Beranda / Urban / Tukang Pijat Tampan / Malam Penuh Godaan

Share

Malam Penuh Godaan

Penulis: Black Jack
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-09 19:59:44

Suasana kamar hotel terasa nyaman dengan pencahayaan temaram dari lampu gantung berwarna keemasan. Ruangan itu cukup luas, dengan sofa empuk berwarna krem, meja kaca kecil di tengah, dan ranjang besar di ujung ruangan. Pendingin ruangan menyebarkan hawa sejuk yang kontras dengan kehangatan wine yang mulai mengalir dalam tubuh Adit.

Ratna duduk menyilangkan kakinya di sofa, tampak begitu santai, sementara Adit masih duduk kaku di ujung sofa lainnya, menggenggam gelas wine yang belum habis diminumnya. Kepalanya terasa sedikit ringan, tetapi kesadarannya masih cukup terjaga. Ia belum terbiasa dengan minuman keras, berbeda dengan Ratna yang tampak begitu terbiasa menenggaknya.

“Sudah kubilang, minumlah pelan-pelan.” Ratna tersenyum, matanya sedikit menyipit, entah karena efek alkohol atau sesuatu yang lain.

Adit tersenyum kecil. “Aku memang nggak biasa minum, Mbak... baru kali ini malah.”

“Bagus, berarti kamu masih polos.” Ratna tertawa kecil, lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Adit. Wangi parfum lembutnya menguar, membuat Adit menelan ludah tanpa sadar. Wanita itu benar-benar memesona dengan caranya sendiri. Ia tak hanya cantik, tetapi juga penuh pesona yang sulit dijelaskan.

“Aku penasaran, Adit...” Ratna menatapnya dalam. “Kenapa kamu jadi terapis pijat? Dengan tangan seperti ini...” Jemarinya meraih tangan Adit, mengusapnya perlahan. “Sepertinya kamu bisa melakukan hal lain yang lebih hebat.”

Adit merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Sentuhan Ratna terasa halus, dan matanya yang berbinar menatapnya penuh arti.

Dan di saat yang sama, gairah Ratna pun juga meluap cepat. Ia sungguh heran; hanya seperti itu ia sudah sangat menggelora. Ia tak pernah menemukan lelaki seperti itu sebelumnya.

“Aku... hanya kebetulan saja,” jawabnya canggung. “Awalnya hanya ingin mencari pekerjaan yang cepat dapat uang.”

Ratna masih menatapnya, jemarinya perlahan naik ke lengan Adit, mengusap pelan seolah menikmati tekstur kulitnya. “Kamu tahu?” bisiknya. “Tadi siang itu... adalah pijatan terbaik yang pernah aku rasakan.”

Adit menelan ludah, berusaha mengendalikan pikirannya yang mulai melayang entah ke mana. Wajah Ratna begitu dekat, bibirnya yang merah tampak begitu menggoda.

“Mbak Ratna, aku...”

Sebelum Adit bisa menyelesaikan kalimatnya, Ratna tiba-tiba menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Aduh, panas sekali.”

Adit terdiam saat melihat wanita itu mulai menarik resleting gaunnya perlahan, lalu melepaskannya hingga tersisa pakaian dalam yang menempel di tubuhnya. Ratna tidak menunjukkan rasa malu sedikit pun, justru tampak menikmati keterkejutan Adit.

“Kamu kelihatan tegang,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Santai saja, Adit. Aku hanya ingin lebih nyaman.”

Adit merasa pikirannya benar-benar kacau sekarang. Ia sudah menduga bahwa malam ini akan berbeda, tetapi tidak menyangka secepat ini. Kepalanya semakin berat, entah karena wine atau situasi yang sedang terjadi.

Ratna mendekat lagi, kali ini menempelkan tubuhnya pada lengan Adit. Hawa panas dari kulitnya terasa jelas.

“Kamu tahu, Adit?” bisiknya pelan. “Aku suka pria yang bisa membuatku nyaman. Dan kamu... sangat misterius.”

Adit tidak tahu harus berkata apa. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya bergejolak, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang masih mencoba menahan diri. Ia tahu, ini adalah ujian lain dalam perjalanan hidupnya, dan keputusannya malam ini bisa mengubah segalanya.

