🌼🌸💐🌼🌸💐🌼🌸💐🌼🌸💐🌼🌸💐 Thor ucapkan Terima Kasih kepada Readers yang telah mendukung dan meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini, jangan lupa subcribe dengan memasukkan cerita ini ke dalam pustaka dan beri tanda bintang, love serta tinggalkan komen ya. I luv you Guys 💖💖💖💖💖💖💖💖
Hasan penasaran apa yang sedang direncanakan Lidia, karena dia pasti sedang mengetikkan perintahnya kepada orang kepercayaannya. Lidia walaupun sudah tua tetap saja mampu mengimbangi kecerdikan putranya. Mereka adalah lawan yang sepadan. Lidia tampak puas bahkan senyuman lebar kini menghiasi wajahnya. Hasan bahkan penasaran kemana Lidia mengirimkan pesannya itu apakah kepada Prasetyo atau keapda Suseno. Hasan cemas kalau Suseno yang melakukan perintah Lidia karena kalau Suseno maka Lidia akan segera menunjukkan sisi kejamnya dan tidak ada yang dapat menghentikannya, tetapi kalau Prasetyo maka Hasan dapat bernapas lega. “Mudah – mudahan Prasetyo yang mendapatkan perintah mama karena kalau dia yang diperintahkan mama maka semuanya aka naman dan tidak ada yang perlu dicemaskan. Mudah – mudahan mama masih memakai akal sehatnya,” pikir Hasan dengan cemas. “Aku harus menyelidiki siapa yang menjalankan tugas dari mama, sebaiknya aku memerintahkan Yudhi sedakarang juga. Agar dia memata – mat
Hasan melirik Sarah dengan penuh kecemasan, karena dia tidak ingin menyakiti wanita yang dicintainya. Hasan sadar sekarang Sarah telah menatapnya dengan tajam, Sarah semakin heran dengan perkataan Lidia. “Apa maksud dari perkataan Mama. Seharusnya mereka menjelaskannya kepadaku sekarang, aku sudah tidak tahan lagi dengan keterdiaman mereka. Aku harus tahu sekarang apa yang ingin mereka sampaikan. Karena bagaimanapun aku berhak tahu atas diriku dan keluargaku. Termasuk anak dan suamiku,” pikir Sarah dengan kesal. Mereka masih saja bungkam, akhirnya Sarah yang tidak tahan lagi mulai mendengus dan menatap mereka berdua dengan tajam. “Mama jangan main teka – teki kepadaku. Aku berhak tahu apa yang ada dipikiran Mama, dan kamu juga ,Mas.” Katanya dengan tegas. “Aku mau jawabannya sekarang juga!” kata Sarah dengan tegas. Sarah semakin marah dan jengkel karena dia tidak dihargai sama sekali. Sarah juga berharap mereka segera menjelaskannya dan tidak menutup mereka lagi. “Maaf Sarah, se
Setelah pertengkaran hebat mereka Evelyn, Gio dan Key duduk di selasar di lantai dua, tak jauh dari ruangan kerja Lidia. Mereka menatap Evelyn sehingga Evelyn semakin jengah, Evelyn sebenarnya tidak ingin menjadi pusat perhatian mereka. Evelyn duduk menjauh dari Key dan Gio, karena dia tidak ingin menyulut kemarahan di antara mereka berdua. Dia melirik lengannya yang mulai terasa ngilu karena tarikan keras dari Key tadi. Ada garis bekas tangan Key di sana, kini lengannya tidak lagi memerah. Karena warna kulitnya yang putih menyebabkan warna merah tadi menjadi biram. Gio yang memperhatikan Evelyn segera mengambil obat gosok dan memintanya kepada Surti. Tidak berapa lama kemudian di tangan Gio terdapat sebotol obat gosok, kemudian dia duduk di samping Evelyn dan mulai meraih tangan Evelyn dengan lembut. Dituangkannya obat tersebut dan mulai mengoleskannya ke tangan Evelyn. Key yang melihatnya langsung cemburu dan karena tidak tahan melihat kedekatan mereka akhirnya ikut pindah ke sampi
