"Periksa rambut ini!" Nathan menyerahkan dua helai rambut yang berbeda di kantong plastik kecil, sekretarisnya yang baru saja masuk pun mengambil sampel rambut tersebut. "Tunggu dan laporkan hasil labnya padaku segera!""Baik, Pak."Sang sekretaris langsung berlalu keluar dari ruangan Nathan. Ia sebenarnya memang sengaja membiarkan Monica pergi bersama dua putra kembar, yang dicurigai adalah anak-anaknya, tapi nanti setelah hasil yes itu keluar, dan ia tahu jika itu adalah anaknya, maka mau tidak mau ia harus menjemput Monica dan meminta penjelasan dari wanita itu, mengapa Monica memilih menghindar dan merahasiakan ini semua darinya.Ia kembali mengingat kejadian kemarin, dari reaksi William dan Arini, sudah pasti mereka mengetahui segalanya. "William, mengapa ia menyimpan rahasia sebesar ini dariku? Jika memang itu putraku apakah salah jika aku tahu." Nathan langsung saja memainkan jemarinya pada keyboard, mencari-cari informasi tertentu terkait Monica dan kedua putranya, tap
"Pak saya membawa kabar bahagia, akhirnya perusahaan kita diterima untuk bekerja sama dengan perusahaan milik Nyonya Monica."Nathan tentu saja tidak bisa tidak senang, akhirnya satu langkah lagi, tujuannya akan tercapai. Nathan bergegas menyuruh sekretarisnya untuk memproses pengiriman produk di perusahaan kecil Monica. Itu akan menguntungkan bagi keduanya, apalagi dengan sistem bagi hasil yang lebih menguntungkan perusahaan Monica, tentu saja i mempermudah Monica untuk memperluas perusahaan kecilnya, agar menjadi lebih dikenal, ia tak akan rugi mengeluarkan berapapun biayanya, toh ia tahu Monica bekerja untuk dua anaknya. Beberapa bulan kemudian ia mendapat kabar yang lebih membahagiakan, angka penjualan produk miliknya di sana juga tak kalah memuaskan. Tiba-tiba saja sang sekretaris masuk."Ada laporan?" selidik Nathan. Tuan William menunggu di bawah."Nathan sadar, tingkahnya ini sudah tercium oleh William. Ia tahu betul kedatangan William kali ini pasti untuk mencegahnya. J
Monica menjadi semakin sibuk, ia terlihat sangat fokus dengan bisnisnya yang sudah mulai dikenal banyak orang, karena keberadaan produk skin care milik Felicia.Kesibukannya yang padat, membuat kedua putranya yang memang masih membutuhkan perhatian lebih darinya malah lebih sering ditinggal sendiri, dalam waktu yang cukup lama.Mereka hanya akan bertemu di pagi hari di meja makan, lalu Monica akan pulang ketika malam hari dan tetap menyiapkan makan malam seperti biasa, mengobrol secara intens pun sudah tidak pernah dilakukan, hal itu tentu saja membuat hati kedua putranya sedih, mereka seperti kehilangan sosok ibunya.Malam menampakkan rembulan penuh, Edward duduk di balkon rumah seorang diri, tak lagi memegang komputer, atau mencari rumus-rumus kimia baru tersulit yang akan dipecahkan, pikirannya tertuju pada wajah Nathan saat mereka pertama kali bertemu.Bibirnya bungkam, membiarkan binatang malam mengambil alih lebih dulu untuk saling berbisik satu sama lain.Ia bisa melihat cinta
