"Tanda apa itu, Gi?" Gilang yang duduk di bangku belakang seketika mengerutkan keningnya ketika melihat tanda merah yang berkedip-kedip di GPS milik Gio.Lelaki berkacamata itu sangat paham bagaimana adiknya yang memang sangat pandai dalam urusan GPS. Dia sangat yakin jika istrinya saat ini berada di dalam bahaya."Sepertinya Kak Risa sedang bergelut dengan seseorang karena GPS itu akan memperlihatkan warna merah jika tubuh pemakainya terbentur sesuatu." Gio berkata dengan geram sambil terus menaikkan kecepatan mobilnya.Gilang merasa tidak tahan mendengar ucapan Gio. Lelaki itu pun segera pindah ke bangku depan dan memaksa Gio beralih posisi."Lo nggak akan bisa fokus membawa mobil kalau lo sedang emosi seperti ini." Gio memperingatkan Gilang sambil terus membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Namun Gilang tidak menyerah. Lelaki itu tetap memaksa agar dia yang membawa mobil karena dia tidak ingin jika sampai mereka terlambat menolong Risa.Sementara itu, di mobil belakang, Dela juga
Gilang segera membawa Risa pergi dari rumah tersebut. Istrinya itu dari tadi menangis ketakutan karena mendapat perlakuan tidak baik dari lelaki brengsek itu."Apa yang dilakukan oleh orang itu sama kakak?" Dela mengusap punggung Risa yang sejak tadi menangis tersedu-sedu di pelukan Gilang."Dia hampir saja melecehkan kakak. Kakak juga nggak tahu siapa dia. Tiba-tiba ketika bangun kakak sudah berada di ruangan tersebut dan dia langsung hendak melecehkan kakak," sahut Risa sambil menatap ke arah Dela."Kamu yakin yang menghubungi itu tadi Vani? Aku sudah bertemu dengan Vani dan dia malah tidak tahu menahu tentang kamu. Vani bilang ponselnya hilang sudah beberapa minggu yang lalu." Gilang mengusap rambut Risa dan mendudukkan istrinya itu di sebuah bangku yang terletak di atas trotoar.Dela segera memberikan air mineral kepada Risa agar Risa sedikit lebih tenang. Tak tega dia melihat kakaknya terus-terusan menangis karena hampir saja mengalami perlakuan buruk dari orang jahat.Dari kejau
"Orang yang dibawa ke psikiater bukan berarti orang gila. Aku melihat wajah ketakutan dari Kak Risa. Aku khawatir jika terjadi apa-apa padanya. Apalagi dia hampir saja dilecehkan oleh orang yang tidak dikenal." Tatapan mata Gio masih tertuju pada Risa yang tertidur dengan luas dan wajah yang dipenuhi ketakutan."Gio benar, Kak. Dela juga khawatir kalau sampai kak Risa mengalami trauma. Apalagi Kak Risa adalah seorang perempuan yang begitu pandai menjaga dirinya. Aku khawatir jika Kak Risa mengalami hal yang sangat buruk nantinya." Dela pun ikut menanggapi ucapan Gio. Ia lebih teramat sangat menghawatirkan keadaan Risa karena saat ini hanya Risalah satu-satunya anggota keluarga yang ia punya."Baiklah. Besok pagi kalian segera cari psikiater yang baik untuk merawat Risa. Mudah-mudahan Risa tidak mengalami trauma ataupun gangguan jiwa karena kejadian ini." Gilang duduk di samping Risa dan membelai rambut panjang istrinya.Betapa pedih hati Gilang melihat wajah Risa yang dipenuhi rasa ta
