Di dalam ruang sidang yang besar dan mencekam.Hakim Ketua mengumumkan, "Setelah dipertimbangkan oleh majelis hakim, untuk kasus ini, setelah dilakukan penyelidikan dan perdebatan dalam pengadilan, bukti yang diberikan tidak cukup untuk mendukung tuduhan bahwa 'Cintia dilaporkan telah memberikan uang suap sebesar 17 milyar rupiah dan penghindaran pajak lebih dari 108 milyar rupiah. Bukti tidak lengkap dan terdakwa dibebaskan dari tuntutan!"Keputusan selesai diucapkan.Seluruh ruangan pun ikut bersorak.Tidak semua orang ingin melihat Cintia ditangkap. Kebanyakan orang masih berharap bahwa pengadilan bisa memberikan Cintia keputusan yang adil. Selain itu, titik balik dari kasus ini sangat menarik. Hanya setelah keputusan dibacakan, para hadirin memberikan respons yang begitu bersemangat.Seluruh wajah Starvy menjadi sangat merah.Dia bisa melihat kegembiraan orang-orang di sekitarnya dan hampir saja berteriak.Starvy mengira kalau rencana untuk memenjarakan Cintia sudah mulus semua. Na
Saat itu, terlihat jelas kalau Jimmy sudah pergi.Samuel berbalik dan melihat mereka sebelum akhirnya pergi juga.Yulia tentunya langsung menyusul di sisi Samuel.Steven mengernyitkan alisnya dan berkata kepada Doni, "Kamu sadar tidak? Hari ini Jimmy terlihat aneh. Bahkan postur jalannya juga terlihat sedikit mencurigakan."Wajah Doni tampaknya tidak berubah dan tidak langsung menjawab Steven. Doni pun hanya menjawab, "Aku harus pergi. Kamu tidak perlu peduli dengan urusanku dengan pacarku. Kamu jaga saja istrimu baik-baik. Dia dikelilingi oleh banyak orang yang bereputasi baik. Kau akan menyesalinya kalau sampai kehilangan istrimu!"Begitu selesai mengatakannya, Doni pun mengambil langkah kaki yang besar dan langsung pergi.Steven lantas melihat ke arah punggung sosok yang sedang pergi.Dirinya selalu merasa kalau segerombolan temannya ini tidak cukup normal.Steven pun mengambil kesempatan untuk melihat ke arah Laura.Sudut mulutnya lantas terangkat dan dirinya tersenyum sinis.Reput
Cintia mengangguk.Namun, bagaimana mungkin Cintia benar-benar membiarkan Starvy begitu bangga dan lupa diri seperti ini!Setelah begitu lama, Starvy tidak menunjukkan kalau dia tidak akan mundur, dia malah tetap melangkah maju.Sekarang, dia bekerja sama dengan Yulia pula ….Seberkas cahaya gelap terlintas di mata Cintia.Ada beberapa orang, yang memang harus dihancurkan!......Starvy telah meninggalkan pengadilan.Darahnya sudah memuncak hingga ujung kepala.Setiap kali Starvy teringat dengan pembebasan tuduhan Cintia di pengadilan, Starvy ingin sekali bisa membunuh Cintia dengan sebilah pisau.Pelacur itu, bagaimana dia bisa memiliki keberuntungan seperti itu di setiap saat!Benar.Ini semuanya hanyalah keuntungan saja.Seluruh yang Cintia miliki adalah keberuntungan semata.Sang sopir sedang mengemudikan mobil di kursi depan sehingga Starvy tidak berani melampiaskan amarahnya.Sopir itu dapat merasakan atmosfer yang mencekam dari Starvy. Dia takut akan terjebak dalam situasi yang
