"Eh, iya, Mik. Sama siapa ke sini?" tanya Tiara sekedar basa-basi. Ia dan Miko sebenarnya tidaklah saling bermusuhan. Keduanya berteman sebelumnya, hanya saja Miko yang kerap cemburu saat Tiara terlihat dekat dengan lawan jenisnya membuat Tiara kurang suka pada laki-laki itu. "Sendiri. Kebetulan di suruh Ibu buat beli beberapa barang karena istri almarhum Abang yang mau datang. Kamu sendiri?" "Sama temen, Mik, bentar lagi mungkin sampai," jawab Tiara seraya melirik meja di hadapannya yang sudah penuh pesanan. Miko melirik sekilas jumlah pesanan di atas meja, menebak jumlah pemesan. "Oke, lah, Ti. Semoga menyenangkan. Aku ke sana dulu, ya."Miko sedikit lega, setidaknya Tiara bertemu dengan dua orang, meski ia sendiri tak tahu dengan siapa Tiara akan bertemu? Apakah dengan laki-laki atau perempuan? Sejak kejadian di taman waktu itu Miko memang menjaga jarak dengan Tiara. Bukan karena Tiara dekat dengan Aiman, melainkan dirinya yang sibuk dengan study S2-nya di kota sebelah. Meliha
"Jangan-jangan kau di lamar duren, Ti?" tebak Zia dengan tawa pelan, memamerkan gigi-gigi putih bersihnya. "Begitulah, Kak. Tiara masih bingung. Orang tuanya begitu baik menurut Tiara. Sejauh ini dia pun sama. Aku tak pernah menemukan sesuatu yang membuatku tak menyukainya. Hanya saja kegagalannya dalam berumah tangga sebelumnya membuatku sedikit ragu." Tiara terlihat serius. Dengan membaginya pada Zia ia berharap menemukan jawaban atas rasa penasarannya tentang sosok Aiman yang sebenarnya. "Istikhoroh, Ti. Terkadang apa yang menurut pandangan kita baik, belum tentu sama dengan pandangan Allah. Namun sebaliknya, jika baik menurut Allah maka sudah pasti baik untuk kita. Kalau menurut Kakak, selagi kamu yakin tak ada masalah dengan status. Toh kegagalan sebelumnya bisa jadi bukan sebab darinya, kan?" Tiara mengangguk pelan. Ia merasa berbagi cerita dengan Zia mampu membuatnya lebih tenang. Detik ini Ia merasa semakin cocok dengan kepribadian Zia. "Akan Tiara coba, Kak. Sejauh ini Ti
Zia berusaha bijak. Dan memang itu yang ia yakini selama ini. Bohong rasanya jika ia mampu bersikap biasa-biasa pada laki-laki yang telah menoreh luka dalam dalam kisahnya itu secepat ini. Namun, ia beranggapan, luka itu selamanya tak akan sembuh jika ia terus mengingatnya dan menanam benih dendam pada laki-laki itu. "Nyatanya Sintia sangat licik, Kak. Aku pun tak tahu akan seperti apa kemarahan Sintia jika tau Aiman melamarku," lirih Tiara sendu. Bayangan kemarahan Sintia membuatnya getir. Zia menarik napas dalam. Jika itu sudah menyangkut Sintia rasanya begitu sulit untuk mencari jalan ke luar. Perempuan itu seolah tak lagi memiliki akal untuk berpikir sehat. "Kalau menurut Kakak, melangkahlah jika kau memang yakin Bang Aiman mampu menjadi imam yang baik untukmu. Masalah Sintia, lama kelamaan ia akan terbiasa dan akan mengikhlaskan semuanya. Semoga saja setelah ini Sintia benar-benar bisa lebih dewasa lagi."Tiara bergeming. Jauh di sudut hatinya ia tak begitu yakin jika Sintia ak
"Itulah kenapa Kakak memintamu istikhoroh, Ti. Minta petunjuk. Jika kelak kau benar-benar yakin silakan kau putuskan. Pun jika tidak, jangan takut untuk menolak karena pernikahan bukanlah perkara coba-coba. Dan yakinlah, jika tidak dengan Bang Aiman pun kau akan menemukan jodoh terbaik pilihan-Nya."Sejatinya memang begitu. Allah telah menetapkan jodoh masing-nasing bahkan jauh sebelum manusia dilahirkan. "Benar yang Kakak katakan. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Itu lah kenapa di hati ini ada ragu karena masa lalu laki-laki yang melamar Tiara." Tiara berucap lirih. Hatinya mengakui kebaikan Aiman dan keluarganya. Namun sudut lain kembali ragu karena masa lalu Aiman. "Yakinkah hatimu dulu, Ti. Kakak tak bisa asal memberimu jalan karena kau yang akan menjalaninya kelak. Dan sekarang waktunya untuk mencari jawaban apakah kau akan melanjutkannya atau berhenti di titik ini." Zia berusaha bijak. "Terima kasih, Kak. Akan Tiara lakukan saran Kakak, semoga Allah beri petunjuk
Zia merasakan tubuhnya lunglai kemudian terduduk di lantai tempat ia berdiri. Wajahnya yang tadi terlihat sehat kini berubah pucat pasi. Detak jantungnya pun berpacu kian cepat seiring perasaan cemas yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Farid yang melihat Zia merosot ke lantai diliputi kekhawatiran. Laki-laki itu berjongkok lalu menyandarkan tubuh Zia di pangkuannya. Tangannya mengusap lembut wajah Zia yang terlihat pucat pasi serta keringat dingin yang tiba-tiba berjejalan ke luar. "Kenapa, Sayang?" tanya Farid dengan nada khawatir.Zia menggeleng pelan. Ia pun tak tahu kenapa tiba-tiba kakinya seolah melemah seiring kabar buruk yang baru saja ia dengar. "Kaki Zia tiba-tiba lemes," lirih Zia sambil berusaha menggengam ujung kemeja yang tengah Farid kenakakan. Sayangnya, tenaganya seolah habis tak bersisa. "Kita pulang sekarang, ya," ajak Farid sekaligus meminta persetujuan. Zia mengangguk lemah. Ia tak memiliki nyali untuk melihat peristiwa nahas di depan sana. Sigap Farid m
"Nggak usah, Bang. Zia jalan aja, kayaknya sekarang mulai baikan," jawab Zia lemah. Farid segera turun dari mobilnya, lalu berjalan cepat ke sisi kiri mobil. Membuka pintu mobil bagian penumpang di mana Zia berada. "Kalau nggak kuat biar Abang gendong, Sayang. Nggak perlu ngerasa nggak enakan. Mama Papa pasti ngerti, kok." Farid masih terus membujuk. Zia hanya menjawab dengan senyum lembut. Tangannya meraih uluran tangan Farid kemudian perlahan turun. Kakinya memang lebih bertenaga sekarang, meski belum sepenuhnya pulih.Sisa-sisa tubuh yang bergetar masih terasa seiring hatinya yang sibuk memikirkan Tiara. Waktu Tiara ke luar dengan kejadian tadi begitu dekat, hingga Zia tak bisa abai dengan kabar perempuan itu. Keduanya berjalan menuju pintu utama. Dalam ketukan kedua pintu pun terbuka. Wajah ibu Liana menyembul dari balik pintu. "Nanti jangan keluar terlalu sore, Bang!" ucap sang mama sambil menutup kembali daun pintu. Perempuan paruh baya itu sejak tadi menunggu kepulangan Far
Zia bangkit untuk duduk. Mendengar kabar dari Tiara barusan membuat jantungnya berdetak lebih cepat. "Ya Allah, jadi kau sebenarnya yang menjadi incarannya, Ti?" tanya Zia dengan wajah berubah panik. Sekarang bukan lagi rasa panik karena mendengar berita nahas itu, melainkan kabar dari Tiara yang menyebutkan jika laki-laki itu tertusuk karena berusaha menghalanginya dari penusukan. Artinya Tiara-lah sasaran utama si penusuk. "Iya, Kak," jawab Tiara singkat. Suaranya masih terdengar bergetar. Ketakutan yang sebelumnya menderanya kini masih belum seutuhnya hilang. "Sekarang kamu di mana, Ti?" tanya Zia khawatir. "Di Rumah Sakit Kasih Ibu, Kak.""Sekarang bagaimana keadaan temanmu?" tanya Zia masih dengan nada cemas. "Syukurnya nggak sampe kena perut bagian dalamnya, Kak. Karena dia nubruk tubuhku yang menjadi sasaran si penusuk akhirnya pisaunya Mengenai lengan dan bagian rusuknya, Kak. Sekarang masih di UGD mungkin sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat.""Baiklah, nanti Ka
Rintik hujan sudah berhenti, menyisakan aspal yang masih menghitam serta aroma tanah basah yang menguar. Dengan kecepatan sedang Farid melajukan kendaraan roda empatnya menuju rumah sakit tempat Tiara berada. Farid fokus mengemudi sedangkan Zia terlihat sibuk melafadzkan dzikir, dengan jari-jemari terus memutar bulir tasbih berwarna hitam di tangannya. "Mau mampir beli sesuatu untuk dibawa?" tawar Farid pada Zia. Zia mengangguk. Tak lama setelahnya mobil Farid berhenti di sebuah mini market. Zia membeli satu botol air mineral kemasan besar, satu liter jus jambu kemasan, serta dua bungkus roti tawar serta selai coklat dan blueberry untuk ia bawa ke rumah sakit. Sepuluh menit berselang mobil Farid memasuki pelataran rumah sakit yang dimaksud. Lalu turun setelah mobil terparkir sempurna. Farid meraih bungkusan yang tadi mereka beli, menentengnya dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya menggandeng tangan Zia. Keduanya berjalan melewati lorong rumah sakit dengan tangan saling
"Terima kasih atas waktu dua tahunmu membersamaiku, Bang. Semoga kau selalu menjadi laki-laki terbaik bagiku dan Hana, putri kita." Zia menyandarkan kepalanya ke dada bidang lelaki yang sudah dua tahun melengkapi hidupnya. Sebuah jalan takdir yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya, jika Farid akan menjadi suami, imam juga jalan dirinya untuk menggapai surga Rabb-nya."Alhamdulillah, Sayang. Abang juga sangat bersyukur sekali bisa dipertemukan dengan perempuan cantik, baik hati, sholeha, sepertimu." Senyum menawan Farid dia persembahkan untuk perempuan asing teristimewa dalam hidupnya. Keduanya saling menautkan jari menikmati semilir angin sore di taman samping rumah sambil melihat kelucuan Hana yang tengah bermain tidak jauh dari tempat mereka duduk.Kehangatan keluarga kecil mereka semakin lengkap setelah kehadiran Hana sebagai pengantar doa-doa panjang dalam setiap sujud mereka sebagai orang tua. Meminta serta memohon keberkahan untuk rumah tangga agar senantiasa berada d
Tiara menatap lekat wajah laki-laki di hadapannya. Dapat ia rasakan hatinya menghangat seiring cinta yang kian tumbuh dan berkembang terhadap laki-laki itu. "Kau yakin? Apa kau sama sekali tak memiliki rasa sakit hati atas penolakanku selama ini?" tanya Tiara dengan rasa penasaran. "Aku yakin. Tak naif, kecewa itu kerap terasa, hanya saja aku menganggapnya sebagai pecut untuk berjuang meraih cintamu lebih keras lagi. Jujur, di luaran sana ada yang mengejarku untuk meraih cintaku, sayangnya hati ini sudah terpaut sejak lama padamu, Ti." Laki-laki itu terlihat sangat serius. Tiara menatap Miko dengan senyum termanisnya. Hati berdesir kian rapat yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. "Apa kau akan selalu bersikap seperti ini seandianya aku menerima lamaranmu?" Tiara berusaha menuntaskan keingintahuannya. "Apa kau pikir aku akan mengorbankan waktu dan kesabaranku selama ini dalam memperjuangkan cintamu hingga aku akan mengabaikanmu saat kau sudah menjadi milikmu?" Miko balik bertanya