Lidia kini menatap Evelyn kemudian dengan nada mengancam dia mengucapkan kata – kata yang membuat Gio Taner semakin heran mengapa Lidia seolah – olah mengancam Evelyn. “Kamu harus segera melaksanakan yang Oma katakan, kalau tidak kamu tahu sendiri apa yang akan Oma lakukan. Key harus mendapat hak istimewa!” katanya sambil berlalu dari sana. Kemudian Lidia berhenti kembali dan menatap ke arah Gio. “Dan kamu, jangan sampai aibmu Oma buka!” desisnya berlahan ke arah Gio. Evelyn yang tidak mendengarkan perkataan Lidia mengerutkan keningnya kembali. “Ternyata bukan aku saja yang Oma ancam. Kak Gio juga, apa yang Oma bicarakan?” pikir Evelyn. kepergian Lidia menyisakan sedikit kecemasan di hati Gio Taner. Dia tidak kuasa menahan rasa kecewa dan sedihnya karena Lidia sangat membencinya. “Oma, apa yang membuat Oma membenci aku. Sejak dari kecil Oma selalu membela Key, dan tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku. Kalau Key benar Oma pasti belain, tetapi kalau Key juga salah maka Oma j
Lidia menatap cucu sulungnya dengan mata membelalak seakan tidak mempercayai apa yang telah dilakukan Gio. Namun pemandangan di depan telah cukup baginya untuk menarik kesimpulan bahwa Gio telah melakukan perbuatan nista. “Cucu kurang ajar! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu pikir rumah ini tempat kamu untuk berbuat mesum?” tanya dengan marah. Key yang melihat ini akan menjadi masalah besar maka dia mencoba menenangkan Lidia. “Oma, kakak……,” Sebelum Key meneruskan ucapannya Lidia bahkan memotongnya dan tidak memberikan Key untuk melanjutkan pembicaraannya. “Cukup Key! Jangan kamu bela lagi dia, dia tidak pantas dibela sama sekali. Apa kamu mau Oma marahi juga?” tanya Lidia dengan marah. Melihat reaksi Lidia akhirnya Key terdiam dan tidak berani menjelaskannya kembali. Lidia terus saja memanggil Gio dengan suara keras. Sehingga menarik perhatian Sarah yang sedang berada di kamarnya. Hari ini Sarah tidak ke butik seperti biasanya. Karena Sarah sedang tidak enak badan. “Oma ada apa?”
Semua sekarang sudah bergerak ke ruang kerja Hasan Taner, Sarah melihat Gio belum mengikuti mereka. Sarah kemudian berbalik kembali ke kamar Gio, kemudian dia melihat Gio masih saja terpaku di dalam kamarnya. Wajah dinginnya benar – benar membuat Sarah yakin Gio sama sekali tidak bersalah. Sarah menepuk bahu anak sulungnya dengan penuh kasih sayang. “Mama, apa Mama percaya Gio melakukan perbuatan terkutuk itu?” tanya dengan sedih. “Semua boleh menuduh Gio yang tidak – tidak tetapi asal Mama percaya kepadaku maka aku akan bisa menghadapi ini semuanya,” katanya dengan sedih. “Gio! Lihat Mama. Seorang ibu akan tahu kalau anaknya bersalah atau tidak! Karena Mama tahu persis Gio itu siapa, Gio itu duplikat Papa. Papa adalah seorang pria yang akan selalu memilih satu wanita di dalam hidupnya. Tidak mungkin dia akan berbuat hal -hal seperti ini. Jadi sudah tentu Mama percaya denganmu. Jadi kamu ikut Mama ke ruang kerja Papa ya,” kata Sarah sambil memeluk putranya. Sarah sebenarnya sangat
Gio Taner melihat Dila seperti harimau terluka, dia tidak menyukai penghianatan yang dilakukan orang lain. Kemudian dia menarik napasnya dengan kasar dan mengusap wajahnya kembali. Kini wajah itu bukan hanya memerah tetapi menggelap menahan amarah yang sangat luar biasa. “Kalau Oma percaya dengan orang asing itu hak Oma. Tetapi Gio tekankan di sini Gio sama sekali tidak mengundangnya ke kamar Gio apalagi menyentuhnya. Dari tadi Gio hanya diam bukan karena Gio salah tetapi karena aku ingin melihat sampai dimana kebohongannya berlanjut dan sampai dimana wanita itu mempertahankan kebodohannya,” katanya lagi. Wajah Dila langsung memucat tidak dia sangka di dalam situasi ini Gio masih saja dapat membela dirinya, harapannya tinggal Lidia Taner. “Apakah wanita itu masih akan membelanya?” tanya dengan penuh harap. Lidia yang menatap Gio dengan tajam menyadari ada kemiripan Gio dengan Hasan putranya bahkan Gio jauh lebih mirip Hasan daripada Key. Lidia bahkan menyangsikan pemikirannya send
