Naomi pun emosi karena terus dibangunkan. Dia melihat jam, sekarang belum pukul 3 dini hari.Naomi memarahi, "Untuk apa kamu masak sekarang? Aku peringatkan kamu, aku akan marah kalau kamu nggak mau tidur! Cepat tidur, jangan telepon aku lagi!"Naomi mengakhiri panggilan telepon. Caden memang tidak menelepon lagi. Naomi baru meletakkan ponselnya di meja, tetapi Caden mengirim pesan suara kepada Naomi."Naomi, kamu marah padaku, ya? Jangan buat aku takut. Jangan marah, aku itu penakut.""Naomi, aku sangat patuh, 'kan? Kamu larang aku telepon, aku turuti perintahmu. Jangan marah, ya."Naomi merasa tidak berdaya. Dia hendak mengkritik Caden dalam hati, tetapi Caden mengirim pesan suara lagi."Naomi, kenapa langit masih gelap? Apa kita baru bisa bertemu waktu pagi?""Naomi, kenapa kita baru bisa bertemu waktu pagi?"Naomi tidak bisa berkata-kata. Sekarang Naomi tidak marah lagi. Tidak ada gunanya dia marah. Siapa suruh Caden minum anggur terlalu banyak?Naomi merasa dirinya tidak bisa meng
Kemudian, ponsel Naomi terus berdering. Ada banyak pesan masuk. Naomi melihat ponselnya, ada banyak panggilan telepon tidak terjawab dan pesan yang belum dibaca. Semuanya dari Caden.Naomi terperangah. Apa Caden tidak tidur semalaman? Ponsel Naomi berdering lagi. Caden yang menelepon.Naomi menjawab panggilan telepon, "Ponselku kehabisan baterai. Aku baru menyalakannya dan melihat pesanmu."Caden menimpali, "Aku tahu. Aku sudah keluar antar sarapan untukmu."Naomi bertanya, "Um. Apa ... kamu nggak tidur semalaman?"Caden menyahut, "Aku terus memikirkanmu. Aku nggak bisa tidur."Wajah Naomi memerah. Dia tidak tahu harus berkata apa. Jadi, dia berpesan, "Hati-hati di jalan.""Iya," ucap Caden.Setelah mengakhiri panggilan telepon, Naomi mulai memilih baju. Dia terus bergonta-ganti baju. Akhirnya, Naomi memilih gaun panjang kasual bergaya tradisional yang dihiasi corak bunga. Dia juga memakai anting-anting bunga matahari dan kalung klasik. Rambutnya dikepang, lalu ujungnya diikat dengan
Naomi memegang dahinya, dia pun ikut panik. Untung saja Caden mengurusnya dengan cepat. Tak lama kemudian, kurir sudah sampai.Caden memesan pangsit, siomai udang, cakwe, hamburger, roti lapis, susu kedelai, dan berbagai macam makanan lainnya. Variasi makanannya sangat banyak sehingga anak-anak bisa memilihnya dengan sesuka hati.Naomi memanggil anak-anak untuk cuci tangan dan makan lagi. Mereka bergegas keluar dari kamar, lalu melihat meja makan untuk memastikan sarapan mereka sudah siap sebelum mencuci tangan.Caden meletakkan makanan yang dipesan di samping dan memberikan masakannya pada Naomi seraya berucap, "Kamu makan ini.""Ha? Kenapa?" tanya Naomi."Ini masakanku, itu masakan pria lain," sahut Caden. Dia tahu semua koki di Restoran Paroyal adalah pria.Naomi merasa tidak berdaya, kenapa hal ini juga harus dibandingkan? Saat Naomi hendak bicara, keempat anak sudah kembali dan duduk di depan meja makan. Mereka berseru dengan antusias."Mama, aku mau makan hamburger!""Mama, aku m
