LOGINGiovanni 'Spade' DeVille Just like his last name, he's the devil. Many fears him for he is ruthless and heartless. His heart is cold as stone. He fears no one but everybody fears him The mention of his name sends shivers through people's spine. He has no time for love, all he cares about are his business and his mafia. If you as much as cross him, you'd be dead before you get to the finish line. Like all made men his hands are stained with blood, he's no saint and he doesn't care. All that changes because of one meeting. A single meeting is all it takes to shake the very foundation of this ruthless man. Everything he believes and stands for are hanging by a thread. He begins to see things from a different perspective. And his heart which he thought was dead and long rotten, begins to beat. For one person and one person alone. Nathan Miller His to be brother in law. It's a forbidden territory for him but it's a territory he's willing to cross just to understand what it is he's feeling. It has never been heard of before Not in a million years but Giovanni would break that spell and do the impossible. Desire, lust and betrayal brews in the air in this mafia story. But love always conquers all But will the forbidden between this two conquer the underworld??
View MoreTidak, itu tidak mungkin terjadi!
Bagaimana bisa, Mas Tyas lebih memilih tinggal serumah dengan Ibu padahal ada kami, isteri dan anak-anaknya? Lalu, untuk apa dia membangun rumah yang sebesar ini dulu, jika pada akhirnya hanya menjadi tempat untuk transit? Pulang sebentar mengantarkan jatah makan atau kebutuhan kami yang lainnya lalu pergi lagi. Tanpa mau berbicara barang sepatah kata pun denganku. Membisu, membeku. "Ibu sudah tua, Yung!" Mas Tyas mengulangi kata-katanya tadi, "Siapa lagi yang akan merawat Ibu kalau bukan aku? Aku yang paling dekat. Kamu tahu kan, adik-adikku semua tinggal di luar Jawa? Kebangetan, kalau kamu tetep nggak bisa nerima aku tinggal di rumah Ibu. Nggak punya perasaan!" Ya, aku tahu, Ibu sudah tua dan mulai sering sakit-sakitan. Aku juga tahu kalau Dik Sri tinggal di Palembang dan Dik Bekti tinggal di Bali tapi kami? Bagaimana dengan kami? Kalau memang Mas Tyas tidak egois, bisa kan dia mengajak Ibu untuk tinggal bersama di sini? Atau sebaliknya, mengajak aku dan anak-anak pindah ke rumah Ibu. Kalau begitu kan, kami jadi bisa menjaga dan merawat Ibu bersama-sama. Toh, sekolah anak-anak juga tidak terlalu jauh dari Malioboro. Walaupun akan menjadi dua kali lipat jaraknya jika dibandingkan dari Jalan Palagan."Lho, kok jadi aku yang kebangetan dan nggak punya perasaan, Mas?""Lah itu, kamu nggak bisa terima aku jagain Ibu, ngerawatin …?"
"Bukan gitu lho Mas, maksudku. Aku kan nggak pernah nggak setuju apalagi sampai melarang kamu menjaga atau merawat Ibu, Mas. Aku hanya nggak bisa nerima cara kamu yang sama sekali nggak konfirmasi ke aku. Tahu-tahu berangkat ngojek, tahu-tahu nggak pulang. Pulang sebentar tengah malam, terus balik lagi ke rumah Ibu, tidur di sana. Padahal kan, kamu bisa tidur di rumah kan, Mas? Itu maksudnya apa ya, Mas? Bisa tolong jelaskan?"
Mas Tyas diam. Tidak memandangku tapi juga tidak membuang muka. Tatapannya lurus ke depan, ke arah tangga ke lantai dua. Entah, apa yang ada dalam benaknya. Sampai aku menggendong Lova ke kamar, dia masih menatap ke arah tangga. Menyebalkan, cukup mengundang kemarahan. "Sampai kapan kita begini, Mas?" pelan-pelan aku bertanya, setelah menidurkan Lova di tempat tidur, kasihan juga dia kalau terus kupangku dalam situasi yang memanas antara aku dan Mas Tyas, "Kenapa kamu tega sama kami, Mas? Sama anak-anak terutama. Ingat Mas, mereka masih membutuhkan kasih sayang kamu! Mereka nggak hanya butuh makan tapi juga perhatian kita, Mas. Terutama Langit, sebentar lagi dia naik ke kelas sembilan. Butuh banyak perhatian dan kasih sayang untuk menyiapkan mentalnya mengikuti ujian akhir." Gusar, Mas Tyas meraih jaketnya yang tadi diletakkan begitu saja di meja ruang tamu, "Udah, nggak usah dibahas sekarang. Aku mau berangkat. Nanti nggak dapet duit, ngamuk lagi?"Ngamuk?Aku, ngamuk gara-gara Mas Tyas nggak dapat uang? Sejak kapan aku bisa mengamuk?
"Lho, kamu kok, ngomongnya gitu sih Mas?" sergahku sambil menghentikan langkahnya yang terlihat gontai, "Sejak kapan coba, aku marah sama kamu gara-gara duit, ha?""Cerewet … Bikin nggak betah di rumah!" umpat Mas Tyas sambil terus berjalan menuju pintu, "Asal ngomong aja, kayak orang gila!" Dug! Seketika detak jantungku terasa berhenti, mendengar kata-kata umpatan Mas Tyas. Tapi meskipun begitu, dengan cepat tanganku menarik lengan kanannya yang sudah hampir menyentuh gagang pintu. Sekuat mungkin aku menariknya ke belakang. Untung tidak terjatuh dan masih bisa melanjutkan pembicaraan ini. Benar-benar moment langka. Jarang sekali berbicara berdua, sekalinya bicara malah langsung baku hantam. Mantap! "Kamu yang gila, Mas!" umpatku setengah menjerit, "Gila kamu, menelantarkan anak istrimu sendiri hanya demi menuruti ego!" lanjutku masih sambil memegangi lengan kanannya yang bergeming, "Aku minta kamu pikirkan dengan lebih baik lagi, Mas. Jangan sampai menyesal di belakang. Aku nggak apa-apa kalau kamu mau pulang ke rumah Ibu tapi tolong pikirkan anak-anak. Mereka juga butuh kasih sayang kamu, Mas!"Plaaakkk …! Itulah jawaban yang kudapatkan dari Mas Tyas. Sebuah tamparan yang sangat keras di pipi kiriku. Apa salahku? Salahkah, jika seorang ibu membela hak anak-anaknya?***Dulu, Mas Tyas orang yang sangat baik. Lembut dan penyabar. Tidak banyak bicara tapi penuh perhatian. Pokoknya tidak pernah berbicara kasar apalagi sampai ringan tangan. Ngemong lah, bukan malah memain-mainkan perasaan seperti yang terjadi belakangan ini. Ambil contoh, aku mau menjenguk Bapak di Wonosari, ya dia langsung mengusahakan. Bagaimana caranya supaya kami bisa ke sana, meskipun harus bersabar menunggu, berhari-hari atau berminggu-minggu. "Sabar ya Yung, aku cari sangu dulu kalau kamu kangen pingin jenguk Bapak?""Iya, Mas. Aku juga ngerti, kok. Kamu kan, harus nabung dulu, Mas?"
"Iya, Yung. Makasih ya, udah mau ngertiin aku?"
Ya, tentu saja aku maklum, mencari uang juga bukan perkara yang enteng. Tak seenteng mengangkat kantong plastik kosong. Jadi, pasti bersabar menunggu sampai Mas Tyas bisa mengantarkan kami ke Wonosari. Terpenting, Bapak bahagia karena anak perempuannya ini bisa sering-sering menjenguknya. Lagi pula, orangtua juga tinggal Bapak satu-satunya. Kapan lagi kan, bisa membuatnya tersenyum gembira? Contoh lain, aku ingin mengajak anak-anak jalan-jalan di pantai waktu weekend. Mas Tyas tidak marah atau keberatan, sama sekali. Justeru, bekerja lebih keras lagi, supaya keinginanku terpenuhi. Memperbanyak dagangan dan lebih awal berangkat jualan tempura dan kawan-kawannya di Alun-alun Kidul.Tapi sekarang?Jangankan memperjuangkan keinginanku yang notabene family time, diajak berbicara pun sudah tak bisa menanggapi dengan baik. Adanya hanya satu hal saja, tidak setuju dan akhirnya marah tidak jelas. Kalau tidak, dia akan segera tancap gas ke rumah Ibu. Tak peduli susahnya kami di rumah, tetap saja begitu. Kami kelaparan, kekurangan, ada yang sakit … Tidak memperhatikan sama sekali. Tak jarang, malah memarahi kami. Menyalahkan aku. Seolah-olah semua keadaan dan kesulitan itu terjadi semata-mata karena kesalahanku. Apa, suami seperti apa itu namanya? "Harusnya kamu diskusi dulu sama aku Yung, sebelum kamu bawa Lova ke sini!" Selalu itu yang diucapkan Mas Tyas setiap kali marah, frustrasi atau sejenisnya dengan keadaan hidup kami yang sedang terpuruk, "Sekarang, begini kan, jadinya? Dua juta cuma untuk Lova saja, Yung. Itu saja kadang-kadang kurang. Makanya, susunya jangan boros-boros!" Padahal, kalau dirunut ulang aku sudah konfirmasi lho, waktu keluarga Lova datang ke rumah untuk menawarkannya siapa tahu kami mau mengadopsi. Kasihan, ibunya hamil di luar nikah tapi tak ada yang mau bertanggung jawab. Ya, terus terang aku langsung jingkrak-jingkrak. Toh, setiap anak terlahir dalam keadaan suci, kan? Mas Tyas juga sih sebenarnya, sungguh. Sampai kiamat pun aku tidak akan lupa, bagaimana raut wajah plus gesture Mas Tyas waktu tahu kalau akhirnya akan ada bayi perempuan di rumah. "Gimana, Mas?""Ya udah … Kita ambil aja, Yung. Kapan lagi, mumpung perempuan, kan?"
"Yes! Iya, Mas. Makasih banyak ya, Mas?"
"Iya, sama-sama, Yung. Akhirnya, setelah sembilan tahun … Kok bisa pas gini ya Yung, aku juga tadi pagi kepikiran sama janjiku yang dulu, sebelum kamu melahirkan Laut."
Masa Mas Tyas lupa, sih? Lova kan, baru berumur enam bulan? Itu pun masih kurang satu minggu lagi. Hemmmhhh! Eh, apa Mas Tyas juga lupa ya, kalau kami sempat berpelukan setelah sepakat untuk mengadopsi Lova? Di depan semua keluarganya, malah. Bukannya permisi ke belakang dulu atau bagaimana. Bukankah itu menandakan kalau dia juga bahagia dengan kehadiran Lova? Tapi ya begitu, setiap ada masalah sedikit saja, dia pasti marah-marah. Pasti mengungkit bagaimana aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu melihat wajah cantik Lova. Bukan hanya cantik tapi lembut, imut-imut, wangi, kulitnya seputih susu … Siapa yang tidak jatuh hati kalau seperti itu? Kalau aku sih, sama sekali tidak menampik. Aku yakin, Mas Tyas juga. Buktinya, dari sejak kami sampai di klinik bersalin untuk menjemput Lova, dia terlihat lengket, tuh? Tidak sedikit pun menjauh dari box bayi, terus menerus memandang ke arah Lova. Tok, tok, tok! "Assalamu'alaikum Yung, Payung?" suara Ajeng membuatku terkesiap, "Dek, Dek Lova. Ini, Mbak Cindy mau main!" Klik, klik … Kriiit! "W*'alaikumussalam … Ehhh, Mbak Cindy. Masuk dulu, Mbak. Itu Dek Lova masih bobok.""Sehat, Yung?"
"Alhamdulillah. Kalian, Jeng?"
"Sehat juga, cuma mumet mikirin bapak Cindy!"
