Terlihat Melati dan Sintia sedang bersiap-siap untuk pergi keluar. "Kalian mau pergi kemana?" tanya Bu Ratih dengan sedikit sinis. "Kami berdua mau pergi ke mall mah, kami mau membeli beberapa barang yang akan di butuhkan untuk 7 bulanan Sintia nanti!" sahut Melati."Oh begitu yah, tapi kalian berdua kan bisa memesannya lewat online saja tanpa harus pergi langsung untuk membelinya!" "Iyah mama memang benar sekali, tapi kalau kita membeli secara langsung otomatis kita tahu kualitas barang yang akan kita beli itu mah. Kalau beli online gambar sama aslinya itu belum tentu sama!""Ya sudah kalau memang mau kalian seperti itu, tapi ingat yah kalian berdua jangan pulang terlalu sore. Dan untuk kamu Sintia, tolong jaga kehamilan kamu itu, jangan sampai karena hal ini kamu nanti kelelahan!" "Iyah mah, aku juga akan paham kok mah. Aku pasti akan jaga kehamilan aku ini!" sahut Sintia. "Ya sudah ayo kalian cepat pergi sekarang biar nanti pulangnya tidak terlambat!" pinta wanita paruh baya i
Setelah di rasa tenang, Radit pun mulai berani bertanya pada Devan. "Lalu apa yang akan Lo lakuin sekarang?" tanya Radit. "Gue gak bisa diem saja kayak gini, gue harus ngomong sama Rifaldi sekarang juga!" sahut pria itu dengan sangat emosi. "Tapi sepertinya Rifaldi gak ada di kantor deh, tadi gue liat dia kayak buru-buru pergi gitu!" "Kapan Lo liat dia pergi?" tanya Devan. "Pas gue mau kesini, gak sengaja gue lihat dia pergi lagi!" sahut Radit.."Gue akan cari dia sampai ketemu!" ujar Devan yang langsung bergegas pergi. "Makasih yah mba, karena mba Melati udah mau nemenin aku belanja!" sahut Sintia. "Sama-sama Sintia..!""Sebelum pulang gimana kalau kita mampir ke restoran yang ada disana mba, aku laper banget soalnya!" ajak Sintia. "Boleh, kebetulan aku juga laper banget. Ini juga masih siang kok jadi kita masih ada waktu buat makan!" "Ya sudah kalau gitu ayoh mba!" Baru saja akan melangkahkan kakinya, secara tidak sengaja mereka bertemu dengan Sheril disana. "Haii...!" sa
"Devan, kamu sudah sampai nak!" ujar Oma Laksmi menyapanya dengan ramah. "Dimana Rifaldi?" tanya pria itu dengan nada yang sedikit emosi."Rifaldi baru saja pergi ke kamarnya, ada apa sebenarnya? kenapa kamu seperti sedang marah?" Tanpa menghiraukan ucapan dari orang lain pria itu pun langsung berlari ke kamarnya Rifaldi."Ada apa ini pah? ada apa dengan Devan? kenapa dia seperti sedang marah sekali!" ujar Bu Ranti yang mulai merasa khawatir."Papa juga tidak tahu mah, lebih baik kita samperin mereka berdua. Takutnya nanti ada sesuatu yang terjadi di luar dugaan kita!" ajak pria paruh baya itu. "Iyah kamu benar, ayoh kita kesana sekarang!" sahut Oma Laksmi.."Rifaldi buka...!" teriak Devan dari luar sambil mengetuk pintu kamar milik Rifaldi beberapa kali."Kak Devan, sebenarnya ada apa dia mencari aku!" ujar Rifaldi dari dalam kamarnya.Pria itu pun mulai berjalan dan membuka pintu kamarnya itu agar kakak nya bisa masuk. "Ada apa kak?" tanya pria itu. Karena emosi yang sudah tida