Zia mengangguk. "Aku udah maafin Sintia, Ti. Lagipula dari dulu Kakak nggak pernah dendam sama Sintia. Sakit hati atas perlakuan Sintia dulu Kakak rasa itu manusiawi, yang pasti sekarang Kakak sudah mengikhlaskan semuanya." Zia tersenyum lembut. "Kakak memang luar biasa. Terima kasih, Kak.""Maafin kesalahan Sintia! Anggap aja kalo Sintia khilaf waktu ngelakuin semuanya," lanjut Zia."Iya, Kak. Aku hanya berharap semoga Sintia tenang di kehidupan abadinya dan ke depannya nggak akan ada lagi Sintia baru di dalam hidup kita." Tiara berucap lirih. Zia mengangguk pelan. "Aamiin.."***"Sekarang tak ada lagi Sintia, Ti. Aku harap kau bisa menerima lamaranku. Maafkan atas sikapku beberapa waktu lalu." Aiman berucap dengan nada memohon. Aiman meminta Tiara untuk menemuinya di tempat biasa, rumah makan yang beberapa kali mereka jadikan tempat bertemu sambil menghabiskan waktu istirahat siang sebelum kembali ke kantor. Tiara tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak agar tidak salah men
Zia mengalihkan perhatiannya kembali pada sang dokter. Lalu menganggukkan kepala. "Benar, Dok. Jadi jika memang harus dilepas, saya dan keluarga akan berusaha menerima dengan lapang dada." Susah payah Zia mengucapkan kata-kata itu melalui bibirnya yang bergetar. Tapi dia harus, dia tidak bisa ikut rapuh di saat Tiara tak sanggup lagi untuk sekedar berdiri. "Tiara!"Zia menggandeng lengan Tiara untuk ke luar setelah pamit pada dokter yang di hadapan mereka. Farid pun memutuskan untuk mengambil alih semua tugas Tiara. Dia mengikuti dokter tersebut agar segera menandatangani surat persetujuan pelepasan alat penunjang hidup Sintia sekaligus melunasi segala biayanya. Jasad Sintia akan dimandikan oleh pihak rumah sakit dan dikafani sekalian di sini. Supaya mereka hanya tinggal menyemayamkan jasad Sintia menuju ke tempat peristirahatan terakhir. Di sisi lain, Zia mencoba menuntun Tiara ke kursi ruang tunggu. Dia mendudukkan Tiara sembari memberikan sebotol air mineral yang tadi sempat ia b
Tiara bercerita panjang lebar pada Zia. Ia sendiri merasa sedikit tak nyaman menceritakan semuanya pada Zia, terlebih sesuatu yang ada hubungannya dengan Aiman. Tapi ia sendiri seolah tidak memiliki tempat berbagi. Sang nenek tinggal terpisah darinya dengan jarak satu setengah jam perjalanan. Sedangkan sang ayah, laki-laki itu semakin tak memiliki waktu untuknya, bahkan hanya sekedar menelpon pun seolah tak memiliki waktu. "Kakak hanya bisa menyerahkan semua keputusan padamu, Ti. Kau sudah dewasa. Semoga apa pun keputusanmu itu akan berbuah manis di kemudian hati, Ti.""Terima kasih, Kak, sudah sudi mendengar ceritaku. Aku pun berharap begitu. Aku berharap ada kebahagiaan untukku tanpa harus menyakiti hati siapa pun."Telepon terputus. Zia terdiam sejenak. Isi percakapannya dengan Tiara barusan seolah berputar di kepalanya. Ia sendiri tak tahu harus berbuat apa yang pasti ia hanya berharap yang terbaik bagi Tiara. Embusan napas panjang ke luar dari mulutnya. Sekilas wajah patah hati
Tiara lagi-lagi tersenyum sinis. Kalimat Aiman mampu menoreh luka di relung sana. Bagi Tiara, pantang berbohong apalagi dalam hal sepenting ini."Jika saja kau bisa melihat isi hatiku, maka kalimat yang kau ucapkan barusan tak akan pernah ke luar." Kali ini tatapan mata Tiara lekat di wajah Aiman.Laki-laki itu terdiam sejenak. Mencari alasan agar kali ini usahanya untuk membina keluarga baru tidak kembali gagal. "Maafkan aku, Ti. Aku khilaf!" Aiman berusaha menurunkan egonya. "Kumohon mengertilah. Aku bahkan tak akan bisa tenang jika hubungan kita terus berlanjut. Dua hati yang aku korbankan atau … bisa saja lebih." Tiara berucap sendu. "Apa tak ada jalan lain, Ti?" Kumohon! Aku hanya ingin membina keluarga bahagia dan melihat senyum kedua orang tuaku kembali merekah." Aiman menghiba berharap hati Tiara akan luluh. Tiara bergeming. Bayangan Ibu Ana melintas membuatnya sedikit tak nyaman. Namun, ia tak ingin keadaan lebih buruk lagi. "Percayalah, kita akan menemukan jodoh kita ma
