Share

BAB 10

Author: Zia Cherry
last update Last Updated: 2022-02-21 16:00:25

Percayalah. Kalau kau pikir aku adalah wanita yang tegar. Maka kau salah sepenuhnya.

Sangat salah.

Kebencian itu memang menguatkanku. Namun ketika aku melihat tangis diam-diam putraku di atas bantal rumah sakit setelah semua tamu pergi, hatiku patah berantakan.

Tadi, dengan kejinya, pria itu mengatakan bahwa gadis itu akan menjadi ibu baru putraku. Apa dia pikir anaknya b*doh? Atau ia yang terlalu t*lol untuk menyadari perubahan ekspresi putraku?

Aku muak.

Aku membenci mereka semua.

Tapi apapun yang mereka lakukan tidak akan menyakitiku, sampai mereka menyentuh putraku.

Andra menutupi wajahnya dengan bantal saat mendengar aku menutup pintu di belakang punggungku. Ia tengah berpura-pura tidur, padahal sesekali bahunya masih terentak karena isak tangis.

Aku menarik kursi di samping ranjangnya. Kini hanya tinggal kami berdua. Apakah seharusnya tetap begitu? Apakah kami memang ditakdirkan hanya untuk hidup berdua saja?

“Andra mau Mama telpon Papa biar ke sini lagi?” tanyaku lembut. Tidak tega mendengar tangisannya.

Bocah kecil itu menggeleng di balik bantal. “Nggak Mama, Andra nggak mau ketemu Papa, Papa jahat.”

Dadaku berdenyut nyeri.

“Andra nggak mau Tante Nuri jadi Mama Andra…. Andra nggak mau.”

Jemari Andra begitu dingin ketika aku mengenggamnya, dan ia refleks menarik jemarinya masuk ke balik bantal. Lalu aku bisa mendengar isakkannya semakin keras. Sepertinya ia tak lagi mampu membendung tangisnya.

Aku langsung beranjak memeluknya, tanpa membuka bantal yang menutupi kepala putraku.

“Mama minta maaf, Sayang. Mama minta maaf.”

Aku tau, aku harus kuat, setidaknya demi anakku. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya setelah mengetahui perselingkuhan suamiku, aku menangis.

Perlahan-lahan Andra menurunkan bantalnya, lalu memelukku, menepuk-nepuk punggungku dengan tangan kecilnya yang masih terlilit infus, seperti yang selama ini aku lakukan untuk menghiburnya.

“Nggak apa-apa, Mama. Mama jangan nangis, ada Andra di sini sama Mama.”

Itu juga kata-kata yang selalu kukatakan kepadanya ketika ia terluka atau ketakutan karena petir yang menggelegar di tengah hujan. Kini, mulut kecil itu mengatakan hal yang sama kepadaku, ibunya, orang yang harusnya melindungi tubuh kecilnya hingga titik darah penghabisanku.

“Nggak apa-apa, Mama… nggak apa-apa…”

Untuk pertama kalinya, aku menangis begitu keras. Kusembunyikan wajahku ke dalam dekapan dada kecil itu. Aku begitu lelah, aku begitu kecewa, aku sangat terluka, dan ketakutan.

“Nggak apa-apa, Mama…,” ujarnya berkali-kali, dan aku mengangguk kepada kata-katanya.

***

Keesokan paginya, seperti biasa aku meninggalkan Andra bersama Ibu mertuaku.

Hari ini wajahnya terlihat sangat cerah, tampaknya ia sangat bahagia dengan keputusanku kemarin. Ia berkali-kali memeluk bahuku, seakan menguatkan atau mengucapkan kata terima kasih. Apakah ia sebahagia itu mendapatkan menantu baru yang sangat baik dan cantik di matanya?

Ia bahkan membelikan beberapa mainan baru untuk Andra, membuat bocah itu sejenak melupakan kesedihan dan rasa sakit di kakinya.

“Bu, Mia titip Andra dulu sebentar. Mia mau ganti baju dulu.”

“Iya, iya, Mia. Biar Andra sama Ibu dulu. Kamu istirahat dulu sana, makan juga. Rumahmu sudah ibu bersihkan, baju kotor taro aja di bak, nanti Ibu yang cuci. Sana pulang dulu.”

Perubahan Ibu mertuaku sangat terasa. Andai tidak ada kejadian pengkhianatan suami dan perempuan itu, mungkin aku akan sangat tersanjung. Rasanya seperti menjadi menantu yang sangat disayangi.

Namun kini, aku bahkan tidak bisa tersenyum sama sekali.

“Kalau ada apa-apa tolong hubungi Mia, Bu.”

“Iya, iya! Andra sama nenek dulu, ya… kita main robot lagi. Andra suka yang mana sayang? Nanti kalau Andra sudah sembuh nenek beliin kereta yang panjang, ya.”

“Iya Nek!” sorak Andra riang. Setidaknya itu mengobati sedikit lukanya, tapi tidak dengan lukaku.

***

Lalu di sini lah aku sekarang. Menggunakan waktu beristirahaku di sebuah kedai makanan yang tak begitu ramai, karena belum waktunya makan siang.

Jaraknya 1.5 jam perjalanan dari rumah sakit, dan aku masih harus menunggu 6 menit sampai seorang pegawai kedai datang menghampiri, menanyai pesanan.

“Saya pesan nasi goreng dan kopi,” kataku, kepada pelayan itu. “Oya, apa Bu Nara ada?”

Pelayan itu tampak tersentak sejenak, terkejut saat mendengar nama yang kusebutkan.

“A… ada, Bu,” jawabnya sedikit gugup.

Aku tersenyum tipis. “Tolong bilang, Miranda mau ketemu dia, bisa?”

Gadis itu mengangguk, lalu membawa pesananku bersamanya.

Ternyata tidak perlu menunggu lama sampai gadis berambut kriting itu keluar dari pintu yang bertulisan staff only. Senyumannya langsung mengembang lebar saat melihat keberadaanku.

“MBAK MIAA!!” Ia berlari ke mejaku, lalu memeluk dengan sangat erat. Tidak peduli pada tatapan pegawainya yang menatap kami dengan pandangan penasaran.

“Hai, Nar, apa kabar kamu?”

Nara menyeka air matanya. Tangis itu benar-benar berlebihan. Tapi aku tidak berkomentar.

“Kenapa Mbak baru ke sini sekarang?!” tudingnya sengit.

Aku menghela napas panjang. Gadis itu adalah satu-satunya temanku dulu. Kami pernah tidur di satu kontrakan kumuh yang sama, pernah memakan satu nasi bungkus berdua, bahkan kami pernah tidur sambil duduk berpelukan saat hujan menyerbu kontrakan dan membuat bocor seluruh asbes tuanya.

Ia saksi kehidupan sulitku di masa lalu.

Dan ketika aku mulai merangkak sedikit demi sedikit di tangga sosial yang kejam, Nara perlahan melepas genggaman tanganku, dan mulai mendorongku agar bisa naik lebih tinggi. Ia juga yang menjadi jembatanku dan pria itu. Karena dulu, aku dan pria itu terlampau pendiam untuk saling bertukar sapa.

“Mbak kenapa sendiri? Mana Mas Abrar? Mana Andra?” tanyanya. Sedetik kemudian ia memanggil salah satu pelayan, meminta beberapa pesanan tamabahan meski aku menolak.

“Kamu sudah hebat sekarang,” senyumku tulus.

“Ini semua punya Mbak, aku cuma jalanin. Pokoknya sekarang aku nggak mau tau, Mbak harus kasih nomor rekening Mbak atau Mas Abrar. Rasanya aku punya hutang yang banyak sama kalian.”

Dulu, aku menolongnya tanpa mengharapkan imbalan sama sekali. Aku memberikan semua uang tabunganku kepada Nara untuk memulai usaha, karena aku tau kegigihan dan kemampuannya. Namun hingga saat ini, Nara selalu mengungkit bahwa itu adalah investasi yang kutanam, dan saat ini ia ingin membagi hasilnya. Itulah yang membuatku jarang menemuinya. Gadis itu selalu merengek untuk membagi hasil usahanya sendiri.

Kutatap gadis manis itu dengan senyuman sendu. “Sejujurnya, aku memang datang buat menagih itu. Tapi bukan dalam bentuk uang.”

