"Bintang mau mencuci piring-piring dulu ya, Kak? Itu masih berantakan tadi habis Kakak makan be--belum dicuci." Bintang berusaha sedaya upaya meloloskan diri dari pembicaraan yang rasa-rasanya suhunya mulai memanas ini.
"Piring cuma satu. Sendok juga satu. Nggak apa-apa ditinggal dulu, sayang. Sini, duduk dekat Kakak. Kamu ngapain saja seharian ini?" Bintang menarik nafas lega. Syukurlah ternyata suaminya bisa ia alihkan dari pembicaraan yang berbau-bau konten 21+.
"Bintang cuma belanja, mencuci pakaian dan membereskan rumah kok, Kak. Nggak ngapa-ngapain lagi. Sekarangkan Bintang nggak perlu setiap hari ke kampus lagi. Paling kalau ada revisi atau menjumpai dosen pembimbing, baru Bintang ke sana. Kakak bagaimana? Udah dapat kerja?" Bintang melihat suaminya menggelengkan kepalanya. Saat itulah Bintang melihat wajah lelah s
"Lo bedua ngapain pagi-pagi udah nongol di mari? Emangnya kagak ada kerjain lain apa yang lebih bermanfaat selain ngeributin gue? Pagi- pagi bukannya olah raga kek, nyapu-nyapu jalan kek. Ini malah nenamu di rumah orang. Ya udah masuk deh lo pada. Gue mau mandi dulu." Mau tidak mau Bintang mempersilahkan duo perusuh itu masuk juga. Kan nggak sopan kalo mereka berdua disenderin di tembok rumah. Bisa di sangka sapu sama serokan sampah pula nanti mereka berdua."Iya mandi yang bersih sono, jangan lupa keramas juga. Eh Bi, ini rumah apa kotak korek api sih? Sempit bener. Engap gue di sini lama-lama. Mana ini rumah kayak lapangan sepak bola lagi saking kagak ada perabotannya. Eh Bi, lo ena ena apa nggak remuk semua tuh tulang-tulang lo karena eksekusinya cuma di kasur tipis begini?"Pasti Altan sudah menginspeksi kamar dan hanya menemukan kasur lipat daruratnya saja. Altan kalau sudah mengom
Sepulang dari makan siang bersama dengan dua sahabat oroknya, Bintang segera menyibukkan diri demi untuk melupakan kesedihan hatinya. Setiap ia mengingat kejadian di mana suaminya bekerja sebagai kuli bangunan bersama dengan puluhan pekerja lainnya, rasanya air matanya ingin tumpah saja. Di saat para pekerja lain mengisi perut dengan berbagai macam lauk yang di beli dari warung-warung sekitar proyek, suaminya hanya makan dengan menu seadanya yaitu omelet telur buatannya sendiri. Yang membuat Bintang makin miris adalah saat melihat Tian berusaha makan menggunakan tangannya, mencoba meniru tukang-tukang yang lainnya. Bintang tahu bahwa Tian ingin agar ia bisa diterima dan dianggap sama dengan teman-teman seperjuangannya. Semakin Bintang merasa sedih, semakin ia berusaha untuk menyemangati diri sendiri agar bisa sekuat Tian dalam menjalani setiap perubahan hidup ini.Hidup tak lepas dari masalah yang kadang membuat kita ingin menyerah. Tapi jika
Bintang sedang membersihkan piring-piring kotor, saat mendengar seperti suara ponsel yang berasal dari tas ransel Tian. Bintang heran, setaunya Tian belum mempunyai ponsel lagi setelah ponsel lamanya ia kembalikan pada ayahnya. Tidak lama kemudian ia melihat Tian meraih tas ranselnya dan mulai berbicara dengan serius dengan seseorang. Dari pembicaraan sepotong-sepotong mereka Bintang bisa menarik suatu kesimpulan kalau ada orang yang tertarik pada aplikasi web cafe self servicenya."Benar sekali Pak, di sini pelanggan tidak perlu memanggil pelayan cafe atau restoran untuk dilayani oleh waitress. Iya benar. Pokoknya pelanggan dapat memilih menu yang diinginkan melalui mesin touchscreen yang telah tersedia. Mereka juga dapat menambahkan makanan maupun minuman melalui dashboard. Oh bukan itu saja, Pak. Aplikasi cafe self service menu ini juga dapat menentukan posisi dari meja yang diinginkan, tentunya jika meja ter
