Pagi menjelang, tapi kedua insan berbeda jenis kelamin itu belum juga bangkit dari tempat ternyaman. Nathan merasakan ada sesuatu yang berat di atas tubuhnya, helai rambut juga mengganggu wajah Nathan tentunya, ia langsung saja terjaga, dan terkejut mendapati Monica yang terbaring dengan nyaman di dada kekarnya.Nathan tersenyum.Ternyata semalam Monica mengigau dan jatuh terguling ke lantai, ia bahkan tidak sadar telah berada di pelukan Nathan sepanjang malam. Dengan sengaja, Nathan mengusap kepala Monica, membiarkan istrinya terlelap lagi dalam jangka waktu yang cukup lama. 'Padahal dia sendiri yang mengatakan tidak sudi tidur denganku, tapi lihat sekarang, ia mendekati lebih dulu. Memang tidak bisa dipercaya,' batinnya mencibir.Tiba-tiba senyum Nathan berubah menjadi pulsa. Monica bangun, ia begitu terkejut mendapati dirinya tidur di atas dada Nathan, bahkan dirangkul dengan cukup erat."Ah, brengsek! Apa yang kau lakukan?"Monica menjerit dan langsung menjaga jarak, ia langsung
Nathan baru saja selesai mengganti baju santai, kemudian menatap kedua anaknya yang menunggu di meja makan. Biasanya ketika makan siang, mereka hanya memakan buah dan membuat susu sendiri, sementara Monica tak punya waktu untuk pulang di siang hari, wanita gila kerja itu akan berangkat pagi dan kembali ketika malam hari, dia lebih bekerja keras ketimbang karyawannya, padahal memiliki karyawan untuk dibantu, tapi Monica terlalu memaksakan diri hingga akhirnya tak punya banyak waktu untuk mengurus dua anaknya dengan baik. Nathan kesal, tapi tak menunjukkan itu di depan anaknya. Pantas saja mereka begitu senang dengan kedatangannya, mereka jelas saja masih butuh teman cerita dan berbagi keluh kesah, tapi mereka tak mendapatkan itu dari Monica.Ia juga bos perusahaan, memiliki banyak perusahaan tak membuatnya seperti ini, William juga sama, mereka kan bisa memantau dari rumah sambil menemani keluarga, tak perlu terlalu seperti ini, bukan hanya menyiksa diri, tapi juga menyiksa keinginan
"Maaf."Untuk pertama kalinya Monica sesenggukan, ia terus memeluk William yang masih kebingungan. Memangnya Monica melakukan kesalahan apa.Ternyata tadi setelah cukup lama merenung, Monica perlahan tersadar jika sebenarnya ia terlalu egois, ia tak pernah tahu apa yang anaknya sukai, ucapan Nathan membuatnya sadar jika ia terlalu abai dengan tugasnya sebagai seorang ibu.Karena kedatangan Nathan, anaknya mulai bisa mengekspresikan diri, tertawa dan tak lagi berdebat seperti biasa, tak ada lagi suara hening di meja makan, obrolan apa adanya, atau sekedar sapa di pagi hari, Nathan benar-benar mencairkan suasana, ia juga tidak berhak memisahkan mereka dari Nathan terlalu lama, pria itu benar-benar berubah sekarang.Bukankah semua orang punya masa lalu, begitu pun dengan dirinya. Mengapa ia hanya menghakimi kesalahan Nathan tapi tidak bercermin untuk diri sendiri, ia juga bukan wanita yang terlahir tanpa cela.Nathan membalas pelukan Monica, membuat wanita itu tenang. Di balik keras kepa
"Tidak ada yang tertinggal?" Monica masuk ke kamar Edward dan Edgard, memastikan kedua anaknya sudah selesai berkemas. Minggu lalu ia untuk pertama kalinya mengunjungi sekolah anak-anaknya, hari kelulusan yang memuaskan, Edward dan Edgard mendapatkan nilai tertinggi dan menjadi lulusan terbaik d tahun ini, dengan banyak prestasi yang berhasil mereka raih, bahkan kemarin putranya ditawari untuk menghadiri pameran lukisan sebagai tamu terhormat, padahal usianya masih terbilang belia.Tapi karena mereka harus pindah ke Indonesia, anaknya menolak tawaran itu dengan halus, ia lebih memilih membuka lembaran baru di tempat asal orang tuanya. "Semua sudah siap?""Sudah, Mommy."Monica langsung kembali ke kamarnya, memeriksa setiap sudut memastikan tak ada yang tertinggal. Rumah ini akan dijual, sebelum dihuni pemilik yang baru, ia tentu saja harus mengosongkan rumah tersebut. Monica menjual beberapa perabotan di situs online, lagi pula mereka tak mungkin bisa membawa semuanya ke sana. Han