Adit berusaha menahan diri. Sejak awal, ia sudah menyadari bahwa Ratna bukan hanya ingin sekadar mengobrol. Tatapan wanita itu, cara dia menyentuhnya, dan sekarang dengan hanya mengenakan pakaian dalam, semuanya mengarah pada satu hal yang jelas. Namun, Adit tetap mencoba menjaga batas.

“Kenapa tegang begitu?” Ratna tersenyum menggoda, menyandarkan tubuhnya lebih dekat ke Adit. Hawa tubuhnya yang hangat semakin terasa. “Kita hanya berdua di sini. Santai saja.”

Adit menarik napas dalam. Wine yang diminumnya membuat kepalanya sedikit berputar, dan situasi ini semakin sulit dikendalikan. Ia mencoba mengalihkan pandangan, tetapi Ratna semakin berani. Jemarinya menyusuri lengan Adit, turun ke dada, lalu berhenti di perutnya.

“Jangan menahan diri,” bisik Ratna di telinganya. Nafasnya terasa hangat di kulit Adit. “Kamu tahu aku ingin ini.”

Adit menegang, tetapi bukan dalam arti yang seharusnya. Ia menatap Ratna yang semakin mendekat, lalu jemari wanita itu bergerak lebih jauh, turun menyentuh bagian yang seharusnya sudah merespons.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Ratna terdiam. Adit juga membeku. Seharusnya, dalam situasi seperti ini, tubuhnya akan bereaksi. Tetapi tidak ada yang terjadi.

“Kok...” Ratna mengerutkan kening, lalu mencoba lagi. Hasilnya tetap sama. Adit menelan ludah, merasakan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Ratna menatapnya dengan tatapan bingung. “Adit? Kamu... nggak tertarik padaku?” Nada suaranya berubah, bukan lagi penuh godaan, melainkan lebih ke frustrasi.

Adit merasa kepalanya semakin berat. Ia sendiri tidak bisa memahami apa yang terjadi. Sejak mendapatkan cincin itu, keajaiban yang ia rasakan begitu luar biasa; tapi ia juga mengalami efek samping yang aneh. Dan sekarang, ini benar-benar menjadi masalah.

Ratna menggigit bibirnya, seolah tidak percaya bahwa seorang pria bisa tidak terpengaruh olehnya. Ia mencoba lebih agresif, mencium leher Adit dengan lembut, tangannya kembali menjelajah.

Hasilnya tetap nihil.

“Apa aku kurang menarik buatmu?” tanya Ratna dengan nada kecewa. “Atau kamu memang tidak suka wanita?”

Adit tersentak. “Bukan begitu! Aku...”

Sebelum ia bisa menjelaskan sesuatu, suara nada dering telepon mendadak memecah suasana. Ratna menghela napas, merasa terganggu, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di meja.

“Halo?”

Dari ekspresinya, Adit bisa menebak bahwa sesuatu yang serius sedang terjadi. “Apa? Demam?” Ratna bangkit dari sofa, suaranya berubah penuh kekhawatiran. “Sudah dikompres? Bagaimana sekarang?”

Adit hanya duduk diam, memperhatikan Ratna yang kini sepenuhnya teralihkan oleh percakapan di telepon. Dari yang bisa ia tangkap, seseorang di rumahnya; mungkin anaknya sedang sakit.

“Iya, iya. Aku segera pulang.” Ratna menutup telepon, menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Adit. Rona godaan yang tadi ada di wajahnya kini menghilang, digantikan oleh ekspresi cemas.

“Aku harus pulang. Anakku demam,” katanya cepat, sambil meraih gaunnya dan mulai mengenakannya kembali.

Adit mengangguk. “Aku bisa mengantar kalau perlu.”

Ratna tersenyum kecil, kali ini tanpa godaan. “Nggak perlu. Aku bawa mobil sendiri. Kamu pulanglah juga.”

Beberapa menit kemudian, mereka berpisah di lobi hotel. Ratna melangkah cepat menuju mobilnya, meninggalkan Adit yang masih berdiri di depan hotel, menatap ke kejauhan. Ia menghela napas berat, pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang dirinya sendiri.

Malam ini berakhir dengan cara yang tidak terduga. Bukan hanya Ratna yang frustrasi; Adit juga mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Dan itu membuatnya lebih khawatir daripada apapun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Tukang Pijat Tampan   Masalah Dengan Geng Motor

    Udara malam terasa dingin saat Adit mengendarai motornya meninggalkan hotel. Tubuhnya masih terasa ringan akibat pengaruh wine, dan pikirannya melayang ke kejadian tadi. Ratna, godaan-godaan yang nyaris menggoyahkannya, dan kejadian aneh yang baru saja ia alami. Ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya, tetapi ia belum bisa memahami kenapa hal itu bisa terjadi.‘Apa iya ini gara-gara minuman? Ituku tak bisa berdiri. Padahal... aku pun tergoda...’ ucap Adit dalam hati.Lampu-lampu jalan menyinari aspal yang sedikit basah setelah gerimis sore tadi. Adit berusaha menjaga keseimbangan, tapi matanya terasa berat. Sesekali, ia menggelengkan kepala untuk mengusir rasa kantuk dan efek alkohol yang masih menguasainya. Kadang motornya sedikit oleng.Tiba-tiba, suara raungan knalpot pecah di udara. Sekelompok motor melaju kencang dari belakang, menyalip kendaraan-kendaraan lain dengan ugal-ugalan. Adit refleks menoleh ke kaca spion. Sebuah geng motor dengan jaket kulit hitam dan logo tengkora

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-10
  • Tukang Pijat Tampan   Bersama Tia

    Adit menyadari bahwa ia harus lebih berhati-hati dengan tangannya. Sejak insiden-insiden sebelumnya, ia tak ingin sembarangan menyentuh orang. Karena itu, ke mana pun ia pergi, kini ia selalu mengenakan sarung tangan. Ia hanya akan melepasnya untuk keperluan tertentu, terutama saat memijat kliennya.Hari itu, di tempat kerja, suasana terasa lengang baginya. Seperti sebelumnya, Pak Rudi sengaja tak mengoperkan klien untuknya. Waktu terasa berjalan lambat, dan Adit hanya bisa duduk menunggu tanpa kepastian.Ketika jam makan siang tiba, Adit bangkit dari kursinya, bermaksud mencari makan di luar. Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar, Tia, yang bekerja sebagai penerima tamu di bagian depan, menemui dan tersenyum ke arahnya."Adit, kamu mau makan siang bareng nggak? Aku juga lagi mau keluar cari makan," kata Tia sambil menepuk ringan lengan Adit.Adit menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Boleh. Kita makan di mana?""Ada warung enak di dekat sini. Nggak jauh kok, jalan kaki juga bisa,

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-11
  • Tukang Pijat Tampan   Curhatan Tia

    Setelah insiden di warung makan, suasana di antara Adit dan Tia menjadi sedikit canggung. Tia tampak gelisah, beberapa kali melirik ke belakang, seolah takut Dewa masih mengikutinya. Adit, yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya, akhirnya membuka suara."Tia, kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil tetap fokus mengendarai motornya.Tia terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Aku nggak tahu, Dit. Rasanya aku capek banget." Suaranya lirih, nyaris tenggelam di antara deru kendaraan yang melintas.Mereka terus melaju di jalanan yang mulai lengang, lampu-lampu jalan menerangi trotoar yang kosong. Beberapa menit kemudian, Adit membelokkan motornya ke arah kos-kosan Tia. Ia memarkir kendaraan di depan pagar, lalu menoleh ke arah gadis itu yang masih duduk diam di boncengan."Mau ngobrol sebentar?" tawar Adit.Tia menatapnya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Di depan aja, ya. Aku nggak mau teman-teman kos lihat aku kayak gini."Mereka pun duduk di bangku k

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-12
  • Tukang Pijat Tampan   Klien Muda Bernama Mira

    Adit baru saja menyelesaikan pijatannya untuk Mira, dan ia bisa melihat betapa puasnya wanita itu. Mira berbaring beberapa saat, menikmati efek pijatan yang masih terasa di tubuhnya.Setelah sesi pijat selesai, Mira duduk di tepi ranjang dengan wajah masih sedikit memerah. Tubuhnya terasa ringan, nyaris seperti melayang. Ia merapikan rambutnya sambil tersenyum puas, lalu menatap Adit dengan sorot mata yang sulit dijelaskan."Adit, kamu benar-benar luar biasa. Aku belum pernah merasakan pijatan seperti ini sebelumnya," katanya, suara lembutnya mengandung kekaguman yang tulus. "Kamu harus jadi terapis pribadi buatku. Ya nggak Cel, ia menoleh ke arah lain.Adit ikut menoleh, ke belakang dan sedikit terkejut, “Eh, sejak Kapan Ibu ada di sana?”“Belum lama!” balas Celina sambil tersenyum. “Kamu sih, fokus banget sampai nggak sadar aku masuk ruangan ini dan duduk di sini!”"Gila, Dit... tanganku sampai kesemutan saking rileksnya," kata Mira sambil tertawa kecil. Ia perlahan bangkit dan dudu

