LOGINAmelia George is given an irresistible offer. Devon Tyler, her brother's best friend and her old crush, offers her the opportunity of a lifetime. A favor for a favor. His offer is simple enough. He needs a name, a single name. The only problem is she'll have to infiltrate the formidable Keller Family and get close and personal with the boss, the condescending Damien Keller. She doesn't expect her life to change so drastically, nor to fall head over heels for him. And it's a terrible...terrible decision.
View MoreBab 1 Kejutan Maksiat
====
“Tumben pulang cepat? Kamu tidak lembur malam ini?” tanya sang mertua membukakan pintu buat Alisya malam itu.
“Malam ini saya of , Ma. Badan saya pegal semua. Yang lain mana? Sudah pada tidur, ya?” tanya Alisya sembari melepas sepatu di kakinya.
“Mama kurang tahu. Setelah makan malam tadi, masing-masing masuk kamar.”
“Rena?”
Alisya menyebut nama putrinya.
“Dia baru saja terlelap. Sepertinya kelelahan setelah bermain tadi siang.”
“Baik, Ma. Saya mau mandi dulu, lalu istirahat.”
“Sebentar, Sya!”
“Iya, Ma?”
Perempuan dua puluh tujuh tahun itu berbalik. Menatap serius wajah mertuanya.
“Seharusnya kamu jangan malas untuk kerja lembur! Kamu, tahukan, kalau kebutuhan keluarga ini sangat banyak. Cicilan tiap bulannya itu besar, biaya kuliah Intan, angsuran ini, itu, sementara suamimu belum juga mendapat pekerjaan baru. Mumpung kamu bisa bekerja, gunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya! Karena Mama enggak bisa gantikan kamu lembur, seandainya bisa, Mama pasti tak akan pernah malas untuk kerja lembur tiap hari! Untuk mencari tambahan gajimu yang tak seberapa itu.”
“Maaf, Ma. Bukannya saya malas. Tetapi, setelah lembur tiap malam selama ini, membuat saya kelelahan, sesekali saya istirahat, ya, Ma. Malam ini saja. Besok, saya pasti akan lembur lagi.”
“Ya, sudah! Sebetulnya itu hak kamu. Kami hanya numpang makan dari gajimu. Jadi, mama tidak berhak memaksamu ini dan itu, iyakan?
“Jangan bilang numpang makan, dong, Ma! Kebetulan saja, Mas Fajar terkena PHK. Untuk sementara saya yang bekerja. Tidak apa-apa, begitu Mas Fajar mendapat pekerjaan lagi, saya bisa lebih santai bekerjanya.”
“Nah, itu kamu tahu! Jadi kenapa malas lembur! Kalau hanya mengharapkan gaji saja, enggak akan cukup!”
Alisya menghela napas. Mertuanya tak paham juga. Padahal, dia memutuskan untuk tidak bekerja lembur malam ini dengan penuh pertimbangan. Tambahan gaji yang dia perolah dengan lembur tiap malam, memang lumayan untuk menutupi seluruh kebutuhan keluarga besar suaminya. Tetapi, rasa lelah yang mendera setelah bekerja tiada jeda, membuatnya memutuskan untuk istirahat malam ini.
Fajar menikahinya tiga tahun yang lalu, saat Alisya baru saja menyelesaikan kuliahnya. Belum sempat mendapat pekerjaan, Fajar memintanya untk menikah. Mengingat Fajar sudah mapan, wanita itu menerima lamaran. Merengkuh hidup bahagia sebagai istri seorang manager di sebuah perusahaan ternama.
Fajar langsung menghadiahinya sebuah rumah baru untuk mereka huni berdua, sambil menikmati bulan madu. Namun, sejak sang papa mertua meninggal setengah tahun yang lalu, keluarga besar sang suami pinda ke rumah itu. Alisya berusaha tetap bahagia meski tinggal serumah dengan mertua.
Wanita itu tak paham bagaimana ceritanya, tiba-tiba Fajar tekena PHK. Sang suami tak pernah berterus terang hal yang sebenarnya. Setiap Alisya bertanya, hanya amarah yang dia terima. Mungkin Mas Fajar masih syok, emosinya labil, gampang meledak-ledak, begitu batin wanita itu menduga-duga.
Terpaksa Alisya yang menggantikannya mencari kerja. Berbekal izasah sarjana, mencoba mencari kerja ke mana-mana. Tetapi keberuntungan belum berpihak kepadanya. Rika, sabahat semasa SMA-nya, menawarkan bekerja di pabrik sarung tangan tempat dia bekerja.
