Senja mulai turun di Kota Biramaki ketika sebuah kereta tertutup memasuki gerbang barat dengan diam-diam. Tidak ada pengumuman, tidak ada pengawal berpakaian resmi, hanya beberapa prajurit berpakaian biasa yang mengawal kereta tersebut. Kereta itu bergerak cepat melalui jalan-jalan sepi, menghindari jalur utama yang ramai, menuju ke arah Istana Kekaisaran Bai Feng.Di dalam istana, tepatnya di Aula Kebahagiaan Abadi, Kaisar Liu Yan duduk dengan wajah bosan. Di hadapannya, sekelompok penari cantik berpakaian sutra tipis sedang meliuk-liuk diiringi musik tradisional. Sudah hampir dua jam ia menyaksikan pertunjukan yang sama, dan kesabarannya mulai menipis."Cukup!" Kaisar Liu Yan mengangkat tangannya, menghentikan pertunjukan. "Guru Negara Lin Zhao, kau bilang ada kejutan untukku malam ini. Tapi yang kulihat hanyalah tarian yang sama seperti malam-malam sebelumnya."Guru Negara Lin Zhao, yang duduk di samping kaisar, tersenyum tenang. "Yang Mulia, mohon bersabar sejenak lagi. Kejutan
Dua hari berlalu tanpa ada yang melihat Kaisar Liu Yan. Ia mengurung diri di Pavilium Bunga Peony, tempat Hanim ditempatkan, menolak menemui siapa pun termasuk para menteri dan pejabat istana. Kabar tentang selir baru kaisar menyebar cepat di seluruh istana, menimbulkan kecemasan dan kemarahan, terutama di kalangan selir-selir lama dan permaisuri.Sementara itu...Di Paviliun Permaisuri, Huang Xiuying duduk dengan wajah tegang. Di hadapannya, Selir Zheng Ehuang dan Selir Qian Xiu duduk dengan ekspresi serupa."Sudah dua hari," kata Permaisuri Huang, suaranya gemetar menahan amarah. "Dua hari Yang Mulia tidak keluar dari pavilium wanita asing itu. Bahkan pertemuan penting dengan utusan dari Sekte Langit Murni pun dibatalkan.""Hamba dengar dari dayang yang melayani makanan, wanita itu memiliki kecantikan yang luar biasa," ujar Selir Zheng dengan nada iri. "Kulitnya putih, rambutnya pirang, dan matanya biru seperti lautan.""Kecantikan saja tidak cukup untuk menahan perhatian Yang Muli
Berita tentang pengangkatan Hanim sebagai selir resmi dan rencana pawai keliling kota menyebar cepat di istana, menimbulkan kemarahan besar di kalangan permaisuri dan selir-selir lama.+++Di Paviliun Permaisuri, Permaisuri Huang menggebrak meja dengan marah, membuat cangkir teh di atasnya tumpah."Ini penghinaan!" serunya dengan wajah merah padam. "Bukan hanya dia diangkat setara dengan Selir Zheng dan Selir Qian yang telah bertahun-tahun mengabdi, tapi juga akan diarak keliling kota? Hal yang bahkan tidak pernah dilakukan untuk permaisuri!"Selir Zheng menggigit bibirnya, menahan amarah. "Hamba sudah melayani Yang Mulia selama lima belas tahun, tapi tidak pernah mendapatkan kehormatan seperti itu.""Wanita asing itu pasti menggunakan sihir atau ramuan," kata Selir Qian dengan suara bergetar. "Tidak mungkin Yang Mulia bertindak seperti ini tanpa pengaruh luar."Permaisuri Huang menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Kita sudah mencoba racun, tapi gagal. Bahkan Selir Z
Musim gugur di Kota Biramaki membawa angin sejuk yang menggugurkan daun-daun keemasan dari pepohonan istana. Namun, di balik tembok-tembok megah Istana Kekaisaran Bai Feng, suasana politik jauh dari sejuk. Kekuasaan telah bergeser, mengalir seperti air dari tangan-tangan lama ke tangan baru yang haus akan pengaruh.Paviliun Bunga Peony, kediaman Hanim, kini menjadi pusat kekuasaan tidak resmi di istana. Setiap pagi, antrean panjang pejabat istana, kasim senior, dan bahkan menteri-menteri penting terlihat menunggu untuk menghadap sang selir kesayangan. Mereka membawa bingkisan mewah—perhiasan, sutra langka, artefak berharga, dan kantong-kantong berisi emas—semua dipersembahkan dengan harapan mendapatkan perhatian dan dukungan Hanim.Di ruang utama pavilium yang dihiasi dengan kemewahan dari berbagai penjuru kekaisaran, Hanim duduk dengan anggun di atas kursi kayu cendana berukir. Gaun sutra biru mudanya kontras dengan rambut pirang yang disanggul tinggi, dihiasi tusuk konde permata y
Zhao Lin menelan ludah dengan susah payah. Ia adalah pejabat yang jujur, diangkat karena kemampuannya, bukan karena koneksi politik. Permintaan semacam ini bertentangan dengan prinsipnya."Saya... saya perlu waktu untuk mempertimbangkannya," jawab Zhao Lin akhirnya. "Ini bukan keputusan yang bisa saya ambil begitu saja."Ekspresi Hanim berubah, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik senyum diplomatis. Matanya yang biru berkilat dingin, kontras dengan senyum manisnya. Ia mengangkat cangkir teh krisannya, menyesapnya perlahan sebelum berbicara."Tentu, Wakil Menteri," ucapnya dengan suara lembut yang menyimpan ancaman tersembunyi. "Hamba memahami bahwa Anda memerlukan waktu. Tapi jangan terlalu lama... kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."Guru Negara Lin mengangguk. "Benar sekali. Dan Wakil Menteri, saya yakin Anda cukup bijaksana untuk membuat keputusan yang tepat."Zhao Lin membungkuk kaku. "Saya akan mempertimbangkannya dengan serius. Kalau begitu, izinkan saya undur
Malam yang sunyi, sosok itu dengan jubah yang berkibar ditiup angin, ekspresinya tanpa perasaan, saat berjongkok di dekat Zhao Lin."Kau seharusnya menerima tawaran itu, Wakil Menteri," bisik sosok bertopeng itu di telinga Zhao Lin. "Sekarang sudah terlambat.""Kumohon," Zhao Lin memohon, suaranya bergetar. "Aku punya keluarga... anak-anak...""Mereka akan baik-baik saja," jawab sosok itu dingin. "Selama mereka lebih bijaksana darimu."Dengan gerakan cepat, sosok berjubah hitam itu mengayunkan tangannya. Cakar hitam yang tajam merobek leher Zhao Lin, memutus arteri utamanya. Darah menyembur deras, membasahi jubah putih Wakil Menteri yang kini tergeletak di tanah dengan mata terbelalak.Sosok bertopeng itu berdiri diam sejenak, memandangi karyanya. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah jimat hitam dari balik jubahnya dan meletakkannya di dada Zhao Lin yang sudah tak bernyawa."Semoga perjalananmu ke alam baka menyenangkan, Wakil Menteri," ucapnya pelan sebelum melompat tinggi ke atas poho
Malam di Gurun Hadarac selalu memiliki keindahan yang mengerikan. Langit kelam membentang luas tanpa batas, ditaburi bintang-bintang yang berkilauan seperti permata di atas kain hitam. Bulan sabit menggantung rendah di cakrawala, memancarkan cahaya redup yang menyinari hamparan pasir keemasan yang kini tampak keperakan di bawah sinarnya.Suara lolongan serigala gurun terdengar dari kejauhan, bergema di antara bukit-bukit pasir, menciptakan melodi malam yang membuat bulu kuduk meremang. Angin dingin bertiup perlahan, menggerakkan butiran-butiran pasir halus, membentuk pola-pola yang terus berubah di permukaan gurun yang tak pernah diam.Di tengah kesunyian gurun yang mencekam, suara derap kaki kuda dan roda kereta memecah keheningan. Sebuah kereta mewah yang ditarik oleh empat ekor kuda hitam bergerak perlahan membelah hamparan pasir. Kereta itu dihiasi ukiran-ukiran naga dan phoenix yang rumit, dengan lapisan emas di tepiannya—jelas milik seseorang dengan status sangat tinggi.Empa