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-13
  • Tukang Pijat Tampan   Rencana Busuk Pak Rudi

    Lewat tengah hari, Adit sudah agak pesimis akan mendapatkan klien lagi. Ruang istirahat terapis itu sepi. Hanya dia seorang yang ada di sana. Yang lain sudah mendapatkan klien.‘Ya sudah, nikmati saja waktu luang ini!’ adit tidur-tiduran di kursi.Sementara itu, di depan, ada satu klien baru yang menarik perhatian sejak awal kedatangannya. Seorang wanita bertubuh besar dengan pakaian mewah masuk ke lobi dengan langkah penuh percaya diri."Saya mau pijat," katanya tegas kepada resepsionis. "Dan saya hanya mau dipijat oleh Adit."Resepsionis, yang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam pelanggan, tersenyum sopan. "Maaf, Bu. Apa Ibu sudah pernah ke sini sebelumnya?"Wanita itu mengibaskan tangan dengan tidak sabar. "Belum, tapi teman saya, Nesya, bilang kalau pijatan anak itu luar biasa. Jadi saya harus mencobanya!"Celina, yang kebetulan berada di dekat meja resepsionis, mendengar percakapan itu. Ia segera menghampiri."Selamat datang, Bu... Desi, ya? Saya Celina, manajer di sini. Tad

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-21
  • Tukang Pijat Tampan   Teman Baru

    Sore itu, selepas kerja, Adit dan Tia berjalan berdampingan menuju sebuah pusat perbelanjaan. Tujuan mereka sederhana: membeli ponsel baru untuk Adit. Pria itu tidak pernah memiliki ponsel bagus sebelumnya, dan kini, dengan uang tips yang ia kumpulkan, ia akhirnya bisa membeli satu yang layak."Jadi, kamu udah ada bayangan mau beli yang mana?" tanya Tia sambil melirik ke arah Adit yang tampak sedikit canggung.Adit menggaruk kepalanya. "Nggak terlalu ngerti, sih. Yang penting bisa buat WhatsApp, Instagram, dan kameranya lumayan. Tapi harganya nggak lebih dari dua juta."Tia tersenyum. "Oke, kalau gitu kita cari yang speknya bagus buat harga segitu. Ada kok, tenang aja."Mereka masuk ke sebuah toko ponsel yang cukup ramai. Rak-rak kaca di dalamnya dipenuhi berbagai model ponsel dari yang murah sampai yang mahal. Seorang penjaga toko segera menyambut mereka dengan ramah."Selamat datang, Kak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko itu.Tia langsung mengambil alih percakapan. "Mas

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-22
  • Tukang Pijat Tampan   Kakek Tua Misterius

    Setelah selesai makan, Tia mengajak Adit mampir ke sebuah minimarket yang tak jauh dari warung kaki lima tempat mereka makan. "Aku mau beli beberapa barang sebentar, kamu ikut ke dalam atau tunggu di luar aja?" kata Tia sambil tersenyum."Oke, santai aja. Aku tunggu di sini," jawab Adit, menyandarkan tubuhnya ke motor dan mengeluarkan ponsel barunya, mengutak-atik fitur yang masih asing baginya. Semua itu terlalu membingungkan. Nanti ia ingin minta tolong Tia untuk mengajarinya. Tadi dia masih gengsi saat hendak bertanya di penjual HP.Saat Adit tengah sibuk dengan ponselnya, seorang pria tua berpakaian lusuh mendekatinya. Rambutnya berantakan, wajahnya penuh keriput, dan sorot matanya tampak tajam meski tubuhnya terlihat renta."Anak muda," panggil pria tua itu dengan suara serak.Adit mendongak, sedikit terkejut. Ia berpikir pria itu mungkin hanya seorang pengemis yang ingin meminta uang. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, pria tua itu melanjutkan, "Kau memiliki sesuatu ya

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-23
  • Tukang Pijat Tampan   Janji Ketemuan Dengan Larasati

