Felice melihat ke sekeliling ruang sampel yang dipenuhi kenangan di setiap sudutnya. Dinding yang penuh dengan tempelan inspirasi desain, tempelan kain-kain dengan berbagai warna, sampel sepatu dan masih banyak lagi barang penuh kenangan yang ada dalam ruangan itu.Drrtt drtt [Adriana Novelle Vogue]“Halo, ini Felice Chiara Farfalla.” Ujar Felice.“Anda masih ingat saya? Saya Adriana, kepala editor di Novelle Vogue.” Ujar Adriana.“Ya.” Balas Felice.“Saya menelpon Anda begitu mendengar beritanya. Saya dengar kamu menolak tawaran pekerjaan dari Anthony. Kali ini, saya sangat ingin mengenal Anda, Nona Felice.” Ujar Adriana. “Saya ingin mewawancarai Anda lagi. Tentu saja, kami akan mengirimkan daftar pertanyaan baru.” Lanjut Adriana.“Silahkan saja. Namun, saya juga tetap ingin wawancaranya dilakukan di kantor saya.” Ujar Felice.“Baiklah saya setuju. Sesuai permintaan Anda, kita bisa melakukan wawancara di kantor Anda.” Balas Ariana.“Selain itu, saya juga ingin memilih sendiri fotogra
“Bisa kita mulai?” Ujar Adriana. “Tentu.” Balas Felice.“Saya akan mulai dari pertanyaan dasar. Saya dengar kamu membuat nama “Lauré” sendiri. Apa arti di balik nama itu?” Ujar Adriana.Felice melirik ke arah Xavier yang sedang memotretnya. “Bukan saya yang membuat nama itu. Sebenarnya saya mendapat ide itu dari fotografer tidak dikenal di Paris.” Ujar Felice.Xavier teringat akan sesuatu sampai berhenti mengambil gambar Felice. Xavier menyimak cerita Felice beberapa saat untuk mendengar sebuah fakta yang ingin Xavier dengar lebih lanjut.“Lauré berarti kemenangan. Dia menyemangati saya dan berharap desain yang saya buat akan membawa saya pada kemenangan dalam setiap usaha saya di hadapan publik. Lauré lahir berkat fotografer tidak dikenal itu.” Ujar Felice.Ckrek Ckrek ckrek [Suara kamera]“Saya sungguh ingin tahu kenapa Anda menolak tawaran Anthony Yve Saint? Saya kira semua desainer pasti bercita-cita ingin bekerja dengannya.” Ujar Adriana.“Lima tahun lalu, saya juga akan berpikir
Brtrtt [Suara kertas-kertas]“Heah! [menghela napas]” Ellie menghentakkan laporan penjualan La Cart dengan wajah kesal dan cemburu.“Perusahaan memberi Nona Felice dukungan untuk mengembangkan Lauré. Tapi begitu dia menyuruhnya mengambil alih dan mengelola Lauré…” Keluh Ellie.“Angka penjualan kita akan anjlok. Lauré adalah brand terlaris kita meskipun tidak baru dan tidak menarik lagi.” Ujar Michael.Bughhh [Suara pukulan meja]Manajer Alano kesal sampai memukul meja dengan sangat keras karena perdebatan mereka yang sungguh membosankan. Kehilangan Lauré dan Felice menjadi hal yang cukup menyedihkan bagi Manajer Al.“Kenapa kalian tidak membawa laporan penjualan bulanan Lauré? Apa kalian tentara yang menunggu dibebastugaskan? Di mana kedisiplinan kalian?” Ujar Manajer Alano.“Aku…”“Vareena kenapa kamu tidak membawanya?” Ujar Manajer Alano.“Aku sudah tidak mengelola Lauré lagi sejak dipindahkan untuk sepenuhnya mengurus Viance. Biar aku..” Ujar Vareena.“Sudahlah!” Protes Manajer Alan
