"Gila! Apa yang sudah saya lakukan?!" Reyfaldi merutuk, diikuti dengan tamparan kecil yang mendarat di pipinya oleh tangannya sendiri. Ia mencoba menyadarkan dirinya dari perasaan yang mulai tumbuh tak terkendali. Sementara itu, Sofia berjalan cepat menuju dapur, jantungnya berdegup sangat kencang seolah siap melompat dari tempatnya. Perasaan yang tak bisa dijelaskan berkecamuk dalam dadanya. "Sebenarnya, apa yang akan dilakukannya? Sepertinya ia sudah gila!" monolognya dalam hati, tak mampu melupakan wajah Reyfaldi yang begitu dekat dengan wajahnya. "Mbok! Tolong simpan ini!" titah Sofia, menyodorkan kotak P3K ketika melihat Mbok Nah di dapur. Ia segera berbalik, menghindari tatapan penasaran wanita paruh baya itu. Sofia kemudian masuk ke dalam kamarnya, langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya selepas berjogging. Keringat yang terasa lengket di tubuhnya perlu segera dibilas—atau mungkin ia hanya butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Di dalam bathub yang t
"Akta cerai?" wanita itu tertegun sejenak, kata-kata Reyfaldi menghantam seperti gelombang dingin yang tiba-tiba. Sebelumnya, Sofia tak pernah membayangkan jika rumah tangga yang sudah ia bina selama lima tahun akhirnya kandas di tangan pelakor sialan itu. Pernikahannya yang ia jaga dengan segenap jiwa, raga, dan ketulusan hati, kini tinggal serpihan dokumen legal. "Lihat saja nanti, saya akan buat kamu merasakan apa yang saya rasakan. Bahkan lebih sakit dari apa yang saya rasakan! Dasar jalang!" monolognya dalam hati dengan tatapan penuh dendam, matanya menyipit tajam. "Hey! Malah melamun sembari melotot. Memangnya kamu sedang membayangkan apa?" tanya Reyfaldi, membuyarkan lamunan Sofia dengan suara lembut. "Aku sangat ingin membalaskan dendamku pada si jalang dan si peselingkuh itu!" ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran luka, amarah, dan tekad yang membara. Pria itu tersenyum getir. "Saya berjanji. Saya akan membantumu menghancurkan mereka!" ucapnya dengan keyaki
Mobil sport hitam milik Reyfaldi menjadi pusat perhatian semua karyawan yang melintasi area itu. Beberapa berhenti sejenak untuk mengagumi, yang lain berbisik-bisik penuh kekaguman. "Hai...!" sapa Sofia setelah membuka pintu mobil Reyfaldi. Pria tampan itu terlihat menundukkan wajahnya, topi hitam andalannya menutupi sebagian fitur wajahnya yang sempurna. Ia menoleh pelan ke arah Sofia, tatapannya gelisah. "Cepat masuk!" titahnya dengan nada rendah. "Orang-orang itu terus melihat ke mobil saya!" tambahnya, jelas tidak nyaman menjadi bahan tontonan. "Loh, memangnya kenapa? Mungkin mereka kagum karena tak biasanya ada mobil mewah terparkir di sini!" Sofia menjawab santai, tidak mengerti kegelisahan Reyfaldi. "Tapi, saya tidak suka jika menjadi pusat perhatian!" Reyfaldi segera mengemudikan mobilnya menjauh dari tempat itu. Setelah jarak mobil sudah cukup jauh dari keramaian kantor, pria tampan itu melepas topinya dengan helaan napas lega. "Akta perceraianmu ada di kursi belakang
