"Setelah ibu dan Ayahmu yang menginginkan kamu cepat-cepat menikah, hal itu sudah terwujud sekarang dan lalu ibu mendengar jika istri kamu hamil!?" suara ibunya berubah serak. Terang saja ia terharu. "Sebentar, Van! Ibu akan memanggil Ayahmu!" Kemudian, terdengar teriakan ibunya yang memanggil-manggil suaminya dengan nada yang begitu riang. Ivan dan Susan yang mendengar itu hanya saling tatap sebelum kemudian kompak tersenyum. Tidak lama waktu berselang, suara di ujung ponsel Ivan kini telah berganti dengan suara Ayahnya, "Benar kah jika Susan hamil, Van?!" "Betul sekali, Yah." Graha langsung bereaksi sama seperti istrinya, "Ayah sangat-sangat bahagia mendengarnya, Van. Apalagi jika teringat dulu kamu yang menolak dijodohkan. Kamu pasti tau, betapa sedihnya juga marahnya Ayah dan ibumu dulu, Van! Tapi, sekarang kamu sudah menikah, hal itu membuat kami bahagia dan lalu ditambah kalian berdua yang akan segera memiliki anak!" "Ini harus dirayakan besar-besaran, Van! Sekaligus un
Kini Ivan tampak berada di balkon apartemen, tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon. "Keluarga Gao benar-benar tidak tunduk pada kita sepenuhnya, kak!" ucap Ivan begitu Aditama mengangkat panggilannya. Setelah mendapat telepon dari Basuki, Ivan langsung menghubungi Aditama. Lupakan soal Aditama yang hendak memulai obrolan dengan topik santai, sebab ada hal mendesak yang harus Ivan beritahu kepadanya dan sesegera mungkin mengambil langkah apa yang akan keduanya buat. "Itu tidak mungkin, Van! Waktu itu, seluruh tukang pukul keluarga Gao yang masih hidup telah menyerahkan diri dan kita juga telah bicara baik-baik dengan anggota penting keluarga Gao sebelumnya, bukan? Mereka telah mengakui kekalahan, berjanji tidak akan berbuat macam-macam dan akan saling menghormati keluarga yang lain kedepannya!" Aditama langsung menyangkal di sebrang sana. Menandakan bahwa pewaris keluarga Gandara itu tidak langsung mempercayai apa yang dikatakan Ivan. Suara Aditama kembali terdengar
Mendapatkan pertanyaan itu, Susan mengangguk sambil berusaha mengingat-ingat. "Memang, kita berhasil menakhlukan musuh kala itu. Tapi, sepertinya ada pengkhinat, ada keluarga lain, salah satu keluarga penguasa Asia yang membantu keluarga Gao. Jadi, sekarang, mereka berencana menyerang keluarga kita dan juga keluarga Gandara, keluarga tuan muda Aditama, sayang." "Aku, benar-benar tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu dan calon anak kita. Maka dari itu, untuk jaga-jaga, aku memperketat pengawalan demi keselamatanmu ke mana pun kamu pergi karena ditakutkan mereka akan mengincar kamu dan bayi yang ada di dalam perutmu!" Seketika Susan terbeliak, mencerna perkataan Ivan dalam sepersekian detik. Lalu, ia kembali manggut-manggut. Demikian, ia mengerti sekarang dan akan menurut dengan suaminya. *** Sementara itu, di rumahnya Sheila, ibunya tampak ketakutan setelah mengecek ke depan. Sheila yang melihat ibunya bersikap demikian, buru-buru berjalan menghampiri. "Ada apa, Bu? Kenap
