Share

Part 122

Penulis: La Bianconera
last update Terakhir Diperbarui: 2023-03-13 18:59:50

Cerita ini fokus mengisahkan perjalanan cinta Marvinno dan Amelia. Dari sebelum konflik di TEROR BUNGA TASBIH HITAM dan setelahnya.

Cinta yang besar dan cinta yang diperjuangkan semenjak masa remaja, ternyata tidak cukup membuat seseorang bertahan selamanya.

Begitu pula yang dialami oleh Amelia. Dia terpaksa menyerah di angka ke-5 tahun pernikahan mereka, ketika kesetiaannya dikhianati oleh Marvinno, sang suami.

Fakta lain terkuak yang membuat pernikahan keduanya harus kandas.

Di saat bersamaan, masalah datang dari Michelle Daniel.

Laki-laki itu kabur dari penjara Sardinia, Italia, untuk membalas kematian sang anak, Isco Daniel Ferdinand. Daniel menyakini jika kematian Isco disebabkan oleh Marvinno, anak dari musuh besarnya, yakni Agosto Morelli.

Ikuti terus ya pembacaku. Kisah mereka berdua manis, romantis, tapi terpaksa berakhir. Yang penting happy ending. 😍😍

Bab terkait

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Season 2 : Part 1 Hukuman

    Sering mendengar istilah, roda berputar?Begitu pula kisah cinta Marvinno. Cinta yang dia perjuangkan semenjak dirinya berusia 19 tahun. Ketika Marvinno berusaha mencari jati dirinya di antara kehidupan baru bersama orang asing yang disebut ayah dan adik sambung.Dia memberontak dan menyalahkan takdir yang menurutnya tak berpihak kepadanya. Sang ayah sambung yang anggota TNI itu, mendidiknya dengan disiplin tinggi. Marvinno yang nakal, yang sering terlibat perkelahian di jalanan, dan tak terhitung berapa kali mendapatkan tilang karena sering melanggar rambu lalu lintas."What? Apa aku nggak salah dengar, Yah?" Marvinno terbelalak kaget. Dia menatap kedua orang tuanya bergantian. Pemuda berambut coklat di high light pirang dengan iris mata coklat hazel itu tidak percaya akan keputusan kedua orang tuanya. "Kamu tinggal pilih. Menikah setelah lulus SMA atau pulang ke Italia?" ulang sang ayah dengan tegas.Marvinno mengepalkan tangannya. "Yah, kenapa Ayah lakukan ini sama aku?" tanyanya

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-14
  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 2 Will You Marry Me?

    "Kak, di sana yang krasan, ya! Jangan kabur manjat pagar pondok. Belajar agama yang benar. Oh, ya, nggak boleh godain anaknya Om Usman. Dia masih kecil," ucap gadis menginjak remaja sambil memainkan ujung rambutnya yang dikuncir kuda. Gadis remaja itu menekan kata "kecil" sembari mengacungkan jari kelingkingnya di depan hidung. Dia mengikuti ke mana pun Inno berjalan. Inno hanya meliriknya malas sembari memasukkan koper kecil berisi pakaian ke dalam bagasi mobil."Eh, Kak. Aku doain jadi santri yang husnul khotimah," ucapnya lagi sambil cekikikan. Sontak Inno menghentikan aktivitasnya. "Heh, bocil. Kamu pikir aku mau mati?" tanyanya dengan tatapan dingin.Gadis remaja itu kembali tertawa. "Husnul khotimah, bersih dari dosa-dosanya ngegombalin teman sekolah!" sindirnya."Heh, bisa diam nggak, Krucil? Nggak usah seneng di atas penderitaan orang. Mau aku mutilasi apa?" sahut Inno dengan ketus.Gadis 12 tahun itu cemberut. "Ayaah, Ibuuuu! Aisyah mau dimutilasi Kak Innoooo!" teriak Aisya

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-15
  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 3 Inno Boleh Melamarnya?

    Gadis remaja dengan wajah sangat cantik itu mundur selangkah. Tatapan mata bulatnya tertuju pada setangkai bunga lili peri di tangan Inno."Kamu terima dong, bunganya!" pinta Inno sembari bangkit.Gadis itu menatap sekilas pada Inno dengan tatapan tanpa ekspresi. "Terima kasih," ucapnya acuh, lalu meraih bunga dari tangan Inno dan beranjak pergi."Amelia!" Panggil Abah kemudian, setelah diam-diam memperhatikan interaksi puterinya dengan Inno.Amelia, nama gadis itu, mengangguk dan mempercepat langkahnya. Dia segera mengambil beberapa biji jambu kristal yang sudah siap konsumsi dan memasukkannya ke keranjang yang tadi dibawanya."Biar aku bantu bawa, ini berat!" ucap Inno sambil meraih keranjang yang tergeletak di depan Amelia. Inno beralih menatap Abah. "Boleh kan, Abah, Inno bantu bawain?" tanyanya meminta persetujuan.Abah mengangguk sembari mengulas senyum. "Boleh, tapi jangan semua, Nak. Berat. Nanti ada yang ambil bawa ke mobil. Sudah cukup, ayo pulang. Waktunya shalat Dhuha dan

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-16
  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 4 Hancur Dan Patah

    Abah Hussain terdiam, lalu menarik napas panjang. Laki-laki berwajah Indo-Mesir itu, mengusap pelan bahu Inno yang kembali menunduk dalam. Abah Hussain cukup terkejut dengan keberanian anak muda di depannya itu.Entah apa yang ada di benak Inno saat ini. Namun, pengakuan jujur tentang perasaannya pada Amelia di depan Abah membuat hatinya lega."Maafkan Inno yang sudah lancang, Abah." Inno berkata sangat lirih tanpa berani membalas tatapan Abah.Abah tersenyum dan menautkan jari-jarinya di atas pangkuannya. "Abah senang kamu jujur. Sudah lama Abah memperhatikan kamu. Abah akan bicara pada Amelia, tapi apa pun keputusan dia, Abah minta kamu tetap bersabar karena kalian masih terlalu muda. Amelia masih tujuh belas tahun. Begitu juga dengan kamu, Nak. Usia kamu baru sembilan belas tahun dan tentu masih banyak yang ingin kamu gapai. Abah akan bicarakan pada puteri Abah, ya, Nak," ucapnya bijak.Inno mengangguk pelan. "I-iya, Abah. Terima kasih," jawabnya santun.Sekali lagi laki-laki itu t

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-17
  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 5 Amelia, Maafkan Aku

    "Addio, Yogyakarta!" (Selamat tinggal, Yogyakarta)Inno tak ingin berharap lagi. Dia tak ingin kecewa untuk kedua kalinya. Walaupun dalam hatinya tidak bisa melupakan sosok gadis bernama Khadijah Amelia Putri tersebut.Kini, Inno menyibukkan dirinya. Menjalani aktivitas sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Depok, Jawa Barat. Satu kampus dengan Evan. Sedangkan Heri, dia memilih menempuh pendidikan Akpol di Semarang, kota kelahirannya."Lah, lagian kamu juga aneh, Nok. Usia dia masih sweet seventeen, kamu lamar. Jelas saja dia tolak. Mikir!" ucap Evan waktu itu yang masih berdengung di kepala Inno sampai saat ini.Pemuda tampan itu menatap langit-langit kamar dengan pikiran mengembara. Dia meraih handphone yang tergeletak di sampingnya. Inno membuka sosial media aplikasi ungu dan mengamati foto Amelia yang dia ambil secara diam-diam waktu itu. "Apa kabar kamu?" tanyanya sembari mengusap foto tersebut di bagian pipi chubby gadis pujaan. Gadis yang sayangnya memata

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-18
  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 6 Calon Istri

    Fatma langsung melepaskan diri dari pelukan Inno. Dia menatap pemuda tersebut dengan tatapan nanar. "Amelia? Who's her?" tanyanya lirih. "Amelia, dia itu siapa, Inno? Jawab!" sentaknya karena Inno tak kunjung menjawab.Sikap diam Inno membuat Fatma mengamuk. Dia memukuli dan mendorong dada Inno. Laki-laki itu mencekal kedua lengan Fatma dengan kuat.Ditatapnya manik hitam itu dengan rasa bersalah yang besar. "Dengarkan aku bicara. Aku jelasin," ucapnya lirih. "Tenanglah, aku akan ceritakan." Inno kembali berkata lirih."Ya, kamu jelaskan, siapa dia?" Inno mengangguk pelan. Dia menarik napas, mengumpulkan segenap keberanian untuk jujur. Inilah saatnya dirinya mengakui semuanya."Maafkan aku, Fatma. Aku pernah melamar Amelia, tapi dia menolaknya. Itu terjadi ketika aku akan kembali ke Jakarta. Maaf."Fatma termangu. Kedua matanya berkaca-kaca menantang mata elang sang kekasih. "Kamu masih mencintainya, Inno?" tanyanya parau. "Do you love her, Inno? Sampai kamu menyebut namanya di sini?

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-19
  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 7 Tak Ingin Berharap

    Amelia menunduk dalam di hadapan Abah dan Umi. Gadis itu tak berani berucap sepatah kata pun. Lamaran? Amelia tak mengiyakan ataupun menolaknya."Nak Deni itu orangnya baik, Nak. Dia pernah tinggal di Saudi beberapa tahun. Adiknya juga jadi santri di sini. Pikirkanlah." Begitu pesan Abah.Amelia menatap Umi yang memilih diam. Melihat keraguan di mata sang puteri, wanita itu juga tidak ingin memaksa anak gadisnya itu."Aku masih sembilan belas tahun, apa Abah begitu ingin aku cepat menikah?" tanya Amelia parau. Dia gadis yang begitu berbakti kepada kedua orang tuanya. Gadis yang selalu ingin membuat abah dan uminya bahagia. Namun, menikah di usia belia bukanlah sebuah cita-cita gadis bertubuh tinggi semampai itu. Amelia menarik napas kasar.Hatinya kacau. Elrico menaruh harapan padanya. Deni, anak pengusaha dari Jawa Timur itu juga ingin melamarnya. Namun, hati Amelia bukan untuk keduanya.Hatinya untuk pemuda yang dulu pernah ditolak dan dia sakiti. Cinta itu datang setelah kehilang

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-21
  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 8 Apa Artinya?

    Kota YogyakartaIni kali pertama, bagi karyawan Il Giorno Cafè Yogyakarta melihat bos baru mereka. Setelah sebelumnya, mereka hanya dibuat penasaran dengan rupa anak pemilik cafe dan restaurant Italia tersebut. Mereka hanya mendengar cerita jika bos baru mereka itu begitu tampan.Ternyata, tidak seperti para bos muda yang bersikap acuh dan dingin. Bos muda mereka itu sosok yang ramah walaupun tak banyak bicara.Tepuk tangan riuh mengiringi Marvinno saat memotong pita. Laki-laki muda berusia 21 tahun itu tersenyum sekilas. Setelah berbicara beberapa patah kata, dia memutuskan kembali ke ruangan manager cafe."Pak Inno, apa Anda jadi pergi ke Semarang besok?" tanya seorang laki-laki yang diketahui sebagai manager Il Giorno Group Jogja.Inno terdiam beberapa saat, sambil meneliti schedule di handphonenya. "Em, bukan besok, Mas. Besok saya masih harus nemuin Mbak Erika di Magelang," jawabnya."Oh, baiklah, Pak. Nanti saya urus." Laki-laki tersebut berucap santun. Inno mengangguk. "Oh, ya,

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-22

Bab terbaru

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 90 End

    3 bulan kemudian...Venezia, ItaliaMusim panas digunakan sebagian masyarakat Italia untuk menikmati hangatnya sinar matahari. Seperti biasa, pantai di timur kota Venezia itu sangat ramai. Di bawah payung-payung berjejer kursi untuk berjemur.Beberapa ratus meter dari mereka, seorang anak berusia dua tahun sibuk bermain pasir. Dia bertepuk tangan riang ketika istana pasir buatannya telah berdiri sempurna."Yeee, Papa, Mama, look at this!" serunya.Amelia yang duduk tidak jauh dari anak dan suaminya, tersenyum lebar. Dia sesekali mengabadikan momen itu dengan kamera handphone. Inno menatap istrinya beberapa detik kemudian mendekat."Masih pusing, Sayang?" tanyanya khawatir.Amelia menggeleng pelan. Dia mengusap pasir yang menempel di lengan suaminya. Inno menunduk dan mengusap perut sang istri."Baik-baik ya, Dek," ucap Inno lalu menatap istrinya. "Kalau kamu pusing, bilang ya, kita pulang," lanjutnya, lalu mencium kepala Amelia.Wanita berhijab itu mengangguk, lalu menunjuk ke arah Ga

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 89 Jodoh Terakhir

    "Masih berlaku tuh, syarat?" tanya Inno."Ya, berlaku. Juga beberapa hal yang aku ingin tahu," jawab Amelia.Inno menaikkan sebelah alis. Laki-laki itu terpaksa mengangguk. "Tapi aku nggak mau kalau syaratnya bakalan merusak mood kita hari ini!" tegasnya. "Aku ingin menikmati hari bahagia ini bersama kalian semua," imbuh Inno.Sebelum Amelia menyahut, tiba-tiba Irfan menyeruak di tengah-tengah Inno dan Amelia. Pemuda yang baru saja menjadi wali nikah kakaknya itu tersenyum jahil."Baru kali ini aku lihat Mbak Amelia benar-benar jungkir balik karena cintanya Mas Inno. Huhu!" ledek Irfan kemudian berlalu sambil menggendong Gabriele.Amelia tertunduk malu, apalagi Inno menatapnya begitu lekat. Ternyata Inno tidak hanya membuat acara di masjid. Laki-laki itu juga mengadakan resepsi di ballroom hotel berbintang. Acara di hotel dihadiri ratusan undangan. Amelia menoleh pada Inno, ketika Elena menghampirinya sambil memberikan serangkai bunga mawar. "Tante, apa Tante Ambar juga sayang sama

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 88 Simpul Halal

    Masjid Al Arif, dipilih Danu sebagai tempat akad nikah. Para santri dan pengurus pondok telah menunggu peristiwa sakral itu. Tenda juga telah dipasang dengan hiasan bunga-bunga.Amelia didampingi Umi dan Haznia berjalan sambil menunduk. Amelia benar-benar memasrahkan semua perjalanan hidupnya pada Allah. Meskipun ada keraguan, dia pantang mempermalukan orang lain. Danu adalah laki-laki yang sangat baik. Amelia berjanji dalam hati, akan menjadi istri yang baik untuk Danu dan ibu untuk Elena.Wanita itu tidak melihat keberadaan Gabriele. Amelia mengeryit ketika seorang santriwati mendekat sambil memberikan serangkai bunga mawar bercampur anyelir. Amelia tahu, bunga itu dari Inno.Haznia mengambil selembar kertas kecil yang terselip di antara bunga-bunga itu. Lalu menyodorkan pada Amelia.["Aku kembalikan Gabriele. Terima kasih sudah bersabar menghadapi sikapku. Bismillah ya, Sayang. Jangan menangis lagi, Amelia."]"Mas Inno," gumam Amelia tercekat. Dia memindai sekitar, namun tidak mene

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 87 Menikah?

    Amelia menepis tangan Haznia kemudian beranjak. Wanita itu bertemu pandang dengan Danu di depan pintu. Amelia langsung memalingkan pandangan. Dia berlari ke rumahnya, lalu memasuki kamar.Dia menumpahkan tangis di situ. Tidak peduli dengan panggilan Haznia, Danu, dan Evan. "Mel, buka pintunya sebentar. Aku ingin bicara, Sayang!" bujuk Danu pelan.Amelia mengusap kasar air matanya. "Mas Danu juga tahu hal ini, kan? Kenapa kalian semua jahat?" teriaknya dari dalam kamar."Makanya, buka pintu dulu." Danu terus membujuk, namun Amelia tidak peduli.Dia benar-benar kecewa pada semua orang. Semuanya! Jika Evan dan Haznia tahu alasan Inno selingkuh dengan Daniela, tentu Umi, dan Irfan juga tahu. Begitu juga orang tua Inno.Tubuh Amelia meluruh di tepi ranjang. Dia memeluk lutut dan membenamkan wajah di sela-sela lutut. "Kenapa kamu lakukan ini, Mas? Kenapa? Apa begini cara Mas Inno melindungi aku dan Gabriele? Bagaimana kalau seandainya Mas nggak kembali?" Di depan pintu, Evan menatap Danu

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 86 Menyalahi Kesepakatan

    Laki-laki itu masih belum mau beranjak dari tempatnya. Telapak tangannya mengusap-usap kepala seekor kucing. Dia mengambil kucing itu dan memangkunya."Lho, Nak Danu, kok nggak masuk? Malah duduk di sini?" tanya Bu Rini.Danu tersenyum, kemudian menoleh ke arah Inno yang masih bercengkerama dengan Gabriele. Rupanya Inno belum menyadari kedatangan Danu. Dia masih asyik menjelaskan beberapa hal pada puteranya itu."Inno, ada Nak Danu, malah di situ!" panggil Bu Rini.Sontak Inno menoleh. Laki-laki itu menatap Danu dan tersenyum canggung. Gabriele berdiri di samping Inno sambil berpegangan bahu papanya."Zio Danu!" "Hai, Ganteng. Kamu lagi main apa sih, asyik banget?"Gabriele nyengir kecil. Dia menoleh pada papanya. Inno langsung bangkit dan menuntun Gabriele mendekati Danu."Silakan masuk, Mas. Maaf nggak denger," ucap Inno datar.Danu mengangguk mengerti. Laki-laki itu menunduk dan mengusap kepala Gabriele. Kemudian pandangan kedua orang yang sama-sama berjuang mendapatkan Amelia itu

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 85 POV Inno

    "Inno, bertahanlah Inno. Ingat, Gabriele menunggumu di Indonesia. Jemput kembali anak dan istrimu, Inno! Devi sopravvivere. Hai sentito Nonno? Non lasciare che cio che facciamo invano!" ( Kamu harus bertahan. Apa kamu dengar Kakek? Jangan sampai apa yang kita lakukan sia-sia!)Suara samar-samar itu perlahan semakin jelas. Ketika aku membuka mata, senyum Kakek dan Nenek langsung menyambutku. Hampir tiga bulan aku tidur di atas brankar rumah sakit. Bahkan aku sendiri tidak tahu jika sampai berada di fase itu.Yang aku ingat, dua kali tembakan menembus bahu dan lengan atasku. Dokter mengatakan, salah satu peluru mengenai pembuluh darah yang terhubung ke paru-paru. Aku juga sempat koma. Hal itu pula yang membuat pihak rumah sakit dan keluargaku menutup semua akses informasi.Aku juga tidak tahu bagaimana nasib anak dan mantan istriku. Apa mereka aman? Tunggu, mantan istri? Menyebut kata itu, hatiku sakit. Aku tidak pernah mengira, apa yang kami lakukan akan membuat istriku menggugat cerai

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 84 Rencana Licik

    Antara kesal dan gemas karena sikap seenaknya Inno, itulah yang dirasakan Amelia. Sepertinya, Inno sengaja mencari keributan. Amelia tidak habis mengerti, semakin tua, Inno malah semakin menyebalkan.Amelia meminjam handphone Umi untuk menghubungi Inno. Danu memperhatikan tingkah panik Amelia, hanya menggaruk pelipis sembari tersenyum penuh arti."Hallo, assalamualaikum, Umi!" sapa Inno di seberang sana."Waalaikumsalam salam. Mas bawa Gabriele ke mana? Mas sengaja culik Gabriele, ya?" tuduh Amelia seenaknya.Terdengar decakan lirih dari sana. "Ngapain nyulik anak sendiri? Lagian emaknya enak-enakan pacaran, nggak mikirin anak di rumah. Salah gitu, aku bawa jalan-jalan anakku?" balas Inno sembari terkekeh. Amelia langsung mendengus kasar. Tak jauh darinya, Danu menggelengkan kepala samar mendengar perdebatan kedua orang itu."Ya sudah, cepat bawa pulang!" titah Amelia tegas.Di seberang sana, Inno justru tertawa. "Suka-suka aku dong, mau cepat pulang atau nggak. Sudah, nggak usah gang

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 83 Calon Istriku

    Amelia memberontak. Dia mendorong kasar tubuh Inno sehingga pelukan laki-laki itu terlepas. Amelia menatap tajam pada Inno yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.Kurang ajar sekali mantan suaminya ini. Namun anehnya, tanpa disadari, Amelia juga membalas ciuman itu. Merasa menang, Inno menyunggingkan senyum satu sudut. Hanya sekilas.Amelia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia mengutuk dirinya sendiri yang tanpa sadar mengikuti kemauan Inno. Dan dia mengutuk kekurangajaran laki-laki tampan itu."Pergi Mas, pergi!" usir Amelia sambil menangis.Inno tidak menggubris. Laki-laki itu menangkupkan telapak tangan di depan dada. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan lagi jika tidak mau Amelia semakin muak padanya."Maafkan aku, Sayang. Habisnya kamu nggak mau diam, sih. Makanya, kalau suami ngomong itu dengerin dulu!" ucap Inno santai."Mantan, ingat itu!" sentak Amelia marah. "Dan buang jauh-jauh panggilan itu. Mas nggak berhak lagi memanggilku begitu!" lanjutnya dengan suara

  • TEROR BUNGA TASBIH HITAM    Part 82 Ingin Seperti Dulu

    "Mas Inno..." Amelia memanggil lirih nama mantan suaminya itu.Danu mengikuti arah pandangan Amelia. Kedua laki-laki itu saling pandang dalam diam. Danu bisa melihat luka di mata Inno. Selanjutnya, Inno menatap Amelia dengan dada terasa sesak. Wanita tercintanya, dilamar laki-laki lain di depan mata. Begini rasanya? Teramat sangat sakit. Itulah yang dirasakan Amelia ketika melihat sang suami tidur dan berciuman dengan Daniela.Inno melangkah maju dan berdiri tepat di depan Amelia. Wanita itu langsung memalingkan pandangan. Luka di hati wanita itu kembali basah."Gabriele di rumah, Mas!" ucap Amelia lirih tanpa mau menatap wajah mantan suaminya.Inno tidak menjawab. Laki-laki itu masih menatap Amelia penuh arti, kemudian menatap Danu. Dia tersenyum kaku pada Danu."Selamat, Mas. Bahagiakan Amelia," ucap Inno parau.Danu masih bergeming. Inno kembali menatap Amelia, hanya beberapa detik, kemudian membalikkan badan. Tenggorokan Amelia tercekat melihat langkah Inno yang menjauh. Rasa sak

DMCA.com Protection Status