공유

Pijat Tunanetra Kapal Pesiar
Pijat Tunanetra Kapal Pesiar
작가: Dianara Amanda

Bab 1

작가: Dianara Amanda
“Kamu benaran pijat tunanetra?”

“Kalau begitu, kamu pakai tanganmu pegang, ini apa?”

Mendengar permintaan perekrut, aku terpaksa harus mengulurkan tanganku yang gemetar, tapi yang ku pegang adalah......

Namaku Fiona, tiga tahun yang lalu saat aku masih lagi kuliah, kakak yang sejak kecil buta meneleponku.

Dia diterima untuk kerja jadi pijat tunanetra di kapal pesiar lautan.

Gaji harian di kapal ada puluhan juta, kalau kerja di sana selama satu dua tahun, nanti kita sudah bisa beli rumah di kota P.

Tapi kakak sama sekali tidak pulang.

Sesudah 3 tahun berlalu, aku mendapati kabar kalau kapal pesiar itu merekrut lagi.

Aku memakai kacamata hitamku pura-pura menjadi pijat tunanetra, perlahan-lahan berjalan menuju ke lantai atas hotel bintang lima.

Lift baru kebuka, aku mendengar suara aneh dari kamar.

Suara yang bergema, terdengar penuh ambigu.

Lengket seperti genangan air.

Tubuhku dengan nggak sadar ada perasaan yang aneh, kedua kakiku juga jadi ketutup rapat.

Di luar kamar, masih ada banyak wanita yang memakai kacamata hitam sedang menunggu dan muka mereka terlihat kemerahan.

Ada orang yang mengangkat leher dan mengeluarkan suara nafas yang terengah-engah.

Dengar-dengar, karena orang buta tidak bisa melihat, jadi pendengaran mereka sangatlah sensitif, bisa jadi yang mereka dengar lebih jelas dariku.

Di saat ini, tiba-tiba muncul suara teriakan.

Aku terkejut, wanita yang lain juga sama, hanya saja mereka tidak bisa melihat, tapi aku bisa.

Satu wanita yang pakaiannya berantakan dibawa keluar, dahinya masih ada darah sedang menetes.

“Beraninya pura-pura buta, bawa keluar, kasih dia tahu akibatnya.”

Dari dalam terdengar suara marahan, wanita itu masih berusaha melawan, bahkan sampai menarik rokku dan lewat dari kacamata hitam bertatapan mata denganku.

“Tolong aku, aku tidak mau mati, tolongin aku.”

Aku bergemetar, pura-pura tidak melihat pandangannya yang meminta tolong, biarin dua pria itu membawanya pergi.

“Selanjutnya, Fiona.”

Tiba-tiba kedengar nama sendiri, aku buruan memegang tongkatku dan berjalan masuk.

Ada satu pria duduk di sofa yang besar, dengan pandangan yang vulgar melihatku.

Mungkin mengira aku nggak bisa melihat, pandangan jadi semakin terang-terangan, aku jadi terasa seperti ada api di tubuhku.

“Kamu sudah berapa lama kerja di bidang ini?”

“Tiga tahun.”

“Pergi ke kasur, untuk cobain skillmu.”

Pria jalan ke samping kasur dan menepuk kasurnya.

Aku pura-pura tidak melihatnya, dan perlahan-lahan jalan ke sana.

Dia menggunakan satu tangannya menarikku, satu tangannya lagi membuka tali pinggang.

Dalam hatiku kaget, tapi tidak berani menunjukkan keanehan, tetap seperti tidak melihatnya.

“Tuan, kamu baring dulu.”

Pria itu melihat aku tidak ada reaksi baru melepaskanku.

“Sini, naik!”

Aku menghela nafas lega, duduk dengan mahir sambil berlutur di kasur, lalu mulai pijat dari bahunya.

“Kuat dikit.” Pria seperti tidak puas dengan mengerutkan dahi berkata: “Kamu duduk samping gini, mau gimana pijat?”

Aku pura-pura tidak mengerti dan membalikkan kepalaku.

Pria dengan sindir berkata: “Ngapain sok polos, apa kamu nggak tahu posisi apa yang kamu lamar?”

“Pijat tunanetra kapal pesiar lautan......”

“Hmph, baguslah kalau tahu, bukan semua orang itu bisa naik ke kapal.”

“Lagi pula, kali ini karena acara tahun baru, bayarannya lebih tinggi 3 kali lipat dari biasanya, di luar sana banyak yang antri untuk lamar, kalau kamu nggak mau, sekarang bisa langsung pergi saja.”

Aku menggertakkan gigi, keingat wajahnya kakak.

Lalu dengan tekad yang kuat duduk di punggungnya pria tersebut, dengan kuat memijatnya.

Dari bahu sampai pinggang dengan tenaga yang sesuai, ini sudah aku latih selama setengah tahun sebelum aku datang.

Pria tersebut puas dan mengeluarkan suara erangan.

Di saat aku menghelakan nafas lega, dia tiba-tiba membalikkan badan.

Aku hampir saja terjatuh, lalu ditarik kembali.

Posisi sekarang sangat memalukan, kedua tangan pria itu memegang pinggangku dengan kuat, seperti penjepit besi, membuatku sama sekali tidak bisa bergerak.

“Kamu harusnya juga tahu, gaji yang tinggi ini bukan didapati dengan begitu saja. Sekarang aku sudah tahu skill pijatmu, selanjutnya aku mau lihat kemampuanmu yang lain.”

“Aku nggak bisa kemampuan yang lain.”

Aku baru dengan gemetar berkata, tiba-tiba dicubit dengan keras membuatku kesakitan.

Pria dengan muka dingin: “Kalau nggak bisa, pergi saja, kamu nggak mau, masih ada yang lain.”

“Aku lakukan......”

Demi kakak, aku hanya bisa dengan gemetar melakukan apa yang dia mau, nggak berapa lama kemudian, kamar yang sunyi muncul suara buka resleting.

Aku bukan orang yang benaran buta, melihat apa yang aku lihat, membuat wajahku sangatlah merah, rasa yang aneh menyelimuti seluruh tubuh.

Tapi di saat ini, dari pandangan samping, aku melihat ada seseorang yang keluar dari gorden jendela.

Pistol di tangannya sedang mengarah ke pelipisku.
이 책을 계속 무료로 읽어보세요.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

관련 챕터

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 2

    Ketakutan yang besar menyelimutiku, seperti dibuang ke dalam lubang es.Bahkan pori-pori pun mengeluarkan udara dingin.Di saat aku hampir teriak, teringat wanita yang tadi aku lihat di depan pintu.Kalau aku ketahuan pura-pura buta, nasibku pasti akan lebih parah dari dia.Untuk menutupi ketakutan, aku menundukkan badan bahkan suara pun jadi lebih manja.“Tuan, apakah nyaman?”Pria tersebut menatapku terus, sampai pastiin aku nggak ada yang aneh baru melambaikan tangan ke belakangku.Orang itu dengan diam-diam pergi.Punggungku sudah dibasahi sama keringat, di saat baru menghela nafas lega, pria yang di bawah tiba-tiba menyipitkan matanya.“Kamar ini begitu panas kah? Kenapa kamu keluar begitu banyak keringat?”Seketika kulit kepalaku merinding.Walaupun tidak bisa melihat ke belakang, tapi aku bisa membayangkan pistol itu sedang diam-diam mengarah ke aku, hanya tinggal menekan pelatuknya.“Aku hanya sedikit nggak enakan aja.”Aku hanya bisa dengan terpaksa, terengah-engah membungkukk

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 3

    Menyadari keraguanku, pandangan Chelsia langsung melihatku.Aku refleks langsung menundukkan kepala, pura-pura memegang baju.Tapi dia tetap melihatku, aku hanya bisa dengan terpaksa membuka jaketku.Berbeda dengan yang lain, aku bisa dengan jelas melihat pandangan pria-pria itu melihat tubuhku.Bahkan ada yang sampai menempelkan mukanya ke kaca dan menatap lurus ke bawah.Tanganku yang membuka rok gemetaran, bagian yang dilihat sama mereka seperti ada semut, terasa gatal dan kesemutan.Posisi yang aku berdiri sangatlah dekat dengan kaca.Seiring gerakanku, semakin banyak pria yang melihat ke arahku, di sini sangat cepat sudah penuh dengan orang.Pandangan mereka seperti serigala yang kelaparan, dan aku adalah daging yang lezat, kapanpun ada kemungkinan dimakan mereka.Semakin takut, tubuhku semakin gemetaran, tapi seperti ada rangsangan yang makin kuat.Hampir saja membuatku nggak bisa berdiri, ingin sekali jatuh ke lantai.Yang paling parah itu, baju yang disiapin Chelsia sangatlah s

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 4

    Seketika, aku hampir saja teriak karena ketakutan, untung saja di detik terakhir menahan diri.Aku baru sadar, cermin itu bukanlah cermin, melainkan kaca satu arah.Ini buat aku teringat aquarium.Aku dan sekelompok pijat tunanetra itu, seperti ikan hias yang di aquarium, kapanpun bisa aja diintip.Aku dengan gemetar mengambil handuk, mulai mengeringkan setiap bagian tubuhku.Bawah dagu pria itu adalah jenggot yang pendek, dan sedang penuh nafsu melihatku.Bahkan matanya nggak mengedip, jakunnya yang bergerak membuatnya terlihat tidak sabaran.Aku malu dan marah, ingin sekali melempar handuk ke kaca itu, menutup pandangannya.Tapi pasti langsung ketahuan pura-pura buta.Pikir-pikir, dalam hatiku muncul rasa mau balas dendam, sengaja pelan-pelan menggunakan handuk mengeringkan badan.Bahkan menundukkan tubuh untuk mengeringkan rambut.Gerakan sengaja aku lambatin.Pandangan sampingku melihat ekspresi pria itu, menjilat bibir dan terus menelan ludah.Lewat dari kaca pun sepertinya bisa m

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 5

    Kata-kata pria jenggot membuat aku gemetaran, tatapan orang samping Chelsia juga penuh dengan kecurigaan.“Chelsia, apa wanita ini juga sekalian......”Hatiku merasa cemas, tapi Chelsia hanya mengangkat tangan dan menolak.“Tidak perlu peduliin kata-katanya, Salim itu hanya dengan keberuntungan makanya bisa naik kapal, tunggu kapal sudah sampai laut lepas, buang dia saja.”Mendengar suara Chelsia yang sangat tenang, membuatku semakin takut.Saat itu, apakah kakak naik ke kapal yang begini juga?Mau gimanapun, aku sudah berhasil menipunya.Tetapi, di saat aku baru mau menghela nafas lega, Chelsia yang sudah mau pergi, jalan ke arahku.“Jaga dirimu untuk tertib, jangan membuatkan masalah lagi, kali ini hanyalah orang yang tidak penting, lain kali belum tentu bisa seberuntung gini.”Suara Chelsia hanyalah aku dan dia yang bisa mendengarnya, aku tidak mengerti kenapa dia bilang sama aku gitu.Seperti menyadari sesuatu, tapi tidak membongkarnya.Tapi itu mungkin hanya ilusi aku.Aku sama se

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 6

    “Ini benaran datang ke tempat yang benar, tamu di sini sangatlah dermawan.”“Iya, biasanya aku sekali pijatin orang baru berapa ratus ribu aja! Moga lain kali aku bisa naik ke kapal lagi.”Mendengar suara diskusi mereka, aku pun menanyai mereka.“Tapi pijat mana ada harga setinggi ini, kalian nggak rasa aneh kah?”Seketika belakang panggung jadi hening sekali dan aku melihat beberapa ekspresi wanita berubah menjadi sinis.“Ah, hal itu aja pun, lagi pula sekali naik kapal bisa dapat gitu banyak, ngapain sok suci.”“Iya tuh, dulu saat lagi rekrut bukannya sudah jelasin? Sekarang perlu sok polos lagi?”Aku menggelengkan kepala, seketika tidak tahu harus berkata apa, dan tidak melanjutkan topiknya lagi.Waktu perlahan-lahan berlalu, tiba-tiba terdengar panggilan nomorku.“Nomor 68, 69 dan 70, barengan naik panggung.”Aku buruan berdiri, staffnya memegang tongkat tunanetraku dan mengantarku ke depan panggung.Setelah naik ke panggung, baru menyadari panggungnya sangat berbeda dengan yang ku

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 7

    Aku hampir tidak percaya dengan telingaku sendiri: “Apa?”Orang-orang itu tidak peduli denganku, sedang siap-siap untuk membersihkan wanita lainnya.Akhirnya aku menggertakkan gigi dan membuka pintu kamar mandi.Di koridor berdiri beberapa pria, saat ini aku ingin sekali mati saja.Tatapan mereka seperti monster penuh dengan nafsu, aku sangat takut mereka memegangku.Untung saja mereka mengikuti aturan, tidak akan menyentuh barang yang sudah di lelang.Hanya melihat aku melewati mereka.Angin yang datang dari dek membuat tubuhku terasa dingin, tapi aku hanya bisa bertahan dan ikut di belakang staff.Bahkan merasa baiknya kalau diri sendiri benaran buta, jadi tidak perlu melihat kondisi sekitarku.Jarak yang hanya puluhan meter, aku menjalaninya dengan sangat susah.Terutama pandangan mereka, membuatku sangatlah tidak enak dan menutup rapat kedua kaki, dengan lambat melangkahkan kaki.Tetapi semakin begitu, semakin banyak tatapan yang mengerikan.“Sudah sampai.”Akhirnya aku sudah bisa

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 8

    Kulit kepalaku kesakitan seperti disobek, tetapi aku seperti tidak merasakannya, hanya diam mengangkat kepalaku.Setelan jas abu merasa tidak begitu menarik lagi, dengan bosan melemparku ke kasur kecil, lalu membuka kancing kemejanya.“Sudahlah, moga kamu bisa tahan lebih lama dikit.”Namun detik selanjutnya, aku sudah mengambil cambuk kulit yang ada di lantai, lalu melompat ke punggungnya pria, menggunakan cambuk itu meliliti lehernya.Setelan jas abu terkejut dan membuka matanya lebar-lebar, seperti digigit sama seekor kelinci.Suaranya keluar dengan paksa dari tenggorokan.“Kamu......bisa......melihat?”Aku mengeluarkan semua tenaga tanganku, tidak menjawab pertanyaannya.Perlawanan pria semakin melemah, sampai kedua matanya tutup lalu pingsan.Tanganku perlahan-lahan lepas, tapi tetap waspada, menarik pria ke samping kasur dan menggunakan borgol ke tangan dan kakinya.Setelan jas abu mungkin nggak menyangka, alat penyiksaan yang disiapin buat aku, malah dipakai untuknya.Tetapi set

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 9

    Dia dengan teliti melihat mataku, bola mataku abu-abu pucat.“Ternyata softlens, pantas bisa akting sebagus gitu.”Pria senyum dingin lalu menamparku.Wajahku ditamparnya sampai miring, aku memutar kepala melihatnya.“Di mana mayatnya Diana?”Pria tertawa: “Siapa Diana?”“Kakakku.”“Oh, orang yang mati terlalu banyak, mana aku tahu yang mana kakakmu?”Pria tidak peduli, sepertinya sudah tidak tertarik denganku.“Bukannya kamu suka pura-pura buta? Kalau gitu aku bantuin aja, mati juga jadi buta.”Dia mengarah pistolnya ke mata kananku, sengaja melambatin gerakan, siap-siap menekan pelatuknya.Ketakutan akan kematian muncul dalam hati, membuatku tidak berhenti gemetar dan mengigit lidah.Kakak......maaf, aku tidak bisa balas dendam untukmu.Di saat aku menutup mata menunggu kematian, pria tiba-tiba maju ke depan, tangannya memegang dada.Peluru yang menembusnya dari belakang, meledak di dalam dadanya.Pria dengan susah membalikkan badannya, melihat Chelsia berdiri di depan tangga.Dia te

최신 챕터

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 9

    Dia dengan teliti melihat mataku, bola mataku abu-abu pucat.“Ternyata softlens, pantas bisa akting sebagus gitu.”Pria senyum dingin lalu menamparku.Wajahku ditamparnya sampai miring, aku memutar kepala melihatnya.“Di mana mayatnya Diana?”Pria tertawa: “Siapa Diana?”“Kakakku.”“Oh, orang yang mati terlalu banyak, mana aku tahu yang mana kakakmu?”Pria tidak peduli, sepertinya sudah tidak tertarik denganku.“Bukannya kamu suka pura-pura buta? Kalau gitu aku bantuin aja, mati juga jadi buta.”Dia mengarah pistolnya ke mata kananku, sengaja melambatin gerakan, siap-siap menekan pelatuknya.Ketakutan akan kematian muncul dalam hati, membuatku tidak berhenti gemetar dan mengigit lidah.Kakak......maaf, aku tidak bisa balas dendam untukmu.Di saat aku menutup mata menunggu kematian, pria tiba-tiba maju ke depan, tangannya memegang dada.Peluru yang menembusnya dari belakang, meledak di dalam dadanya.Pria dengan susah membalikkan badannya, melihat Chelsia berdiri di depan tangga.Dia te

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 8

    Kulit kepalaku kesakitan seperti disobek, tetapi aku seperti tidak merasakannya, hanya diam mengangkat kepalaku.Setelan jas abu merasa tidak begitu menarik lagi, dengan bosan melemparku ke kasur kecil, lalu membuka kancing kemejanya.“Sudahlah, moga kamu bisa tahan lebih lama dikit.”Namun detik selanjutnya, aku sudah mengambil cambuk kulit yang ada di lantai, lalu melompat ke punggungnya pria, menggunakan cambuk itu meliliti lehernya.Setelan jas abu terkejut dan membuka matanya lebar-lebar, seperti digigit sama seekor kelinci.Suaranya keluar dengan paksa dari tenggorokan.“Kamu......bisa......melihat?”Aku mengeluarkan semua tenaga tanganku, tidak menjawab pertanyaannya.Perlawanan pria semakin melemah, sampai kedua matanya tutup lalu pingsan.Tanganku perlahan-lahan lepas, tapi tetap waspada, menarik pria ke samping kasur dan menggunakan borgol ke tangan dan kakinya.Setelan jas abu mungkin nggak menyangka, alat penyiksaan yang disiapin buat aku, malah dipakai untuknya.Tetapi set

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 7

    Aku hampir tidak percaya dengan telingaku sendiri: “Apa?”Orang-orang itu tidak peduli denganku, sedang siap-siap untuk membersihkan wanita lainnya.Akhirnya aku menggertakkan gigi dan membuka pintu kamar mandi.Di koridor berdiri beberapa pria, saat ini aku ingin sekali mati saja.Tatapan mereka seperti monster penuh dengan nafsu, aku sangat takut mereka memegangku.Untung saja mereka mengikuti aturan, tidak akan menyentuh barang yang sudah di lelang.Hanya melihat aku melewati mereka.Angin yang datang dari dek membuat tubuhku terasa dingin, tapi aku hanya bisa bertahan dan ikut di belakang staff.Bahkan merasa baiknya kalau diri sendiri benaran buta, jadi tidak perlu melihat kondisi sekitarku.Jarak yang hanya puluhan meter, aku menjalaninya dengan sangat susah.Terutama pandangan mereka, membuatku sangatlah tidak enak dan menutup rapat kedua kaki, dengan lambat melangkahkan kaki.Tetapi semakin begitu, semakin banyak tatapan yang mengerikan.“Sudah sampai.”Akhirnya aku sudah bisa

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 6

    “Ini benaran datang ke tempat yang benar, tamu di sini sangatlah dermawan.”“Iya, biasanya aku sekali pijatin orang baru berapa ratus ribu aja! Moga lain kali aku bisa naik ke kapal lagi.”Mendengar suara diskusi mereka, aku pun menanyai mereka.“Tapi pijat mana ada harga setinggi ini, kalian nggak rasa aneh kah?”Seketika belakang panggung jadi hening sekali dan aku melihat beberapa ekspresi wanita berubah menjadi sinis.“Ah, hal itu aja pun, lagi pula sekali naik kapal bisa dapat gitu banyak, ngapain sok suci.”“Iya tuh, dulu saat lagi rekrut bukannya sudah jelasin? Sekarang perlu sok polos lagi?”Aku menggelengkan kepala, seketika tidak tahu harus berkata apa, dan tidak melanjutkan topiknya lagi.Waktu perlahan-lahan berlalu, tiba-tiba terdengar panggilan nomorku.“Nomor 68, 69 dan 70, barengan naik panggung.”Aku buruan berdiri, staffnya memegang tongkat tunanetraku dan mengantarku ke depan panggung.Setelah naik ke panggung, baru menyadari panggungnya sangat berbeda dengan yang ku

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 5

    Kata-kata pria jenggot membuat aku gemetaran, tatapan orang samping Chelsia juga penuh dengan kecurigaan.“Chelsia, apa wanita ini juga sekalian......”Hatiku merasa cemas, tapi Chelsia hanya mengangkat tangan dan menolak.“Tidak perlu peduliin kata-katanya, Salim itu hanya dengan keberuntungan makanya bisa naik kapal, tunggu kapal sudah sampai laut lepas, buang dia saja.”Mendengar suara Chelsia yang sangat tenang, membuatku semakin takut.Saat itu, apakah kakak naik ke kapal yang begini juga?Mau gimanapun, aku sudah berhasil menipunya.Tetapi, di saat aku baru mau menghela nafas lega, Chelsia yang sudah mau pergi, jalan ke arahku.“Jaga dirimu untuk tertib, jangan membuatkan masalah lagi, kali ini hanyalah orang yang tidak penting, lain kali belum tentu bisa seberuntung gini.”Suara Chelsia hanyalah aku dan dia yang bisa mendengarnya, aku tidak mengerti kenapa dia bilang sama aku gitu.Seperti menyadari sesuatu, tapi tidak membongkarnya.Tapi itu mungkin hanya ilusi aku.Aku sama se

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 4

    Seketika, aku hampir saja teriak karena ketakutan, untung saja di detik terakhir menahan diri.Aku baru sadar, cermin itu bukanlah cermin, melainkan kaca satu arah.Ini buat aku teringat aquarium.Aku dan sekelompok pijat tunanetra itu, seperti ikan hias yang di aquarium, kapanpun bisa aja diintip.Aku dengan gemetar mengambil handuk, mulai mengeringkan setiap bagian tubuhku.Bawah dagu pria itu adalah jenggot yang pendek, dan sedang penuh nafsu melihatku.Bahkan matanya nggak mengedip, jakunnya yang bergerak membuatnya terlihat tidak sabaran.Aku malu dan marah, ingin sekali melempar handuk ke kaca itu, menutup pandangannya.Tapi pasti langsung ketahuan pura-pura buta.Pikir-pikir, dalam hatiku muncul rasa mau balas dendam, sengaja pelan-pelan menggunakan handuk mengeringkan badan.Bahkan menundukkan tubuh untuk mengeringkan rambut.Gerakan sengaja aku lambatin.Pandangan sampingku melihat ekspresi pria itu, menjilat bibir dan terus menelan ludah.Lewat dari kaca pun sepertinya bisa m

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 3

    Menyadari keraguanku, pandangan Chelsia langsung melihatku.Aku refleks langsung menundukkan kepala, pura-pura memegang baju.Tapi dia tetap melihatku, aku hanya bisa dengan terpaksa membuka jaketku.Berbeda dengan yang lain, aku bisa dengan jelas melihat pandangan pria-pria itu melihat tubuhku.Bahkan ada yang sampai menempelkan mukanya ke kaca dan menatap lurus ke bawah.Tanganku yang membuka rok gemetaran, bagian yang dilihat sama mereka seperti ada semut, terasa gatal dan kesemutan.Posisi yang aku berdiri sangatlah dekat dengan kaca.Seiring gerakanku, semakin banyak pria yang melihat ke arahku, di sini sangat cepat sudah penuh dengan orang.Pandangan mereka seperti serigala yang kelaparan, dan aku adalah daging yang lezat, kapanpun ada kemungkinan dimakan mereka.Semakin takut, tubuhku semakin gemetaran, tapi seperti ada rangsangan yang makin kuat.Hampir saja membuatku nggak bisa berdiri, ingin sekali jatuh ke lantai.Yang paling parah itu, baju yang disiapin Chelsia sangatlah s

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 2

    Ketakutan yang besar menyelimutiku, seperti dibuang ke dalam lubang es.Bahkan pori-pori pun mengeluarkan udara dingin.Di saat aku hampir teriak, teringat wanita yang tadi aku lihat di depan pintu.Kalau aku ketahuan pura-pura buta, nasibku pasti akan lebih parah dari dia.Untuk menutupi ketakutan, aku menundukkan badan bahkan suara pun jadi lebih manja.“Tuan, apakah nyaman?”Pria tersebut menatapku terus, sampai pastiin aku nggak ada yang aneh baru melambaikan tangan ke belakangku.Orang itu dengan diam-diam pergi.Punggungku sudah dibasahi sama keringat, di saat baru menghela nafas lega, pria yang di bawah tiba-tiba menyipitkan matanya.“Kamar ini begitu panas kah? Kenapa kamu keluar begitu banyak keringat?”Seketika kulit kepalaku merinding.Walaupun tidak bisa melihat ke belakang, tapi aku bisa membayangkan pistol itu sedang diam-diam mengarah ke aku, hanya tinggal menekan pelatuknya.“Aku hanya sedikit nggak enakan aja.”Aku hanya bisa dengan terpaksa, terengah-engah membungkukk

  • Pijat Tunanetra Kapal Pesiar   Bab 1

    “Kamu benaran pijat tunanetra?”“Kalau begitu, kamu pakai tanganmu pegang, ini apa?”Mendengar permintaan perekrut, aku terpaksa harus mengulurkan tanganku yang gemetar, tapi yang ku pegang adalah......Namaku Fiona, tiga tahun yang lalu saat aku masih lagi kuliah, kakak yang sejak kecil buta meneleponku.Dia diterima untuk kerja jadi pijat tunanetra di kapal pesiar lautan.Gaji harian di kapal ada puluhan juta, kalau kerja di sana selama satu dua tahun, nanti kita sudah bisa beli rumah di kota P.Tapi kakak sama sekali tidak pulang.Sesudah 3 tahun berlalu, aku mendapati kabar kalau kapal pesiar itu merekrut lagi.Aku memakai kacamata hitamku pura-pura menjadi pijat tunanetra, perlahan-lahan berjalan menuju ke lantai atas hotel bintang lima.Lift baru kebuka, aku mendengar suara aneh dari kamar.Suara yang bergema, terdengar penuh ambigu.Lengket seperti genangan air.Tubuhku dengan nggak sadar ada perasaan yang aneh, kedua kakiku juga jadi ketutup rapat.Di luar kamar, masih ada bany

좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status