"Edgard, panggil kakakmu untuk makan malam!" Monica yang baru saja pulang kerja, telah selesai memasak makan malam untuk mereka. Ia memang tidak membiasakan diri untuk membeli makanan di luar demi kesehatan putranya. Edward sebenarnya belum tertidur, ia masih sibuk dengan isi pikiran yang tak ada habisnya. "Mommy sudah menunggu di bawah."Edward bergeming, kakinya terasa berat untuk mendekati Edgard, akhirnya mau tak mau Edgard yang menghampiri Edward dan menarik kakinya."Berhenti berpura-pura tidur! Memangnya ada masalah yang lebih rumit dari rumus kimiamu yang membuat pusing itu? Ayo turun sebelum Mommy marah!"Edward masih pada posisinya, membuat Edgard semakin kesal pada saudara kembarnya."Kau sedang memikirkan Daddy?"Pertanyaan Edgard membuat Edward bangkit merubah posisi menjadi duduk."Ternyata benar, pria dewasa yang kemarin itu adalah Daddy, ucap Edward menatap Edgard. Adiknya tidak terkejut, ia sudah menduganya dari awal kalau itu memang ayah kandung mereka.Lihat saja
"Mommy mau ke mana?"Suara Edward menghentikan aksinya yang sedang mengemasi pakaian ke dalam koper, setelah pulang kerja ia mengemasi beberapa barang pentingnya yang akan ia bawa ke Indonesia esok pagi.Edward masih berdiri di depan pintu kamar menunggu jawaban, sepertinya Monica akan pergi ke suatu tempat yang entah. Monica terdiam sebentar kemudian lanjut menutup kopernya, tidak banyak barang yang ia bawa, lagi pula ia tidak menginap, jika bisa ia akan segera pulang, atau jika memang harus menginap setidaknya hanya satu hari, ia tidak bisa berlama-lama meninggalkan Edward dan Edgard meski sudah menyuruh orang untuk memasak dan mengurus keperluan keduanya."Mommy akan berangkat ke Indonesia, ada meeting penting dari pemilik brand yang menjadi investor di perusahaan Mommy. Oh iya, besok akan ada orang yang datang untuk mengurus kalian sementara waktu. Jangan bertengkar dengan adikmu sampai Mommy kembali!"Tangan Edwar mengepal kuat, ia seperti merasa diabaikan dan tidak didengar,
Pesawat sudah mendarat dengan aman, Monica kini kembali ke Indonesia dengan tujuan yang lain, ia tak memberi tahu siapa pun termasuk William dan Arini. Telepon juga terus tersambung dengan Isabella, seolah Felicia memang hanya ingin membicarakan semuanya dengan tangan kanan Monica. Isabella menyuruh Monica untuk menunggu di hotel yang ada dekat bandara."Kenapa harus di hotel? Bukankah sebelumnya dia mengatakan akan melakukannya pertemuan di perusahaannya?" protes Monica.[Menurut keterangan yang saya terima, ibu Felicia ingin melakukan rapat tertutup untuk menghindari hal-hal yang akan merugikan kedua belah pihak.]Monica mendengus dan merasa tidak masuk akal, tapi karena Felicia adalah investor utama, sekaligus orang yang memiliki pengaruh penting dalam kelancaran usahanya, mau tak mau Monica akhirnya menuruti. Ia mengakhiri sambungan telepon dan masuk ke lobi hotel, kamar sudah dipesan langsung oleh Felicia. Prasangka buruk pun beterbangan di benaknya, ia sudah seperti Arini seka
"Bagaimana? Kau sudah memikirkannya dengan matang? Buang egoismu! Aku juga tidak akan merebut mereka darimu, hanya menyuruhmu kembali sebagai istriku, kita akan hidup normal layaknya pasangan suami istri. Jika kau terus keras kepala seperti ini, aku akan melakukan cara lain yang mungkin akan membuatmu menyesal seumur hidup.""Kau mengancamku?" geram Monica."Tidak. Hanya mengingatkan dirimu. Kau begitu keras kepala. Pikirkan saja! Aku juga bisa menggulingkan usahamu jika ingin. Jadi, pikirkan lagi menggunakan akal, paksa otakmu melunak agar tak terus menerus menjadi batu."Ia larut dalam pikirannya sendiri, mempertahankan ego dan merasa mampu berdiri sendiri pun perlahan roboh, jika ia hanya sendiri, tidak masalah, tapi dia punya tanggung jawab besar untuk masa depan anak-anaknya."Aku akan memberikan waktu satu Minggu untuk berpikir dan membuat keputusan, jika kau tetap keras kepala, maka aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."Setelah Nahan mengucapkan itu, pintu yang tadinya