"Rifaldi, coba jelaskan semua ini pada kami!" pinta Oma Laksmi dengan tatapan yang penuh rasa kecewa.Rifaldi hanya terdiam saja tanpa bisa berkata apa-apa lagi, dia bingung harus memulai dari mana. "Rifaldi, cepat katakan. Kenapa kamu tega mengkhianati kakak kamu sendiri!" teriak pak Hardi yang sudah mulai emosi. "Aku tidak mengkhianati siapapun disini pah, aku hanya ingin mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku. Melati adalah kekasihku dan akan tetap seperti itu, aku hanya ingin mengambil apa yang sudah menjadi milikku yang di rebut oleh kak Devan!" ungkap pria itu. Satu tamparan keras pun melayang, untuk pertama kalinya juga Pak Hardi memukul putranya atas kesalahan yang menurutnya begitu fatal. "Papah!" ujar Bu Ranti tak terima. "Papa tidak pernah menyangka kalau kamu akan melakukan hal sebodoh ini Rifaldi, kenapa kamu harus melakukan hal yang tidak perlu kamu lakukan. Papa pikir kamu sudah bisa menerima rumah tangga kamu dengan Sintia, apa kamu tidak merasa kasian pa
"Sintia apa yang kamu katakan nak, kamu tidak akan pergi kemana-mana!" ujar Oma Laksmi. "Tidak Oma, aku harus pergi. Karena untuk apa aku berada disini sedangkan suami aku saja tidak menginginkan kehadiran aku!" sahut gadis itu sambil menangis. "Jangan bicara seperti itu sayang, Oma mohon sama kamu agar tetap tinggal disini. Disini kita semua sayang sama kamu Sintia, Oma akan merasa kehilangan kalau kamu meninggalkan Oma!" "Iyah Sintia, rumah kamu ada disini. Kamu mau pulang kemana?" ujar Pak Hardi. "Ini bukan lagi rumah aku pah, aku akan pulang ke rumah orang tua aku dan membesarkan anak aku bersama mereka!" sahut Sintia. "Tolong jangan lakukan itu Sintia, nanti apa kata orang tua kamu kalau kamu pulang secara tiba-tiba. Mereka akan semakin khawatir nak, Oma mohon sama kamu demi Oma kamu harus tetap tinggal disini dan jangan pergi kemana-mana!" "Untuk apa lagi Oma, Suami aku saja ingin berusaha menyingkirkan aku dan tidak menginginkan aku juga bayi nya. Untuk apa aku harus bert
Setelah Sintia pergi semua orang pun berkumpul di ruang tamu kecuali Rifaldi yang memang tidak ada disana karena dia pergi entah kemana. "Dimana Rifaldi?" tanya Oma Laksmi.."Dia tidak ada di rumah ibu, sepertinya dia pergi!" sahut Bu Ranti. "Aku tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini, Rifaldi benar-benar sudah membuat keluarga kita hancur dan kecewa!" "Oma yang tenang dulu yah, aku yakin semua pasti akan ada jalannya!" ucap Devan."Devan, sebaiknya kamu dan Melati istirahat yah. Biar Oma mama yang antarkan ke kamarnya!" pinta wanita paruh baya itu. Devan pun hanya mengangguk saja tanpa menjawab sepatah katapun. "Ibu, ayoh sebaiknya ibu istirahat dulu di kamar!" "Iyah, aku hari ini sangat lelah sekali. Kepalaku juga sangat pusing!" ujar wanita tua itu. "Ayoh kita juga istirahat!" ajak Devan. "Iyah mas!" Sementara itu terlihat Rifaldi mengendarai mobilnya dengan sangat kencang sekali, dia benar-benar tidak terkendali saat itu. "Aagghhhh kenapa semuanya malah menja
"Ya Allah semoga den Rifaldi tidak apa-apa, dan masalah di dalam keluarga ini juga cepat terselesaikan!" ujar Bi Mariam"Devan ayoh lebih cepat lagi bawa mobilnya!" pinta Bu Ranti."Mah, mama yang sabar dulu mah. Biarkan Devan menyetir dengan benar, lagi pula kan Rifaldi juga pastinya sudah di tangani oleh dokter!" sahut Pak Hardi. "Iyah pah tapi tetap saja mama merasa belum tenang kalau belum melihat Rifaldi secara langsung!" "Pah, apa kita perlu memberi tahu Sintia soal ini!" tanya Melati. "Jangan Melati, sebaiknya kita rahasiakan dulu hal ini pada Sintia. Kondisi dia saat ini sedang tidak baik-baik saja, papa takut nantinya akan terjadi sesuatu pada dia apalagi saat ini dia itu sedang mengandung!" sahut pria paruh baya itu."Baik pah kalau memang seperti itu!" Sementara itu terlihat Sintia sedang merenung di dalam kamarnya sambil melihat foto pernikahan nya dengan Rifaldi. "Kenapa kamu setega itu sama aku, apa sebenarnya kurang aku di mata kamu. Padahal selama ini aku selalu b