Nara menatapku bingung.

“Mbak mau dalam bentuk emas? Logam mulia? Saham? Tapi aku nggak ngerti saham,” katanya, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Aku menggeleng. “Aku butuh orang buat jaga Andra.”

Mata Nara terbelalak. “Mbak mau kemana? Kok Andra dijaga orang lain? Mbak jangan nakut-nakutin aku.”

“Aku mau kerja lagi, Nar.”

“Hah? Mbak lagi butuh uang? Aku punya uang. Mbak nggak perlu kerja lagi? Mas Abrar memangnya kemana Mbak?”

Aku menghitung detik di dalam dadaku, mencoba menatap kedua mata gadis itu lebih dalam. Sejujurnya, aku sedikit takut melihat reaksinya.

“Mas Abrar selingkuh.”

Dan aku bersyukur, setidaknya ia tidak tersenyum seperti Lina.

***

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sri Wahyuni
Ayo miranda bangkit, buktikan kemereka dan balas sakitmu jgn mau kalah
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   BAB 11

    Jangan pernah sombong dengan apa yang kau miliki sekarang.Jangan pernah.Jangan sekali pun.Karena dahulu kala ada seorang gadis yang kukenal. Ia begitu bahagia menunjukan pencapaiannya.Ia terlahir dari keluarga miskin, dan bertambah semakin miskin dari hari ke hari. Lalu ketika suatu hari ia bisa memakan sepotong roti segar setelah berhari-hari sebelumnya memakan roti berjamur, ia mulai memamerkan kebahagiaan itu kepada orang lain.Ia begitu pemalu. Jangankan bermimpi untuk memiliki anak, untuk berhubungan dengan orang lain saja rasanya sangat sulit. Tapi kemudian Tuhan mempertemukannya dengan seorang pria yang cukup baik, dan menikah, memiliki anak tampan yang pintar, ia kembali memamerkannya.Suami yang baik.Anak yang pintar.Kehidupan yang sempurna.Dengan angkuh ia memamerkan semua itu di hadapan semua orang. Menceritakan betapa dulu ia hidup tertatih-tatih dalam balutan luka dan kemiskinan, tapi kini segala jeri

    Last Updated : 2022-02-22
  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   BAB 12

    Orang yang dijanjikan Nara datang keesokan harinya. Ia gadis berwajah tirus dengan kulit sawo matang. Rambutnya panjang sebahu, terikat sederhana. Ketika ia diam, kau akan berpikir jika ia adalah gadis yang sangat serius, tapi mungkin itulah yang kubutuhkan saat ini. Aku pernah berteman dengan gadis muda yang sangat ramah dengan senyuman manis yang begitu lebar. Setiap ia berbicara semua ornag akan tersenyum mendengarnya. Aku menyukainya. Ia baik, dan perhatian kepada keluargaku.Sampai ia tidur dengan suamiku.Nara masih mematung menungguku bereaksi.“Mbak yakin cuma butuh satu orang?” tanya Nara, duduk di hadapanku. Ia sudah meletakkan barang bawaannya di nakas samping ranjang Andra.Gadis bernama Jihan itu tengah memperkenalkan diri dengan Andra. Kini mereka sibuk mengobrol tentang dinosaurus yang ada di dalam ponsel putraku. Ia memang berwajah serius, tapi sepertinya Andra cukup menyukainya. Atau apakah mungkin putraku tau kami tidak memil

    Last Updated : 2022-02-23
  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   BAB 13

    Pernikahan kedua.Kata-kata itu terngiang bagai belati di dalam dadaku. Meski aku bertahan dengan maksud yang teguh kuyakini, tapi nyeri itu tetap ada.“Ibu nggak apa-apa?”Pertanyaan itu mengejutkanku. Jihan sudah berdiri di sampingku dengan secangkir teh yang ia buat di dapur.“Kamu bukan pelayan, Jihan,” kataku, tapi tetap menerima uluran teh itu darinya.“Ibu kelihatan pucat.”Aku menangkap keprihatinan yang tulus di mata gadis itu. Jika orang asing saja bisa melihat lukaku, mengapa orang-orang yang sangat dekat denganku justru seakan buta dan tuli. Apakah mereka benar-benar tidak sadar? Atau sengaja abai agar membuat perasaan mereka lebih nyaman?“Di mana Andra?”“Tadi main di kamarnya, Bu.”Aku mengangguk. Akhirnya kami kembali ke rumah, meski Andra masih harus menggunakan kursi roda.“Kamu bisa temani dia sambil istirahat di kamarnya,”

