Share

Simbol Kehancuran

Penulis: The Lucky
last update Terakhir Diperbarui: 2022-12-06 21:06:19

Mendengarnya, Alessandra lantas berdiri, melewati begitu saja pria yang masih setia berlutut dengan hati berkecamuk. Wanita itu berjalan ke arah jendela besar, melepaskan pandangan pada bangunan gedung-gedung besar yang setara dengan gedung yang ia pijaki sekarang. Ia berdecak sembari melipat kedua tangannya di bawah dada, tepatnya di atas perut datarnya.

"Marah?" Wanita itu menggeleng pelan. Bibirnya menerbitkan senyum miring. "Jika saja bisa, saya sangat ingin membunuh Anda," lanjutnya seraya menahan supaya matanya tak meluruhkan buliran air sekuat yang ia bisa, karena tiba-tiba saja di benaknya muncul bayangan wajah sang ayah.

Melihat punggung mulus yang terekspos amat sempurna, Tuan Aroon lantas berdiri lalu menghampirinya, dan seketika melabuhkan pelukan pada sosok memikat itu. "Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini, Alessa. Kau adalah wanitaku, dan siapa pun yang telah menjadi milikku, maka kuikrarkan tak ada yang layak baginya selain diriku," tekannya seraya mengeratkan
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Hanya Status Formal

    "Aku ingin mendengar kabar menyenangkan." Tuan Aroon berkata pada Morgan. Asisten pribadinya itu masuk saat setelah Alessandra keluar ruangan. Dirinya sedari tadi beralih profesi menjadi security dadakan yang menjaga pintu ruangan di mana ia berdiri sekarang. Karena beberapa waktu lalu rival sang tuan--Mervile mencoba menerobos masuk ke dalam. "Maaf, Tuan. Bodyguard itu sepertinya bukan orang sembarangan. Datanya sangat sulit dilacak," jawab Morgan. "Menguap ke mana keahlianmu selama ini, Morgan?" Tuan Aroon menonjolkan kekecewaannya. Pria itu merasa asistennya mengalami penurunan kinerja. "Aku ingin mendengar kabar baik secepatnya. Kau tahu benar banyak orang mengantre mendamba posisimu, bukan?"Mendengar kalimat tuannya yang sarat ancaman, Morgan merespons dengan anggukan pelan. Ia seperti kehabisan bahan untuk membela diri. Jika saja ia sanggup dan berani, ia akan berkata bahwa tuannya itu baru menginstruksikan perintah pagi kemarin. Waktu yang masih terbilang singkat. "Sekalig

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-08
  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Tuan Arogan (Flashback)

    "Kau tidak waras. Kau lebih pantas menjadi ayah atau pamannya, Bodoh!" maki pria berjas biru dongker. Pria yang usianya empat tahun lebih tua dari lawan bicaranya itu tampak murka. "Kau ayahnya, Tolol. Dia tidak memerlukan dua ayah," sahut sang lawan bicara bernada tak kalah tingginya. "Memang hanya aku ayah satu-satunya putriku. Tak akan kubiarkan siapa pun menggantikan posisiku.""Diam. Jika kau terus berbicara, debat tak berfaedah ini terus berlanjut hingga dunia runtuh sekalipun." Tuan Aroon tampak kesal. "Aku sengaja menemuimu bukan untuk pepesan kosong, Sialan! Aku menginginkan putrimu. Dia jadi milikku segera dengan atau tanpa persetujuanmu. Jangan mencoba menghalangiku ketika putrimu itu dekat denganku."Pria berjas biru dongker menggeleng tak percaya. "Kau memang benar sudah gila! Berkali-kali kau mengungkitnya, aku tetap menolak keras angan-angan gilamu itu. Dia putriku semata wayang. Satu-satunya kenangan indah yang istriku tinggalkan.""Kau sudah memiliki ibunya bahkan h

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-13
  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Label Pengkhianat

    Tuan Aroon tampak mondar-mandir di depan ruang ICU. Ia nyaris tak percaya jika pria yang terlihat keras kepala dengan sikap melindungi yang dominan beberapa menit lalu sedang berjuang melawan maut di dalam sana. Tak berselang lama, seorang pria berpakaian sanitasi membuka pintu. Mendengar pintu dibuka, Tuan Aroon buru-buru membalik badan lalu bertanya, "Bagaimana keadaannya, Dok?"Sang dokter tak menjawab alih-alih berkata, "Pasien ingin bertemu Anda.""Apakah sudah sadar?" tanyanya seraya melewati pintu masuk dengan langkah tergesa. Tampak kelegaan juga kecemasan pada raut mukanya. "Kau akan baik-baik saja, Marchelle," ucap Tuan Aroon ketika sampai pada ranjang pasien setelah memakai seragam senada dengan beberapa orang dalam ruangan. "Pietro, kutahu ini terdengar kurang bijak. Aku tidak tahu harus menitipkan putriku pada siapa lagi," suara pria yang terbujur tak berdaya itu terdengar lemah dan terbata-bata. Kedengarannya untuk berucap saja ia mengumpulkan kekuatan ekstra. "Dia h

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-14
  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Target tak Tersentuh

    Meski tersadar dari lamunan, hal itu tak menyurutkan minat Tuan Aroon menyelami apa yang terjadi di malam tragedi dua tahun silam. Sehingga benda pipih sejuta umat yang sedari tadi berdering pun ia abaikan. Pria itu kemudian meratapi kisah asmaranya yang kandas seketika disebabkan kesalahpahaman. Wanita yang amat dicintainya menganggap dialah pembunuh sang ayah tersayang. Menggetarkan rasa amat penasaran tatkala pikirannya menyinggung rekaman pemicu kandasnya hubungan, seutas pertanyaan 'kenapa si bodyguard kurang ajar memiliki rekaman pembawa sial' menjadi pusat pikiran. Seingatnya, pada malam nahas itu jalanan lumayan lengang, hanya ada beberapa kendaraan berlalu lalang. Kalau ingatannya tak meleset, ada dua kendaraan selain kendaraannya dan Marchelle. Ia menyimpulkan salah satu dari kendaraan itulah sang perekam berada, menyeruput keuntungan menggunakan keahliannya. Lantas, siapa dia sebenarnya? Otaknya merasa dieksploitasi demi memecahkan teka-teki ini. Mervile adalah pendat

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-22
  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Morgan and Belicia

    "Apa?" Belicia mendekatkan indra pendengarannya pada wajah sarat frustasi asisten Tuan Aroon tersebut. Morgan tak terlihat menggubris apapun ucapan yang keluar dari pita suara Belicia. Pemuda itu hanyut merasakan sensasi kepalanya berputar-putar. Malam ini ia terlalu banyak mengonsumsi alkohol. "Hahaha asisten yang katanya orang kepercayaan dan andalan Tuan Aroon terancam kehilangan pekerjaan? Terdengar indah sekali!" Belicia kembali menarik wajahnya dari jarak yang sebelumnya hanya beberapa senti dari wajah tampan Morgan. Wanita berbibir sensual itu menolak tidak senang mendengar kalimat Morgan yang terdengar menyedihkan. Mengingat ia sebelumnya mengalami kejadian tak menyenangkan dengan pemuda beriris cokelat tersebut. Kala itu Morgan dengan emosinya mempermalukan Belicia di depan karyawan Aroon's Company. Menjadikan model di bawah naungan Top Stories tersebut menjadi bahan tertawaan.Belicia nyaris saja berdiri dari tempat duduknya sekarang, meninggalkan Morgan meratapi kemalan

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-23
  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Hot News

    "Jika tidak ada iktikad baik dari Aroon's Company, secepatnya aku akan mengambil tindakan tegas memutus kontrakmu dengan perusahaan itu." Bos dari puluhan model itu terdengar berkata serius. "Ini sudah empat hari dari hari kau tanda tangan kontrak, tapi kau masih belum melakukan pemotretan. Perusahaan itu akan dikenakan denda penalti.""Jangan, Bos. Setelah dari sini aku sendiri yang akan ke perusahaan itu untuk menuntut iktikad baik mereka. Lagi pula masih ada satu hari lagi. Mereka terbilang tak melanggar aturan."Pagi ini Belicia sedang berada di ruangan kerja si bos, memenuhi panggilan pria tua beruban itu untuk mendiskusikan terkait kerjasamanya dengan Aroon's Company yang tak kunjung mengalami pergerakan. Biasanya, pemotretan dilaksanakan sehari setelah tanda tangan kontrak, atau paling lambat lima hari setelah itu. Sesuai peraturan yang sedari dulu berlaku di Top Stories. "Ini semua gara-gara mantan anak emas Anda itu, Bos. Beberapa waktu lalu perusahaan itu memfokuskan juga m

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-25
  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Penyiksaan Tak Kasat Mata

    "Hei, kau memerintahku?" Alessandra menusukkan pandangan tajam pada manik pria di hadapannya. "Untuk jaga-jaga. Demi keselamatan Anda, Nona."Benak Alessandra mengatakan 'benar juga'. Tangan Alessandra menjulur, mengambil alat komunikasi gelombang radio tersebut. "Good boy ...." Alessandra menepuk bahu kokoh Mervile dua kali. "Etos kerjamu patut diapresiasi." Alessandra kemudian meninggalkan parkiran melangkah menuju gedung besar. Tujuannya kali ini bukan ke ruang kerja pemilik perusahaan, namun ruang khusus tim kreator. Pasalnya, kedatangannya kali ini dalam rangka campaign produk. Membuat konten, merepresentasikan Bianco Skin supaya semakin dekat dengan customer juga semakin dikenal calon konsumen pun customer. "Terima kasih untuk kerja keras hari ini. Kalian hebat. Semoga secepatnya Bianco Skin memimpin pasar industri," kata ketua tim pada seluruh tim yang terlibat dalam pembuatan konten. Lima jam sudah mereka bekerja keras, mendedikasikan waktu, tenaga, juga pikiran untuk me

    Terakhir Diperbarui : 2022-12-28
  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Nikotin

    Tuan Aroon kembali menelan ludah. Ia ditampar fakta getir. Formal. Wajib terselip alasan formal. Dia lupa Alessandra bukan lagi wanitanya. Tuan Aroon kemudian berdeham, berupaya mengondisikan kepayahannya. "Tentu. Ini penting. Kau kupanggil ke sini bukan untuk pepesan kosong," ucapnya kemudian tanpa ekspresi. "Bianco Skin diundang O-Media2 besok. Ini kesempatan Bianco Skin memancarkan sinarnya. Gunakan kesempatan ini baik-baik."O-Media2 merupakan salah satu anak perusahaan di bidang media yang berada di bawah naungan O-Media. O-Media sendiri merupakan perusahaan televisi swasta terbesar di Italia. O-Media menaungi tiga perusahaan TV yang beroperasi di bidangnya masing-masing, di antaranya, O-Media1 yang memfokuskan pebisnis sebagai sasaran pangsa pasarnya, menyiarkan tayangan informatif seputar inspirasi bisnis, informasi pergerakan dan perkembangan ekonomi negeri dan internasional, program sport, dan lain sebagainya. Kemudian ada O-Media2 yang berfokus menyajikan tayangan posit

    Terakhir Diperbarui : 2023-01-01

Bab terbaru

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Epilog

    Bali, Indonesia. “Hei, kau mencuri ciuman dariku, Tuan Muda,” protes Alessandra sembari mencipratkan air ke wajah Axel. Suaminya yang tampan itu justru menyeringai tanpa rasa bersalah lalu berenang ke tepi kolam. “Aku cemburu pada laut,” sahut Axel, lalu sorot matanya yang tajam tetapi teduh itu terarah pada hamparan laut biru sepanjang matanya memandang. Kolam tempat mereka berenang sekarang menjorok langsung ke laut biru yang menawarkan panorama indah memanjakan mata nan jiwa. Fasilitas dari villa yang mereka tempati selama bulan madu kedua—begitu mereka menyebutnya. “Beberapa menit yang lama pandanganmu tak teralihkan darinya, matamu memandang penuh ketakjuban seolah kau rela menukarkan jiwamu dengannya.”Alessandra mengulum senyumnya. “Kau lebih seperti mendeskripsikan perasaanku padamu, Tuan Muda.” Alessandra mendekati Axel, menciptakan riak seiring tubuhnya bergerak. Axel bersiaga menyambutnya dengan segenap partikel dalam tubuhnya yang bersorak gembira. Mengalungkan lengan

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Hari Yang Bahagia

    Beberapa hari setelah insiden pembunuhan di hotel. Seorang sipir mengantarkan seorang wanita dengan mata sembab, tatapannya layu dan ia berjalan bak tanpa nyawa menuju tempat pertemuan dengan tersangka kriminal. Apa salahnya pada Revano sehingga pria itu menghukumnya? Padahal, Rheea telah banyak membantu pria itu. Rekaman kecelakaan Marchelle beberapa waktu lalu yang diterima Revano, itu salah satu bantuannya. Rekaman itu milik suami Rheea yang meninggal beberapa tahun lalu. Suami Rheea satu di antara rival Aroon. Mereka terlibat pertarungan sengit dalam bisnis. Suatu hari yang beruntung, suaminya berhasil mendapat kelemahan pria itu. Setelah beberapa saat dipersilakan menunggu, ia melihat seorang pria berambut putih dengan tangan diborgol diarahkan duduk di depannya. “Apa yang salah, Revano?” Rheea, dengan suaranya yang lemah menuntut jawaban pembunuh putranya. “Aku lepas kendali,” sahut Revano, menyesal. “Rheea, aku pantas mendapat murkamu.”Rheea tersenyum kecut. “Tahukah kau b

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Tanpa Mawar Merah dan Cincin

    Cahaya matahari pagi menjadi alarm bangun dari lelapnya bagi dua insan yang kelelahan akibat aktivitas panas semalam. Mengerjapkan mata, Alessandra terkejut dengan ceruk leher yang berjarak hanya beberapa senti dari hidungnya. Lalu ia mendongak dan saat itu pula tatapannya bertemu dengan mata biru yang lebih dulu memperhatikannya dalam diam. “Selamat pagi,” ujar Axel dengan senyum tersungging di bibirnya. “Nyenyak?” Alessandra mengangguk canggung. Setelah apa yang terjadi semalam, masih pantaskah ia merasa canggung? “Alessa, aku berutang banyak penjelasan padamu. Maukah kau mendengarnya?” Axel memulai pembahasan setelah mencium kening wanita yang ia dekap posesif. Alessandra sudah akan menjawab sebelum perutnya merasakan gejolak tak nyaman. Dengan segera tangannya mendorong dada Axel dan beranjak dari kasur dengan suara khas perempuan hamil. Ia diserang mual hebat. Ia berlari melintasi ruangan menuju wastafel. Ia memuntahkan cairan bening dari dalam perutnya. Axel mengejarnya de

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Tamatnya Riwayat Sabrina

    “Tidak ada pilihan lain,” ucap Alessandra saat melihat mobilnya yang merupakan hadiah dari Tuan Aroon dulu. Tak ingin membahayakan janinnya, ia mengekang sifat egoisnya yang ingin pergi tanpa dibayang-bayangi apa pun tentang Tuan Aroon. Selain mobil hadiah dari pria itu, ia tak memiliki kendaraan lain. Tak mungkin ia berjalan kaki, bukan? Alessandra sudah berada di balik kemudi, menghidupkan mesin. Lalu menjalankan kendaraan itu, meninggalkan rumah yang beberapa waktu ini telah menampungnya bak nyonya besar. Beberapa saat kemudian ia telah sampai di tempat yang membuatnya meneteskan air mata. Ia cukup tegar beberapa waktu lalu tak menangis saat mendapati fakta pahit itu. Namun, saat melihat bangunan cafe yang diwariskan ayahnya, air mata itu dengan sendirinya mengucur. “Aku sangat merindukanmu, Ayah.”Ia segera turun dan menghambur ke dalam bangunan. Malam ini ia akan bermalam di cafe. Tersedia kamar karyawan untuk istirahat dan malam ini ia akan menggunakannya. “Maafkan Mama, Sayan

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Tersingkapnya Sebuah Rahasia

    Mata Alessandra memeriksa ponselnya secara berkala. Hampir tengah malam, tetapi Tuan Aroon belum pulang. Pria yang ia panggil daddy itu berkata akan pergi bermain golf bersama beberapa rekannya. Tetapi itu sore tadi, dan sekarang? Di mana pria itu? Ia pun sudah menelepon beberapa kali, tetapi tak dapat jawaban. Untuk mengalihkan pikiran negatif dan mengusir rasa bosan karena menunggu, Alessandra memutuskan membaca buku. Hanya perlu melintasi beberapa ruangan untuk mencapai ruang perpustakaan pribadi Tuan Aroon. Tangannya mencari saklar, menyalakan lampu. Pemandangan rak-rak tinggi berbahan kayu mahoni menjulang dengan buku-buku menyambut penglihatannya. Ia bergerak ke sisi kiri lalu meraih satu bacaan buku. Ia ingin relaks, novel komedi menjadi pilihannya. Lalu ia membawa serta novel itu ke sofa, duduk dan membacanya dengan santai. “Lain waktu, kubacakan dongeng Cinderella untukmu, Sayang,” katanya, menunduk pada perutnya yang masih rata. “Kau pasti akan menyukai dongeng tentang k

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Andrew dan Sabrina

    “Mobil sialan!” Axel memukul keras setir, mengumpat kesal saat mobil yang dikemudikannya itu mati tiba-tiba. Padahal, ia harus menghadiri acara grand opening hotel rekannya. Dia mengedarkan pandangan di sekelilingnya, pepohonan lebat menjulang di kanan-kirinya. Dia masih berada di wilayah leluhurnya. Hutan ini milik keluarganya dan rumahnya berdiri megah di tengah hutan ini. Tangannya terulur membuka pintu. Saat sebelah kakinya menjejak tanah, tiba-tiba tubuhnya diseret lalu pukulan bertubi-tubi dialamatkan ke wajahnya. Tubuh Axel terjengkang ke belakang, pukulan beralih ke perutnya. Darah muncrat dari hidungnya. Aroma darah segar tercium di udara. Perutnya terasa nyeri. “Kau pikir, kau akan selamat dariku, heh?“ Tuan Aroon menjulang di depannya dengan tatapan bak serigala. Hasratnya menghabisi Axel bangkit setelah mendapat laporan dari orang-orangnya. Tak sia-sia waktu berjam-jam ia gunakan menunggu di balik pepohonan setelah memasang jebakan. Akhirnya dia menyeringai saat ban it

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Harta Tak Ternilai

    Alessandra yang masih terpejam dan dibalut selimut tebal merasakan cahaya hangat menerpa wajahnya, kemudian ia pun menghalau dengan telapak tangannya sambil bermonolog, "Apa ini sudah pagi?""Ini sudah tengah hari, Baby. Jam dua belas siang."Mendengar suara orang yang beberapa hari ini hanya dapat ia dengar dari telepon itu pun membuat Alessandra seketika membuka mata. "Daddy?"Alessandra melihat Tuan Aroon memeluknya dan tersenyum padanya. Pantas saja ia merasakan selimutnya semakin tebal dan hangat. Apa mungkin Tuan Aroon memeluknya semalaman? pikirnya. "Kapan Daddy datang?" "12 malam, Babe." Tuan Aroon kian mengeratkan pelukannya sambil menghirup aroma yang beberapa hari ini ia rindukan. "Ish. Kenapa Daddy tidak membangunkanku semalam?" "Ketika aku membuka pintu kamar ini, fokus mataku langsung tertuju padamu yang sudah terlelap. Dalam keadaan tidur pun kau terlihat cantik, Babe." Tuan Aroon kini mempertemukan wajah keduanya saling berhadapan. Tangannya membelai wajah wanita h

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Cek Kehamilan Bersama Ayah si Janin

    Alessandra sungguh tidak mengira bahwa orang yang mengantarkannya hingga sampai rumah sakit adalah sopir gadungan. Terlebih orang itu adalah Axel, orang yang paling ia hindari selama ini.'Bagaimana bisa, huh! Orang itu memang banyak akal.' Alessandra bermonolog dalam batinnya. Alessandra kini melihat Axel menghadapnya dengan memamerkan senyum sambil menaikturunkan satu alisnya. "Kau memang tak pernah berubah." Alessandra berkata dengan nada ketus. "Tepat sekali! Aku memang selalu menempatkanmu di hatiku, tak akan ada yang berubah." Alessandra membuang muka. Tak ingin mendengar yang ia anggap omong kosong itu. "Penipu," gerutunya sembari mengarahkan pandangannya pada luar jendela. Axel kemudian memakaikan topi pada kepala Alessandra dan memakaikan masker. "Hari ini sepertinya rumah sakit terlihat banyak pengunjung," ucapnya. Axel kemudian terlihat keluar dari mobil setelah menutupi sebagian wajah tampannya dengan masker, ia lalu membukakan pintu mobil untuk Alessandra, hingga se

  • A Billionaire Bodyguard For The Supermodel   Alessandra tanpa Tuan Aroon sementara

    Pagi ini sudah lebih dari sepuluh menit Alessandra mengalami mual hebat akibat kehamilannya. Di saat seperti ini biasanya ada Tuan Aroon di sisinya yang selalu siaga. Namun, pagi ini pria itu tak ada di dekatnya. Sudah semenjak dua hari ini ia sedang berada di luar kota untuk mengecek ketersediaan bahan baku kosmetik. Hal yang tak bisa ia wakilkan pada siapapun. "Ugh. Begini rasanya jadi wanita hamil," lirihnya sambil melihat perutnya yang masih datar setelah menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Tak terasa ia kini mengarahkan tangannya pada perut. Ia lalu mengusapnya dengan lembut. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan semenjak ia dinyatakan berbadan dua. "Kau benar hadir di sini?" ucapnya sambil terus mengelus. Matanya terlihat berkaca-kaca. Ia masih terus mengelus perutnya. "Maaf, baru menyapamu," ucapnya lagi. Kini matanya tak hanya berkaca-kaca, namun mata itu telah meneteskan airnya."Aku bahagia kau hadir. Sangat bahagia. Kau mengobati rasa kehilanganku terhadap seseor

DMCA.com Protection Status