"Tidak! Aku tidak boleh melakukannya!" batin Reyfaldi, kesadaran menghantamnya seperti ombak. Ia menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangkupan tangannya dari pipi Sofia. Jari-jarinya masih terasa hangat dari sentuhan kulit wanita itu. "Sebaiknya kita pulang!" ajaknya sembari menyalakan mesin mobil, berusaha mengalihkan perhatian dari apa yang hampir terjadi. Sofia tak menjawab. Ia hanya bersandar pada kursi mobil, tatapannya menerawang menembus kaca jendela. Pikirannya masih berkecamuk dengan pertemuan menyakitkan tadi. "Aku ingin segera langsing dan menikah denganmu! Aku sudah tidak sabar ingin membalaskan dendamku pada mereka!" ucap Sofia tiba-tiba, suaranya penuh tekad. Mendengar itu, Reyfaldi membatu. Tangannya menggenggam setir lebih erat sementara ia melajukan mobilnya membelah kemacetan kota Jakarta. Kata-kata Sofia menggema dalam pikirannya—pernikahan mereka hanyalah alat balas dendam bagi wanita itu. "Sekarang kita mau ke mana? Makan? Belanja? Atau membeli ponsel ba
"Mobilku?" Sofia mengulang, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Betul, Nona. Mulai hari ini, saya akan menjadi supir Anda," terang Pak Eko dengan senyum ramah. Sofia melirik jam tangannya, menyadari waktu terus berjalan. "Ayo, Pak! Kita bisa terlambat!" Wanita itu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Layaknya orang kaya, ia tak perlu capek-capek mengendarai mobilnya sendiri. Namun, sebagai wanita mandiri yang sudah terbiasa memegang kendali, Sofia sebenarnya merasa risih harus ditemani supir. Tapi, mau bagaimana lagi, ia tidak ingin membantah keinginan Reyfaldi yang sudah begitu baik padanya. Hari itu, Sofia menjalani aktivitasnya seperti biasa. Kedatangannya di kantor sudah disambut oleh tumpukan dokumen yang tersusun rapi di atas meja kerjanya—rutinitas yang tak pernah berubah. "Hallo Sofia," sapa Renata dengan senyum hangat. "Oh iya... hari ini akan ada karyawan baru untuk menggantikanmu. Tolong nanti dibantu ya!" tambahnya. Mendengar itu,
Mobil hitam itu kini terparkir di area halaman rumah Reyfaldi. Sofia turun dan berjalan menuju ruang televisi, langkah kakinya bergema lembut di lantai marmer, diikuti Reyfaldi yang masih mengenakan setelan jasnya. Wanita itu duduk di sofa empuk sembari membuka jinjingan paper bag-nya. Melihat Sofia duduk di sana, Reyfaldi ikut duduk di sebelahnya, jarak mereka cukup dekat hingga Sofia bisa mencium aroma maskulin dari parfum pria itu. "Apakah kamu menyukainya?" tanya Reyfaldi, matanya mengamati reaksi Sofia. "Seharusnya, kamu tidak perlu repot-repot membelikan aku ponsel canggih seri terbaru seperti ini. Bagiku, sudah bisa menerima pesan dan melakukan panggilan juga sudah cukup," jawab Sofia, jemarinya menelusuri permukaan ponsel mahal itu. "Oh iya, mobil yang tadi pagi yang dikendarai oleh Pak Eko, itu mobil siapa?" tanya wanita itu, mengalihkan topik. "Mobilmu!" jawab Reyfaldi singkat. Netra Sofia seketika membulat sempurna. "Apa aku tidak salah dengar?" ucapnya tak percaya. "
Pria tampan itu memberanikan dirinya mengecup bibir Sofia yang mungil namun sedikit berisi. Wanita itu membalikan tubuhnya, menaiki anak tangga yang ada di dasar kolam setelah Reyfaldi melepaskan lingkaran tangan di pinggangnya. "Sofia ...!" panggil pria itu. Ia, samasekali tak mengindahkan panggilan pria itu. Ia terus berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa mau menoleh sedikitpun pada pria yang sedaritadi berdiri di dalam kolam menatap ke arahnya. Pria itu terdiam, duduk dan menunduk di pinggiran kolam, seraya berpikir tentang apa yang baru saja dilakukannya. "Apa yang sudah ia lakukan? Berani-beraninya ia menciumku!" umpat Sofia.Sofia mengisi bathubnya menggunakan air hangat dan meneteskan beberapa essential oil pada air buthubnya. Ia melepaskan seluruh pakaiannya yang sudah basah. Kemudian, merendam tubuhnya di dalam bathub itu. "Ah, nikmat sekali harumnya!" gumamnya ketika menghirup wangi aromaterapi yang ia tetesakan pada air itu. Wanita itu memejamkan matanya. Namun, kejadia