"Hallo Bintang, Tian. Maaf nih, Om malem-malem ganggu. Habisnya ulernya juga keluarnya malem-malem sih. Jadi Om ikutin aja ke mana dia mau nyemburin bisanya. Eh rupanya mau ke sini. Makanya Om bawain pawang ulernya sekalian biar jinak. Iya kan, Rafka?" Walau pun kesan yang coba di tampilkan Badai itu santai, tapi auranya sangat mengancam. Belum lagi tatapan matanya. Para penegak hukum mempunyai rata-rata tatapan seperti itu. Tatapan yang seolah-olah berkata aku tahu rahasia mu.Bintang senang sekali karena omnya datang. Kalau ada Om Badai semua masalah akan dijamin beres dan tuntas sampai ke akar. Percayalah!"Ayo masuk dulu Om, semuanya. Kita bicara di dalam saja. Tidak enak sama tetangga kalau kita ribut-ribut di sini." Bintang mempersilahkan semua tamu-tamu mnya masuk. Clara dan seorang laki-laki tampan yang terus saja gelisah itu, terlihat begitu enggan masuk ke dalam rumahnya. Tian juga hanya diam seribu bah
"Mana jas-jasnya si manusia planet itu, Bi?" Bintang melihat suaminya sudah nampak rapi dan tampan warbiasyah pagi-pagi. Ia juga terlihat sibuk membongkar-bongkar kardus tempat pakaian-pakaian yang sudah ia setrika. Suaminya semalaman tidak bisa tidur. Ia terus membayangkan istrinya sampai harus menjadi buruh cuci, hanya demi memberinya makanan yang bergizi, katanya. Ia bahkan sampai berulang-ulang kali meminta maaf karena merasa sangat tidak berguna sebagai seorang suami."Hah, manusia planet? Maksud Kakak apa?" Bintang kebingungan melihat Tian pagi-pagi sudah membongkar-bongkar kardus sambil ngawadul sendiri."Ya si Jupiter songong itulah. Siapa lagi? Orang yang kamu kenal, terus namanya boleh nyomot dari nama planet kan cuma dia seorang. Makanya tingkahnya nggak ada mirip-miripnya sama manusia bumi eh manusia pada umumnya."Tian yang kepleset kata menyebutkan nama Bumi, mendadak merasa begitu nista kar
"Lho, Bunda kok bisa di sini?" Tian sedikit bingung saat melihat bundanya masuk kedalam cafe."Ya karena bunda tidak di sana lah." Seperti biasa jawaban bundanya selalu tidak pakai mikir."Maksud Tian, dari mana Bunda bisa tahu kalau Tian itu sekarang ada di sini, Bun?" Tian mengulangi pertanyaannya dengan sabar. Melihat wajah cantik-cantik naif dan cara berbicara lempeng bundanya, membuatnya sungguh merindukan orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini."Ohhh, kalau itu sih kecik lah. Bunda 'kan ngikutin kamu dari kamu keluar rumah tadi. Ayahmu selalu bilang, jangan suka mengintervensi kehidupan kamu di rumahmu sendiri. Makanya Bunda tidak menemui kamu di rumah tadi, Nak. Karena itu kan artinya bunda sudah melanggar janji Bunda pada ayahmu. Tapi ini kan di mall, bukan di rumah kamu sendiri. Jadi Bunda boleh dong menemui kamu? Ya kan?" Tian tersenyum. Bundanya selalu mengartikan segala sesuatu s
"Maaf ya Mbak, ini barang antik. Dari cara Mbak memperhatikan setiap detail dari guci ini tadi saja, Mbak pasti sudah tahu kualitasnya. Jadi maaf sekali, Mbak harus membayar seratus lima puluh juta rupiah sekarang juga, atau dengan amat sangat terpaksa, Mbak akan kami bawa ke kantor polisi. Keputusan ada di tangan mbak sendiri." Petugas penjaga stand mengultimatum Bintang yang kini berdiri ketakutan dengan sekujur tubuh yang gemetaran."Saya--saya tidak punya uang sebanyak itu, M--Mas. Ka--kalau saya cicil saja ba--bagaimana, Mas? Lagi pula tadi Mas lihat sendiri kan kalau saya itu tidak sengaja memecahkannya? Saya didorong oleh anak-anak i-- lho anak-anak tadi pada ke mana ya?" Bintang kebingungan saat anak-anak yang menabraknya tadi sudah tidak terlihat di sana. Mungkin mereka semua ketakutan dan segera lari saat melihat apa yang terjadi padanya karena tingkah sembrono mereka. Ia semakin bingung saat mendengar nama kantor polisi dibawa-bawa. Kedua tangan
Bintang melirik Tian yang sedari tadi diam saja di dalam taksi online. Sejak berseteru di dalam cafe tadi, suasana memang terasa sangat berbeda auranya. Untung saja tadi ada Om Albert yang jadi penengahnya. Om Albert mengingatkan pada Jupiter dan Tian untuk selalu bersikap professional dalam masalah bisnis. Makanya baik Tian maupun Jupiter masing-masing berusaha untuk saling menahan diri. Kerjasama akhirnya deal setelah semua program-program cafe selft service Tian dibeli oleh Om Albert dan juga Jupiter. Rupanya Om Albert dan Jupiter adalah para owner kuliner papan atas negeri ini. Seringnya terjadi kesalahaan-kesalahan yang seharusnya bisa diminimalisir di restaurant-restaurant mereka, membuat dua raja kuliner negeri ini memutuskan untuk memakai program yang transparan namun akurat yang di tawarkan Tian."Saat sampai di rumah nanti, kita langsung saja beres-beres dan mempacking barang-barang. Kita pindah rumah malam ini juga."
Bila esok kau tertawa lepasEntah dengan siapa,Ketahuilah aku orang pertamaYang paling merasa lega. Bila esok kau digenggam eratEntah oleh siapa,Ketahuilah tanganku akan ikhlas melepaskan genggamannya. Dan bila esok kau berbahagiaIngatlah,Hatiku adalah tempat pertamaYang diguyur hujan tak henti-hentinya. ================================== Kamu yakin tidak ingin Kakak temani, Bintang." Tian menahan langkah Bintang yang akan memasuki cafe tempatnya dulu biasa bertemu dengan Bumi. Bintang melihat kecemburuan, kecemasan dan rasa khawatir yang kental dari air muka suaminya. Wajar saja kalau Tian merasa gelisah. Suami mana yang bisa tenang-tenang saja saat mengetahui istrinya akan bertemu dengan mantannya di tempat yang penuh dengan kenangan lama mereka berdua. Tetapi tadi ia telah meyakinkan suaminya bahwa ia
"Anda salah paham, Pak. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan tindak pelecehan terhadap putri Bapak. Saya hanya bermaksud untuk menolong putri Bapak yang hampir saja jatuh terjerembab dari atas motor saya. Perlu Bapak ketahui, sebelumnya putri Bapak ini baru saja terjatuh dari sepedanya. Putri Bapak belajar naik sepeda di tengah jalan raya."Galih memberi hormat ala militer pada seorang pria setengah baya yang mengaku-ngaku sebagai ayah dari gadis aneh ini. Pipinya berdenyut dan sudut bibirnya sedikit mencecap rasa asin akibat di hajar oleh bapak-bapak galak ini. Ternyata walau pun sudah tua tenaga bapak-bapak ini masih ampuh juga."Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Anda karena telah menolong anak saya. Tapi kalau memang Anda niatnya hanya ingin menolong putri saya, kan tidak perlu seerat itu juga cara memeluknya. Lama lagi. Itu sudah modus namanya." Chris walau pun mengucapkan terima kasih, tapi tamp
