Home / Romansa / Kekasih Gelap Ceo Arogan / Chapter 161 - Chapter 170

All Chapters of Kekasih Gelap Ceo Arogan: Chapter 161 - Chapter 170

204 Chapters

Bab 161. Edward Terjaga?

Semalam suntuk Edward sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, hanya menatap ke arah Lean dengan wajah cemas. "Paman Leon dan Eve, sore ini mengunjungi rumah sakit. Mereka sempat berbicara pada Ibumu, bertanya tentang pernikahanmu dengan Lean apabila kau masih belum juga terbangun hingga hari pernikahan kalian tiba." Ini yang Rosalia katakan padanya sebelum wanita itu diantar pulang oleh Ben ke mansion pamannya. "Sudah saatnya dia pulang, Ed. Bukankah kau juga sudah terjaga, Paman ingin agar Rosi beristirahat di mansion malam ini. Nanti, Paman dan Anton yang akan menemanimu dan Lean di sini." Edward hanya mengiyakan ucapan pamannya itu saat itu, lagipula ia melihat wajah Rosalia sudah tampak kelelahan. Selain itu, Rosalia juga sama seperti Lean, tengah mengandung buah cintanya bersama pamannya. "Apa yang mereka pikirkan? Mengapa mereka ingin membatalkan pernikahanku dengannya, dan Paman ... Paman bahkan telah memilihkan jodoh untuknya. Apa mereka pikir aku tidak akan bangun lag
last updateLast Updated : 2024-09-05
Read more

Bab 162. Aku Tidak Ingin Kau Mencemaskanku.

Seakan mengerti apa yang Edward inginkan, Dokter yang baru saja memeriksanya segera mengajak perawat yang telah membantu Lean untuk meninggalkan ruangan di mana ia dan Lean berada. Lean tergugu kala sang Dokter dan perawat itu berpamitan padanya. "Anda belum boleh berdiri terlalu lama, Nona," nasehat perawat wanita itu sebelum ia mengikuti sang Dokter. Lean mengangguk mengerti. "Hanya sebentar." Ia pun tersenyum kaku setelahnya dan mengangkat tangannya. Sebagai isyarat bahwa ia sedang baik-baik saja. Ruang penanganan khusus sontak hening beberapa saat kemudian, hanya menyisakan Edward yang tengah menatap Lean sembari tersenyum nakal. "Kau pergi keluar Kota L, huh?" Lean menepuk dada Edward, beberapa senti dari tempat Edward menerima timah panas. Membuat kekasihnya itu sontak mendesis. "Ma-afkan aku, aku lupa kalau kau terkena tembakan di bagian dada," cetusnya dengan wajah cemas. Edward memajukan bibirnya demi menggoda Lean, dan saat ia melihat tatapan kekasihnya itu berubah men
last updateLast Updated : 2024-09-06
Read more

Bab 163. Apa Yang Terjadi Pada Lean?

Siang harinya, semua kerabat Edward datang untuk menjenguk Edward dan juga Lean. Begitu pula dengan Leon dan Eve. Bukan hanya kerabat, meski masih merasa takut terhadap Edward, Wilhelm tetap datang untuk melihat keadaan sahabatnya itu. Terutama Lean. Entah mengapa wajah cantik dan polos wanita itu terus bermain di dalam benaknya pasca Rosalia mengatakan padanya jika ia memiliki rasa terhadap Lean. Kerumunan orang memenuhi ruang penanganan khusus, Edward tampak digoda oleh Ernest. Dan sahabatnya itu menanggapinya sambil memasang wajah dingin. Wilhelm hanya berani memperhatikan Edward dari balik kerumunan anggota keluarga Gail, lebih tepatnya— ia sengaja berdiri di belakang Tuan Besar Gail, Kakek Edward. Ternyata Anton juga melakukan hal yang sama, pria itu sama sekali tidak berani menghampiri Bosnya. Hanya terus memperhatikan Edward dari tempatnya berdiri, di samping dirinya. "Apa dia masih marah?" bisik Wilhelm pada Anton. Anton melirik pria itu lalu menganggukkan kepalanya, "Tu
last updateLast Updated : 2024-09-07
Read more

Babb 164. Anton Di Mana?

Dua hari kemudian ... Brad memijak kakinya ke lantai kayu yang dingin, merasakan setiap ketukan jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Di tengah ruangan kantornya yang sepi, tumpukan berkas dan dokumen melingkar di sekelilingnya. Semua itu menjadi saksi bisu dari keheningan yang tiba-tiba pecah saat ia membaca undangan pernikahan Lean dan Edward. Matanya yang tajam membelalak saat ia memindai kalimat demi kalimat di atas kertas berwarna krem itu. “Jadi ... Edward Gail baik-baik saja? Dan sekarang dia akan menikah dengannya?” monolognya pada diri sendiri, suaranya nyaris serak. Seseorang mengetuk pintu ruangannya. Itu asistennya, pria itu berdiri di ambang pintu dengan wajah datar. “Tuan memanggilku?” tanya sang asisten, suaranya yang datar membuat ketegangan di dalam ruangan kantor Brad semakin kental. “Kapan kau menerima undangan ini?” lontar Brad, sambil mengacungkan undangan pernikahan Lean dan juga Edward. “Pagi ini. Apakah ada masalah, Tuan?” asisten Bra
last updateLast Updated : 2024-09-08
Read more

Bab 165. Telepon Dari Ernest.

"Ed, siapa Bart?" tanya Lean, dalam perjalanan pulang setelah fitting pakaian pengantin. Edward yang tengah duduk di samping kekasihnya itu sontak menoleh, "Apa aku belum pernah mengatakan apapun padamu?"Lean menggeleng pelan. Edward meringis saat melihat gelengan sang kekasih, baru sadar jika dua hari kemarin ia terlalu sibuk melepaskan rindunya pada Lean hingga melupakan penembakan yang terjadi pada dirinya. "Pria itu adalah pria yang telah menembakku, aku pernah menjebloskannya ke dalam tahanan. Dan istrinya menceraikannya setelahnya. Aku pikir wajar jika dia memiliki dendam yang sangat besar padaku. Tapi ... sepertinya Paman, Ben, dan Anton tidak setuju. Karena itu Paman masih meminta Ben dan Anton untuk melacak orang yang berada di belakang Bart.""Dan penyebab pertikaian kalian?"Supir Gail Mart yang sedang menyetir di depan Edward menahan senyum mendengar pertanyaan Lean itu. Lagipula siapa yang tidak mengenal Bosnya di kota ini? Cukup temui saja salah satu wanita dan tanya
last updateLast Updated : 2024-09-09
Read more

Bab 166. Ada Orang Lain.

Setelah panggilan dengan Ernest selesai, Edward mengalihkan pandangannya ke Lean, yang masih menatap keluar jendela mobil dengan pikiran yang tak terduga. Senyum manisnya tak terhapus, namun kerutan di keningnya menunjukkan bahwa pikirannya sedang melayang jauh. Edward merasa perlu memecah keheningan itu, tapi ia tidak ingin mengganggu ketenangan sang kekasih."Hey." Edward akhirnya berkata lembut, menyentuh tangan Lean yang diam di atas pangkuan kekasihnya itu. "Apa yang sedang kau pikirkan?"Lean menoleh, matanya sedikit terkejut. "Oh, aku? Tidak ada yang penting, hanya melihat suasana. Kembali ke apartemen, 'kan? Aku hanya berharap ....""Berharap apa?" Edward memotong, ingin tahu lebih dalam."Bahwa semuanya akan baik-baik saja," jawab Lean pelan, matanya kembali melirik ke luar. "Aku tidak ingin ada hal buruk yang terjadi lagi padamu."Edward menggenggam tangan Lean lebih erat, merasakan tangan itu bergetar lembut karena cemas. "Aku berjanji, Sayang. Aku akan melakukan yang terba
last updateLast Updated : 2024-09-10
Read more

Bab 167. Peringatan Anton.

Edward memijat pelipisnya, berusaha menenangkan diri sambil menatap Anton yang juga menatap balik padanya dengan sikap tegas. Di dalam benaknya, seluruh informasi yang didapatkan dari Anton— benar-benar tak pernah terpikirkan olehnya. 'Ada orang lain yang menginginkan kematiannya?' Edward tidak menampik hal itu. Mungkin bahkan sebagian besar pria mesum yang ada di kota ini memusuhi dirinya dan berharap bisa menembaknya secara diam-diam. "Baik, hingga pernikahanku selesai dilaksanakan, aku tidak akan melakukan apapun. Tapi setelahnya ....""Sebaiknya Tuan tetap menjaga Nona Lean, dia lebih membutuhkan Anda daripada masalah ini," sela Anton cepat, mencoba mematahkan keinginan Edward yang ingin kembali membahayakan dirinya. "Ck." Edward berdecak sebal, "Aku hampir kehilangan nyawaku karena peluru itu," sungutnya. "Dan Nona Lean hampir kehilangan bayinya," desis Anton tak mau kalah. "Hmm, seharusnya kau bekerja untukku." Edward mengoceh. Anton menatap atasannya itu dengan wajah seriu
last updateLast Updated : 2024-09-11
Read more

Babb 168. Pernikahan Lean Dan Edward.

Hari ini, pesta pernikahannya dengan Lean akhirnya dilaksanakan. Pesta itu sangat meriah, namun pikiran Edward justru terbagi. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Anton untuk menanyakan apakah Luis sudah memberi kabar? Tetapi Anton sama sekali tidak bisa dihubungi. Bahkan, hari ini ia hanya melihat Anton sekilas. Asistennya itu tampak sibuk menyambut tamu bersama kedua orang tuanya, lalu menghilang entah ke mana. "Di mana si bodoh itu?" sungut Edward gemas. Lean yang berdiri di samping Edward menoleh pada kekasihnya itu yang mulai hari ini telah resmi menjadi suaminya. Beberapa saat yang lalu, ia dan Edward telah mengucapkan sumpah setia pernikahan bersama dan mengakhirinya dengan kecupan yang hampir sulit untuk dihentikan. Lean hampir kehabisan napas gara-gara Edward terlalu bersemangat. "Siapa yang kau cari?" tanyanya sambil mengernyitkan keningnya. Edward melirik Lean, "Anton, apa kau melihat si bodoh itu?" rutuknya. "Anton? Tadi aku melihatnya pergi ke arah sana," tunjuk Lea
last updateLast Updated : 2024-09-12
Read more

Bab 169. Ajakan Kencan Untuk Eve.

"M-maksudku, Tuan Luis. Kapan Anda sampai ke kota ini? Mengapa tidak memberitahuku?" ujar Eve tergagap, segera menundukkan kepalanya demi menghindari tatapan tajam Luis. Luis mengamati asistennya itu, sedikit gemas melihat Eve yang tampak salah tingkah. "Aku tiba kemarin, dan langsung pergi menemui Tuan Ernest. Aku pikir kau sibuk untuk mengurus pernikahan hari ini, jadi ....""Tapi itu sudah menjadi tugasku!" tegas Eve, reflek mendongak. Lalu meneguk ludah dengan sulit setelah tanpa sengaja bersitatap dengan netra Luis. Hatinya berdebar, padahal bukan hanya kali ini ia dan Luis saling beradu pandang. Namun, sejak Bosnya itu mengungkapkan perasaannya, Eve sering merasa resah oleh pengakuan Luis itu. "Bagaimana kabarmu?" tanya Luis, tanpa ingin mengalihkan pandangannya dari wajah Eve. Ada getaran indah mengisi relung hatinya saat ini, saat ia melihat Eve balas menatap balik dirinya. Eve selalu seperti ini sebelumnya, dan berulang kali membuat jantungnya berdebar. Tetapi, sebelumnya
last updateLast Updated : 2024-09-14
Read more

Bab 170. Tugas Baru Untuk Luis.

Wilhelm menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir perasaan campur aduk yang menggerogoti hatinya. Pesta pernikahan ini seharusnya menjadi momen bahagia, tetapi baginya, itu justru menjadi pengingat akan cinta terlarangnya. Ia meneguk wine dari gelas kecil di tangannya, lalu melirik kembali ke arah Edward dan Lean yang sedang menikmati momen bahagia mereka."Apa yang kau lakukan di sini?" celetuk Oliver, perlahan menghampiri Wilhelm. Terkejut, Wilhelm sontak menoleh ke kanan. "Sejak kapan kau berdiri di sana?" ia balik bertanya pada Oliver, berusaha terkesan santai.Oliver menelengkan kepalanya, "Aku sudah mendengar semua yang terjadi ketika Pamanku memancing Edward agar terbangun. Kata Paman— kau ada di sana, dan Edward bangun dengan wajah penuh emosi. Tolong maafkan dia, aku tahu itu semua usul dari Rosi. Dan aku berterima kasih padamu karena bersedia menjadi korban keisengan Rosi dan juga Pamanku," ucapnya tulus. "Jangan lupa, Anton juga menjadi salah satu korbannya." Wilhelm t
last updateLast Updated : 2024-09-15
Read more
PREV
1
...
1516171819
...
21
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status