LOGIN“If you think that you have been living in hell all your life, let me break that illusion for you,” Adrian said. He spoke slowly, his voice full of menace. “This place–this is true hell, right here, where I am. His statement, “In this place, death is not an escape, no matter how much you may yearn for it,” was enough to make the audience shudder, but all that tiny figure did was raise her lifeless, dull eyes. “Then help me, so I can remain here.” She replied, her voice barely above a whisper. ********************************** In a world ruled by loyalties and bloodlines, Kira, the first daughter of the strongest family in the American mafia, finds herself entangled in an unexpected twist of fate. She was betrothed since childhood to the second son of the Italian mafia’s don, due to a blood alliance between both families. She was raised alongside him and always considered him as her everything, while joyfully waiting for the day they would finally get married. To her, their love story was set in stone. However, on the day of the wedding, Kira's world as she knows it comes crumbling down when receives a shocking revelation — instead of her betrothed, a different groom appears at her wedding. And to top it off, he was dressed in a prison uniform. What happens when Kira finds herself thrust into the clutches of Adrian Vasillos the infamous ‘devil’ of the Italian mafia? Will she be able to navigate this world of danger, intrigue, betrayal, tested loyalties, and forbidden desires where she must come face to face with her deepest fears? Or will she finally discover the true meaning of love and get her happy ending? Read on to find out more in this twisted romance series…
View More“Lastri, maukah kamu menjadi pacarku?” Tiba-tiba Juned berdiri menghadang perjalanan Sulastri dan kedua temannya.
“Minggir kamu, dasar pria lemah,” ujar Sulastri dengan kasar kepada Juned. “Kamu itu tidak cocok ya bersanding dengan Lastri.” Celetuk salah satu teman Sulastri yang berdiri di sampingnya. Juned hanya tertunduk lesu sambil menggenggam seikat bunga mawar, mendengarkan cemoohan yang menyakiti hatinya. Juned sangat menyukai Sulastri yang merupakan anak Juragan Pasir di desa itu. Meski berkali kali cinta Juned ditolak. Sulastri membalas cinta Juned dengan cemoohan dan hinaan belaka. “Hei, Juned. Kamu itu harusnya berkaca dulu. Kamu itu siapa? Berani beraninya mendekati Sulastri.” Ujar teman Sulastri yang lain, sambil mendorong Juned. Juned terjengkang ke belakang, disambut tawa yang menggema ketiga gadis itu. “Hahaha, lihat dia teman-teman. Baru didorong begitu aja sudah jatuh.” Ucap Sulastri tertawa lepas. Kaos yang dipakai Juned kotor terkena tanah, dia tak mampu untuk bangkit melawan. Bukannya iba melihat kondisi Juned, Perlakuan Sulastri justru semakin menjadi-jadi. “Oh, jadi ini yang mau kamu berikan buat aku, hahaha!” Sulastri mengambil dengan kasar, seikat bunga mawar yang sedari tadi di genggam oleh Juned. “Makan ini bunga!!” Sulastri melempar dengan sekuat tenaga bunga mawar tersebut ke wajah Juned hingga bunga itu berhamburan di tanah. Tanpa rasa bersalah Sulastri dan kedua temannya melenggang pergi sambil tertawa puas meninggalkan Juned. Juned melangkah pulang dengan dipenuhi rasa kesal dan kesedihan. Hatinya tertembus kekecewaan dan penyesalan. “Kenapa harus aku yang seperti ini? Kenapa aku harus terlahir dari keluarga miskin? Kenapa aku terlahir dengan fisik yang lemah ini?” Pertanyaan itu yang selalu terngiang di pikiran Juned. Kampungnya mayoritas warga laki-lakinya bekerja di tambang pasir, sementara Juned adalah satu-satunya laki-laki di sana yang berprofesi sebagai seorang mantri sekaligus tukang pijat. Ia mewarisi sebuah klinik dan panti pijat peninggalan kakeknya. Sedangkan kualifikasi mantri ia dapatkan dari pelatihan utusan puskesmas untuk kampungnya. Sesampainya di rumah Juned tampak murung dan tak bergairah setelah mendapat penolakan disertai hinaan dari Sulastri. Dengan badan yang lemas dia duduk di sebuah bayang di depan rumah sambil menatap klinik yang berada di samping rumahnya. “Juned, kamu kenapa? Kok terlihat kurang semangat.” Sapa seorang wanita yang membuyarkan lamunan Juned. Wanita itu bernama Lilis, tantenya Juned. “Gak apa-apa kok, tante.” Balas Juned agak gelagapan karena lamunannya terhenti seketika. Tante Lilis seolah tahu apa yang sedang ada