"Apa yang Nona Yulia ingin aku lakukan?" Starvy berkata secara terus terang.Yulia tersenyum dan berkata, "Meskipun rencana kita kali ini benar-benar gagal karenamu, Starvy, kamu juga bukanlah orang yang bodoh. Jadi aku masih bersedia untuk bekerja sama denganmu. Aku akan memberikanmu sahamnya, jadi kamu ambil saja. Tunggu sampai aku memikirkan sesuatu, baru aku akan memberitahumu.""Bagaimana kalau aku justru diminta membunuh dan membakar sesuatu?" tanya Starvy kembali."Jadi, menurutmu apa yang kita lakukan sebelumnya itu masih lebih baik daripada membunuh orang atau membakar sesuatu?" Yulia menjawabnya dengan gamblang.Semua rencana mereka itu adalah tindakan ilegal.Apa Starvy masih tidak mengerti akan hal itu?Starvy menggigit giginya dengan keras dan tahu dengan sangat baik bahwa dengan saham-saham ini, dirinya harus melakukan apa saja Yulia pinta di masa depan.Namun, keinginan manusia benar-benar serakah.Melihat saham di depan, selama Starvy mengambil saham ini, Dijaya Grup ak
Cintia memang begitu skeptis.Pertama, karena nada bicara Lily. Lily mengatakan habis gelap terbitlah terang, jelas bahwa Lily sedang bersikap ramah. Lily bukanlah anak yang pandai berbohong dan bukanlah orang yang pandai menyembunyikan perasaannya. Maksud perkataan Lily tadi pastinya bahwa Lily sudah menemukan 'terang' lain dalam hidupnya.Kedua, karena Samuel mengatakan bahwa Jimmy akan mengurus Lily. Kalau Jimmy dan Lily bisa saling jujur satu sama lain dan menyelesaikan kesalahpahaman, Cintia percaya kalau mereka berdua bisa langsung berhubungan kembali."Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?" tanya Lily balik.Lily masih memiliki beberapa sifat aslinya, nada bicaranya itu masih terdengar sedikit lebay.Cintia pun mengernyitkan dahinya."Bagaimana masih mungkin ada hubungan antara aku dan Jimmy lagi? Sudah baik kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik, bagaimana mungkin dia berani mendekatiku. Aku dan Jimmy ...." Lily diam sejenak dan melanjutkan, "Kuakui kalau aku memang t
Cintia masih menahan dirinya dan pada akhirnya tidak mengatakan seluruhnya kepada Lily.Ada beberapa perasaan yang telah dilepaskan, maka sudah sepantasnya untuk tidak dikembalikan kepada sang pemilik karena hanya akan menyisakan penyesalan."Kamu dan Laura tak perlu khawatirkan aku. Aku pasti akan hidup dengan baik-baik. Kalau sampai benar-benar suatu hari nanti aku sudah tidak punya jalan untuk dilewati, aku tidak akan sungkan untuk mencarimu." Lily berbicara dengan nada suara yang ceria."Baik." Cintia menyetujuinya."Aku tak berbicara banyak lagi. Aku akan pergi belajar memasak.""Hmm?""Sekarang, saat masih belum tahu akan melakukan apa, maka harus memulai dari bagian kemampuan bertahan hidup yang paling dasar." Lily berbicara dengan cukup serius.Tampaknya dia benar-benar sedang bekerja keras untuk melanjutkan kehidupannya.Jika Doni benar-benar bisa membawa cahaya ke dunia Lily, maka Cintia hanya bisa memberikan restu kepada mereka."Kalau begitu, aku takkan mengganggumu belajar
"Apakah Mami mau memasak untukku? Aku ingin menemani Mami pergi membeli sayur, aku ingin menemani Mami!" kata Erikson dengan penuh semangat.Cintia tersenyum sambil mengangguk. Tentu saja Cintia juga merasa khawatir membiarkan Erikson sendirian di rumah. Cintia meraih tangan Erikson sambil berkata kepada Samuel, "Kalau kamu sibuk, kembali saja dulu. Aku yang akan menjaga Erik."Samuel tidak merespons.Cintia juga tidak banyak bicara lagi. Dia membawa Erikson ke supermarket terdekat. Samuel pun mengikuti mereka dari belakang.Sebenarnya Cintia ingin menyuruh Samuel pergi, tetapi pada akhirnya Cintia memilih untuk tetap diam.Mereka bertiga pun berjalan-jalan di supermarket."Mami, kita mau beli apa?" Erikson merasa sangat senang.Erikson belum pernah pergi ke supermarket, soalnya semuanya sudah tersedia di rumah. Apalagi Paman John bisa mempersiapkan segalanya dengan baik, jadi tidak ada kesempatan bagi Erikson untuk berbelanja ke supermarket."Kamu ingin makan apa, Mami akan membelinya
Cintia mengernyit. Yakin tidak yakin apanya?Samuel juga tidak menolak. Dia menyerahkan dua kantong besar itu kepada Cintia.Cintia mengambilnya dan seketika dua kantong besar itu langsung ditaruh di lantai.Kantong itu sangat berat. Cintia bahkan belum membuat persiapan, makanya dia tidak bisa mengangkatnya.Barusan Cintia melihat Samuel mengangkatnya dengan begitu mudah ...."Nona Cintia, apa kamu masih mau sok hebat?" tanya Samuel.Cintia mengerucutkan bibirnya.Padahal Cintia merasa dia tidak membeli terlalu banyak, tetapi kenapa barangnya jadi begitu banyak?Samuel juga tidak ingin mempersulit Cintia lagi. Dia mengambil kembali dua kantong besar dari tangan Cintia, lalu berjalan ke depan.Cintia ragu-ragu sebentar. Dia menggandeng tangan Erikson dan berjalan di belakang.Sesampai mereka di rumah.Cintia mulai menyusun barang-barang yang dia beli tadi.Kemudian, Cintia melihat kotak yang dia dapat tadi.Cintia menatap Samuel yang sedang duduk di sofa menonton TV bersama Erikson sam
Hanya dengan melihatnya saja semua orang sudah tahu bahwa gelang ini tak ternilai harganya. Ini juga sejenis harta karun yang tak ternilai.Tidak mungkin dapat Cintia terima."Ini tidak ada hubungannya dengan Natasya. Kamu baru saja pulang kembali ke Keluarga Anggono. Ini adalah pertemuan pertama kita dan ini adalah hadiah dari Nenek. Tak perlu malu-malu. Kalau kamu masih tak mau menerimanya, aku pasti akan marah," ujar Nyonya Besar Ria dengan sengaja."Kak Cintia, jangan sungkan. Ini adalah niat baik dari nenekku, kamu ambil saja." Natasya yang berada di samping Nyonya Besar Ria melanjutkan omongannya, "Gelang ini sebenarnya kami pilih dari kotak perhiasan gelang giok nenek untuk waktu yang cukup lama. Leon dan aku merasa ini cocok untukmu, coba kamu pakai dan lihatlah."Cintia benar-benar tidak ingin berutang budi kepada siapa pun."Cintia, karena Nenek Ria yang memberikannya padamu, kamu ambil saja," sebut Tuan Besar Ricky yang berada di sampingnya.Cintia tidak punya pilihan selai
"Kamu tak mau pulang?" Cintia mengangkat alis matanya."Bukan itu, hanya saja ...."Hanya saja karena Leon, 'kan?Karena Erikson berpikir Leon adalah papinya, jadinya Erikson ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Leon.Cintia bahkan mulai meragukan apakah Erikson sebenarnya pergi mencari Leon hari ini.Terpikirkan akan kemungkinan ini, Cintia semakin kukuh dengan pendiriannya dan berencana untuk meninggalkan Kota Jakarta. "Oke." Erikson berkompromi.Bagaimana pun juga, Mami sudah tidak suka Papi lagi.Papi memang sudah keterlaluan.Kemarin, dia masih bisa melihat muka Mami, kemudian pergi melindungi perempuan lain dan memarahi Mami. Mami membencinya, pasti begitu."Mami, aku akan kembali tidur. Selamat tidur.""Selamat tidur."Erikson kembali ke kamarnya.Dia melihat hasil tes DNA yang berada di meja dan ingin menunjukkannya kepada Maminya.Hari ini, hanya demi kertas hasil tes DNA ini, Erikson sudah menghabiskan waktunya seharian. Namun sekarang, itu sudah tidak berguna lagi
"Oh, begitu." Keraguan Laura terhapuskan.Dalam kehidupan Cintia, selain Erikson, hanya ada Erikson.Apa pun yang Erikson mau, sudah pasti tidak akan Cintia tolak. "Omong-omong, aku sudah mulai sedikit merindukan Erik." Lily tiba-tiba mengirimkan pesan itu."Apa kamu mau menemuinya? Dia sudah tumbuh menjadi seorang pria ganteng, tinggi badannya juga kurang lebih sama denganku." Cintia berinisiatif untuk mengundang teman-temannya."Lupakan saja, kita bicarakan lagi sewaktu aku sudah mapan." Lily menolak ajakan itu dan melanjutkan mengirim pesan, "Dulunya aku hidup dengan glamor, aku tak bisa membiarkan Erik berpikir aku sudah tidak sesuai lagi. Apa pun yang kuperbuat, juga tidak terlalu rendah dari yang Tammy miliki, 'kan?""Kamu masih saja peduli dengan keberadaan Tammy," sela Laura."Omong kosong, memangnya kamu tidak? Aku hanya menerima ujian yang diberikan pencipta padaku. Tunggu aku sampai berhasil, namaku pasti akan melejit sampai ke langit."Cintia tidak bisa menahan dirinya unt
Erikson baru kembali pulang rumah larut malam.Kalau bukan karena panggilan yang terus terhubung, Cintia sudah pasti akan mengira Erikson telah diculik."Kamu pergi bermain ke mana, kenapa sangat lama?" Cintia bukan sedang menyalahkan Erikson.Cintia juga tidak akan menyalahkan Erikson.Cintia hanya merasa penasaran. Erikson selalu patuh dengan ibunya, tetapi setelah tahu kalau Erikson sudah terlalu lama jauh dari ibunya, tentu ibunya akan menjadi sangat khawatir, tetapi Erikson tetap memilih untuk pulang larut malam. Erikson lantas melihat Cintia, tidak mengatakan apa pun.Erikson masih belum sempat menjawab."Sudah pulang saja sudah bagus. Erik, lain kali harus pulang lebih awal, ya. Mami-mu hampir mau menelepon polisi, loh," canda Tuan Besar Ricky."Iya, Kakek Buyut," ujar Erikson sembari menganggukkan kepalanya."Kamu pasti lapar, ya. Mari kita makan malam." Tuan Besar Ricky menarik tangan Erikson dengan hangat dan pergi berjalan ke meja makan.Erikson berbalik dan melihat pada Ci
Leon melihat ke arah Cintia dan melihat raut wajah Cintia yang sama sekali tidak memedulikannya.Sebelumnya, Leon selalu merasa mungkin Cintia memiliki udang di balik batu terhadap dirinya sendiri.Kalau dilihat-lihat kembali sekarang, Cintia benar-benar tidak punya niat yang lain juga. Cintia bahkan tampak seperti ingin menjauh dari Leon. Leon pun menelan ludahnya dan berkata, "Hati-hati di jalan."Leon dan Cintia juga benar-benar bertemu karena kebetulan saja.Tidak ada alasan kenapa mereka harus saling terlibat di kehidupan satu sama lain. Cintia mengangguk ringan, kemudian masuk ke dalam sedan Willy dan pergi. Di dalam mobil, Willy mengambil inisiatif untuk mulai berbicara, "Kenapa kamu tak membiarkan Leon meminta maaf?""Karena aku tahu dia itu orang yang tak punya perasaan. Untuk apa melihatnya meminta maaf?" ucap Cintia yang sedang bersandar di kursi mobil sambil melihat pemandangan di luar jendela."Apa kamu tidak menyimpan perasaan yang lain … kepada Leon?" Willy mengataka
Leon menggigit bibirnya dengan ringan dan masih tidak mengatakan apa-apa."Benar, dia memang benar-benar terlalu khawatir denganku. Kalau tidak, dia juga takkan langsung menyerangmu karena dia tak tahu situasi sebenarnya. Leon biasanya bukan orang yang seperti itu," Natasya menjelaskan kepada Leon.Tampaknya, Natasya memang benar-benar ingin meredakan konflik antara Leon dan Cintia.Sebenarnya, tidak seorang pun tahu kalau Natasya sedang memamerkan hubungan yang dirinya miliki dengan Leon. Namun, karena Natasya dapat mengalirkan perasaannya itu dengan secara alami, orang-orang pun tidak merasa gusar dengan sikapnya itu."Orang-orang akan bersikap seperti itu kepada orang yang mereka sayangi." Cintia mengamini ucapan Natasya.Cintia juga merasa cukup jika permasalahannya sudah diselesaikan. Cintia sebenarnya juga tidak membutuhkan permintaan maaf apa pun. Benar-benar, sungguh-sungguh tidak memerlukan hal demikian. Karena ini bukanlah masalah yang begitu besar. "Jangan khawatir, Kak
Leon pun masuk ke dalam ruangan.Saat ini, Willy juga ikut terbangun karena suara bising.Willy juga tipe orang yang sangat mudah terbangun.Willy lantas melihat selimut yang ada di tubuhnya, kemudian melihat Cintia dan bertanya, "Sudah berapa lama aku tertidur?""Belum sampai sepuluh menit." Cintia merasa sedikit tidak berdaya.Cintia juga merupakan penderita insomnia kronis. Dia sangat paham betapa tidak nyamannya ketika tiba-tiba terbangun. Willy sendiri tidak terbangun dengan rasa marah karena kantuk, dia hanya meregangkan pinggangnya sambil mengatakan, "Aku sebenarnya tak kelelahan. Aku tak tahu kenapa aku bisa tertidur. Selimut ini, kamu yang berikan, ya?""Hanya kebiasaanku.""Oke."Willy senyum ringan.Cintia sangat takut untuk memberi tahu Willy bahwa sebenarnya Cintia sendiri juga bersikap baik kepada Willy!Sama persis seperti bibinya Willy."Masuklah."Leon tiba-tiba keluar dari dalam ruangan."Natasya ingin bertemu denganmu.'""Akhirnya dia terbangun juga," ujar Willy den
"Aku akan menemanimu." Willy memperjelas arah keberpihakannya.Willy berharap agar Cintia pergi.Namun, dia juga takkan membiarkan Cintia diperlakukan secara tidak adil."Tak perlu. Kamu sudah terjaga sepanjang malam tadi. Untuk hari ini, istirahat saja dulu.""Energiku masih banyak. Ayo, pergi."Cintia sempat ragu-ragu sebentar, pada akhirnya tidak menolak tawaran Willy.Willy sendiri ingin menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Lagi pula, Willy adalah cucu tertua dari keluarganya dan memiliki kewajiban untuk membantu ayahnya. Kakeknya juga bertanggung jawab untuk menyelesaikan segala perkara besar dan kecil dalam keluarga. Di sisi lain, Willy juga ingin agar Cintia tahu bahwa Willy akan selalu berada di samping Cintia dan menjadi pelindungnya.Sebenarnya, Cintia sungguh tidak tahu mengapa Willy memperlakukan dirinya dengan begitu baik.Benar. Sekarang, Cintia memiliki reputasi yang besar dan sumber daya keuangan yang kuat di dunia luar, tetapi Cintia benar-benar berpandangan bah
"Jangan khawatir, aku pasti akan tumbuh tinggi." "Ya." Erikson pun mengangguk. "Aku pasti lebih tinggi dari Leon.""…."Ya, itu tidak perlu.Kalau lebih tinggi dari Leon, itu berati tinggi Erikson akan lebih dari 1,9 meter, bagaimana bisa lebih mudah menemukan jodoh?Setelah Erikson pergi.Cintia pun melepas penyamarannya.Hari ini sungguh, bukan hari yang menyenangkan.Dini hari berikutnya.Ada ketukan di pintu kamar Cintia.Cintia pun membuka pintu.Willy telah berdiri di depan pintu, wajahnya agak lelah.Bagaimana bisa ke rumah sakit, jika kamu jam segini baru pulang?Bagaimana dengan Natasya?Willy berkata, sambil minta maaf, "Maaf, telah membangunkanmu pagi-pagi sekali."Willy tidak mengetahui kalau Cintia menderita insomnia.Beberapa hari ini, di rumah Keluarga Anggono, Cintia selalu lupa membeli obat tidur.Sehingga, beberapa malam belakangan ini, Cintia hampir tidak tidur.Sebenarnya, tidak bisa dikatakan telah membangunkan."Bagaimana kabar Natasya?" Cintia berkata dengan lug