Chapter: Bab 205Kamar tidur itu terasa hangat dengan cahaya lembut yang memancar dari lampu meja. Udara malam yang sejuk menyusup melalui jendela yang sedikit terbuka, menggoyangkan tirai tipis yang mengalir seperti ombak tenang. Di depan cermin besar yang terpasang di dinding, Valeria berdiri dengan ekspresi frustrasi.Tangannya sibuk menarik-narik gaun berwarna pastel yang kini tampak terlalu ketat di bagian perutnya yang membuncit. Pakaian lain berserakan di sekitar kakinya, menandakan betapa keras usahanya untuk menemukan sesuatu yang nyaman dikenakan."Kenapa sih nggak ada satu pun yang muat? Apa aku harus pakai bajunya Aunty Giulia aja mulai sekarang?" Valeria mengomel sendiri, wajahnya berkerut lucu.Pintu kamar berderit pelan, dan Salvatore muncul di ambang pintu. Langkahnya tenang, namun sorot matanya dipenuhi rasa cinta yang mendalam.Setelah percakapannya dengan Lorenzo di tepi kolam, perasaannya seolah memuncak—seakan ada benang merah yang mengikat hatinya lebih erat kepada Valeria. Rasa
Last Updated: 2025-03-06
Chapter: Bab 204Malam merambat pelan, membawa kesunyian yang menenangkan di sekitar rumah keluarga Morreti. Angin sepoi-sepoi membelai permukaan kolam renang, menciptakan riak-riak kecil yang memantulkan cahaya bulan. Di tepi kolam itu, Salvatore duduk di bangku kayu, membiarkan pikirannya melayang.Bersama semua kegugupan dan ketakutannya, akhirnya dia merasa lega. Keluarga Valeria menerima dirinya apa adanya, tanpa perlu embel-embel masa lalu yang tidak bisa diingatnya. Namun, di tengah kelegaan itu, terselip perasaan kosong—seperti ada bagian dirinya yang masih hilang di dalam kabut ingatan yang gelap."Kau sendirian di sini?"Suara berat namun lembut itu membuat Salvatore menoleh. Lorenzo berdiri di belakangnya, membawa dua gelas wine di tangannya. Wajahnya tampak tenang, namun di balik mata yang bijak itu, ada rasa lelah yang terpendam."Ya, aku hanya ..., mencoba menenangkan diri dan mencari udara segar." Salvatore tersenyum tipis.Lorenzo menyerahkan salah satu gelas wine kepada Salvatore dan
Last Updated: 2025-03-06
Chapter: Bab 203Sebuah mobil hitam mengawal perjalanan Salvatore menuju ke kediaman Morreti dan rombongan lainnya kembali ke markas. Morgan yang duduk di belakang kemudi sesekali melirik Salvatore lewat kaca spion, melihat pria itu menggigit bibir bawahnya, tanda jelas kegugupan."Hei, tenang saja." Morgan membuka percakapan, mencoba mencairkan suasana. "Keluarga Valeria tidak menggigit, kok."Salvatore menghela napas panjang. "Itu bukan masalahnya. Aku tidak ingat apa-apa. Bagaimana kalau aku salah bicara? Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?"Valeria, yang duduk di samping Salvatore, menggenggam tangannya erat. "Kau tidak perlu khawatir. Mereka akan mencintaimu, Salvatore. Lagipula, aku di sini bersamamu."Salvatore menoleh, matanya bertemu dengan tatapan penuh keyakinan Valeria. Perlahan, kegugupannya sedikit mereda."Kalau begitu, jangan tinggalkan aku, ya?" bisik Salvatore, suaranya penuh harap."Tidak akan." Valeria tersenyum lembut.Morgan sedikit merinding dan tertawa geli diam-diam. Salv
Last Updated: 2025-03-06
Chapter: Bab 202Pagi itu, sinar matahari lembut menembus tirai kamar vila Jepang. Salvatore terbangun dengan kepala yang jauh lebih ringan, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Valeria yang masih terlelap di sampingnya, kepalanya bersandar di tepi ranjang."Dia tidur di sini semalaman?" gumam Salvatore pelan, takut membangunkannya.Dengan hati-hati, dia bangkit dari tempat tidur. Namun, gerakannya malah membuat Valeria terjaga. Dia mengucek matanya, menatap Salvatore yang sudah berdiri dengan rambut berantakan."Salvatore ..., kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Merasa tidak nyaman?"Salvatore mengangguk sambil tersenyum. "Aku merasa lebih baik. Kau ..., kau tidak tidur di kasur?"Valeria tersipu. "Aku takut kau terbangun tengah malam dan membutuhkan sesuatu."Salvatore duduk di tepi ranjang, menatapnya dalam-dalam. "Terima kasih, Valeria. Untuk semuanya."Valeria hanya mengangguk kecil, lalu tiba-tiba perutnya berbunyi pelan. Salvatore terkekeh mendengar itu."Sepertinya ada yang lebih
Last Updated: 2025-03-06
Chapter: Bab 201"Semua ini, aku..., menyukainya. Mungkin..., karena aku menyukaimu."Keheningan menyelimuti mereka. Valeria terdiam, bibirnya sedikit terbuka namun tak ada kata-kata yang keluar. Cahaya lampu temaram menerpa wajahnya, memperlihatkan matanya yang berkaca-kaca."Kau ..., benar-benar menyukaiku?" Suaranya terdengar bergetar, antara haru dan kebahagiaan.Salvatore mengangguk pelan, matanya tertunduk sejenak sebelum kembali menatap Valeria. "Aku tidak tahu apa ini cinta atau bukan. Tapi jantungku selalu berdegup kencang saat kau di dekatku. Aku merasa ingin selalu melindungimu, membuatmu tersenyum. Dan ..., aku takut kehilanganmu."Valeria menutup mulutnya dengan tangan, menahan isakan kecil. Dia merasakan hatinya menghangat, seolah perasaan lama yang terkubur dalam-dalam kembali menyala."Salvatore, kau ..., kau membuatku terharu. Bahkan saat kau kehilangan ingatanmu, kau tetap jatuh cinta padaku."Salvatore tersenyum tipis, tetapi senyumnya perlahan memudar. Tangannya tiba-tiba mencengke
Last Updated: 2025-03-06
Chapter: Bab 200Langit malam di Jepang memancarkan kilauan lampu-lampu jalan dan lentera berwarna-warni. Pasar tradisional ramai dengan suara tawa, obrolan hangat, dan aroma makanan yang menggoda. Valeria berjalan di samping Salvatore, matanya bersinar penuh antusias."Lihat! Ada takoyaki!" serunya, menarik tangan Salvatore menuju kios kecil yang mengepul aroma gurih.Salvatore yang awalnya tampak kaku, mengikuti dengan langkah pelan. Matanya terus mengawasi sekitar, naluri protektifnya tak pernah padam. Namun, saat Valeria menggenggam tangannya lebih erat, sebagian dari kecemasannya perlahan mencair."Dua porsi, ya," kata Valeria pada penjual, kemudian beralih pada Salvatore. "Kau pernah coba ini sebelumnya?"Salvatore menggeleng, tatapannya waspada pada bulatan kecil gurih di tusuk sate itu. "Apa ini aman?"Valeria tertawa kecil, menepuk lengannya. "Tentu saja, ini hanya gurita dan adonan tepung. Kau akan suka."Saat Valeria menyuapkan takoyaki padanya, Salvatore ragu sejenak sebelum membuka mulut.
Last Updated: 2025-03-05