LOGINBeatrice Pagett has always deeply loved Edward Maddock, even though they married by contract. After a year of passionless marriage, she decides to seek a divorce, longing for a life away from the pain of unrequited love with Edward. Edward realizes too late the grave mistake he made and decides to fight with determination. He wants to undo the past and win back Beatrice's love. He strives to regain her affection and rebuild the lost time. Now, the question is whether Beatrice will give a new chance to the man who rejected her. In this story of second chances, their fate is shaped by the desire to start anew and the caution that comes from the scars of the past.
View MoreSeorang pemuda tampan, sedang mengemudikan mobil sport nya dengan wajah muram.
Pemuda tersebut bernama Erfan. Erfan adalah seorang pemuda tampan berumur 25 tahun, yang berasal dari keluarga kaya nomor 1 di kota tersebut. Erfan seorang anak tunggal di keluarganya, hari ini Erfan diberi perintah oleh orang tuanya untuk mengurus perusahaan paling kecil milik orang tuanya yang berada di pedesaan, yang merupakan perusahaan pertanian. Walaupun Erfan sangat enggan tapi dia tidak bisa melawan orang tuanya, karena dia sadar pasti orang tuanya ingin dia lebih mandiri karena selama ini Erfan hanya tau bersenang senang. ==== Mobil Erfan sudah memasuki jalan pegunungan, yang keadaan jalannya tidak semulus di kota. "Ohh sial, mengapa jalan nya begitu bergelombang, bisa bisa mobil ku lecet!" Umpat Erfan, dia sangat kesal. "gruk gruk" Perut Erfan berbunyi, "Duh laper banget sih, gak bawa makanan lagi ." Erfan berkata sambil memegang perutnya. Erfan melihat warung dekat sekolah SMA yang cukup ramai Siswa SMA, karena kebetulan ini jam dimana anak SMA pulang sekolah. Mobil Erfan berhenti di warung tersebut, Semua Siswa SMA tersebut menatap mobil sport lamborgini dengan mata bersinar, seketika mereka menjadi heboh. "Lihat itu, mobil sport lamborghini, keren sekali ya? sumpah keren baget!" ucap pria muda, sambil menunjuk-nunjuk mobil itu. "Baru pertama kali, ada mobil sport datang ke daerah sini!" ucap temannya, sambil menatap mobil itu dengan tatapan berbinar. Erfan keluar dari dari mobil, lalu berjalan menuju ke warung dengan langkah santai. "Sangat tampan! Para artis pria itu tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan!" ucap salah satu siswa wanita, dengan tatapan berbunga-bunga. "Aku mau walau jadi simpanannya," ucap siswa wanita yang terlihat centil, matanya menatap Erfan dengan tatapan panas. Semua murid wanita mendengus, setelah mendengar perkataan wanita genit itu. Kedatangan Erfan ke warung tersebut, langsung di sapa hangat penjaga warung wanita dewasa, yang masih terlihat cantik. "Tuan muda," sapa penjaga warung wanita, dengan ramah. Penjaga warung wanita menebak Erfan bukan lah pemuda sembarangan. Erfan tersenyum sambil mengangguk sedikit, lalu dia berkata kepada penjaga warun. "Bi Saya mau makan, apakah disini jual makan atau mie instan?" tanya Erfan sambil tersenyum hangat. Erfan pemuda yang ramah tidak pernah memandang rendah orang lain, walau dia terkenal nakal di kota asalnya. "Kalo mie instan ada tuan muda, ingin rasa apa?" tanya penjaga warung wanita itu. "Rasa apa aja deh bi, 2 yah mie instan nya," ucap Erfan sambil memperlihatkan 2 jarinya. "Silahkan duduk di dalam tuan muda, diluar banyak siswa SMA!" ucap penjaga warung wanita itu, sambil membukakan pintu masuk ke dalam warung. "Baik bi," Erfan tidak sungkan, di langsung masuk kedalam warung. Di dalam warung, Erfan duduk di kursi sederhana. Dia mengeluarkan sebatang rokis, lalu menyalakannya. Penjaga warung wanita, memasak tidak jauh dari Erfan. Mata nakal Erfan menatap tubuh penjaga warung wanita itu, dengan tatapan tidak