"Laki-laki itu masih menyimpan rasa padamu, Sayang!" ucap Farid saat keduanya baru saja masuk ke mobil. Zia menatap lekat wajah sang suami dengan dahi berkerut. Farid sengaja mengalihkan pandangan lurus ke depan. "Maksudnya?" tanya Zia seolah tak mengerti. "Mantan suamimu!" Kali ini Farid melirik sekilas wajah cemberut Zia. "Abang tak suka Zia bertemu dengannya?" "Tidak!""Meski tanpa sengaja?""Ya."Hening. Zia tak lagi meneruskan pertanyaannya. Ia memilih menatap lekat wajah Farid dengan wajah manyun. Farid yang merasa diperhatikan kini tak bisa menyembunyikan tawanya. "Manyun aja keliatan cantik, apalagi senyum." Farid mengecup puncak hidung Zia. Zia tak menjawab. Gemas rasanya karena merasa dipermainkan. "Nggak usah dipikirin! Abang cuma becanda." Farid tersenyum lembut. "Sebenarnya Abang serius kalau dia masih menyimpan rasa padamu. Sayangnya sekarang Abang-lah laki-laki beruntung itu, bukan dia." Farid kembali terkekeh. "Tak usah bahas dia lagi. Zia nggak nyaman," aku Zi
Aiman bangkit dan mengangsurkan tangannya saat Farid dan Zia sudah berdiri di dekatnya. Farid dan Aiman bersalaman layaknya dua orang yang baru saja kenal. Karena ini memang kali pertamanya Farid dan Aiman bertatap muka. Saat Zia menikah pun Aiman tak datang karena merasa tak mampu melihat Zia berbahagia dengan laki-laki lain. Setelahnya Farid duduk dengan jarak satu kursi dari Aiman. Zia duduk di samping Farid. "Baru sampai?" tanya Farid berusaha mencairkan suasana. Ia tahu jika Aiman masih sangat menginginkan Zia hingga Zia memuyuskan menerima lamarannya. "Sekitar pukul 2 tadi," jawab Aiman. Ia merasakan suasana yang begitu canggung. "Tiara di dalam?" tanya Farid lagi. "Iya, beberapa menit lalu baru masuk." Aiman menjawab singkat pertanyaan Farid. Ia tak tahu harus berbasa-basi seperti apa agar suasana canggung antara mereka bisa menghangat. *Di dalam ruangan ICU Tiara duduk di sisi kiri Sintia. Ditatapnya wajah dengan luka jahitan di kepala dan pipi di hadapannya. Ada iba d
"Kau di sini …." Aiman duduk tepat di samping Tiara. "Maaf, saking paniknya aku lupa mengabarimu." Tiara berucap setelah menoleh sekilas pada Aiman. Setelahnya tatapan matanya kembali mengarah pada pintu ruang ICU yang tertutup rapat. "Aku menghubungimu berulang-ulang tapi tapi tak ada balasan. Akhirnya kuputuskan untuk mencarimu di tempat di mana Sintia dirawat.""Terima kasih sudah sepeduli itu padaku." Kalimat Tiara terdengar datar. Kini Aiman seolah tak lagi memiliki daya tarik di matanya. Ia mulai sadar jika terlalu banyak hati bahkan fisik yang tersakiti saat dirinya ia memutuskan untuk menerima lamaran Aiman.Jika ia tetap meneruskan rencana awal ia yakin hati Miko akan bertambah hancur, pun dengan Sintia. Tiara tak ingin menambah api dendam di hati perempuan itu seandainya Sintia sembuh dari komanya. "Besok malam kita bertemu di tempat biasa habis isya! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," lirih Tiara sendu. Ia sangat paham dengan memutuskan hubungan dengan Aiman berarti