Bandara Soekarno-Hatta penuh dengan lalu lalang orang. Niara melangkahkan kaki dengan ragu. Ini adalah kepulangannya pertama setelah tiga tahun tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia.
Tidak ada yang menjemput dirinya. Niara bahkan tidak memberitahu Rudi, sepupunya, mengenai kepulangannya yang mendadak.
Hatinya terasa berdebar dan tidak nyaman. Indonesia tampak makin semrawut dan Niara tidak menyukai kondisi ini. Mantan suaminya memang telah dipenjara dan tidak mungkin keluar dalam waktu singkat. Vonisnya adalah dua puluh tahun.
Niara memesan taksi dan menunggu dengan sabar. Masih ada enam orang lagi di depannya. Sambil menghabiskan waktu, Niara meraih ponsel. Tangannya menggulirkan gambar dan postingan di beranda sosial medianya.
Tanpa terasa, dua orang lagi dan Niara mulai bosan. Tercetus ingin menelepon Alden untuk mengusir rasa jenuh.
‘Halo.’ Niara mendengar suara dalam juga berat milik Alden.
Wanita itu menggigit bibirny
Niara menjabat tangan Indira yang terasa hangat dan wanita itu tampak ramah menyambutnya.“Seneng akhirnya ketemu sama kamu,” ucap Indira dengan lembut.Suaranya sangat merdu dan Niara seketika merasa menciut. Indira adalah wanita ayu, anggun dan dari sikapnya, dia wanita menarik yang bisa membuat pria maupun wanita terpesona.Sebuah kecantikan klasik yang sulit ditandingi. Niara mengangguk dan kehilangan kata-kata. Seketika rasa kikuk dan sungkan menyelimutinya.“Kok bengong? Ayo diminum tehnya. Aku meracik sendiri lho,” tawar Indira dengan ramah.Alden mengambil lebih dulu. Teh buatan Indira adalah favoritnya sejak dulu.Niara menyesap dan matanya terbeliak.“Ini buat sendiri?” tanyanya tidak percaya.“Iya. Aku jemur semua bahan-bahannya, jadi nggak ada pengawet dan asli,” sahut Indira.Niara mengagumi dan takjub akan ide brilian tersebut. Indira meramu bunga mawar, buah-
Indira termenung di kamar sementara buku doa baru saja ditutup. Hatinya masih saja memikirkan pertemuan dengan Niara dan Alden hari ini. Ada berbagai macam pikiran yang terkuak, saat akhirnya bertemu dengan wanita yang menjadi misteri baginya.Niara tidak pernah menjadi seseorang yang istimewa bagi Alden. Namun Indira yakin, selama mereka bersama sebagai sahabat dulu, pasti ada sesuatu yang tumbuh di hati masing-masing.Renzo terlihat sibuk di kamar menonton anime sedari siang. Indira menyadari jika Renzo menyukai Niara seketika. Seandainya dia tidak memiliki dugaan bahwa Niara akan menjadi wanita yang bisa merebut Alden, mungkin dirinya akan menyukai wanita tersebut.Desahan resah terlontar dari bibir mungilnya.Indira Sartika merasa mengkhianati Jan dan tidak pantas memikirkan hal itu. Apakah benar dia merasa kehilangan Jan? Atau hanya kebutuhan akan kehadiran seseorang yang ia jadikan sebagai teman hidup saja? Sedangkal itukah perasaan pada Jan? Atau j
Shana membereskan mainan putrinya dan segera berpesan pada Seto, mertuanya, bahwa ia akan mengunjungi Indira siang ini.“Jangan malam-malam pulangnya. Kamu kemarin sudah kecapekan mengurus kerjaan,” pesan ayah mertuanya dengan bijak.Shana tersenyum dan mengecup pipi tua tersebut dengan penuh kasih.“Iya, Pa! Sebelum makan malam balik kok,” pamit Shana.Seto tersenyum lembut dan segera menggendong cucunya, Silka, yang sudah mengantuk untuk ia bawa ke tempat tidur.Putri Shana terlalu lengket dengan opanya. Bahkan jarang sekali Silka merajuk selama Seto bersama dengan bocah tiga tahun tersebut. Meski begitu, Shana tidak pernah melupakan tugasnya sebagai ibu. Silka mendapat perhatian penuh dari Shana tidak peduli seberapa sibuk dirinya.Setelah memastikan semua beres, Shana melenggang ke rumah Indira.*Siwi sudah lebih dahulu tiba dan sudah membantu Indira menyiapkan kotak sembako sebagai peringatan akan
Merencanakan hidup mapan memang dibutuhkan pemikiran yang cerdas dan perhitungan yang tepat. Akan tetapi takdir bukanlah perhitungan yang bisa diselesaikan dari rumus matematika.Indira tidak pernah mengharapkan perjalanan hidupnya berada pada episode terburuk beberapa kali. Terjatuh dan bangun lagi mungkin wajar bagi manusia yang menghuni bumi.Namun, ketika itu adalah ujian yang sedang kita hadapi, pertanyaan mengapa, kenapa, bagaimana bisa, akan mengisi setiap pemikiran pribadi.Ada rasa tidak pantas dan layak mengalami ujian hidup yang demikian begitu berat.Merasa bahwa hidup dan jalannya selalu lurus, tapi kendala hidup tidak pernah berhenti menghampiri, pasti menjadi kesimpulan yang ada dalam hati masing-masing orang.Indira berada di titik yang sama.Sudah beberapa hari ini, wanita tersebut tidak lagi berdoa karena menganggap semua sia-sia. Ada kemarahan yang mengumpal dalam jiwanya, sebagai bentuk protes pada Pencipta yang begitu ti
Prahara dalam hidup Indira akhirnya mencapai akhir dari gejolak yang sempat ragu untuk ia putuskan.Ternyata semua hanya butuh satu kata saja.Mengalah.Sementara itu, Niara tidak menyangka jika Alden menyatakan kalimat yang ingin dia dengar selama ini.“… Jika kamu mau. Kalo nggak aku mana bisa maksa,” tutur Alden.Niara tahu kalimat Alden sangat panjang. Tapi dari sekian rangkaian kata, hanya dua saja yang terekam dalam memorinya dan membuat Niara tertegun.“Berjalanlah bersamaku.”Alden memandang wanita itu, kemudian memiringkan kepalanya. Hearing aid itu terpasang dan dalam keadaan ‘on’.“Niara, kamu dengerin nggak sih?”“I-iya, denger! Aku lagi mencerna dengan baik!” sahut Niara cepat-cepat.Alden mengangguk lega dan menunggu.“Apakah ini berarti kita pacaran?” Dengan konyol dan polosnya, dari sekian kata yang jauh lebih bai
Cincin itu melingkar dengan manisnya di jari Niara. Batu berlian lima karat tersebut sangat indah dan pas menghiasi jari manisnya. Niara mengangguk dan tersenyum pada Alden."Aku suka ini," ucapnya dengan pelan.Alden mengatakan pada salesgirl berlian untuk menyiapkan sepasang cincin pilihan mereka dalam waktu dua minggu ke depan."Berlebihan nggak sih? Cincin pernikahan aja harus bernilai milyaran?" bisik Niara saat melihat bandrol harga yang tergantung.Alden tertawa kecil."Jangan diliat harganya dong. Ini kan menjadi lambang penghargaan tertinggiku untukmu," tukas calon suaminya dengan santai."Tapi nggak perlu mahal juga. Ini kayak sia-sia dan mubazir," bantah Niara masih bersikukuh untuk membatalkannya."Niara, ini belum apa-apa. Jangan terlalu mikir. Dibandingkan berlian yang ibuku pilih untuk Indira, cincin kita cuman setengahnya aja!"Niara tertegun. Ini kali kesekian Alden membawa nama Indira
Makan malam itu berakhir dengan baik. Niara lega karena dirinya tidak perlu lagi berada dalam situasi yang kurang nyaman baginya. Alden melihat dan tahu dari sikap Niara yang seperti baru terbebas dari pengawasan.Berkali-kali, dalam perbincangan malam itu, masing-masing keluarga Alden membicarakan mengenai Indira. Setelah sadar bahwa ada Niara, mereka seperti segan dan kikuk.Niara bukannya terganggu dan tidak suka. Namun berada dalam posisi saat ini, Niara seperti menjadi wanita pengganti dan tidak sedikit pun kualitasnya yang mampu menggantikan Indira.Wanita itu merasa kecil hati. Begitu terkesannya semua orang akan Indira yang tidak lagi menjadi bagian keluarga mereka. kehadirannya terasa tidak berarti.“Semua keluargamu menyukai Indira teramat sangat,” gumam Niara ketika Alden mengantarnya kembali ke hotel.Alden terdiam dan melirik ke arah Niara. Ingin rasanya membantah, tapi dia pun menyadari hal tersebut. Ibunya, Menik, bahkan
Alden tidak bisa mendapatkan kedamaian dalam benaknya hingga beberapa hari mendatang. Semua kalimat hiburan yang pernah ia lontarkan pada Niara, terkesan penuh kebohongan karena hatinya mengingkari semua.Namun begitu rapatnya ia menutup semuanya, Alden menjadi pandai bersandiwara dan bertingkah seakan-akan tidak ada yang terjadi dan khawatirkan selama ini.Sementara Menik dan calon besannya sibuk mempersiapkan pesta pernikahan mereka, Alden justru tenggelam dalam pekerjaan dan meminta Niara untuk mengerti jika banyak ketertinggalan yang harus ia kejar.“Akan ada dua keluarga yang harus aku nafkahi sekrang. Kita berdua dan Renzo,” ungkap Alden mencoba meminta pengertian dari calon istrinya.Niara tidak keberatan dan justru mendukung keputusan tersebut.Tidak ada yang melihat serta menyadari gejolak Alden yang memang tersimpan rapat. Pria itu meredam dengan sekuatnya.Menik meminta pada Shana dan Siwi untuk datang membantunya. Pes
You know I want youIt's not a secret I try to hideI know you want meSo don't keep sayin' our hands are tiedYou claim it's not in the cardsAnd fate is pullin' you miles awayAnd out of reach from meBut you're here in my heartSo who can stop me if I decideThat you're my destiny?What if we rewrite the stars?Say you were made to be mineNothing could keep us apartYou'd be the one I was meant to findIt's up to you, and it's up to meNo one can say what we get to beSo why don't we rewrite the stars?Maybe the world could be oursTonightYou think it's easyYou think I don't wanna run to youBut there are mountainsAnd there are doors that we can't walk throughI know
Inilah kisah dari beberapa manusia yang mampu menaklukkan tantangan hidup dan cobaannya.Indira Sartika, seorang wanita yang begitu tegar menjalani berbagai krisis dalam hidupnya selama ini, akhirnya merengkuh dan layak mendapatkan buah dari keprihatinannya.Bukan karena dia wanita hebat dan memiliki kualitas bertahan yang mumpuni, tapi karena dia mencoba mengikuti nuraninya yang tidak mungkin berbohong. Setiap jalan yang ia ambil selalu menempuh cara benar dan bukan yang mudah.Berani berkata tidak dan menolak segala nikmat dunia, demi mempertahankan martabat sebagai wanita yang juga pantas dihormati.Pria melihat dia sebagai pribadi yang begitu berharga untuk dimiliki, karena prinsipnya tidak sekedar menjadi perempuan yang pasrah.Indira tahu dengan baik, tujuan hidup dan keinginannya. Tahu bagaimana memperjuangkan haknya sebagai wanita dan juga berani mengambil tanggung jawab meskipun pahit.Siwi dan Shana adalah saksi bagaimana Indira me
Alunan musik yang memenuhi ruang keluarga membuat hati siapa pun menjadi damai. Pilihan mereka adalah menikah di Bali dan setelah persiapan matang di Salatiga, akhirnya bersama-sama terbang ke Bali dua hari lalu.Besok adalah hari yang mereka nantikan. Persiapan gedung dan catering memang menggunakan event organizer, tapi Indira dan Menik tampak tidak bisa diam.Keduanya sibuk memeriksa bunga, pilihan makanan, tamu undangan, tempat duduk dan bahkan persiapan bulan madu. Keduanya memastikan jika ini akan berjalan baik dan tidak ada kendala.Kini malam sebelum pernikahan, Gya harus tinggal di hotel dan menjauh dari Renzo sementara waktu. Alden menggoda putranya yang tampak mulai gugup dengan seloroh yang cukup vulgar. Keenan menimpali dengan tawa yang tergelak. Genta dengan tenangnya mengatakan semua akan berakhir indah.“Seindah lenguhan panjang dan senyum cemerlang di pagi hari!” imbuh Alden tanpa menahan diri.Indira muncul dan bertola
Silka dan Ignar bergilir merawat dan menjaga Gya hingga sembuh. Renzo masih harus menyelesaikan keperluan surat menyurat untuk persyaratan pernikahan.Setiap sore dia datang menggantikan kedua adik sepupunya dan tidur di rumah sakit.Gya memang tidak memiliki luka dalam, tapi sepertinya dia masih menyimpan ketakutan tersendiri. Wajahnya sesekali mengernyit dan cemas.“Kamu masih inget kejadian itu, Kak?” tanya Silka tampak prihatin.Gya memejamkan mata dan membenarkan.“Kebencian sama Bayu nggak sebanding dengan penyesalanku karena udah ngebiarin dia masuk dalam hidup ini.”“Nyalahin diri adalah target Bayu yang sebenarnya. Jangan terpengaruh oleh hal itu, Kak. Kayaknya nggak berharga banget,” bantah Silka dengan cepat-cepat.“Ya. Dia memang mau ngancurin aku pelan-pelan, lewat pikiranku.”Gya sadar sekali akan hal itu.“Kita nggak akan ngebiarin itu, kan?” Silk
Renzo merasakah tubuhnya gemetar oleh amarah yang mengelegak. Melihat kekasihnya dihajar sedemikian rupa oleh pria biadab, membuat Renzo diliputi dendam.Alden dan Indira terus menenangkan dengan kata-kata lembut.“En, tenang. Pakai ini dan bukan ini,” ucap Alden sembari menunjuk kepala kemudian lengan.Putranya duduk terkulai dan meremas rambut gusar.Ibu dan kakak Gya sudah dikabari dan mereka sedang menuju ke rumah sakit dari hotel. Pernikahan tinggal dua minggu lagi dan suasana gembira menjadi duka dalam sekejap.Saat bertemu dengan Leo dan Dion, kedua pria yang akan menjadi kakak iparnya tersebut menepuk pundaknya dengan pelan.“Kita nggak akan bertindak apa pun, kecuali lapor polisi! Semua bakal ditindak melalu proses hukum yang benar dan tahan emosi kalian. Kalo ada yang nekad, Bayu menang dan kita kalah telak!” ingat Alden dengan lantang dan tegas.Ibu Gya terlihat gemetar dan tidak sanggup berdiri. Ind
Persiapan pernikahan memang selalu merepotkan. Namun Gya tidak melihat sedikit pun kesulitan yang membuatnya kelelahan dan stress. Ibu mertuanya, Indira, selalu membantu dan mengarahkan dengan sabar.Pemilihan pernak pernik yang berbeda pendapat dengan keluarga besarnya, akhirnya berhasil ditengahi dengan elegan dan bijak oleh Indira.Ibu Gya memuji berkali-kali tentang calon ibu mertuanya yang ternyata masih muda dan sangat cantik tersebut. Terlebih lagi ayah mertuanya, Alden, yang mirip dengan pria muda dengan penampilan masih tidak kalah menarik dan modis dengan Renzo.Dengan hati-hati, Gya menjelaskan mengenai siapa Renzo dan ibunya semakin kagum dengan keluarga mereka. Gya melihat dengan jelas, bagaimana ibunya sedikit syok dan tersentuh oleh kebesaran hati Indira yang membesarkan Renzo tanpa menimbang dia bukan putra yang terlahir dari rahimnya.Keputusan buat Indira tidak memiliki anak kandung adalah karena dirinya merasa lebih dari cukup mendapatk
Alden berdiri di depan bingkai foto di ruang tengah rumah Salatiga. Matanya menatap gambar dirinya bersama Indira dan Renzo dalam baju adat Jawa.Di sebelah bingkai foto besar tersebut, terdapat foto Indira bersama Jantayu dan Renzo dengan baju pernikahan modern. Hatinya berdesir sakit.Bukan karena cemburu, melainkan merasa prihatin akan nasib Jantayu yang malang.Pria baik itu tidak sempat menjalani kehidupan bahagia yang lama dengan wanita luar biasa, Indira. Alden bahkan sempat mengalah demi memberi kesempatan pada Jantayu untuk menjadi pria yang bisa meneruskan harapannya.“Kayaknya baru kemarin dia ada di sini,” gumam Indira tiba-tiba ada di sebelahnya.Alden mengingat dengan jelas saat datang ke rumah ini beberapa belas tahun yang lalu setelah Jan meninggal. Foto itu menjadi satu-satunya kehangatan yang terpancar dan bisa memberi sinar juga kekuatan bagi Indira untuk bertahan dalam kesedihan.Dunia istrinya mungkin dalam k
Kembali ke Jakarta dengan status baru, cukup membuat Silka risih. Antara dia dan Alka adalah hubungan kecelakaan yang tidak disengaja.Sementara kembali pada aktivitas kuliah yang super sibuk mendekati akhir semester, Silka memilih tidak lagi memusingkan tentang Alka.Pria itu cukup memberinya ruang dan gerak yang tidak mengikat. Mungkin inilah enaknya pacaran dengan orang dewasa. Banyak pengertian yang dia dapatkan dari Alka.“Sil! Kamu beneran pacaran sama dosen baru anak fakultas kedokteran?” tanya teman kuliahnya dengan wajah penasaran.Silka mengangguk ragu.“Gila! Keren banget sih! Pak Alka itu ganteng dan baik banget!”Silka terus mendengarkan puluhan pujian untuk kekasihnya yang hingga detik ini belum pernah dia cium atau pegangan tangan.Setelah mendekati jam masuk kelas, Silka mengakhiri obrolan satu arah itu dan melenggang masuk. Selama kuliah berjalan, dia tidak habis-habisnya memikirkan tentang Alk
Mungkin bertemu jodoh itu terjadi tanpa bisa terduga.Bagi Silka yang masih berusia awal dua puluhan, ini bukan menjadi pertimbangan seriusnya. Terlebih lagi Ignar juga masih bimbang akan jati dirinya, semua keluarga tidak akan berpusat pada hal pernikahan dalam waktu dekat.Mengunjungi orang tua dan kerabatnya di Salatiga memang menyenangkan. Dia kadang malas meninggalkan kota kecil tempat ia tumbuh dan besar. Teman masa kecilnya ada di sini. Tapi Silka untuk saat ini tidak memiliki pilihan.Semua keluarga berkumpul di rumahnya. Ayahnya, Keenan, tampak masih tampan meskipun menjelang usia setengah baya. Mati-matian ayahnya menolak dengan mengatakan masih lima tahun lagi, tapi Silka suka mengangguk dengan gencar.Malam itu Renzo datang sendiri dan Silka senang karena memiliki waktu untuk berbagi lebih banyak. Perhatian kakak sepupunya memang tertuju pada dua hal akhir-akhir ini.Untuk Ignar dan Gya, kekasihnya.Silka merindukan masa-masa di