"Bunda di mana ya? Kok belum pulang juga?" Amira bertanya kepada Gilang ketika lelaki itu sampai di rumah.Hal yang paling Gilang takutkan adalah, ketika Amira mempertanyakan tentang keberadaan ibunya. Gadis kecil itu pasti tidak akan mengerti jika Gilang menjelaskan bentuk persoalan yang sebenarnya."Bunda sedang ada urusan penting. Seminggu lagi baru kembali. Kamu ditemani Mbak Asih dulu ya." Gilang berkata sambil mengusap pucuk kepala Amira dengan lembut.Amira yang melihat ekspresi berbeda dari ayahnya sedikit menyipit. Gadis kecil itu sangat paham bagaimana karakter ayahnya dan dia yakin saat ini ayahnya sedang memiliki masalah yang cukup besar terkait dengan ibunya.Amira yang memang cerdas sejak kecil bisa membaca gestur tubuh ayahnya dan raut wajah ayahnya itu."Aku harus menemui Tante Dela untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Bunda." Amira mengambil ponselnya dan segera menghubungi Dela untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada bundanya.Dela yang dihub
"Ke mana kiranya mereka? Kenapa rumah dalam keadaan sepi?" Risa merasa terheran-heran melihat rumah yang begitu sepi.Pak Sapto yang biasanya berjaga di depan rumah pun tidak terlihat. Hal itu membuat Risa benar-benar merasa cemas."Apa terjadi sesuatu hal yang buruk pada Kak Gilang?" Risa meremas jemarinya dengan rasa khawatir.Dia sangat khawatir jika sampai terjadi sesuatu pada Gilang atau terjadi sesuatu pada Amira. Dia tidak ingin mengingkari janjinya pada Mega dan Gading yang memintanya untuk menjaga dua orang yang sangat mereka cintai itu."Coba kamu hubungi Dela." Wulan memberikan ponselnya kepada Risa yang langsung disambut dengan cepat oleh perempuan itu."Kak Gilang baru saja dirawat di rumah sakit. Selama seminggu terakhir ini Kak Gilang selalu muntah-muntah di pagi hari." Dela menyahut di seberang telepon."Kak Gilang sakit? Dirawat di rumah sakit mana?"Risa langsung meminta diantarkan oleh Wulan ke rumah sakit yang disebutkan oleh Dela. Ada perasaan menyesal di dalam ha
"Jangan-jangan apa? Jangan ngadi-gadi lho ya." Gilang menatap tajam pada Gio yang sepertinya tengah berpikir licik pada dirinya."Emang yang ada di pikiran lo apaan? Gue cuma berpikir jangan-jangan lo amnesia. Atau lo memiliki kepribadian ganda yang selama ini tidak pernah kita ketahui.""Sialan lo. Mending sekarang lo cari es krim rasa strawberry sebanyak mungkin. Gue pengen makan es krim yang banyak." Gilang melempar Gio dengan sebuah kartu ATM yang langsung disambut oleh Gio dengan senyum bahagia.Dia pun berpamitan pada Risa dan Gilang untuk segera membeli es krim pesanan Gilang. Tak lupa pula pemuda itu mengajak Dela yang baru saja datang hendak menjenguk Gilang."Kak Gilang mau es krim? Bukannya Kak Gilang nggak suka es krim?" Dela memiringkan tubuhnya demi mendengar penjelasan dari Gio tentang permintaan Gilang kali ini."Aku juga nggak tahu. Makanya aku bilang kalau Kak Gilang itu jangan-jangan kesambet jin ifrit.""Huusss. Jangan asal bicara. Pamali""Ya ampun Del Del. Zaman
"Kamu nyadar nggak sih kalau akhir-akhir ini Kak Gilang berubah banget. Aku bener nggak bisa menebak kelakuannya yang akhir-akhir ini begitu manja dan merengek seperti anak kecil. Sangat berbanding terbalik dengan karakter Kak Gilang yang selama ini begitu dingin dan keras." Gio berkata sambil menyandarkan punggungnya di kursi di taman rumah sakit.Dela menatap bintang yang bertaburan di langit. Begitu indah pemandangan malam itu membuat perempuan itu tersenyum seorang diri. Gio yang melihat keadaan itu langsung menyebut dan menepuk bahu Dela dengan lembut."Kamu nggak dengar aku ngomong ya?""Dengar kok. Aku cuma bingung saja harus menjawab apa. Karena aku pun merasa kalau Kak Gilang benar-benar sudah berubah karakternya." Dela menoleh ke arah Gio sambil memainkan ujung kemeja yang dipakainya.Selama mengenal Gilang, memang Dela tidak pernah berani berbicara dengan lelaki itu begitu banyak dikarenakan sikap Gilang yang terlalu dingin. Bahkan untuk berbicara dengan Risa saja Gilang te