    Last Updated : 2022-02-24
  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   BAB 14

    Acara itu terlalu mewah untuk sekedar sebuah akad sederhana yang pria itu janjikan kepadaku. Tenda megah terpasang kokoh di depan rumah mempelai, dengan tamu-tamu berpakaian indah yang datang silih berganti.Foto mereka berdua terpajang di pintu masuk, menyambut setiap tamu yang hadir dengan senyuman beku mereka di dalam figura.Untuk orang yang mengatakan ia akan selalu mencintaiku, bukankah ekspresinya di dalam foto itu terlampau bahagia?“Itu istri pertamanya, ya?” beberapa bisikkan mulai terdengar. Lengkap dengan lirikan-lirikan penasaran, dan bibir yang kadang memuji, kadang mencebik.“Hebat banget yah bisa rela gitu dipoligami.”“Iya, aku sih nggak akan kuat. Kalau suamiku begitu ya pilihannya cuma dua, pilih aku atau si perempuan kedua itu.”“Sama, Bu, saya juga nggak bisa deh. Walau katanya berhadiah surga, saya tetap nggak rela. Mana tau suami kita bisa adil atau nggak, kan?”&l

    Last Updated : 2022-02-25
  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   BAB 15

    Aku tidak boleh memb*nuhnya.Aku tidak boleh memb*nuhnya.Kata-kata itu kurapal bagai jampi. Berharap seluruh hasrat menggebu di dalam dadaku sedikit menguap.Aku tidak boleh memb*nuh mereka. Bukan karena aku tidak mau, tapi aku tidak ingin Andra mempunyai ibu seorang pembunuh. Setidaknya, tidak secara langsung.Namun, bagaimana mungkin ada orang yang sangat tidak tau diri seperti mereka?“Mbak, bolehkan aku tinggal sama Mbak dan Mas Abrar di sini?” suara rajukkan itu menghentikan langkahku.Pagi-pagi sekali mereka tiba-tiba muncul di pintu rumahku. Seakan ingin mengikrarkan jika semalam mereka sudah melakukan penyatuan dengan halal. Bahkan rambut mereka berdua masih lembab sehabis keramas. Sama sekali tidak berniat menyembunyikan kenyataan itu.Aku hampir saja membanting pintu di depan wajah mereka saat menemukan keduanya di depan pintu. Berkali-kali gadis itu mengibaskan rambut panjangnya, berharap noda keunguan di leher

    Last Updated : 2022-02-26
  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   BAB 16

    “Oya, Mas, apa pesta pernikahanmu kemarin menggunakan uang tabungan Andra?”Pria itu membeku di pintu dengan koper yang sudah kurapikan. Untuk sejenak ia tampak menimbang, meski aku tau apa yang akan dikatakannya.“Aku hanya meminjam sedikit, akan segera kuganti,” katanya, terdengar ketus.“Biaya bulan madu mewahmu ini juga?”“Akan segera aku ganti, Mia!” tukas pria itu kesal.Aku tersenyum sinis.“Papa!” Suara Andra muncul dari balik pintu kamar bercat biru dengan gambar donal bebek kesukaannya. Ia berdiri di ambang pintu, tubuh kecilnya berbalut kemeja sewarna langit pagi, dan matanya jelas masih mengantuk. Jihan mendampingi di belakang tubuh mungil itu. Semalam aku memang meminta Jihan tetap tinggal di kamar Andra, selama kamarnya belum dirapikan.“Halo, Sayang!” Pria itu berlutut, memeluk Andra. “Gimana kaki Andra? Masih sakit?” tanya

    Last Updated : 2022-02-27
  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   BAB 17

    Dahulu kala, ada seorang gadis lugu yang sangat miskin. Ia hidup hanya untuk mencari makan. Namun, saat melihat orang-orang seuisanya memadu kasih, ia menjadi sangat iri. Kini kepalanya terbelah. Satu sisi memikirkan suapan nasi, sisi yang lain mendamba pangeran berkuda putih yang akan menyelamatkannya dari seluruh kemiskinan itu, dan mengelilinginya dengan rasa cinta yang tulus.Bagai mimpi Cinderella.Dan, aku salah satu dari gadis bodoh yang memimpikan hal itu.Terlebih ketika tiba-tiba saja Tuhan memunculkan sosok Xei di dalam kehidupanku yang menyedihkan.Ia seorang pangeran. Putra terakhir dari tiga bersaudara keluarga Miles, yang juga menjadi penerus utama bisnis keluarganya yang cukup besar. Bagai mimpi yang menjadi nyata. Xei yang secara tiba-tiba hadir membuatku terbuai seketika. Sejenak aku mulai bermimpi bagaimana indahnya menjadi nyonya pengusaha kaya yang tak perlu sibuk-sibuk memikirkan makan esok hari.Namun, tentu saj

    Last Updated : 2022-02-28
  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   BAB 18

    “Mbak yang tadi itu siapa?”Baru saja aku menutup pintu mobil di sampingku, Nara sudah melontarkan pertanyaannya.“Bukan siapa-siapa,” jawabku singkat. Nara tampak tidak puas, tapi tidak bertanya lagi. Mungkin dia sudah menyadari betapa raut wajahku bukan raut wajah yang bisa diajak bicara.Sejenak ia melihat ke belakang, ke tempat pria itu berdiri setelah mengantar kami sampai ke depan showroom mobilnya.Akhirnya, setelah berhasil mengabaikan desak pertanyaan Xei, kami bisa pergi. Rencana mencari mobil hari ini langsung kuurungkan, toh masih ada esok hari.Namun, ketika keesokan harinya sebuah mobil diantar bergitu saja ke rumahku, aku tau lagi-lagi aku terjebak di sebuah pusaran yang sama.***Pagi itu aku terbangun dalam keheningan yang tak lagi asing. Langit-langit kamar yang kelam, fajar yang masih terlalu dini untuk mengundang kokok ayam, bahkan detik suara jarum jam masih begitu me

    Last Updated : 2022-03-01

Latest chapter

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   Epilog (Andra & Lily)

    Beberapa saat yang lalu. “Jadi itu orangnya?” tanya Lily pelan. “Jadi, aku benar-benar terlambat sekarang?” Ada jeda yang cukup panjang di antara mereka. Hening yang membungkam setiap aksara, tapi tetap menyisakan serpihan rasa sakit. Lily mengerjap perlahan. Napasnya mendadak lebih berat oleh sesal. Andai ia lebih cepat kembali, apakah tempat di hati pria itu masih miliknya seorang? “Aku minta maaf.” Pria itu menatap pilu. Namun Lily sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kata maaf itu. Apakah ia baru saja meminta maaf karena sudah menempatkan sosok lain di hatinya? Jika memang ia menyesal, bukankah artinya mereka masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu? Bukankah artinya mereka bisa memulai dari awal lagi? Lily meremas jemari di atas pangkuannya. Jutaan pemikiran itu membuat dadanya semakin sesak. “Apa kita nggak bisa mulai dari awal lagi?” tanya Lily, menggantungkan seluruh harapny

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   Extra Story - 10 (Andra & Lily)

    Kinan tau, ia seharusnya tidak pernah membiarkan rasa ingin tahu menguasai dirinya. Karena saat itu terjadi, tidak ada apa pun yang ia dapatkan kecuali luka yang begitu dalam.Susah payah Kinan menahan isakkannya sampai ke toilet. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar pengakuan seorang wanita kepada Andra. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, ternyata selama ini Andra bukannya tidak pernah bisa mencintai seorang wanita. Tapi, jauh di dalam lubuk hati pria itu, memang sudah tidak ada celah lain yang bisa dimasuki siapa pun.Karena seseorang dari masa lalunya, sudah mengambil tempat itu secara utuh.Kinan menangis pelan di dalam toilet, berharap tidak ada satu pun yang datang dan mendengar seluruh tangisnya. Ia mengutuki dirinya yang mencintai pria itu terlalu dalam.Sekarang, ia bahkan tidak yakin apakah ia bisa melupakan rasa cintanya kepada pria itu.Saat ponselnya bergetar, Kinan membuka pesan yang masuk sambil menyeka air matanya.Sebua