hati-hati. "Tidak kusangka ada wanita yang menggoda di desa seperti ini," gumam Erfan dalam hati, sambil tersenyum nakal. "Tuan muda, seperti anda bukan berasal dari sini yah?" tanya Penjaga Warung Wanita, sambil terus memasak mie. "Iyah bi, aku baru sampai di sini," jawab Erfan. "Ohh begitu, memang tujuan tuan muda mau kemana? " tanya Penjaga Warung Wanita tersebut. "Ke Desa Mawar Bi," jawab Erfan santai, matanya sambil memperhatikan pantat wanita dewasa itu. "Oh Desa Mawar," jawab Warung Wanita tersebut menjawab sambil mengangguk ngangguk. "Apakah masih jauh bi?" tanya Erfan. "Enggak kok, paling 2 kilometer lagi udah sampe!" jawab Penjaga Warung Tersebut. "Bagus kalo gitu, aku sudah sangat lelah," erfan berkata dengan malas. "Kalo boleh tau, ada tujuan apa tuan muda ke desa mawar?" tanya Penjaga Warung Wanita Tersebut, sambil memasukkan mie yang sudah matang kedalam mangkuk. "Aku di suruh orang tua, mengurus perusahaan pertanian buah buahan yang ada di desa mawar," Erfan menjawab jujur. Deg Penjaga Warung Wanita tersebut terkejut, "Ternyata tuan muda pemilik perusahaan pertanian di desa mawar?" ucap Penjaga Warung Tersebut, sambil meletakkan mangkuk mie di depan Erfan. "Iyah bi, walau yah aku sedikit enggan!" ucap Erfan berkata tanpa daya . "Bibi jamin deh kalo tuan muda sudah ke desa mawar pasti betah," ucap Penjaga Warung Wanita itu. Erfan bingung dengan perkataan wanita dewasa itu, "Eh nanti, jika tuan muda santai main kesini yah, sesekali makan mie atau ngopi!" ucap Penjaga Warung Wanita itu dengan suara menggoda. "Oke bi, siapa nama bibi?" tanya Erfan santai. "Nama Bibi Ayu." ucap Penjaga Warung Wanita itu .  "Oke Bi Ayu, aku mengingatnya!" Erfan menjawab sambil mengangguk ngangguk, mulutnya di penuhi makanan. Wanita Dewasa Bernama Ayu itu menatap Erfan dengan tatapan aneh, sebuah pemikiran nakal muncul di kepalanya. Beberapa menit, Erfan pun menyelesaikan makan mienya. Dia langsung bangkit berdiri, ingin segera melanjutkan perjalanannya. "Bi Ayu ini aku membayar!" Erfan mengeluarkan uang 100 rb . Bi Ayu yang sedang melayani pembeli pun, buru-buru menghampiri Erfan. "Tunggu tuan muda, saya akan mengambil kembalian!" ucap Bi Ayu. "Tidak perlu Bi, buat Bi Ayu saja," jawab Erfan sambil tersenyum. "Beneran tuan muda?" tanya Bi Ayu senang. Erfan mengangguk, "Hehe, kalo tuan muda jajan di warung bibi setiap hari, bibi akan cepat kaya," ucap Bi Ayu, sambil terkekeh. Erfan tertawa, "Hahaha, nanti kalo santai aku main ke sini bi. warung ini tutup sampai jam berapa?" tanya Erfan "Sampai jam 8 malam tuan muda," jawab Bi Ayu sambil menatap Erfan dengan tatapan genit. "Oke, kalo gitu aku pamit dulu!" Erfan berkata, lalu keluar dari warung Bi Ayu. Saat Erfan berjalan menuju mobil, dia melihat banyak siswa yang memfoto mobil ya. Erfan hanya tersenyum, dia tidak marah sama sekali. "Hey awas! yang punya nya datang tuh," ucap Siswa pria, dia mengingatkan, para siswa lainnya yang sedang memfoto di depan mobil Erfan. "Semua nya permisi yah, saya mau lanjut perjalanan lagi," Erfan berkata dengan ramah. "Sialahkan Kak," ucap para siswa itu, sambil tersenyum sedikit malu. Erfan mengangguk sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil Lamborghini melaju pelan pelan meninggalkan tempat tersebut, di bawah tatapan kagum para siswa SMA. Beberapa menit kemudian, Erfan melihat tugu bertuliskan "Desa Mawar" "Huh, akhirnya sampai," Erfan berkata dengan lega. Mobil Erfan masuk kedalam jalan yang lumayan lebar tapi agak jelek. Mobil Erfan melaju dengan pelan. Saat penduduk desa melihat kedatangan mobil Erfan mereka berbisik-bisik entah apa yang mereka bisikan. Mata Erfan bersinar, saat melihat keadaan penduduk desa. Erfan melihat banyak sekali wanita cantik berlalu lalang di