Bianca tengah berias, hari ini ia akan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. Ia ingin berbelanja sesuatu, sebelum meninggalkan Auckland. Bianca memilih memakai mini dress berwarna tosca lengan pendek. Warna yang sangat kontras di kulit putih dan halus miliknya. Ia membiarkan rambut berwarna coklatnya tergerai dengan indah. Ia juga memoles wajahnya dengan make up tipis. Biaca memang tidak menyukai make up yang terlalu tebal. Arthur keluar dari kamar mandi dan masih memakai bathdrobe. Arthur melihat istri cantiknya tengah berias. Lalu ia melangkah mendekat ke arah Bianca. Dan memeluk Bianca dari belakang. "Kau sangat cantik" bisik Arthur, ia mengecupi tengkuk leher putih mulus istrinya. Bianca tersenyum, ia pun membalas pelukan Arthur. "Kau selalu menggoda ku Mr. Afford." kata Bianca. "Kau jauh lebih menggoda ku Mrs. Afford." bisik Arthur serak. ia terus mengecup leher putih mulus Bianca. "Aku harus berangkat sekarang Arthur. Jika aku terlambat berangkat, aku akan pulang terlamba
Waktu menjelang pukul delapan malam, Bianca baru saja tiba di hotel. Setelah puas berbelanja dengan Tasya, ia langsung berendam, tubuhnya terasa sangat lelah. Aroma madu di campur dengan milk sangat merilekskan tubuhnya. Tiga puluh menit kemudian, Bianca sudah selesai berendam, Ia juga sudah mengganti bajunya dengan dress tidur berwarna maroon tanpa lengan. Dress yang membuatnya sangat nyaman. Bianca berjalan ke arah ranjang. Ia melihat Arthur tengah berkutat pada ipadnya. Lalu Bianca duduk di ranjang, dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Tepat di samping Arthur yang tengah fokus pada ipadnya. "Arthur, kau banyak pekerjaan?" tanya Bianca sambil menatap Arthur yang masih fokus pada ipad miliknya. Arthur menoleh, "Tidak, aku hanya membalas email dari Irina Zotova. Dia memastikan apa aku akan datang ke Moscow atau tidak." jawab Arthur. "Sepertinya kau dekat dengan Irina Zotova. Biasanya kau jarang email dengan rekan bisnis mu. Mereka juga biasanya meminta asisstant mere
Moscow, Rusia.Arthur dan Bianca sudah tiba di Moscow. Arthur melihat ke arah Bianca, yang kini tertidur pulas. Ia pun tidak tega untuk membangunkan istrinya. Arthur bangun dari tempat duduknya, lalu ia menggendong Bianca gaya bridal. Kemudian berjalan keluar dari pesawat. Alvin mengikuti Arthur dari belakang. Di bandara, Bernard dan Marissa sudah menyambut tuannya datang. Mereka sengaja di minta Arthur untuk menyusul ke Moscow. Karena Arthur harus tetap menjaga Bianca. Terlebih saat ini Bianca tengah mengandung. Arthur berjalan menuju mobil, ia sesekali melihat Bianca yang masih tertidur pulas. Lalu Alvin membukakan pintu mobil untuk tuannya. Arthur masuk ke dalam mobil, dan Bianca berada di pangkuannya. Arthur tersenyum melihat istrinya tertidur pulas, bahkan Arthur menggendongnya pun, tetap tidak membuat istrinya terbangun. Mobil Arthur kini sudah tiba di The Ritz-Carlton, Moscow. Alvin sudah memesan kamar presidential suite untuk Arthur selama berada di Moscow. Arthur turun dar
Hari ini Bianca dan Arthur tengah bersiap. Mereka akan makan siang bersama Irina Zotova. Bianca memilih mini skirt dengan crop top length off shoulder. Pakaian ini sebenarnya cukup seksi, tapi Bianca ingin sekali memakai ini. Lagi pula, perutnya masih belum membesar. Setidaknya, dia bisa merasakan memakai baju ini sebelum perutnya nanti membesar. Bianca memilih wedges berwarna cream, ia tidak memakai high heels. Meskipun memakai wedges, tetap memperlihatkan kaki jenjang milik Bianca. Arthur menautkan alisnya, saat melihat istrinya terlihat begitu cantik dan seksi. Ia langsung berjalan menghampiri Bianca. "Kenapa kau memakai baju seperti ini?" tukas Arthur dengan suara dingin. "Aku ingin memakainya Arthur, setidaknya sebelum perut ku membesar aku ingin memakai pakaian yang aku sukai." ujar Bianca. Sebenarnya Arthur tidak setuju, tapi Arthur harus mengerti Bianca memang sangat fashionable. Setidaknya, pakaian yang Bianca pakai masih bisa di terima oleh Arthur. Arthur membuang napas
Kini Arthur dan Bianca sudah berada di dalam mobil. Mereka memutuskan langsung kembali ke hotel, setelah makan siang bersama dengan Irina Zotova. Keadaan sunyi di dalam mobil. Bahkan Arthur tidak berbicara sedikit pun. Bianca menoleh melihar Arthur yang wajahnya terlihat jelas menahan emosinya. Bianca menghela nafas dalam, ia sudah yakin Arthur sejak tadi menatap Ricardo yang tidak henti melihat dirinya. Padahal Bianca sudah mengalihkan itu. Bianca mengobrol dengan Irina. Tapi tetap saja Ricardo masih terus menatap dirinya. Bianca menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, ia berusaha menenangkan suaminya yang kini tengah emosi. Bianca sangat tahu, memang Arthur sering seperti ini. Dulu saat Lewis menatap dirinya saja, Arthur sudah marah besar. Setibanya Arthur dan Bianca di hotel, mereka berjalan masuk ke dalam kamar. Arthur melempas jasnya sembarangan ke sofa. Bianca mendekat ke arah Arthur lalu memeluk Arthur dari belakang, "Kau kenapa Arthur?" tanya Bianca dengan lembut. "Kenapa
Bianca dan Arthur kini sudah tiba di hotel. Bianca dan Arthur juga sudah membersihkan diri. Mereka sudah mengganti pakaian mereka. Bianca dengan gaun tidur berwarna putih tipis. Sedangakn Arthur lebih menyukai hanya memakai celana panjang tanpa memakai kaos. Bianca sudah terbiasa dengan kebiasaan suaminya ini. Arthur duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Bianca menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Bianca ingin sekali menceritakan tentang Ricardo, tapi Arthur memiliki emosi yan tidak pernah bisa dikendalikan dengan baik. "Arthur," panggil Bianca dengan lembut. "Ya." "Besok aku akan pergi berbelanja. Ada yang ingin aku beli." "Kau ingin berbelaja?" Bianca mengangguk, "Ya, aku bosan. Aku ingin berbelaja." "Tapi besok aku harus membicarakan kerja sama ku dengan Zotova Company. Aku tidak bisa menemani mu." ujar Arthur. "Tidak apa, aku sendiri saja." jawab Bianca. "Kau harus di temani oleh Bernard dan Marissa." balas Arthur dengan nada penekanan, ta
Hari ini tiba saatnya pertunangan Irina dan Ricardo. Sejak pertemuan Bianca dengan Ricardo, Bianca memilih untuk diam dan tidak menceritakan pada Arthur. Bianca tidak ingin Arthur bertindak sesuatu yang akan merusak pertunangan Ricardo dan Irina. Bukan maksud Bianca menyembunyikan dari Arthur, hanya saja memang Bianca dan Ricardo sudah berakhir sangat lama. Bianca hanya satu kali memiliki kekasih yaitu Ricardo. Bianca memang terkenal sulit membuka hatinya untuk para pria yang mengharapkannya. Setelah berpisah dari Ricardo, Bianca tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Bukan karena Bianca masih mencintai Ricardo, tapi karena masa lalu Caroline yang membuat Bianca enggan memiliki kekasih. Mungkin Bianca akan menceritakan pada Arthur saat mereka tiba di New York. Bianca tidak ingin mengatakan sekarang, terlebih Arthur memiliki kerja sama dengan Zotova Company. Kini Bianca tengah berias, ia memilih long dress berwarna tosca lengan panjang. Namun long dress ini memperlihatk
Pagi hari Bianca tengah memilih jas dan dasi yang akan di pakai Arthur hari ini. Seperti biasa, selama di Moscow Arthur akan selalu bertemu dengan Irina. Arthur masih harus membahas kerja samanya dengan Irina. "Arthur, aku memilih jas dan dasi berwarna navy. Tidak apa kan?" kata Bianca yang kini sudah memegang jas dan dasi Arthur. Arthur menunduk dan mengecup bibir Bianca, "Tidak apa sayang, semua yang kau pilihkan selalu bagus." ucap Arthur. Bianca tersenyum, lalu ia memasangkan dasi yang ia pilih untuk Arthur. "Selesai." ucap Bianca menepuk dada Arthur pelan. Aarthur memeluk pinggang Bianca, mencium dan melumat bibir Bianca. "Kau tahu, kau adalah wanita yang sempurna. Cantik, cerdas, mandiri, kau bisa mengurus suami mu dengan baik." bisik Arthur serak. Bianca tersenyum, "Jangan merayu ku Mr. Afford. Kau harus berangkat sekarang, pasti Irina sudah menunggu mu." balas Bianca. "Apa hari ini kau akan pergi?" tanya Arthur tangannya masih memeluk pinggang istrinya. "Sepertinya aku
Justin turun dari mobil, dia mengancingkan jasnya masuk ke dalam perusahaan ayahnya. Hari ini, Justin menggantikan posisi Arthur. Ya, di usianya yang ke dua puluh delapan tahun, Arthur meminta Justin mengambil alih perusahannya. Tidak hanya Afford Company, tapi perusahaan perfilman milik Lucero Company berada dalam kendali Justin. Sang adik Nathan juga memiliki posisi yang tak kalah penting dengan Justin. Nathan memegang kendali perusahaan Afford Company dalam bidang property dan majalah. Untuk Lucero Company, Drake khusus meminta Nathan menangani perusahaan teknologinya. Sebelumnya Justin menetap di Barcelona selama dua tahun, untuk memperlajari Lucero Company. Namun, sekarang Justin memilih untuk menetap di New York. Karena bagaimanapun dia memiliki tanggung jawab perusahaan ayahnya.Joseph dan Hazel, adik kembar Justin yang kini berusia dua puluh tahun, mereka tengah menyelesaikan master degree di Oxford University. Diusia yang masih sangat muda, Joseph dan Hazel berhasil menyeles
Suara tangis bayi memecahkan kesunyiaan dalam ruang operasi. Bianca meneteskan air matanya, kala mendengar suara tangis bayi kembarnya. Persalinan berjalan dengan lancar, anak mereka lahir dengan selamat dan sempurna. Arthur selalu mencium Bianca selama proses persalinan. Kebahagian Bianca dan Arthur begitu lengkap ketika mengetahui anak kembar mereka sepasang laki-laki dan perempuan. Kali ini, keinginan Arthur sudah terwurjud, memiliki anak perempuan."Nyonya Bianca, silahkan lakukan proses IMD." Dokter menyerahkan bayi mungil itu dalam gendongan Bianca. Semua tim medis kini sudah membersihkan alat medis di dalam ruang operasi. Mereka semua kemudian pergi setelah melakukan pemeriksaan terhadap Bianca dan bayi kembarnya.Arthur meminta perawat untuk segera memindahkan Bianca di ruang rawat VVIP. Setelah proses IMD, tidak lama kemudian Bianca di pindahkan di ruang rawat VVIP sesuai permintaan Arthur.Kini seluruh keluarga Arthur dan keluarga Bianca masuk ke dalam ruang rawat Bianca. N
"Arthur, kau ingat, kan hari ini kita harus ke rumah orang tuaku?" kata Bianca mengingatkan suaminya itu. Sejak tadi, dia melihat Arthur yang tengah fokus pada iPad di tangannya. "Iya sayang, aku ingat. Sebentar ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Arthur. Tatapannya teteap menatap layar iPad. Bianca mendengus. Dia melangkah mendekat ke arah Arthur, dan duduk di samping suaminya itu. "Tadi pagi justin sudah menghubungiku, putramu itu terus mengingatkan kita untuk tidak terlambat."Kemarin, Justin dan Nathan sudah lebih dulu dijemput oleh assistant Drake. Tentu Bianca sudah tidak lagi terkejut, karena kedua putranya itu sangat dekat pada kakek mereka. Terlebih Drake selalu memanjakan Justin dan Nathan. Bahkan Drake telah membangun sebuah perusahaan untuk Justin dan Nathan.Arthur meletakan iPadnya ke atas meja, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Bianca. "Kau tidak apa-apa keluar sekarang? Minggu depan kau sudah melahirkan, aku hanya takut terjadi sesuatu padamu, say
Suara keributan terdengar membuat Tasya yang tengah tertidur pulas, langsung terbangun. Tasya berlari keluar kamar menuju suara keributan itu."Astaga Alfred...Aldrich... Kenapa kalian berdua bertengkar?" Tasya mendekat ke arah dua putranya yang ribut. "Mommy, look. Ka Aldrich merusak robotku!" tunjuk Alfred pada robotnya yang telah rusak. "Aldrich, kenapa kau merusah robot Alfred?" Tasya menundukan kepalanya, dia mengelus lembut pipi gemuk Aldrich. "Aku tidak sengaja, Mommy.." ucap Aldrich dengan penuh penyesalan. Tasya mendesah pelan. Ini bukan pertama kali mainan Aldrich atau Alfred rusak. Hal yang membuat Tasya sakit kepala, adalah harga mainan milik Aldrich dan Alfred. Bagaimana tidak? Altov memberlikan mainan pada anak kembar mereka, denga harga yang fantastis. Seluruh mainan milik Alfred dan Aldrich adalah mainan termahal. Harga ratusan ribu dollar hingga jutaan dollar. Bahkan rasanya Tasya sulit bernapas setiap kali Altov memberikan anak kembarnya itu mainan dengan harga f
Viola mematut cermin. Dia melihat seluruh tubuhnya, memastikan tubuhnya sudah kembali seperti dulu. Ya, kehamilan pertama Viola, membuatnya mengalami kenaikan berat badan cukup parah. Bahkan Viola, tidak mau keluar rumah karena malu dengan bentuk tubuhnya. Meski Richo, tidak pernah mengeluh sedikitpun, Richo juga selalu mengatakan Viola sangat cantik. Tapi tetap saja, Viola tidak pernah percaya diri jika keluar rumah. Dengan Berolah raga dan melakukan rangkaian perawatan kecantikan, membuat bentuk tubuh Viola sudah kembali seperti dulu. Kini dirinya sudah percaya diri seperti sedia kala. "Mommy....." pekik Kylie melangkah mendekat ke arah Viola.Viola mengalihkan pandangannya, dia melihat putrinya mendekat ke arahnya. Namun, tatapan Viola melihat wajah muram putrinya itu. Dia langsung menundukan tubuhnya. "Hi sweetheat, kenapa wajahmu bersedih?" "Mommy, where is Ka Justin? I wanna meet Ka Justin.." Kylie mencebik, dia mengerutkan bibirnya. Viola tersenyum, dia mengelus pipi Kylie.
Suara teriakan Annabet begitu keras membuat Steven dan Caroline yang masih tertidur, langsung membuka mata mereka dan segera menghampiri suara teriakan Annabeth. Mereka beranjak dari tempat tidur, lalu berlari keluar kamar. "Sayang, kau kenapa berteriak sepagi ini?" Caroline melangkah, mendekat ke arah Annebth yang kini menangis. "Ada apa sayang? Kenapa kau menangis?" "Adam, menyembunyikan bonekaku!" tunjuk Annabeth pada adiknya. Tangisnya, sesegukan. Sedangkan Caroline langsung menatap putra bungsunya yang tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya. Adam Steven Evans, putra Caroline dan Steven yang berusia empat tahun ini begitu aktif. Tidak heran, melihat tingkahnya yang hampir setiap hari membuat Annabeth menangis. Caroline dan Steven, hampir setiap hari mendengar suara tangis Caroline. Alasannya? Tentu saja karena Adam selalu mengambil barang-barang kesukaan Ananbeth dan menyembunyikannya. Steven membuang napas kasar, dia mengusap kepala putranya. "Boy, Daddy sudah mengataka
Pantai Jimbaran - BALI, INDONESIABianca dan Arthur tengah duduk di sebuah restoran yang ada di Pantai Jimbaran. Mereka tengah menikmatin makanan khas bali. Terlihat Bianca begitu menyukai makanan khas bali. Tapi berbeda dengan Arthur. Suaminya itu tidak bisa makan masakan pedas. Bianca sering menertawakan Arthur, yang wajahnya langsung memerah ketika makan makanan pedas. "Sayang, jangan di makan. Itu semua cabai. Nanti terjadi sesuatu pada anak kita," ujar Arthur dengan tatapan dingin melihat istrinya melahap masakan khas bali."Ini sambal khas dari bali. Ikan bakarnya juga sangat enak. Aku sepertinya menyukai tinggal di sini," balas Bianca dengan antusias, "Jangan bicara yang tidak-tidak Bianca," jawab Arthur malas. "Aku tidak mungkin bisa tinggal di kota yang panas ini." Bianca mencebik kesal. "Apa kau tidak lihat? Sejak tadi Justin dan Nathan terus bermain di pantai. Itu artinya kedua putramu menyukai Bali." "Mereka memang sudah bermain. Tidak hanya di Bali, saat kita berlibur
Lima tahun kemudian... BALI - INDONESIABianca menatap kedua putranya yang tengah berlari menelusuri Pantai Nusa Dua. Setelah menunda liburan ke bali, akhinya Bianca dan Arthur bisa berlibur. Dengan kaki telanjang dan perut membuncit Bianca menelusuri pantai indah itu. Ya, kini, Bianca tengah mengandung anak ketiganya dengan Arthur. Di kehamilan kali ini, Bianca merasa senang karena bisa merasakan babbymoon. Karena sebelumnya ketika mengandung Justin dan Nathan, begitu banyak masalah yang menghampiri mereka. Hingga membuat Bianca mengurungkan niatnya untuk babbymoon. "Justin... Nathan.. Jangan berlari kencang, nanti kalian jatuh!" teriak Bianca keras ke arah Justin dan Natha yang tengah berlari sembari bermain pasir di pantai."Biarkan sayang." Arthur memeluk pinggang istriny. Menikmati Pantai Nusa Dua yang begitu indah. Bianca menghela napas dalam. "Arthur, setelah ini aku tidak ingin hamil lagi! Sudah cukup! Justin, Nathan dan sekarang bayi kembar kita. Jika terus hamil, kapan ak
Beberapa bulan kemudian..Richo duduk di kursi kebesaraannya, membaca dokumen kerja sama perusahaan miliknya dengan perusahaan keluarga milik Viola. Kini Richo memimpin perusahaan keluarga Viola. Karena sejak awal, Richo memang tidak memperbolehkan Viola terlalu lelah bekerja. Richo masih membiarkan Viola, jika istrinya itu masih datang ke perushaaan. Hanya saja, Richo tidak ingin Viola fokus pada perusahaan. Setelah menikah, Richo menginginkan Viola lebih banyak di rumah. Meski Richo tahu, sejak Viola hanya di rumah, istrinya lebih sering ikut arisan bersama Bianca, Tasya dan Caroline. Tidak hanya itu, Viola juga selalu berbelanja setiap harinya demi menghilangkan rasa bosan. Bagi Richo, kebahagaian Viola adalah prioritasnya. Richo akan melakukan apa pun yang membuat istrinya selalu bahagia. Tidak perduli, berapa banyak uang yang harus Richo keluarkan yang terpenting istrinya selalu bahagia.Saat Richo tengah membaca membaca dokumen di hadapanya, dia terkejut melihat Davin assistant