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   Extra Story - 9 (Andra & Lily)

    “Gimana kabarmu sekarang?” tanya Lily, memecah kesunyian yang tercipta di antara mereka. Ia menarik napas panjang berkali-kali, berusaha menenangkan gemuruh di dalam dadanya. “Aku nggak nyangka kita bisa ketemu lagi,” tambahnya dengan senyuman penuh haru.Rasanya masih seperti mimpi.Setelah lusinan hari berlalu dalam perasaan rindu yang menyesakkan, akhirnya mereka bisa kembali bertemu.Di dalam ruangannya yang sunyi, Andra duduk berhadapan dengan sosok yang selalu muncul dalam mimpinya. Berkali-kali ia berusaha mencari wanita itu, tapi berkali-kali pula Andra menemukan kegagalan.4 tahun yang lalu, Andra hampir saja menemukannya. Ia berhasil melacak keberadaan Lily yang bekerja di Singapura. Namun saat Andra pergi mengejar keberadaannya, wanita itu sudah pergi, ikut bersama kekasihnya kembali ke Indonesia. Dan hanya meninggalkan selembar foto yang Andra dapatkan dari perusahaan lamanya.Andra kembali ke Indonesia dengan be

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   Extra Story - 8 (Andra & Lily)

    “Eciieeeee!!!!!!!” pekik Willia kencang. Wajah marahnya melebur seketika, tergantikan senyuman yang sangat teramat lebar. Ia melompat kegirangan bersama Wisnu. Bahkan sekarang ia lupa tentang rasa sukanya kepada dokter muda itu. “Cieeeee cieeee!!! Gimana dokter Kinan? Dokter keberatan nggak jadi istri Om-ku?” tanya Willia tanpa basa-basi.Wajah cantik Kinan semakin bersemu merah. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Padahal beberapa saat yang lalu, ia hampir saja putus asa karena penolakan Andra. Namun, ternyata pria itu membalikan suasana hatinya sekedipan mata.Mata Kinan berkabut oleh air mata haru yang tak bisa ditahannya lagi. Apakah itu artinya cinta bertepuk sebelah tangannya selama 7 tahun sudah terjawab?“Gimana, gimana, Dok? Dokter keberatan nggak??” tuntut Willia tidak sabar.“Mm, mungkin kalau anaknya nggak kaya Willia, saya juga nggak keberatan,” gumam Kinan malu-malu.

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   Extra Story - 7 (Andra & Lily)

    “Pagi, Dokter An,” sapa beberapa perawat yang berpapasan dengan mereka di koridor. Andra mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.“Dokter Andra? Bukannya Dokter libur hari ini?” sapa seorang dokter muda dengan snelli di balik batiknya. Ia baru saja keluar pintu IGD dengan beberapa berkas di tangannya.“Dokter Wisnu.” Andra menghentikan langkahnya, membalas sapaan dokter umum itu.Melihat Andra berhenti, Willia ikut berhenti, meski berada jauh di depan.“Iya, hari ini saya lagi jadi keluarga pasien,” senyum Andra.“Eh, siapa yang sakit, Dok?”“Tante saya lahiran.”“Wah, punya sepupu baru dong?”Andra mengangguk.“Adiknya Willia?”“Iya. Tuh anaknya.” Andra menunjuk gadis kecil yang tengah bersembunyi di balik tiang rumah sakit. Ia tersenyum puas melihat kelakuan malu-malu Willia. Gadis itu memang sangat lemah

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   Extra Story - 6 (Andra & Lily)

    “Jadi itu yang namanya Dokter Kinan?” bisik Syila di telinga kakak iparnya. Saat ini, ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah operasi Caesar. Bayinya juga sudah berada di ruangan yang sama, dan baru saja selesai menyusu. Sekarang bayi itu sedang dikerumuni ayah, kakak, sepupu, dan gadis yang dipanggil Dokter Kinan.Miranda mengangguk pelan.“Ya ampun, cantik banget. Mbak yakin dia bukan artis?” desis Syila tidak percaya. Kinan adalah gambaran wanita cantik yang sempurna. Rambut hitam yang sehat, kulit seputih pualam, dan senyum secantik mawar. Ia pasti akan langsung melejit jika menjadi artis.“Hus. Dia dokter gigi.”“Tapi dia cantik banget, Mbak.”Miranda tidak membantah. Gadis itu memang menawan dan anggun.“Bisa-bisanya dewi secantik itu naksir Andra. Padahal dia anak yang punya rumah sakit kan?”Lagi-lagi Miranda hanya terdiam.“Pokoknya kalau sampai

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   Extra Story - 5 (Andra & Lily)

    Kinan pikir ia akan melewati makan malam yang indah dan seru dengan keributan dua sepupu itu. Namun, saat keduanya sampai di rumah sakit, wajah mereka terlihat begitu murung. Bahkan, ketika mereka sampai di restoran yang berada tepat di belakang rumah sakit, mereka tetap tidak terlihat bersemangat.Willia hanya mengaduk makanannya tanpa selera, sedangkan Andra makan dengan sangat cepat, juga tanpa kata.“Dok, saya titip Willia sebentar boleh? Saya mau ambil berkas di ruangan dulu.”“Ya?”“Om mau ke rumah sakit lagi? Aku ikut!” rengek Willia.“Om cuma mau ambil berkas yang ketinggalan aja. Cuma sebentar. Kamu di sini sama Dokter Kinan. Cepat makan makananmu, jangan diaduk-aduk aja.”Wajah mungil Willia tertunduk menatap nasi goreng pesanannya, tapi tidak membantah. Kinan yang melihat kepergian Andra hanya bisa mengangguk pelan. Ini benar-benar aneh. Dan saat ia menoleh lagi ke arah Willia, betap

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   Extra Story - 4 (Andra & Lily)

    “Ah, ma-maaf.” Andra yang pertama kali tersadar dari keterkejutannya. Ia mundur beberapa langkah, sampai menabrak dental chair di belakang punggungnya.Kinan ikut menegakkan punggung, saat sadar jika itu bukanlah sebuah mimpi. Saat ia bergerak, sesuatu meluncur jatuh dari pundaknya. Kinan menatap benda putih yang kini berada di bawah kaki kursi. Itu adalah snelli, tapi jelas bukan miliknya.Ketika Kinan membaca nama di jas putih itu, debaran jantungnya kian tak menentu. Apa pria itu sengaja memakaikan jas untuknya?“Ma-maaf, Dok, tadi dokter kelihatan kedinginan,” jelas Andra, sambil mengusap tengkuknya.“Iya, Dok, terima kasih,” senyum Kinan dengan pipi bersemu merah muda. Bahkan hanya dengan kebaikan sederhana saja, jantungnya sudah berdebar tak karuan.“Dokter kelihatannya kelelahan. Sebaiknya Dokter istirahat. Dan, terima kasih karena sudah menjaga sepupu saya. Saya minta maaf karena datang ter

  • AKU, KAU, & SELINGKUHANMU   Extra Story - 3 (Andra & Lily)

    Ternyata menjadi dokter gigi itu tidak semudah yang Willia bayangkan. Padahal Willia pikir, jika dibandingkan dengan proses menjadi dokter-dokter lainnya, maka dokter gigi lah yang termudah.Namun, ketika ia menonton Kinan yang harus berurusan dengan pasien-pasien beragam kondisi, Willia mulai meralat pikirannya. Terlebih, kebanyakan pasien Kinan adalah pasien anak-anak yang terlalu takut bertemu dengan dokter Juniar, dokter gigi lain di rumah sakit itu.Mereka bahkan rela untuk memundurkan jadwal berobat mereka jika Kinan sedang tidak praktek.Kinan tengah menuliskan status pasien saat mendengar helaan napas Willia di sudut ruangan. Sesuai permintaannya, saat ini Willia sudah berganti pakaian dengan pakaian steril yang disediakan rumah sakit. Ujung lengan dan kaki pakaiannya digulung sedemikian rupa karena masih terlalu besar untuk tubuhnya.“Kamu bosen ya, Will?”“Eh, nggak kok, Dok.” Willia menegakkan punggungnya. “

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status