Dua jam telah berlalu, pintu Unit Gawat Darurat akhirnya terbuka kembali.Ariana dan Andrew, yang sedari tadi duduk dalam kecemasan, langsung menoleh. Dua perawat wanita tampak mendorong tempat tidur rumah sakit ke luar ruangan, dan di atasnya, Diego terbaring tak sadarkan diri.Kepalanya dibalut perban, wajahnya tampak pucat dengan beberapa memar yang masih terlihat jelas di pipi dan sudut bibirnya.Ariana langsung berdiri, tanpa sadar menutup mulutnya dengan tangan. Matanya kembali menggenang, dadanya terasa sesak melihat pria yang dicintainya dalam kondisi seperti itu.Langkahnya maju dengan sendirinya, mendekat ke sisi tempat tidur Diego. Andrew menyusul dari belakang, meskipun ekspresinya tetap tenang, tapi jelas ada kekhawatiran di sorot matanya.Air mata Ariana akhirnya jatuh ketika dia melihat wajah Diego dari dekat. Tangannya bergetar saat menyentuh jemari Diego yang terasa dingin.Beberapa saat kemudian, dokter yang tadi menangani
Diego Martin duduk dengan tenang di sebuah kafe kecil diMadrid, di tangannya, diamemegang sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas berwarna emas.Senyumnya mengembang saat dia menatap kotak itu, kotak berisikan cincin yang dia beli dengan hasil jerihpayahnya selama bekerja. Cincin yangakan menjadi simbol dari cinta dan komitmennya kepada Valentina—kekasihnya. Pria berparastampan itu berniat melamar Valentina.Wanita cantik yang telahmenjalin hubungan dengannya selama satu tahun terakhir, tanpa memedulikanstatusnya sebagai tukang bersih-bersih. Menurut Diego, Valentina adalah wanita langka—wanita cantik yang memiliki senyuman yang begituindah dan hati yang luas.Suasana di kafe itu ramai, suara tawa dan percakapan mengisiudara. Namun, pikiran Diego sepenuhnya terfokus pada momen yang akan datang.Pintu kafe terbuka, dan hatinya berdegup kencang saat melihat sosok yangdinantikannya. Valentina muncul di ambang pintu, dengan senyum ceria diwajahnya, memancarkan cahaya
“Diego! Bagaimana dengan lamaran—” Jorge, teman seapartemennya menyapa dengan semangat kalatersadar Diego telah kembali. Terlebih karena pria itu tahu bahwa hari ini,Diego akan melamar Valentina. Tetapi, kalimatnya terhenti saat melihat wajahDiego. Pria itu terdiam, mendapati Diego yang basah kuyup karenaterkena hujan, dengan wajah yang tak bisa bersandiwara. “Hah... kamu sebaiknya mandi dan ganti pakaian. Setelah itu,langsung istirahat. Biar kamu lupa, besok ada job baru untuk kamu,” ucap Jorge.Melihat sosok sang sahabat yang melangkah pelan menuju kamar mandi, dia takperlu bertanya lagi dan langsung sadar jika lamaran Diego tidak berjalan baik. Setelah mandi, Diego segera ke kamar tidurnya, bergantipakaian, dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Semua yang terjaditerasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Dia ingin melupakansemuanya, tetapi bayangan Valentina terus menghantuinya. Tangannya terus menggenggam kotak cincin yang harusnyamenjadi peng
Tawa Ariana lepas, mendengar jawaban Diego. “Yang aku tanyanamamu,” ujar Ariana.Diego tersentak kaget, tersadar dari lamunannya. Sadar akantindakannya, Diego dengan cepat menundukkan pandangannya. “Na... namaku Diego, Nyonya,” jawab Diego terbata-bata,suaranya hampir tak terdengar. Ariana yang masih tertawa kembali duduk di kursitaman, suara tawa sang majikan membuat Diego semakin salah tingkah.“Ah... sialan, kenapa aku bisa bertingkah bodoh sepertiini,” gumam Diego dalam hati, merasa malu dengan dirinya sendiri.Tangan Ariana meraih selembar kertas di meja. “Ini kontrakkerjamu, kamu bisa membacanya dulu, lalu tanda tangan jika kamu setuju denganpoin-poin yang tertera di sini,” ucapnya sambil menyodorkan kertas itu keDiego.Diego melangkah pelan, menerima kertas itu. Begitu membacatulisan di dalamnya, ekspresi terkejut menghiasi wajahnya.“Maaf... Nyonya, apa gaji saya tidak salah?” tanyanya,matanya terbelalak melihat nominal angka gajinya yang empat kali lebih besardari
Suasana sore itu terasa santai dan penuh tawa di sekitarkolam renang. Di tepi kolam, Ariana duduk bersandar nyaman di kursinya bersamaDiego dan Andrew, menikmati suasana tenang sambil menyaksikan aksi Jorge danDiego yang sedang sibuk mengurus taman.Jorge terlihat mendekati Diego, dan tanpa aba-aba, iamengarahkan selang air langsung ke tubuh sahabatnya.Air menyembur deras, membasahi baju Diego dalam sekejap."Hei, Jorge! Berhenti!" Diego protes, lalu tertawa lepas.Ariana dan Sergio yang melihat aksi kocak itu, ikut tertawa.Setelah beberapa hari bersama dan semakin akrab dengan Sergio dan Ariana, keduapria itu tak lagi merasa sungkan untuk bercanda seperti ini.Diego lalu meraih ujung bajunya, menariknya hingga terlepas,memperlihatkan tubuhnya yang atletis dan berotot di bawah sinar matahari.“Andrew, lihat tingkah mereka, hahaha,” ucap Sergio sambilterkekeh.Andrew, yang berdiri di samping Sergio, tersenyum kaku, lalumenghela napas dan berujar dengan sedikit ragu, “Maafkan
“Mulus sekali,” batin Diego, instingnya sebagai lelaki normal terbangun dengan jantungnya berdetak cepat."Kalau begitu aku mulai, Nyonya," ucapnya pelan, suaranya terdengar ragu dan sedikit tercekat.Ariana mengangguk pelan. "Iya, silakan," jawabnya, suaranya hampir tak terdengar.Pipi wanita itu memanas. Ia tersipu malu, berusaha menjaga ketenangannya. “Kenapa aku bisa gugup begini? Ini hanya pijatan. Tapi, jantungku... ya ampun, kenapa berdebar seperti ini?” Ucapnya Dalam hati.Dalam pikirannya terbayang kembali bentuk tubuh Diego yang atletis dan berotot, yang ia lihat tadi. Dan pria itu sekarang sedang menyentuh punggungnya secara langsung.Diego pun mulai menggerakkan tangannya dengan hati-hati, berusaha menemukan kekuatan yang tepat."Apa segini cukup, Nyonya?" tanya Diego, khawatir pijatannya justru menyakiti majikannya."Iya, cukup nyaman," jawab Ariana, berusaha menenangkan dirinya. Jantungnya berdetak semakin cepat, merasakan sentuhan tangan Diego. Ia menutup mata, berusaha
Suasana duka menyelimuti kediaman mewah Sergio Ortiz, seolah-olah awan kelabu telah menutupi kemewahan yang selama ini tercermin dari setiap sudut bangunan. Semua pekerja berduka, mata mereka merah karena menangisi kepergian yang begitu tiba-tiba dari orang yang mereka hormati dan cintai, Sergio Ortiz.Di tengah kesedihan yang mendalam, dua figur terlihat paling terpukul oleh berita duka ini, Diego dan Ariana. Diego, yang semalam masih berbagi tawa dengan Sergio, duduk terpaku, matanya memandang kosong ke depan, seolah-olah berusaha mencerna kenyataan pahit yang menimpa. Sementara itu, Ariana, yang masih terbungkus dalam kesedihan, terus menangis tanpa henti. Andrew, dengan setia, menemani dan mengawal wanita cantik itu. Gaun hitam yang dikenakan Ariana semakin menambah kesan duka yang mendalam, warna yang merepresentasikan kehilangan yang tak tergantikan.Suara sirene mobil ambulans memecah kesunyian, tanda bahwa saatnya telah tiba untuk melepas kepergian Sergio Ortiz. Jenazahnya den
Diego duduk tegak di kursi tamu di ruang kerja Andrew, matanya terpaku pada peta struktur organisasi Grup Ortiz yang terpasang di dinding. Andrew, yang berdiri di sampingnya, menjelaskan dengan detail setiap bagian dari bisnis keluarga Ortiz, dari industri manufaktur hingga jaringan hotel mewah di seluruh dunia.Diego mendengarkan dengan saksama, mencoba memahami kompleksitas kekaisaran bisnis yang ditinggalkan oleh Sergio Ortiz."...dan di sisi keluarga, ada Miguel Ortiz, adik Sergio, yang dikenal cukup ambisius dalam mengembangkan sayap bisnisnya sendiri," Andrew menjelaskan, menunjuk foto Miguel di peta organisasi. "Lalu, ada Juan Ortiz, putra Sergio yang belum banyak terlibat dalam urusan bisnis keluarga... setidaknya, belum."Diego merasa matanya melebar ketika mendengar tentang Juan. Ia tidak menyangka bahwa Sergio memiliki seorang putra. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan, tetapi yang paling mengganggunya adalah, untuk apa Andrew menjelaskan semua ini kepadanya? Diego hanyala
Dua jam telah berlalu, pintu Unit Gawat Darurat akhirnya terbuka kembali.Ariana dan Andrew, yang sedari tadi duduk dalam kecemasan, langsung menoleh. Dua perawat wanita tampak mendorong tempat tidur rumah sakit ke luar ruangan, dan di atasnya, Diego terbaring tak sadarkan diri.Kepalanya dibalut perban, wajahnya tampak pucat dengan beberapa memar yang masih terlihat jelas di pipi dan sudut bibirnya.Ariana langsung berdiri, tanpa sadar menutup mulutnya dengan tangan. Matanya kembali menggenang, dadanya terasa sesak melihat pria yang dicintainya dalam kondisi seperti itu.Langkahnya maju dengan sendirinya, mendekat ke sisi tempat tidur Diego. Andrew menyusul dari belakang, meskipun ekspresinya tetap tenang, tapi jelas ada kekhawatiran di sorot matanya.Air mata Ariana akhirnya jatuh ketika dia melihat wajah Diego dari dekat. Tangannya bergetar saat menyentuh jemari Diego yang terasa dingin.Beberapa saat kemudian, dokter yang tadi menangani
Sirene ambulans melolong keras saat kendaraan medis itu akhirnya berhenti tepat di depan unit gawat darurat rumah sakit.Pintu belakang ambulans terbuka dengan kasar, dan dua paramedis langsung menarik tandu keluar dengan cepat.“Cidera kepala parah! Pendarahan aktif! Tekanan darahnya menurun!” salah satu paramedis meneriakkan kondisi Diego begitu mereka berlari masuk ke dalam rumah sakit.Ariana yang duduk di dalam ambulans segera melompat turun dan berlari mengejar Diego.“Diego!” teriaknya, suaranya penuh kepanikan.Sepatu hak tingginya nyaris membuatnya tersandung saat ia berlari di lantai rumah sakit yang licin. Matanya terus terpaku pada tubuh Diego yang terbaring lemah di atas tandu, wajahnya pucat dan tak sadarkan diri. Para staf medis mendorong tandu dengan cepat melewati lorong rumah sakit, menuju ruang UGD.Namun, ketika Ariana hendak masuk bersama mereka, seorang perawat muda dengan sigap menghadangnya.“Maaf, Nona, Anda tidak bisa masuk!”Ariana terhenti, napasnya terseng
Udara malam terasa sejuk saat Ariana dan Diego berjalan berdampingan menuju parkiran restoran. Malam ini seharusnya berakhir dengan sempurna, makan malam yang menyenangkan, candaan ringan di antara mereka, dan perasaan hangat yang terus menggantung sejak insiden dengan Juan.Diego berjalan setengah langkah lebih dulu, seperti biasa, dengan naluri protektifnya yang selalu memastikan Ariana tetap aman. Tangannya terulur, hendak membuka pintu mobil untuk Ariana.Namun, sebelum jari-jarinya sempat menyentuh gagang pintu—TING!Suara benturan keras terdengar begitu brutal.Diego bahkan tidak sempat menyadari apa yang terjadi sebelum kepalanya dihantam tongkat baseball dengan kekuatan penuh.BUK!Tubuhnya langsung tersungkur ke aspal. Darah mengucur deras dari luka di pelipisnya, mengalir melewati dahi, menodai wajahnya yang kini diliputi rasa sakit luar biasa. “DIEGO!” Jerit Ariana.Tiga pria berpakaian serba hitam dan bertopeng berdiri di atas tubuh Diego. Tanpa memberi kesempatan, merek
Suasana restoran yang semula tenang berubah begitu Juan menarik kursi dari meja di sebelahnya dan tanpa izin menggesernya hingga dekat dengan Ariana. Dengan percaya diri yang berlebihan, dia duduk, menyilangkan kakinya, dan menatap Ariana dengan tatapan familiar—tatapan seorang pria yang merasa memiliki segalanya.Diego, yang sedari tadi sudah merasa tidak nyaman, hendak membuka mulut. “Tuan, apa yang kamu la—”Namun, sebelum kalimatnya selesai, Juan mengangkat tangan, menghentikannya dengan tatapan tajam penuh penghinaan.“Diam.” Suaranya tegas dan menusuk. “Aku sudah tahu siapa kamu, hanya seorang asisten pribadi Ariana.” Senyuman sinisnya merekah, lalu dia melanjutkan, “Kamu seharusnya tahu diri. Uang yang membayar gaji kamu itu berasal dari hasil jerih payah ayahku.”Mata Diego menyipit. Tangannya mengepal di atas paha, bersiap untuk membalas. Namun, Ariana lebih dulu memberi isyarat dengan meletakkan tangannya di atas punggung tangannya, seolah meminta Diego untuk menahan diri.D
Tak terasa, sudah seminggu berlalu.Ariana dan Diego semakin terbiasa dengan ritme kerja mereka di OBC. Keduanya membentuk tim yang solid—Ariana dengan kepemimpinannya yang tegas, sementara Diego dengan ketajaman analisis serta eksekusinya.Yang lebih mengejutkan, Miguel tidak lagi muncul mengusik Ariana. Setelah kejadian minggu lalu, pria itu sepertinya memilih untuk menarik diri. Alasannya jelas—ia tak pernah menyangka bahwa Ariana akan mendapatkan dukungan sebesar ini dari para sahabat lama Sergio.Kini, di ruang kerja mereka, suasana terasa hening.Ariana dan Diego duduk di meja masing-masing, menatap layar laptop dengan serius.“Proyek properti di distrik utara ini menarik,” gumam Ariana.Diego melirik layar laptopnya. “Aku sudah meneliti pengembangnya, ada dua opsi terbaik. Tapi yang lebih solid Ventura Development.”Ariana mengangguk. “Pastikan mereka punya portofolio yang stabil. Aku tidak mau mengambil risiko.”Diego mengetik sesuatu, lalu menatap Ariana. “Aku akan urus itu.”
Udara malam di luar terasa sejuk, angin bertiup lembut membawa aroma tanah yang masih basah akibat hujan sore tadi. Di dalam kediaman mewah Ariana, suasana jauh lebih hangat, diterangi lampu-lampu temaram yang memberikan kesan nyaman.Ariana dan Diego baru saja tiba setelah hari yang panjang di kantor. Namun, bukannya langsung beristirahat, mereka malah menuju sebuah ruangan di sayap barat rumah—ruangan yang dulu milik Sergio.Diego yang berjalan di belakang Ariana sempat menghela napas pelan. Ini bukan pertama kalinya ia masuk ke ruangan ini, tapi tetap saja ada perasaan berbeda setiap kali ia melangkah ke dalamnya.Begitu Ariana membuka pintu, aroma khas kayu mahoni bercampur wangi samar parfum lama yang dulu sering digunakan Sergio menyambut mereka. Ruangan itu masih dipertahankan hampir sama seperti saat Sergio masih hidup—meja besar yang tertata rapi, rak buku yang berisi koleksi literatur bisnis dan hukum, serta beberapa barang pribadi yang dibiarkan tetap berada di tempatnya.A
Ariana tersenyum semringah, merasa haru dan penuh semangat. Ia menjabat tangan Richard erat-erat, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat."Terima kasih banyak, Tuan Richard. Aku akan melakukan yang terbaik," ucapnya dengan penuh keyakinan.Diego yang penasaran akhirnya melangkah lebih dekat. Matanya menyipit saat melihat dokumen yang masih dipegang Ariana. Tapi begitu ia melihat angka yang tertera di dalamnya, matanya membesar, dan rahangnya sedikit terbuka."Sial…" gumamnya pelan.Ariana melirik ke arahnya, menahan tawa. "Kenapa?"Diego menunjuk dokumen itu dengan ekspresi syok. "Ini… ini angka semua, kan? Bukan typo?"Richard terkekeh. "Hahaha! Itu uang semua, Diego."Ariana tak bisa menahan tawanya lagi melihat ekspresi Diego yang masih terkejut.Namun, tawa mereka terhenti ketika suara langkah kaki terdengar semakin dekat dari luar ruangan.Richard tersenyum tipis, melirik ke arah pintu. "Sepertinya mereka sudah datang."Ariana dan Diego bertukar pandang, bingung.Tak lam
Diego dan Ariana kembali ke kantor setelah makan siang. Suasana masih sama seperti sebelumnya—sibuk dan penuh aktivitas. Beberapa karyawan melirik sekilas ke arah mereka, tetapi tidak ada lagi tatapan penasaran seperti tadi pagi.Saat mereka melewati beberapa meja, Ariana bisa merasakan beberapa pasang mata diam-diam kembali memperhatikan Diego. Ia hanya tersenyum kecil, merasa geli sendiri melihat bagaimana para karyawan wanita masih penasaran dengan pria di sampingnya.Ketika mereka sampai di ruangan, Andrew belum kembali. Berarti ia mungkin masih di luar untuk makan siang atau ada urusan lain.Diego berjalan ke meja kerja dan mengambil beberapa dokumen yang sudah tertata rapi. Ia menyerahkannya pada Ariana. “Ini perlu ditandatangani,” katanya singkat.Ariana mengambilnya, mulai membaca dengan serius. Sesekali, ia mengetukkan pena ke meja, menandakan bahwa pikirannya sedang mencerna isi dokumen tersebut.Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya suara detak jam dan bunyi samar
Restoran El Mirador menyuguhkan pemandangan kota yang begitu luas dan menawan dari lantai atas. Langit siang yang cerah serta angin sepoi-sepoi yang sesekali berembus melalui jendela kaca besar, menciptakan suasana yang sempurna untuk makan siang yang tenang.Ariana dan Diego duduk di salah satu meja eksklusif, terpisah dari keramaian utama restoran. Interior yang elegan, lampu gantung kristal, serta alunan musik jazz lembut semakin memperkuat kesan mewah tempat itu.Seorang pelayan datang dengan sikap ramah, menyerahkan buku menu sebelum menunggu dengan sabar. Ariana melihat daftar makanan dengan cepat, lalu menoleh pada Diego yang tampak lebih fokus pada suasana sekitar."Aku pesan salmon steak dengan saus lemon butter," ujar Ariana santai, lalu mengangkat alis menunggu pilihan Diego.Diego akhirnya menutup menu dan menyerahkannya pada pelayan. "Untukku… rib-eye steak, tingkat kematangan medium rare."Pelayan itu mengangguk, mencatat pesanan mereka sebelum mundur dengan sopan. Begitu