Di tempat lain, Doni dan Charles tampak tengah mengobrol serius. "Aku mohon jangan apa-apakan Nona Sheila, tuan muda Charles," pinta Doni memohon sambil membungkuk hormat. Doni terpaksa menyerahkan Sheila kepada Charles karena hanya dengan itu Ivan tidak akan bisa merebutnya. Tujuan Doni dulu menculik Sheila—yang aslinya bernama Natasha, yang tidak lain adalah adiknya Susan—hanya untuk merenggut kebahagiaan keluarga Robin semata. Tanpa ada niatan melenyapkan nyawanya. Alasan ia tetap menyembunyikan Sheila dari keluarga Rahardian adalah karena Sheila ia jadikan alat untuk mengancam keluarga itu kalau-kalau berani melawan. "Anda tidak percaya padaku, tuan Doni?" Charles mengangkat sebelah alisnya. Ekspresi wajahnya berubah datar. Juga kentara mengintimidasi. Mendapati hal itu, membuat Doni gentar. Bagaimana tidak, ia sedang berurusan dengan keluarga penguasa negara Lordia! Dengan ketakutan, Doni buru-buru menggeleng, "Bukan itu maksud saya, tuan muda Charles. Hanya saja, anak i
Ivan tidak terlalu mempedulikan laporan barusan, sebab ada masalah Sheila yang harus segera ia urus. Setelah memasukan ponsel kembali, Ivan melangkahkan kakinya menuju lobi ekolah. Di sana, Ivan berpapasan dengan salah satu wakil kepala sekolah. Lalu, ia langsung memerintahkan padanya untuk mengumpulkan wakil kepala sekolah lainnya dan beberapa guru untuk rapat di ruangannya. Setelah itu, Ivan pergi ke ruangannya lebih dulu. Sedangkan wakil kepala sekolah itu langsung melakukan perintah Ivan. Tak lama kemudian, beberapa wakil kepala sekolah dan guru telah datang. Seketika mereka langsung duduk di sana diikuti Ivan setelahnya. "Tadi pagi, saya mendapatkan pesan dari Bu Sheila yang mengabarkan jika ada tiga orang pria yang hendak membawa pergi Bu Sheila dan ibunya secara paksa," ucap Ivan sambil menatap semua orang secara bergantian. Sontak saja, perkataan Ivan membuat mereka kompak terperanjat! Ivan lanjut menjelaskan, "Dan hari ini, Bu Sheila tidak masuk mengajar dan dia men
Sehari sebelum terjadinya pembajakan buss dan penculikan terhadap sepuluh murid di sekolahnya Ivan, Hernomo, Andreaz dan Sudibyo terlihat sedang memantau keadaan sekitar sambil mengobrol di sebuah pabrik terbengkalai. Ada banyak anak buah yang tengah disibukan dengan pekerjaanya dalam rangka persiapan akhir yang akan digunakan untuk menyekap para murid nantinya. "Bagaimana, Jack?" tanya Hernomo kepada ketua anak buahnya. "Sebentar lagi, semuanya siap, Pak Hernomo, Pak Andreaz dan Pak Sudibyo," jawab pria itu mantap sambil menatap ketiganya. Seketika mereka bertiga kompak menyeringai sambil manggut-manggut, "Bagus, selesaikan secepatnya!" Setelah itu, ketua bernama Jack itu kembali melakukan pekerjaanya bersama anak buahnya yang lain. Tiba-tiba, Sudibyo berseru lantang yang membuat Hernomo dan Andreaz menoleh padanya, "Aku ingin karir Ivan segera berakhir! Sama sepertiku! Gara-gara dia, aku harus dipecat!" Hernomo, dengan mendengus menimpali, "Mari Pak Sudibyo, kita buat kar
Setelah memberitahu informasi terkini mengenai pembajakan buss dan penculikan terhadap sepuluh murid itu dan berkoordinasi dengan para guru, Ivan baru menemui Renata di tempat yang telah dipilihnya tak jauh dari sekolah. Kini, Ivan benar-benar dikejar waktu. Ia harus bergerak cepat dan efisien dalam menyelesaikan masalah yang terjadi bersamaan! "Informasi apa yang akan kamu sampaikan, Renata? Apakah ada kendala?" ucap Ivan dengan rahang mengeras setelah menjatuhkan diri di kursi di hadapan Renata. Ivan bertanya demikian, sebab Renata dalam keadaan panik saat pertama kali ia melihatnya. Di sisi lain, pikiran Ivan harus terbagi. Tidak bisa fokus. Sepertinya tidak bisa semua masalah ia yang turun tangan. Terpaksa, ia akan melepas salah satu masalah kepada bawahannya untuk mengurus sepenuhnya. Sebenarnya, Ivan tidak setuju jika menyerahkan penculikan Sheila ini kepada pihak polisi sebab pasti akan berakhir sia-sia. Bercermin dari kejadian sebelumnya, yang tidak bisa diselesaikan
