan tidak memiliki tujuan, hanya berjalan tanpa arah. Keringat pun sudah mengalir di sekujur tubuh mereka. Padahal mereka sudah meninggalkan kawasan laut cukup jauh dan ini pun bukan padang pasir. Hanya lapangan hijau dan dikelilingi pohon-pohon besar. Mereka memutuskan untuk mengambil jalan tengah sejak tadi karena takut berurusan dengan hewan buas jika melewati pohon-pohon besar itu. Akan lebih parah jika mereka tersesat tanpa persiapan apa pun. "Aku lapar," keluh Gaia lagi. Matanya sudah mulai berkabut. Meski begitu, dia masih berusaha mengendalikan dirinya sekuat mungkin agar tetap sadar. "Aku–
Rasanya sangat hening. "Jalang sialan!"Ah, tiba-tiba saja suara itu muncul di indra pendengaran Sylphide. Apa yang sebenarnya terjadi? Rasanya tadi dia melewatkan sesuatu. Di mana dia sekarang? Apa ruangan kosong? Di sini sangat gelap hingga Sylphide bahkan tidak bisa melihat setitik cahaya pun. Dia berusaha mencari dengan matanya, tapi dia tidak menemukan apa pun. Terkadang dia ragu saat mengayunkan tangannya dan meraba udara. Apa dia sudah bergerak sungguhan atau hanya imajinasinya saja? Pasalnya dia tidak bisa merasakan hembusan angin dan melihat apa pun. Sedang apa pula monster itu ada di sini? Bukankah seharusnya dia ada di penjara?"Ini adalah hukuman yang pantas untukmu!" Satu cambukan.Rasanya sangat perih. Sylphide bisa merasakannya, tapi entah kenapa Sylphide tidak bisa melihat apa pun. Sekali lagi, sangat gelap dan sekarang ditambah perasaan menyesakkan. Dia bingung dan ketakutan. Suara Sylphide tertinggal di tenggorokan. Untuk merintih pun dia tidak bisa. "Beraninya ka
Langitnya sangat indah di atas sana. Bintang bersinar sangat cerah dan bulan membentuk sabit yang bercahaya. Ditambah dengan pemandangan laut yang juga bersinar, bisakah Bella menyebutnya sebagai kesempurnaan?Kaki Bella menekuk dan dia memeluk dirinya sendiri di atas pasir pantai. Menikmati angin malam sambil menunggu teman-temannya datang. Tadi Bella memutuskan untuk pergi lebih dulu ke pantai karena sudah selesai dengan urusannya. Bella hanya bisa tertawa saat matanya melihat perkelahian Gaia dan Orion di penginapan. Mereka bertengkar hanya karena berebut kamar mandi sementara di dalam kamar mandi itu ada Neve yang sudah mandi selama satu jam. Mereka berdua berdebat tentang siapa yang akan menggunakan kamar mandi setelah Neve. Entah saat ini mereka sudah selesai atau belum. "Emm ... halo, Bella," sapa Sylphide yang datang tiba-tiba. Bella bahkan tidak menyadari suara langkah Sylphide karena terlalu menyelami pikirannya. "Oh, kau datang." Bella menatap Sylphide yang berdiri di sam
Daedalus kecil membaca bukunya dengan serius, di depannya bahkan terpampang layar komputer yang memperlihatkan informasi mengenai Atlantis, kota yang katanya pernah ada tapi hilang. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Plato dalam buku Timaeus dan Kritias. Setelah itu, muncul berbagai pro dan kontra sebagai respon dari teori tersebut. Namun, banyak juga yang membahasnya, menguliknya kembali dalam tulisan bahkan menjadikan tempat yang 'entah ada atau tidak' itu sebagai karya seni. "Tentu saja! Dia adalah anakku, tidak mungkin terlahir bodoh." Dari luar kamarnya, Daedalus dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang diperbincangkan oleh kedua orang tuanya. Umur Daedalus saat ini hanya sembilan tahun, tapi anak tersebut sudah menguasai empat bahasa dan diklaim memiliki kemampuan berpikir serta berkonsentrasi lebih dari anak seusianya. Dia dikatakan memiliki IQ di atas 170. Tentu saja semua orang akan terkagum-kagum dengan angka itu, terlebih lagi usianya masih sangat kecil. Entah b