Ucapan Xain masih terngiang-ngiang di telinga Raeli. Hal semacam itu mungkin saja terjadi. Seperti yang tertulis di novel aslinya, Raeliana sangat tersiksa karena rasa suka pada Pangeran Ein yang lebih mencintai gadis lain. Raeliana bahkan sampai tidak mau bertemu pria itu sejak usia 8 tahun.
Raeli mengembuskan napas, berjalan ke arah jendela kamarnya dan duduk di kusen. Bisa-bisanya ia ketahuan oleh Pendeta Agung.
“Aku akan mencaritahu apa yang terjadi pada kalian, dengan begitu kau bisa hidup dengan baik di Easter.”
Benar. Raeli hanya perlu hal itu. Lagi pula seperti yang dikatakan oleh Xain juga. Dunia tetaplah dunia. Apa yang ada di Easter juga bisa menjalani hidup dengan bebas. Itu artinya Easter yang sekarang Raeli tinggali tidak ada hubungannya dengan novel asli.
Raeli menunduk melihat surat dari Pangeran Ein yang belum dibuka. Bagaimana jika pangeran tahu kalau R
Sudah seminggu. Raeli tidak percaya bisa kembali ke rutinitas biasa sebelum ia bertemu dengan Rose dan Pangeran Ein. Tidak, Raeli belum pernah menjalani rutinitas ini. Tetapi tubuh Raeliana pernah. Kehidupan sekarang malah terasa sangat wajar. Raeli bekerja, pulang dan istirahat sebagaimana yang harusnya terjadi seperti rencana awal. Namun, rasanya sangat kosong.Selama seminggu tidak ada seorang pun dari para pegawai Raeli yang membicarakan tentang Rose. Seakan-akan gadis itu tidak pernah berada di toko roti. Bahkan saat Raeli bertanya, mereka semua mengelak. Anne juga sama sekali tidak membantu.Raeli ingin tahu ke mana gadis itu pergi? Kalau gadis itu kembali ke Faiore pastilah Klein akan bilang pada Raeli saat ia masih di markas itu. Bukan. Kalau memang Rose pulang ke Faiore, semua pegawai Raeli tidak akan melarikan diri dari segala pembicaraan tentang gadis itu.Raeli melirik Carry yang berjalan di sampingnya. Aneh
“Menurutmu ini cocok untukku?”Raeli merentangkan tangan pada Carry. “Kakak bisa mengambalikkannya jika tidak suka.”Carry menggenggam kembali kotak persegi panjang itu. “Kau kan sudah memberikannya. Kenapa diambil lagi?”“Aku bisa memberikan keduanya pada Kris,” kata Raeli sebal.Kebetulan sekali ada sepasang pena bulu yang terlihat menarik di mata Raeli. Mungkin hadiah itu cocok bagi Carry yang sering menulis laporan untuk pangerang dan untuk Kris yang memang bekerja sebagai administrasi kekaisaran.Sebenarnya, pena bulu itu mungkin juga cocok untuk pangeran, hanya saja … Raeli tidak yakin. Pangeran bisa mendapat semua yang diinginkan. Bahkan toko itu bisa dibeli. Jadi, pena bulu biasa takkan mempan untuk putra mahkota.Raeli mengembuskan napas. Apa yang Raeli lakukan, sih?“K
Setelah memaksa semua kesatria itu keluar, akhirnya ruangan Ein sepi. Sulit sekali mengusir mereka. Setelah kembali ke markas usai tugas, orang-orang itu selalu berkumpul di ruangan Ein.Apalagi Ercher. Pria itu setiap malam masuk ke ruangan Ein hanya untuk bilang ‘Tuan Putri’ dan yang sebenarnya bermaksud apakah Ein sudah mendapatkan surat dari Raeliana atau belum.Bukan Ercher saja yang tidak sabar ingin kembali ke Easter.Ein mengambil surat yang tergeletak di samping kotak hadiahnya yang belum dibuka. Lagi-lagi Tristan menyembunyikan surat itu untuk diberikan saat mereka semua diusir. Kalau Ein mendapatkan surat itu lebih dulu, tentu saja ia takkan membiarkan mereka berempat sampai larut malam di kamarnya.Ein melirik kotak sambil membuka surat. Ia penasaran, apa isi kotak sebesar itu? Apakah Raeliana juga menyiapkan hadiah untuk Ein? Apa hadiahnya lebih bagus dari keempat orang itu?
Raeli tidak bisa menghilangkan pembicaraannya dengan Rict tadi siang. Bahkan setelah sampai ke istana untuk makan malam, ia masih merasa berjalan di atas awan. Kapan saja ia bisa jatuh jika salah injak. Perasaannya bergemuruh dengan rasa tidak percaya.Apa yang pangeran lakukan pada Roseline? Apakah itu alasan kenapa ada cacatan di surat pertama pangeran tentang ia harus bertanya pada Carry atau Xain jika ingin tahu?“Raeliana?”Raeliana tersentak hingga menjatuhkan garpunya ke lantai karena panggilan itu. ia melihat pada kaisar dan orang-orang di meja makan itu. Termasuk orang tuanya.Ah, iya. Raeli sedang makan malam keluarga di istana. Tanpa pangeran.“Raeliana, apa kau sakit?” tanya Liliane sembari menyentuh tangan Raeli.Raeli berdehem pelan. “Maafkan saya, Baginda.”“Apa kau sedang tidak enak badan?&rdquo
Markas besar Easter heboh hanya karena kedatangan Pendeta Agung Xain beserta dua muridnya yang tanpa pemberitahuan. Pasalnya, seorang pendeta agung tidak akan mungkin menginjakkan kaki di medan perang. Itu semacam hal yang diharamkan untuk dilakukan. Apalagi tanah tandus tanpa berkat seperti Cain ini.Entah sudah berapa lama Ein tidak berhadapan dengan Xain dalam suasana seserius ini. Keempat kesatria Ein berdiri di belakangnya, begitu pula murid yang dibawa oleh Xain. Jika dalam kondisi seperti ini, biasanya baik Ein atau Xain akan memperjelas kedudukan mereka.“Apa yang membuat Yang Mulia Agung sampai datang ke Cain tanpa pemberitahuan?” tanya Ein. Ia melirik Tristan yang sejak tadi sudah memegang gagang pedang. Biasanya ada hal penting yang terjadi. “Sesuatu terjadi di Easter?”Xain mengangkat tangannya di atas lengan sofa, menopang sebelah wajah dan menatap Ein dengan pandangan serius. “
Butuh waktu lama untuk menjatuhkan eksekusi mati pada tahanan perang Easter yang juga menjadi tahanan resmi itu. Xain sudah menjatuhkan pasal berlapis sesuai yang dikatakan oleh pangeran. Pada akhirnya persiapan eksekusi berlangsung selama 2 minggu.Roseline akhirnya akan dieksekusi dengan nama katedral.Awalnya, menteri-menteri dari pihak kekaisaran ada yang setuju dan ada pula yang tidak. Duke Servant masuk pada golongan yang tidak ingin berkomentar banyak. Karena Xain sendiri tahu apa yang dipikirkan oleh pria itu. Baik kaisar dan Xain yang mempertahankan keputusan, tidak ada yang salah.Berita eksekusi pun sudah disebar ke seluruh Ibukota Easter sejak seminggu yang lalu. Bertempat di alun-alun katedral yang juga menjadi salah satu pusat kekaisaran Easter.Sejak seminggu setelah diumumkan, banyak sekali spekulasi pribadi publik yang terdengar. Sebagian sama seperti kaisar yang bilang kala
Krak!Raeliana menggeliat, menutupi wajahnya dari cahaya matahari yang menyeruak masuk tanpa ampun setelah seseorang membuka tirai jendela kamarnya.“Waktunya bangun, Nona!”Raeliana berguling dan menutupi kepala dengan bantal. Teriakan itu mengganggu paginya. Apa Anne tidak lelah selalu berteriak sekencang itu kalau ingin membangunkannya?“Aku bangun,” kata Raeli setelah melepaskan bantal karena Anne menarik tangannya. “Kenapa buru-buru? Inikah hari pertama musim panas.”Ah, benar. Ini musim panas lagi, ya? Itu artinya tercatat setahun sudah peperangan antara Easter dan Faiore. Enam bulan sejak Raeli terbangun dari koma panjangnya pasca syok.Bahkan sampai sekarang ia masih mencari tahu kenapa bisa tertidur lama hanya karena pingsan mendengar makian dari seseorang. Kemudian banyak hal yang terjadi selama Raeli tertidur.