"Kejutan!" Edward dan Edgard refleks saja tersenyum senang, lain halnya dengan Monica yang masih bergeming tanpa kata. Apa yang harus ia lakukan, mengusir pria ini dan mengunci pintu, atau membiarkannya masuk begitu saja. "Tidak ada yang mau menyambut Daddy?" Kedua putranya langsung berhambur memeluk Nathan, tatapannya dan Monica seketika bertemu, Nathan tersenyum bangga seperti menunjukkan jika ia tak bisa melakukan apa pun untuk mengusirnya, anak-anaknya sudah berada dalam kendali dirinya sekarang. Ia berhasil memenangkan hati mereka tanpa terduga. Monica mau tak mau membiarkan Nathan masuk. Nathan menyerahkan beberapa barang bawaan untuk kedua anaknya, membuat mereka kegirangan bagai anak kecil. Sekarang ia bisa melihat sisi seorang anak dari putra kembarnya, mereka kegirangan dan berlari ke ruang tamu untuk membuka pemberian Nathan. Tersisa Monica dan Nathan yang berdiri di dekat pintu. "Kau mengikutiku?" selidik Monica setengah berbisik. "Tidak." "Cih, pembohong." Tiba
"Di mana Adam?" William baru saja masuk rumah, padahal ia sudah sengaja pulang saat malam semakin larut, tapi ternyata Arini belum juga tertidur. Matanya sembao seperti baru habis menangis. "Dia pasti sibuk dengan urusannya, Sayang." William mencoba berkelit seperti tak tahu apa pun. "Katakan di mana Adam! Apa dia masih berani menunjukkan muka setelah apa yang ia lakukan?" William terdiam. Ia yakin cepat atau lambat kabar ini akan tersebar. Arini terduduk di sofa dengan tatapan kosong. Ibu mana yang tak sakit hati ketika tahu, bahwa putranya melakukan kejahatan. "Aku sudah membesarkan pembunuh," lirihnya sedih. Air mata yang sejak tadi kering perlahan turun dan membasahi pipi. "Monica begitu menjaga dan melindungi aku dari bahaya, tapi aku malah melahirkan pembunuh untuk mencelakai putranya. Ibu macam apa aku ini?" William mendekat dan mendekap Arini penuh sayang. "Padahal sebentar lagi Allea akan menikah, tapi ketika mendengar kabar Adam menjadi pembunuh yang hampir membuat
William yang saat itu berada di laboratorium, mengecek sidik jari yang mereka temukan, tidak menyangka jika ternyata sidik jari itu milik Adam. Akhirnya tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Nathan dan Edgard, menceritakan semuanya tanpa mengabari Arini, istrinya pasti akan sangat khawatir dan ia tentu saja tak ingin hal itu terjadi. "Ayah kecewa padamu," lirih William yang seperti kehilangan semangatnya. Adam menatap William yang menunjukkan raut kecewanya yang jelas. "Ayah dan Ibu tak pernah mengajarimu menjadi pemberontak dan pembunuh, kau ditempatkan di posisi paling aman karena ibumu sangat menyayangimu. Sejak kecil, kau dan Allea adalah hidupnya." "Ayah, aku melakukan ini karena iri pada Edward, mengapa ia bisa dipilih menjadi orang paling berpengaruh sementara aku tidak?" William membuang napas berat. "Itu hak kakekmu, dia yang pebih tahu siapa yang paling kuat dan tangguh, tapi bukan berarti dirimu tidak mampu. Aku, ayahmu pernah mengajukan dirimu sebagai cucu pal