    Ia meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur, lalu membaringkan diri. Otaknya masih sibuk memikirkan banyak hal.Setelah beberapa menit menunggu, Adit melihat layar ponselnya menyala. Sebuah pesan dari Larasati muncul.Larasati: Adit? Tumben chat aku. Ada apa?Adit tersenyum kecil, lalu mengetik balasan.Adit: Nggak apa-apa. Pengen tanya kabar aja.Tak lama kemudian, layar ponselnya kembali menyala, tetapi kali ini dengan panggilan masuk dari Larasati. Adit terkejut sebentar sebelum buru-buru mengangkatnya."Halo?" suara Adit terdengar sedikit ragu."Hei, Adit! Kabarku baik. Kamu gimana?" suara Larasati terdengar renyah di seberang sana.“Aku baik kok. Kamu, nggak ada masalah lagi sama orang-orang waktu itu kan?” tanya Adit.Agak lama Larasati tidak menjawab. Namun ia kemudian bertanya, "Besok malam kamu ada waktu nggak? Aku mau ngajak kamu ketemuan.""Besok malam? Habis kerja?" Adit berpikir sejenak. "Bisa sih. Ketemuan di mana?""Aku tahu tempat yang asik buat ngobrol santai

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-23

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Bertemu Ratna Lagi

    Adit berdiri di tepi jalan, menatap layar ponselnya, hendak memesan ojek baru. Ia menghela napas panjang. Sial juga, baru separuh perjalanan dan kini ia harus keluar uang lagi untuk sampai ke rumah. Tapi sebelum sempat menekan tombol pemesanan, suara deru mesin mobil menarik perhatiannya.Sebuah mobil merah cerah melambat dan berhenti tepat di depannya. Adit mengerutkan kening, merasa tak asing dengan kendaraan itu. Benar saja, saat jendela sisi pengemudi terbuka, wajah Ratna muncul dengan senyum lebar."Lho, Adit? Kok bisa di sini?" sapa Ratna dengan nada riang.Adit mendekat ke jendela, masih sedikit terkejut. "Eh, Kak Ratna? Kebetulan sekali. Aku baru mau pesan ojek."Ratna tertawa kecil. "Kebetulan apanya? Jangan-jangan ini takdir? Mau ke mana malam-malam begini?""Pulang, Kak. Tadi ada urusan sedikit." Adit menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Hmm... kalau begitu, ikut aku saja. Aku juga lagi cari teman makan malam. Kamu lapar, kan?"Adit menatap Ratna sejenak, lalu melirik per

  • Tukang Pijat Tampan   Iwan Gelap Mata

    Adit berjalan santai ke luar klinik setelah jam kerja berakhir. Hari itu cukup melelahkan, lebih tepatnya lelah di pikiran sebab ia tak mendapatkan klien selama seharian itu.Tetapi ia tetap merasa tenang. Ia hanya tak mendapatkan tips mungkin. Atau bonus yang hanya diperoleh dari banyaknya klien yang ia tangani. Namun tetap mendapatkan gaji tetap.Di titik itu, sebetulnya Ranu kepikiran saran Larasati; pindah tempat kerja, menjadi terapis di klinik lain. Namun ia tak mau menyerah begitu saja. Lagipula, ia belum lama bekerja. Jika tiba-tiba keluar, pengalaman kerjanya di tempat itu masih belum cukup valid untuk digunakan melamar di tempat lain.Di dekat pintu keluar, Tia sudah berdiri dengan senyum cerahnya."Adit! Pulang bareng, yuk?" sapanya riang.Adit tersenyum tipis. "Aku naik ojek, motorku masih di bengkel. Tadi pagi aku tinggal gitu aja!""Oh iya, aku lupa. Ya sudah, ayo kita pesan ojol aja!” kata Tia.“Kamu kenapa nggak bawa motor sendiri, Tia? Kayaknya sebelum ini kamu bawa m

  • Tukang Pijat Tampan   Peringatan Iwan

    Iwan masih duduk di meja bersama Anton dan Cindy, sesekali menyeruput es teh manisnya sambil melontarkan keluhan tentang Adit. Ia masih kesal karena Tia menolak tawarannya untuk diantar pulang kemarin sore."Gue nggak ngerti, kenapa Tia lebih milih Adit daripada gue?" Iwan menggerutu, mengaduk es teh di depannya dengan kasar.Anton terkekeh. "Bro, lo terlalu serius. Siapa tahu dia cuma kasihan sama Adit.""Iya, kan. Aku juga mikir gitu. Tia itu ramah dan baik orangnya. Apalagi Adit selalu ditindas Pak Rudi! Semua juga tahu soal itu. Dan nggak ada yang mau dekat dengan Adit karena takut sama Pak Rudy!” tambah Cindy, setengah bercanda. "Mungkin dia cuma baik doang."Iwan mendengus. "Kasihan gimana? Jelas-jelas beda! Kalau cuma kasihan, kenapa dia nolak gue buat anterin pulang? Nggak masuk akal, kan?"Namun, sebelum ada yang sempat menjawab, terdengar suara yang tidak asing.Iwan menoleh, dan seketika wajahnya menegang. Tia masuk bersama Adit. Mereka terlihat akrab, berbincang ringan sam

  • Tukang Pijat Tampan   Sedikit Rahasia Larasati

    Adit melangkah masuk ke dalam kafe, matanya langsung menangkap sosok Larasati yang duduk di dekat jendela besar. Wanita itu tampak santai dengan secangkir kopi di hadapannya, mengenakan blouse putih dengan rambut panjangnya yang tergerai. Begitu melihat Adit, ia tersenyum dan melambaikan tangan."Akhirnya datang juga," ujar Larasati saat Adit duduk di depannya."Macet, maaf kalau lama." Adit tersenyum ringan, meletakkan ponselnya di meja."Santai saja. Aku juga baru beberapa menit di sini. Mau pesan apa?" tanya Larasati sambil menyodorkan menu.Adit melihat sekilas daftar menu, lalu memutuskan, "Kopi hitam saja."Larasati mengangguk dan memanggil pelayan untuk memesan minuman Adit. Setelah itu, ia menatap lelaki itu dengan tatapan jahil. "Jadi, gimana kabarnya terapis muda kita? Ada cerita seru di tempat kerja?"Adit terkekeh. "Ada, tapi kebanyakan cerita sial. Motorku mogok tadi pagi, terus di tempat kerja juga dipersulit."“Dipersulit? Sama atasan?”“Ya. Supervisorku itu, sejak awal

  • Tukang Pijat Tampan   Janji Ketemuan Dengan Larasati

    Ia meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur, lalu membaringkan diri. Otaknya masih sibuk memikirkan banyak hal.Setelah beberapa menit menunggu, Adit melihat layar ponselnya menyala. Sebuah pesan dari Larasati muncul.Larasati: Adit? Tumben chat aku. Ada apa?Adit tersenyum kecil, lalu mengetik balasan.Adit: Nggak apa-apa. Pengen tanya kabar aja.Tak lama kemudian, layar ponselnya kembali menyala, tetapi kali ini dengan panggilan masuk dari Larasati. Adit terkejut sebentar sebelum buru-buru mengangkatnya."Halo?" suara Adit terdengar sedikit ragu."Hei, Adit! Kabarku baik. Kamu gimana?" suara Larasati terdengar renyah di seberang sana.“Aku baik kok. Kamu, nggak ada masalah lagi sama orang-orang waktu itu kan?” tanya Adit.Agak lama Larasati tidak menjawab. Namun ia kemudian bertanya, "Besok malam kamu ada waktu nggak? Aku mau ngajak kamu ketemuan.""Besok malam? Habis kerja?" Adit berpikir sejenak. "Bisa sih. Ketemuan di mana?""Aku tahu tempat yang asik buat ngobrol santai

  • Tukang Pijat Tampan   Kakek Tua Misterius

    Setelah selesai makan, Tia mengajak Adit mampir ke sebuah minimarket yang tak jauh dari warung kaki lima tempat mereka makan. "Aku mau beli beberapa barang sebentar, kamu ikut ke dalam atau tunggu di luar aja?" kata Tia sambil tersenyum."Oke, santai aja. Aku tunggu di sini," jawab Adit, menyandarkan tubuhnya ke motor dan mengeluarkan ponsel barunya, mengutak-atik fitur yang masih asing baginya. Semua itu terlalu membingungkan. Nanti ia ingin minta tolong Tia untuk mengajarinya. Tadi dia masih gengsi saat hendak bertanya di penjual HP.Saat Adit tengah sibuk dengan ponselnya, seorang pria tua berpakaian lusuh mendekatinya. Rambutnya berantakan, wajahnya penuh keriput, dan sorot matanya tampak tajam meski tubuhnya terlihat renta."Anak muda," panggil pria tua itu dengan suara serak.Adit mendongak, sedikit terkejut. Ia berpikir pria itu mungkin hanya seorang pengemis yang ingin meminta uang. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, pria tua itu melanjutkan, "Kau memiliki sesuatu ya

  • Tukang Pijat Tampan   Teman Baru

    Sore itu, selepas kerja, Adit dan Tia berjalan berdampingan menuju sebuah pusat perbelanjaan. Tujuan mereka sederhana: membeli ponsel baru untuk Adit. Pria itu tidak pernah memiliki ponsel bagus sebelumnya, dan kini, dengan uang tips yang ia kumpulkan, ia akhirnya bisa membeli satu yang layak."Jadi, kamu udah ada bayangan mau beli yang mana?" tanya Tia sambil melirik ke arah Adit yang tampak sedikit canggung.Adit menggaruk kepalanya. "Nggak terlalu ngerti, sih. Yang penting bisa buat WhatsApp, Instagram, dan kameranya lumayan. Tapi harganya nggak lebih dari dua juta."Tia tersenyum. "Oke, kalau gitu kita cari yang speknya bagus buat harga segitu. Ada kok, tenang aja."Mereka masuk ke sebuah toko ponsel yang cukup ramai. Rak-rak kaca di dalamnya dipenuhi berbagai model ponsel dari yang murah sampai yang mahal. Seorang penjaga toko segera menyambut mereka dengan ramah."Selamat datang, Kak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko itu.Tia langsung mengambil alih percakapan. "Mas

  • Tukang Pijat Tampan   Rencana Busuk Pak Rudi

    Lewat tengah hari, Adit sudah agak pesimis akan mendapatkan klien lagi. Ruang istirahat terapis itu sepi. Hanya dia seorang yang ada di sana. Yang lain sudah mendapatkan klien.‘Ya sudah, nikmati saja waktu luang ini!’ adit tidur-tiduran di kursi.Sementara itu, di depan, ada satu klien baru yang menarik perhatian sejak awal kedatangannya. Seorang wanita bertubuh besar dengan pakaian mewah masuk ke lobi dengan langkah penuh percaya diri."Saya mau pijat," katanya tegas kepada resepsionis. "Dan saya hanya mau dipijat oleh Adit."Resepsionis, yang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam pelanggan, tersenyum sopan. "Maaf, Bu. Apa Ibu sudah pernah ke sini sebelumnya?"Wanita itu mengibaskan tangan dengan tidak sabar. "Belum, tapi teman saya, Nesya, bilang kalau pijatan anak itu luar biasa. Jadi saya harus mencobanya!"Celina, yang kebetulan berada di dekat meja resepsionis, mendengar percakapan itu. Ia segera menghampiri."Selamat datang, Bu... Desi, ya? Saya Celina, manajer di sini. Tad

  • Tukang Pijat Tampan   Klien Muda Bernama Mira

    Adit baru saja menyelesaikan pijatannya untuk Mira, dan ia bisa melihat betapa puasnya wanita itu. Mira berbaring beberapa saat, menikmati efek pijatan yang masih terasa di tubuhnya.Setelah sesi pijat selesai, Mira duduk di tepi ranjang dengan wajah masih sedikit memerah. Tubuhnya terasa ringan, nyaris seperti melayang. Ia merapikan rambutnya sambil tersenyum puas, lalu menatap Adit dengan sorot mata yang sulit dijelaskan."Adit, kamu benar-benar luar biasa. Aku belum pernah merasakan pijatan seperti ini sebelumnya," katanya, suara lembutnya mengandung kekaguman yang tulus. "Kamu harus jadi terapis pribadi buatku. Ya nggak Cel, ia menoleh ke arah lain.Adit ikut menoleh, ke belakang dan sedikit terkejut, “Eh, sejak Kapan Ibu ada di sana?”“Belum lama!” balas Celina sambil tersenyum. “Kamu sih, fokus banget sampai nggak sadar aku masuk ruangan ini dan duduk di sini!”"Gila, Dit... tanganku sampai kesemutan saking rileksnya," kata Mira sambil tertawa kecil. Ia perlahan bangkit dan dudu

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status