"Ayo silahkan dicicipi semuanya. Ini ada makanan kecil sebagai teman minum kopi. Ini teh namanya lekker khas Bandung, pisang goreng dan martabak manis. Ayo silahkan di cobain, Bapak-Ba--"Jika tadi Bintang yang muntah-muntah, maka, kali ini Tian lah yang mengeluarkan isi perutnya di dalam closet kamar mandi. Tian memang akhir-akhir ini tidak bisa mencium aroma tajam makanan atau minuman yang berempah. Perutnya akan langsung berontak seketika."Lho Kak Tian kenapa sih? Kok muntah-muntah begitu? Padahal enak banget ini kue lekkernya. Harum semerbak menggoda rasa. Eh ini juga ada martabak manis." Bintang malah kesenangan dan melahap dengan semangat aneka jajajan pasar yang disajikan oleh Pak Harjo. Beda dengan suaminya yang terus saja hoek hoek di kamar mandi."Kak Tian sakit ya? Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang?" Bintang mengurut-urut punggung Tian yang terkadang masih tersentak-sent
Huekkk... huekkk... huekkk...Bintang tidak sanggup lagi menonton sisa adegan-adegan dalam video itu. Benaknya mendadak dipenuhi kejadian sesaat sebelum video itu direkam. Ingatnya tentang kejadian ini yang dulu hanya berupa beberapa lintasan samar, kita telah tersingkap sedikit demi sedikit. Setelah meminum segelas tequila Reno ditambah lagi dengan segelas margarita Fanny, Bintang mulai merasa kepalanya menjadi ringan dan langkahnya juga bagai melayang-layang. Kakinya bahkan seolah-olah tidak lagi menapak di bumi. Benaknya kosong dan hanya dipenuhi oleh percikan warna warni indahnya kembang api. Ia pun menjadi gembira luar biasa dan tertawa-tawa tanpa sebab yang jelas. Dia bahkan melihat wajah Bumi seperti ada dua orang. Tubuhnya bergerak sendiri dan terus saja bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Anehnya lagi semua orang yang dilihatnya mendadak menjadi kembar dan berbayang-bayang. Samar-samar ia merasa tubuhnya seperti digen
"Semuanya sudah dibawa, Yan? Photo copy KTP, akte kelahiran, dan buku nikah Bintang masih ada sama kamu semua kan, Nak?"Chris melihat putranya sibuk memasukkan berkas-berkas identitas diri Bintang ke dalam sebuah map. Chris juga melihat anaknya memasukkan passport dan ijazah Bintang mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai dengan SMA. Chris tidak dapat menahan senyumnya saat Tian memasukkan juga raport Bintang secara berurutan mulai dari TK sampai SMA. Untuk apalah semua tetek bengek yang tidak diperlukan itu dibawa semua oleh anaknya, alih-alih yang dibutuhkan hanyalah KTP dan buku nikah mereka berdua? Chris akhirnya tidak tahan lagi untuk tidak menggoda anaknya saat putranya itu juga memasukkan photo-photo Bintang mulai dari istrinya itu bergigi ompong dan montok, sampai dengan photo terakhirnya dalam busana pengantin saat akad nikah mereka dua bulan setengah lalu."Ayah sama sekali nggak menyangka kalau kamu ternyata punya koleksi photo Bin
