All Chapters of Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas: Chapter 81 - Chapter 90

182 Chapters

Bab 81. Ditawari Bermalam

“Lalu mereka bicara apa pada Mas Arya?” tanya Mahfud memulai percakapan kembali.“Setelah aku membantu mereka menepi dan membawa mereka ke tempat para penumpang kapal menunggu waktu keberangkatan, aku bertanya kenapa mereka nekad menaiki perahu-perahu itu dengan penumpang penuh dan juga membawa para wanita dan anak-anak. Mereka menjawab desa mereka diserang segerombolan orang yang tak mereka kenal,” tutur Arya.“Hanya itu saja jawab mereka?”“Iya Mas Mahfud, kebetulan waktu itu aku di pelabuhan bersama Ratu Kerajaan Dharma melihat mereka yang telah berhari-hari tidak makan dengan baik dan kondisi lemas, kami tidak banyak bertanya dan segera memberi mereka makanan,” tambah Arya.“Terima kasih aku ucapkan sebagai kepala Desa Sampang, karena Mas Arya serta Ratu Kerajaan Dharma di Pulau Dewata itu telah menolong sebagian warga kami yang mengungsi ke sana.”“Sama-sama Mas Mahfud, kami senang dapat membantu mereka. Dan bersyukur seluruh penumpang di tiga perahu itu selamat,” ujar Arya diiri
last updateLast Updated : 2024-12-05
Read more

Bab 82. Dibuntuti Dewa Pengemis

“Apa yang dikatakan Mas Arya benar adanya, sebagai seorang pendekar yang selalu mengembara aku pun tak jarang tidur di pinggiran hutan bahkan di atas pohon,” tambah Mantili, Mahfud dan Samin saling pandang agaknya mereka percaya dengan semua yang dikatakan Arya bukan bagian dari gurauannya.Malam di Desa Karapan hawa di sana memang dingin di tambah saat itu gerimis turun karena sedari tadi sore sudah mulai mendung, selepas makan malam bersama di ruangan tengah rumah kepala Desa Karapan itu, Arya duduk di pendopo dengan Mahfud dan Samin sementara beberapa pria yang biasa ikut bergabung di sana memilih pergi ke tempat para warga desa yang mendapat tugas ronda.Samin dan Mahfud membuat perapian di samping pendopo itu agar dapat meredam hawa dingin yang hadir, Arya hanya memperhatikan saja kedua kepala desa itu sembari tersenyum.Tak berselang lama istri Samin dan Mahfud datang ke pendopo membawa 3 cangkir kopi dan 2 piring singkong rebus, setelah menaruhnya di pendopo di hadapan Arya mer
last updateLast Updated : 2024-12-05
Read more

Bab 83. Mencari Keberadaan Arya

Serta merta Ratu Lentik rebahkan tubuhnya menelungkup di tanah menghindari tadah butut yang melesat cepat berputar-putar seperti gasing itu hendak menghantam dirinya, sementara Lenggo Lumut salto kebelakang beberapa tombak menghindari serangan balik Dewa Pengemis itu.“Hiyaaaaaaaat..! Deeeeeeees..! Ziiiiiiiiiing...! Taaaaaaaaap..!” sebuah tendangan keras dilesatkan Lenggo Lumut menghajar tadah butut yang masing berputar-putar di udara itu, hingga berbalik kembali ke arah pemiliknya dan dengan santai pula Dewa Pengemis menangkap tadah butut itu.“Ha.. ha.. ha..! Baru dengan tadah butut ini saja kalian sudah kalang-kabut..!” Dewa Pengemis tertawa melihat Lenggo Lumut dan Ratu Lentik pontang-panting menghindar salah satu senjata miliknya itu.“Jangan banyak bacot kau pria dekil..! Terima ini...! Hiyaaaaaat..! Wuuuuuuuuus..! Wuuuuuuuuuus..! Huuuup..! Duaaaaaaaaar..! Duaaaaaaar..!” dua bilah pisau kecil berasal dari Ratu Lentik melesat cepat ke arah Dewa Pengemis, pria berpakaian compang-c
last updateLast Updated : 2024-12-06
Read more

Bab 84. Arya Dan Mantili Dihadang

“Kami juga awalnya tidak percaya saat Pangeran Durjana memberitahu itu kepada kami di padepokan, akan tetapi setelah ia bercerita jika 5 orang yang dia utus ke Pulau Dewata itu untuk melakukan tugas telah tewas dan 2 di antaranya adalah Gento dan Lakas Geni oleh Arya kami langsung percaya,” tutur Lenggo Lumut.“Ini memang berita buruk bagi kita tokoh golongan hitam yang telah berhasil menguasai sebagian besar kawasan Pulau Jawa.”“Benar sobatku Welung Pati, sejauh ini gangguan dari para pendekar golongan putih selalu berhasil kita atasi. Yang kita kuatirkan bagaimana cara meredam Pendekar Rajawali Dari Andalas itu jika dia kembali ke Pulau Jawa ini,” Lenggo Lumut tak kalah gentarnya seperti yang dirasakan Welung Pati saat ini.“Apa para sobat kita yang lainnya telah kalian kabarkan mengenai berita ini?”“Bagian selatan Pulau Jawa baru Padepokan Gagak Selatan ini yang kami datangi, sementara di bagian utara sekarang tengah di datangi Pangeran Durjana,” jawab Lenggo Lumut.“Nanti aku ak
last updateLast Updated : 2024-12-06
Read more

Bab 85. Diterima Kepala Desa Kidung

Arya kemudian melayangkan pandangannya ke sekeliling kawasan dari tempat ia dan Mantili berdiri dihadang beberapa pemuda Desa Kidung itu, hari sudah mulai gelap dan tak mungkin rasanya melanjutkan perjalanan.Sebenarnya bagi Arya bukan karena hari telah gelap dan di larang masuk ke pemukiman desa oleh beberapa pemuda itu yang menjadi pikirannya, melainkan Arya merasa aneh saja karena tak biasanya para warga sebuah desa termasuk pemuda di sana bersikap seperti itu.“Kenapa para pemuda ini melarang kami masuk ke pemukiman desa mereka? Ada rahasia apa yang mereka sembunyikan di dalam desa itu hingga orang dari luar desa ini tak di izinkan masuk?” pikir Arya rasa penasarannya pun semakin besar.Arya kembali berfikir bagaimana caranya melunakan hati para pemuda di depan mereka itu, agar berkenan mempersilahkan mereka masuk ke pemukiman warga serta di izinkan menginap di sana.“Sebenarnya jika aku sendiri saja tidak akan jadi masalah bagiku jika kalian memang tidak mengizinkan masuk ke pemu
last updateLast Updated : 2024-12-08
Read more

Bab 86. Tak Mudah Dipengaruhi

Pagi itu cuaca agak mendung, di beberapa kawasan terlihat awan hitam menyelimuti langit. Karena tak setetespun gerimis turun, Arya dan Mantili memutuskan untuk berpamitan pada Suryo dan keluarganya meninggalkan Desa Kidung.“Terima kasih Paman Suryo dan keluarga telah mengizinkan kami bermalam di sini, sekarang kami mohon diri untuk melanjutkan perjalanan kami,” ucap Arya.“Apa tidak sebaiknya nanti saja Arya, hari tampaknya mendung dan dikuatirkan akan turun hujan sebentar lagi.”“Tidak apa-apa Paman, mumpung hujan belum turun sebaiknya kami berangkat sekarang biar nanti dapat mencari tempat berteduh jika memang di perjalanan hujan turun.”“Baiklah jika memang begitu keinginan kalian kami pun tak dapat mencegah lagi, hati-hati di jalan.”“Baik Paman, Assalamu alaikum,” ucap Arya.“Waalaikum salam,” balas Suryo, Arya dan Mantili berjalan ke arah timur sesuai dengan yang mereka katakan pada kepala Desa Kidung itu.Setelah cukup jauh meninggalkan Desa Kidung itu, Arya mengajak Mantili u
last updateLast Updated : 2024-12-08
Read more

Bab 87. Ke Sebelah Utara

Sementara beberapa warga yang tadi dibawa dari desa-desa yang setuju bergabung dengan padepokan itu, sama sekali tidak mengetahui jika para anggota Padepokan Gagak Hitam yang membawa mereka ke padepokan itu akan menyerang desa mereka saat itu juga.Kedatangan Arya dan Mantili kembali ke Desa Karapan tentu memunculkan rasa penasaran pada Mahfud dan Samin, kedua kepala desa itu membawa Arya dan Mantili ke dalam rumah tepatnya di ruangan depan karena sebelumnya sang pendekar memberitahu jika ada hal yang sangat rahasia sifatnya yang akan disampaikan.“Hal apa yang hendak Mas Arya sampaikan hingga harus dirahasiakan?” tanya Samin.“Begini, di antara Mas berdua siapa yang kenal dengan Suryo kepala Desa Kidung?” Arya balik bertanya.“Paman Suryo? Aku kenal dengan beliau, dan sering berkunjung ke Desa Kidung itu,” jawab Samin.“Aku juga Mas Arya,” tambah Mahfud.“Memangnya ada apa dengan Paman Suryo itu?” sambung Samin penasaran.“Setelah kami berdua menyelidiki, ternyata gerombolan orang ya
last updateLast Updated : 2024-12-10
Read more

Bab 88. Penyerangan Desa Tengger

“Treeeeeeek... Teeekteeeeek! Tolooooooooooong...!” beberapa atap rumah mulai terbakar akibat lesatan obor-obor yang dilempar anggota Padepokan Gagak Hitam beriringan dengar pekikan para wanita warga desa itu.Bayangan putih dan ungu tiba-tiba bersamaan berkelebat cepat di udara, membuat para anggota Padepokan Gagak Hitam terkejut.“Blaaaaar..! Bruuuuuuuuuuuk..!” sebuah kilatan putih yang berasal dari telapak tangan salah satu sosok bayangan yang masih berkelebat di udara itu, menghantam para anggota Padepokan Gagak Hitam hingga belasan orang di barisan depan terpental dari tertelentang di tanah.Ternyata sosok bayangan yang melesatkan pukulan sewaktu masih berkelebat di udara itu adalah Arya, sementara Mantili saat ini tengah menghadang para anggota Padepokan Gagak Hitam yang lainnya.“Hiyaaaaaat..! Deeeeeees..! Deeeeeeees..! Bruuuuuuuk..!” tendangan memutar cepat dihantamkan wanita cantik berpakaian ungu itu pada beberapa anggota Padepokan Gagak Hitam yang hendak melakukan serangan b
last updateLast Updated : 2024-12-12
Read more

Bab 89. Di Desa Karapan

“Jadi sekarang apa yang musti aku lakukan dengan para warga di desa ini?”“Aku rasa hari ini mereka tidak akan datang ke desa ini untuk kembali menyerang, mereka tentunya akan menunggu sampai besok pagi karena jarak Padepokan Gagak Hitam dari Desa Tengger ini cukup jauh. Jadi Mas Karta dan seluruh warga desa ini tidak perlu terlalu kuatir cukup berjaga-jaga saja, kami juga akan pamit dulu kembali ke Desa Karapan,” ujar Arya.“Mas Arya dan Mbak Mantili akan kembali ke Desa Karapan?”“Benar Mas Karta, ada yang harus kami rembukan dengan beberapa kepala desa menyangkut rencana yang akan kita lakukan selanjutnya menumpas Padepokan Gagak Hitam itu,” jawab Arya.“Apa perlu aku ikut serta juga ke sana Mas Arya?”“Aku rasa tidak usah Mas, karena Mas Karta sudah mengetahui akan rencana yang akan kami lakukan pada Padepokan Gagak Hitam itu.”“Tapi aku dan warga Desa Tengger juga ingin ikut serta dalam menumpas Padepokan Gagak Hitam yang biadab itu, terlebih sebagian anggota mereka telah menyera
last updateLast Updated : 2024-12-14
Read more

Bab 90. Rencana Penumpasan

Sedangkan Arya yang saat ini menuju Desa Tengger tentu tidak akan merasa kesulitan pula dalam mewujudkan semua yang telah direncanakannya itu, sebab sebelumnya Karta selaku kepala desa itu juga berharap sesegera mungkin bergerak menumpas Padepokan Gagak Hitam yang telah membuat kekacauan di desanya.Kembali Kiai Bimo didatangi muridnya itu saat tengah melatih para santri ilmu bela diri di sebelah kiri bangunan-bangunan pemondokan, namun kali ini Mantili tidak melakukan serangan secara tiba-tiba seperti yang ia lakukan pada Gurunya itu saat Arya juga berada di sana, Mantili menghampiri Kiai Bimo dengan berjalan santai dan itu diketahui oleh pemilik pemondokan itu.“Hemmm, rupanya kamu telah kembali Mantili. Arya mana?” tanya Kiai Bimo.“Mas Arya tidak bisa ikut ke sini karena ada sesuatu yang musti ia rembukan dengan 3 orang kepala desa di Desa Karapan, ia memintaku untuk kembali sendiri menemui Eyang Guru di pemondokan ini.”“Merembukan sesuatu dengan 3 orang kepala desa? Kamu tahu pe
last updateLast Updated : 2024-12-17
Read more
PREV
1
...
7891011
...
19
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status