Raeli mengembuskan napas. Sebenarnya apa lagi yang sudah terjadi selama tiga hari ini? Selama 3 hari terakhir, Raeli seakan tidak bisa menemukan pikirannya dalam menjalani hidup. Seingatnya, ia hanya datang makan malam ke istana—di sana juga ada pangeran. Kemudian mereka berdua berbicara dan mencapai kesepakatan.Karena Raeli tidak juga menemukan pengganti pangeran, berarti mereka akan mengumumkan tentang pertunangan secara resmi.Kemarin pasukan besar Easter sudah kembali. Malam ini pesta perayaan akan diadakan setelah melakukan persiapan selama seminggu penuh. Lalu malam ini juga Raeli akan datang ke pesta bersama pangeran.“Tidak,” desis Raeli tanpa sadar. “Tidak. Kenapa bisa begini!”Raeli langsung terduduk dari posisinya, kemudian tersadar bahwa ia sedang berada di kamar Putri Liliane.“Raeliana, kau baik-baik saja?” tanya Putri Lili
Beberapa bulan setelah Raeli bangun dan kembali menjalani hidupnya sebagai putri tunggal Servant dan putri mahkota, tiba-tiba saja istana jadi heboh. Beberapa orang datang silih berganti menemui Raeli dengan membawa berbagai macam gaun pengantin. Memangnya siapa yang mau menikah?Belum lagi para pelayan ditambah untuk mempersiapkan acara di istana terpisah yang biasanya dibuka untuk acara-acara besar saja. Beberapa kali Raeli dipanggil untuk mencicipi menu makanan. Lalu keamanan istana juga makin diperketat. Pasukan ditambah, baik dari keluarga Servant bahkan sampai keluarga Sharakiel yang diperintahkan langsung oleh Mareyya.Sebenernya ada apa, sih? Apa ada yang mau menikah di istana? Apa baginda kaisar mau menikah lagi?Sebenarnya sampai sekarang Raeli masih sulit memercayai bahwa Mareyya itu adalah anak kecil biasa. Anak itu terlihat seperti orang dewasa dengan naturalnya. Dia bahkan mengatur urusan rumah tangga Shara
“Ha ha ha!”Ein dan Xain menoleh pada Teja yang tiba-tiba saja tertawa keras setelah melihat apa yang terjadi pada Mareyya. Apa pria itu sebenarnya gila?“Lucu sekali, ya. Padahal ayahnya orang yang dikutuk dewa,” kata Teja dengan senyum lebar sambil mengawasi kotak tempat Raeliana dan Mareyya berada. “Sepertinya Reid sudah menentukan bayaran atas apa yang sudah si penyihir itu lakukan.”“Apa maksudmu?” tanya Xain.Teja menunjuk pada cahaya yang bersinar di bawah tangan Mareyya. “Kekuatannya mirip dengan pendeta agung pertama.”“Pendeta agung pertama?” ulang Ein.Kalau pendeta agung pertama itu berarti orang yang sudah membangun kekaisaran ini bersama kaisar pertama. Orang yang katanya bisa melihat kemakmuran pada Easter jika mereka membangun sebuah negara. Dengan kata lain, pendeta agung
Ein, Xain dan Teja melihat saja saat Mareyya bergerak mendekati kotak sihir di mana Raeliana terbaring di dalamnya. Anak itu hanya berdiri di sisi kotak sambil menatap Raeliana.Sulit dipercaya bahwa Mareyya cocok dengan sihir suci milik Xain. Ternyata anak itu memang anak normal. Hanya saja lebih cepat dewasa karena didikan ayahnya yang mendoktrin bahwa Mareyya harus bisa mengurus keluarga sejak dini. Itu berarti Mareyya sudah tahu bahwa ayahnya cepat atau lambat akan mati.Sebenarnya Ein tahu bahwa Xain tidak memercayai anak itu. Namun, Ein memintanya untuk mengizinkan Mareyya bertemu Raeliana. Anak kecil tidak akan bisa melakukan sesuatu yang aneh.Padahal baru saja Ein berpikir seperti itu, tiba-tiba saja Mareyya melirik dari balik bahunya pada mereka. Tersenyum kecil dan matanya terlihat bercahaya. Lalu sesaat kemudian anak itu melangkah lebar ke kotak di mana Raeliana melayang di dalamnya dan tertidur. 
Ein memberikan surat terakhir pada ajudan baginda kaisar. Sepertinya keributan yang terjadi di istana sampai menghancurkan kediaman pangeran cukup menggemparkan. Beberapa bangsawan yang memang setia pada keluarga kaisar dan negara tetangga pun mengirimkan surat untuk menanyai kabar atau apakah pangeran butuh bantuan.Namun, tidak Ein sangka bahwa pertarungan dengan Rict jadi sangat-sangat singkat. Bahkan seolah tidak pernah ada. Kabarnya juga Xain menggunakan sihir lama untuk menghapus kenangan tentang sebagian adu mulut Raeliana dan Kroma hari itu.“Yang Mulia?”Ein mengangkat kepala pada Charael dan Carry yang baru saja masuk ruangannya bersamaan.“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Ein sambil berdiri dan mengitari meja. Bersandar pada bagian depan meja kerjanya, menatap dua kesatria itu.“Setelah melalui investigasi, tidak ada yang aneh di kediaman
“Bangunlah.”Raeli membuka mata yang sebelumnya berat karena mengantuk dan ia merasa lantai tempat dirinya berbaring sangatlah dingin. Setelah itu ia melihat seseorang tersenyum tipis padanya sambil berdiri.Raeli bangkit untuk duduk. “Apa kita sudah mati?” tanya Raeli pada orang itu.“Entahlah.”“Jadi … siapa aku harus memanggilmu? Thantiana atau Raeliana?”“Namaku Thantiana. Bukankah Raeliana itu dirimu?”Raeli mendengkus. Apa-apaan itu? Dirinya kan dipaksa masuk ke tubuh Raeliana karena perbuatan wanita itu juga yang sekarang mengaku sebagai Thantiana.“Aku bukan Raeliana,” sangkal Raeli dengan suara pelan.“Tapi ada orang yang ingin kau tetap hidup sebagai Raeliana yang dicintainya.”Ein.
“Antar aku ke sana, Ercher,” kata Raeli.Lingkaran sihir Ercher menyala lagi. Pada saat itulah Raeli bisa melihat di sisi lain bangunan ada para kesatria yang terluka. Rict menyerang mereka. Lalu dalam sekejap mata mereka berpindah ke kamar pangeran yang hancur. Raeli bisa melihat Charael dan Tristan yang langsung bersiaga di dekat Ein.“Raeliana?” panggil Ein. “Jika kau bangun, seharusnya kau tetap tinggal di sana. Kenapa kau—”Raeli melirik sekilas dari balik bahunya. Saat membuat kesepakatan dengan Raeliana, ia sudah memilih keputusan. Semua kemalangan ini disebabkan oleh Raeliana sendiri. Bukankah wanita ini sudah tidak boleh hidup dan bersanding dengan putra mahkota?Raeli tidak ingin goyah, maka dari itu ia membuang wajah dari Ein.“Ah, Tuan Putri akhirnya bangun juga,” sindir Teja sambil berdiri.Ra
“Saat pertama kali bertemu, aku sudah tahu.”Orang-orang di ruangan itu mendadak syok mendengar suara Raeli. Bahkan Xain dan keluarga Servant pun nyaris melotot, tidak mengeluarkan suara saat mendengar dan melihat Raeli berdiri. Gadis itu seperti orang yang berbeda. Cara bicaranya yang dingin menyita perhatian.Raeli yang baru saja berdiri sedikit terhuyung karena kakinya yang sudah lama tidak digerakan malah dipaksa berdiri. Namun, sejak awal ia sudah membuat kesepakatan dengan Raeliana yang asli. Jika masalah ini selesai, ia bisa memilih meski dirinya sendiri tahu tidak ada pilihan yang lebih bagus dari yang Raeliana tawarkan.“Mareyya tidak mudah dekat dengan orang lain. Kalau ada orang yang dekat dengannya itu orang yang biasa bekerja di rumah Sharakiel,” kata Raeli sambil berjalan pelan menuruni mimbar singgahsana. “Apa itu tubuh barumu … Kroma?”Rosali
“Aku sudah bilang, aku tidak mau kembali ke sana,” kata Sheriel setelah sadar dari mimpi buruk kematian yang dialaminya untuk kedua kali. Saat membuka mata ia hanya tinggal bersama Raeliana. Lagi.“Aku tahu kau takut,” kata Raeliana. “Aku juga takut. Makanya aku melarikan diri. Tapi aku punya janji.”“Pada Ein?” Sheriel membuang muka. Entah kenapa membayangkan orang yang dicintai Ein berdiri di depannya itu terasa menjengkelkan.Raeliana menggeleng. “Pada Tuan Rict. Aku sudah berjanji untuk pergi pada Reid bersamanya. Itulah yang aku ingat setelah bereinkarnasi sebagai Raeliana. Ingatan terakhir pada kehidupan Thantiana.”“Aku tidak mau tahu.”“Jika kau tidak kembali ke Easter, Ein mungkin akan mati dan semua usahaku akan sia-sia.”“Kau yang menempatkan aku di situasi se
Berhari-hari sudah berlalu, ternyata benar kalau Sheriel hanya mengalami mimpi buruk yang panjang. Sebab, jangankan tertabrak truk, bahkan novel ‘Sang Permaisuri Pilihan’ itu saja tidak pernah terdaftar di dunia ini.Jadi, hidup Sheriel kembali normal. Ia pergi bekerja sambil mengantarkan Yuko ke sekolah. Saat pulang, Yuko akan menunggunya di tempat kerja.“Kakak sudah berhenti mencari tahu tentang mimpi aneh itu?” Yuko mendesah jenuh.“Lagi pula kan memang hanya mimpi semata. Jadi ... kupikir ya sudahlah. Aku akan melupakannya.”Tetapi anehnya setelah Sheriel mengatakan itu, hatinya jadi terasa sangat sakit. Hatinya merasakan rasa menyengat akan sesak. Ada yang kosong. Namun, Sheriel tidak ingin menghubungkannya dengan mimpi aneh itu. Justru ia gila kalau membawa-bawa perasaan cinta yang berasal dari mimpi itu ke dunia nyata.“Tapi, Yuko