"Udah nggak ada orang lain lagi di sini, Bi. Ayo sekarang buka topeng kamu. Nggak usah main drama-dramaan lagi. Kamu ngapain ada di sini? Suami kamu ke mana dan kenapa nama kamu berubah jadi Rahayu Jaya Krisna?" interogasi Jupiter dengan berondongan pertanyaan. Bintang diam saja. Ia bingung harus menjelaskan apa pada Jupiter. Rahasia itu semakin banyak orang yang tau, semakin cepat tersibak kebenarannya bukan?Karena Bintang diam saja, Jupiter mensejajari langkah kaki Bintang yang berjalan pelan menyusuri pohon-pohon rindang di sekitar pabrik pengolahan kopi. Sejauh mata memandang, terlihat kesibukan para pekerja perkebunan yang sedang melakukan proses sortasi biji kopi."Kamu tidak mau menjawab? Baik, kalau begitu saya tinggal menelepon Pak Harjo untuk membatalkan perekrutan kamu sebagai karyawan," ancam Jupiter seraya meraih ponsel di sakunya. Ia terlihat mulai menekan beberapa nomor. Bintang panik. Sepertinya Jupiter ini serius ingin me
"Silahkan ikut saya ke ruangan manager HRD ya, Teh? Tapi teteh menunggu Pak Harjo sebentar tidak apa-apa kan, Teh? Soalnya Pak Harjo lagi menghadap Pak Galaksi. Ada briefing sebentar."Pak Endang mempersilahkan Bintang menunggu di ruangan manager HRD. Bintang memeriksa kembali formulir permohonan kerjanya sekali lagi. Ia juga melampirkan photo copy akte kelahiran dan KTP Ayu. Sepertinya semuanya sudah lengkap. Kantor ini sepertinya menerapkan sistem kerja yang professional. Karena walaupun Direktur Utama sudah menerimanya bekerja, Bintang tetap harus melengkapi semua dokumen-dokumen pribadinya untuk kelengkapan arsip perusahaan. Seperti inilah seharusnya perusahaan beroperasi, professional dan teliti. Tidak sembarangan menerima karyawan.Bintang menjadi tidak enak hati karena sudah membohongi Pak Galaksi yang sudah begitu baik dan memberinya kesempatan untuk bekerja. Suara-suara beberapa orang yang saling berbicara sepertinya akan
"Lho Pak Galaksi udah di sini ya? Padahal saya teh maksudnya mau ke kantor menjumpai Bapak. Bapak sehat?" Bintang melihat Bude Yanti menyalami Bapak yang dipanggilnya dengan sebutan Galaksi tadi. Bude Yanti ini sebenarnya suku Jawa, tetapi karena sudah lama tinggal di daerah ini, dialeknya sudah seperti penduduk asli di sini. Bintang memperhatikan masyarakat di sini rata -rata menyebut huruf f menjadi p."Alhamdullilah sehat, Bu. Ibu sekeluarga bagaimana? Sehat?" Bintang memperhatikan bapak-bapak ini walaupun orang kaya tetapi tampak ramah dan tidak ada kesan sombongnya sama sekali. Karena pembicaraan mereka sudah mulai serius membahas masalah pekerjaan, Bintang beringsut ke dapur dan berinisiatif membuatkan minuman untuk tamunya. Rina dan Panji sepertinya masih sibuk mengerjakan PR sekolahnya."Nah ini keponakan jauh saya, namanya Rahayu. Keponakan saya ini baru datang dari kota. Katanya mau melamar pekerjaan di perkebun
Hujan deras menerpa saat Tian tiba di apartemennya. Sembari mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah, Tian memanggil-manggil nama istrinya. Tetapi istrinya sama sekali tidak menyahut. Padahal ia sudah berkali-kali mengucapkan salam. Biasanya saat mendengar salamnya, istrinya pasti buru-buru keluar dan mengambil alih tas kerjanya. Ini kok sepi sekali rasanya? Apakah istrinya tidak ada di apartemen?Tian meletakkan bouquet bunganya di atas meja. Ia melirik pergelangan tangannya. Baru pukul 17.30 WIB. Ia memang sengaja pulang satu jam lebih cepat dari kantornya, karena ingin memberi kejutan pada istri bohaynya.Saat memeriksa seluruh apartemen yang ternyata memang kosong, Tian pun meraih ponselnya. Mencoba menelepon istrinya. Tumben sampai sore begini istrinya belum pulang. Apakah istrinya pergi ke kampus? Tian semakin heran saat ponsel istrinya masih dalam keadaan tidak aktif seperti tadi siang. Apakah sesuatu telah terjadi pada istr