"Kak, kau di mana?"Suara Arini terdengar dari seberang telepon, pasalnya yang ia lihat sepertinya Monica tidak berada di rumah yang biasa. Arini memicing, sementara Monica terlihat menahan tawa. Ia sengaja menghubungi adiknya untuk pamer."Tebak, aku di mana!""Hem, kau di rumah siapa?""Ayo tebak dulu!""Jangan bilang kau di Indonesia, Kak. Astaga kau pulang diam-diam tanpa mengabari? Apa kau membeli rumah baru di sana? Lalu di mana anak-anakmu? Kau sudah mulai berani menyembunyikan rahasia besar dari adikmu ya?"Monica tertawa kecil."Edward dan Edgard sudah berangkat ke sekolahnya yang baru bersama Nathan."Mendengar nama Nathan disebut, Arini melebarkan mata. "Kau di rumah Nathan?" Monica mengangguk."Kenapa jahat sekali? Kau tak memberitahuku kabar bahagia ini? Ayo katakan bagaimana ceritanya kau bisa luluh pada pria itu? Astaga! Besar juga nyalinya. Apa William tahu?""Tidak usah memberitahunya, Nathan sendiri yang akan cerita."Monica mulai larut dalam obrolan panjang bersama
"Sayang, aku menginginkanmu malam ini," bisik Nathan nakal.Monica tersenyum malu. Ia baru saja selesai mandi dan memakai krim malam. Aroma wangi semerbak semakin menggoda iman suaminya. Monica yang berniat menggoda, ia berjalan ke kasur dan menunjukkan senyum nakal. Akhirnya Nathan mematikan lampu, dan mulai tenggelam di balik selimut bersama istrinya. Semua pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hari demi hari berjalan seperti biasa, seolah ujian rumah tangga mereka sudah usai. Hari berganti bulan, sudah tiga bulan berlalu Monica tidak mendapati tamu bulanannya. Ia mulai cemas, badannya lemas, jika benar ia hamil, apa itu tak akan menimbulkan kecemburuan dalam hati anak-anaknya. Monica akhirnya memberanikan diri untuk memesan alat tes kehamilan. Ia menunggu dengan cemas sampai pengantar paketnya datang. Buru-buru ia membuka, dan berjalan menuju kamar mandi.Monica menunggu beberapa saat dengan perasaan gelisah, dan hasilnya membuat ia bingung harus senang atau sedih."Posit
"Sayang, aku menginginkanmu malam ini," bisik Nathan nakal. Monica tersenyum malu. Ia baru saja selesai mandi dan memakai krim malam. Aroma wangi semerbak semakin menggoda iman suaminya. Monica yang berniat menggoda, ia berjalan ke kasur dan menunjukkan senyum nakal. Akhirnya Nathan mematikan lampu, dan mulai tenggelam di balik selimut bersama istrinya. Semua pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hari demi hari berjalan seperti biasa, seolah ujian rumah tangga mereka sudah usai. Hari berganti bulan, sudah tiga bulan berlalu Monica tidak mendapati tamu bulanannya. Ia mulai cemas, badannya lemas, jika benar ia hamil, apa itu tak akan menimbulkan kecemburuan dalam hati anak-anaknya. Monica akhirnya memberanikan diri untuk memesan alat tes kehamilan. Ia menunggu dengan cemas sampai pengantar paketnya datang. Buru-buru ia membuka, dan berjalan menuju kamar mandi. Monica menunggu beberapa saat dengan perasaan gelisah, dan hasilnya membuat ia bingung harus senang atau sedih.
