Setelah pulang dengan tangan kosong, rumah kembali dipenuhi oleh suara pertengkaran. "Ini semua salah kamu, Hendra! Harusnya kamu trobos masuk buat Anessa! Gara-gara kamu, kita nggak bisa dapat uang, nih!" bentak Ibu Anessa kecewa akan sikap suaminya tadi yang terlihat sangat lemah tidak berdaya di hadapan petugas. Hendra menyunggingkan senyuman mendengar keluhan itu. "Daripada kamu! Taunya ngoceh terus! Aku capek denger kamu ngoceh!" sahut Hendra bernada tinggi, kepalanya memanas. "Kamu ini wanita atau pria sih! Kalau kamu butuh uang, harusnya lebih berani!" Hendra mendengus kesal pada istrinya, Mila. "Kamu ini! Harusnya kamu melakukan tindakan nyata bukanlah malah menyudutkan bahwa aku yang salah!" Mereka berdua terus menyalahkan satu sama lain. Suara mereka bergema di dalam rumah yang tidak besar itu, hingga suasana di dalam rumah terasa pengap oleh amarah dan kekecewaan. Di tengah keributan itu, Steven hanya duduk diam dan bermain ponselnya tanpa memperdulikan perdebatan or
Anessa duduk di kursinya, matanya terfokus pada layar komputer di depannya. Namun, pikirannya masih memikirkan keluarganya tadi. Ia merasa tidak bisa fokus dengan benar. Padahal dirinya masih harus menyelesaikan ketikan surat yang belum terketik satupun huruf. Tiba-tiba ketukan keras terdengar dari pintu, Anessa terkejut dan laku segera berkata, "Masuk." Edward masuk dengan cemas ke dalam ruangan itu dan perlahan menutup pintu. "Anessa, apakah kamu tau?" tanya Edward pelan. Anessa menoleh lalu mengangguk pelan, seolah sudah menebak apa yang akan disampaikan Edward. "Ini soal keluargaku, kan?" tanya balik Anessa. Edward menghela napas pelan, "Keluargamu datang ke sini. Mereka ingin masuk, tapi aku tidak bisa mengizinkan mereka jika tidak punya janji bertemu," kata Edward sedikit bersalah namun, ia hanya mencoba meminimalisir keributan saja. "Tidak apa-apa, mereka juga tidak mengabariku kalau mereka datang ke sini." Anessa berusaha menutupi semuanya, ia tidak mau Edward tahu masa
Anessa menghentikan langkah kakinya saat seorang karyawan wanita yang tak dikenalinya memanggil namanya. Suaranya terdengar ramah, namun sorot matanya yang membuat Anessa merasa sedikit waspada. "Selamat atas kenaikan jabatanmu, Anessa," ujarnya sambil tersenyum tipis dan mengulurkan tangan.Anessa menjabat tangan karyawan wanita itu sebelum akhirnya membalas dengan anggukan kecil, "Iya, terima kasih. Maaf, aku belum mengenalmu, kamu siapa?"Wanita itu menarik tangan dan menyilangkannya di depan dada. "Aku bekerja di divisi A. Namaku Karin."Anessa mengangguk perlahan, Karin kemudian memiringkan kepalanya sedikit. Matanya terus menelisik wajah Anessa. "Aku hanya penasaran ... sudah berapa lama kamu dan Pak Edward berhubungan? Kalian sangat dekat sekali," katanya yang berubah nada sinis.Seketika Anessa terasa sedikit kesal. Sejak awal, ia sudah tahu bahwa kedekatannya dengan Edward bisa menimbulkan pembicaraan. Anessa menghela napas sebelum akhirnya menjawab, "Aku dan Pak Edward hany
[Andrean: "Maaf Anessa, kita bicarakan hal ini lain waktu."] Anessa menghela napas. Entah mengapa, Andrean menghindarinya. Padahal, Anessa ingin mengonfirmasi sesuatu pada sang kekasih.Akhir-akhir ini, Anessa mendengar kabar bahwa Andrean sering terlihat bersama seorang perempuan yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.Shera, sahabat yang selama ini selalu ada di sisinya. Shera yang tahu segala keluh kesahnya tentang hubungan ini. Shera yang bahkan pernah berkata, "Aku ikut bahagia untukmu, Nes." Rasanya tidak mungkin sekali jika orang seperti Shera mengkhianatinya. Tapi, orang-orang di lingkungan kerjanya mulai berbisik di belakangnya.Karena semua orang di tempat kerjanya, sudah tahu kalau Anessa sudah bertunangan dan akan menikah. "Aku lihat Andrean tadi malam di kafe. Tapi dia bukan sama Anessa." "Bukannya itu Shera? Kok bisa? Aku kira dia sahabat Anessa!" Desas-desus itu semakin lama di dengar, semakin menyelinap ke dalam pikirannya seperti racun. Anessa mencoba menya
"Iya, Pak," jawabnya buru-buru. Edward menyandarkan tubuhnya di kursi. "Aku melihat proposal yang kau ajukan minggu lalu. Kerjamu bagus." Anessa terdiam, tidak menyangka akan mendapat pujian langsung dari bos besarnya. "Terima kasih, Pak," jawab Anessa malu. Edward menatapnya lama sebelum berkata, "Tapi aku juga mendengar sesuatu tentangmu." Jantung Anessa mencelos, "Mendengar apa?" "Bahwa kau baru saja mengalami masa sulit." Anessa mengernyit. "Dari mana Bapak tahu?" Edward mengangkat bahu. "Aku punya banyak sumber." Anessa menghela napas. "Saya tidak ingin kehidupan pribadi saya mengganggu pekerjaan." Edward tersenyum tipis. "Bagus. Karena aku tidak mencari karyawan yang larut dalam kesedihannya." Anessa menatap pria itu dengan bingung. "Tapi ... " Edward melanjutkan, "Aku juga percaya bahwa seseorang bisa berkembang setelah melewati luka yang mendalam." Kata-kata itu membuat Anessa terdiam. Ia tidak tahu apa maksud Edward. Tapi satu hal yang pasti, ada se
Hari itu berjalan seperti biasa. Anessa sibuk di depan laptopnya, mengetik laporan yang harus diserahkan kepada Pak CEO. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, berusaha kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Namun, sekeras apa pun ia mencoba, pikirannya tetap berantakan. Bayangan Andrean masih menghantuinya.Suara notifikasi pesan masuk dari ponsel membuatnya berhenti sejenak.["Kita bisa bicara?"]Anessa menatap nama pengirimnya.Andrean.Ia mengembuskan napas kasar. Satu minggu lebih berlalu sejak kejadian di depan taksi itu dan kini pria itu tiba-tiba menghubunginya, senang rasanya tapi juga kesal.Anessa menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sejenak sebelum membalas.Namun disisi lain, Anessa ingin mengabaikannya, tapi di dalam hatinya, ada pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Dengan berat hati, ia mengetik balasan.["Di mana?"][Di restoran, tempat biasa kita bertemu dulu."]Anessa hanya membacanya sekilas dan buru-buru menyelesaikan pekerjaannya ya
Malam itu Anessa tidak langsung pulang. Ia butuh sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya. Kakinya membawanya ke sebuah bar kecil di sudut kota. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang tenggelam dalam minuman dan percakapan masing-masing. Ia duduk di bangku tinggi dekat bar, lalu memesan segelas wine. Satu tegukan. Dua tegukan. Hangatnya alkohol mulai mengalir dalam tubuhnya. Ia menatap pantaulan dirinya di cermin yang tergantung di belakang bartender. Matanya tampak lelah. Tapi setidaknya, kali ini dia tidak menangis. Di tatapnya lekat-lekat pantulan dirinya sambil tersenyum sendiri. "Apa kurangnya aku hah ... aku cantik dan pekerja keras juga gak beban, masih juga diselingkuhi," gumannya yang terdengar berbisik. "Apa aku bodoh?" gumamnya lagi. "Kalau kamu nanya pertanyaan itu setelah minum, kemungkinan jawabannya iya." Suara berat itu membuatnya menoleh. Edward. Pria itu berdiri di sampingnya, mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung. Tidak ada jas
Sinar matahari perlahan merayap masuk melalui celah tirai, menghangatkan pipi Anessa yang masih terlelap. Matanya bergerak di balik kelopak, seolah tubuhnya enggan terbangun sepenuhnya dari mimpi.Namun, kesadaran perlahan merayap masuk, membawa serta rasa pusing yang berdenyut di kepalanya.Perlahan ia membuka kedua matanya lalu mengerjapkan beberapa kali sebelum terbuka sempurna. Kepalanya terasa sedikit pusing, efek dari wine yang ia minum semalam.Nafasnya tercekat saat melihat sosok pria yang tertidur di sampingnya.Edward.Jantungnya berdebar kencang, ia langsung terduduk dan menepuk kedua pipinya lalu melihat kearah Edward yang tertidur. "Tidak! Ini bukan mimpi!" gumamnya panik.Anessa kemudian mengintip ke dalam selimut dan terkejut melihat dirinya tanpa sehelai benang pun. "Astaga! Apa yang sudah kulakukan!" gumamnya lagi semakin panik.Kepalanya mulai memutar ulang ingatan yang terjadi semalam. Anessa ingat dirinya mabuk, ingat menarik kerah kemeja Edward, ingat ciuman itu .
Anessa menghentikan langkah kakinya saat seorang karyawan wanita yang tak dikenalinya memanggil namanya. Suaranya terdengar ramah, namun sorot matanya yang membuat Anessa merasa sedikit waspada. "Selamat atas kenaikan jabatanmu, Anessa," ujarnya sambil tersenyum tipis dan mengulurkan tangan.Anessa menjabat tangan karyawan wanita itu sebelum akhirnya membalas dengan anggukan kecil, "Iya, terima kasih. Maaf, aku belum mengenalmu, kamu siapa?"Wanita itu menarik tangan dan menyilangkannya di depan dada. "Aku bekerja di divisi A. Namaku Karin."Anessa mengangguk perlahan, Karin kemudian memiringkan kepalanya sedikit. Matanya terus menelisik wajah Anessa. "Aku hanya penasaran ... sudah berapa lama kamu dan Pak Edward berhubungan? Kalian sangat dekat sekali," katanya yang berubah nada sinis.Seketika Anessa terasa sedikit kesal. Sejak awal, ia sudah tahu bahwa kedekatannya dengan Edward bisa menimbulkan pembicaraan. Anessa menghela napas sebelum akhirnya menjawab, "Aku dan Pak Edward hany
Anessa duduk di kursinya, matanya terfokus pada layar komputer di depannya. Namun, pikirannya masih memikirkan keluarganya tadi. Ia merasa tidak bisa fokus dengan benar. Padahal dirinya masih harus menyelesaikan ketikan surat yang belum terketik satupun huruf. Tiba-tiba ketukan keras terdengar dari pintu, Anessa terkejut dan laku segera berkata, "Masuk." Edward masuk dengan cemas ke dalam ruangan itu dan perlahan menutup pintu. "Anessa, apakah kamu tau?" tanya Edward pelan. Anessa menoleh lalu mengangguk pelan, seolah sudah menebak apa yang akan disampaikan Edward. "Ini soal keluargaku, kan?" tanya balik Anessa. Edward menghela napas pelan, "Keluargamu datang ke sini. Mereka ingin masuk, tapi aku tidak bisa mengizinkan mereka jika tidak punya janji bertemu," kata Edward sedikit bersalah namun, ia hanya mencoba meminimalisir keributan saja. "Tidak apa-apa, mereka juga tidak mengabariku kalau mereka datang ke sini." Anessa berusaha menutupi semuanya, ia tidak mau Edward tahu masa
Setelah pulang dengan tangan kosong, rumah kembali dipenuhi oleh suara pertengkaran. "Ini semua salah kamu, Hendra! Harusnya kamu trobos masuk buat Anessa! Gara-gara kamu, kita nggak bisa dapat uang, nih!" bentak Ibu Anessa kecewa akan sikap suaminya tadi yang terlihat sangat lemah tidak berdaya di hadapan petugas. Hendra menyunggingkan senyuman mendengar keluhan itu. "Daripada kamu! Taunya ngoceh terus! Aku capek denger kamu ngoceh!" sahut Hendra bernada tinggi, kepalanya memanas. "Kamu ini wanita atau pria sih! Kalau kamu butuh uang, harusnya lebih berani!" Hendra mendengus kesal pada istrinya, Mila. "Kamu ini! Harusnya kamu melakukan tindakan nyata bukanlah malah menyudutkan bahwa aku yang salah!" Mereka berdua terus menyalahkan satu sama lain. Suara mereka bergema di dalam rumah yang tidak besar itu, hingga suasana di dalam rumah terasa pengap oleh amarah dan kekecewaan. Di tengah keributan itu, Steven hanya duduk diam dan bermain ponselnya tanpa memperdulikan perdebatan or
Anessa tidak pernah menyangka bahwa kabar mengenai promosi jabatannya akan tersebar begitu cepat. Rena, teman kantornya yang terlalu bersemangat, tanpa sengaja mengunggah momen perayaan kecil mereka ke Instagram. Siapa sangka, unggahan itu justru sampai ke tangan orang-orang yang tidak diinginkan, keluarganya.Di rumah, adik Anessa sedang sibuk bermain ponsel saat tanpa sengaja menemukan unggahan tersebut melalui akun Instagram Rena.Matanya membelalak ketika melihat nama Anessa terpampang jelas dalam caption. ["Selamat untuk sekretaris baru CEO kita, Anessa!" ]Ia segera berlari ke ruang tamu dan menunjukkan layar ponselnya kepada ibunya."Bu, lihat ini! Anessa jadi sekretaris CEO!"Sang ibu, yang sedang duduk dengan wajah letih, langsung menegakkan punggungnya. Ia meraih ponsel dari tangan putranya dan menatap layar dengan tidak percaya. "Apa?! Gajinya pasti naik berkali-kali lipat!"Ayah Anessa, yang duduk di samping istrinya, merebut ponsel dan ikut membaca unggahan itu. Ia men
Suasana di ruang rapat utama terasa tegang. Karyawan-karyawan yang berada di dalamnya bertanya ada apa dan tiba-tiba sekali. Semua karyawan sudah duduk dengan rapi di kursi, tetapi suara bisikan semakin menjadi ketika Edward dan Anessa ke dalamnya.Mereka semakin penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Edward dan mengapa ada Anessa yang berdiri di sampingnya?Ada di mana Pak Harto?Pria itu berdiri tegap dengan tatapan mata serius, matanya terus menyapu seluruh ruangan ampai semuanya sunyi tidak bersuara."Selamat pagi menjelang siang, hari ini saya akan mengumumkan sesuatu yang penting bagi perusahaan ini," kata Edward suara menggema ke seluruh penjuru ruangan."Mulai hari ini Pak Harto sudah tidak bekerja di sini dan beliau meminta agar tidak melakukan salam perpisahan dikarenakan ia hari ini berangkat menemui anaknya dan yang akan menggantikan Pak Harto adalah Anessa. Mulai sekarang, dia adalah sekretaris pribadi saya," lanjut Edward yang membuat beberapa orang melongo kage
Fajar baru menyingsing ketika Anessa terbangun dari tidurnya. Perlahan ia mengusap kedua matanya yang masih berat, sisa kantuk masih menggantung di pelupuk matanya.Dengan semangat, ia berjalan ke dapur dan mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkasnya. Anessa mengambil ayam yang sudah dimarinasi semalam, aroma bumbu rempah langsung menyeruak saat ia mengeluarkannya dari kulkas.Hari ini, ia menyiapkan ayam panggang, lengkap dengan nasi hangat, sayuran, dan buah-buah segar.Hampir saja ia lupa mempersiapkan kotak bekal khusus untuk Edward. Mungkin ini adalah bentuk kebiasaan baru, sebagai bentuk tanda terima kasih atas semua yang Edward lakukan untuknya. Dengan cekatan, ia menyelesaikan semuanya tepat waktu. Tidak lupa memasukkan bekal dalam tas, lalu Anessa bergegas mandi dan mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan semalam.Anessa menatap pantulan dirinya di cermin, yang mengenakan rok hitam dengan atasan merah muda. Rambutnya dibiarkan terurai dengan sentuhan gelomba
Malam itu di dalam kontrakan yang terasa semakin sempit oleh tekanan yang menghimpit pikirannya, Shera terduduk di pojokan kamar. Menatap kosong layar ponselnya yang tergeletak di lantai, kembali menampilkan pesan Andrean kali ini dengan nomor lain.["Aku nggak main-main, Sher. Kalau kamu nggak mau gantikan lima puluh juta itu. Aku tidak akan segan membuat hidupmu seperti di neraka. Jangan coba-coba ngilang dariku."]Kepalanya terasa berat, air matanya sudah habis, yang tersisa hanya jejak air mata di wajah yang lelah. Shera meraih ponselnya dan tangannya kembali gemetar menekan tombol blokir kontak tersebut. Ia benar-benar merasa sendirian. Kedua orangtuanya sudah tiada dan satu-satunya orang yang membantunya dulu, kini berubah menjadi seorang yang asing tidak saling mengenal.Tapi, mengingat sikap kasar dan dingin Anessa tadi sore. Membuatnya sangat kesal dan merutuki Anessa sebagai orang yang membuatnya menderita."Kenapa dia berubah?" gumamnya lirih.Shera mengusap kasar wajahnya
Saat Edward sudah lebih dulu pergi ke parkiran, Anessa sedikit ragu untuk menyusulnya. Ia memantapkan langkah kakinya, mencoba agar tidak kelihatan terburu-buru. Begitu sampai di mobil Edward, ia membuka pintunya, tapi belum sempat berkata apa-apa, Edward sudah lebih dulu menyambutnya dengan senyuman tipis."Hari ini aku mau ajak kamu makan lagi. Mau kan?" tanya Edward santai.Anessa sempat terdiam, karena sudah sering Edward mengajaknya makan. Tempat yang mereka kunjungi juga bukan sembarang tempat makan, tapi restoran mahal.Anessa kemudian mengangguk pelan, "Eh? Makan lagi?"Edward terkekeh, "Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kamu sudah menemukan flashdiskku, membuatkanku bekal nasi goreng, dan mengobati lukaku."Anessa mengernyitkan keningnya, "Jadi, kemarin itu ... bukan kode ya? Aku pikir kamu benar-benar ingin aku buatkan."Edward hanya tersenyum, lalu tanpa menunggu lagi, ia menyalakan mobil dan melaju. Selama perjalanan, Anessa mencoba merilekskan pikirannya dan meng
Sudah setengah hari Shera menundukkan kepala terus, demi menghindari tatapan-tatapan penuh selidik dari rekan kerjanya. Sejak insiden Andrean mengamuk tadi, namanya seketika langsung menjadi bahan perbincangan banyak orang. Beberapa orang bahkan berbisik ketika ia berjalan dan sementara beberapa temannya yang biasanya akrab kini tampak menjauh. Ia menghela napas perlahan, berusaha bersikap biasa saja. Namun, semua itu berubah saat seorang staf atasannya mendekatinya. "Shera, tolong ikut saya sebentar ke ruang atasan," pintanya staf itu bernada datar. Shera sedikit terkejut, tetapi ia tidak punya pilihan selain mengikuti langkah kaki staf itu menuju ruang atasan. Langkahnya semakin lama semakin berat, rasa ketakutan itu kian menjalar, membuatnya terasa mual. Ketika ia sampai di depan pintu atasannya, ia menarik napas dalam-dalam dan menyakinkan dirinya bahwa semua akan berjalan baik-baik saja. Ia mengetuk pintu itu dengan pelan dan dipersilahkan masuk oleh atasannya. Keti