Tujuan Caden sangat jelas. Dia ingin berduaan dengan Naomi sehingga sengaja menyerahkan anak-anak kepada Steven. Mana ada ayah kandung seperti ini? Bahkan, ayah tiri lebih bisa diandalkan!Hayden mengamuk. Dia mengatakan Caden merebut Naomi dan meminta Caden untuk mengembalikan ibunya.Steven buru-buru mengeluarkan jurus mematikan. Dia mengeluarkan ponsel, lalu menunjukkan video sembari berucap, "Hari ini aku bawa kalian ke sini. Permainannya sangat seru dan menantang. Hayden, aku jamin kamu pasti suka!"Hayden langsung bersemangat saat melihat arena tinju. Dia bertanya, "Apa aku boleh ikut?"Steven menyahut, "Tentu saja boleh, bahkan hari ini pemenang musim sebelumnya juga datang. Kamu boleh main sesuka hatimu. Nggak usah takut Bu Naomi tahu, aku akan bantu kamu rahasiakan."Ini adalah permainan yang disiapkan khusus untuk Hayden. Tentu saja dia boleh main. Hayden langsung mengangguk dan memuji, "Paman Steven, kamu baik sekali!"Steven tersenyum, lalu berkata pada Jayden, "Selain maka
Naomi juga baru pertama kali berpacaran. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Caden. Namun, Naomi pemalu. Dia tidak bermuka tebal seperti Caden, bahkan Caden makin tidak tahu malu setelah berpacaran.Jantung Naomi berdegup kencang dan wajahnya memerah. Dia menegaskan, "Pokoknya aku sudah ingatkan kamu. Nanti kamu pikirkan sendiri bagaimana menyenangkan hati mereka!"Caden menimpali, "Aku tahu, kamu tenang saja. Aku tetap lebih tua sekalipun usia mereka berempat digabung. Kalau nggak bisa taklukkan mereka, aku mati!"Naomi segera mengangkat tangan dan menutup mulut Caden sembari menegur, "Kamu nggak boleh mati!"Caden tersenyum. Naomi memelototi Caden dan memperingatkan, "Aku nggak suka dengar kata 'mati', ke depannya jangan bilang di depanku!"Caden menjilat telapak tangan Naomi sehingga Naomi langsung menarik tangannya. Wajah Naomi merah padam. Dia berujar, "Kamu ... nggak punya malu!""Itu nggak penting, yang penting aku punya pacar," timpal Caden.Naomi terkejut. Apa Caden sudah
Selesai bicara, Naomi melepaskan Caden dan memandang ke depan dengan kesal. Caden menghentikan mobilnya di depan lampu merah, lalu membujuk Naomi, "Aku pasti dengar nasihatmu. Jangan marah."Caden menarik tangan Naomi, tetapi Naomi memukul punggung tangan Caden. Hanya saja, Caden tidak takut. Dia menggenggam tangan Naomi.Naomi hendak memarahi Caden lagi. Caden langsung memelas, "Sepertinya aku sakit."Naomi terkejut. Dia buru-buru bertanya, "Kenapa? Mana yang sakit?"Caden menyahut, "Seluruh tubuhku sakit. Aku merasa lebih nyaman kalau ada di dekatmu."Naomi memutar bola matanya, lalu memukul Caden lagi dan membentak, "Jalankan mobilmu."Caden tersenyum bodoh. Saat lampu hijau menyala, dia langsung menginjak gas. Hati Caden berbunga-bunga, bahkan dia mulai bersenandung.Pada hari kedua pacaran, Caden dan Naomi jalan-jalan sambil bergandengan tangan, makan, dan menonton bioskop. Mereka juga berciuman di banyak tempat, seperti di tepi jalan, mal, bioskop ....Pada hari ketiga pacaran, a
Pada hari Jumat sore, Caden membawa Naomi belanja di supermarket. Saat dalam perjalanan pulang, mereka diserang.Awalnya mereka diikuti. Setelah Caden menyingkirkan orang-orang yang mengikuti mereka, ada yang hendak menabrak mobil mereka.Aksi orang-orang itu gagal lagi, lalu muncul 2 mobil yang melaju dari kedua sisi mobil Caden. Kedua mobil itu hendak menabrak mereka.Caden menambah kecepatan mobilnya dan membalap di jalan yang dipenuhi mobil. Akhirnya, Caden berhasil menyingkirkan kedua mobil itu.Alhasil, saat melewati jalan layang, muncul 3 mobil lagi dari sisi kanan, depan, dan belakang. Ketiga mobil itu mengepung dan mendesak mereka agar jatuh dari jalan layang.Untung saja, teknik menyetir Caden bagus dan mobilnya tahan banting. Ketika mobil di sisi kanan hendak menabrak mereka, Caden langsung menginjak gas dan menabrak bagian belakang mobil di bagian depan untuk memaksa mobil itu melaju.Mobil di sisi kanan gagal menabrak mobil Caden dan jatuh dari jalan layang. Naomi yang dud