"Sayang, kau yakin tidak ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku?" Monica menghampiri suaminya di ruang kerja saat malam hari, ia meletakkan secangkir kopi susu di meja agar tak membuat Nathan mudah lelah dan mengantuk saat bekerja. "Tentang apa? Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu gelisah." Nathan menatapnya sekilas, kemudian kembali fokus dengan komputer di hadapannya. Ia tak terlalu menanggapi dengan serius karena memang tak ada rahasia apa pun yang disembunyikan. Monica duduk di kursi panjang, tepat di sudut ruangan. Bayangan wajah Ambar yang ia lihat di supermarket kemarin seperti memaksanya untuk bertanya. Arini mengatakan jika Ambar berada di rumah sakit jiwa, tapi kemarin tidak mungkin ia salah lihat. Mendapati istrinya diam saja, Nathan buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, kemudian mematikan komputer. Ia menyeruput kopi susu dengan tenang, sebelum akhirnya menghampiri Monica yang duduk dengan gelisah. "Kenapa, Sayang?" Nathan menggenggam kedua tangan Monica, dan
"Di mana Adam?" William baru saja masuk rumah, padahal ia sudah sengaja pulang saat malam semakin larut, tapi ternyata Arini belum juga tertidur. Matanya sembao seperti baru habis menangis. "Dia pasti sibuk dengan urusannya, Sayang." William mencoba berkelit seperti tak tahu apa pun. "Katakan di mana Adam! Apa dia masih berani menunjukkan muka setelah apa yang ia lakukan?" William terdiam. Ia yakin cepat atau lambat kabar ini akan tersebar. Arini terduduk di sofa dengan tatapan kosong. Ibu mana yang tak sakit hati ketika tahu, bahwa putranya melakukan kejahatan. "Aku sudah membesarkan pembunuh," lirihnya sedih. Air mata yang sejak tadi kering perlahan turun dan membasahi pipi. "Monica begitu menjaga dan melindungi aku dari bahaya, tapi aku malah melahirkan pembunuh untuk mencelakai putranya. Ibu macam apa aku ini?" William mendekat dan mendekap Arini penuh sayang. "Padahal sebentar lagi Allea akan menikah, tapi ketika mendengar kabar Adam menjadi pembunuh yang hampir membuat
William yang saat itu berada di laboratorium, mengecek sidik jari yang mereka temukan, tidak menyangka jika ternyata sidik jari itu milik Adam. Akhirnya tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Nathan dan Edgard, menceritakan semuanya tanpa mengabari Arini, istrinya pasti akan sangat khawatir dan ia tentu saja tak ingin hal itu terjadi. "Ayah kecewa padamu," lirih William yang seperti kehilangan semangatnya. Adam menatap William yang menunjukkan raut kecewanya yang jelas. "Ayah dan Ibu tak pernah mengajarimu menjadi pemberontak dan pembunuh, kau ditempatkan di posisi paling aman karena ibumu sangat menyayangimu. Sejak kecil, kau dan Allea adalah hidupnya." "Ayah, aku melakukan ini karena iri pada Edward, mengapa ia bisa dipilih menjadi orang paling berpengaruh sementara aku tidak?" William membuang napas berat. "Itu hak kakekmu, dia yang pebih tahu siapa yang paling kuat dan tangguh, tapi bukan berarti dirimu tidak mampu. Aku, ayahmu pernah mengajukan dirimu sebagai cucu pal
"Apa maksud semua ini, hah? Jujur, paman pasti kecewa ketika tahu siapa dalang di balik semua ini." Pria yang ternyata adalah Adam itu tertawa jahat, ia bersusah payah berdiri, menatap Edward yang sepertinya syok, tapi Adam tak peduli. Ia jujur sangat membenci Edward. "Bibi dan paman adalah orang baik, mereka tak pernah gagal dalam mendidik dirimu. Kenapa harus berjalan menjadi musuh? Jika kau memang tertarik dengan dunia misi, harusnya mengajukan diri menjadi satu kelompok yang utuh, bukan malah menjadi musuh. Aku tak ingin ada pertumpahan darah di keluarga kita, Adam." "Diam kau munafik! Apa kau tak sadar jika semua ini bermula dari dirimu?" Edward semakin kebingungan, ia heran mengapa bisa Adam berpikir seperti itu, padahal selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Adam si sibuk kerja menjadi arsitek muda, sampai jarang memiliki waktu bersama keluarganya. Tiba-tiba jadi seperti ini. "Kau yang berhasil menjadi pusat perhatian, keamananmu sangat dijaga, bahkan ayahku sangat meli
"Sial! Edward sok pintar itu selalu bisa menemukan celah. Tidak! Dia pikir akan mudah menangkapku?" Pria dengan topeng perak itu duduk di kursi, sebuah ruangan temaram dengan banyak layar monitor di sekitar menjadi tempat paling nyaman, tempat di mana tak satu pun orang yang berhasil mendeteksi keberadaannya. Tapi telepon milik salah satu anak buahnya tidak sengaja menunjukkan poisis terakhirnya saat ini. Pria yang dikenal sebagai Max itu sudah mempersiapkan ini sejak awal, ia memiliki banyak tempat pelarian, dan ia yakin sepintar apa pun Edward, tidak akan bisa menemukan dirinya dengan mudah. Pundi-pundi rupiah dan emas batangan menumpuk di mana-mana, hampir semua titik menjadi tempat persembunyian uang hasil penjualan organ manusia, dan itu ia lakukan dengan rapi sekali. Sayangnya beberapa kacungnya ceroboh, hingga mampu terendus oleh hidung tajam Edward. "Aku memang memiliki banyak kesempatan untuk membunuhmu, tapi aku tidak melakukan itu sekarang." Kedua tangannya mengepal k
"Ngga bisa dibiarkan! Ali just my mine, not her. Argh, shit!" Bianca sibuk memaki. Napasnya sesak, sedari dulu ia memang menginginkan Ali, melakukan seribu satu cara untuk mendekatkan diri dengan Aliando, tapi nyatanya sejak masuk di bangku kuliah, Allea dengan lancang masuk ke hati Ali, gadis sialan itu bahkan mencuri perhatian orang tua Ali, jalannya begitu mulus, sekali pun ia menghasut agar Allea dibenci, tapi dokter cantik itu seperti tak memiliki celah untuk membuktikan keburukan Allea. Bianca pulang dengan rasa kesal, di kamar ia meminum banyak pil dengan asal, atanya berkunang-kunang, bayangan masa kecil dengan puing-puing kenangan bersama Ali berputar di benaknya. Mata hingga pipinya basah. Ia memang bisa mendapatkan segalanya. Harta, kecantikan, perhatian kedua orang tuanya, tapi ia ditakdirkan memiliki penyakit kronis yang membuatnya harus bergantung sepenuhnya pada obat-obatan, bahkan menjadikan Ali semangatnya untuk sembuh. Selama ini berusaha kuat dan sehat, karena
"Konsep pernikahannya bagus, ya." Allea dan dokter muda bernama Aliando duduk di sebuah meja yang tak jauh dari tempat Evelyn dan Leo berada, mereka juga melihat langsung keributan yang baru saja tercipta, tapi tak satu pun dari keluarga Evelyn yang turun tangan untuk mengatasinya, mereka memilih berpura-pura buta dan tuli. Lagi pula ini acara sakral Edgard, jika mereka ikut turun tangan membela Evelyn, masalah akan semakin panjang, toh semua masalah sudah selesai dengan cepat karena Evelyn memang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. "Iya, bagus. Jadi, kapan kau siap menikah? Aku akan siapkan konsep pernikahan yang lebih meriah dari ini," balas Ali semringah. Allea membatu sesaat, kemudian menatap ke arah pelaminan lagi, di mana sepasang raja dan ratu sehari itu berada. Ia memang sudah dilamar, cincin terpasang sempurna, tapi untuk menentukan kapan hari pernikahannya sendiri pun ia tak tahu. Allea menyimpan masalahnya sendiri. Padahal ia terlahir dari keluarga cemara, tak ada
Semua persiapan pernikahan sudah siap, sesuai dengan pilihan Tasya, bahkan rumah impian Tasya juga sudah ditentukan. Akhirnya hari yang ditunggu Edgard pun datang, ia sudah rapi dengan pakaian formalnya, menunggu dengan gagah, meski sejatinya ia tampak gelisah, sejak melamar Tasya, ia tak melihat bahkan berbicara dengan Edward. Pria itu sedang sibuk dengan misi berbahaya tanpa melibatkan dirinya. Mungkin Edward memang kuat, karena ia adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Sean, hanya saja sekuat apa pun Edward, ia tetap was-was dan memiliki firasat bahwa Edward dalam bahaya, mungkin karena mereka adalah kembar, jadi bisa merasakan kesakitan satu sama lain meski dari jarak jauh sekali pun. "Ayo, Tuan!" Sopir pribadi membuka pintu mobil. Tapi kaki Edgard rasanya berat, ia kembali menghubungi Edward meski nihil. Lokasi kejadiannya pun ada di sebuah pulau, bagaimana bisa William dan Edward berjuang sendirian mencari dalang dari sindikat perdagangan manusia tersebut. "Sepuluh meni
"Jadi, kamu ngerasa jadi Mommy itu melelahkan?"Evelyn mengangguk mantap."Ok, Mommy bahas satu persatu. Jadi ibu itu menyenangkan, bisa mengurus rumah, anak, suami, itu hal yang menyenangkan. Daddy juga ngga pernah maksa Mommy buat ngerjain semuanya, lihat kan Daddy sesekali bantuin. Pernah juga bahkan sering Daddy nyuruh Mommy nyari ART, biar mommy cuman fokus ngurus Daddy sama kalian, tapi Mommy ngga mau. Intinya menikah dan menjadi istri itu menyenangkan. Dulu, Mommy juga ngga bisa apa-apa, yang pintar masak itu Tante Arini, tapi lambat Laun Mommy belajar tapi Daddy ngga pernah maksa."Evelyn masih terdiam menyimak."Intinya yang paling penting adalah, menikahlah dengan lelaki yang tepat, agar rumah tangga tidak menjadi beban untukmu. Dan menurut Mommy Leo baik, Leo pilihan yang tepat, dia juga anak tunggal, dia sayang banget sama kamu. Waktu kamu masih bayi aja, dia pernah nyium pipi kamu, terus ngomong nanti mau kalau udah gede mau jadi suami kamu.""Hah? Masa gitu sih, Mom?""I
"Ya Tuhan, Tasya mengirim pesan ini?"Edgard hampir saja terjungkal dari kasur, geraknya terlalu over sampai ia tak sadar diri sudah bergerak seabsurd ini. Edgard memang sengaja pulang lebih awal dan mampir di rumah Edward, saat Tasya pulang. Ia menunggu Edward dengan tidak sabaran. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan tentunya, dan meminta pendapat bagaimana dengan keputusan besar yang akan ia ambil, apa sudah benar. Kamar Edward menjadi markas ternyaman. Ia membaca pesan berulang kali dan tersenyum senang. Akhirnya kembali membuka file gambar yang hanya berisi foto Tasya. Gadis yang memikat hatinya sejak lama.Suara gemuruh mobil berhenti di depan rumah membuatnya semakin bersemangat, itu Edward, kakaknya yang kehilangan jodoh entah ke mana.Ia sedikit terkejut melihat mobil Edgard terparkir di sana. Akhirnya, pria itu masuk ke kamar, dan sedikit terkejut melihat adik kembarnya tersenyum sendiri sembari menatap kaca."Heh, apa yang terjadi denganmu?"Edgard tak menjawab dan lang