“Kenapa kamu sendirian? Bagaimana dengan Pak Arka?” Ujar Felice.“Kita putus.” Ujar Arina sambil tersenyum lebar penuh keterpaksaan.“Apa?” Ucap Felice yang sangat terkejut dengan keputusan Arina kali ini.“Hehe.. Limited edition… Hehe.. hehe..” Ujar Arina.“Hei, mudah sekali menyerah pada edisi terbatas.” Ujar Arina sambil menuangkan gula ke dalam tehnya.Felice menatapnya dengan tajam. Arina tahu maksud dari tatapan itu.“Astaga, jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Dia tidak melamarku atau memesan gedung pernikahan.” Ujar Arina sambil menuangkan gula ke dalam tehnya.“Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Ujar Arina sambil mengaduk tehnya. Lalu Arina kembali mengambil gula.“Kamu sadar itu yang kelima?” Ujar Felice.Arina tidak jadi memasukan gula itu ke dalam tehnya. Lalu meletakkan gula itu di tempat asalnya.“Kamu bilang kamu salah paham. Minta maaf saja kepadanya.” Ujar Felice.“Dia setuju untuk mengakhirinya seolah-olah sudah menantikannya.” Ujar Arina.“Mung
Saat tubuhnya mulai merasa lebih baik dan tidak merasa sakit yang berlebihan, Keena menyempatkan untuk menamai semua peralatan sekolah Keena. Selain itu, Keena juga menulis nama Seraphina di lembar kertas label nama sebanyak-banyaknya. Label nama itu untuk nanti Sera gunakan saat Sera sudah membutuhkannya.Di saat yang bersamaan, Liam yang mengurus keperluan Seraphina untuk ke acara penerimaan nanti. Liam menjejerkan beberapa baju Sera di hadapan Keena.“Apa yang harus Sera pakai ke upacara penerimaannya?” Tanya Liam.Keena menunjuk baju berwarna biru dongker dengan kerah berwarna putih, “Yang itu, yang ditengah.” Balas Keena.“Yang ini?” Tanya Liam.“Ya!” Balas Keena“Hmm… dia juga harus memakai jepit rambut yang berwarna kuning.” Ujar Keena.Liam mengambil jepitan yang Keena maksud.“Ya, yang besar itu.” Ucap Keena.“Bagaimana menurutmu?” Tanya Liam.“Sempurna.” Balas Keena sembari tersenyum lebar.“Ini memang terlihat sempurna, bagus aku juga menyukainya.” Ujar Liam.“Mama, aku suda
Cklik [suara koper]Xavier membuka kopernya untuk memasukkan barang-barang yang akan dibawa ke Paris nanti.“Kamu bilang akan berkemas akhir pekan ini. Aku ingin membantumu.” Ujar Felice.“Aku bisa sendiri.” Balas Xavier.Felice melihat ke sekeliling kamar Xavier yang sudah berantakan dengan barang-barang yang akan dikemas.“Akan kamu apakan semua ini?” Tanya Felice.“Aku hanya akan mengambil yang kubutuhkan.” Ujar Xavier.“Aku pernah ke Eropa dan Korea. Aku terbiasa berkemas untuk perjalanan bisnis. Ambil yang kamu butuhkan dan kurangi volumenya. Itu adalah keterampilan, dan itu keharusan bagi semua desainer.” Ujar Felice sambil membantu Xavier merapikan pakaian.“Hehe.” Xavier hanya tertawa mendengarnya.“Apa yang akan kamu ambil?” Tanya Felice.“Aku belum bisa memastikannya.” Ujar Xvaier.Felice melihat-lihat ke sekeliling kamar, lalu melihat ada foto dirinya berserakan di meja. Felice menghampirinya dan mengambil foto itu.“Itu bukan latihan?” Ucap Felice.Xavier melihat ke arahnya
