The Wife He Wants Back!

The Wife He Wants Back!

last updateLast Updated : 2025-04-11
By:  Jane Samuel Completed
Language: English
goodnovel18goodnovel
9.7
146 ratings. 146 reviews
322Chapters
162.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Valerie is served divorce papers from her husband, Hudson, after being accused of a crime she did not commit. A crime against the very woman Hudson wouldn’t stop thinking about, his foster sister. Filled with anger and heartbreak at her husband’s downright neglect in all their three years of mariage, Valerie signs the divorce papers and walks out on Hudson. Not knowing that, this singular act finally caught his eye. Despite his relationship with his foster sister, Hudson secretly searches for Valerie after her abrupt disappearance, all to no avail. Until finally, after 5 years, Valerie shows up as the remarkable and intriguing CEO of the top 10 leading furnishing and design companies in the city, completely sweeping Hudson off his feet with her newfound confidence and elegance.What happens when Hudson suddenly finds himself wanting to be with the very woman he rejected? What happens when he discovers Valerie was pregnant for him and his kids want him, but Valerie has moved on? Follow me on social media 🤗 authorjane_sam for IG &Tiktok Author Jane for Facebook. Thank you 😘.

View More

Chapter 1

Chapter 1

“Nomor lima puluh, ya, Pak?”

Kananta mengangguk tanpa suara. Map pasien di tangan seolah bata panas yang baru keluar dari tungku. Ruang tunggu klinik andrologi terasa seperti ruang sidang hukuman—semua mata seolah mengawasinya, seolah tahu rahasia yang dia sembunyikan.

Baru duduk lima menit, seorang ibu-ibu dengan aroma minyak kayu putih yang menyengat langsung mendekat, mencondongkan tubuh sampai hidungnya hampir bersentuhan dengan pipinya.

“Mas ganteng,” katanya dengan nada yang diklaim ‘pelan’ tapi volumenya sekeras sirine kebakaran, “datang ke sini karena suka jajan, ya?”

Kananta tersedak, ludahnya tercekik di tenggorokan. “B-bukan. Nggak. Saya cuma periksa rutin.”

“Oh, rutin jajan?” Ibu itu menaikkan alis dengan ekspresi yang seolah dia tahu segalanya. “Saya ngerti kok. Anak sekarang banyak yang begitu. Tubuh Mas ini atletis banget. Cocok banget jadi gigolo, lho. Duitnya gede, ya?”

Tertawa pecah dari semua sudut ruangan. Seorang abang baju biru batuk-batuk menahan ngakak sampai wajahnya kemerahan.

Kananta langsung menutup muka dengan map pasien. “Bu, suaranya bisa dikecilin nggak? Tolong, ya.”

“Maaf, Mas,” katanya dengan nada sopan—tapi lalu langsung meningkatkan suaranya sampai seratus desibel, “Mas butuh uang banget, yaaaa?!”

Seorang pria yang lagi minum air langsung nyembur, cairan itu terbang ke meja depan. Semua orang makin ngakak kencang.

Kananta merosot ke kursi, punggungnya melekat di sandaran. “Ya Tuhan … tolong turunkan meteor di tempat ini.”

Seorang bapak paruh baya dengan kumis putih duduk di sebelahnya, menepuk bahunya dengan kekerasan yang pas. “Santai, Mas. Semua pasien pertama kali kayak gitu. Grogi banget. Karena dokternya cantik soalnya.”

“Maksudnya?” Kananta melotot.

“Dokter androlog barunya cewek. Cantik abis. Tegas. Banyak pasien bilang puas banget.”

“Puas apanya?!”

“Ya puas … pelayanan lah, Mas.” Bapak itu kedip-kedip nakal, matanya berbinar. “Pelayanan yang komprehensif.”

Brengsek. Kananta mau menyindir tapi bibirnya kaku.

Tiba-tiba pengeras suara berbunyi, bunyinya seperti lonceng kematian.

“Bapak Kananta Maherza, ruang dua. Dokter Zinia menunggu.”

Jantung Kananta seolah mogok sejenak, lalu berdebar kencang sampai dia bisa merasakannya di telinganya.

Ia berdiri lambat, langkahnya seperti orang yang menuju tiang gantungan. Saat sampai di depan pintu ruangan, seorang kakek keluar dengan wajah cerah seperti habis dapat BLT tiga kali lipat ditambah bonus sembako.

“Wah! Dokternya cantik banget!” seru si kakek sambil melompat-lompat sedikit. “Tangan beliau nyentuh saya, langsung dug dug dug! Semangat hidup saya naik lagi kayak muda-muda!”

“Bukan jantungnya, Kek,” teriak seorang pasien dari balik pintu, “itu cuma efek placebo!”

Satu ruangan meledak ngakak. Kananta memejamkan mata, jari-jari memegang gagang pintu sampai putih.

Ia masuk, menutup pintu rapat-rapat seolah mau menutup semua kebodohan di luar. Dan tubuhnya langsung membeku.

Jas putih yang rapi. Kacamata tipis di hidung yang mancung. Ekspresi tenang yang mematikan—seolah dia bisa membaca semua pikiran yang berlarian di kepala Kananta.

“Selamat siang, Pak Kananta. Silakan duduk.”

Suara itu. Tatapan itu. Semuanya terlalu akrab.

“ … Zinia?”

Dokter itu mengangkat wajah dari kertas yang dia baca, tersenyum tipis sampai ada kerut di sudut mata. “Oh. Kamu masih ingat.”

Kananta terpaku di tempatnya, mata tak bisa bergerak. “Kamu, berubah.”

“Berubah lebih baik, mudah-mudahan,” jawab Zinia. Ia merapikan sanggul yang rapi di belakang kepala dengan jari yang ramping, menggeser kacamatanya sedikit ke bawah, lalu berdiri. “Kamu terlihat lebih tua.”

“Terima kasih. Kamu terlihat … jauh. Beda.”

“Beda bagaimana?” Zinia mendekat dua langkah, jarak antara mereka sekarang cuma beberapa sentimeter. Udara di ruangan tiba-tiba terasa padat.

“Beda semua,” gumamnya lirih, lidahnya kaku.

“Penjelasan yang sangat ilmiah, Pak Kananta.” Zinia tertawa kecil, suaranya merdu tapi ada nada menyakitkan. “Silakan duduk. Kita mulai kerja.”

Kananta duduk dengan kecepatan yang terlalu cepat, kursinya bersuara ‘krek’. Zinia mengambil map pasiennya dengan ujung jarinya, seolah tak mau menyentuhnya langsung. “Keluhan apa?”

“Tidak ada.”

“Oh?” Zinia menaikkan satu alis, matanya menyipit seperti laser. “Jadi ke sini buat apa? Nostalgia ke klinik androlog?”

Kananta terbatuk keras, tenggorokannya terasa kering. “Ini pemeriksaan rutin.”

“Rutin jajan?” Zinia balik menyerang, bibirnya sedikit memutar. “Seperti yang ibu itu katakan tadi?”

“Bukan! Astaga jangan mulai dulu, ya.”

“Oh, jadi kamu mudah tersinggung sekarang.” Zinia menulis sesuatu di map dengan pena yang cepat. “Dulu kamu lebih lucu. Bisa ngebalik omongan orang tanpa marah.”

“Aku lucu? Dulu kamu … lebih kecil.”

Zinia berhenti menulis. Matanya menatapnya dengan tegas, seolah mau menusuk. “Apanya?”

“Bukan … bukan gitu.” Kananta panik, mata membolak-balik. “Maksudku kamu sekarang lebih gede … eh … dewasa.”

“Bagian mana?” Zinia menyilangkan tangan di depan dada, jas putihnya sedikit menegang.

“Semua,” jawab Kananta tanpa sadar, mata sudah tak bisa lepas dari lekuk tubuh Zinia. Dulu, dia adalah gadis manis dengan tubuh kurus yang selalu pakai baju lebar. Sekarang dia adalah wanita dewasa dengan lekuk yang menggoda. Dadanya membusung sempurna di balik jas, pinggulnya melengkung indah, dan kakinya jenjang terbungkus stocking hitam yang membuat mata terjepit.

Zinia tersenyum. “Baik. Kita lanjut pemeriksaan tekanan darah. Biar aku lihat apakah ‘semua’ itu bikin tekananmu naik.”

Ia mendekat lagi, langkahnya lembut tapi pasti. Lampu ruangan seolah lebih fokus ke dua orang itu, membuat bayangan mereka saling bertumpuk. Zinia meraih lengan Kananta yang tergulung, memasang manset tensimeter dengan gerakan yang profesional.

“Tarik napas.”

Tangan Zinia menyentuh kulitnya—lembut, tapi membuat kanvas kulit Kananta terbakar. Dia menarik napas dengan susah payah.

“Buang napas.”

Kananta menegang seperti tiang listrik yang terhubung arus, otot-ototnya kaku semuanya.

“Kamu kaku banget,” komentar Zinia.

“Aku tidak kaku.”

“Kamu kaku bahkan sebelum aku sentuh. Lihat, tangannya kamu bergetar.”

“Itu fitnah.”

Zinia memompa manset perlahan, tekanan meningkat perlahan-lahan. “Tensi naik. 140/90. Apa karena aku?”

“Tidak.”

“Yakin?” Dia mendekat lebih jauh, napasnya menyentuh telinga Kananta.

“Tidak.”

Zinia tertawa kecil, suaranya merdu tapi membuat bulu kuduk berdiri. “Oke. Itu cukup. Kita pindah ke kursi pemeriksaan.”

“Harus sekarang?” Kananta melihat kursi yang berwarna biru muda di sudut ruangan, seolah itu adalah lubang buang sampah.

“Atau mau aku periksa di ruang tunggu? Biar semua orang lihat seberapa ‘tidak kaku’ kamu?” Zinia menunjuk pintu dengan dagu, ekspresinya tak tertandingi.

“Tidak.” Kananta berdiri dengan enggan, langkahnya berat. Saat Zinia berjalan ke arah kursi pemeriksaan, kemeja cream yang dia pakai di dalam jas—dua kancing atasnya terlepas tanpa dia sadari—benar-benar memperlihatkan lekuk dada yang membusung seperti gunung yang menantang.

Kananta menelan ludah. Ini bukan pemeriksaan, tapi penyiksaan medis level mantan ....

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ratings

10
96%(140)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
1%(1)
6
1%(1)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
1%(1)
1
2%(3)
9.7 / 10.0
146 ratings · 146 reviews
Write a review

reviewsMore

Lilys
Lilys
I just came across your new book… and it’s looking good so far . Looking forwards to more updates!
2025-06-13 07:48:42
2
1
Joan Cyril
Joan Cyril
The book is such a great page turner. I love how the author portrayed Valerie's emotions, it makes me want more it this. I see a lot of drama unfolding and that serves Hudson right.
2025-06-12 00:22:33
2
0
Verity Cart
Verity Cart
The book is so engaging!!! I love how the author portrayed every characters emotions throughout. especially Valerie's! definitely a page turner
2025-05-31 16:47:46
3
1
Jane Samuel
Jane Samuel
Hey guys, it's been a while! I'm truly grateful for the patience and love you gave to The Wife He Wants Back! Thank you so very much ...️ and also my second book is out now! Please do check it out and give it your support. I can't wait to see you! Muah!
2025-05-30 19:42:23
1
0
1234
1234
Nope, not for me. I hate writer who make their FL pathetic and take their POS back because he said sorry. Where are the writers who dont get off on abuse
2025-05-22 01:12:08
6
0
322 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status