Laksa mengepalkan tangannya dengan geram , dia baru saja mengecek akun media sosial miliknya dan mendapati banyak sekali DM yang masuk ke ponselnya. Dia memang bukan orang yang selalu update di media sosial, dia memiliki media sosial hanya untuk urusan pekerjaan saja, isi media sosialnya pun sangat membosankan, hanya ada nama-nama kolega bisnisnya juga beberapa nama badan amal yang biasa dia kunjungi. Bahkan dia baru berteman dengan akun media sosial Luna sebelum pesta pernikahannya, itu pun karena sang mama yang protes karena akan menimbulkan spekulasi yang lain. Akan tetapi tak pernah sekali pun media sosialnya dibanjiri oleh DM seperti ini, dan itu karena postingan seseorang yang mentag namanya. “Seorang ibu akan selalu merindukan anaknya, meski sang anak tidak menganggapnya.” Dan postingan itu langsung viral, banyak akun yang menanyakan apa hubungan sang ibu dengannya, dan apa maksudnya ini semua. Sungguh sangat licik, ternyata ancaman Laksa yang
Seperti hari-hari sebelumnya saat sarapan pagi bersama, Luna akan mengambilkan nasi dan lauk pauk yang diinginkan suaminya setelah itu dia akan melangkah ke meja paling ujung di mana kepala keluarga ini duduk, lalu mengambilkan makanan untuknya juga, dulu sebelum Luna menjadi bagian dari keluarga ini para asisten rumah tangga atau sang mama mertua yang melakukannya. Waktu itu Luna hanya kasih karena sang kepala keluarga yang lumpuh dan duduk di kursi roda itu harus kesulitan mengambil makanan yang diinginkannya. “Terima kasih, Nak.” “Sama-sama, Opa.”Luna lalu kembali ke tempat duduknya dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri, suasana makan yang hening tanpa adanya percakapan menjadi hal yang biasa terjadi di sini, berbeda dengan saat dia di rumah ayahnya saat menggunakan waktu makan untuk bercerita satu sama lain. Yah meski makan sambil bicara bukan hal yang baik, tapi itu tak mengubah rasa hangat yang tercipta. “Aku ingin bicara pada semuanya setalah in
Luna bukan anak orang kaya pekerjaan ayahnya yang hanya seorang guru, tidak memungkinkan keluarganya hidup mewah, apalagi saat dia masih kecil dulu, ayahnya yang hanya seorang guru honorer dengan gaji minim, yang hanya cukup untuk makan mereka saja. Saat tanggal gajian tiba, ibunya membeli ayam atau telur sebagai teman makan nasi, tapi saat tanggal gajian telah lama terlewat mereka harus rela makan nasi garam, tapi Luna tak pernah mengeluh, kedua orang tuanya adalah sosok idolanya, yang tidak pernah berputus asa dalam menjalani kehidupan sulit mereka, sampai ayahnya diangkat menjadi pegawai pemerintah dengan gaji yang sangat lumayan, bahkan mereka bisa membeli rumah sendiri dan sebuah mobil tua yang kadang terbatuk di tengah jalan. Tapi kasih sayang yang diberikan kedua orang tuanya tak pernah luntur untuknya, dan mendapati interaksi Laksa dengan kedua orang tuanya yang bahkan lebih kaku dari pada kepala sekolah galak jaman dia masih sekolah membuatnya sedikit heran
"Kok baju yang itu, Sayang?" Luna menoleh ke arah suaminya yang masih memakai handuk di pinggangnya untuk menutupi area pribadinya, hal yang biasa Luna lihat akhir-akhir ini, tidak ada lagi adegan menjerit seperti saat awal mereka menikah dulu, Luna bahkan sudah hapal semua lekuk tubuh Laksa, begitu juga sebaliknya. Luna melangkah menggampiri kemeja warna salem yang dia siapkan untuk Laksa, mengamati sejenak kemeja itu, lalu melihat Laksa. Tidak ada yang salah dengan kemeja ini? "Memangnya kenapa?" tanya Luna tak mengerti, tumben sekali suaminya ini protes, biasanya apa yang Luna siapkan selalu dipakai sang suami tanpa berprotes lagi, hari ini dia memang sengaja memilihkan baju yang bukan biasa Laksa pakai, baju sebegitu banyak sayang banget kalau yang dipakai itu-itu saja. Laksa menghela napas, dia tak mungkin bukan mengatakan kalau baju ini dibelikan Raya, meski menggunakan uangnya, saat mereka jalan-jalan ke Singapura tahun lalu, Luna pasti ngambek dan Laksa tidak mau itu.
Hari ini sepertinya bukan hari terbaik untuk Luna, sejak pagi dia sudah kesal karena hal-hal kecil yang sangat konyol, entah karena dia tidak menemukan kardigan kesayangannya atau karena bajunya banyak yang tidak muat karena perutnya yang sudah mulai membesar. Puncaknya saat sore tadi dia ikut bersama ayahnya dan tidak mendapatkan nasi hajatan seperti yang dia inginkan, padahal tadi dia sengaja tidak makan supaya bisa makan nasi itu banyak-banyak. “Tidak ada pertunjukan, Lun, dan aku juga tidak sedang ada hajatan? Ada apa? Apa kamu mau menari lagi di acara hajatan? Memangnya suamimu bolehin?” Rentetan pertanyaan Vira yang sangat panjang seperti kereta api itu malah membuat Luna makin pusing. Dia lalu terisak kecil, membuat Vira yang ada di seberang sana dilanda kepanikan. “Luna kamu kenapa? Apa ada masalah dengan suamimu? Kamu di mana sekarang? Biar aku ke sana.” Luna bahkan tak sanggup untuk menjawab pertanyaan Vira, Laksa yang duduk di de
Laksa sungguh kesal dengan laki-laki itu, apalagi panggilan mereka berdua yang terdengar sangat mesra di telinganya, sebagai suami tentu saja dia cemburu, hatinya tak cukup lapang untuk membiarkan orang lain memberi perhatian pada sang istri. Entah apa hubungan Luna dan Dinosaurus itu. Laksa bukan laki-laki yang pencemburu sebenarnya, dulu bersama Raya dia tak akan ambil pusing saat pacarnya itu makan malam romantis dengan kawan modelnya atau dengan beberapa laki-laki, dia tahu itu pekerjaannya dan dunia, Laksa tak berhak melarang, tapi dengan Luna dia selalu merasa tidak senang jika ada laki-laki yang dekat dengan istrinya itu, meski dengan alasan teman atau semacamnya. Laksa di dera kebimbangan hatinya terasa tak nyaman rasa takut kehilangan membuatnya menempatkan Luna dalam sangkar yang dia buat. Apa ini perasaan yang wajar untuk seorang suami? “Kakak kenapa?” tanya Luna yang ternyata mengikuti Laksa ke dalam kamar. “Kamu makan
Laksa menatap bayangannya di dalam cermin toilet, dia tersenyum sendiri mengingat kekonyolannya tadi bertengkar dengan Luna yang berakhir dengan acara suap-suapan, yang kalau dia ingat ingin bergidik sendiri, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal sekonyol itu bersama Luna, seolah mereka ABG yang sedang jatuh cinta. Benar jatuh cinta? Apakah dia memang sudah jatuh cinta sejatuh itu pada istrinya itu. Laksa memegang dadanya, ada yang berdetak kencang di dalam sana saat mengingat Luna, senyumnya, tingkah manjanya, kekeras kepalaannya, kepolosannya dan juga tingkahnya yang kadang sangat menyebalkan, semua hal yang dulu sangat tidak disukainya dari pacar-pacarnya, kini malah semua berkumpul dalam diri sang istri, dan dia ... menyukainya. Entah sihir apa yang dimiliki Luna, sifat jelek sang istri malah terlihat menggemaskan di matanya. Sekali lagi Laksa membenahi penampilannya, lalu mencuci tangannya dengan air yang mengalir, dilihatnya jam tangan di pergelangan