"Betul!!!" yang lainnya langsung berseru menambahi. Sebelum Ivan dan para guru angkat bicara, orang tua murid lainnya sudah angkat bicara lebih dulu dengan nada yang meledak-ledak pula. "Kami sudah membayar mahal sekolah ini! Tapi, pengawasan dan penjagaanya buruk sekali!" "Kami sungguh menyesal!" "Kami semua kecewa!!!" Mendapatkan cibiran dan protes dari orang tua murid, para guru hanya bisa menunduk tidak berdaya. Pasalnya, sedari tadi sudah mencoba menenangkan, tapi tidak bisa! Di sisi lain, beberapa dari mereka adalah donatur sekolah! Sedangkan Ivan tetap duduk dengan tenang di kursinya, membiarkan mereka meluapkan segala emosi. Tiba-tiba ... "Anda dan guru-guru di sekolah ini harus tanggung jawab!" "Betul! kelalaian kalian lah yang menyebabkan anak-anak kami diculik!" "Tolong! Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian bisa tenang dulu—" "Bagaimana kami bisa tenang, Pak Ivan! Anak kami diculik!" "Para penculik itu meminta tebusan uang sebesar 5 miliar per anak dan jika k
Tidak disangka, ternyata Susan tidak marah saat Ivan memberitahu perihal ia yang dulu menolak perempuan yang dijodohkan oleh orang tuanya yang tidak lain adalah perempuan yang saat ini menjadi istrinya. Yang mana, hal itu membuat Ivan ribut dengan kedua orang tuanya dan akhirnya Ivan memutuskan pergi dari rumah demi kebebasan. Susan berpikir, tidak ada gunannya ia marah. Toh, dulu, Ivan juga tidak tahu jika yang akan dijodohkan dengannya itu adalah dirinya. Pun kalau seandainya perjodohan itu terjadi, cinta keduanya mungkin tidak akan sedalam seperti sekarang ini. Malahan, kala teringat awal pertemuannya dengan Ivan, rasanya Susan ingin tertawa saja. Memang, benci dan cinta itu beda tipis. Sedangkan Ivan yang mendengar jawaban Susan terang saja lega bukan main. Demikian, kini sudah tidak ada yang dicemaskan lagi. Sudah tidak ada rahasia yang ia sembunyikan dari Susan lagi. Bisa dikatakan, ia telah terbuka sepenuhnya kepada Susan. Begitu sebaliknya. *** Di saat ini, seorang d
Pesta besar-besaran yang sebelumnya telah direncanakan oleh keluarga Graha akhirnya digelar! Pesta itu tidak lain adalah bentuk rasa syukur Graha dan Rosalinda atas kembalinya Ivan, pulang-pulang sudah berstatus menikah, ditambah istrinya yang kini sedang mengandung. Jelas saja, kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh pasangan konglomerat itu bertambah berkali-kali lipat. Selain itu, Graha dan Rosalinda juga ingin mengenalkan Susan–istrinya Ivan sekaligus menantu mereka berdua–yang kini telah resmi menjadi bagian dari keluarga keduanya kepada semua orang. Malam ini, kediaman keluarga Graha disulap menjadi tempat pesta yang begitu megah. Ada ratusan undangan yang datang dalam acara tersebut. Graha mengundang kerabat, kolega, rekan bisnis dan kenalannya. Kesibukan terlihat sejak tadi di dalam mau pun luar rumah. Tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Pelayan hilir mudik membawakan gelas minuman. Tukang pukul berjaga, di tempatkan di setiap sudut ruangan dan beberapa titik. Sementa
"Mendekam diri di penjara!!!" Sontak saja, perkataan Rahardian membuat keduanya terkejut bukan main. Di saat yang sama, mereka berdua balik menatap Rahardian sambil menggeleng tidak percaya. Tega sekali Ayahnya memutuskan hal demikian? Alasan Herlambang menggelapkan dana perusahaan sebab ia yang sangat marah dengan Ayahnya yang selalu berpihak kepada Ivan dan Susan. Alih-alih kepada keluarganya. Sebenarnya, Herlambang hanya ingin melampiaskan kemarahannya saja dan untuk mendapat perhatian kembali dari Ayahnya. Namun, tentu saja, apa yang dilakukan oleh Herlambang sangat keterlaluan dan fatal. Bagaimana tidak, kedua orang tuanya Susan sudah bersusah payah membesarkan Malice hingga seperti sekarang ini dan juga Rahardian sudah setengah mati mempertahankannya. Tapi kini Malice malah akan dihancurkan oleh orang dalam? Anggota keluarganya sendiri? Rahardian terang saja tidak akan memaafkannya, sekali pun orang itu adalah anggota keluarganya sendiri! "Aku adalah anak Ayah. Sedang
Susan menghela nafas lega mendengar jawaban suaminya, "Aku memang pernah menjalin hubungan dengan pria yang umurnya lebih muda sepertimu, sayang. Tapi, tidak untuk memenuhi hasratku saja. Memangnya aku wanita apaan? Dan aku, sungguhan berpacaran dengannya!" "Kalau kamu ingin bertemu dengannya, aku bisa mempertemukanmu dengannya, sayang. Kamu bisa tanya-tanya supaya lebih percaya–" Belum usai kalimat Susan, Ivan sudah memotongnya lebih dulu. "Tidak usah, sayang. Aku percaya padamu. Setelah apa yang dilakukan tante Irene, bodoh sekali jika aku masih mempercayai ucapannya!" Mendengar itu, Susan tersenyum sembari manggut-mangut, "Terima kasih, sayang." Susan kembali memeluk Ivan dengan begitu erat yang langsung dibalas oleh Ivan. Dan yang terjadi selanjutnya membuat Susan sedikit tersentak! Tiba-tiba, Ivan main melumat bibir Susan seraya kedua tangannya menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya. Susan juga tidak mau kalah, ia pun membalas lumatan bibir suaminya. Juga melakukan hal y
Semua orang telah beranjak dari pengadilan dan pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja, Herlambang, Hesti, Irene dan Rasya pulang dalam keadaan ketakutan luar biasa. Saking ketakutannya, mereka merasa seperti seseorang yang mau menemui ajalnya saja! Bagaimana tidak, mereka akan mendapatkan hukuman dari keluarga yang paling ditakuti di negara Ferania. Baik dari kalangan pebisnis mau pun mafia. Demikian, tamat sudah riwayat mereka! Seketika rencana membalas perbuatan Ivan dan Susan, menghancurkan rumah tangga keduanya, menggugurkan kandungan Susan, lenyap sudah. Jelas, sekarang mereka sudah tidak berani melakukan hal tersebut. Selagi masih ada waktu, mereka tidak henti-hentinya meminta maaf dan memohon ampunan kepada Ivan dan Graha. Namun, keduanya tidak mengubrisnya sama sekali. Mengatakan bahwa sudah terlambat untuk mereka melakukan hal itu, tidak ada kata maaf dan ampunan lagi! Hal tersebut membuat ketakutan yang tengah melanda mereka semakin menggila. Tidak sulit untuk m
Mendengar itu, ke empatnya seketika terlonjak! Belum sempat mereka berempat membalas perkataannya, mulut Graha lanjut bicara, "Tidak perlu dijelaskan. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu apa yang dialami oleh Ivan di keluarga kalian. Perlakukan kalian kepadanya dan tentu, setelah ini, kalian akan mendapatkan balasan dariku langsung!" "Tidak hanya anggota keluarganya Susan saja, tapi semua orang yang dulu pernah menghina dan jahat kepada Ivan!" Sontak saja, mendapatkan ancaman menggelegar dari orang paling kaya di negara ini membuat mereka berempat ketakutan hebat! Kini, mereka mulai menerima fakta bahwa Ivan adalah anaknya tuan besar Graha setelah memikirkannya agak lama. Kala teringat dengan apa yang dulu pernah Ivan lakukan yang bagi mereka itu sangat mustahil dan tidak masuk akal, tapi sekarang seakan semuanya terjawab sudah! "Sebenarnya, mengungkapkan identitas asliku kepada kalian semua bukan lah gayaku. Jujur, aku senang bermain-main dengan kalian. Itu sedikit menghib
