Share

Bab 15

Author: Kata Memecah Venice
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56
Setelah Thomas menutup teleponnya, dia berkata acuh tak acuh, "Dia bilang dia akan mengantarkan dalam sepuluh menit."

“Pff! Kau tidak akan berhenti berpura-pura, ya?!”

Melvin menunjuk ke kepalanya, dan berkata, “Kalau kau bisa mendapatkan sekeranjang berlian, masing-masing sama dengan milikku, aku, Melvin Payne, akan memenggal kepalaku, dan memberikannya kepadamu sebagai kursi. Jika tidak, kau akan meninggalkan Emma."

Emma mengerutkan keningnya dan berkata, "Apa yang kau katakan?!"

Melvin menatap Thomas, “Bagaimana? Kalau kau memang laki-laki, bagaimana kalau kau bertaruh denganku?"

Thomas terdiam.

Emma menarik lengan bajunya dan berkata, "Abaikan saja pelawak ini."

Melvin semakin percaya diri saat melihat Thomas terdiam.

"Ha ha! Kau tidak berani bertaruh denganku karena aku telah mengungkap kebohonganmu, kan?"

Thomas menggelengkan kepalanya, dan berkata, “Tidak. Aku hanya merasa agak berlebihan harus memenggal kepalamu karena masalah sepele seperti itu."

“Pah!” Melvin bangkit dan berkata, “Thomas, bisakah kau berhenti menyombongkan diri?! Aku tanya lagi, apa kau berani bertaruh denganku atau tidak?!"

"Baik. Mari kita bertaruh, kalau begitu.”

Melvin tersenyum bahagia. Dia tampaknya telah meramalkan perceraian Thomas dan Emma. Pada saat itu, telepon Thomas berdering lagi.

“Barang sudah sampai. Kalian tunggu aku sebentar."

Thomas berdiri dan berjalan keluar dari pintu. Melvin berteriak dari belakang, “Hei, kami semua menunggumu. Jangan mengambil keuntungan dengan menyelinap keluar!”

Emma dan Felicia berkeringat dingin begitu keduanya melihat siluet Thomas meninggalkan rumah.

Sekeranjang berlian?

Bahkan toko perhiasan terdekat tidak bisa mengeluarkan berlian sebanyak itu dalam waktu singkat, apalagi Thomas. Jika Thomas kalah taruhan kali ini, apakah dia akan benar-benar menceraikan Emma? Setelah beberapa saat, Thomas kembali.

Dia membawa sebuah keranjang dengan tangan kanannya. Bagian atas keranjang ditutupi dengan kain merah.

Thomas kembali ke tempat orang-orang ini. Dia meletakkan keranjang di atas meja kopi dan membuka kain merah. Ada banyak berlian yang mempesona seukuran telur angsa di dalamnya. Masing-masing berlian ini berkilau dan bening. Ukurannya lebih besar dari berlian milik Melvin. Karena keranjang ini penuh, kemungkinan ada ratusan berlian di dalamnya. Cahaya menyinari berlian dan memantulkan sinarnya sehingga membuat rumah menjadi berkilau indah.

"Tidak, itu tidak mungkin."

Melvin mengulurkan tangan untuk mengangkat berlian yang ada di atas. Dia ingin memeriksa apakah bagian bawah itu bantali dengan batu. Namun, dia dikejutkan dengan penemuannya. Selain bagian atas memang penuh dengan berlian, bagian bawah juga penuh. Satu keranjang ini benar-benar berisi berlian. Bahkan tidak ada batu yang ditemukan.

Felicia mengeluarkan beberapa berlian dan meletakkan mereka di telapak tangannya. Dengan hati-hati, dia mengamati berlian-berlian ini. Sebagai seorang wanita, dia lebih berpengetahuan dalam soal barang-barang seperti berlian. Setelah mengamati berulang-ulang, dia menyadari bahwa berlian-berlian ini memang asli.

"Luar biasa ... berapa harga sekeranjang berlian ini?

"Bahkan jika rata-rata harga masing-masing berlian ini tiga ratus ribu dolar, maka ratusan berlian ini akan menelan biaya setidaknya lebih dari tiga puluh juta dolar."

"Tom, apakah kau yakin kalau berlian ini dibuang dan berserakan di semua tempat di Pantai Barat?"

Thomas mengangkat bahu.

"Ya. Di Pantai Barat, semua orang hanya memedulikan makanan, minuman, dan pakaian. Batuan-batuan ini ada di seluruh jalan, dan telah lama menjadi pemandangan yang familer bagi kami."

Felicia bertanya dengan ragu, "Kalau begitu, kenapa tidak ada yang mengambilnya?"

"Kita mungkin bisa hidup ketika kita mengambilnya. Akan tetapi, kita mungkin tidak kembali hidup-hidup. Selain itu, akan sangat merepotkan untuk membawa hal-hal ini bersama kami. Kelangsungan hidup kami lebih diprioritaskan."

"Jadi, seperti itu."

Felicia menghela napas. Dia bertanya-tanya mengapa Thomas tidak membawa beberapa berlian ke rumah. Jika dia melakukannya, maka dia akan bisa jadi jutawan, kan?

Sebenarnya, jika Felicia tahu tentang jabatan Thomas dan properti yang dia miliki, dia tidak akan menghela napas seperti yang baru saja dia lakukan.

Keranjang berlian itu hanyalah setetes air di dalam ember dibandingkan dengan properti Thomas saat ini. Berlian itu hanya setetes air di lautan.

Wajah Melvin berubah berapi-api. Sebelumnya, dia bersumpah kalau Thomas telah membual. Entah bagaimana, dia benar-benar muncul dengan sekeranjang berlian. Melvin merasa wajahnya panas.

Emma mendengus, "Ngomong-ngomong, aku ingat kalau tadi ada yang bilang kalau dia akan memotong kepalanya untuk dijadikan kursi jika memang ada sekeranjang berlian, kan?"

Melvin menelan ludahnya.

"Itu ... itu hanya lelucon. Bagaimana kalian bisa menganggapnya serius?"

Thomas berkata dengan nada dingin, "sebagai pria sejati, bagaimana kau tidak bisa memenuhi janjimu sendiri?"

Melvin memandangi Thomas dengan tatapan dingin matanya. Dia menyeringai, dan menjulurkan lehernya ke depan, "Baiklah. Aku telan kata-kataku. Ayo, potong kepalaku!"

Emma berkata dengan nada jijik, "Bajingan!"

Tiba-tiba, Thomas memegang kepala Melvin dengan tangan kirinya dan menjepitnya ke meja kopi. Dia meraih pisau buah dengan tangan kanannya dan mengarahkan pisau itu pada leher Melvin dan dia memotong!

Suasana menjadi hening.

Saat Melvin melihat pisau itu akan memotong dirinya, kakinya menjadi lemah dalam sekejap. Terdengar suara benturan. Pisau buah itu semata-mata menelisir leher Melvin, dan tertancap langsung ke meja. Ujung pisau mengenai lehernya, meninggalkan luka dangkal dengan aliran darah di atas meja. Kepala Melvin terbaring di atas meja seperti kepala mayat. Dia tidak berani bergerak sama sekali.

Thomas berkata dengan suara dingin, "Lain kali, aku tidak akan melewatkannya. Pergi kau sekarang!"

"Baik, aku akan pergi sekarang."

Melvin berhenti membual. Dia bangkit kemudian menyentuh lehernya sambil berjalan menuju pintu. Dia hampir tersandung dan merangkak sambil berjalan keluar dari pintu masuk keluarga Hills. Di pintu, dia hampir menabrak Johnson, yang baru saja kembali dari membeli bahan-bahan makanan.

"Eh, Melvin, kenapa kau pergi dengan tergesa-gesa? Apa kau tidak ikut makan malam?" Johnson berteriak, bingung.

Melvin bahkan tidak melihat ke belakang. Dia melarikan diri secepat kilat. Johnson perlahan berjalan ke rumah, dan bertanya, "Apa ada sesuatu dengan Melvin?"

Felicia memutar matanya ke arah suaminya. Dia menjawab, "Melvin siapa? Bocah sampah. Di masa depan, jangan biarkan ada orang yang masuk rumah. Mataku sakit melihatnya."

"Uh ….”

Ketika Johnson memperhatikan bahwa ada sekeranjang berlian di atas meja, dia melongo.

"Apa ini?"

Felicia berkata, "Ngomong-ngomong, Tom, cepat kembalikan berlian ini ke temanmu. Kita tidak akan mampu mengkompensasi jika ada yang hilang."

Thomas mengangkat bahu, dan berkata, "Tidak apa-apa. Berlian ini juga diambil dari Pantai Barat."

"Kau tidak boleh begitu. Kau sebaiknya segera mengembalikannya. "

"Baik."

Thomas membawa keranjang itu keluar dan kembali ke rumah setelah beberapa menit. Dia tampak sedikit cemberut.

Felicia memperhatikan ada sesuatu yang aneh, jadi dia bertanya, "Tom, ada apa? Bukankah kau tadi baik-baik saja? Apa seseorang yang mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu?"

Thomas menghela napas dan berkata, "Ayah, Ibu, Emma, aku ingin meminta bantuan kalian untuk hal ini."

"Katakan saja. Jangan sungkan dengan kami. "

“Lima hari lagi adalah hari ulang tahun Scott. Aku ingin mengundang kalian semua untuk menghadiri acara peringatan bersama."

Jonnhson berkata, "Kalau soal ini, kami pun tidak punya alasan untuk tidak hadir. Lagi pula, ayahmu dan aku adalah teman sekolah dan teman lama. Kau juga menantuku. Jangan khawatir, kita akan hadir bersama lima hari lagi."

"Terima kasih, Ayah. Aku akan menelepon kakek dan orang lain untuk memberi tahu mereka."

Johnson dan Felicia saling berpandangan.

Thomas berkata dengan suara yang dalam, "Adapun yang lain, aku pikir akan lebih baik kalau aku melupakan mereka."

Related chapters

  • Sang Dewa Perang   Bab 16

    Johnson menasihati, “Keluarga Hill sangat menghargai kemampuan individu. Kalau kamu memiliki status yang sama dengan Donald, atau jika keluarga Mayo masih memiliki Teknologi Shalom, sekelompok orang akan berinisiatif untuk meneleponmu dan memintamu untuk menghadiri upacara peringatan sebelum kamu mengatakan apa pun.“Sekarang, kamu tidak punya uang dan karir yang cerah, jadi tidak ada yang mau mengakuimu. Sebaiknya kamu tidak menelepon mereka.”Thomas tersenyum pahit. “Itu terserah mereka mau mengakui aku atau tidak, tetapi itu juga terserah aku mau memberi tahu mereka. Selain itu, aku juga ingin melihat bagaimana keluarga Hill memperlakukan aku.”"Huh, telepon saja kalau kamu mau."Pertama, Thomas menelepon kepala keluarga Hill, Richard."Halo? Siapa ini?""Kakek, ini aku, Thomas Mayo."Richard ragu-ragu sejenak. “Thomas? Kenapa kamu menelepon aku?”“Aku hanya ingin memberi tahu Kakek kalau lima hari lagi adalah hari ulang tahun mendiang adikku. Aku ingin menyiapkan upacara pe

  • Sang Dewa Perang   Bab 17

    Lima hari berlalu dalam sekejap mata.Pagi-pagi keesokan harinya, Emma bangun lebih awal. Wanita itu mengenakan setelan hitam formal.Bagaimanapun, hari itu adalah upacara peringatan kematian. Karena itu, dia harus mengenakan pakaian formal daripada pakaian kasual. Ketika Emma melangkah keluar dari kamarnya, Thomas sudah tidak ada di rumah. Pria itu bahkan tidak menjawab panggilan darinya saat Emma menelepon. Tanpa sadar wanita itu menjadi bingung. Ketika Emma mendatangi ruang keluarga, sarapan bergizi sudah disajikan di atas meja.Emma duduk untuk makan sambil membaca catatan yang ditinggalkan di atas meja oleh Thomas. [Jam sepuluh pagi, aku akan menyiapkan mobil untuk menjemputmu - Tom].Emma tersenyum. "Perhatian sekali dia."Pada saat itu, Johnson juga sudah bangun dan pergi ke ruang keluarga. Dia bertanya, "Emma, ​​apa kamu benar-benar ingin bermain-main dengan Thomas?"Emma mengerutkan kening dan berkata, “Apanya yang main-main? Bukannya Thomas seharusnya menghadiri upa

  • Sang Dewa Perang   Bab 18

    Di West River Coast, Richard dan Harvard sedang duduk di dalam sedan hitam yang sedang berkendara.Ketika Harvard melihat tepi sungai rusak yang telah dihancurkan, dia tersenyum dan berkata, “Kakek, lihat, daerah di West River Coast telah dihancurkan sepenuhnya. Tapi, lucunya, Thomas bilang kalau dia ingin mengadakan upacara peringatan untuk adiknya. Aku penasaran siapa yang memberinya keberanian untuk membual seperti itu. Kurasa dia mungkin tidak bisa pergi ke dekat tepian.”Richard melirik sekilas sebelum mencibir, “Jangan menyebut orang seperti Thomas lagi. Kamu harus lebih banyak belajar dari Donald. Jangan selalu pergi-pergi tidak jelas.”"Aku mengerti, Kakek."Mobil itu dikendarai selama beberapa waktu sebelum Harvard tiba-tiba menunjuk ke luar jendela dan berkata, "Kakek, lihat, kenapa ada banyak helikopter?"Richard melihat ke luar jendela, dan ada sekitar dua puluh helikopter di langit. Di belakang setiap helikopter, ada kain putih panjang, dan sepertinya mereka sedang be

  • Sang Dewa Perang   Bab 19

    Dor! Dor! Dor!Pintu mobil terbuka. Orang-orang kuat bersenjatakan senjata-senjata tajam melompat keluar dari mobil satu demi satu. Totalnya ada lima puluh orang.Darcy dan Brendon memimpin.“Apa yang kalian lakukan di sini?!“Apa kalian tidak tahu tempat ini terlarang?!"Kalian semua, enyah sekarang!"Brendon berteriak dengan penuh semangat, memecahkan suasana yang sedang khusyuk.Thomas mengerutkan kening. Dia secara perlahan membalikkan tubuhnya dan melirik Brendon. Dia berkata, “Hari ini adalah hari peringatan adikku. Aku tidak ingin bersikap kasar. Pergi sekarang. Aku akan meluangkan waktu aku untuk menyelesaikan masalah dengan kalian lain kali.” "Lain kali?! Menyelesaikan masalah?!”Brendan tertawa. Dia menunjuk ke arah orang-orang kuat yang bersenjatakan senjata tajam di belakangnya, dan berkata, “Buka matamu lebar-lebar. Hari ini, aku telah membawa orang-orangku ke sini. Thomas, kamu sangat kuat, tapi apa kamu bisa melawan sepuluh, dua puluh, dan bahkan tiga puluh ora

  • Sang Dewa Perang   Bab 20

    Ada lebih dari sekadar banyak orang. Itu menakutkan!Ada seratus mobil Lincoln dan sekitar empat ratus tentara terlatih. Bagaimana mungkin Darcy Davis yang tidak penting mampu menyinggungnya?Ketika para gangster yang menerima keuntungan dari Darcy datang untuk “bekerja” dan melihat situasinya, mereka segera membuang senjata mereka. Tidak ada yang berani bergerak.“Nah, Tuan Davis, ada sesuatu yang harus aku lakukan, jadi aku harus pergi sekarang.“Aku sedikit sakit perut, aku akan kembali lagi nanti."Kita akan bicara lagi, Tuan Davis."Para gangster ini merupakan kru beraneka ragam. Ketika mereka melihat Thomas telah membawa beberapa ratus tentara yang kuat dan berotot, mereka menjadi sangat ketakutan sampai membuat mereka semua lari dan sama sekali tidak peduli dengan Darcy.Pada akhirnya, hanya Darcy dan Brendon yang tersisa di sana.Thomas dengan dingin bertanya, "Darcy, aku sudah memberimu kesempatan untuk menebus kejahatanmu, tetapi kamu memilih untuk tidak menghargainya

  • Sang Dewa Perang   Bab 21

    “Hmph! Aku tidak membual, bahkan direktur harus mendengarkanku. Dia harus mendengarkan apa pun yang aku katakan. Thomas, kau telah menyinggungku. Jangan berpikir kalau kau bisa pergi dalam keadaan hidup." Thomas sedikit menggelengkan kepalanya, dan berkata, "Jadi, kau yang bertanggung jawab di Biro Konstruksi Perkotaan, ya?"Tiba-tiba, Thomas menoleh ke arah kapal pesiar besar, dan bertanya, "Direktur Morpheus, apakah ini cara kerja di Biro Konstruksi Perkotaan?"'Direktur Morpheus?'Holland gemetar. Dia melirik kapal pesiar dan tidak melihat siapapun di sana. Dia tanpa sadar menghela napas. “Kau masih menggertakku, kan?! Aku pasti akan …." "Holland Jagger, ke sini!" Suara parau terdengar dari arah kapal pesiar. Ketika Holland mendengar suara itu, dia ketakutan setengah mati. Suara itu terlalu familier baginya. Itu adalah suara yang sama milik orang yang dia 'jilat' setiap hari sehingga dia bisa memamerkan dirinya di luar. Itu adalah suara Noah Morpheus, direktur Biro Konstruksi Pe

  • Sang Dewa Perang   Bab 22

    Saat Darcy melihat Holland ditangkap, gayanya yang berwibawa benar-benar hilang. Dia berlutut di depan Thomas dengan bunyi gedebuk. Dia menangis. Air matanya terus mengalir ketika dia berbicara, ”Tuan Mayo, aku benar-benar menyadari bahwa ini salahku. Aku seharusnya tidak melawanmu. Aku pantas mendapatkannya, tetapi Scott dan aku dulu adalah mitra dekat. Apa bisa kau melepaskanku kali ini?" Mitra? Dekat? Thomas berbicara dengan nada rendah dan marah. "Apa kau benar-benar berpikir aku tidak tahu bagaimana kau bekerja sama dengan Skyworld Enterprise untuk menjebak saudaraku?" Wajah Darcy langsung menjadi pucat, jadi dia terus menempelkan kepalanya ke tanah.“Sebenarnya, Skyworld Enterprise memaksaku untuk melakukan hal-hal itu. Mereka memberi perintah dan aku hanya orang tidak penting yang menjalankan perintah mereka. Aku benar-benar tidak merencanakan konspirasi untuk menjebak Scott.“Kau juga bisa melihatnya sendiri. Meskipun aku ini pemimpin Shalom Technology, aku harus mematuhi

  • Sang Dewa Perang   Bab 23

    Tuan Muda Kedua yang dicintainya akhirnya memiliki akhir yang terhormat. Ben berjalan ke makam. Dia melihat orang-orang yang berlutut di tanah adalah karyawan dari Shalom Technology. Dan pemimpinnya tidak lain adalah adalah pemimpin Shalom Technology, Darcy Davis.Ben sangat bersemangat sehingga dia sampai ingin menari.“Rasakah, Darcy!" "Tuhan telah berlaku adil untuk tuan muda kedua!"Thomas berjalan mendekatinya. Dia mengulurkan tangan untuk memegang Ben.“Paman Ben, jangan terlalu bersemangat. Berhati-hatilah agar tidak masuk angin."Ben menyeka air matanya, dan berkata, “Tuan Muda, Anda telah melakukannya dengan sangat baik! Tuan muda kedua tidak hanya memiliki akhir yang terhormat, tetapi Anda juga membuat para pelaku yang telah ikut ambil bagian pada kematiannya berlutut di depan kuburnya. Kerja yang bagus!“Tuan Muda, saya benar-benar senang melihat betapa suksesnya Anda ini!"Keluarga Mayo dipenuhi dengan harapan!"Melihat Ben yang semakin bersemangat, Thomas buru-buru memin

Latest chapter

  • Sang Dewa Perang   Bab 2419

    Tidak ada yang tahu seberapa jauh gelar Kaisar Keberuntungan diwariskan.Mereka akhirnya menangkap Bintang Keberuntungan.Setelah itu, Eric beraksi dan menarik tangkapannya secepat yang dia bisa. Dengan itu, semua kaki tangan Keberuntungan yang tersisa ditangkap dalam satu gerakan!Dua juta warga tak berdosa diselamatkan, karena mereka semua meminum penawarnya.Sekali lagi, Thomas menyelamatkan hari itu.Untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka, para warga memutuskan untuk mendirikan patung Thomas di Kota Celandine dan juga banyak kota lainnya.Di Graha Vistaria.Phoebe berlari ke arah ayahnya dengan tergesa-gesa. Dia lalu tersenyum padanya dan berkata, “Apa yang aku bilang padamu, Ayah? Thomas pasti akan membalikkan keadaan, bukan? Aku menang!"Declan sangat tidak tenang, sehingga dia mulai menangis.Thomas benar-benar terlalu luar biasa. Dia mampu membalikkan keadaan, bahkan dalam keadaan sulit seperti itu.Di saat yang sama, kutukan yang telah menjangkiti keluarga Mars

  • Sang Dewa Perang   Bab 2418

    Keberuntungan tercengang. Mengapa Thomas masih hidup dan bergerak?“Tidak perlu meragukan matamu sendiri. Aku memang masih hidup.”Kerumunan berpisah, memberi jalan bagi sosok yang sangat familier. Itu adalah Thomas, Thomas yang disaksikan publik saat dia mati.Sambil dia berjalan, dia berkata, “Penelitian kami sebelumnya sudah mencapai penyelesaian sembilan puluh sembilan persen. Tapi tidak peduli seberapa keras kami berusaha, satu persen terakhir tetap berada di luar jangkauan kami. Pada saat itu, aku berpikir kalau mungkin satu-satunya cara adalah dengan meminum Air Leluhur dan mengalami racun itu sendiri, yang memungkinkan aku mendapatkan terobosan untuk satu persen terakhir.“Dan itulah yang terjadi. Aku berhasil melakukannya.“Setelah meminum Air Leluhur, aku akhirnya mengerti apa itu satu persen dan berhasil membuat penawar Air Leluhur. Sekarang penawarnya sudah dibuat, itu akan memutuskan hubunganmu dengan Air Leluhur.“Kau tidak akan bisa membunuh siapa pun lagi."Kau s

  • Sang Dewa Perang   Bab 1417

    Erick jelas tidak mampu mengambil risiko kali ini. Tapi dia tidak memiliki pilihan. Satu-satunya pilihannya adalah mendengarkan apa pun yang dikatakan pihak lain dan menyiapkan helikopter dalam waktu dua belas jam.Bukan itu saja. Dia juga seharusnya meminta atasannya untuk membantu Keberuntungan keluar dari negara itu.Memikirkan hal itu membuat Eric geram."Brengsek!"Dia pergi dengan marah untuk menangani sisa masalah ini.Langit Kota Celandine tertutup awan.Sang patriarki, Declan, sedang berada di kebunnya di Graha Vistaria. Dia menatap bunga-bunga layu sambil dia berduka.Seluruh hidupnya dihabiskan untuk mendukung Pak Cole dengan harapan dia akan mampu menciptakan penangkal Air Leluhur. Tapi pada akhirnya, Pak Cole tidak mencapai apa-apa.Kedua muridnya— Tangan Suci Elliot yang Tak Terduga, dan Thomas—keduanya tewas.Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menciptakan penawar Air Leluhur lagi."Aduh ...." Declan menghela napas. Sepertinya tidak mungkin mematahkan

  • Sang Dewa Perang   Bab 2416

    Pada saat itu, masyarakat umum tiba-tiba tercengang, seperti disambar petir. Semua orang turun ke tempat pembuangan sampah.Banyak dari mereka yang memiliki kekuatan psikologis yang buruk langsung tumbang di tanah.Mereka percaya kematian Thomas dapat ditukar dengan keselamatan mereka sendiri, tetapi siapa tahu, pada akhirnya, mereka tidak mendapatkan apa-apa, dan Bintang Keberuntungan, seperti biasa, menggunakan nyawa mereka sebagai alat tawar-menawar untuk memaksa pihak berwenang mendengarkan kata-kata Yang Mulia.Tidak ada penangkal Air Leluhur yang akan tercipta secara kebetulan.Kehidupan orang-orang masih di tangan Yang Mulia.Setiap kali keberuntungan menginginkan mereka mati, mereka akan mati tanpa kemampuan untuk melawan.Namun, ini bukan bagian yang paling menakutkan.Yang lebih menakutkan dari ini adalah bahwa satu-satunya orang yang dapat menciptakan penawar Air Leluhur telah dipaksa mati hidup-hidup oleh mereka.Mustahil untuk membuat penangkal Air Leluhur tanpa Th

  • Sang Dewa Perang   Bab 2415

    Eric menghela napas dalam-dalam, "Thomas, meskipun semuanya telah mencapai titik ini, kau tetap begitu baik hati.""Aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan kecuali memilih kematian karena penelitianku gagal." Thomas menghela napas panjang. "Sebelum aku mati, aku ingin berbicara dengan keluargaku di telepon."Awalnya Emma dan yang lainnya datang ke Kota Celandine karena ingin bertemu kembali dengan Thomas.Siapa sangka kalau situasinya sudah berubah menjadi situasi hidup dan mati?Dunia seperti permainan catur; semuanya tidak dapat diprediksi.Ketika Thomas melakukan panggilan video dengan keluarganya, Emma sudah berlinangan dengan air mata di ujung sana. Dia menangis dan berteriak pada Thomas untuk tidak bertindak impulsif. Dia mengatakan mungkin masih ada ruang untuk membalikkan keadaan.Itulah yang dia pikirkan, tetapi bukan itu masalahnya.Setiap menit yang Thomas tunda akan membuat semakin banyak orang yang tewas akibat Air Leluhur. Selain itu, ketakutan serta kemarahan or

  • Sang Dewa Perang   Bab 2414

    Untuk penelitian yang menuntut seperti itu, setengah hari terlalu singkat.Thomas telah merekrut dokter dan peneliti terbaik yang dapat dia temukan untuk mengerjakan studi terperinci mengenai Air Leluhur.Dulu, sulit untuk mencapai terobosan dalam penelitian Air Leluhur. Hal ini karena mencari tahu cara membuat penawar untuk Air Leluhur itu demikian menantang. Di sisi lain, sangat sulit mendapatkan Air Leluhur. Karena mereka hanya memiliki sedikit sampel, hasilnya mengecewakan.Namun, sekarang berbeda. Karena pasokan air seluruh kota sudah diubah menjadi Air Leluhur, mereka bisa mengumpulkan sampel sesuka mereka. Ini sangat memudahkan Thomas dan yang lainnya untuk mendapatkan materi untuk diteliti.Dengan Thomas sebagai penanggung jawab, ratusan peneliti melakukan penelitian besar-besaran hanya dalam waktu setengah hari.Sayangnya, situasi tidak berjalan sesuai rencana.Thomas masih gagal.“Kita hampir mendapatkannya."Sedikit lagi kita akan berhasil!" Thomas menghela napas

  • Sang Dewa Perang   Bab 2413

    Sungguh jahat! “Yang kami inginkan hanyalah—keselamatan.“Selama kami aman, kami pasti tidak akan mempersulit semua orang. Jika kami aman, tidak ada yang akan mati.“Nah, saya punya permintaan kecil untuk memastikan keselamatan semua orang.“Saya menuntut agar Thomas segera meminum Air Leluhur! Orang ini benar-benar merepotkan Yang Mulia dan kami harus menjaganya di bawah kendali kami demi keselamatan kami sendiri. Maafkan kami atas ketidaknyamanan ini.“Kami hanya akan memberi setiap orang waktu setengah hari untuk mempertimbangkan hal ini. Kaisar akan mulai membunuh orang jika Thomas tidak melangkah maju dan meminum Air Leluhur sore ini."Oke. Saya sudah mengatakan semua yang ingin saya katakan. Selamat tinggal."Layar TV menjadi gelap dan begitu pula wajah Eric.Dia menendang tempat sampah dan berkata dengan galak, “Apa ini? Kaulah satu-satunya orang di dunia yang bisa membuat penangkal racun Air Leluhur, Thomas! “Begitu kau minum Air Leluhur, kau akan dikendalikan oleh m

  • Sang Dewa Perang   Bab 2412

    Setelah mendengarkan penjelasan Thomas, Eric juga menunjukkan ekspresi kaget dan mengucapkan beberapa kata, "Seperti yang diharapkan."Apa yang dia maksud dengan 'seperti yang diharapkan'?Apa mungkin Eric tahu bahwa Bintang Keberuntungan ada di belakangnya sejak awal?"Thomas, ikut aku."Eric membawa Thomas ke bangsal kosong dan mengunci pintu. Keduanya duduk di sudut bangsal.Dia berbisik, “Ada berita yang belum aku umumkan ke publik. Selain Kota Celandine, ada lebih dari sepuluh kota yang bermasalah. Apa kau tahu kota mana saja itu?" Mata Thomas berbinar. Dia sudah tahu apa yang ingin Eric katakan.Pada pertemuan sebelumnya, Eric dengan jelas menyatakan bahwa lebih dari sepuluh kota di seluruh negeri telah dikuasai oleh Bintang Keberuntungan. Sekarang, kebetulan ada lebih dari sepuluh kota yang penduduknya telah diracuni.Apa ada kebetulan seperti itu?Thomas berkata, “Penduduk terkena racun Air Leluhur. Lebih dari sepuluh kota berada di bawah kendali pasukan Bintang Keber

  • Sang Dewa Perang   Bab 2411

    “Aku tidak. Aku melihat berita pagi ini dan aku terkejut. Aku belum berani minum seteguk air sampai sekarang.” Pisces menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Apa ini bencana alam atau bencana buatan manusia? Ini benar-benar mengerikan.”Tidak peduli apakah itu bencana alam atau bencana buatan manusia, itu bukan masalah kecil.Thomas segera pergi ke rumah sakit.Eric sudah lama menunggu di sini. Begitu dia melihat Thomas datang, dia segera memintanya masuk ke bangsal.Dia melihat seorang pasien terbaring di ranjang rumah sakit dengan mata tertutup dan tubuh gemetar. Meskipun cuaca sedang sangat panas, badannya dingin sekali seolah baru keluar dari lemari pendingin. Seorang dokter berjalan mendekat dan berkata, “Pak Mayo, izinkan saya memberitahu Anda gambaran umum tentang situasi saat ini."Virus itu menyebar melalui sumber air.Setelah meminum air yang mengandung virus, virus akan mengintai di tubuh manusia.Namun, mengintai tidak berarti akan menyebabkan wabah.Saat ini, l

DMCA.com Protection Status