Pagi yang cerah, aku berada di kelas. Hanya beberapa anak di dalam, salah satunya aku dan Zara. Aku mendekati Zara yang sedang duduk sendirian, aku gugup mengatakan ini. "Gue maafin lo kok," ucapku berdeham pelan. Zara menoleh kesamping dengan senyum mengembang. Aku tidak tau, jika Zara memiliki senyum amat manis begini. "Makasih banyak, lo mau kan jadi temen gue?" tawar Zara, memegang tanganku penuh harap. Aku jadi bingung, mataku tidak fokus. Takut aku salah langkah mengambil jalan, hingga aku mengangguk pelan. Zara langsung memelukku begitu erat. Namun, aku tidak membalasnya. "Makasih, udah mau jadi temen gue," kata Zara, menatapku begitu lekat. Tidak menyahut, aku hanya mengangguk, sehingga Zara begitu sangat bahagia. Apa perasaanku merasa aneh, karena berteman dengan Zara? Soalnya Zara musuh bebuyutanku, dari awal dirinya masuk. "Ayo kita duduk," tarik Zara ke kursinya. Bahkan, Zara bercerita heboh tentang sekolah lamanya. Aku hanya tersenyum, dan mengangguk sebagai ja
"Serius naik ini?" tanyaku ke Adelio mengangguk mantap. "Tenang aja, sepedanya bagus ini," balas Adelio, tersenyum lebar. "Sini naik dibelakang gue."Aku mendekatinya, sedikit ragu-ragu, dan duduk dengan tenang. Adelio mulai menjalankan sepedanya. "Uwahh, seru banget!" pekikku bahagia, kini aku berdiri merentangkan tangan. Kali ini kami berkeliling komplek, entah ini ide konyol yang dibuat Adelio. Tapi aku sangat senang sekali. Hingga sampai di sebuah rumah pohon, aku tidak tau siapa yang membuatnya. Tapi memang jauh, aku bahkan tidak kuat untuk berdiri. "Ini punya siapa?" tanyaku ke Adelio baru turun. "Punya gue dong," jawab Adelio menarikku. Aku menatap tinggi pohon tersebut, apalagi disitu ada tangganya. Aku tidak sabar ingin keatas, namun menyeramkan. Adelio mendorongku, terlebih dahulu untuk naik ke atas. Aku menoleh ke belakang, Adelio mengangguk meyakinkanku. "Gue duluan," pamitku, meneguk ludah. Adelio terkekeh, mendengar suaraku terlihat gugup. Saat sampai di atas,
Hari ini, suasananya sangat dingin. Aku tidak habis pikir, jadi sangat malas untuk bangun. Tapi aku paksakan, huh! Aku menguap sampai ke meja makan. Terdapat Adelio sudah berada di sana. "Sini duduk sebelah gue," kata Adelio berdiri, mendekatiku mempersilahkan aku duduk. "Gimana tidur lo? Nyenyak nggak? Maaf ya, sampe tengah malam tadi," lanjut Adelio menoleh ke arahku. Aku mengangguk, terkekeh menyadari. Jika Adelio takut kejadian ini terulang kembali, kami telat bersama. "Santai aja, kok lo keliatan takut?" tanyaku, mengusap kepala Adelio. "Karena gue nggak mau lo ngambek lagi," balas Adelio serius. Seketika aku tertawa, astaga karena hal kecil. Takut aku ngambek dong, berarti aku menyeramkan kali ngambek di matanya. Aku akan susah sulit ditaklukkan ya kan haha. Adelio memberikan roti tawar isi strawberry. "Kok nggak isi cokelat?" Aku menatap Adelio cemberut. "Lagi habis, lupa beliin kemarin," balas Adelio, mengoleskan selainya. Aku mengangguk, memakan yang sudah diberika
Kantin sekolah, Zara mengajakku pergi bersama kesana. Oke, baiklah aku lakukan. Sampai di lorong kelas kami lewati, Zara berkata yang membuatku marah. "Lo tau Ranesya? Pagi tadi gue nggak sengaja denger, Gita sama Vivian bilang nyesel sahabatan sama lo," jelas Zara, berjalan bersampingan denganku. "Ini lo, nggak bohongin gue kan?" tanyaku, karena takut dijatuhin. Zara menggeleng kuat, aku terdiam sesaat. Ini serius? Aku diginiin mereka berdua? Padahal aku mana pernah jahatin mereka. Bahkan, aku mengasih contekan dengan percuma. Liatlah balasan mereka kepadaku. "Lo gapapa Ran?" tanya Zara, menepuk pundakku. Aku tersadar dan tersenyum kecil. Kami berjalan kembali menuju kantin, di sana penuh siswa-siswi yang kelaparan. Kami duduk paling pojok, Gita dan Vivian menghampiriku. "Tadi gue ajak bareng, nggak mau. Sementara sama Zara mau, lo anggep kita apa Ran?" tanya Gita, tidak terima. Tidak aku hiraukan, aku hanya berfokus bermain hp saja. Tanpa peduli omelan Gita. Sampai Vivian