Melihat kedatangan konglomerat yang begitu dihormati itu, membuat semua orang kompak terbeliak kaget sekaligus bertanya-tanya. Kenapa tiba-tiba sang penguasa Ferania itu muncul dan tengah berjalan ke arah mereka? Apakah ada perlu dengan salah satu diantara mereka? Alhasil, semua orang pun buru-buru mengondisikan diri, bersiap menyambut konglomerat tersebut. Sementara Ivan, Susan dan Rahardian saling pandang. Apakah Graha akan ... Seketika semua orang gelagapan saat orang nomor satu itu tiba dan berhenti di hadapan mereka. Demikian, Graha ada urusan dengan salah satu diantara mereka! Kemudian, semua orang kompak membungkuk hormat sembari memuja-muja. Graha sendiri langsung menatap mereka satu persatu dengan tatapan penuh selidik sebelum kemudian pandangannya jatuh kepada Irene. Hal tersebut membuat Irene terlonjak! Kenapa tuan besar Graha menatapku seperti itu?! Alhasil, Irene langsung merasa tidak karuan. Lalu, sebisa mungkin wanita itu mengulas senyum terbaiknya sambil meng
Keesokan harinya, persidangan dilanjutkan. Masing-masing dari Irene dan Ivan kembali memberikan keterangan, membantah, menyampaikan keberatan, memberikan alat bukti dan menghadirkan saksi-saksi. Ivan tidak tahan untuk tidak terbahak seraya menggeleng tidak mengerti saat saksi yang dihadirkan Irene memberikan keterangan. Bagaimana tidak, saksi-saksi itu memberikan keterangan palsu! Tidak kah mereka berpikir konsequensi apa yang akan didapatkannya? Kini waktu yang Ivan tunggu-tunggu telah tiba, Irene terpojok sebab alat bukti yang dihadirkan Ivan ke ruang sidang. Melihat kedatangan orang itu, Irene dan pengacaranya terang saja terbelalak! Bukan kah dia ... Lalu, keduanya pun menjadi panik. Bagaimana tidak, orang itu adalah orang suruhan Irene yang mengedit foto dan video viral tersebut. Kenapa Ivan bisa mengetahui dan berhasil menangkapnya? Padahal, Irene sudah membayarnya tinggi dan menyuruhnya untuk pergi jauh-jauh hari. Melihat reaksi Irene juga pengacaranya seperti itu,
Persidangan ditunda! Hal itu digunakan oleh Irene dan pengacaranya mencari cara untuk dapat memenangkan kasus ini sebab harus melawan pengacara besar yang disewa Ivan. Demikian, Irene dan pengacaranya menjadi ketar-ketir. Apalagi pengacara yang disewa Ivan belum pernah gagal menangani kasus. Entah bagaimana caranya, selalu saja menang! Ivan sendiri juga sibuk mencari cara, saksi atau pun sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerang Irene dan menjatuhkannya. Apalagi setelah mengetahui jika Irene hamil dan mengaku-ngaku bahwa dirinya lah Ayah dari bayi yang sedang dikandungnya. Sementara itu, Susan dan Rahardian cepat-cepat menemui Irene. Keduanya berharap masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Toh, mereka memang keluarga. Miris jika harus lapor polisi dan melalui persidangan. Namun, baik Susan mau pun Rahardian sudah tidak heran jika hal itu terjadi mengingat sikap dan perlakuan Irene selama ini. Sebelumnya, Susan dan Rahardian ingin bukti bahwa Irene memang sungg