"Apa maksud semua ini, hah? Jujur, paman pasti kecewa ketika tahu siapa dalang di balik semua ini." Pria yang ternyata adalah Adam itu tertawa jahat, ia bersusah payah berdiri, menatap Edward yang sepertinya syok, tapi Adam tak peduli. Ia jujur sangat membenci Edward. "Bibi dan paman adalah orang baik, mereka tak pernah gagal dalam mendidik dirimu. Kenapa harus berjalan menjadi musuh? Jika kau memang tertarik dengan dunia misi, harusnya mengajukan diri menjadi satu kelompok yang utuh, bukan malah menjadi musuh. Aku tak ingin ada pertumpahan darah di keluarga kita, Adam." "Diam kau munafik! Apa kau tak sadar jika semua ini bermula dari dirimu?" Edward semakin kebingungan, ia heran mengapa bisa Adam berpikir seperti itu, padahal selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Adam si sibuk kerja menjadi arsitek muda, sampai jarang memiliki waktu bersama keluarganya. Tiba-tiba jadi seperti ini. "Kau yang berhasil menjadi pusat perhatian, keamananmu sangat dijaga, bahkan ayahku sangat meli
"Sial! Edward sok pintar itu selalu bisa menemukan celah. Tidak! Dia pikir akan mudah menangkapku?" Pria dengan topeng perak itu duduk di kursi, sebuah ruangan temaram dengan banyak layar monitor di sekitar menjadi tempat paling nyaman, tempat di mana tak satu pun orang yang berhasil mendeteksi keberadaannya. Tapi telepon milik salah satu anak buahnya tidak sengaja menunjukkan poisis terakhirnya saat ini. Pria yang dikenal sebagai Max itu sudah mempersiapkan ini sejak awal, ia memiliki banyak tempat pelarian, dan ia yakin sepintar apa pun Edward, tidak akan bisa menemukan dirinya dengan mudah. Pundi-pundi rupiah dan emas batangan menumpuk di mana-mana, hampir semua titik menjadi tempat persembunyian uang hasil penjualan organ manusia, dan itu ia lakukan dengan rapi sekali. Sayangnya beberapa kacungnya ceroboh, hingga mampu terendus oleh hidung tajam Edward. "Aku memang memiliki banyak kesempatan untuk membunuhmu, tapi aku tidak melakukan itu sekarang." Kedua tangannya mengepal k
"Ngga bisa dibiarkan! Ali just my mine, not her. Argh, shit!" Bianca sibuk memaki. Napasnya sesak, sedari dulu ia memang menginginkan Ali, melakukan seribu satu cara untuk mendekatkan diri dengan Aliando, tapi nyatanya sejak masuk di bangku kuliah, Allea dengan lancang masuk ke hati Ali, gadis sialan itu bahkan mencuri perhatian orang tua Ali, jalannya begitu mulus, sekali pun ia menghasut agar Allea dibenci, tapi dokter cantik itu seperti tak memiliki celah untuk membuktikan keburukan Allea. Bianca pulang dengan rasa kesal, di kamar ia meminum banyak pil dengan asal, atanya berkunang-kunang, bayangan masa kecil dengan puing-puing kenangan bersama Ali berputar di benaknya. Mata hingga pipinya basah. Ia memang bisa mendapatkan segalanya. Harta, kecantikan, perhatian kedua orang tuanya, tapi ia ditakdirkan memiliki penyakit kronis yang membuatnya harus bergantung sepenuhnya pada obat-obatan, bahkan menjadikan Ali semangatnya untuk sembuh. Selama ini berusaha kuat dan sehat, karena
"Konsep pernikahannya bagus, ya." Allea dan dokter muda bernama Aliando duduk di sebuah meja yang tak jauh dari tempat Evelyn dan Leo berada, mereka juga melihat langsung keributan yang baru saja tercipta, tapi tak satu pun dari keluarga Evelyn yang turun tangan untuk mengatasinya, mereka memilih berpura-pura buta dan tuli. Lagi pula ini acara sakral Edgard, jika mereka ikut turun tangan membela Evelyn, masalah akan semakin panjang, toh semua masalah sudah selesai dengan cepat karena Evelyn memang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. "Iya, bagus. Jadi, kapan kau siap menikah? Aku akan siapkan konsep pernikahan yang lebih meriah dari ini," balas Ali semringah. Allea membatu sesaat, kemudian menatap ke arah pelaminan lagi, di mana sepasang raja dan ratu sehari itu berada. Ia memang sudah dilamar, cincin terpasang sempurna, tapi untuk menentukan kapan hari pernikahannya sendiri pun ia tak tahu. Allea menyimpan masalahnya sendiri. Padahal ia terlahir dari keluarga cemara, tak ada