“Simpan izasah sarjana kamu, Sya! Sekarang gunakan izasah SMA saja. Anggap ini sebagai batu loncatan, daripada keluargamu gak makan! Sementara enggak apa-apalah kerja kasar begini!” usul Rika empat bulan yang lalu.
Alisya menerimanya. Dengan penuh ihklas dia menjalani peran barunya, tulang punggung keluarga suaminya.
“Ya, sudah, mandi sana! Langsung istirahat, biar besok bisa lembur!”
Sang mertua membuyarkan lamunanya.
“Baik, Ma. Saya ke kamar dulu.”
Alisya melangkah gontai. Tak langsung menuju kamarnya, tetapi berbelok menuju kamar Rena. Ingin melepas kangen sekaligus memastikan keadaan putri kecilnya.
Wanita itu mencium kening putrinya dengan lembut, berusaha tak bersuara. Khawatir menggangu lelapnya tidur sang putri kesayangan. Puas menatap wajah mungil itu, Alisya merapikan selimut tipis penutup tubuhnya, lalu beranjak ke kamar utama.
Alisya sangat ingin malam ini bisa menghabiskan waktu bersama sang suami. Dia berharap Fajar belum terlelap. Ibu muda beranak satu itu sangat merindukan sentuhan dari sang suami. Ya, sejak dia lembur setiap malam, mereka sudah sangat jarang bersama. Pulang dari pabrik pukul sepuluh malam, dengan diantar bus karyawan jam setengah dua belas tengah malam baru tiba di rumah.
Fajar sudah terlelap, tak pernah menuggu Alisya pulang. Pun Alisya tak berani membagunkan tidur lelap sang suami. Esok pagi, wanita itu harus bangun sebelum Subuh. Pukul enam pagi, bus karyawan sudah menjemput. Alisya berangakat saat Fajar belum terjaga. Ada rasa bersalah di relung hati wanita lugu itu. Dia tak bisa lagi secara maksimal memunuhi kewajibannya sebagai istri. Tak ada waktu untuk memberikan nafkah batin buat sang suami.
“Malam ini, mumpung aku tidak lembur, aku akan memenuhi kewajibanku. Akan kusenangkan hatinya dan kupuaskan dahaganya. Semoga dengan malam surprise ini, Mas Fajar akan semangat untuk mencari pekerjaan baru esok hari.” Begitu niat hati Alisya.
Berjingkat dia berjalan menuju pintu kamar utama. Sengaja pintu kamar tak pernah dikunci, agar saat Alisya pulang, tak perlu membangunkan sang suami yang telah terlelap.
Malam ini, kerinduan Alisya akan sentuhan suami semakin menghentak. Wanita itu ingin memberi kejutan yang sempurna. Alisya menggenggam handle pintu, menekannya ke arah bawah, lalu mendorongnya perlahan. Tak ada derit pintu terkuak yang terdengar, surprise ini akan berjalan seperti yang diharap, begitu pikir Alisya.
Alisya mendorong daun pintu tanpa suara agar tubuh rampingnya bisa masuk. Kemudian dia melangkahkan kaki jenjangnya sembari mencari keberadaan suami tercinta dengan matanya.
“Mas!” lirih panggilan itu keluar dari mulutnya.
“Sya? Kamu sudah pulang?”
Alisya membeku. Nanar menatap pemandangan di atas ranjang. Sepasang manusia yang sangat dia kenal, berada di atas ranjang miliknya. Bersatu dan bergumul, tanpa ada satu inci yang memisahkan tubuh keduanya.
“Sya!”
Fajar menyebut namanya sekali lagi, lalu perlahan turun dari atas ranjang. Pelan pria itu melepas rengkuhan tangan wanita yang sedang bersamanya. Peluh membanjir di leher dan punggungnya.
“Maaf, Sya!” ucap Desy seraya membungkus tubuh telanjangnya dengan selimut tipis, lalu memungut pakaian yang bertebaran di lantai kamar.
Alisya bagai terpaku, mulut dan lidah terasa kelu. Hilang semua kalimat juga kata-kata, atau sekedar mengucap satu abjad saja. Ini terlalu mengejutkan baginya.
“Permisi!”
Wanita itu berlalu menuju kamarnya. Kamar yang disediakan Alisya untuknya. Dia adalah keponakan mertuanya. Sudah sangat lama ikut tinggal bersama mertuanya, bahkan sebelum Alisya dinikahi Fajar. Itu sebab dia juga tinggal di rumah Alisya.