Laksa langsung melangkah cepat ke dalam cafe, dan mendapati Luna masih duduk ditempat tadi dia meninggalkannya membuat perasaan bersalah Laksa sedikit berkurang, istrinya itu masih di sana, berusaha menghabiskan segelas besar ice cream yang telah separuh mencair. Ah.. Luna dia pasti sangat bosan menunggunya. “Sudah cukup makan ice creamnya kamu bisa sakit perut,” kata Laksa sambil mengambil sendok ice cream yang dimainkan oleh sang istri. “Kak Laksa, kakak baik-baik saja?” tanya Luna penuh dengan kekhawatiran. Seketika rasa bersalah kembali menyerang Laksa dengan hebatnya, membuat laki-laki itu kesulitan bernapas, sang istri tampak sangat khawatir, sedangkan dia dia seenaknya bicara dengan mantan kekasihnya. “Aku baik-baik saja, maaf pasti kamu menungguku lama.” “Syukurlah kalau begitu, aku pikir kakak sakit perut, aku sudah bolak-balik tiga kali ke toilet dan bertanya pada orang yang baru keluar dari sana, tapi dia bilang tak m
Akhirnya Laksa hanya bisa menanyakan kegiatan sang istri hari ini, tanpa menyatakan dimana dirinya sekarang berada, tapi dia berjanji akan mengatakan semuanya setelah sampai di rumah, banyak hal yang harus mereka bicarakan tapi Laksa butuh suasana yang tenang. Saat seorang perawat memangil keluarga Raya serempak dia dan sang manager restoran berdiri, mereka lalu diarahkan untuk menemui dokter paruh baya yang sangat dikenal Laksa. “Apa anda berdua keluarganya?” “Saya manager restoran tempat ibu Raya pingsan, saya hanya ingin memastikan kalau pingsannya ibu Raya ada sangkut pautnya dengan restoran kami atau tidak.” Sang dokter mengangguk mengerti meski begitu dia melirik pada Laksa yang hanya berdiri diam di depannya. “Saya bisa memastikan kalau ibu Raya pingsan bukan karena makanan dan minuman yang dia makan tapi karena stress dan tertekan, syukurlah untuk janin yang dia kandung baik-baik saja.” “Jadi dia benar hamil, Dok?”
Laksa langsung mendekati Raya, dia memang tidak tahu apapun tentang pertolongan pertama pada orang sakit , jadi yang bisa dia lakukan adalah memastikan Raya masih bernapas dengan tangannya yang gemetar. Bagaimanapun Raya pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan juga sebagai sesama manusia tentu saja Laksa tak bisa meninggalkannya begitu saja. “Tolong segera kirim ambulance, seorang wanita tiba-tiba pingsan.” Laksa lalu menyebutkan alamat restoran ini. Tak lama kemudian manager restoran tiba-tiba muncul entah siapa yang memberitahunya, tapi kemunculan sang menager berhasil meredam kehebohan yang ada. “Apa yang terjadi, pak?” tanya sang manager ramah dan berusaha tenang meski Laksa tahu ada getar dalam suara laki-laki itu. “Saya juga tidak tahu kami baru saja selesai bicara dan saya sudah akan pergi tapi tiba-tiba saja dia terjatuh,” kata Laksa menjelaskan sesingkat mungkin. Seorang pelayan wanita masuk dan meletakkan
“Sudahlah yang penting aku menemuinya hanya untuk menyelesaikan masalah saja.” Laksa tak menyadari kalau keputusan yang dia ambil kini akan berdampak besar pada kehidupan pernikahannya kelak. “Aku akan keluar sebentar,” kata Laksa pada asistennya. “Tapi pak jam tiga kita ada pertemuan dengan seorang investor.” “Aku akan kembali sebelum itu.” Asisten itu terlihat bimbang, tapi tak mungkin dia melarang bosnya apalagi Laksa sudah masuk ke dalam lift. “Semoga bapak bisa kembali tepat waktu dan tidak ada masalah lagi kedepannya,” gumam sang asisten entah mengapa dia memiliki firasat buruk. Laksa memasuki restoran jepan yang dulu menjadi favorit Raya setiap kali mereka bertemu. Seorang pelayan memakai pakaian tradisional jepang menyambut Laksa di depan pintu setelah Laksa mengatakan akan bertemu dengan Raya. “Akhirnya kamu datang juga.” Laksa melirik jam tangannya mengisyaratkan kalau dia
Tidak banyak waktu yang tersisa untuk Laksa dalam meyiapkan event besar yang akan diadakan di hotelnya. Tanda tangan kontrak memang sudah dilakukan dan pihak penyelenggara memberikan beberapa syarat yang harus manageman hotel penuhi terkait dengan sarana dan prasarana yang akan digunakan. Tumpukan dokumen laporan berserakan di meja kerjanya menunggu untuk dikerjakan. Bukan tanpa aasan dia bekerja sekeras ini, dia hanya ingin membuktikan pada semua orang dia bukan hanya beruntung mewarisi semua kekayaan ini, tapi dia juga punya kemampuan untuk membawa kemajuan usaha yang telah dirintis kakeknya dan juga Laksa ingin membuktikan meski dia lahir dari rahim wanita yang gila harta, tapi dia berbeda dengan ibunya. Itu juga salah satu alasan dia akan tetap setia pada istrinyaa, di samping rasa yang mulai tumbuh subur di hatinya. "Maaf, pak. Ada telepon untuk bapak," suara asistennya terdengar dari interkom yang terhubung antar ruangan. "Dari siapa?" Sang asisten terdengar menghela napas
"Tentu saja , Ma. Aku akan bertajan selama kak Laksa masih menginginkanku dan juga tidak menduakanku," jawab Luna yakin. Sang mama menganggukkan kepala. "Bagus, jawaban itu yang ingin mama dengar, jika kamu masih ingin mempertahankan semuanya kamu harus lawan wanita itu." Sang mama menghela napas sebentar dan meminum air putih di depannya. "Dengar, Nak. Mama memang bukan mama kandung Laksa, tapi mamalah yang merawatnya sejak kecil dan dia bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Dia pernah bilang pada mama akan mempertahankanmu di sisinya jadi jangan pernah menyerah." Luna menangguk, suaminya juga pernah mengatakan hal yang sama. "Kak Laksa juga pernah mengatakannya pada Luna." "Jadi kamu harus percaya Laksa kalau dia tidak aka kembali pada wanita itu, tapi mungkin dia akan membantunya. Sifatnyaa, tapi hanya sebatas itu yang perlu kamu lakukan adalah mencegah mereka untuk taak sering bertemu. " Lun
Luna menyadarkan tubuhnya yang terasa lelah luar biasa di kursi penumpang, di sampingnya Laksa menyetir mobil dengan wajah keruh, membuat Luna enggan untuk memulai pembicaraan dengannya. Beberapa saat yang lalu memang Laksa menjemputnya di sanggar saat dia sedang ngobrol dengan Vano di halaman belakang dan tentu saja hanya berdua karena Vira benar-benar tak muncul sampai akhir. "Hhh." Helaan napas panjang dan lelah Luna bahkan tak membuat Laksa menoleh laki-laki itu masih fokus dengan kemudinya. Luna tak tahu apa sebenarnya kesalahannya sehingga Laksa berubah dingin seperti ini. Apa karena Luna menemui mantan kekasih suaminya itu? Atau karena di pergi ke sanggar? Tapi Luna sudah minta Izin dan kalau ternyata Laksa terlambat membukanya itu bukan salahnya kan. Kenapa Laksa marah? "Kakak sudaah makan siang?" tanya Luna mencoba untuk membuka pembicaraan dengan suaminya meski dia sedikit ngeri sendiri dengan sikap Laks