"Ranesya, makan dulu."Aku menoleh, Adelio sudah bersiap menyuapiku. Namun, aku menggeleng pelan. Sungguh, moodku hancur mengingat dua pilihan begitu berat. Bagaimana, jika aku menyakiti hati sahabatku?"Entar kalo lo sakit, nggak bisa sekolah," kata Adelio, menyenggol lenganku. Aku cemberut, menunduk dalam akhirnya menangis kembali. Huhu, aku begitu rapuh. "Eh, jangan nangis dong," ucap Adelio panik. Adelio menaruh piring ke meja, beralih memelukku. Aduh, asli hati mungil ini tersentil. "Tapi gue nanti sakiti mereka, terus gue harus percaya sama siapa?" balasku sesegugukkan. Adelio melepaskan pelukan, mencakup pipiku."Gini aja, lo pilih sesuai hati lo aja," ucap Adelio, mengusap air mataku. Sejujurnya, Adelio bisa menjadi tempat aku berpulang maupun bercerita. Bahkan, kali ini Adelio tidak merasa risih dengan tingkahku. "Gue lebih percaya sama Zara," ungkapku jujur kepada Adelio. "Berarti, anggap aja semua ucapan Zara benar, kalo dari hati lo memilih dia," balas Adelio, men
Pagi sekali, aku merasakan gangguan. Hingga aku membuka mata, terdapat Adelio tersenyum jahil. Aku setengah sadar, kembali ingin tidur. Namun, Adelio sengaja membuatku terduduk. "Gue ngantuk, jangan ganggu," ucapku memelas, menyenderkan tubuh di dinding. "Sekarang udah pagi, apa mau telat lagi?" tanya Adelio, memperhatikan diriku melotot tidak percaya. Mataku langsung melirik jam di nakas, masih setengah 5. Aku menabok lengannya dengan kesal. Ihh, menyebalkan! Bisa-bisanya Adelio membohongiku, biar apa? Awas aja ya, aku akan membalasnya. "Sana! Nggak usah ganggu gue!" usirku, mendorong tubuh Adelio. Padahal masih pagi loh, aku belum puas untuk tidur. Adelio menatapku sok polos seperti anak kucing. Adelio menghalangiku untuk menutup pintu. "Gue mau nungguin lo aja."Dih, apaan coba? Ngapain nungguin aku di dalam kamar? Pasti Adelio ingin memperhatikan aku lama-lama. Biasa orang cantik mah, pasti selalu jadi pusat perhatian. Ini Adelio sepertinya, terpincut pesonaku yang kece i
Kepikiran perkataan Adelio, aku memilih menelepon Gita namun tidak diangkat sama sekalipun. Sama dengan Vivian, melakukan hal sama. Aku mendengus di ruang santai, sampai Adelio keluar aku tidak sadar ada dia di situ. "Lo kenapa?" tanya Adelio mendekat. Aku terkejut langsung menoleh kebelakang, Adelio tersenyum mengelus kepalaku. "Jangan bilang masih mikirin hal sama? Lebih baik kita keluar aja, lo mau kemana?" kata Adelio, memperhatikan aku begitu lekat. Sampai aku mempunyai ide ke tempat mancing, apakah Adelio mau?Aku menyukai sifatnya yang begitu penyabar, selain itu Adelio suka menuruti kemauanku. "Tempat mancing aja yuk!" ajakku berdiri mensejajarkan dengan Adelio. Seolah berpikir, Adelio mengangguk langsung menarikku keluar.Nyatanya, Adelio terlihat bahagia. Apa jangan-jangan Adelio ingin kesana, hanya takut aku tidak suka?"Kenapa lo?" tanyaku, duduk disebelahnya. "Gapapa, seneng aja!" seru Adelio, menggegas mobil menuju tempat mancing.Cukup lama, diperjalanan aku sam
Aku menepuk bahu Adelio untuk menyuruhnya memberhentikan motor, aku melihat Gita berjalan bersama Ghifari. Rasanya hati ini tidak tenang, aku ingin minta maaf atas kesalahanku waktu kemaren. Apakah bisa?"Gita, tunggu gue," seruku turun, mengejar mereka berdua. Terlihat Gita menghindariku, sungguh tidak menyangka. Jika semua ini secepat itu berubah. Apa ini salahku? Tidak mempercayai kedua sahabatku? Tapikan, aduh bagaimana ini?!"Jangan kejar gue lagi?! Kita bukan sahabat lagi," balas Gita menoleh sebentar kebelakang. Seketika, tubuhku begitu lemas menatap dari kejauhan punggung Gita dan Ghifari. Adelio mengelus pundakku pelan, aku begitu lesu menjalani hari ini. Apa ini namanya, sebuah kebodohan?"Jangan sedih, mungkin Gita hanya ingin menenangkan pikirannya aja," kata Adelio, memberikan pikiran positif thinking. Aku hanya mengangguk berjalan bersamanya, tidak jauh dari itu datang Zara menghampiri kami. "Haii, lo mau ikut nggak malam nanti? Soalnya ada acara pesta ulang tahun
Akhirnya tidak ada gangguan ketiga manusia itu, malam ini kami rencananya ingin makan bakso di tempat langganan. Di mana waktu itu ada banci, semoga sekarang nggak ada. Takutnya Adelio risih dengannya. "Baksonya satu Mang!" seru Adelio dengan mengangkat tangannya berbentuk V. Mamang bakso itu hanya mengangguk, aku sangat senang berada di sini. Walaupun capek siang tadi, kan malamnya bisa berduaan kembali. Dalam suasana malam yang dingin dengan bintang bertaburan. "Baksonya enak?" tanya Adelio mendongak menatapku. Aku mengangguk dengan senyum manis. "Enak banget! Juaranya bakso ini mah.""Iya atuh Neng! Palinh enak bakso saya pastinya," sahut Mamang bakso itu dengan senang. Aku dan Adelio hanya terkekeh kecil, tapi memang seenak itu. Apalagi aku jarang ke sini, jadinya sangat rindu ya. "Kalo gitu gratisin kita dong, kan udah dipuji," goda Adelio ke Mamang bakso. Seketika gelengan Mamang bakso terlihat, aku hanya terkekeh. Orang jualan kok minta gratisan dasar Adelio. "Nggak u
Perjalanan kali ini tidak ada halangan sama sekali dari tiga orang gila itu, bahkan ini di bandara dijemput oleh keluarga kami. Aku merasa senang, mereka semua berada sini termasuk Jean. Walau hanya beberapa hari, setidaknya lebih baik cepat pulang daripada semua akan terbongkar seiring waktu. "Kalian ini!" kesal Jean menabok Adelio. Sementara hidungku ditariknya, ihh kenapa dia ini. Sok jadi Kakak pula yang jahil idih. "Sakit dodol," balas Adelio menatap sinis Jean hanya terkekeh. "Elah men gitu doang mah nggak sakit," kata Jean cengengesan. Pada akhirnya, Adelio membalasnya lebih kuat. Di mana kami menertawakan Jean terkena getahnya. "Gue pelan loh, lo balasnya kayak mau bunuh gue," kesal Jean menjauhi Adelio memilih mendekati Mama Cahaya. "Makanya, lo jadi Abang tuh waras dikit. Gue baru pulang nyari perkara lo," sahutku menatapnya sinis. Tidak merasa bersalah, Jean hanya tersenyum lebar. Dih apaan banget nih orang, untung gue sabar ya. Sementara Bunda Delyna memberi kode
Malamnya aku merenung, apa besok pulang saja? Daripada mereka bertiga mengira melakukan hal lebih dari ini. Bagaimanapun, Zara dan Gracia mengetahui. Jika kami memesan satu ruang, walau satu kamar aku pasti sedikit menjauh tidurnya dari Adelio. "Setuju nggak, kalo kita pulang aja besok?" tanyaku ke Adelio yang sedang makan dengan tenang. Yap, setelah seharian mengobrol dan tidur. Kami tidak kemana-mana lagi, karena mengetahui ketiga manusia itu akan merusuh. Adelio mendongak dan tatapan kami bertemu. "Gue ngikut aja," balas Adelio tersenyum. Aku menghela napas panjang mengingat beberapa hari ini bukannya bahagia. Tapi banyak hal yang tidak diduga aku rasakan, belum lagi Ghifari bisa-bisanya menghampiriku ke Bali. "Yaudah, gue mau besok pulang. Nggak betah di sini," balasku kembali memakan udang goreng tepung. Enak banget asli, kayak masakan Mamaku hehe. Jadi rindu mereka apalagi Jean huhu. Setelah selesai makan, kami ke ruang santai untuk menonton televisi. Sebenarnya sangat
Pada akhirnya kami berada di pantai, menikmati hari berdua. Namun, itu tidak berjalan semestinya. Karena gangguan dari ketiga gila itu masih berlanjut, inipun aku ditarik Ghifari untuk pergi berdua."Gue bakal ngajak lo ke tempat yang indah di sini," paksa Ghifari dengan wajah memelas. Aku melirik Adelio yang kini dipegang dua orang sekaligus, siapa lagi kalo Zara dan Gracia. Mereka ini, astaga! Aku dan Adelio ingin berlibur saja susah, pasti ada masalah datang. "Lepasin nggak! Gue nggak mau Ghifari," kataku mengamuk di depan banyak orang melintas. "Ini lagi kalian berdua, apa nggak sadar? Gue tuh mau berdua sama Ranesya," ucap Adelio terdengar dingin. Aku menatap Adelio menarik paksa tangannya sampai jeratan dari dua manusia itu terlepas. Adelio mendekatiku berusaha melepaskan aku dari Ghifari yang tidak mau mengalah. "Seharusnya lo jangan deketin Ranesya, dia bakal jadi milik gue." Ghifari berkata percaya diri. Aku tertawa karena menyadari, jika Ghifari terlalu berlebihan.
Aku menguak sangat lebar merasakan kehangatan luar biasa, saat aku membuka mata terdapat Adelio terlelap. Aku tersenyum lembut mengelus pipinya, mataku melotot karena menyadari kami tidur bersama. "Eh? Kok bisa sih," gumamku memperhatikan sekitar. Menyadari jika kami berada di kamarku, kejadian malam tadi hanya dikejar Adelio dan saling bercanda. Oh ya! Tidak sengaja tertidur berdua. Huh, syukurlah kukira kami melakukan hal berlebihan. "Duh, jangan bangun ya," kataku melepaskan diri dari Adelio perlahan. Aku berdiri menatap wajah Adelio yang begitu menawan, apa tidak salah Tuhan memberikan Adelio kepadaku?Bahkan, banyak dari cewek-cewek mengejarnya. Walaupun tingkah nakalnya membuat guru kesal, tapi dia adalah suami terbaik untukku. "Masak apa ya?" gumamku menuju dapur. Apa aku masak nasi goreng saja ya? Pasti enak banget, tapikan nggak ada peralatannya. Huh! Yasudahlah, aku memilih menonton tv di mana suara teleponku begitu nyaring di kamar. "Ganggu banget, ini jam 7 loh,"
Khusus hari ini, aku tidak ingin keluar karena takut bermasalah lagi dengan kedua makhluk gila itu. Membayangkan saja kejadian kemarin membuatku naik darah, huh! Apa aku buang saja ke lubang buaya sehingga tidak ingin merebut Adelio. "Lo kenapa sih remas remote itu kuat banget?" tanya Adelio menatapku bingung. Aku menggigit bibir bawah, saat melihatnya. Ya gimana lagi, aku masih sangat kesal tau!"Gapapa kok," jawabku seadanya dengan senyuman kecil. Kami berada di ruang santai menonton sebuah film romantis, adegannya begitu manis membuatku melayang. Tapi sesaat membayangkan tadi, moodku hancur seketika. Untungnya Adelio menyuapiku seperti sekarang. "Suka nggak?" tanya Adelio memberikanmu sebuah susu kotak. Aww, pagi-pagi sekali Adelio membawakan beberapa makanan entah dari mana. Aku yang baru bangun melihat Adelio tersenyum saat aku membuka mata, romantis bukan? "Ngelamun lagi?" kata Adelio membuatku tersadar. Aku hanya tersenyum kecil, memakan beberapa cemilan di atas meja.
Malam harinya, aku dan Adelio ingin pergi kencan berdua. Namun, hal tidak diduga terjadi. Di mana Zara dan Gracia, berada di tempat yang sama dengan kami. Jujur aku kadang bingung, mereka ada di mana-mana. "Kenapa Ranesya?" tanya Adelio melihatku. Aku mendengus menatap lulus, di mana Adelio mengikuti mataku. "Loh, kenapa mereka ada di sini ya?" balas Adelio begitu bingung. Pake nanya lagi, ya aku juga nggak tau loh. Mereka seolah tau, kami akan pergi kemana sampai ke restoran ini sekalipun. Berusaha mengabaikan keduanya, aku menarik Adelio ke dalam. Duduk di meja yang cukup jauh dari Zara dan Gracia. "Bentar, kita pesan dulu," kata Adelio mengangkat tangan seketika pelayan datang menghampiri kami. Sebuah buku menu, aku memilih beberapa dan sebaliknya dilakukan hal sama dengan Adelio. Pelayan itu pergi, hanya kami berdua di sini yang lain sibuk dengan urusan mereka. "Gimana rasanya liburan sekarang? Seru nggak?" tanya Adelio menatapku begitu dalam. Aku mendongak memperhatika
Berusaha melupakan Zara dan Gracia, kami lebih memilih kepantai kembali berjemur di sana. Siapa sangka, orang yang tidak aku harapkan mendekati kami mana bajunya kurang bahan. "Adelio, lo makin ganteng aja," kata Gracia melirik tubuh Adelio tanpa baju. Dih, aku menaikkan satu alis merasa aneh dengan pemandangan di mana wajah Gracia memerah. Jijik sekali, apalagi tidak lepas matanya ke Adelio. Heh! Jangan gitu please, aku sangat cemburu sialan. "Gue emang ganteng, sekarang lo berdua pergi sana," usir Adelio menurunkan kacamata lalu menaikkan kembali. "Lo berdua mau jadi lonte atau apa? Bahannya terlalu kurang, mau godain siapa?" hina Adelio tanpa menoleh ke arah mereka berdua. Aku menahan tawa, siapa mengira. Jika Adelio akan berkata begitu tanpa peduli perasaan Zara maupun Gracia. "Buat godain lo," sahut Zara mendekati Adelio. Jujur menjijikan sekali, mereka tanpa malu tersenyum amat manis dan menggoda. Iuhh, untung aku berusaha kalem ya. "Najis tau nggak!" umpat Adelio mene
Di pagi hari, berbeda dari biasanya. Saat aku terbangun, Adelio sudah berada di depanku. Siapa sangka, aku melotot tidak percaya. Bahkan, Adelio mengelus puncak kepalaku. "Lo udah bangun?" tanya Adelio mengecup keningku penuh perhatian. Aku yang masih tidak menyangka hanya bisa berkedip-kedip, yaa aku kan masih terkejut. Dengan tubuhku mundur membuat Adelio terlihat bingung. "Kenapa?" Aku menggeleng cepat, berusaha berdiri dan melirik sekitaran. Asli, aku sangat malu. "Nggak kok," jawabku sedikit gugup. "Seriusan? Kenapa wajah lo langsung tegang gitu," sahut Adelio terkekeh pelan. Yah, siapa coba tidak kaget dengan tingkahnya. Kan aku sangat terkejut, dahal dia sangat jarang begini kepadaku. Paling sesuatu hal penting, atau pergi suatu tempat dia akan menghampiriku terlebih dahulu. "Eh, nggak kok cuma tadi," balasku bingung mengigit bibir bawah. Aku mendorong tubuh Adelio. "Sana gih, lo pesen aja makanan gue laper soalnya," kataku mengalihkan pembicaraan. "Lo laper? Bentar