Risa sebenarnya tidak menyukai ikan laut. Namun kali ini dia tidak bisa menolak permintaan Gilang karena jika tidak dituruti maka Gilang akan merengek seperti anak kecil. Risa tidak ingin sikap Gilang yang tiba-tiba berubah nanti akan membuat Amira berpikiran yang tidak tidak."Tiba-tiba aku pengen minum es jeruk nipis." Risa menyeka air liur yang menetes di pinggir bibirnya.Bayangan es jeruk nipis menari-nari di kepalanya membuat perempuan itu pun akhirnya memanggil beberapa orang anak nelayan untuk meminta dicarikan jeruk nipis."Nyonya mau dibuatkan es jeruk nipis?" Salah seorang anak nelayan bertanya sambil mengedipkan matanya karena sinar matahari yang begitu kuat menyilaukan mata."Tidak. Saya hanya minta dicarikan es batu dan jeruk nipis saja," sahut Risa dengan senyum mengembang.Anak tersebut pun melesat berlari meninggalkan Risa setelah berjanji akan kembali dalam beberapa menit lagi."Ini piringnya, Bunda." Amira meletakkan sebuah piring di dekat Risa.Gadis kecil itu memb
Risa memarkirkan mobil di halaman sekolah yang bercat merah putih tersebut. Ia memasuki ruangan yang di tuju. Acara belum di mulai. Ia memilih duduk di deretan bangku paling depan. Setelah menunggu beberapa menit, Acara pun di mulai. Kepala sekolah menyampaikan pidatonya tentang perkembangan sekolah dan meminta maaf atas nama seluruh majelis guru jika pernah menyinggung perasaan wali murid. Tibalah saatnya pengumuman siswa berprestasi dengan nilai terbaik. "Siswa tersebut adalah ..." Hening "Amira Syakila Gading Putri" Air mata Risa meluncur dengan deras membasahi pipi. Amira naik ke atas panggung, menerima piala dan berjalan menuju mikropon yang telah di sediakan. Amira menunduk sebelum berbicara. Setelah mengangkat wajahnya, Risa baru tahu kalau putrinya itu sedang menangis. "Piala ini .. Amira persembahkan untuk Bunda. Bunda yang telah menjaga dan merawat Amira dengan baik dan penuh kasih sayang. Bunda yang begitu tulus menyayangi Amira. Bunda yang begitu sabar dan tabah
Dear Diary ...Sejak awal pertama aku dilelang oleh Tante Tika, aku tidak pernah menyangka kalau hidupku akan menjadi seperti saat ini.Dinikahi laki-laki yang tidak dikenal bukanlah impianku. Namun, aku selalu berharap, untuk bisa mengabdi pada laki-laki yang telah mengikatku pada ikatan pernikahan yang suci.Sejak pertama kali Kak Gilang menggenggam erat tanganku, aku merasa terlindungi. Aku jatuh cinta padanya. Walaupun sikap Kak Gilang sangat dingin padaku, aku merasa nyaman dengan perhatian dan ketegasannya.Aku merasa terluka saat tahu Kak Gilang memilki seorang ratu di dalam hatinya. Aku berharap, dan selalu berdo'a agar Kak Gilang bisa membuka hatinya untukku dan melupakan cinta di masa lalunya.Cinta membawa keajaiban. Kak Gilang yang dahulu sangat dingin, perlahan mulai sedikit mencair dengan seringnya kami merajut kasih. Dan yang membuat aku sangat bahagia adalah ketika Kak Gilang mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Dan aku adalah cinta pertama dan terakhir baginya.Na