Pangeran Jinhai menghela napas, lalu berbicara dengan suara yang lebih rendah. "Kami ingin Anda menghabisi seseorang. Seorang wanita bernama Hanim, selir baru ayahanda hamba.""Selir?" Raja Kelelawar Hitam terdengar sedikit tertarik. "Mengapa seorang selir perlu disingkirkan oleh Pangeran Mahkota dan Permaisuri?""Dia bukan selir biasa," jawab Pangeran Jinhai, kini suaranya lebih tegas. "Hanim berasal dari Kekaisaran Matahari Emas. Dia telah memikat ayahanda hamba dengan cara yang tidak wajar, membuat beliau mengabaikan urusan kenegaraan dan keluarganya."Raja Kelelawar Hitam terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan informasi ini. "Lanjutkan.""Hanim telah mengambil alih istana dalam waktu singkat," Pangeran Jinhai melanjutkan. "Para pejabat dan kasim berlomba-lomba memberinya upeti. Bahkan Guru Negara Lin Zhao tampak bekerja sama dengannya. Kami curiga dia memiliki agenda tersembunyi, mungkin... mungkin dia adalah mata-mata atau pembunuh yang dikirim untuk menghancurkan kekaisaran
* Bab Ekstra.Terima kasih gemnya gaesDari balik gundukan es, Rong Tian menyaksikan pemandangan yang mencengangkan. Bukan sekadar pertarungan kecil yang ia kira—melainkan pertempuran skala besar antara dua kelompok kultivator.Kilatan pedang dan ledakan qi menerangi padang es dalam cahaya merah dan biru yang menyilaukan mata, menciptakan aurora mengerikan yang memantul di permukaan salju."Sekte Bulan Darah," gumam Rong Tian, mengenali simbol bulan merah pada jubah salah satu kelompok. "Mengapa mereka berada di sini?"Duan Meng bergerak sedikit di belakangnya, mata kosongnya fokus pada pertarungan. "Tuanku, lawan mereka mengenakan jubah putih dengan simbol pedang es—seperti kultivator yang kita lihat di padang es sebelumnya.""Sekte Pedang Salju," bisik Rong Tian, keningnya berkerut dalam. "Mereka muncul lagi."Pertarungan di bawah semakin sengit. Puluhan kultivator Sekte Bulan Darah mengepung dengan formasi bulan sabit, qi merah darah mereka berputar membentuk kabut beracun yang meng
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika tiga sosok berjubah hitam melangkah keluar dari gerbang utara Kota Benteng Utara.Salju masih turun perlahan, namun tidak cukup lebat untuk menghalangi pandangan. Udara dingin menusuk tulang, membuat para penjaga gerbang menggigil dalam balutan mantel bulu mereka."Kalian gila pergi ke utara di musim seperti ini," komentar penjaga gerbang dengan suara gemetar. "Tak ada yang di sana selain kematian beku."Rong Tian tersenyum tipis di balik kerudungnya. "Terkadang kematian menyimpan harta yang lebih berharga dari kehidupan," jawabnya skeptis, melempar sekantong koin perak kepada penjaga yang kebingungan.Tanpa menunggu balasan, tiga sosok itu melangkah menembus kabut salju tipis, meninggalkan Kota Benteng Utara. Di depan mereka terbentang padang es luas tanpa ujung, dihiasi pohon-pohon pinus tua yang kokoh menjulang seperti penjaga abadi di tanah beku.Rong Tian melangkah di depan, diikuti Duan Meng dan Fan Liu yang bergerak dalam diam.Ketiga s
Salju turun tanpa henti di Kota Benteng Utara, menyelimuti jalanan berbatu dengan lapisan putih tebal yang menghalangi aktivitas penduduk.Tujuh hari telah berlalu sejak pertarungan berdarah di padang es, namun bagi Rong Tian, waktu terasa berjalan begitu lambat seperti siksaan abadi.Di sebuah penginapan sederhana di sudut kota yang jarang dilalui orang, Rong Tian duduk bersila di lantai kayu, menghadap jendela yang membeku oleh kristal es.Mata tajamnya menerawang jauh, sementara tangannya menggengam erat pecahan peta yang berhasil ia dapatkan dari sisa-sisa pertarungan sebelumnya—satu-satunya yang tersisa setelah Huang Wenling merebut pecahan lainnya.‘Tujuh hari,’ batinnya geram.‘Tujuh hari terbuang sia-sia tanpa petunjuk!’Napasnya membentuk uap putih di udara dingin kamar penginapan. Sejak kembali dari padang es, ia telah menggunakan segala cara untuk mencari informasi tentang Air Terjun Sembilan Naga di Puncak Tiga Bintang Utara—tempat di mana Dataran Jin Cao tersembunyi.Ia m
Mendadak energi Qi yang berbahaya, memiliki aura gelap kematian menghantam Rong Tian."WUUUSSH!"Sebuah kilatan qi hijau keemasan menyambar tempat Rong Tian berdiri sedetik sebelumnya, meninggalkan kawah baru di permukaan es.Serangan yang luar biasa kuat, mengandung qi murni tingkat Eliksir Emas—jauh melampaui tingkat Kuasi Eliksir Emas milik Rong Tian."Refleks yang bagus, anak muda," suara feminin yang jernih namun penuh otoritas memecah keheningan malam.Rong Tian menyipit, menatap ke arah datangnya serangan. Di bawah sinar bulan sabit yang kini terlihat jelas, sosok seorang wanita melayang turun dengan anggun.Tubuhnya dibalut jubah hijau keemasan yang terbuka di bagian pinggang, memperlihatkan kulit mulus yang kontras dengan usianya yang terlihat tidak muda lagi.Rambutnya yang hitam dengan beberapa helai putih tersanggul tinggi dengan hiasan giok, wajahnya cantik dengan mata tajam dan bibir merah yang melengkung dalam senyum mengejek.Rong Tian merasakan tekanan qi luar biasa d
Malam semakin larut di padang es. Salju turun semakin lebat, butiran-butiran putih tebal berjatuhan dari langit kelam bagaikan tirai sutra yang tak berujung.Angin utara bertiup kencang, membawa udara dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat dahan-dahan pinus tua bergesekan, menghasilkan suara gemersik menyeramkan seperti bisikan arwah penasaran.Temperatur terus menurun, mengubah permukaan padang es menjadi cermin raksasa yang memantulkan cahaya bulan sabit yang sesekali mengintip dari balik awan hitam.Di tengah padang es yang luas, dua sosok masih berdiri tegak meski tubuh mereka dipenuhi luka. Darah mereka mengucur, membeku seketika begitu menyentuh permukaan es, menciptakan bunga-bunga merah gelap yang kontras dengan putihnya salju.Pemimpin Sekte Tengkorak Api, dengan jubah hitam berlumuran darah, menggenggam erat pecahan peta di tangan kirinya sementara tangan kanannya membentuk segel rumit. Topeng tengkoraknya telah retak, mengungkapkan separuh wajah keriput dengan
"Cukup!" pemimpin jubah hitam mengangkat tangannya."Inilah perjanjian kita: kami menyerahkan pecahan peta Dinasti Xi Tian, kalian memberikan lokasi persis Dataran Jin Cao."Udara di padang es semakin berat dengan tekanan qi yang saling beradu. Rong Tian menahan napas, akhirnya ada petunjuk tentang Dataran Jin Cao yang ia cari."Serahkan pecahan peta terlebih dahulu," tuntut pemimpin jubah putih, tangannya bergerak ke arah gagang pedang di punggungnya."Ah, tidak secepat itu," balas pemimpin jubah hitam."Beritahu kami lokasi Dataran Jin Cao, lalu kita lakukan pertukaran secara bersamaan."Hening sesaat. Ketegangan meningkat hingga butiran salju di sekitar mereka berubah menjadi kristal es karena tekanan qi yang meletup-letup."Baiklah," akhirnya sosok jubah putih menyetujui."Dataran Jin Cao terletak di lembah tersembunyi antara Tiga Puncak Bintang Utara, tepat di bawah Air Terjun Sembilan Naga."Rong Tian mengerutkan kening. ‘Tiga Puncak Bintang Utara?’‘Itu hanya legenda... omong
Langit Kota Benteng Utara berwarna kelabu, matahari tersembunyi di balik awan tebal yang mengancam menurunkan salju.Tiga hari telah berlalu sejak pembantaian di Hutan Xian Yun, namun bagi Rong Tian, waktu terasa berjalan begitu lambat. Ia duduk di atap sebuah penginapan kecil, jubah hitamnya berkibar pelan ditiup angin dingin dari utara.Dataran Jin Cao, Rong Tian menggumam dalam hati, matanya menyipit menatap cakrawala yang semakin gelap. Di mana tempat terkutuk itu berada?Tiga hari penuh ia menyusuri setiap sudut Kota Benteng Utara, menyamar sebagai pedagang biasa, mendengarkan percakapan di kedai arak, menyuap penjaga untuk informasi tentang pergerakan tidak biasa, bahkan memeriksa arsip-arsip tua di perpustakaan kota. Hasilnya? Nihil."Sial," gerutunya, kepalan tangannya menghantam genteng hingga retak.Keputusasaan mulai menggerogoti kesabarannya.Kota Benteng Utara terlihat begitu normal—para pedagang berdagang, penjaga kota berpatroli dengan malas, anak-anak bermain di jalan-
"Bicara," perintah Raja Kelelawar Hitam tanpa emosi, satu jarinya terangkat sedikit, membuat salah satu belati bayangan menggores pipi Alp Tegin, meninggalkan luka yang mengeluarkan darah hitam."Atau kematianmu akan berlangsung lama dan menyakitkan."Alp Tegin tertawa keras meski darah menetes dari mulutnya, sikap seorang prajurit sejati yang menolak menyerah."Kau terlambat, Raja Kelelawar Hitam. Pasukan utama sudah tiba tiga hari lalu. Putri Ayrin sendiri yang memimpin mereka dengan tiga ribu pasukan elite. Mereka mungkin sudah mencapai reruntuhan Dataran Jian Chao saat ini. Kami hanyalah pengalih perhatian jika terjadi masalah seperti ini."BOOM!Mata Raja Kelelawar Hitam melebar sedikit di balik topengnya, satu-satunya tanda keterkejutan yang ia tunjukkan. ‘Tiga hari lalu? Itu berarti ia telah salah perhitungan dan tertinggal jauh dari rencana.’"Dan kau ingin tahu yang paling lucu?" lanjut Alp Tegin dengan tawa lemah yang berubah menjadi batuk berdarah."Putri Ayrin mengatakan p
"Bertahan! Alirkan qi ke telinga kalian!" teriak Alp Tegin, sendiri berlutut menahan sakit luar biasa di kepalanya seperti ribuan jarum menusuk otaknya."Jangan biarkan qi jahat memasuki meridian kalian!"Namun perlawanan mereka semakin melemah, seperti lilin yang meleleh di bawah terik matahari. Di tengah kabut hitam, zombie Fan Liu mengalirkan qi jahat ke tangannya, membentuk cakar dari energi hitam yang berkilauan dengan simbol-simbol kuno."Jurus Cakar Setan!" sorak Raja Kelelawar Hitam, nada serulingnya mencapai puncak intensitas, mengirimkan perintah dengan energi spiritual ke setiap zombie di medan pertempuran.Fan Liu melesat maju dengan kecepatan mengerikan yang tidak sesuai dengan tubuhnya yang kaku, meninggalkan jejak bayangan hitam di belakangnya.Tangannya yang diperkuat qi iblis menebas barisan prajurit tanpa ampun. Lima prajurit terpotong sekaligus, tubuh mereka terbelah seperti terkena pedang pusaka tertajam, qi kehidupan mereka tersedot ke dalam cakar hitam Fan Liu."