Pagi hari ini dimulai dengan Luna memberikan surat permintaan pemesanan kain pada Felice.“Nona Felice. Kita harus memesan kain untuk persiapan musim mendatang. Haruskah aku memesannya atas nama The Premiére atau Lauré karena kita sudah independen?” Tanya Luna.Semua orang penasaran dengan jawaban Felice. Mereka menantikan apa yang akan Felice katakan.“Prosesnya tetap sama untuk The Premiére, tapi jika memakai nama Lauré, kita harus menulis kontrak baru. Mereka ingin dikabari secepatnya.” Ujar Luna.“Sampaikan bahwa aku akan menelpon mereka.” Balas Felice.“Baiklah.” Balas Luna sembari menyerahkan suratnya. Lalu Felice mengambil surat itu untuk dia ambil alih.Kemudian Luna kembali ke meja kerjanya dan mereka yang menunggu jawaban sedikit kecewa karena tidak bisa mendengarnya secara langsung.Felice memang belum bisa menjawabnya karena masih belum terbiasan dengan ini semua dan Felice juga masih ragu untuk menjadikan Lauré sebagai brand independen.***Xavier masih harus merapikan beb
Tik tik tik [Suara tetesan infus]Keena sudah sadarkan diri setelah ditangani oleh dokter. Setelah Keena sadar dokter menemui Liam yang sudah bersama dengan Arina dan Felice.“Bagaimana kondisinya dok.” Ucap Liam.“Kankernya menyebar ke perutnya. Dari sanalah darahnya berasal. Kami mencoba menghentikan pendarahan dari perut dengan bronkoskopi untuk sekarang.” Ucap dr. Rayden.“Apa yang kita lakukan sekarang? Apa ada obat lain?” Ucap Arina.“Dia bisa kehilangan banyak darah. Itu akan sulit dihentikan.” Ucap dr. Rayden.“Dokter. Berapa lama lagi sisa waktunya?” Tanya Liam dengan mata yang memerah. “Jika dia harus berpamitan pada keluarga atau teman, kurasa sebaiknya hubungi mereka sekarang.” Ucap dr. Rayden.“Ahh…” Liam tertunduk dan menangis. Liam tidak bisa membayangkan jika Keena benar-benar pergi.“Keena.. haaa… Keena Angelica.. haaa Keenaaaa….” Tangis Arina semakin pecah. Arina menangis sambil menghadap ke tembok dan menutup wajahnya dengan tangannya.Air mata Felice juga tidak bis
Janji yang kita buat dan cintamu menunjukkan jalannya. Serta berjalan di jalur itu adalah caraku membalas kepadamu. Felice Chiara FarfallaXavier menikmati tempat rekreasi itu sambil naik gondola untuk melihat pemandangan di sekitarnya. Saat sedang melihat ke sekitar, Xavier tidak sengaja berpapasan dengan wanita yang mirip Felice sedang naik gondola yang berbeda arah dengannya. Matanya langsung tertuju pada wanita cantik itu.Xavier ingin memastikan itu benar atau tidak. Namun, gondolanya terlalu cepat bergerak dan mereka saling menjauhi satu sama lain. Xavier terus memperhatikan sampai benar-benar tidak terlihat.Nalurinya berkata bahwa itu adalah Felice. Tapi bagaimana mungkin Felice masih tidak berubah sejak terakhir bertemu. Dia masih selalu cantik, anggun dan elegant. Xavier berharap ingin bertemu orang itu lagi untuk memastikan dia Felice atau bukan.Setelah turun dari gondol
Berjalan di jalanan yang sama seperti dua tahun lalu, di malam yang berbeda dan tidak ada yang seseorang yang menemani setiap langkah kaki ini terasa sangat asing bagi Xavier. Udara di sekitar, pepohonan yang rindang jalanan yang basah setelah diguyur hujan, semuanya tidak banyak yang berubah.Xavier memandangi pemandangan di jalanan yang terguyur hujan itu sambil memikirkan kenangan dua tahun lalu bersama Felice. Matanya terus memperhatikan setiap sudut di kanan dan kiri jalanan itu.“Satu atau dua tahun dari hari ini. Jika aku bisa berjalan di jalur seperti ini di hari ini, aku akan memikirkanmu dan kita hari ini.” Suara hati Xavier.Drttt drttt [+62813003680996]Xavier menghentikan langkahnya untuk membuka pesan di ponselnya.“Aku mengirimimu pesan dari Jakarta. Apa kamu tiba dengan selamat? Sampai jumpa besok di Jakarta.”Setelah membaca pesan itu, enta
“Kamu sudah menikah?” Tanya Xavier.“Astaga! Kamu bahkan tidak mengirimi aku undangan pernikahan. Kamu pikir seperti itulah teman yang setia? Wahh! Aku kecewa padamu.” Keluh Xavier.“Haha. Tenang dulu! Kita tidak menikah. Kita hanya tinggal bersama.” Jawab Arka.“Benarkah? Kamu tidak takut dengan omongan orang? Ini Indonesia bukan Eropa atau America.” Ujar Xavier.Drttt drtt [Nona Luna]“Halo, ini Arka Nolan Jude, CEO Galaxy PR.”“Halo, Pak Arka. Aku menelepon dari tim Lauré.” Ujar Luna.“Ya, Nona Luna.” Balas Arka sambil melihat ke arah posisi Xavier duduk beberapa saat.“Bagaimana perkembangan iklan produk kami?” Tanya Luna.“Oh itu Pak Liam yang akan bertanggung jawab atas iklan produk tahun ini. Anda tidak usah khawatir. Tenag saja. Tunggu saja
Xavier hanya sempat memasak mie instan hari ini. Saat mie sudah dimasukan, Xavier hendak memasukan telur. Namun, Xavier teringat sesuatu saat memegang telur itu.Flashback On“Kamu selalu mengaduk telur setelah menambahkannya ke mie instan, bukan?” Ujar Felice.“Tidak.” Balas Xavier.“Wah! Astaga, kita sungguh berbeda. Kita benar-benar tidak cocok. Sepertinya kita akan sering bertengkar.” Balas Felice.Flashback OffXavier membatalkan niatnya yang akan langsung memecahkan telur di atas mienya. Dia memutuskan untuk mencoba selera makan Felice.Xavier pecahkan telur itu di atas mangkuk kecil lalu diaduk hingga terampur rata. Setelah itu baru dimasukan ke dalam mie.Setelah mienya matang, Xavier segera memakannya sebelum mie itu menjadi dingin. Xavier makan mie sambil sesekali melihat ke arah foto Felice yang ada di hadapannya.Flashback On
“Itu sesuatu yang harus kamu ulur dan kamu bumbui sedikit. Hehehe…” Ujar Alano yang agak malu malu tapi akhirnya mengaku juga.“Hahaha!”“Hehe! Ya, memang aku yang mengatur semua ini.” Ujar Alano sambil mengajak yang lain untuk cheers.“Terima kasih, Pak Al dan semua yang hadir di sini. Aku akan menerima semua bantuan kalian.” Ujar Felice.“Heah! [Menghela nafas] Aku sangat putus asa hingga tidak peduli untuk menyelamatkan wajahku. Kini aku punya dua pegawai yang harus kuberi makan. Aku terima tawaran kalian dengan senang hari dan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih banyak.” Ucap Felice dengan berlinang air mata penuh haru“Kamu pasti bisa, Nona Felice!” Ujar Diana.“Aku akan memasok kain terbaik. Tenang saja! kamu tinggal buat desain yang bagus untuk karya baru di brand pribadimu.” Ujar Budi.“Hubungi aku meski hanya untuk satu atau dua hal. Aku akan menjahitnya meskipun harus mengurangi waktu tidurku.” Ujar Selena.“Wahh!”“Astaga! Benarkah?” Ujar Felice.“Ya!” Balas Selena.“W
Pagi ini, Felice memulai harinya dengan mengecek semua hasil desainnya kemarin. Felice melihatnya satu persatu. Desainnya cukup unik tapi Felice merasa bingung bagaimana cara merealisasikan gambar ini di saat tidak ada orang yang mempercayainya.“Kamu membuat semua desain ini? Dalam sebulan?” Ujar Xavier.“Ya.” Balas Felice sembari tersenyum.Felice melirik ke sebelah kanannya sambil tersenyum senang. Felice merasakan Xavier membuka sketsa desainnya lembar demi lembar.“Wah!” Puji Xavier.“Bagaimana bisa kamu menyimpan semua ini?” Tanya Xavier sembari terus membuka lembaran pada buku itu.“Aku tidak tahu apakah aku sangat berbakat atau sedang penuh inspirasi. Aku merasa seperti Mozart.” Ujar Felice.“Apa kamu juga genius? Hehe!” Puji Xavier.“Hehe..” Felice tersenyum bahagia sambil merasakan Xavier membuka buk
“Tidak apa-apa. Ya, sampai jumpa.” Ujar Felice yang masih berusaha menghubungi rekan kerja lamanya.“Huftt!” Gumam Felice setelah mematikan teleponnya.“Tidak apa-apa. Aku bisa mencoba lagi.” Ucap Felice.Felice melakukan peregangan agar leher, bahu, punggung dan tangannya tidak kaku. Lalu Felice melihat dirinya di dalam cermin.“Apa aku tidak cukup merawat diriku?” Ujar Felice saat merasa wajahnya terlihat kusam dan ada beberapa kerutan di wajah yang cukup menganggu penampilannya.Felice mengambil minuman collagen dan vitamin booster. Lalu menyeduhnya dalam gelas. Kemudian dia minum sampai habis. Lalu kembali pada pekerjaannya.Ting nong [Suara bel]“Siapa itu?” Ujar Felice.Felice membukakan pintu untuk tamunya. Lalu kembali ke meja makan yang sedang Felice gunakan untuk bekerja.Berkas-berkas yang ada di atas meja itu mereka rapikan dan disis
Kegiatan Felice saat ini adalah disibukkan dengan kartu-kartu nama dan daftar list yang harus Felice hubungi untuk keperluan labelnya sendiri.“Halo, Pak Akbar, apa kabar? Aku akan meluncurkan labelku sendiri.”“Hai, ini Felice Chiara Farfalla. Ini tentang lini mini yang ku sebutkan sebelumnya.”“Kamu tidak sanggup lagi? Oh baiklah.”“Ah sayang sekali.” Ucap Felice saat mencoret beberapa daftar nama dalam listnya.***Drtt drttt [Suara telepon Manajer Umum Alano]Manajer Alano mengangkat telepon itu, “Halo.”“Halo, Pak Al. Ini Pak Belva.”“Ya, ada apa?” Ujar Manajer Alano.“Saya ingin tanya. Apa benar Nona Felice meluncurkan brandnya sendiri?” Ujar Budi.“Apa kamu memutuskan untuk bekerj
“Apa katamu?” Ujar Mama Yuri.“Aku berhenti bekerja.” Ujar Felice.“Kapan?” Tanya Mama Yuri.“Ini hari terakhirku.” Ujar Felice.“Kenapa kamu berhenti?” Tanya Mama Yuri.“Alasan yang sama dengan Mama.” Balas Felice.“Apa?”“Jika aku melihat kembali hidupku, itu tidak terlalu buruk. Ada saat-saat bahagia dan berharga, tapi aku ingin mulai melakukan apa yang selalu ingin kulakukan, tapi terlalu takut untuk mencobanya.” Ujar Felice“Maaf, aku tidak punya lagi posisi penting di perusahaan besar.” Ujar Felice sembari tersenyum.“Jangan konyol. Mama tidak pernah meminta hal seperti itu.” Ucap Mama Yuri.Mama Yuri mendekat pada Felice, memegang tangannya, “Kamu sudah bekerja dengan baik. Bekerja sangat keras selagi melakukan tugasmu sebagai anak kami. Kamu putri terbaik yang bisa diharapkan siapa pun.”“Mah! Masalahnya, aku tidak punya apa-apa sekarang. Belum ada yang diputuskan.” Ujar Felice.“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu jadi ceroboh begini?” Ujar Mama Yuri.“Benar, bukan Ma