"Aku tidak ingin Kakak terus-terusan membicarakan tentang kematian. Kita pasti akan menjaga anak kita dengan bersama-sama." Risa membingkai wajah Gilang dan kembali mencium pipi suaminya itu dengan mesra.Lisa meraba dadah Gilang yang terkena bekas tembakan dan dia merasakan bahwa detak jantung Gilang yang sudah semakin melemah."Jantungku akan berhenti berdetak. Tapi, kamu harus terus maju. Jangan pernah berpikir kalau kamu seorang diri membesarkan anak-anak. Karena aku akan selalu menyelimutimu dengan cinta." Gilang menatap Risa dan mengusap air mata istrinya itu yang semakin deras mengalir."Jangan pernah sakiti dirimu dengan memori tentang kita. Karena aku akan selalu mencintaimu. Aku akan selalu ada dalam hatimu, menemanimu. Karena yang akan pergi, hanya ragaku saja. Tapi jiwaku akan selalu ada ...!""Kak ... Tolong. Berhenti bicara seperti itu!" Risa berhambur memeluk suaminya itu. Gilang mendekap tubuh Risa dengan erat. Membelai rambutnya dan mencium kening istrinya itu berkali
Risa dan Gilang sampai di Villa ketika matahari hampir terbenam. Gilang terlihat sangat lemah. Sesekali dia memegang dadanya. Setiap Risa tanya kenapa? Gilang berkata dia baik-baik saja.Mereka duduk di bangku panjang di Balkon kamar yang dulu pernah mereka tempati untuk merajut kasih. Gilang berkata ingin melihat matahari terbenam. Senyum terbit di wajah Gilang. Senyum itu sangat manis. Namun, seperti menyimpan sebuah luka."Kamu bahagia menikah denganku?" Gilang menoleh ke arah Risa sesaat. Lalu kembali menatap matahari yang semakin hilang dan meninggalkan semburat berwarna merah. "Sangat. Aku sangat bahagia. Kebahagiaanku selama hidup adalah menjadi istri Kakak," jawab Risa dengan uraian air mata."Kakak sendiri? Apa Kakak bahagia?" tanya balik Risa.Gilang menatap Risa, lalu mengecup kelopak bibir istrinya itu dengan hangat. Risa pun memejamkan mata menikmati kecupan yang diberikan oleh suaminya itu. Risa merasakan sentuhan bibir Gilang yang kali ini terasa berbeda. Entah mengapa
Beberapa saat kemudian, Perawat membawa Gilang menuju ruang ICU. Risa dan keluarga Gilang di larang untuk masuk. Dan mereka harus menunggu di luar.Risa semakin gelisah. Perasaan takut semakin menghantuinya. Ia ingin segera bertemu Dengan Gilang. Perempuan itu sudah sangat rindu pada suaminya dan ingin melihat kondisi suaminya itu.Sementara itu, Pak Adiguna dan Gio merasa gelisah karena pihak polisi tak kunjung datang ke rumah sakit. Padahal baik Pak Adiguna maupun pihak rumah sakit sudah menelpon pihak polisi sejak setengah jam yang lalu."Apa sebaiknya aku telepon lagi polisi itu?" Dio hendak merogoh ponselnya di dalam saku celana. Namun Pak Adiguna menahan pergerakan putranya karena khawatir pihak polisi menganggap mereka tidak mempercayakannya.Mereka semua merasa gelisah karena satu-satunya kunci untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Gilang adalah pihak polisi.Della pun sudah datang kembali ke rumah sakit karena ketiga anak Risa sudah tertidur dengan pulas."Kak, polisinya d
"Mati kau Gilang! Lebih baik kau mati dari pada menambah luka hatiku!" Allea tertawa terbahak-bahak."Allea ....!" Gilang memegangi dadanya.Risa terkejut ketika tiba-tiba Gilang meraba dadanya dan ...Darah mengalir dengan deras."Kakak ...! Ya Allah." Air mata Risa mengalir dengan deras. Dia tidak kuasa melihat Gilang yang bersimbah darah."Alea. Kamu sudah gila!" Mamanya Gilang membantu Risa menyanggah tubuh Gilang yang hampir tumbang."Kita akan mati bersama-sama, Gilang. Aku mencintaimu!"Dhuarr ...!Alea menembakkan pistol tersebut ke dadanya. Mata Alea melotot, dengan darah segar mengalir deras dari mulutnya.Alea ambruk ke lantai. Dengan pistol yang masih di tangannya. Alea merenggang nyawa."Allea ....!" Mamanya Gilang terkejut ketika melihat Allea yang benar-benar sudah tidak berkutik dan sudah mati.Risa memeluk tubuh Gilang yang bersimbah darah. Ia merasakan tubuh suaminya semakin dingin. "Gio... Cepat panggilkan ambulans!" Risa berteriak dengan lantang dan suara yang be
