Biasanya ruang makan ini penuh dengan suasana kehangatan, namun tidak dengan malam ini, Deffin tidak bisa menutupi rasa gelisahnya, wajah Deffin tampak murung, sehingga membuat Azkia tidak nyaman melihatnya.
"Sepertinya aku harus menyelesaikan masalah ini dengan segera, maaf mungkin aku sedikit keras kepala, tapi ini demi kebaikan kita semua untuk kedepannya," batin Azkia.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus jujur mengatakan semuanya malam ini? Tapi aku takut melihat Kia nanti pasti kesakitan karena mencoba memaksa mengingat semua yang aku ceritakan nanti," batin Deffin.
Setelah makan malam selesai, Deffin yang biasanya melanjutkan pekerjaan kantornya yang belum selesai di ruang kerjanya, namun tidak dengan hari ini, hatinya sedang kacau hingga dia mengikuti Azkia masuk ke dalam kamar.
Azkia yang sudah duduk di tepi ranjang membuka suaranya ketika melihat Deffin yang sudah berdiri di hadapannya.
"Sayang, apa kamu tidak ingin mengatakan sesua
Azkia yang sudah pergi pagi-pagi buta, kini berada di dalam mobil, dia hanya minta ditemani dua pengawal saja, hanya antisipasi agar tidak ada kesalahan pahaman yang terjadi kedepannya.Bahkan pengawal itu dibiarkan mengawasi dari jarak dekat, waktu yang ditempuh Azkia cukup jauh, hingga pikirannya bisa berkelana memikirkan tentang mimpinya semalam.Sangat jelas bayangan kejadian kecelakaan beberapa tahun lalu yang membuatnya hilang ingatan.****************Pagi yang cerah, dua anak manusia ini asyik mengobrol di taman belakang panti, anak laki-laki yang duduk di bangku kelas 3 SMA itu tidak bosan membuat jengkel anak perempuan yang masih duduk di kelas 2 SMP."Ish! Kak, aku hanya berteman dengan mereka, kenapa kamu mengancam semua temanku, sekarang aku jadi tidak punya teman di sekolah," ujar Azkia dengan cemberut.Kini hanya ada sedikit anak perempuan yang mau berteman dengan Azkia, karena ini semua ulah Deffin."Aku hanya menganca
Berita pingsannya Azkia membuat heboh seluruh kota ini, ralat bahkan mungkin seluruh negeri ini.Deffin yang mendapat kabar dari pengawal bahwa Azkia pingsan dan di bawa ke rumah sakit miliknya. Tanpa pikir panjang langsung berlari, bahkan dia tidak mempedulikan penampilannya, piyama tidur masih melekat di tubuhnya, bahkan rambutnya acak-acakan.Baru teringat belum cuci muka dia langsung menuju dapur untuk cuci muka, kebetulan ada Erwin di sana, dia langsung memberikan perintah."Telepon Roy untuk datang ke rumah sakit, dan jangan lupa siapkan anak buahmu juga, mungkin kita akan memerlukannya.""Memangnya ada apa Tuan?""Azkia pingsan ketika bertemu si brengsek itu," ujarnya dengan penuh kemarahan sambil berlalu.Sedangkan Erwin yang mendengar pingsannya Azkia langsung lari dan mendahului Deffin, dia membuka pintu belakang untuk mempersilahkan Deffin masuk, sengaja memilih mobilnya sendiri karena di jok belakang ada berbagai senjata yang sel
Cukup lama menghabiskan waktu di kamar mandi, kini Azkia dan Deffin sudah memakai baju ganti yang sudah disediakan Roy.Sekarang Deffin sedang mengeringkan rambut panjang Azkia, setelah Deffin menyisirnya rapi, Azkia mengutarakan keinginannya."Sayang, suruh mereka masuk ya, aku ingin berbicara dengan mereka, sudah lama 'kan kita tidak mengobrol bersama.""Tidak, kamu harus banyak istirahat, setelah kamu diperiksa kita langsung pulang, aku benci berada di rumah sakit karena mengingatkan kamu dulu ketika koma," ujarnya dengan langsung memeluk Azkia."Apa dulu kamu juga selalu menemaniku?" tanya Azkia antusias."Tentu saja Nona, bahkan Tuan Muda selalu ada di samping Nona, dia hanya akan pergi ke kantor jika benar-benar darurat saja."Deffin tidak menjawab karena sudah dijawab dokter pribadi Azkia yang masuk ruangan itu untuk memeriksa.Azkia memandang Deffin penuh haru, dia sangat beruntung mengenal Deffin, Deffin selalu
Setelah menyelesaikan satu ronde malam panas, mereka berpelukan dengan napas yang masih terengah-engah."Ayo ceritakan, aku sudah membayar dengan apa yang kamu mau," ujar Azkia dengan pipi yang masih merona."Itu tadi hanya DP saja, hutangmu akan lunas jika kamu mau di atas," balas Deffin dengan seringai menyebalkan.Azkia yang akan menjawab dipotong cepat oleh Deffin."Aku akan menceritakan betapa tersiksanya ketika aku hanya bisa memandangmu dari jauh tanpa bisa mendekat bahkan menyentuhmu."Deffin memulai pembicaraannya dengan mengecup puncak kepala Azkia, ada setitik air yang jatuh dari matanya, teringat siksaan rindu yang menggunung itu akan sampai kapan bisa berakhir."Aku dahulu selalu menempatkan pengawal bayangan untuk mengawasimu, tapi jika ada waktu luang aku yang akan mengawasimu sendiri. Kamu tidak tahu dulu betapa hancurnya hatiku saat kamu tidak mengingatku waktu pertama kali kamu membuka mata, tapi kamu bisa mengingat ibu pen
Pagi ini setelah sarapan Deffin dan Azkia kembali ke kamar, hari ini dan beberapa hari selanjutnya Deffin mengambil cuti, dia sedang ingin mengganti beberapa tahun penderitaannya dengan mengurung Azkia seharian di kamar."Sayang, tapi besok kita keluar ya, aku ingin jalan-jalan seharian sama kamu," ujar Azkia manja.Kini mereka berdua sedang duduk di sofa."Masa iya selama kamu libur, aku terkurung di dalam kamar, bisa rontok semua tulangku nanti," batin Azkia.Terdengar Deffin mendengus, tapi melihat wajah Azkia yang menggemaskan membuatnya tidak bisa menolak keinginan istri kesayangannya itu."Baiklah," ujarnya dengan malas. Azkia tersenyum senang, lalu mencubit kedua pipi Deffin."Ayo sekarang ceritakan tentang Erwin, aku penasaran kenapa kamu bisa menahan diri untuk tidak memarahinya."Deffin menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, lalu tangannya menarik kepala Azkia agar bersandar di badannya, mata Deffin menerawang langit-langi
Jingga mulai menampakkan keindahannya, Azkia dan Deffin baru selesai mandi, dengan telaten Deffin memakaikan baju Azkia, sedangkan dirinya masih menggunakan jubah mandi."Aku akan mengeringkan rambutmu setelah aku berganti pakaian," ujar Deffin lembut sambil sedikit tergelak melihat wajah cemberut Azkia.Setelah mengucapkan itu Deffin menggendong Azkia, dengan pelan dia merebahkan tubuh Azkia, membenarkan posisinya agar bisa bersandar di ranjang dengan nyaman."Huh, badanku benar-benar remuk, bagaimana bisa dia sekuat itu, seolah tenaganya tidak bisa habis, Aaa ... aku ingin pijat ...." ujar Azkia dalam hati.Tidak lama kemudian Deffin keluar dari ruangan walk in closet dengan baju santainya, dia tidak bisa berhenti tersenyum melihat wajah kesal Azkia.Sesuai perkataannya, dia mengeringkan rambut Azkia dengan handuk, dan sesekali memberi pijatan lembut di kepala Azkia berharap perasaan kesal sang istri bisa hilang."Sayang, kamu kok masih ce
Hari ini Azkia tampak ceria, karena hari ini dia akan jalan-jalan bersama Deffin, ini bukan kali pertamanya tapi entah mengapa dia merasa seperti baru pertama kali kencan dengan pasangannya.Rasa pegal di badannya telah hilang, karena semalam dia dipijat sama lelaki tampan, siapa lagi kalau bukan Deffin. Azkia merasa sangat beruntung mempunyai suami seperti Deffin, dia hanya harus bersabar menghadapi sifat menjengkelkan suaminya.Kini Azkia dan Deffin sedang menuruni tangga untuk sarapan, senyum Azkia semakin lebar ketika melihat Erwin dan Roy, sepertinya Azkia harus mulai menjalankan misinya untuk memperbaiki hubungannya mereka dengan Arnold."Kia sayang, aku tinggal ambil dompet dulu di kamar," ujar Deffin sambil mengusap pipi Azkia lalu melenggang pergi, Azkia hanya mengangguk karena mulutnya masih penuh makanan.Setelah Azkia menghabiskan sarapannya, dia langsung mencari Roy. Langkah kakinya membawanya menuju teras depan, terlihat Roy sedang duduk di
Hari ini sedikit menegangkan buat Azkia, karena nanti malam Azkia berencana mempertemukan Arnold dengan Deffin dan juga Erwin.Semua sesuai yang sudah diatur Roy, mereka akan dipertemukan di panti asuhan. Nanti akan diadakan acara makan malam bersama, dimana semua para donatur juga turut diundang dalam acara tersebut, sebagai ungkapan rasa terima kasih karena panti tidak pernah kekurangan apapun, berkat orang-orang dermawan seperti mereka.Azkia yang sedang mengantar makan siang Deffin ke kantor, tersenyum ketika berpapasan dengan Roy yang baru saja keluar dari ruangan Deffin."Terima kasih untuk semuanya Sekretaris Roy," ujar Azkia tulus sambil memberikan senyuman manis.Roy hanya memandang Azkia sekilas ketika berbicara, lalu dengan cepat mengalihkan pandangan dengan menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban. Dalam hati dia membatin, "Tidak tahukah Anda nona, jika senyuman Anda bisa menyebabkan malapetaka. Kenapa aku baru tahu kalau kecantikan nona