sana. "Sial, apakah ini yang di maksud Bi Ayu?" Erfan berkata dengan penuh semangat. "Kalo gini, aku bisa betah, hahaha," Erfan tertawa. Erfan menghentikan mobilnya, saat melihat banyak ibu-ibu yang sedang berkumpul. Dia ingin menanyakan letak perusahaan milik keluarganya itu. Para Wanita Dewasa itu melirik ke mobil Erfan dengan penasaran, Karena mereka baru pertama kali melihat mobil sebagus itu. Erfan turun dari mobilnya, lalu menghampiri ibu-ibu itu. "Bibi permisi saya mau tanya, Perusahaan Pertanian Nusantara dimana yah?" Tanya Erfan dengan sopan. "Tuan muda lurus saja, nanti di sebelah kiri ada gedung yang sangat besar, di situlah tempatnya tuan muda," jawab Salah Satu Wanita Dewasa dengan cepat. "Oh, baik terimakasih," Erfan berkata lalu kembali kedalam mobil. Mobil Erfan kembali melaju, mengikutinya arah yang di tunjukkan ibu tadi. Tidak lama, Erfan pun sampai di depan Perusahaan Pertanian Nusantara. Erfan menelepon seseorang, Telepon tersambung, "Halo, apakah ini tuan muda?" terdengar suara wanita di seberang telepon. "Benar ini saya, saya sudah berada di depan perusahaan," ucap Erfan . "Baik tuan muda, saya akan ke depan," ucap Wanita di seberang telepon, terdengar dia sangatlah terburu buru. Tidak lama seorang wanita berumur 30 tahun, dengan wajah cantik, dan mempunyai tubuh tinggi yang menggoda, ukuran dada yang sangat besar, menghampiri mobil Erfan. Erfan keluar dari mobil, "Tuan muda," sapa Wanita tersebut, sambil sedikit membungkuk. "Apakah anda pengurus perusahaan?" tanya Erfan, sambil menatap wanita itu. "Benar tuan muda, nama saya Anne," jawab Wanita tersebut.  "Oke Nona Anne, antar saya ke tempat tinggal dulu! saya ingin istirahat dulu, cukup melelahkan di jalan!" ucap Erfan dengan nada lesu. "Baik mari," ucap Anne. Mereka pun masuk kedalam mobil Erfan, Di sepanjang jalan, Anne mencuri curi pandang kepada Erfan yang sedang menyetir. "Kalo aku belum punya suami, mungkin aku akan berusaha mendekati nya!" gumam Anne, di dalam hatinya. "Nona Anne, untuk kedepannya anda akan menjadi sekretaris ku, apakah anda keberatan?" Tanya Erfan . "Tentu saja tidak tuan muda," jawab Anne, dia tampak bersemangat, saat mendengar penawaran Erfan. "Bagus, gaji mu akan aku naikkan 2 kali lipat," ucap Erfan santai. Anne terkejut, perlahan ekspresi wajahnya berubah tampak bersemangat. "Terimakasih tuan muda," ucap Anne, dengan nada bahagia. Tidak lama, Mereka sampai di sebuah Vila. Vila tersebut, memiliki gaya arsitektur klasik yang membuat suasa di sana terasa nyaman dan tenang. Erfan memandang vila tersebut, dengan tatapan penuh kepuasan. "Hey cukup bagus juga," ucap Erfan, setelah turun dari mobil. Anne dan Erfan pun masuk kedalam Vila. Di dalam vila, Erfan menengok ke kanan dan ke kiri, ekspresi wajahnya penuh kepuasan. Erfan melirik Anne yang ada di sampingnya, lalu dia menanyakan sesuatu. "Nona Anne, apakah tidak ada pengurus vila?" tanya Erfan. "Belum ada tuan muda, tapi tenang saja saya sudah mencarikan pengurus vila, dia akan ke sini sebentar lagi," jawab Anne. "Oke bagus," balas Erfan. "Kalo gitu, saya pergi dulu ada yang harus saya kerjakan," ucap Anne, sambil tersenyum, dan tubuhnya sedikit membungkuk. "Baik, apakah perlu di antar, cukup jauh ke perusahaan?" tanya Erfan. "Tidak perlu tuan muda, saya mau mampir ke rumah pengurus vila sebentar, untuk memberi tahunya!" ucap Anne. Erfan mengangguk sambil tersenyum. Anne pun pergi dari vila.BeatriceLittle Avery came into the world a few months later, full of health and energy, captivating everyone with her charming smile and sweet temperament. Edward, who had already proven to be a responsible and present father to Timothy, repeated the same loving commitment to Avery. He continued to be the man I always wished for by my side, and his dedication only confirmed that the disappointments of the past were definitively overcome.Our routine was cozy, and seeing our children grow up happy and content filled my heart with joy and fulfillment. Through ups and downs, we remained united, building a lovely and happy family.Two Years LaterBeatriceAfter more than six years of official marriage, Edward decided to sur
AndrewAccepting the invitation to dinner at Beatrice and Edward's house was a sudden decision. I felt hesitant, but at the same time, intrigued by the opportunity to rekindle the friendship that had been shaken by emotional issues.Talking extensively with Beatrice in the preceding days brought much-needed clarity. I realized that the weight of trying to win the love of a woman still in love with her ex-husband was a mistake. The friendship with Beatrice, after all, was much more valuable than any unrequited romantic desire.Upon arriving at Beatrice and Maddock's house, I noticed the presence of Abigail, Edward's sister. An inexplicable nervousness seized me, arousing my curiosity. We exchanged glances, and a subtle tension hung between us, something I admit I did not overlook.
BeatriceWe conversed animatedly during dinner, reminiscing about stories and sharing laughter. I looked at my husband, that beautiful man now entirely dedicated to my needs, reflecting on how much our lives had changed since the day I left that house, determined to forget a year of rejection I lived with Edward and pretend that I no longer loved him when in reality, my love for him only grew each day."While Timothy is almost a young man, Archie is just a baby, and Beatrice is pregnant, soon she'll also have her baby in her arms," Sebastian commented suggestively, looking at Elizabeth, and we all eagerly awaited to hear what he would say next, with smiles of anticipation on our faces. "I also want to have a baby, my love."He didn't disappoint us. We all found what he said very funny, and Elizabeth tu
BeatriceToday I woke up with uncontained joy in my heart. As I got ready for work, I found myself smiling at the mirror, my hands gently caressing the slight swell of my belly. I was radiant, feeling a deep connection with the little being growing inside me.Upon arriving at the office, I was greeted with warm wishes from colleagues and friends. Everyone noticed my good mood, and I couldn't help but share the news of my pregnancy with them. Each smile and congratulations made my day even more special.I was heading back to my office after a meeting when I nearly bumped into Andrew. I hadn't seen him in weeks. The way he had exited my life had left me hurt and confused. However, upon seeing him again, I felt a strange calm in his presence."Hello, Beatrice,
BeatriceTo my complete horror, Edward wasn't alone in the room, and the scene before me was, in fact, highly compromising. I was speechless, as I didn't expect to find Louise Orleans in my husband's office.
EdwardI left home that morning with a wonderful sense of peace and well-being after a family breakfast. Timothy was also radiant."Tell me more about your mother
BeatriceTimothy was ecstatic about the idea of moving to Edward's mansion, which only strengthened my confidence in the decision. Edward invited us to visit the house the next day, keeping the reason for the visit a secret, whic
BeatriceDespite everything that had happened between us, my heart insisted that I should trust Edward. I decided to trust him in the same way he trusted me. And so, with the security of his love and confidence in his loyalty, I shared about my pregnancy. His happiness was so evident that there was n












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews