Beranda / Romansa / Terjebak Birahi Pengacara / 23. Mengenang Sensasi

Share

23. Mengenang Sensasi

Penulis: MMZ
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-29 19:42:56

Ella menatap lembaran alat test Wartegg di hadapannya. Rasanya pikirannya tidak sinkron dengan hatinya, dari tadi Ella terus menerus melirik ponsel di tangannya.

"Ke mana si Brengsek itu? Kenapa dia nggak nelepon aku sih?" tanya Ella sambil melirik ponselnya berharap ada satu saja pesan dari Daru.

"Daru ...."

Deg ....

Mendengar nama Daru saja sudah membuat setiap inci di tubuhnya meremang. Pikirannya kembali melayang saat Daru menyentuh tubuhnya dengan tangan dan bibirnya. Ah ... dia ingin lagi, dia mau lagi, dia ingin Daru lebih lama dan lebih intim.

Tanpa sadar Ella meremas alat test di hadapannya langsung berteriak saat menyadarinya. "Astaga ... kok diremes Ella."

&n

MMZ

Selamat menikmat konflik ala MMZ Salam Kellon dari Maemunah ❤️

| 5
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Citra Ayu Lestari
elll km. gobllokk
goodnovel comment avatar
Stephanie michelle
nikmat sesaat membawa akibat.
goodnovel comment avatar
Stephanie michelle
mulai deh cerita nya.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Terjebak Birahi Pengacara   24. Kecewa

    Bandara Soekarno Hatta pukul tiga sore, "Kamu dimana?" tanya Ibu Yuni pada Renya. "Aku perjalanan ke butik, aku udah telpon Daru untuk ketemu di sana," jawab Renya saat dia baru saja masuk ke dalam sebuah taksi. "Jangan sampai Daru menunggu lama Renya, Mama gak mau kamu mengacaukan ini semua." "Mama tenang aja, aku tau apa yang aku lakukan." Renya mematikan sambungan teleponnya, dia benar-benar kesal hari ini, baru saja beberapa jam yang lalu dia hampir mendapatkan apa yang seharusnya dari dulu ia lakukan. Sekitar 45 menit perjalanan dari Bandara menuju butik yang sudah menjadi tempat mereka bertemu, Renya turun dari taksi. Wanita cantik yang mengenakan dress berwarna merah itu berjalan berlenggok memasuki butik dengan senyum tipis di sambut oleh para pelayan butik. "Mbak Renya," sapa pemilik butik langganan Ibu Yuni itu.

  • Terjebak Birahi Pengacara   25. Terulang Lagi

    Di Luar Rencana Daru sudah tiba di kantor. Masih sangat pagi. Bahkan Tyas yang biasanya tiba lebih dulu darinya, belum menampakkan diri. Pintu ruangannya terbuka dan seorang petugas cleaning service yang sedang berada di dalam dengan sebuah sapu dan serokan terlihat sedikit berjengit karena kehadiran Daru yang tiba-tiba. Daru meletakkan ponsel dan kunci mobilnya di atas meja. Ia lalu menuju lemari berkas. Ia sebenarnya tak pernah menyentuh lemari berkas itu. Namun Daru merasa tak enak kalau harus meminta Tyas datang lebih awal hanya untuk mencarikannya setumpuk berkas. Kedatangan Daru di pagi buta, ‘hanya’ demi seorang klien berengsek yang telah membuat faktur pajak palsu. Dan hal itu lolos dari pengamatannya. Banyaknya berkas yang bertumpuk di dalam lemari membuat kepalanya langsung pusing. “Pasti udah diurutkan sesuai abjad nama perusahaan.

  • Terjebak Birahi Pengacara   26. Renya

    Renya merangkak di atas tubuh Daru, lelaki angkuh yang tidak pernah mau menyentuhnya sama sekali. Namun, mampu menggetarkan hasratnya di setiap inci tubuhnya. Daru terdiam saat merasakan ada yang merangkak di atas tubuhnya. Kepalanya sakit bukan main, minuman yang tadi Daru minum terus menerus membuat dirinya pusing. "Siapa?" tanya Daru saat merasakan sesuatu menggosok bagian pribadinya, menggodanya. "Maunya siapa?" tanya wanita itu. "Ella?" Tawa Renya langsung terdengar di ruangan itu, ternyata lelaki angkuh yang sulit di sentuh ini sudah memiliki pelabuhan hati lain selain almarhumah istrinya. Dan wanita itu bernama Ella. "R

  • Terjebak Birahi Pengacara   27. Kamu di mana?

    "Pagi," sapa keluarga Renya pagi itu saat Daru menuruni anak tangga rumah itu menuju meja makan tempat dimana keluarga itu berkumpul. "Gimana Daru? nyenyak tidur nya?" tanya Bramantya. Daru hanya tersenyum, dia menarik kursi yang berada di sebelah Renya. Wanita itu sudah tampil cantik dengan setelan blazer berwarna putih gading. "Teh? atau kopi?" tanya Renya. "Kopi," jawab Daru lalu mengambil satu lembar roti yang berada di hadapannya. "Daru udah coba dua jas yang Mama suruh coba kemarin kan?" Yuni, mama Renya memastikan kalau calon menantunya itu sudah siap dengan baju pilihannya. "Sudah ... Ma." Bohong Daru, menyentuh jas itu saja tidak apalagi berpikir akan memakainya. Keluarga aneh batinnya. "Persiapan untuk minggu depan kalian gak usah banyak mikir, sudah semua Mama dan mama kamu yang handle, kali

  • Terjebak Birahi Pengacara   28. Perjalanan Menemui Kebenaran

    Semua wanita pasti hanya membiarkan seseorang yang spesial untuk menyentuhnya. Bagi Ella, dulu Andi begitu spesial. Selalu mendahulukan semua tentangnya. Ella sedang menyobek-nyobek kertas menjadi serpihan kecil di atas meja ruangannya. Hampir semua murid, guru dan pegawai telah mengosongkan bangunan sekolah itu. Tersisa tiga orang siswa di lapangan basket yang sedang memantul-mantulkan bola ke ring. Ella masih diam. Mencari berbagai pikiran positif soal Daru yang lenyap begitu saja. Demi memikirkan hal itu, ia mengabaikan telepon Andi dan juga rentetan pesan dari ibunya. Andi pasti sudah mengadu pada ibunya. Dari dulu begitu. Pada awalnya Ella merasa tingkah Andi manis sekali. Begitu manis. Dekat dengan ibunya dan mampu bercerita panjang lebar soal hal-hal membosankan yang terjadi sehari-hari. Namun, lama kelamaan Andi berubah bagai seorang pengadu. Hal apapun, sedikit saja jika Ella melakukan hal yang tak diterima oleh pria itu, Andi p

  • Terjebak Birahi Pengacara   29. Pergi atau Tidak

    “Kamu—pacar Daru?” todong Tyas langsung.Ella sedikit terperanjat Tyas langsung menanyakan hal itu padanya. Bukan tak mau menjawab, ia hanya bingung akan menjawab apa pada sekretaris Daru yang sedang menelitinya itu.“Saya—aku … kita berdua cuma dekat, Mbak.” Ella mengangguk-angguk kecil kemudian mengatupkan mulutnya. Sekarang ia merasa seperti seorang siswa yang sedang ditanya-tanya di ruang BK.“Cuma dekat bagaimana? Maaf sebelumnya, aku bukan mau mencampuri urusan pribadi Handaru. Tapi kayaknya sebelum aku cerita lebih banyak lagi, aku mau ngasi tau sesuatu. AKu temen deket Daru dan … Nadya, almarhumah istri Daru. Aku menganggap diriku sebagai kerabat dekat mereka. Urusan Daru di luar sana sebenarnya bukan urusanku. Tapi ngeliat kamu dateng dengan wajah kayak gini, rasanya aku perlu ngomong ke kamu.” Tyas menarik napas dan menyandarkan punggungnya di sofa.

  • Terjebak Birahi Pengacara   30. Permohonan Daru

    Ella melirik jam di dinding kamarnya. Satu jam lagi menuju pukul tujuh malam. Ia sudah mandi dan memakai pakaian terbaiknya. Berdandan secantik mungkin dan menyemprotkan parfum mahal hadiah dari Andi. Tampilannya sudah siap untuk menemui Daru. Namun, hatinya belum. Meski sedikit ragu, Ella memutuskan untuk tetap pergi keluar rumah. Atau jika ia sudah berada di dalam taksi menuju restoran itu, ia bisa menghentikan langkahnya kalau ia berubah pikiran. Ia hanya ingin melihat Daru. Sejak berhasil menidurinya, laki-laki itu bahkan belum mengirimkan sepotong pesan. Walau di dalam hati berharap taksi yang dipanggilnya datang lebih lama, ternyata dugaannya meleset. Taksi sudah tiba di depannya tak sampai lima menit kemudian. Pengemudinya bilang, ia baru saja menurunkan penumpang tak jauh dari sana. “Santai aja, Pak. Saya gak buru-buru.” Ella bersandar ingin menenangkan jantungnya yang bergemuruh. Tangannya tak henti meliha

  • Terjebak Birahi Pengacara   31. Dia Cuman Gundik.

    Renya dengan santai melihat keributan yang ditimbulkan oleh Ella dan Daru, menarik. Mirip drama sabun colek picisan yang sering Renya tonton dulu. Asyik melihat gadis ingusan menangis dan menampar Daru. Rasanya Renya ingin tertawa terbahak-bahak melihat adegan tersebut, rencana orang tuanya ternyata bisa membuat seorang Handaru, pengacara hebat di Jakarta ditampar oleh gadis muda yang, menurutnya biasa saja. “Renya itu siapa?” tanya Bramantya sambil menatap Renya yang sedang santai meminum champagne. “Yang mana?” tanya Renya acuh tak acuh. “Renya ... jawab, itu siapa?” tanya Yani sambil menggoyangkan bahu Renya. “Itu?” tanya Renya sambil menunjuk Ella dengan gelasnya. “Iya itu, jawab?!” seru Bramantya. “Gundik,” jawab Renya santai. “Dia cuman gundik.” “Ngaco kamu Renya, gundik bagaimana? Kamu kok santai begitu?” seru Yani sambil mengguncang bahu Renya, rasa kesal langsung Yuni rasakan saat melihat betapa santai

Bab terbaru

  • Terjebak Birahi Pengacara   117. Hari Baru (Tamat)

    Sewaktu kecil Ella tak pernah merasakan bagaimana memiliki seorang ayah. Dia anak yang tumbuh besar dari ibu tunggal yang membesarkannya dengan menyingkir dari kecaman keluarga dan omongan orang terdekat. Sudah tak heran lagi kalau kebanyakan manusia selalu menganggap dirinya yang paling benar dan sempurna. Sehingga merasa lebih mudah untuk menghakimi kehidupan orang lain. Satu perasaan yang selalu Ella syukuri adalah bahwa ia dibesarkan oleh seorang wanita tangguh yang mengorbankan masa muda dan mampu mengalahkan egonya untuk tidak menikah lagi. Dulu Ella tak mengerti. Ia menganggap kalau apa yang dilakukan ibunya memang suatu keharusan. Membesarkannya, merawatnya, memberinya jajan yang cukup, pakaian bagus dan pendidikan mahal. Ella tak pernah bertanya uangnya dari mana. Dan ia tak pernah menyangka kalau sebagian besar apa yang diperolehnya berasal dari seorang pria yang ternyata diam-diam masih bertanggungjawab

  • Terjebak Birahi Pengacara   116. Kekasih Berengsekku

    Hidup itu selalu tentang pilihan. Tentang baik dan yang buruk, tentang kesulitan dan kemudahan, tentang berjuang atau memasrahkan, juga tentang menjadi baik atau tidak. Semuanya tentang pilihan. Tentu saja semua orang ingin hidupnya berjalan dengan baik. Namun, seringnya yang terjadi malah jauh melenceng dengan yang direncanakan. Begitu pula Andi yang sejak dulu merencanakan memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama Ella. Gadis yang menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun, namun hubungan itu kandas karena perselingkuhan yang dilakukan oleh wanita itu. Andi tetaplah manusia biasa. Laki-laki yang jauh dari kata sempurna. Ia marah, murka, membalas, puas, kemudian melampiaskan semuanya dalam satu waktu. Andi yang menjaga dirinya menjadi sosok lelaki berengsek, malah berubah menjadi sosok itu. Bagi Ella, Andi pernah menjadi lelaki berengsek. Bagi Andi, Ella juga pernah menjadi wanita berengsek yang mengkhian

  • Terjebak Birahi Pengacara   115. Hari Bahagia

    "Oke ... mengejan sekali lagi ya Ibu Ella, sedikit lagi kepalanya sudah kelihatan ya ... siap ya, hitungan ketiga," ujar Dokter Sarah yang membantu persalinan Ella. "Satu ... dua ... tiga ... sekarang Bu Ella," titah sang Dokter. Ella mengejan sekuat tenaga, semampu yang dia bisa. Genggaman tangan Ella semakin erat menggenggam tangan Daru, Daru meringis menahan sakit kala genggaman itu mencengkeram semakin kuat seakan akan mematahkan jari jemari Daru. "Iya ... terus Ibu, bagus ...." Suara tangis bayi memenuhi ruangan persalinan, bayi mungil yang masih ditempeli sisa-sisa plasenta itu menangis begitu keras. "Sempurna, ya ... semua lengkap, perempuan, cantik, berat badan dan tinggi semuanya baik," ucap dokter Sarah. "Selamat Bapak Daru dan Ibu Ella," ujar Dokter Sarah. Ella meneteskan air matanya, saat bayi mungil mereka berada di atas dadanya, mencari-cari puting susu sang Ibu. "Cantik," ujar Daru menatap bayi mereka. "Benar

  • Terjebak Birahi Pengacara   114. Sudah Saatnya

    Daru membuka pintu kamarnya perlahan, dia membawakan susu hangat sesuai permintaan Ella tadi. Istrinya itu sedang duduk bersandar pada headboard, menggulir layar ponselnya. Ya, belakangan ini Ella memang lebih tertarik dengan ponselnya di banding yang lain. Berlama-lama melihat online shop lebih menarik dan menjadi salah satu hobi terbaru Ella. "Susunya di minum dulu, Miss Ella," ujar Daru yang sengaja memanggil Ella dengan sebutan Miss seperti dulu saat mereka pertama kali bertemu. "Terimakasih, Pak Daru." Ella pun tersenyum, menyesap susu yang diberikan oleh Daru. Dari duduk di sebelah istrinya, sambil mengusap-usap perut yang semakin membesar itu. "Kamu pasti belanja baju bayi lagi, ya?" tanya Daru yang melihat Ella sedang memilah-milah jumper untuk bayi mereka. "Lucu-lucu, Mas ... nggak mungkin aku lewatkan." "Iya, tapi kan sayang kalo ke pakenya cuma sebentar, itu yang kemarin kamu belanja sama ibu aja belum ka

  • Terjebak Birahi Pengacara   113. Perasaan Arya

    Lalu lintas sore itu cukup padat, Arya melirik jamnya berkali-kali khawatir ia terlambat untuk makan di restoran. Tempat yang diminta Arya datangi oleh Papahnya. Sambil menatap lampu merah yang lama, Arya teringat dengan pembicaraan dengan Papanya tiga hari yang lalu. Saat di mana Papanya tiba-tiba memanggilnya dan memberikan satu pertanyaan yang tidak pernah Arya duga sebelumnya. “Arya, bolehkan Papa menikah lagi?” Arya mengenang pertanyaan Ayahnya, pertanyaan yang paling simple, paling to the point dan pertanyaan yang paling tidak di duga oleh dirinya. Mengingat selama dua tahun Papanya menjadi seorang duda, sibuk dengan dunia politik. Papanya tidak pernah membicarakan tentang pendamping hidup semenjak kepergian Ibunya. Arya tahu bahwa orang tuanya dinikahkan melalui jalan perjodohan tapi, selama mereka hidup sebagai pasangan suami istri, mereka adalah rekan, partner, rekan dan sahabat baik. Ibu Arya memang selalu tidak sehat, kesehatannya memang ti

  • Terjebak Birahi Pengacara   112. Lamaran Yang Sebenarnya

    Dulu, Diana sangat terkesima dengan sosok Syarif Chalid muda yang begitu gagah dan penuh kharisma. Seorang angkatan bersenjata dengan karir yang cemerlang. Usia mereka bertaut cukup jauh, dan Diana muda yang naif begitu singkat dalam berfikir. “Ella memang lagi di rumah?” tanya Chalid di dalam mobil, menoleh ke arah Diana yang pandangannya mengarah ke luar kaca jendela mobil. “Iya, Ella nunggu hari kelahirannya. Belakangan dia sering nginep di rumah bawa Bayu. Aku juga minta dia di rumah sementara ini. Khawatir ... Daru kerja kadang pulangnya larut malam,” sahut Diana, menoleh sekilas ke arah Chalid kemudian mengembalikan tatapannya ke depan. “Jadi, Bayu juga lagi di rumah?” tanya Chalid lagi. “Iya, Mas. Tadi malah katanya mau ikut kalau dia belum makan. Tapi, kayaknya dia keburu makan sop,” ujar Diana tertawa. Ia menoleh ke arah Chalid dan bertemu pandang sesaat. Tawanya langsung lenyap berg

  • Terjebak Birahi Pengacara   111. Hidup Baru

    Diana sudah berdiri di depan kaca selama setengah jam. Wanita 45 tahun itu sudah tiga kali berganti pakaian. Pertama tadi dia hanya mengenakan celana panjang dan kemeja santai. Beberapa langkah keluar pintu kamar, ia kembali ke dalam dan kembali mematut diri.Sekarang Diana telah mengenakan terusan berwarna kuning muda yang menutup hingga ke betisnya. Rasa-rasanya ia sudah sangat lama tidak mengenakan jenis pakaian seperti itu.Alasannya bukan karena tidak suka, tapi lebih ke tidak adanya kesempatan atau tempat yang cocok untuk ia bisa mengenakannya. Tak ada pergaulan yang sangat penting yang terjadi dalam hidupnya setelah ia memiliki Ella.Setelah pernikahan yang amat singkat dengan Chalid, ayah kandung Ella, Diana membelanjai dirinya sendiri dengan memanfaatkan sedikit uang peninggalan orangtuanya. Diana berinvestasi kecil-kecilan di perusahaan temannya. Hasilnya memang tak banyak, tapi setidaknya ia bisa menjaga egony

  • Terjebak Birahi Pengacara   110. Wejangan

    "Em ... karena—" Ratih tercekat, ternyata nyalinya juga belum cukup kuat untuk mengatakan sejujurnya pada kedua orangtuanya. "Jadi gini, Om ... Tante. Saya dan Ratih, kami ...." Andi menguatkan hatinya. "Kami memohon restu dari Om dan Tante, saya ingin menikahi Ratih putri Om," ujar Andi tegas. "Maksudnya gimana ini, Ibu gak ngerti." Retno duduk di sisi suaminya. "Ratih akan berhenti bekerja, Bu ... kami minta restu dari Ayah sama Ibu, Andi ingin Ratih menjadi istrinya." "Sudah berapa lama?" tanya Ridwan menatap Andi. "Kami kenal sudah enam bulan kurang lebih, Yah." Ratih menjawab cepat. "Ayah tanya pacar kamu." Ekspresi datar dari seorang Ridwan, pensiunan polisi itu. "Enam bulan, Om ... sudah enam bulan." "Pekerjaan kamu?" "Baru selesai ambil spesialis, Om." "Dokter?" "Iya, Om." "Kamu bisa pastikan anak saya bahagia? Dengan latar belakang dia, kehidupan dia bahkan masa lalunya?"

  • Terjebak Birahi Pengacara   109. Minta Restu

    "Oh? Hanya oh?" Ratih berjalan cepat tanpa memikirkan perutnya, troli yang berisi barang belanjaan mereka dia tinggalkan begitu saja. Andi yang serba salah menyusul Ratih hingga meja kasir, wanita hamil itu melenggang begitu saja membiarkan Andi kesusahan membawa barang belanjaan mereka. "Tih ... ya ampun Tih, jangan cepet-cepet jalannya, ingat kamu lagi hamil." Andi meringis melihat Ratih berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang. "Buka pintunya," ujar Ratih dengan ekspresi wajah kesal. "Astaga, Tih!" Andi membuka pintu mobilnya. Andi benar-benar harus menahan amarahnya menghadapi Ratih yang selalu sensitif selama masa kehamilannya. Ratih masih dengan mode diamnya, pandangannya dia alihkan keluar jendela mobil. Sementara Andi, merasa kikuk dengan tingkah Ratih yang selalu membuat serba salah. "Maaf ya," ujar Andi yang akhirnya mengalah. Ratih masih terdiam. "Kamu kan tau, hampir tiga bulan ini aku sibuk dengan pro

DMCA.com Protection Status