Hal ini membuat Naomi cemas. Kenapa Caden tidak suka melapor polisi? Apa karena takut pada polisi atau tidak memercayai mereka?Naomi benar-benar tidak paham. Dia bertanya lagi, "Ada orang yang mati. Tentu saja masalah ini harus diserahkan pada pihak kepolisian. Kenapa kamu nggak lapor polisi?"Caden menghibur, "Kamu istirahat dulu. Nggak usah khawatir, aku akan bereskan masalah ini."Naomi terdiam. Caden sengaja membicarakan anak-anak, "Anak-anak nggak tahu kamu dirawat di rumah sakit. Kamu masih nggak sadarkan diri, jadi aku nggak berani beri tahu mereka. Apa sekarang kamu mau lakukan panggilan video dengan mereka?"Naomi menghela napas dan menyahut, "Jangan dulu."Anak-anak pasti khawatir jika melihat kondisi Naomi sekarang. Naomi bertanya, "Apa kamu sudah beri tahu Tiara?"Caden menjawab, "Sudah, Tiara tahu. Waktu kamu nggak sadarkan diri, dia sudah datang jenguk kamu. Sekarang dia jaga anak-anak di rumah."Naomi menimpali, "Kamu minta Tiara bantu aku tutupi dulu. Suruh dia beri ta
“Dari mana asal bau alkohol seberat ini? Kamu minum alkohol?” jerit Kevin begitu memasuki rumah.Camila bersembunyi di samping Dylan. Dia bahkan tidak berani bernapas sama sekali. Dahlia dan Keiza menutup hidung mereka. “Iya, bau sekali, pasti minumnya banyak.”Tiba-tiba Fakhri menyadari botol alkohol yang bergelinding di samping! Dia mengambil botol itu dan rasa syok seketika terlukis di wajahnya.“Astaga! Alkohol tahun 1935! Ini minuman koleksi kakekmu saat dia masih hidup. Dia bahkan nggak tega untuk meminumnya. Dylan malah meminumnya?”Omran juga menemukan beberapa botol kosong. Di bawah bantuan cahaya lilin, dia membaca, “Vodka Rosso Polo edisi terbaru, Han Emperor Maotai …. Astaga! Dylan, apa gara-gara kamu dipukul, kamu sampai nekat menghabiskan koleksi kakekmu?”Kedua mata Kevin terbelalak lebar ketika melihat botol kosong itu. Dia segera berlari ke depan altar ayahnya! Ternyata botol alkohol yang disimpan di balik papan sudah dihabiskan semuanya!Amarah di hati Kevin seketik
Ekspresi Kevin sangat masam. Sementara itu, para penjaga masih berjaga di luar aula leluhur. Mereka ketakutan saat melihat Kevin dan lainnya yang datang.Salah satu penjaga bergegas masuk ke aula leluhur untuk mengabari Camila. Kevin yang curiga langsung berteriak, "Berhenti!"Penjaga terdiam di tempat. Kevin menghampiri penjaga dan bertanya, "Kenapa kamu panik?"Penjaga gemetaran. Dia menunduk karena tidak berani melihat Kevin. Penjaga memanggil, "Pak Kevin."Tidak ada pintu belakang di aula leluhur, jadi Camila tidak bisa kabur. Tentu saja para penjaga panik.Kevin tidak mengizinkan siapa pun untuk melihat Dylan. Namun, mereka membiarkan Camila masuk. Itu berarti mereka melanggar perintah Kevin.Selain itu, mereka sudah berjanji kepada Camila untuk mengabarinya jika ada yang datang. Para penjaga merasa tidak berdaya.Kevin menyadari ada yang tidak beres. Dia membentak dengan ekspresi muram, "Cepat bilang! Apa yang dilakukan anak sialan itu di dalam aula leluhur?"Para penjaga tidak b
Dylan ingin menunjukkan tekadnya. Mungkin juga dia ingin memprovokasi Kevin dan Catherine. Dylan mengeluarkan ponsel, lalu menambahkan deskripsi di akunnya.[ Aku nggak akan menikah selamanya! Orang yang menikah bodoh! ]Setelah selesai, Dylan memamerkannya kepada Camila. Sementara itu, pandangan Camila agak kabur. Sesudah beberapa saat, dia baru bisa melihat dengan jelas. Camila mengacungkan jempol kepada Dylan dan memuji, "Kamu hebat!"Dylan bertanya, "Kamu mau tulis, nggak?"Camila masih bisa berpikir rasional. Dia menyahut, "Nggak mau. Aku ini artis, jadi aku harus memikirkan citraku. Tapi, aku pasti nggak akan menikah lagi. Aku sudah membuat keputusan.""Kalau salah satu dari kita menikah, itu berarti dia bodoh!" balas Dylan."Oke," sahut Camila.....Camila dan Dylan bersenang-senang di aula leluhur. Di sisi lain, Lyana yang berada di ruang tamu terus menangis. Dylan terluka parah dan tidak makan seharian.Selain itu, sekarang sudah malam. Namun, Kevin masih tidak mengizinkan Dyl
Camila ragu-ragu sejenak sebelum menghampiri papan nama kakek Dylan. Dia memberi hormat kepada kakek Dylan, lalu berkata, "Kakek, jangan salahkan aku, ya. Cucumu yang suruh aku ambil, aku cuma bantu dia. Kalau kamu marah, buat perhitungan dengan cucumu. Jangan cari aku."Selesai bicara, Camila baru berani bertindak. Dia mengambil 2 botol vodka dan 2 gelas. Setelah kembali ke sisi Dylan, Camila baru berani melihat vodkanya.Tangan Camila bergetar. Dia berseru, "Sialan! Vodka ini sangat mahal!"Camila melihat vodka, lalu memandang Dylan dan bertanya, "Kamu yakin mau minum ini?"Harga sebotol vodka ini setara dengan sebuah vila. Dylan menyahut dengan santai, "Tentu saja, cepat buka."Camila menelan ludah. Dia meletakkan botol vodka di samping, lalu mengambil makanan. Dia tidak melupakan tugasnya hari ini. Camila berucap, "Nggak bagus kalau kita minum vodka saat perut kosong. Kita makan dulu."Ketika mengambil makanan, Camila teringat dengan batu permata itu. Dia berujar, "Oh, iya. Ada uru
Camila menyahut, "Aku datang melihatmu."Dylan mengeluh, "Seharusnya kamu bilang dulu sebelum datang."Camila tertawa, lalu menimpali, "Kenapa? Apa kamu mau berdandan dulu?"Dylan mengatupkan bibirnya. Dia sudah terbiasa sok ganteng. Sekarang kondisinya sangat menyedihkan, jadi Dylan tidak ingin bertemu siapa pun. Apalagi bertemu wanita cantik.Camila memiringkan kepalanya dan melihat Dylan sambil menyipitkan matanya. Dylan merasa canggung dilihat Camila. Dia bertanya seraya mengernyit, "Kamu lihat apa?"Camila menilai, "Rambutmu acak-acakan, bajumu kotor dan robek, wajahmu juga dinodai abu. Dylan, penampilanmu sangat buruk!"Apalagi dibandingkan dengan penampilan Camila yang menawan, Dylan tampak seperti pengemis. Dylan memelotot. Dia sangat mementingkan penampilannya, bisa-bisanya Camila mengkritiknya!Dylan berpikir sejenak, lalu berujar, "Dipukul ayahku bukan hal yang memalukan. Hampir semua orang pernah dipukul waktu kecil!""Orang lain dipukul waktu kecil. Kamu sudah berusia 30 t
Caden mempunyai 5 anak, sedangkan putra mereka belum mempunyai keturunan. Para keluarga kaya tidak kekurangan uang. Tentu saja mereka berharap bisa mempunyai banyak keturunan. Mereka mampu membesarkan anak-anak itu.Keluarga Hermanto tidak berani berharap Dylan bisa mempunyai anak. Mereka sudah cukup bersyukur jika Dylan bersedia menikah. Namun, bagaimana kalau Camila dan Dylan benar-benar bersama? Kemungkinan tahun depan mereka juga mempunyai anak!Seluruh anggota Keluarga Hermanto pasti sangat gembira. Mungkin Kevin dan Lyana akan sibuk memberi tahu semua orang mereka sudah mempunyai cucu."Bu Camila, kamu parkir mobilmu di sini saja," ujar penjaga yang menunggu di pintu belakang. Dia sudah mendapatkan kabar sebelumnya. Begitu melihat Camila, penjaga sangat antusias.Camila memarkir mobil, lalu mematikan mesin. Penjaga dan pelayan Keluarga Hermanto menyapa Camila dengan ramah. Mereka juga membantu Camila membawa barang-barang. Bahkan, mereka juga mengingatkan Camila untuk berhati-hat