Hasan segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Yudhi, kamu sudah sampai? Apa kamu membawa laporan yang diminta isteri saya? Oh baiklah,” kata Hasan lagi. “Gio kamu bantu Papa, hubungkan alat ini ke slide proyektor sana!” perintah Hasan lagi. Gio segera menyalakan alat slide proyektor tersebut dan tampak Hasan sedang mengambil file dari sebuah laptop yang ada di atas meja kerjanya. “Semua silahkan nonton hasil rekaman rumah ini,” kata Hasan kembali. Kemudian Hasan Taner mengatur waktu rekaman sesuai waktu Gio pulang sekolah. Tampak Gio turun dari mobil kemudian memasuki gerbang depan dan akhirnya ke ruang tengah dan mulai menaiki tangga menuju ke atas. Dimana seluruh kamar mereka ada di lantai dua. Tampak Gio hanya melihat ke arah Key dan teman -temannya. “Lihat! Gio sekarang sedang naik ke lantai dua!” kata Hasan kembali. Gio kemudian masuk ke dalam kamarnya, tetapi apa yang dikerjakannya di kamar sama sekali tidak kelihatan. Selang satu jam kemudian tampak Dila m
Beberapa bulan kemudian, Lidia yang sudah mengetahui bahwa Gio sebenarnya adalah cucunya sendiri, merasa mau sekaligus menyesal karena dia telah menyakiti bahkan membuat permusuhan di antara kedua cucunya. Dia melihat Gio sedang duduk di gazebo yang ada di taman samping kediaman keluarga Taner. Gio bersama dengan Evelyn. “Ya, Tuhan apa yang telah kulakukan. Mengapa aku begitu bodoh dan keras kepala. Aku tidak meyadari ternyata Gio adalah cucuku sendiri. Bahkan aku membuat permusuhan di antara kedua cucuku. Aku bahkan membuat kedua cucuku bukan hanya bermusuhan tetapi saling membenci satu sama lain. Lebih parahnya lagi aku malah membuat Key bersekongkol denganku untuk menyakiti Gio. Hatiku sekarang sangat menyesal membuat keputusan seprti itu. Otakku yang keras kepala membuat keluarga ini tidak harmonis dan entah apa yang ada di otakku hingga aku membencinya,” pikir Lidia. Dia memperhatikan Gio dari kejauhan dan sama sekali tidak tahu bagaimana keadaannya mengapa menjadi seperti i
Gio memandang Lidia yang tidak bergeming sama sekali, matanya tiba-tiba membelalak membaca hasil tes DNA yang ada di tangannya. Gio melihat semua itu tanpa ekspresi sama sekali. “Aku ingin sekali melihat bagaimana detik-detik Oma mengetahui aku ini sebenarnya adalah cucunya sendiri. Oma harus tahu yang sebenarnya, tetapi setelah Oma tahu dan meminta maaf, akankah aku memaafkannya begitu saja? Aku tahu aku tidak pantas melakukannya namun rasa sakit yang ditorehkan Oma sejak aku kanak-kanak sangat besar sekali. Oma bahkan tidak menyadari bahwa dia bahkan sudah menghancurkan rasa kepercayaan diriku terhadap dirinya sendiri. Karena kebenciannya kepadaku menjadikan aku beranggapan bahwa Oma bukanlah Omaku, aku hanya memiliki orang tua saja. Papa dan Mama, minus kehadiran Oma. Aku bahkan tidak tahu apakah Oma memang membenciku karena aku dianggapnya bukan keturunan Taner atau dia menganggap Mama telah menghianati Papa. Aku sendiri tidak tahu jawabannya, karena Oma sangat pandai menutupi rah