Semua persiapan pernikahan sudah siap, sesuai dengan pilihan Tasya, bahkan rumah impian Tasya juga sudah ditentukan. Akhirnya hari yang ditunggu Edgard pun datang, ia sudah rapi dengan pakaian formalnya, menunggu dengan gagah, meski sejatinya ia tampak gelisah, sejak melamar Tasya, ia tak melihat bahkan berbicara dengan Edward. Pria itu sedang sibuk dengan misi berbahaya tanpa melibatkan dirinya. Mungkin Edward memang kuat, karena ia adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Sean, hanya saja sekuat apa pun Edward, ia tetap was-was dan memiliki firasat bahwa Edward dalam bahaya, mungkin karena mereka adalah kembar, jadi bisa merasakan kesakitan satu sama lain meski dari jarak jauh sekali pun. "Ayo, Tuan!" Sopir pribadi membuka pintu mobil. Tapi kaki Edgard rasanya berat, ia kembali menghubungi Edward meski nihil. Lokasi kejadiannya pun ada di sebuah pulau, bagaimana bisa William dan Edward berjuang sendirian mencari dalang dari sindikat perdagangan manusia tersebut. "Sepuluh meni
"Jadi, kamu ngerasa jadi Mommy itu melelahkan?"Evelyn mengangguk mantap."Ok, Mommy bahas satu persatu. Jadi ibu itu menyenangkan, bisa mengurus rumah, anak, suami, itu hal yang menyenangkan. Daddy juga ngga pernah maksa Mommy buat ngerjain semuanya, lihat kan Daddy sesekali bantuin. Pernah juga bahkan sering Daddy nyuruh Mommy nyari ART, biar mommy cuman fokus ngurus Daddy sama kalian, tapi Mommy ngga mau. Intinya menikah dan menjadi istri itu menyenangkan. Dulu, Mommy juga ngga bisa apa-apa, yang pintar masak itu Tante Arini, tapi lambat Laun Mommy belajar tapi Daddy ngga pernah maksa."Evelyn masih terdiam menyimak."Intinya yang paling penting adalah, menikahlah dengan lelaki yang tepat, agar rumah tangga tidak menjadi beban untukmu. Dan menurut Mommy Leo baik, Leo pilihan yang tepat, dia juga anak tunggal, dia sayang banget sama kamu. Waktu kamu masih bayi aja, dia pernah nyium pipi kamu, terus ngomong nanti mau kalau udah gede mau jadi suami kamu.""Hah? Masa gitu sih, Mom?""I
"Ya Tuhan, Tasya mengirim pesan ini?"Edgard hampir saja terjungkal dari kasur, geraknya terlalu over sampai ia tak sadar diri sudah bergerak seabsurd ini. Edgard memang sengaja pulang lebih awal dan mampir di rumah Edward, saat Tasya pulang. Ia menunggu Edward dengan tidak sabaran. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan tentunya, dan meminta pendapat bagaimana dengan keputusan besar yang akan ia ambil, apa sudah benar. Kamar Edward menjadi markas ternyaman. Ia membaca pesan berulang kali dan tersenyum senang. Akhirnya kembali membuka file gambar yang hanya berisi foto Tasya. Gadis yang memikat hatinya sejak lama.Suara gemuruh mobil berhenti di depan rumah membuatnya semakin bersemangat, itu Edward, kakaknya yang kehilangan jodoh entah ke mana.Ia sedikit terkejut melihat mobil Edgard terparkir di sana. Akhirnya, pria itu masuk ke kamar, dan sedikit terkejut melihat adik kembarnya tersenyum sendiri sembari menatap kaca."Heh, apa yang terjadi denganmu?"Edgard tak menjawab dan lang