Mobil sport merah milik Camila berhenti di depan kediaman Keluarga Hermanto. Camila membunyikan klakson.Para penjaga kediaman Keluarga Hermanto terpana melihat kecantikan Camila. Mereka berebutan untuk menyapa Camila dengan ramah."Bu Camila, apa kamu datang untuk menjenguk Pak Dylan?""Pak Caden sudah memberi tahu kami. Kamu jalan terus, lalu belok ke pintu belakang kediaman Keluarga Hermanto.""Jarak dari sana ke aula leluhur lebih dekat dan nggak bisa ketahuan Pak Kevin. Ada orang yang tunggu kamu di sana. Dia akan bawa kamu ke aula leluhur."Camila mengangguk dan menyahut, "Oke, terima kasih.""Sama-sama," balas penjaga. Setelah Camila pergi, beberapa penjaga sibuk berkomentar."Entah apa yang dipikirkan Leon tolol itu. Dia malah nggak menghargai istri yang begitu cantik. Otaknya bermasalah!""Ibunya Leon juga tolol. Dia terus memfitnah Bu Camila di internet.""Jelas-jelas Bu Camila itu menantu yang membanggakan. Keluarga Leon benar-benar beruntung, tapi mereka malah menyia-nyiaka
Camila berbicara dengan tatapan dingin, "Sejujurnya, waktu dikurung selama 1 tahun olehmu, aku merasa kesakitan setiap hari. Bukan cuma itu, aku juga merasa putus asa. Aku dikurung pria yang kusukai dan dipermalukan pelakor. Aku sangat tersiksa!"Camila menambahkan, "Aku kira aku nggak bisa kabur lagi seumur hidup. Aku benar-benar putus asa ...."Sambil bicara, Camila menginjak jari Leon hingga putus. Dia membawa pisau, lalu membuka pintu kandang dan berjalan masuk.Leon sudah lama tidak makan, jadi dia tidak mampu melawan lagi. Leon mengangkat tangannya yang terluka parah dan berkata sembari memandang Camila dengan ekspresi panik, "Apa yang ingin kamu lakukan? Membunuh itu ... melanggar hukum ...."Camila berucap, "Kamu cuma merasa sedikit ketakutan, tapi kamu nggak merasakan keputusasaanku waktu itu! Kamu tahu aku nggak akan membunuhmu dan aku juga nggak bisa mengurungmu dalam waktu yang lama seperti yang kamu lakukan padaku. Jadi, kamu nggak merasa putus asa.""Kalau kamu nggak mera
Leon berucap dengan napas tersengal-sengal, "Berikan padaku!"Camila duduk di sofa, lalu meletakkan botol anggur dan gelas di atas meja. Dia menceletuk, "Apa kamu masih ingat arti dari anggur ini? Kalau kamu bisa jawab, aku akan memberimu segelas anggur."Leon mengernyit. Bibirnya bergerak, tetapi dia tidak bisa melontarkan sepatah kata pun. Camila menggeleng seraya mendesah, lalu menambahkan, "Kamu benar-benar pelupa. Kamu bahkan melupakan anggur ini."Camila meneruskan, "Ini anggur di resepsi pernikahan kita yang sengaja kita simpan. Kita sudah sepakat untuk menyimpannya. Nanti waktu salah satu dari kita hampir meninggal, kita baru buka anggurnya."Selesai bicara, Camila tidak memberi Leon kesempatan untuk mempertimbangkan. Dia mengambil botol anggur, lalu membukanya. Camila menuang anggur ke gelas dan langsung mencicipinya. Dia berkomentar, "Enak, ini anggur yang bagus!"Leon yang panik berkata, "Kamu ... mau bunuh aku? Jangan lupa, membunuh itu melanggar hukum. Banyak orang tahu ka