dalam pikiran keponakan satu satunya itu. “Apapun yang terjadi, Tante akan selalu mendukungmu.” Ucap Lilis sambil membelai dengan lembut pundak Juned, kemudian mendekap kepala Juned ke dadanya. Bagian bawah Juned tak bereaksi sama sekali meskipun kepalanya terbenam di area yang nikmat milik Lilis. “Terima kasih, Tante.” Ucap Juned, sambil tersenyum tipis. “Ngga perlu berterima kasih, Juned. Sudah tugas tante untuk merawatmu dan melindungimu. Dulu ibumu juga yang merawatku dan menjagaku, meski kami hanya saudara tiri tapi ibumu begitu sangat menyayangiku.” Dengan suara bergetar Lilis mengingat masa lalu ketika bersama kakaknya, yang tak lain adalah ibu dari Juned. "Sejak suamiku meninggal karena kecelakaan saat kerja di tambang, kamu adalah satu-satunya keluargaku." imbuh Lilis. Setelah mendengarkan nasehat dari Lilis, Juned merasa kembali bersemangat untuk menjalani kehidupannya lagi. Namun perasaan itu tak bertahan sampai sehari lamanya. Ibarat seperti rumah yang sudah dibersihkan kembali dikotori lagi. Sore harinya, ketika Juned hendak membeli stok obat ke apotek yang terletak di kota. Dia melewati gerombolan pemuda yang sedang asyik nongkrong di pinggir jalan. “Woii, Lembek. Mau ke mana kamu?!, hahaha” teriak ketua geng bernama Sugeng mengejek dengan keras, seketika menghampiri Juned yang berjalan dengan cepat. Sugeng langsung menarik tangan Juned dengan kasar. Membawanya mendekat ke arah teman temannya yang berwajah sangar dan lusuh, tak jauh beda dengan si Sugeng. “Kawan-kawan, ini si lembek dari kampung kita.” Sugeng kembali mengejek Juned yang hanya terdiam di tengah kerumunan, “Satu satunya pria di kampung kita yang memiliki jari lentik, hahaha.” Celetuk salah satu teman Sugeng, sambil menunjukkan tangan Juned kepada yang lain. “Maklum, bro. Tangannya Cuma bisa pijat punggung saja, beda sama kita kita yang penuh tenaga mengangkat pasir. Lakii!!” Sahut Sugeng sambil menunjukkan lengannya ala binaraga. Salah satu pria mendekati Juned, dan memperhatikannya dengan tatapan menghina. “Aku dengar dia menyatakan cinta kepada Sulastri. Saingan berat kamu ini, Sugeng.” Pria itu menepuk-nepuk wajah Juned. Sugeng tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan salah satu temannya. “Hahaha, yang benar saja. Dibanding sama aku ya beda jauh, badanku gagah perkasa dan kuat. Sulastri mana mau sama pria lembek dan lemah syahwat seperti dia.” Ucap Sugeng yang semakin menjadi jadi dalam bertindak. Perkataan Sugeng tersebut seperti petir di siang bolong bagi Juned. Semangat yang telah dibangun sebelumnya, kini runtuh seketika. Kesabaran Juned laksana magma yang telah meletup letup di perut gunung. Siap menyembur kapan saja mendengar semua hinaan mereka. “Pria miskin, lembek, dan lemah syahwat tidak pantas buat Sulastri ...” Perkataan Sugeng terhenti seketika. DEBUUUUKKK.... Pukulan Juned yang begitu lemah tak mampu menjatuhkan Sugeng. Bahkan untuk menghuyungkan tubuh Sugeng pun tak bisa. Sungguh terlalu sembrono bagi Juned, melawan satu lawan satu saja dipastikan tidak akan menang. Sugeng tak terima dengan apa yang dilakukan Juned. Dengan satu pukulan balasan, tubuh Juned langsung jatuh ke tanah. DEBUUUKKKK... DEBUUUUKKK.. Saat Juned sudah jatuh, teman-teman Sugeng yang lainnya ikut melakukan salam olahraga terhadap Juned. Setelah dirasa cukup puas, Sugeng beserta kelompoknya pergi dari tempat itu. Meninggalkan Juned yang dalam kondisi setengah sadar berbaring di tanah. . Juned mencoba bangkit dan berdiri dengan tubuh penuh luka. Dia berjalan menuju ke arah hutan yang ada di pinggir kampung. Sambil tertatih menahan perih, dia terus melangkah perlahan. Sesampainya di hutan, Juned bersandar di salah satu pohon. Meratapi nasibnya yang begitu malang hidup di dunia ini. “Aaaaaaaaaaaaargh!!” Teriakan Juned menggema di dalam hutan itu. Di tengah hutan yang mulai di selimuti gelap, Juned melihat tumbuhan tak jauh dari tempat dia duduk, Tumbuhan yang tampak begitu asing baginya. “Apa itu?” gumam Juned. “Aku pernah melihat gambar tanaman ini, tapi di mana ya?” Juned penasaran melihat tanaman seperti jamur. Dia memetiknya, dan terus memperhatikannya dengan seksama. Dalam hatinya, dia merasa senang telah menemukan Jamur beracun itu. Rasa frustasi yang di alaminya mendorong Juned untuk memakan Jamur itu. Tanpa pikir panjang lagi Juned langsung memakannya dan berharap dapat mengakhiri kehidupan yang nestapa. “Daripada aku harus hidup dengan menanggung semua ejekan dan cemoohan yang begitu menyakitkan, lebih baik aku pergi dari dunia ini.” Gumam Juned sambil terus mengunyah perlahan Jamur itu. Rasa pahit dan getir seolah tak ada apa-apanya dibanding nasibnya, hingga akhirnya dia berhasil menelannya.KIRAS POVA Week Later“Stretch it once more,” the nurse said.I took a deep breath and stretched my leg again. The feeling was still wobbly, the joints between my knees were still a little sore, like new paper being bent for the first time, but I obeyed.“Do we have to?” I muttered, glancing at Adrian, who was lounging against the doorframe with that infuriating amused smile plastered on his face. “Isn’t there a better position for this?”If I’d known today’s session meant lying awkwardly on a hospital stretcher, I’d have worn something more decent, not this short plain dress that hugged all the wrong curves.Adrian stood at the edge of the room, leaning against the doorframe with a whiskey glass in hand. From that angle, he was perfectly positioned to have a full view of my backside and my pink panties.“I’m sure there’s a better position for this,” I repeated, narrowing my eyes at him, stretching again as the nurse instructed.“On the contrary,” he said smoothly, that teasing lilt
KIRAS POVRomano stood in front of me, dressed in casual clothes. His overgrown hair was tied back in a messy bun, and his wounded face looked freshly tended to. He was holding a slushie, a burger tucked under his arm. Both his arms were wrapped in black bandages… covering up his missing fingers.What is going on?My heart plummeted. I lifted my flashlight, scanning the walls, the shadows. Had I somehow connected this passage to the basement? No… the catacombs were nowhere near Romano’s prison.So… how did he get out and what was he doing here?“What are you doing here?” I asked, my voice cracking.He took a slow sip of his slushie before answering. “Oh, you look rougher than they described,” he said, like this was completely normal, me seeing him in the secret passageway that was only meant for members of the Vasilios family. They? My stomach twisted. “Who is they?”“I mean it, Romano. What are you doing here?” I repeated, firmer this time.He stared at me for a millisecond, a long
KIRAS POVThe sharp sound of the curtains being drawn open stirred me awake as sunlight rested on my face.“Mhhm…” I groaned, trying to turn to the other side, only for pain to shoot through my body. A dull ache spread across my ribs, and I let out another groan, blinking against the light until the room finally came into focus.I stared blankly at the ceiling, feeling exactly how I looked.“Good morning, dear,” Aunty Linda’s voice sounded, followed by some shuffling. Weird. Adrian never let anyone into the room. It was either that or the maids were too scared to come in. I turned to her lazily, blinking away the remnants of sleep.“If I’d left you any longer, you’d have slept through the whole day,” “What time is it?” I croaked.“Almost noon,” she replied, and as she pulled the blanket off me in a dash, her eyes widened. “Oh, look at you!” she gasped, covering her mouth. “You’re always in such a rush… now look at how badly you’ve injured yourself.”I scoffed softly, not ready for th
KIRAS POVDylan shot me.The entire room went radio silent. I closed my eyes, bracing myself for the impact. It's ironic that there was once a time I would have willingly given my life for Dylan.‘Dumb bitch.’ My inner voice probed.A loud groan ripped through the room. Wait… my voice wasn't that deep. It wasn't mine… My eyes snapped open to see Dylan on the floor, clutching his hand, blood trickling between his fingers as he groaned through his teeth.“What the hell—?” I turned to Adrian instinctively, but from my level, I could see his gun still holstered. He just stood there with a dark smirk curving his lips, relishing the moment.The sound of heavy footsteps echoed from the end of the hallway. I looked in the direction the bullet had come from to see Enzo, Romeo's brother, standing against the doorframe, with a revolver in his hand, smoke curling from the barrel.I hadn’t seen him around the mansion in weeks.What was he doing here?"Lorenzo, what have you done?" Gianna shrieke
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore