Langkah Daren berderap cepat, kaki panjangnya dengan mudah mempersingkat waktu hingga mereka sudah tiba di depan hotel. "Lepaskan dia!" Kairos ternyata ikut menyusul. Dia tidak akan membiarkan Daren membawa Keona. Ada momen dimana Kairos terkejut saat mengetahui Keona dan sepupunya itu saling kenal, bahkan sudah menjalin kasih. Nanti, dia akan minta penjelasan pada Keona, tapi yang terpenting sekarang adalah menghentikan niat Daren membawa Keona dari tempat itu. "Wow, lihat siapa yang datang? Cucu kesayangan kakek? Si anak aneh, introvert?" ejek Daren dengan santai. Tubuh mereka menjulang tinggi dengan Keona berada di tengah-tengah mereka. "Tutup mulutmu!" umpat Kairos kehilangan kendali, segera melepaskan satu pukulan keras ke wajar Daren dan berhasil memecah sudut bibirnya hingga mengeluarkan tetes darah segar. "Brengsek!" balas Daren ingin membalas. Sigap Kairos menarik Keona agar berlindung di belakangnya, jangan sampai pukulan Daren ikut melukai gadis itu. Suasana se
Pertanyaan Kairos sontak membuat tangan Keona segera menutupi lehernya. Dia lupa mengancing bagian atas kerah kemejanya hingga Kairos melihat kalung ibunya. "Jawab aku!" salak Kairos menuntut jawaban. Dia tidak salah lihat, itu kalung yang dia temukan di kamar hotel dan di klaim Winda sebagai miliknya. Kalung itu jadi satu-satunya alasan Kairos bertunangan dengan Winda. Kini melihat benda itu melingkar di leher Keona, membuat keraguan Kairos akan pengakuan Winda semakin besar. "Berhenti membentaknya. Kau tidak lihat wajahnya jadi pucat?" potong Daren yang melihat riak wajah Keona seperti ketakutan. "Tutup mulutmu! Ini urusanku dengan dia!" Kairos membentak Daren. Kata sabar sudah sangat jauh meninggalkannya sejak hubungan dengan Keona berantakan setelah malam utang tahun Candra. "Ini menjadi urusanku sekarang, karena aku menyukainya." "Apa?" bentak Kairos melotot pada Daren lalu setelah beberapa detik mengalihkan pandangan pada Keona, menuntut penjelasan pada pernyataan p
"Kau mau kemana?" Candra menghalangi langkah Kairos. Pria itu terbangun mendengar keributan dan bergegas keluar dari kamarnya. Awalnya dia pikir Kairos bertengkar lagi dengan Daren tapi ternyata hanya ada Kairo yang ada di sana dan bersiap pergi. "Aku akan kembali ke Amerika!" "Ke Amerika? Kenapa? Apa karena kakek memberikan kesempatan pada Daren untuk berkompetisi bersama mu?" tebak Candra. Hanya itu alasan yang masuk akal. "Kek, sebelum kakek memintaku kembali ke sini, kakek tahu sendiri kalau aku dan sahabatku punya usaha di sana. Saat ini, perusahaan ku membutuhkan bantuan jadi, aku harus berangkat ke sana," terang Kairos berbohong. Dia terlalu malu memberi alasan patah hati yang menjadi penyebab kepergiannya. "Tapi mengapa tiba-tiba? Kakek masih membutuhkan mu. Greenland berkembang setelah kamu pimpin." Candra masih berusaha menghentikan niat Kairos. "Maaf, Kek. Aku harus tetap pergi." Kamu nggak bisa pergi. Kek, tolong hentikan niat Kairos, Kek. Jangan biarkan dia p
Kalau Keona merasa dia akan hidup tenang setelah kepergian Kairos, maka dia salah besar. Justru hidupnya kini semakin menyedihkan. Hampa dan kosong. Benar kata orang, setelah kehilangan, barulah menyadari betapa berati orang itu. Tidak ada lagi gairah hidup Keona. Perlakuan kejam Ratna dan Winda juga tidak mampu menyakitinya lebih dalam lagi. Keona sempat terkejut saat mendengar Winda berteriak histeris mengatakan kalau Kairos sudah membatalkan pertunangan mereka. Pun dengan Ratna dan Bram. Ratna tidak terima pemutusan sepihak ini dan meminta Winda agar pergi protes pada keluarga Mahesa. Namun, setelah Winda menceritakan alasan Kairos, tubuh Ratna bergetar hebat dan pada akhirnya jatuh terduduk di kursi. Malam itu, Keona dimaki bahkan ditampar oleh Ratna tepat di depan Bram, tapi pria itu tidak mengatakan apapun demi membela anaknya "Brengsek! Ternyata ini semua ulahmu. Kau busuk, sengaja menghancurkan kebahagiaan kakakmu." Ratna melampiaskan rasa kesalnya pada Keona. Hancur
"Kenapa baru sampai? Tadi dicari pak Deni, tapi hanya sekali. Setelahnya dia nggak mencarimu lagi, sih," terang Lili penasaran. Keona bisanya tidak pernah terlambat begitu lama seperti ini. Keona meletakkan tas di atas meja kerja lalu menarik kursinya dan menikmati keempukan kursi itu. "Aku sudah izin, ada keperluan sedikit tadi," jawab Keona singkat. Lili mengangguk lalu menggeser kursinya kembali ke depan komputernya. Tubuhnya masih sakit. Dan kini, dalam benaknya masih terngiang-ngiang pembicaraannya dengan Candra di kantin tadi. "Jawab Keona, apa kamu bersaudara dengan Winda?" Rasanya tidak ada jalan lain selain mengaku. Perlahan dan sedikit takut, Keona mengangguk. Candra terlihat mengatur napas. Diam sesaat baru melanjutkan ucapnya. "Mengapa selama ini kamu tidak pernah bilang? Lantas, dimana kamu saat acara pertunangan itu?" cecar Candra penasaran. "Maaf, Kek. Waktu itu aku lagi di rumah teman." Keona memilih untuk tidak membuka semua kebenarannya. Bagaimanapu
"Pak Daren," sentak Keona tidak menyangka kalau hal penting yang ingin disampaikan Daren pada ayahnya justru melamar dirinya. Terkejut dan kehilangan kata-kata. "Kamu serius?" tanya Bram menatap tajam pada Daren. Harusnya masalah seperti ini tidak bisa diucapkan sembarangan dan tiba-tiba. Tadi Keona hanya izin keluar bersama Daren, mengapa sekarang justru melamar putrinya? "Saya serius, Pak." "Pak Daren, saya mohon jangan bercanda." Ratna merasa kalau ini waktu yang tepat untuk membalas dendam. Jika Winda tidak bisa memiliki suami yang kaya raya maka Keona pun tidak boleh. Terlebih, Daren dan Kairos itu saudara sepupu. "Pembicara ini tidak bisa dilanjutkan sekarang. Kalian pergi saja kalau mau jalan. Nanti kalau mau bahas hal penting seperti ini, paling tidak berkabar beberapa hari sebelumnya," tandas Ratna memberi sinyal pada Bram agar mendukung ucapannya. "Apa yang dikatakan istri saya benar. Kami harus rapat keluarga terlebih dulu." Daren paham kalau lamaran ini terla
"Kegilaan apa yang telah kau lakukan?" bentak Candra dengan kepala mendidih. Pegangan tongkatnya diremas sedemikian kuat sebagai lampiaskan amarahnya. Daren diadili di depan keluarga sebelum besok dibawa pada rapat dewan direksi. Perusahaan yang selama ini dibangun Candra goyang hanya karena satu tindakan Daren yang gegabah. Dia menyesali perbuatannya. Tapi apa hendak mau dikata lagi, nasi sudah jadi bubur. Orang yang menawarkan kerja sama juga sudah kabur dan perusahaan yang diperkenalkan pun ternyata fiktif belaka. Hanya karena modal percaya pada sahabat, Daren terjerumus dalam masalah besar. "Ayah, jangan marah lagi, ingat kesehatan ayah," celetuk Atika, ibunda Daren. Wanita itu selalu menjadi garda terdepan untuk Daren. Sangat ambisius, dan menginginkan anaknya yang menjadi pewaris tunggal. Bukan tanpa usaha Atika coba menyingkirkan Kairos yang menurutnya tidak jelas asal usulnya. Menganggap jauh lebih pantas anaknya yang menjadi pemimpin. Hanya saja usaha Atika mulai d
Keona menentang keras rencana Candra. Dia tidak ingin berbohong dan terlibat dalam urusan keluarga Mahesa, bukan tidak peduli, tapi bukan kapasitasnya. Belum lagi harus berbohong pada Kairos soal kesehatan Candra. Kalau sampai Kairos tahu dia bisa marah besar pada Keona dan semakin membencinya. "Lagi pula, aku juga tidak tahu nomor teleponnya, Kek," tukas Keona jadi tidak enak hati. "Jadi bagaimana ini?" tanya Candra terduduk lemas. Dia pikir Keona bisa menjembatani mereka. Pria tua itu sudah coba menghubungi Gen, tapi nomor pria itu tidak lagi aktif. Tampaknya Candra menemui jalan buntu. Candra pun pamit pulang dengan kegagalan. Keona mengantar hingga pintu mobil pemilik perusahaan itu, terus melihat hingga mobil mewah tidak lagi terlihat. Wajah Candra terlihat sangat sedih, tubuhnya juga terlihat semakin kurus. Beban Candra saat ini sangat berat. Untuk datang ke perusahaan sendiri pun dia harus curi-curi waktu, melihat situasi jangan sampai ada wartawan melihatnya. Berita
Pada akhirnya Keona memutuskan untuk memberi maaf dan kesempatan bagi kairos. bagaimanapun semua orang punya kesalahan kairos bersumpah dia tidak akan pernah lagi menyembunyikan apapun dari Keona. Meski tidak mudah percaya 100% pada Kairos, keona tetap memperlakukan Kairo selayaknya suaminya menghargai pria itu dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Lambat laun suasana mulai mencair kairos menunjukkan perubahannya dia mulai memberikan waktu untuk membahagiakan Keona. kairos bahkan membawa keona ke beberapa tempat di Eropa sebagai bukti dari janjinya mengganti bulan madu mereka yang sempat gagal. Kairos pun akhirnya menceritakan alasannya mengajak keona segera pulang dari Bali karena tidak ingin Alena mengganggu mereka terlebih menemui keona dan mengatakan hal yang tidak benar. "Alena memang wanita yang pernah aku cintai dan aku tidak memungkirinya namun ternyata dia tidak pantas untuk kucintai karena dengan tega berkhianat pengkhianatan yang pertama sudah aku maafk
"Sayang, kau sedang apa?"kairos mendekati keona. gadis itu sedang duduk di depan TV tapi dengan tatapan kosong "Kau sudah pulang seperti yang kau lihat Aku sedang menonton televisi. Apa ada yang aneh?" tanya Keona ketus. Kalau Kairos pikir akan mendapati istrinya menangis di rumah maka dia salah keona sudah terlalu lelah untuk menangisi kejadian buruk yang terjadi dalam hidupmu kini dia sudah kebal. "Keona, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." "Silakan." Keona mengambil sikap tegak. Kalau dipermukaan di terlihat tenang, maka di dalam sudah hancur. "Tentang Alena-" "Alena? Mmm... " Keona tampak berpikir lalu mulutnya terbuka, ekspresi orang yang lupa lantas beberapa kemudian ingat kembali. Kairos mempelajari mimik wajah Keona, mengukur seberapa besar amarah gadis itu padanya. akting keona tentu saja bisa dibaca oleh kairos dia tahu gadis itu pura-pura lupa sosok Alena sebagai tamparan untuknya karena sudah menyembunyikan cerita ini darinya. "aku tahu Kau pasti sanga
"Puas kau sekarang?" Bentak Kairos penuh emosi. Dia masih memandangi pintu yang baru saja ditutup oleh Keona. Seujung kuku pun dia tidak menyangka kalau istrinya itu akan mendatangi kantornya ini. Mungkin saja ini sudah kehendak semesta, menunjukkan kepada Keona bahwa dia kembali berkomunikasi dengan Alena. Dia menyesal karena sudah mau menerima gadis itu, kini rumah tangganya berantakan. Pasti Keona sangat marah padanya. Kairos jadi ingat dua minggu yang lalu Alena tiba-tiba saja muncul di depannya, entah dari mana wanita itu tahu perusahaan Blessing ini adalah miliknya. Dia datang memaksa untuk bertemu hingga akhirnya Kairos mengizinkannya masuk. "Apa tujuanmu ke sini? Kalau aku jadi kau, aku tidak akan pernah berani menunjukkan batang hidungku di hadapan Kairos Mahesa!" umpat Kairos ketika sudah berada di satu ruangan dengan Alena. Daripada wanita itu buat ribut, akhirnya mengizinkan Alena masuk,.itu pun demi menghindari rumor yang beredar. Dia tidak mau ada orang yang menya
Keona ingin pembuktian. Dia tidak ingin Lili memfitnah suaminya tanpa ada bukti. Akhirnya Lili membawanya ke sebuah rumah. "Aku mengikuti gadis yang bersama Kairos dan inilah tempat tinggalnya. Keona masih mengamati rumah itu. Dia diam seribu bahasa. Kalau kemarin hanya dia yang melihat kebersamaan Kairos dan Alena kini bertambah satu dengan Lili. "Apakah kau yakin Lili?" tanya Keona datar. "Aku sangat yakin, bahkan Arlan juga melihatnya. Hanya saja dia mengatakan bahwa aku sebaiknya tidak ikut campur dan tidak usah memberitahumu. Menurutku, aku tidak bisa diam. Kau sahabatku, tentu saja aku berpihak padamu," jawab Lili merasa kasihan pada Keona. Pernikahan mereka masih seumur jagung, tapi harus sudah kandas karena orang ketiga. Tapi dia berjanji seburuk apapun keadaan Keona, apapun yang terjadi menimpa sahabatnya itu dia akan selalu berada di garda terdepan membela dan melindungi Keona. "Terima kasih Lili mungkin aku harus jujur padamu." Keona pun menceritakan tentang p
Besoknya saat Kairos pulang, Keona tidak lagi menyambutnya dengan seantusias sebelumnya. Bayangan Kairos yang jalan bersama Alena di mall masih membekas dalam benaknya. "Aku membawakan oleh-oleh untukmu." "Terima kasih," jawab Keona seadanya. Kairos memandangi istrinya, lagi-lagi wanita itu terlihat tidak bersahabat bahkan bisa dibilang tidak senang dengan kepulangannya tapi Kairos terlalu lelah untuk berdebat jadi dia memilih untuk mengecup puncak kepala Keona dan naik ke atas untuk membersihkan diri. "Bu, hanya sekedar saran sebaiknya kalau suami baru pulang dari luar kota disambut dengan gembira, penuh senyum jangan cemberut. Mungkin bapak sudah lelah, capek pulang bekerja. Nanti kalau ibu terus menyambut bapak dengan wajah cemberut, bisa-bisa bapak bosan dan malas pulang ke rumah. Bibi hanya sekedar mengingatkan karena bibi sudah menganggap Bu Keona seperti anak sendiri. Zaman sekarang ini banyak wanita yang sudi menggantikan tempat istri sah," nasihat Bi Darsih panjang lebar.
Keona terbangun di tengah malam. Mimpinya sangat buruk. Napasnya masih setengah-setengah bangun terbangun dari tidurnya. Rasanya seperti nyata. Keona pun memanjatkan doa agar mimpi buruknya hanyalah sebatas mimpi. Setelah mencuci muka Keona tidak bisa tertidur lagi. Pandangannya terus tertuju pada foto pernikahan mereka yang digantung di dinding. Meskipun tidak ingin mengingat kembali mimpi buruk itu tapi Keona tidak bisa untuk mengabaikan kegelisahan hatinya. Mimpinya sangat buruk. Dia melihat Kairos bermesraan dengan Alena. Awalnya hanya ada Alena dalam mimpinya wanita itu tengah berbincang dengan seorang pria semakin lama ketika memperhatikan dan Alena melihat dirinya keduanya menoleh ke arah Keona. Saat itulah Keona bisa melihat wajah pria yang tengah bicara dengan Alena adalah suaminya. Dalam mimpi itu Alena dan Kairos mentertawakan kebodohannya yang selama ini tidak menyadari hubungan terlarang yang ada di antara mereka. Keona menangis memohon kepada Kairos agar kemba
"Kamu sudah pulang? Katanya sebulan, kenapa hanya seminggu?" Berbagai pertanyaan datang menyerbu Keona. Lili dan Hani saling bergantian melempar pertanyaan, memuaskan rasa penasaran mereka padahal ini belum jam istirahat. "Kairos ada kerjaan tiba-tiba yang sangat penting, jadi kami terpaksa pulang," jawab Keona yang diikuti anggukan dari kedua temannya. Kemudian Keona membagikan souvernir yang dia bawa, hampir semua orang di ruangan mereka mendapatkan hadiah, termasuk Deni. Pria itu sedikit lebih kaku bila berbicara dengan Keona. Terlihat segan dan minder karena kini Keona bukan sekedar karyawan biasa saja lagi, tapi juga bisa dibilang bos kedua di Greenland. "Lalu, bagaimana hubungan mu dengan Arlan?" "Mmm ... Ternyata dia lebih pemain darimu," sambar Hani menarik tangan Lili dan menunjuk cincin yang melingkar di jari manis gadis itu. "Oh, my God, selamat sayang," pekik Keona berdiri memeluk Lili penuh gembira. Dia ikut senang sahabatnya itu akhirnya mendapatkan kebahagiaan
Pengamatan Kairos cukup tajam. Dia mengamati layar ponselnya, nomor baru yang tidak dia kenal. Pria itu melirik ke arah Keona, gadis itu masih memperhatikannya hingga membuatnya gugup. Dia memang tidak tahu pasti siapa pemilik nomor itu dan tujuannya menghubunginya tapi firasatnya mengatakan kalau si penelpon adalah Alena. Entah mengapa dia yakin akan hal itu, terlebih gambar gelang pada foto profilnya. "Ini pasti orang salah sambung. Sudahlah, kembalilah tidur," ucap Kairos menyimpan ponsel ke dalam saku. Meski tidak mengatakan apapun Keona menangkap sinyal aneh dari sikap Kairos. Ada yang pria itu sembunyikan. Kenapa Keona jadi kepikiran? Perasaannya juga jadi sedih. Bukan tidak pernah dia mengatakan kalau badai pasti selalu datang menerjang dalam rumah tangga. Tergantung bagaimana kita menyikapinya demi menyelamatkan ruang tangga itu. Tapi ini terlalu cepat bagi Keona. Mereka baru menikah tiga hari dan kini sudah dihadapkan dengan batu karang yang coba menghantam perahu
Siang hari waktu Indonesia bagian barat, Keona dan Kairos tiba di Jakarta. Kedatangan mereka disambut oleh Gen yang datang khusus menjemput. Tidak ada satu orang pun yang tahu akan kepulangan mereka. Itu sudah jadi perintah Kairos. "Welcome home, bos, nyonya bos," sapa Gen penuh semangat. jadi nggak selama dua hari membuat Gen merasa kesepian. Biasanya Kairos sering mengomelinya, kini setelah menikah bosnya itu pasti akan sibuk dengan istrinya dan mengabaikan kehadirannya. "Apa kabar, Pak Gen. Jangan panggil aku nyonya bos. Keona saja," balas Keona mengulurkan tangan menjabat Gen. "Kau juga jangan memanggilnya Pak Gen. Hanya Gen!" perintah Kairos melirik pada Gen."Baiklah, Keona. Silakan." Gen membukakan pintu bagi mereka berdua dan segera melesat sana.Gen tahu menempatkan sendiri makanya dia tidak membahas mengenai Alena dan informasi apa saja yang sudah dia dapatkan. Jangan sampai penyelidikannya membuat Keona merasa curiga yang berujung pada pertengkaran suami istri itu. Keon