Kami sama-sama tertawa kecil lalu sama-sama masuk ke ruang tamu, "Baru saja aku mbatin kamu, Jeng. Kok lama nggak main? Eh, malah dateng. Seneng banget lah, aku!" "Sorry Yung, aku ribet banget ngurusin bapak Cindy." sahutnya dengan mimik wajah menderita, "Ih, cerewetnya itu lho Yung, yang buat aku mumet! Kok, kayak perempuan gitu lho, mulutnya. Ngomel saja, kayak nggak ada habisnya. Pusing, aku tinggal saja, main ke sini!" Mendengar curahan hati Ajeng, aku hanya nyengir kuda poni lalu tertawa kecil, mengikutinya. Ajeng memang hebat, kesabarannya seolah tak berbatas. Walaupun kalau mencurahkan segala sisi hatinya selalu penuh dengan emosi tapi tetap sabar menerima dan mendampingi suaminya. Padahal, kalau dipikir-pikir, masalahnya justeru jauh lebih besar dari pada masalahku, lho. Sungguh. Tidak diberi nafkah lahir batin, tidak diajak bicara selayaknya suami isteri. Serba salah dan masih banyak lagi masalah yang lain. Intinya, tersakiti lah, setiap harinya. Kalau aku jadi Ajeng, entah sanggup atau tidak."I want everything to be perfect" Nate muttered out and his sister just looked at him worriedly as she finally laughed"And it will be Nate, just relax" she said putting her hand on his shoulder "we have the rooftop booked and I checked earlier today, the place has been decorated just like you asked, and the cake is ready, even Spade's outfit has been sent, it's in the bedroom" she explained to him and he just sighed out and placed his hand on his waistHe needed everything to go as planned, he wanted the night to be a memorable night for Spade, after everything they'd been through, Spade deserved this, he even made sure it was at the restaurant they had their first date as friends.He had been stressing about this for weeks and now the day was finally here, he even avoided Spade just so he wouldn't make a mistake and slip up, he knew Spade was worried that they'd been drifting apart, but if only the man knew what Nate had planned for him.He even got them both matching tuxedos, every
One month laterSpade stood in the cell, watching Salvatore, who he had insisted he would keep an extra one month before he would torture, possibly kill, after Nate had asked him to do whatever he pleased with the man.Nate had surprised him when he told Salvatore that he had forgiven him, infact since he met the young man well over six months ago, all Nate had been doing was surprising him.He folded the sleeves of his shirt as he watched Salvatore like a predator watching it's pretty, waiting for a good time to strike."What are you doing here Spade? I thought your fag of a boyfriend forgave me"? Salvatore spat at him, causing him to raise his brows at the crude language Salvatore had used on Nate.He stalked towards a table in the cell, he had it brought there that morning, it had every torture equipment he'd ever used.He picked up two small knives first, then shook his head, smacking his lips"You see Salvatore, my boyfriend may have forgiven you, something I still can't seem to
Spade sighed out still looking at Nate, he gently brought his hand and tried to hold Nate's hand, but the young man just shrugged it off, trying to move away from Spade "Baby what's wrong"? He asked, watching as Nate snickered and scrunched his nose up, he turned to look at Spade with disbelief dancing in his eyes."Are you seriously asking me that" Nate whispered out, and Spade sighed before he sat down on the bedside beside Nate"I'm sorry" he whispered, causing Nate to scoff, Spade didn't know what else to say at that point, that was all he could come up with, he really didn't have any excuse to give."I know I should have listened to you, I shouldn't have left that day" he added, this didn't even seem to pacify Nate as he only turned further away from Spade.Spade grabbed both his hands and held them firmly "please look at me Nate" he whispered, his voice sounded as if he was close to tears, but Nate wasn't sure someone like Spade was capable of crying.Not that he wanted Spade t
Spade sat watching the beautiful man he had come to love with his very existence, if need be he was ready to die for Nate, actually the night he'd gone after Sullivan, he'd hoped he'd die so he could at least see Nate and talk with him one last time, but death didn't come that easy for him, especially for him.It had been approximately one month since Nate was shot and he slipped into coma, one month that Spade had to live without Nate, a very sour and bad experience for him.He'd barely left his side, he even stopped working, Matteo handled the mafia while he never left Nate's side, he didn't want to miss the day when Nate would wake up, although he was beginning to lose hope of that ever happening, even though the doctors had said Nate was responding to treatment and was close to waking up, he didn't see any improvement.It was the sane thing everyday and the beeping sound of the machine Nate was hooked on was getting on his nerve, some days he wanted to have at it and smash it to p
NathanI groaned as I tried to move my body, my eyes were shut tight and a part of my face felt as though it was ran over, and my whole body felt the same, like a train had ran over me.I couldn't even move as i felt all my bones crack underneath my skin, I opened my eyes slowly and was met with white
Spade sat at his office going through some things, apparently staying back two days ago had actually not turn out to be the best idea, as he had a lot of work piled up for him, as much as mafia business got very busy and hectic, even the legal part of his business always got hectic too,as there thin
The black clothe was yanked off his face and he groaned, before he looked up, coming face to face with his father, his blood ran cold as he tensed up, the man was sitting on the other side of the car just watching him, with his legs spread apart, looking at it now, he kind of looked like his father,
It had been the worst few days of Nate's life as he was forced to stay away from Spade, the love of his life, but of course Spade didn't know that Nate was in love with him yet.He thought staying away from Spade would help him, but his nightmares only increased, he had been unable to sleep since he





![Fallen From Grace [Married to the Mafia Novel]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



![Touch Me And You're Dead[English]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)


Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.