"Ya udah deh. Mama dan Papa nginap di sini." Nyonya Adiguna tersenyum membuat Gilang mencium punggung tangannya dengan takzim."Makasih, Ma. Pa."Gio hanya menggeleng melihat kelakuan kakaknya yang dianggap terlalu lebay. Risa pun sebenarnya merasa melihat Gilang yang memiliki karakter tidak sama dengan suaminya yang begitu tegas dan tidak manja."Gue balik dulu, Kak. Udah malam," ujar Gio melirik jam tangannya."Lo juga nginap di sini, Gi. Gue mohon," ujar Gilang dengan wajah memohon."Eh, Kak. Lo kenapa, sih? Melow amat?" Gio mengerutkan keningnya."Gue pengen aja, kita kumpul rame-rame kayak masih kecil dulu!" Gilang kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Mamanya. Hal itu membuat Gio mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah.Akhirnya, malam itu mereka berkumpul bersama. Mereka bercengkrama dengan hangat. Risa sesekali ikut tertawa saat mendengar kekonyolan mereka bertiga ketika masih kecil.*****Pukul dua dini hari, Risa merasa tenggorokannya kering. Ia melihat gelas di atas n
Risa mengecek secara detail persiapan ulang tahun Galuh dan Galih yang dirayakan secara meriah. Gilang sengaja mengundang para relasi bisnis dan teman-temannya dalam perayaan kali ini.Sebelumnya, Gilang tidak setuju kalau ulang tahun anak-anaknya di rayakan dengan meriah. Setiap ulang tahun Amira, Galuh dan Galih, mereka memilih untuk merayakannya di panti asuhan. Berbagi kebaikan pada anak-anak yatim di sana.Namun, kali ini Gilang meminta Risa untuk mengadakan pesta ulang tahun yang meriah. Ketika Risa tanya alasannya, Gilang mengatakan kalau dia ingin melihat anaknya bahagia berada ditengah-tengah pesta. Risa merasa itu jawaban yang aneh. "Nggak biasanya Kak Gilang seperti ini," bisik Risa seorang diri.Gilang juga meminta Risa untuk mengundang anak-anak yatim dan panti asuhan yang sering mereka kunjungi. Gilang mengatakan, ia ingin mengajak anak-anak tersebut melihat pesta ulang tahun dan berbagi lebih banyak lagi.Gilang memang suka berbuat baik. Bahkan sampai Sekarang, Gilang
Prangggg ....!"Benar-benar sial! Tak ada satupun anak buahku di Indonesia yang bisa diandalkan. Mereka semua benar-benar bodoh. Tidak ada yang cerdas satupun!" Allea kembali membanting gelas berisi wine yang berada di tangannya.Dia baru saja mendapat kabar dari anak buahnya bahwa mereka sudah gagal menculik anak Gilang."Sepertinya memang harus aku sendiri yang turun tangan untuk menghabisi mereka. Aku tidak akan pernah lagi membiarkan hatiku sakit melihat Gilang berbahagia dengan keluarganya. Memang harus aku sendiri yang turun tangan dan menyelesaikan masalah ini." Allea menatap sinis pada foto Gilang yang masih terpampang di dalam kamarnya.Perempuan itu pun segera membuka aplikasi Traveloka untuk memesan tiket pesawat. Tak sabar lagi bagi dia ingin segera mengakhiri penderitaannya dan melihat penderitaan keluarga Gilang untuk kedepannya."Aku akan melakukan apapun yang aku yakini bisa membuatku bahagia. Aku tidak akan pernah membiarkan Gilang dan keluarganya hidup tenang. Mereka