"Maaf, kak. Aku kira tidak ada orang," kata Luna tak enak hati. "Masuklah, sudah lama kamu tidak kemari." Luna bimbang di dalam sana hanya ada Vano yang sedang melakukan entah apa, tapi kalau dia langsung pergi rasanya juga tidak sopan bagaimanapun Vano juga orang yang sangat berjasa untuknya. "Apa kabar kak?" sapa Luna sedikit sungkan. Vano mengangkat alisnya dengan senyum mengejek. "Baik. Setidaknya aku tidak menangis hari ini," kata Vano menyebalkan. Luna mengerucutkan bibirnya, Vano masih tetap sama menyebalkanya seperti dulu."Aku tidak menangis." "Percaya." Jawaban yang makin mempertegas kalau laki-laki itu hanya sedang ingin mengejek Luna. "Kakak ngapain di ruangan Vira?" tanya Luna sebal sendiri. "Bumil habis nangis otaknya ikut eror juga. Kamu tidak lupa kan kalau aku pemilik tempat ini dna bisa bebas berada di mana saja yang aku suka." Ish sebel banget Luna dikatain seperti itu, dia yang sudah duduk di sofa langsung bangkit dan melangkah pergi. Lebih baik dia jalan
Luna keluar dari cafe dengan kaki yang bergetar hebat, dia tak pernah suka bertengkar dengan orang lain. Saat akan berkonfrontasi dengan orang lain Luna lebih memilih mengatakan apa yang memang perlu dikatakan lalu pergi begitu saja, tanpa mau menoleh lagi. Terkesan pengecut memang tapi seperti itulah Luna. JIka hari ini dia mampu berkonfrontasi dengan Raya, itu semata-mata karena rasa cemburu yang mendominasi pikirannya. Dia mencintai Laksa dengan tulus dan laki-laki itu juga mengatakan kalau hanya Luna yang akan menjadi masa depannya, meski tanpa ada kata cinta, tapi bagi Luna itu sudah cukup. Dia jadi punya keberanian untuk melawan. "Mbak Luna baik-baik saja?" tanya sopir yang mengantarkan Luna. Dia menatap khawatir menantu majikannya ini. Luna terlihat pucat dan lemas. "Saya baik-baik saja, Pak." Luna memberi senyum sebahai ucapan terima kasih, si bapak membukakan pintu mobil untuknya. "Kita langsung pulang, mbak?" tanya sang sopir. Luna menimbang sejenak, dia tak
Tanpa menunggu dipersilahkan Luna meanrik kursi dan duduk di sana. Perutnya yang besar memang membuatnya tak betah untuk berdiri terlalu lama. "Mau pesan apa?" tanya Raya yang telah mampu menguasai dirinya. Sepertinya beberapa bulan menjadi istri Laksa membuat wanita lebih berani tak sepolos dan sepengecut dulu. LUna melihat buku menu dan dia langsung menginginkan oreo milkshake dan brownies yang terlihat menggoda di sana. "Kamu cukup berani juga memesan minuman itu padahal tubuhmu sudah gendut," Komentar Raya saat Luna menyebutkan pesanannya. Wah bodyshaming ini. "Sya memang sedang hamil jadi wajar kalau tubuh saya berisi, justru kalau kurus suami saya akan khawatir." "Hati-hati. Laki-laki tidak suka dengan wanita gendut," kata Raya sok menasehati. Luna tersenyum mendengar nasehat 'baik hati' dari mantan kekasih Laksa ini. "Mungkin, Tapi suami saya bilang lebih suka memeluk saya yang lebih berisi d