******
Bersambung.
Six months have passed.They've been peaceful and for the most part, quiet. Tremendously busy, but I'm used to that part now. Working alongside Damien is the best part about it. I get to be with him all day and make sure that he isn't exerting himself. He has a lot more work now; he had to take over Ethan's duties. Theo helps, but there are certain things only Damien can handle. When Ethan was here, he took care of it, but he's been gone for half a year and there's no one capable enough to replace him. I think that deep down, Damien doesn't want anyone to take over Ethan's job, but he'll never admit it out loud. I help him whenever I can. There's a lot I still don't understand, but I'll get there.It's only a matter of time.He doesn't ever ask me to go home when there are people coming over to meet with him. We never talked about what happened with Ash, but it changed a lot of things. I gained some respect after I killed him. I see it in the way people look at me whenever we're at so
I help him peel his blazer off.This day has been mentally exhausting for him. He rarely leaves the office early, but I'm glad he did today. I'm glad, because at least we have the whole day ahead of us. It's going to be just the two of us. Theo rarely comes here, she prefers to stay in the city. It's closer to everything else. I love it here, because it feels like we're all alone in the world. I stare out the window and all I see is the vast sky, green hills, nature. I don't even see the guards surrounding the house. They're invisible to me.It's peaceful here, and breathtakingly beautiful. It's home. I understand why Damien is so attached to this place. It's not simply because he grew up here. I feel safe, here, untouchable. The first time I was here, I felt like an intruder. Our relationship was so different back then, I can't help but marvel at how everything is so different now. I never would have guessed that we'd end up here, closer than ever, madly in love. We've come a long wa
Today's an important day.I've been on edge all morning. Damien has called for a Keller family meeting. We're all going to be there, including Ethan and Penelope.He announced that there'd be a meeting only last night during dinner, and he asked Theo to give Ethan a call. I was startled by the news and so was she. He didn't tell me what he'll say to Ethan, but we can guess what it is. He wants closure. Ethan owns a third of everything, and that matter needs to be resolved. I doubt that Damien will allow him to return to the company. I just don't see it happening. Ethan himself never mentioned it to Theo, not that he'd dare to.Theo told me that he's out of the hospital. She said he hasn't left the country yet because he wants to see Damien first. Damien, however, wanted nothing to do with him until yesterday. He's asked after him, but he didn't want to see him. He's still hurt by what Ethan did to us, his betrayal is a wound that will never quite heal for him. And if it ever does, it'
I'm afraid of opening the door.I've been standing here for a full minute with my heart in my throat. My hand is on the knob, ready. I can't bring myself to turn it, though, simply because I know that Damien's on the other side. There's a lot we need to talk about, so much in fact that I wouldn't know where to start.I hold my breath and close my eyes. I've been standing out here for too long. I remind myself that he's my husband, he's the man I love, and we'll get through this. We'd get through anything together. I've been in a far worse position before. This time, I was actually focusing on the well-being of our family.I open the door slowly.Only the bedside lamp is on. I see him right away; he's seated on the couch across his bed. He's staring out the window with a distant look in his eyes. I take a few steps towards him, my eyes on his handsome face. My heart's thumping against my chest. I'm overcome with emotion, but I put a hamper on them for now. He's a little pale, I notice
It's quarter to midnight.The clock is ticking and my heart is racing. I'm ready, my small gun is hidden in my underwear. I've made sure to wear an extra tight pair just for the occasion. The dress is scarlet and flowy, perfect for tonight.I'm waiting for him in the lobby. This time, I'm early. It ma
"Leave," Damien says to the nurse. She scurries out of the room as soon as he mutters the word.He's in a terrible mood and he doesn't want anyone around him. He has finally moved from that awful, desolate place and he's home. He made sure that they didn't change any decorations. They lost a lot of a
Roger drops me off in front of the apartment.I barely looked at him during the ride home. In fact, I haven't looked anyone in the face since I left the restaurant. I can still feel their eyes judging me, crucifying me. It's what Ash wanted. To degrade me, to show me that he's in command. He decides
The doctor told Damien that he'll be moved today.Theo informed him about this yesterday. He knew it would happen, but he didn't think it'd be this soon. It makes him suspicious; did something happen? He's in the dark here, nobody tells him anything. Granted, there's nothing the doctor, the nurses, o






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews