Motor yang di kendarai oleh Alexander tiba di rumahnya. Seorang sekuriti membukakan pintu pagar rumah mewah itu. Dan itu kali pertama Jamila ke rumah mewah sekelas Alexander. Dengan mulut menganga ia pun berucap, “Gila.., ini rumah elo.., Lex?”“Ini mah nggak ada seberapanya si Erlangga.., yang tajir melintir itu sahabat baik elo. Ayo masuk,” ajak Alexander menggandeng tangan Jamila.“Kok sepi..? Memang pada kemana orang di rumah?” tanya Jamila yang diajak masuk ke dalam rumah besar milik Alexander.“Gue kan bilang ke elo punya kakak cewek 3, waktu nyokap gue cerai, kakak pertama gue ikut bokap ke Bahrain. Kalau kedua kakak cewek gue pada tinggal di Apartemennya. Katanya sih biar deket kampusnya. Padahal mah, kalau liburan kuliah mereka juga pada males pulang ke rumah. Jadilah gue penghuni terakhir disini.”“Tuan muda mau dibuatkan apa, temannya?” tanya pelayan di rumah itu.“Elo mau apa?” tanya Alexander memandang ke arah Jamila.“Mau yang dingin-dingin tapi campur sama uler pi
Tiara yang emosi pergi dari ruang perawatan Elena pada Rumah Sakit itu, dengan perasaan terluka. Sejenak ia terdiam di dalam mobil dan menceritakan semua kejadian pada sahabatnya Eva. Dan dengan bijak serta teliti, Eva pun memberikan input pada Tiara yang pastinya tidak mampu berpikir logis dan bingung untuk menentukan sikap. “Va.., kamu tau aku udah berusaha baik. Dan melupakan semua kesalahan Her dan Elena, karena kata kamu, kan aku yang buat salah. Ok! No Problem. Sekarang.., dia tuduh aku..! Tuduh aku..!” teriak Tiara berurai air mata. “Tia..., Tarik napas.., minum air.., udah kamu lakukan itu?” tanya Eva diujung telepon. “Ok..! Sekarang cari toko bunganya. Pasti dia cantumkan nomor orang yang beli bunga itu atau namanya di toko bunga itu, walaupun si pengirim tadi nggak mencantumkan namanya,” perintah Eva. “Nggak mungkin aku balik lagi ke dalam ruangan itu, Eva....,” sungut Tiara yang sudah sedikit tenang. “Hahahaha.., inilah kalau orang marah, nggak bisa berpikir jernih. Ka
Saat ini Herlambang masih menemani Elena dengan duduk disisi tempat tidur dan terus mengusap tangannya dengan lembut serta tak bosan-bosannya Herlambang mencium pipi Elena. Dan atas rasa salahnya itu Herlambang juga mengusap perut Elena berucap, “Maafkan Papa sayang. Bertahan yaa.., Papa akan puasa dan nggak bisa tengokin kamu sampai empat bulan.“Om.., masa Dokter bicara seperti itu?” tanya Elena melihat lelaki tampan yang selama ini sulit untuk dilepasnya.“Iya.., sebelum aku kemari.., bertemu Dokter. Dan katanya selama 4bulan harus puasa. Nggak boleh berhubungan,” Herlambang tersenyum tipis seraya mengusap pipi Elena.“Ooh.., begitu..., Tapi bayinya tadi dibilang sama perawatnya baik-baik aja kok, Om..,” ucap Elena mangut-mangut.“Sayang.. tetap nggak boleh sampai 4bulan ke depan. Karena nggak boleh ada ketegangan di bagian bawah perut. Walau pun bayinya nggak kenapa-napa, risikonya tinggi. Emang kelamaan selama 4bulan.., hemm..?” tanya Herlambang menggoda Elena dengan menyatuk
Di dalam mobil, Tiara dan Eva pun berdiskusi untuk bisa bertemu dengan Jamila. Dan mereka berdua sedang berupaya mengirimkan satu pesan yang kiranya bisa membuat Jamila tertarik dengan penawarannya. “Va.., coba kamu baca pesan yang aku akan kirim ke Mila,” ucap Tiara memberikan ponselnya pada Eva. Tampak Eva membaca pesan yang diketik Tiara, lalu tampak Eva menambahkan pada setiap kata yang telah di ketik Tiara. Dan kini Eva menyodorkan ponsel yang berisi pesan untuk dibaca Tiara kembali. “Coba kamu baca dulu. Kalau suka kirim dah ke orangnya. Nanti kita tinggal tunggu jawabannya,” ucap Eva melirik ke arah Tiara yang sedang membaca pesan yang telah dikoreksinya. “Ya.., udah bagus kok, sekarang aku kirim ke Mila,” ucap Tiara. [Pesan keluar Tiara : Mila, ini mertuanya Elena. Tante udah tahu kalau kamu yang kirim bunga dengan tulisan yang buat mental Elena jatuh. Tante cuman mau ngomong ‘Terima Kasih’. Apa kita bisa kerja sama? Tante lihat kamu juga kesal liat kelakuannya] Dua menit
Seminggu kemudian Elena pun pulang ke rumah. Dan menurut Dokter, Elena harus beristirahat selama seminggu lagi. Padahal besok pada hari Senen, Elena harus masuk sekolah. Karena itu, Erlangga ke rumah Herlina untuk meminta tolong pada Herlina untuk membuatkan surat izin tidak masuk sekolah selama satu minggu.“Er.., ini surat izin untuk Elena yang masih ada di kampung. Cuma kalau nanti Mama diminta menghadap ke sekolah, bagaimana cara menerangkannya, ya? Mama takut pernikahan kalian diketahui oleh sekolah,” ujar Herlina.“Seharusnya sih nggak tahu Ma. Apalagi kan hanya Alexander saja yang tahu dan rasanya Alexander nggak akan cerita,” ungkap Erlangga menenangkan kegelisahan Herlina.“Iya juga sih.., kalau temannya Elena yang tahu juga cuma Jamila, tapi Mama percaya dan udah minta tolong Jamila untuk merahasiakannya,” ungkap Herlina pada Erlangga.Terlihat Erlangga menelan ludah dan sesaat terdiam. Entah mengapa bagi Erlangga, Jamila begitu menakutkan baginya. Karena bagi Erlangga,
Pagi sekitar jam setengah tujuh pagi, Erlangga yang akan sarapan bersama Tiara dan Herlambang menyempatkan diri untuk mengambilkan sarapan untuk Elena. Dan pada saat Erlangga sedang menyiapkan makanan itu, Tiara bertanya pada putranya.“Kenapa kamu taruh di baki sarapan pagimu?”“Er mau sarapan sama Lena di kamar Mii..,” jawab Erlangga tersenyum manis seraya menyiapkan susu ibu hamil untuk Elena.“Kamu kan bisa suruh pelayan di rumah ini. Kenapa juga sih kamu yang repot begini.., berarti kamu nggak makan bareng disini..?” tanya Tiara melirik ke arah Herlambang.“Mii.., Er ini suami Elena. Jadi biar Er juga ngerti tanggung jawab dan tugas sebagai suami. Kalau Mami sakit juga Papi kok yang urusin. Makan aja sampai disuapi..,” ungkap Erlangga tersenyum kepada kedua orang tuanya, berjalan menuju lantai atas dengan baki ditangannya.Herlambang terlihat tersenyum datar saat Erlangga tersenyum padanya. Sedangkan Tiara sendiri tampak memegang garpu dan menusukkannya pada roti yang ada di
Setelah menjalani Bed Rest selama satu minggu di rumah dan dinyatakan oleh Dokter kandungan yang memeriksanya pada hari Sabtu kemarin, kalau Elena sudah dapat beraktivitas kembali, maka pada hari Senin ini Elena pun telah ke sekolah bersama Erlangga dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Erlangga.Baru saja Elena sampai di tempat parkir, terlihat Bella telah menunggu di pintu gerbang sekolah. Dan pada saat Elena turun dari mobil, Erlangga menggenggam erat jemari tangannya dengan mesra. Beberapa teman yang melihat ada yang berbisik dan ada pula yang tersenyum sinis melihat mereka bergandengan tangan.“Lena, mana oleh-oleh dari kampung elo?” tanya Bella tersenyum samar pada Elena.“Ke kampung..? Uhm.. dikampung mah nggak ada apa-apa, cuman pohon,” jawab Elena sekenanya.“Wah..! Mantap ternyata sepatu sama tas elo, couple nih berdua. Gimana rasanya pakai sepatu mahal?” tanya Bella memandang Elena ke arah sepatu dan tas yang dipakainya.“Apa’an sih Bella..? Kok elo sewot beg
Kesalahpahaman dan keributan dengan Jamila beserta berita burung tentang pernikahan antara Erlangga dan Elena, akhirnya sampai pula ke telinga beberapa guru hingga menyebabkan Erlangga dan Elena dipanggil oleh Guru BP ke ruang guru. Dan dengan berat hati, Erlangga dan Elena berjalan menuju ke ruang guru BP pada saat jam terakhir pelajaran.Tok.. Tok..“Siang Pak..!” sapa Erlangga yang telah berada di pintu ruang guru BP bersama Elena.“Siang.., masuk Erlangga.., Elena.., panggil Tukiman selaku guru BP.Erlangga dan Elena pun duduk di ruang guru BP, dan mereka berdua telah melakukan persiapan untuk memberikan alasan saat berbicara pada guru BP, jika dipanggil. Karena Erlangga yakin semua masalah yang terjadi akan segera diendus oleh guru disekolahnya.“Bagaimana tadi, katanya kamu bertengkar dengan Jamila?” tanya Tukiman membuka pembicaraan.“Ya Pak..,” jawab Erlangga singkat.“Emang benar.., kamu sudah nikah sama Elena? Tadi saya dengar cerita dari beberapa murid yang udah saya
Mobil yang membawa Elena, Tiara dan Herlambang pun sampai di rumah Herlambang. Dan Tiara yang berjanji akan mempertemukan Elena dan Sakti meminta Elena untuk masuk ke kamar Sakti yang telah di dekorasi dengan warna biru. Dan Elena pun masuk ke dalam rumah itu dan mendapati Sakti bersama seorang pengasuh bayi.Melihat kedatangan Elena di kamar itu, Sakti yang telah mengenali Elena pun menangis dan minta di gendongnya seraya menangis. Lalu, Elena pun menggendong balita imut itu dengan perasaan bahagia dan terharu, karena Sakti sangat merindukan kehadiran Elena.Lalu, Elena pun bercengkerama dengan Sakti di saat Tiara tengah mempersiapkan makan siang untuk mereka.Herlambang yang tahu Elena berada di kamar Sakti, akhirnya berjalan ke kamar itu. Sesampai di kamar itu, Herlambang pun duduk pada sofa, sedangkan Elena tengah duduk di lantai yang telah di lapisi permadani. Memandang kehadiran Herlambang, Elena menoleh ke arahnya dan bermain kembali dengan Sakti.Di saat itu, Herlambang pun m
Erlangga, Alexander dan Bella yang tiba dari bandara tepat pukul sembilan pagi langsung menuju Rumah Sakit untuk ikut bersama TPU. Erlangga ikut bersama Bella yang dijemput oleh sopir pribadi dari keluarga Bella, sedangkan Alexander di jemput oleh Ermitha dengan tujuan yang sama menuju Rumah Sakit tempat kelima jenazah dari keluarga Jamila usai diautopsi dan usai di sholati oleh keluarga besar dari suami Jamila, keluarga Elena serta beberapa tetangga dari pemukiman kumuh, merasa kehilangan atas kelima tetangga mereka yang dikenal suka menolong.Mobil yang membawa Alexander, Ermitha, Bella dan Erlangga sampai di Rumah Sakit. Lalu, mereka pun keluar dari mobil yang membawa mereka. Terlihat, Erlangga menggandeng mesra tangan Bella berjalan menuju ruang pemulasan jenazah dan bertemu Jamila yang masih dalam kondisi terpukul dengan kedua mata sembab.“Mila.., gue ikut berduka atas musibah ini. Gue yakin Allah punya rencana besar buat elo. Yakin aja setiap musibah dan duka ada hal yang aka
Kebakaran yang terjadi di gang sempit di lingkungan kumuh tempat tinggal Jamila dan Elena kini tinggal debu. Puing-puing arang berwarna hitam menjadi pemandangan memilukan di area sepanjang gang sempit kumuh tersebut. Pabrik kulit terbesar di Jakarta itu terbakar. Dilingkungan kumuh itu tercatat, ada 5 orang tewas mengenaskan terpanggang di dalam rumahnya. Kelima orang yang tewas dalam kebakaran tersebut adalah keluarga Jamila. Yang terdiri dari Ayah, Ibu serta ketiga adiknya. Elena dan Herlina yang ke lokasi usai membawa Jamila ke Rumah Sakit, melihat rumah peninggalan Papanya Elena pun tinggal debu. Banyak penghuni dilingkungan kumuh itu menangisi kehilangan harta bendanya. Terlebih Jamila yang kehilangan anggota keluarga dan harta bendanya.“Maaa.., akhirnya rumah kesayangan Papa jadi debu.., apa masih boleh kita bangun lagi rumah disini?” isak Elena yang melihat tembok pada rumah peninggalan Sentana tinggal setengah. Yang tampak dalam pemandangan yang ada hanya hamparan puing-p
Elena yang tidak menyangka atas syarat yang dilakukan pada dirinya membuatnya menangis tersedu-sedu. Jamila yang mendengar syarat dari Erlangga, langsung menghubungi lelaki tampan itu lagi, namun tidak sekali pun panggilan Jamila dijawab olehnya. “Lena.., gue sih yakin.., Erlangga cuma gertak elo aja. Seingat gue sih.., Er di Perth nggak deket sama siapa pun. Masa sih elo kagak percaya sama laki elo sendiri. Udah elo tenang aja. Pikirin Er junior.., kasian itu bayi dalam kandungan elo, pasti bawaan si bayi kali.., bokapnya jadi seperti itu,” ungkap Jamila. “Tapi kan nggak usah pakai minta izin gue untuk kawin lagi. Er sengaja mau nyakitin hati gue. Emang sih gue salah. Tapi, semua itu gara-gara nyokap nya juga. Mila, ambil lagi aja Sakti, gue kagak mau kalau sampai Er kawin lagi. Buat apa coba? Mending kagak kenal dari awal sama Er dan keluarganya!” sengit Elena mondar mandir di dalam kamarnya. “Lena, kenapa sih sekarang ini gue liat elo beda sama waktu sekolah dulu. Kenapa sih, elo
Elena yang diminta oleh Herlina untuk menemui Tiara yang berada di ruang keluarga, dengan terpaksa ditemuinya usai selesai menidurkan Sakti. Di dampingi Jamila, Elena pun berjalan menemui Tiara yang kini terlihat seperti musuh mengibarkan bendera putihnya. “Ngapaen sih dia ke rumah lagi. Nyebelin banget,” bisik Elena saat berada di sisi Jamila. “Pastinya bukan berita baik,” ujar Jamila pelan. Setelah mereka duduk dalam satu meja, Tiara mulai menceritakan penyakit dan kesempatan hidupnya di dunia ini. Setelah itu, tanpa di sadari Tiara telah berada di hadapan Elena dan memeluk gadis cantik jelita itu. “Lena.., demi Allah dan atas nama putra pertamaku. Kalau aku tidak akan menyakiti Sakti. Aku akan perlakukan Sakti layaknya Mas Herlambang memperlakukan Erlangga,” isak tangis Tiara memecah ruang keluarga yang hening. Sejenak Elena terdiam, menatap raut wajah Jamila, lalu Elena pun bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan, Tante?” “Berikan Sakti pada Mas Herlambang. Karena hanya Sakti k
Saat ini, Herlina, Elena dan Jamila berada di ruang keluarga. Mereka sedang membicarakan masalah Sakti yang diminta oleh keluarga Herlambang. Dan Herlina terlihat membujuk Elena untuk mau memberikan Sakti pada Herlambang.“Lena.., apa nggak sebaiknya kamu kasih aja Sakti ke keluarga Herlambang? Mama kasihan sama Pak Hermansyah dan Ibu Sitoresmi. Lagi pula mengurusi dua bayi sekaligus itu sangat sulit Lena. Apalagi kalau mereka berdua sakit. Juga besok atau lusa Sakti juga tahu siapa ibunya. Anak itu akan mencari ibunya,” nasihat Herlina pada putrinya.“Lena, coba kamu pikirkan lagi..., Mama liat Pak Herlambang serius mau ambil kamu jadi istri dan itu semua demi Sakti dan bayi yang ada dalam kandunganmu. Apa nggak sebaiknya kamu mau terima Pak Herlambang, Mama ikhlas Lena,” ungkap Herlina atas gambaran pikirannya, mengingat Erlangga tampak telah marah dan tak peduli pada Elena.“Maa.., Lena kasihan sama Erlangga. Sekarang ini dia udah nggak mau bicara pada tante Tiara dan putus hubu
Elena yang diminta oleh Herlina untuk menyiapkan teh untuk keempat tamunya pun berjalan ke dapur. Elena yang kini tengah hamil jalan tiga bulan, tidak seperti saat hamil Sakti yang sangat mual dan agak rewel masalah makanannya. Namun, untuk kehamilan saat ini, Elena nyaris tak pernah merasa mual dan lebih energik. “Silakan diminum,” Elena meletakan keempat gelas berisi teh dan dua gelas berisi air mineral. “Silakan Ibu, bapak semua,” Herlina menawarkan minuman. Wajah Tiara masih tegang saat memandang Elena, begitu juga dengan Sitoresmi dan Hermansyah. Namun tidak demikian dengan Herlambang. Ia justru memandangi Elena yang sama sekali tidak ingin melihat ke arahnya. Lalu, mereka berempat pun menikmati teh yang telah disuguhi Elena. “Maaf.., kalau boleh saya tahu.., apa ada hal yang sangat penting sehingga, Pak Hermansyah, Bu Sitoresmi dan Ibu Tiara ke rumah ini, pastinya ada hal yang penting,” tutur Herlina memandang pada keempat tamunya. Sejenak, baik Hermansyah, Sitoresmi bahkan
Herlambang dan keluarganya bertolak dari Perth ke Indonesia, usai Herlambang mengatakan niatnya untuk menjadikan Elena istrinya. Keberanian yang dilakukan oleh Herlambang bukannya tanpa ketakutan. Ia mengalami kestresan pula atas apa yang akan dikatakan kepada Herlina. Karena itu, sesampai di Bandara saat menunggu bagasi, Herlambang berulang kali menghubungi Elena, namun selalu di reject oleh Elena. Sampai akhirnya Herlambang mengirimkan pesan pada Elena.[Pesan keluar Herlambang : Sayang.., angkat teleponnya, aku mau bicara penting]Usai mengirimkan pesan pada Elena, Herlambang kembali menunggu bagasi atas kopernya dan koper keluarganya. Sepuluh menit berlalu, namun Elena tidak juga mengirimkan balasan atas pesan Herlambang.Setelah itu, kembali Herlambang menghubunginya. Walau nada telepon yang dihubungi nyambung, namun Elena sama sekali tidak menjawab panggilan Herlambang.Kemudian, Herlambang kembali mengirimkan pesan pada Elena, dengan memberitahukan kedatangan kedua orang tu
Sitoresmi dan Hermansyah akhirnya memutuskan untuk ke Indonesia bersama Tiara dan Herlambang. Selain ingin melihat darah daging dari anaknya Herlambang, Sitoresmi pun ingin menanyakan langsung pada Elena perihal keinginan Herlambang yang sudah dapat persetujuan dari Tiara. Walau sebenarnya Sitoresmi tidak tega melakukan hal itu pada Erlangga, namun saat mendengar kalau darah daging Herlambang saat ini dikuasai oleh Elena, membuat hatinya tergerak untuk memberikan perhatian pada Sakti, apalagi Sakti adalah keturunan tunggal dari keluarganya usai kedua anak lainnya tidak ingin memiliki anak.“Her.., Tia.., coba kalian bicarakan hal ini pada Erlangga. Ayah dan Ibu tetap tidak tega menyakiti hatinya. Walaupun Ayah, Ibu yakin Er akan lebih mudah dan cepat mencari pasangan baru. Tapi, bicaralah pada Erlangga,” pinta Hermansyah dan diiyakan oleh Sitoresmi.“Yah.., kemarin itu Tia dan saya ke rumah mamanya Elena. Dan Elena ngomong sama Tia.., kalau Erlangga ingin Elena memilih antara Er ata