"Ya, Tuhan ...! Dia tampan sekali" batin Sofia. Tak hentinya ia menatap wajah tampan yang tertidur pulas di atas pangkuanya itu. Hingga, ia melupakan film yang sedang diputar di layar televisinya. Setelah sekitar satu jam, pria itu tertidur di pangkuan Sofia. Ia terbangun. Kemudian, membalikan badanya ke sisi berlawanan, menghadap perut wanita itu sembari tangan satunya melingkar ke belakang pinggangnya. Perasaan wanita itu menjadi tak menentu, ia benar-benar tak bisa menghindar atau berontak. Ia pun sebenarnya sangat menikmati momen itu. Namun, terkadang logika dan hatinya tidak sejalan. "Aku-- ingin ke toilet!" ucap wanita itu. Pria itu malah mempererat lingkaran tanganya di pinggang wanita itu. Sofia, yang sudah tidak bisa menahan panggilan alam itu, memindahkan kepala pria itu bersama bantalnya ke atas sofa secara perlahan. "Sofia ...! Mau kemana? Suara berat namun lembut itu memanggilnya. "Aku mau ke toilet!" ucap wanita itu seraya berlari masuk ke dalam kamarnya. Setelah
"Mbooook ...!" Teriak Ella memecah keheningan. Mbok Nah segera berlari menghampiri Ella. Ia kaget melihat cairan yang sudah tergenang di kaki Sofia. "Nona ... Anda akan melahirkan?!" "Segera hubungi Reyfaldi! Aku akan membawa Sofia kerumah sakit bersalin!" titah Ella panik. Dengan panik. Wanita itu segera memboyong Sofia masuk ke dalam mobil peninggalan orang tua Sofia yang terparkir di halaman rumah Reyfaldi. Kemudian, Ella menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit bersalin tempat Sofia memeriksakan kehamilannya. Untungnya, wanita yang sempat menjadi pengemis itu sudah ahli dalam mengemudikan mobil. Sehingga, tak membutuhkan waktu yang lama untuk Sofia bisa tiba di Rumah sakit. Ella berlari ke bagian administrasi. Untung saja saldo di rekeningnya terisi uang hasil penjualan beberapa hari kebelakang. Sekitar 10 juta Ella melakukan deposit di rumah sakit tersebut. Tim medis segera bertindak dengan cepat. Sofia ditangani dengan sangat baik di rumah sakit
Sofia keluar dari ruangan tak layak huni tersebut. Ia menyeka air mata di pipi kemudian berbicara dengan Reyfaldi sambil berbisik."Sayang ..., bisa tolong Paman Danu? Aku sangat tidak tega melihatnya," ucap Sofia seraya menitikan air mata. Reyfaldi kemudian menyeka air di pipi Sofia dengan lembut. "Tentu, Sayang. Saya akan segera memanggil ambulace." Sofia mengangguk dan tersenyum haru. "Terima kasih, Sayang." Tak lama berselang, sebuah mobil ambulance tiba di depan jalan. Tim medis segera membawa Danu ke rumah sakit untuk diperiksa. Ella masuk dan duduk di dalam ambulance. Sedangkan Sofia bersama Reyfaldi mengikuti dari belakang. Setibanya di rumah sakit, Reyfaldi segera memesan kamar kelas VVIP, yaitu kamar termahal yang tersedia di rumah sakit tersebut. Danu segera ditangani oleh tim medis. Beberapa pengecekan dilakukan oleh dokter. Beruntung, bukan penyakit berbahaya yang diderita oleh Danu. Melainkan hanya asam urat namun cukup akut. "Sofia ... ruangan ini pasti sangat mah