Gio kemudian melihat ke arah mereka. “Gio, mengapa kamu keluar dari ruang perawatanmu?” tanya Sarah dengan cemas. “Sebaiknya kita semua masuk ke ruangan perawatanku! Tidak ada yang pelu lagi disembunyikan dari diriku! Aku berhak tahu karena ini menyangkut hidupku,” katanya kembali. Setelah Gio sadar dia memaksa Dokter mengijinkannya untuk berdiri dan menjumpai keluarganya, tidak dia sangka dia mendengar semua perbincangan yang membuat dia hidup di dalam kebencian Lidia. Awalnya Dokter keberatan karena Gio dibawa ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri, tetapi siapa yang bisa melawan kehendak Gio Taner? Akhirnya Dokter mengalah setelah Gio menenangkannya dan mengatakan dia tidak apa-apa. “Gio untuk apa kamu berdiri?” tanya Sarah dengan cemas. “Mama, kalau Mama ingin melihatku tidak lelah sebaiknya Mama dan yang lainnya mengikutiku ke ruang perawatannku, sekarang juga,” katanya dengan dingin. Hatinya dingin mendengar pengakuan Lidia yang meragukan dia sebagai putra keluarga Taner
Sarah yang masih marah kepada Lidia, kini menatapnya dengan tatapan permusuhan. “Kalau Mama mau menyakitiku, maka aku akan menerimanya. Tetapi kalau Mama menyakiti kedua anakku maka aku tidak akan menerimanya. Aku bahkan tidak akan bisa memaafkan Mama kalau Mama mengadu domba kedua anakku, jangan menyebarkan kabar yang tidak benar Mama, aku sangat kecewa kepada Mama,” kata Sarah dengan jengkel. Sarah kemudian menatap Lidia dengan tatapan kesal, karena Lidia telah menghancurkan keharmonisan rumah tangganya. “Untuk apa kamu marah? Seharusnya kamu bersyukur aku mau menerimamu jadi menantuku. Kalau saja dulu aku menolakmu maka tidak akan mungkin terjadi hal seperti ini. Aku bahkan tidak tahu kamu itu bisa sangat menjengkelkan seperti itu,” katanya kembali. “Mama! Cukup, aku mohon jangan lagi berdebat Ma! Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kesembuhan Gio, bukan malah sesama kita terjadi perang!” kata Hasan sambil menegur Lidia. Lidia melotot memandang Hasan. “Kalian b
Sarah yang masuk ke kamar Gio terkejut mendengar perkataan Key putranya. Setelah Sarah menelepon Gio, perasaannya tidak nyaman. Sarah akhirnya kembali pulang, karena sebenarnya jarak dari butik ke rumahnya tidak terlalu jauh. Sarah sama sekali tidak memahami perkataan key yang menyinggung perasaannya. Hatinya sangat terluka. Sarah melihat Gio yang terkulai lemas karena pingsan. Sarah kemudian menelepon ambulans. Sarah kemudian menelepon suaminya. Kini dia menatap Key dengan pandangan yang sangat terluka. “Apa maksud semua ini? Mengapa kamu mengatakan hal demikian Key? “ tanyanya dengan marah. Key kemudian menatap Sarah dengan wajah tidak dapat dibaca sama sekali, wajah datarnya sama sekali tampak tidak bersalah. “Jawab MAMA!” bentak Sarah dengan gusar. Asisten rumah tangga keluarga Taner masuk dengan membawa petugas ambulans, karena Sarah sudah meminta kepada mereka jika mobil ambulans datang maka mereka harus membawanya ke kamar Gio dari lantai dua. Mereka membawa tandu, dan bebe
Evelyn menatap Lara. Dia masih bimbang dengan keputusannya sendiri. Sementara itu Gio yang sedang berada di kamarnya di kediaman Taner bimbang, apakah dia akan menelepon Evelyn atau tidak. Sudah beberapa hari ini kesehatannya menurun karena dia tidak memiliki nafsu untuk makan. Untuk melupakan rasa rindunya kepada Evelyn bahkan Gio harus bekerja melebihi jam kerja normalnya dan melupakan makan siang bahkan makan malamnya. Setelah berhari-hari dia melakukannya akhirnya Gio tumbang. Dokter menyarankan kepada Sarah agar Gio beristirahat di rumah kalau tidak Gio harus dirawat di rumah sakit. Akhirnya Gio harus mengalah dengan keinginan Sarah agar dia segera beristirahat dirumah. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sesaat dia merasa bahagia karena dia mengira Evelynlah yang meneleponnya. Gio kecewa ternyata bukan, dia melirik notifikasi yang ada di ponsel tersebut. Ternyata Sarah ibunya yang meneleponnya. “Halo Gio apa kamu sudah makan siang? Obat dari Dokter apa kamu sudah makan?” tanya Sarah
Evelyn dan Lara yang masih saja berbaring malas mulai memakan kudapan yang di antarkan Mama ke kamar ini. Mereka menelungkup di lantai dengan karpet yang tebal, bantal besar menjadi sasaran tubuh mereka yang terus saja berganti posisi untuk mencari kenyamanan. Lara akhirnya duduk ketika dia membaca salah satu komentar yang dibuat oleh sebuah akun. “Eve coba kamu baca kolom komentar ini, di sini tertulis komentar yang sangat bagus. Coba kamu dengarkan apa yang aku baca ya,” kata Lara kemudian. “Dear, itik yang berubah jadi angsa. Hanya satu pesan dari burung bangau kamu itu harus menentukan pilihanmu dengan bijak. Utamakan kebahagiaanmu, jangan pernah kamu mengambil keputusan yang membuat kamu nestapa. Kadang kala keputusan yang terbaik untuk kita belum tentu terbaik juga untuk orang lain. Tidak bisa semua manusia kita puaskan tetapi hanya satu, carilah kebahagiaanmu sendiri. Kalau seandainya burung bangau jadi angsa maka aku akan memilih angsa yang telah menerimaku apa adanya karena
Sarah memandang ponselnya dan dia melihat postingan Itik Buruk Rupa menjadi Angsa dan dia sedikit terkejut karena dia melihat cerita itu mirip dengan cerita hidup Evelyn. Sara kemudian membaca sampai tuntas isi postingan tersebut dan dia mencari tahu nama akun yang mempostingnya. “Siapa yang memposting ini? Nama akunnya Bintang Kejora,” pikir Sarah kembali. Sarah kemudian membaca kembali postingan itu dan terkejut karena ternyata dia melihat campur tangan Lidia di sana. Dia kemudian membacanya sekali lagi. “Kalau benar ini adalah postingan Evelyn maka Mama sudah ikut campur dan bahkan membuat ancaman terhadap Evelyn dengan memakai namaku, Mama aku berharap Mama jangan mencampuri kebahagiaan anak-anakku, aku tidak rela Mama! Apalagi Mama sepertinya berat sebelah, Mama membantu Key dan menyudutkan Gio. Aku memang tidak suka kedua anakku bertengkar Mama tetapi aku harus bersikap adil. Aku juga menginginkan kebahagiaan mereka termasuk Evelyn. Biarlah Cinta yang menang dan jangan sampai
Lara melihat Evelyn penasaran dengan ide yang akan dia kemukakan. “Eve kamu masih ingat mata kuliah yang diajarkan Pak Alex?” tanya Lara. “Maksudnya bagaimana Lara? Apa hubungan mata kuliah Pak Alex dengan kedua bersaudara Taner?” tanya Evelyn dengan bingung. “Kamu ingat tidak ketika Kyra kebingungan dengan judul tugas yang akan dia kerjakan, dia mempunyai dua makalah kedua-duanya bagus. Jadi apa saran Pak Alex pada saat itu?” tanya Lara kembali. “Poling?” tanya Evelyn dengan ragu. “Yup, benar. Poling!” kata Lara kemudian. “Apa kamu sudah gila Lara? Kamu mau mengumbar identitasku dan kedua saudara Taner? Aku tidak mau mempermalukan mereka! Aku tidak akan melakukannya,” kata Evelyn dengan mantap. Evelyn kemudian menatap Lara dengan perasaan aneh. “Ya pemikiranmu salah Eve. Aku tidak menyuruhmu mengatakan siapa dirimu, dan identitasnya kamu harus tutupi dong. Kamu buat seolah-olah kita akan membuat sebuha cerita kemudian kita lemparkan kepada pembaca, bagaimana pemikiran mereka.