Tak lama dokter pun keluar dari ruangan dimana Rifaldi berada. "Dok bagaimana dengan keadaan anak saya?" tanya Bu Ranti. "Kondisi pasien masih belum sadarkan diri, tapi untungnya dia sudah melewati masa kritisnya!" sahut dokter tersebut. "Tapi anak saya akan bangun kan dok, dia akan bisa sembuh seperti semula kan dok!" "Ibu banyak berdoa saja semoga pasien segera sadarkan diri!" "Apa kami sudah boleh masuk untuk melihat kondisi pasien dok?" tanya Pak Hardi. "Tentu saja bisa, tapi setelah pasien di pindahkan ruangannya yah Pak. Kalau begitu saya tinggal dulu, permisi!" "Mama denger sendiri kan kalau Rifaldi sekarang sudah melewati masa kritisnya!" "Iyah pah, tapi tetap saja mama masih belum merasa lega kalau belum melihat dia secara langsung!" "Kamu harus kuat Ranti, jangan sampai hal ini membuat kamu jadi semakin down. Kamu harus kuat demi Rifaldi!" "Sambil menunggu Rifaldi pindah ruangan, sebaiknya kita makan dulu saja. Pasti kalian semua juga belum sempat makan kan tadi!"
Keesokan harinya Rifaldi sudah berada di depan rumah Sintia, dia terlihat membawakan Sintia bunga dan juga buah-buahan untuk keluarganya. "Assalamualaikum Pak...!" sapa dia pada mertuanya yang kebetulan berada di depan. "Waalaikumsalam... nak Rifaldi pasti kesini untuk menemui Sintia bukan!" sahut pria paruh baya itu.."Iyah Pak, apa Sintia ada!" "Ada, ayoh kita masuk ke dalam!" "Mas Rifaldi, kamu kesini lagi? ada apa mas?" tanya Sintia. "Aku datang kesini untuk meminta kamu agar ikut pulang dengan aku ke rumah kita!" sahut pria itu. Sintia pun langsung memandangi wajah kedua orang tuanya. "Apa mas Rifaldi sudah yakin dengan keputusan ini, aku tidak mau kalau nantinya mas Rifaldi akan menyesal!" "Tentu saja aku sudah yakin, aku tidak akan menyesal sama sekali karena ini murni keinginan aku. Aku ingin kita bisa sama-sama seperti dulu lagi sintia, tolong berikan aku satu kesempatan untuk bisa menjaga dan mencintai kamu dan ikut membesarkan anak kita sama-sama!" ungkap Rifaldi de
"Bapa akan mencoba membantu kamu dan berbicara dengan Sintia mengenai ini, bapa akan memberikan pengertian pada dia. Jadi nak Rifaldi harus mau menunggu untuk itu!" ujar Pak Ridwan."Aku tidak masalah sama sekali pak jika harus menunggu Sintia begitu lama!" Baiklah, kalau begitu sebaiknya nak Rifaldi pulang dulu saja, besok pagi nak Rifaldi bisa datang kesini lagi dan kami akan memberikan keputusannya!" "Baik Pak, Terima kasih sebelumnya atas bantuannya Pak, Bu!" "Sama-sama nak Rifaldi, kalau untuk kebaikan pasti kami akan selalu mendukung. Iyah kan Pak!" ujar Bu Anis. "Iyah bu benar sekali!" sahut Pak Ridwan sambil tersenyum.."Kalau begitu saya pamit pulang dulu pak, besok pagi saya akan kesini lagi. Dan tolong sampaikan salam dari saya untuk Sintia!" "Assalamualaikum....!" ujar Rifaldi.."Waalaikumsalam...!" sahut Bu Anis dan Pak Ridwan..Setelah Rifaldi pulang, Bu Anis dan Pak Ridwan pun langsung mencoba untuk berbicara dengan Sintia. Tok tok tok"Sintia, buka dulu nak. Kami
Serangkaian acara pun mulai di lakukan, semua orang tampak sangat bahagia sekali. Kini acara itu dilanjutkan dengan melakukan siraman. "Dimana ayah dari calon bayinya? Mama suami kamu!" tanya seorang wanita paruh baya yang memimpin acara tersebut...Sontak semua orang pun terdiam dan saling menatap satu sama lainnya. "Apa acaranya tidak bisa dilanjutkan kalau tidak ada suami saya mbok!" tanya Sintia. "Memangnya suami kamu kemana? bukankah ini juga acara yang penting untuk dia!" "Saya ada disini!" sahut seorang pria yang tiba-tiba saja datang. Semua orang pun langsung dialihkan pandangnya, dan merasa terkejut saat tahu bahwa pria tersebut adalah Rifaldi..."Rifaldi pah!" ujar Bu Ranti pada suaminya. Rifaldi pun langsung berjalan ke arah Sintia..."Apa sekarang acaranya sudah bisa di mulai?" tanya pria itu membuat semua orang membisu."Tentu saja, kita bisa mulai siramannya sekarang!" Acara siraman tujuh bulanan pun langsung di lakukan... Setelah serangkaian acara selesai dan b
"Mas, Cindy.. ayoh kesini. aku sudah membuatkan minuman dan cemilan untuk kalian!" panggil Melati...Tak berselang lama Cindy dan Devan pun datang menghampiri Melati yang sudah berada di ruang makan. "Ya ampun kak, kenapa gak ngajak-ngajak aku sih. Aku kan bisa bantuin kakak!" ujar Cindy. "Engga apa-apa kok, ini kan bikinnya juga simple banget jadi kakak bisa sendiri!" sahut Melati.."Aku cobain yah, kelihatannya enak banget!" "Iyah boleh dong, ayoh di makan!" "Hmmm apapun yang dibuat oleh istri aku ini memang gak pernah gagal. Tangan kamu ini memang ajaib banget yah!" "Makasih yah mas, kamu itu selalu memuji aku!" "Kapan-kapan aku juga mau dong kak belajar masak, biar nanti tuh setelah aku punya suami aku bisa masakin suami aku makanan yang enak terus setiap hari. Terus dapet pujian deh dari dia, sama seperti kalian ini!" ungkap Cindy. "Boleh dong, kamu bisa datang kesini dan belajar kapan pun yang kamu mau. Kakak pasti akan selalu ngajarin kamu sampai kamu bisa!" sahut Melati
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh akhirnya Melati, Devan dan Cindy pun sudah sampai di rumah baru mereka. Melati terlihat senang sekali dengan rumah baru yang akan ditinggalinya itu. Rumah yang terlihat sangat megah, dan halaman yang luas beserta taman membuat rumah itu terkesan mewah. "Gimana menurut kamu? apa kamu suka sama rumahnya!" tanya Devan. "Aku suka banget mas sama rumahnya, rumahnya bagus, mewah dan terlihat sangat nyaman!" sahut gadis itu. "Waw keren banget kak, ternyata kak Devan pintar juga yah milih desain rumah yang bagus!" puji Cindy. "Aku kayaknya bakalan sering nginep disini deh, apalagi letaknya juga tidak terlalu jauh dari kampus aku!" "Tentu saja boleh dong, kalau kamu mau tinggal disini juga tidak masalah sama sekali kok!" sahut Devan. "Iyah, kakak malah seneng banget karena nanti ada temennya!" "Ya udah yuk kita masuk ke dalam, pasti kamu sudah penasaran kan dengan isi rumah kita yang baru ini!" ajak Devan. "Iyah mas, aku memang sudah penas
Keesokan paginya terlihat Devan dan Melati sudah bersiap-siap untuk pindah rumah, semua orang pun merasa sedih akan kepindahan mereka berdua. "kenapa kalian berdua mendadak pindah pagi ini, bukankah akan pindahnya sore nanti!" Ujar Oma Laksmi.."Sebelumnya aku mau minta maaf Oma, karena secara mendadak aku dan Melati memutuskan untuk pindah pagi ini. Aku juga sudah bicara dengan papa dan meminta ijin untuk tidak masuk kantor dulu!" "Loh kak Devan sama kak Melati mau pindahan sekarang?" Tanya Cindy."Iyah Cindy!" Sahut singkat Melati.."Tapi kenapa? Bukannya kemarin bilangnya nanti sore yah!" "Tadinya memang begitu tapi kita jugakan harus beresin barang-barang kita nanti disana. Jadi pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama!" "Ya udah kalau gitu aku ikut kalian yah, aku bantuin kalian beres-beres disana gimana? Bolehkan?" "Boleh dong, malah kita senang banget karena ada yang bantuin. Iyah kan mas!" Devan pun menganggukkan sambil tersenyum ke arah Cindy. "Yess!" Ucap gadis it
Terlihat Melati sedang membereskan barang-barangnya yang akan dia bawa nanti saat pindah rumah, gadis itu nampak sibuk sekali. Dan tak lama dari itu Devan pun sudah pulang dari kantornya.."Kelihatannya istriku ini sangat sibuk sekali, sampai-sampai suami pulang saja tidak tahu!" ujar Devan menggoda.."Ya ampun mas maaf banget yah, aku terlalu asik beresin barang-barang kita!" sahut gadis itu yang merasa tidak enak. "Tidak apa-apa, aku juga hanya bercanda kok!" "Oh Iyah mas, tadi setelah kamu pergi ke kantor ada kedua orang tua Sintia datang kesini!" "Apa Sintia juga ikut?" "Tidak mas, hanya bapa dan ibunya saja yang datang. Mereka datang kesini hanya ingin meminta kejelasan pada mas Rifaldi dan ternyata mas Rifaldi lebih memilih menceraikan Sintia setelah anak mereka lahir nanti mas!" ungkap gadis itu dengan raut wajah yang sedih. "Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya Rifaldi, dia sampai tega menyakiti banyak orang sekaligus!" "Makanya mas, aku merasa sedih dan bersalah s
Setelah kedua orang tua Sintia pulang, Pak Hardi dan yang lainnya pun mencoba untuk bicara dengan Rifaldi. "Rifaldi tunggu dulu!" pinta Pak Hardi.."Ada apa lagi pah!" sahut pria itu ketus. "Papa ingin bicara dengan kamu!" "Kalau papa ingin membicarakan masalah aku dengan Sintia, aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan pah!" "Rifaldi, mama benar-benar kecewa sama kamu. Kenapa kamu ini jadi egois seperti ini!" ujar Bu Ranti dengan nada yang tinggi. "Aku egois, aku jadi seperti ini karena kesalahan aku sendiri. Seandainya saja waktu itu aku tidak menikahi Sintia dan meneruskan pernikahan aku dengan Melati pasti kejadiannya tidak akan seperti ini!" "Kak, kenapa sih kakak ini gak bisa belajar mencintai kak Sintia. Padahal kak Sintia juga wanita yang baik dia juga sangat mencintai kak Rifaldi dengan sangat tulus!" ungkap Cindy yang juga ikut kesal. "Kamu diam saja Cindy, tolong jangan ikut campur dengan masalah ku ini!" "Kenapa kak, kenapa aku tidak boleh untuk ikut b
Pria itu pun langsung bergegas pergi meninggalkan semua orang dengan menahan kesal. "Sepertinya Rifaldi itu marah pah!" Ujar wanita paruh baya itu.."Marah kenapa mah?" "Dia sepertinya kesal karena Melati dan Devan memutuskan untuk pindah rumah, tapi itu hanya perkiraan mama saja!" ungkap Bu Ranti.."Tapi keputusan Devan untuk pindah rumah itu sudah tepat mah, dengan begitu Rifaldi tidak akan terus di bayang-bayangi oleh Melati. Dan siapa tahu dia bisa melupakan Melati juga!" sahut pak Hardi."Jujur saja sebenarnya memang itu alasan aku dan Melati memutuskan untuk pindah rumah, aku merasa tidak akan baik jika harus tinggal satu atap dengan Rifaldi. Apalagi setelah apa yang sudah dia lakukan selama ini sangatlah keterlaluan, dia bahkan yang pertama kali mengajak Sheril untuk bekerja sama!" ungkap Devan."Apa kamu yakin, kamu tahu dari mana soal itu. Kalau Sheril yang terlebih dulu mengajak Rifaldi bagaimana?" tanya Bu Ranti.."Sheril yang mengatakannya langsung mah, bahkan sebelum Sh