"Bibi Ella?" Wanita yang tengah hamil besar itu beringsut mundur kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Ella di ruang tamu. Ia merasa sangat benci pada Bibinya itu. Namun, Reyfaldi langsung mencekalnya. "Ayolah, Sayang ... bukankah tadi kamu berniat akan memaafkannya," bujuk Reyfaldi. "Tuhan saja pemaaf, apagi kita yang hanya sebagai hamba," tambahnya lagi. Sofia termenung beberapa saat. "Baiklah ..., aku akan menemuinya!" Wanita bertubuh besar itu kemudian berbalik badan dan melangkah kembali ke ruang tamu. Ia menjatuhkan bokongnya dengan pelan di atas sofa. Sedangkan Reyfaldi memilih untuk menunggu di dalam kamar, tak ingin mencampuri urusan bibi dan keponakan itu. "Sofia ... akhirnya kamu mau menemuiku." Mata wanita itu berkaca-kaca. "Aku benar-benar minta maaf atas perbuatanku dan Paman Danu. Kami melakukannya karena sangat terdesak. Pada saat itu, kami selalu diancam oleh debt collector. Sehingga kami merasa stress dan gelap mata. Tidak ada cara lain bagi kami selai
Pria yang menjabat sebagai CEO itu membungkuk lalu mendaratkan kedua tangannya di lengan bagian atas Alvian. Kemudian, mengangkat tubuh itu ke atas. "Jangan lakukan itu. Kamu tidak perlu bersimpuh di hadapanku!" Lagi-lagi, Alvian berucap terima kasih pada Reyfaldi. Pun juga dengan wanita tua yang sedari tadi berdiri di sana. Ia meminta maaf dan mengucapkan banyak terima kasih pada Reyfaldi. "Mulai minggu depan. Kembalilah ke perusahaan. Jadilah kepala produksi yang tidak akan mengecewakan saya lagi!" tutur pria tampan itu. Kepala yang semula menunduk, langsung terangkat wajahnya. "Apa?! Apa aku tidak salah dengar, Rey?" Reyfaldi tersenyum sekilas. "Bekerjalah lebih giat, agar kehidupan anakmu terjamin!" Alvian menyatukan kedua telapak tangannya seolah berterima kasih pada Reyfaldi. "Aku akan berusaha jadi karyawan terbaik. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan, Rey!" Pria yang mengenakan kemeja hitam itu berpamitan. Ia berniat segera pulang karena mengingat
Alvian bergegas naik ke dalam mobil milik tetangganya yang menawarkan bantuan padanya. "Maaf, pak. Saya menjadi merepotkan," ucapnya pada Bapak pemilik mobil. "Tidak sama sekali, Pak." Ambar tidak mengetahui kejadian yang terjadi semalam pada anaknya itu. Ia mengira, selama Clara bekerja menjadi LC karaoke, rumah tangga Alvian baik-baik saja. Bagai tersambar petir, tiba-tiba saja wanita tua itu mendengar kabar jika menantu kesayangannya itu kecelakaan bersama pria lain secara mengenaskan. Dan yang paling membuatnya merasa tercengang adalah berita tentang perselingkuhannya bersama pria beristri. Tak banyak berkata. Di dalam perjalanan, mereka hanya terdiam. Ambar dan Alvian masih merasa sulit untuk memahami apa yang tengah terjadi. "Kamu harus menjelaskan banyak hal pada ibu, setelah ini!" cetus ambar. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang dituju. Alvian dan Ambar melangkah dengan sedikit keraguan dan ketakutan. Mereka merasa tida
Keributan yang terjadi di kediaman Alvian membuat para tetangga penasaran. Beberapa warga mengintip dari balik jendela menyaksikan pertengkaran yang terjadi. Ketua RT dan beberapa warga di pemukiman itu langsung menghampiri rumah Alvian untuk mencari tau dan melihat keadaan Alvian. Namun, mereka dikagetkan oleh suara teriakan Alvian yang menyatakan bahwa dirinya ingin mati. Segera, mereka menerobos masuk ke dalam rumah Alvian tanpa permisi. Melihat Alvian yang telah siap menghujamkan pisau ke dadanya. Sontak, salah satu warga berteriak. "Hentikan!! Kamu tidak boleh melakukannya!" Alvian otomatis membuka matanya. Salah satu warga yang datang langsung menyambar pisau yang berada di dalam genggaman tangan Alvian. Kemudian, meyadarkan lelaki itu dari tindakan bodohnya. Alvian menangis tak terkendali. "Tenang ... tenangkan diri anda, Pak Alvian. Beberapa orang warga mengelus pelan punggung Alvian. Sementara, satu orang lainnya mengambil segelas air minum lalu meminumkannya pada Alvian
"Sofia?!" Ella menatap lekat Sofia. Penyesalan langsung menyeruak di hatinya. "Maafkan Bibi, Sofia ...."Tatapannya berpindah pada bagian perut Sofia yang sudah dalam keadaan hamil besar. "Kamu sudah hamil?! Akhirnya kamu hamil juga, Sofia!" tatapnya sayu. "Dimana Alvian?" Wanita berusia 47 tahun itu mengedarkan pandang. Ia melihat sosok pria tampan berperawakan atletis dan terlihat kaya berdiri di dekat Sofia. "Mengapa kamu tidak bersama Alvian?" tanya Ella. Sedari tadi Sofia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Jantungnya berdegup kian kencang karena menahan emosi.Ella memegang tangan Sofia. Namun, Sofia menghempaskannya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" bentaknya. Reyfaldi mendekat. "Maaf, Anda siapa?" tanyanya pada Ella. "Saya Ella, Bibinya Sofia!" jawabnya dengan nada bergetar. "Kamu, siapa?" tanya Ella balik. "Sudah! Tidak usah pedulikan dia. Dia bukan Bibiku. Aku sama sekali tidak mengenalnya!" sergah Sofia seraya mendelik.Sofia kemudian menarik lengan Reyfaldi untuk ma
"Pagi, sayang ... hari ini jadi, kan?" tanya Sofia pada lelaki yang baru saja membuka matanya. "Iya, Sayang!" jawab Reyfaldi dengan suara khas bangun tidur. Hari ini, Sofia berniat berbelanja kebutuhan persiapan untuk kelahiran bayinya. Sebuah kamar khusus untuk bayi akan ia persiapkan. Yaitu, kamar bekas Sofia sewaktu pertama datang ke rumah tersebut. "Lihat, Sayang ... aku ingin seperti ini interiornya." Tunjuk Sofia pada layar ponselnya memperlihatkan gambar ruangan bayi yang bernuansa white soft blue.Perkiraan Dokter, bayi yang tengah di kandung oleh Sofia adalah berjenis kelamin laki-laki. Sesuai dengan harapan Reyfaldi yang sangat menginginkan anak laki-laki agar dapat melanjutkan perusahaannya. "Baiklah, Sayang. Saya akan segera menghubungi jasa interior agar bisa secepatnya selesai."Reyfaldi langsung meraih ponselnya dan menghubungi jasa interior. Ia meminta agar secepatnya dilakukan renovasi sesuai dengan permintaan Sofia. Mengingat waktunya sudah tidak banyak lagi. Se
Wanita pelakor itu terbelalak. Ia langsung berjalan mendekati Sofia. Namun, wanita yang tengah hamil besar itu langsung berbalik badan mencoba menghindar dari Clara. Tapi, wanita jalang itu malah mengejar Sofia. "Sofia ... aku mohon jangan katakan ini pada Alvian!" Jalang itu terus memohon dengan wajah memelas. "Tenang saja! Lagi pula, itu bukan urusanku!" ucap Sofia dengan raut dingin tak peduli. Clara menoleh pada Reyfaldi. Pria yang menundukan wajahnya itu hanya diam mematung. "Pak, Reyfaldi ... tolong jangan-," "Siapa ini?" pangkas pria yang bersama Clara. Mendengar suara bariton dari balik badannya, mata wanita perusak rumah tangga orang itu langsung membola dengan sempurna. Cepat, ia berbalik badan dan mengubah mimik wajahnya menjadi tersenyum manis. "O-ya, ini kenalkan temanku, namanya Sofia dan ini suaminya!" ujar wanita itu seraya mengarahkan tangannya pada Sofia dan Reyfaldi. Dengan senyum masam, keduanya mengulurkan tangan menyambut ajakan bersalaman pria tua yang be