Raja Bakir hanya bisa berkata demikian. Dia masih berkuasa sekarang, jadi kekacauan tersebut mungkin tidak akan terjadi. Namun, begitu dia meninggal, Keluarga Juwanto mungkin tidak akan mengakui keputusannya. Raja Bakir benar-benar tidak yakin apakah Keluarga Juwanto akan memahami maksudnya.Sementara itu, Alina hanya bisa mengangguk dan menerima dengan pasrah. Wanita itu pun berkata, "Hamba mengerti.""Baiklah. Kamu sudah boleh pergi," ujar Raja Bakir yang sungguh merasa sangat tidak berdaya.Kemudian, Raja Bakir mengeluarkan dekret untuk mengangkat Jefry sang Pangeran Kelima sebagai putra mahkota dan memerintahkan Jihan untuk mengawasi pemerintahan. Keputusan ini membuat gempar seluruh negeri.Membiarkan seorang wanita untuk memimpin pemerintahan sungguh tidak lazim. Banyak pejabat yang tidak bisa menerima hal ini. Mereka pun segera menyampaikan protes.Bukan hanya itu, kedua penasihat juga sulit menerima keputusan ini. Mereka lebih memilih untuk membantu Yahya daripada membantu Jiha
Pada waktu bersamaan ketika Wira merasa terkejut, dia juga merasa prihatin terhadap nasib malang Raja Bakir. Siapa yang dapat menyangka bahwa dia akan dihadapkan dengan situasi yang begitu sulit?"Tunggu saja ... konflik di ibu kota ini akan memuncak sebentar lagi!" Usai Wira berkata demikian, dia pun melihat ke arah ketiga istrinya.Setelah itu, Wira berbicara untuk mengingatkan Danu, "Mulai hari ini, jangan bertindak sembrono. Kekacauan akan segera terjadi di ibu kota kerajaan. Kita harus menjaga diri kita sendiri. Tolong sampaikan pada Biantara, Mandra, dan Paman Hasan tentang berita ini." Begitu mendengar kata-kata Wira, Danu bergegas untuk menyampaikan kabar ini."Sayang ... apakah situasinya benar-benar akan menjadi kacau?" tanya Wulan yang sangat khawatir.Sementara itu, Wira menjawab sambil tersenyum, "Meskipun akan kacau, semua orang tetap tahu batasan. Bagaimanapun, kalau membuat keributan yang tidak bisa diakhiri, Kerajaan Nuala bisa hancur. Jadi, terlepas dari seberapa kaca
Kumar mendengus, ucapan ini memang benar. Di dunia ini, semua orang tunduk kepada raja, bukan pada ratu. Lagi pula, Jihan tidak seperti Senia yang punya banyak siasat. Jadi, Jihan pasti akan kesulitan untuk mengendalikan pemerintahan.Apalagi kalau Keluarga Juwanto mengacaukan situasi, Jihan pasti akan sulit mempertahankan kedudukannya. Kumar berucap dengan ekspresi dingin, "Hanya saja, aku nggak menyangka Raja Bakir begitu ceroboh."Fahlefi berkomentar, "Raja Bakir memang ceroboh, bisa-bisanya dia membiarkan seorang wanita menjadi raja!"Gibran menimpali, "Dasar Raja nggak berguna!"Kumar menanggapi ucapan putranya, "Nggak berguna? Sepertinya nggak begitu juga."Kedua putra Kumar kebingungan. Salah satu dari mereka bertanya, "Ayah, apa Raja Bakir punya pertimbangannya sendiri?"Kumar mengangguk dan mendengus, lalu menjawab, "Tentu saja, dia pasti membuat keputusan ini setelah mempertimbangkannya untuk waktu yang lama. Bagaimanapun, membiarkan wanita mengendalikan pemerintahan bukan ke
Fahlefi dan Gibran langsung memahaminya setelah Kumar menyelesaikan penjelasannya. Fahlefi berujar, "Benar, kalau Ratu mengendalikan pemerintahan, Yahya hanya menjadi putra mahkota untuk sementara waktu. Saat anak Ratu tumbuh dewasa, posisi Yahya pasti akan digantikan."Gibran menimpali, "Benar, Yahya dan Ratu pasti nggak akan akur. Dengan campur tangan Keluarga Juwanto dan Barus, pemerintahan pasti akan goyah."Kedua putra Kumar seketika mengerti alasan Raja Bakir melancarkan siasat ini. Sebenarnya, mereka berdua pernah memikirkan alasan lain, tetapi tidak pernah menduga hal ini.Kumar menjelaskan, "Sekarang, kalian sudah tahu pemikiran Raja Bakir, 'kan? Raja Bakir pikir dia bisa menstabilkan pemerintahan dengan cara seperti ini. Pemikirannya memang benar, kalau Ratu mengurus pemerintahan, anaknya akan menjadi calon raja. Setidaknya, mereka ada di pihak yang sama.""Kalau kita bertindak, yang menjadi ancaman bukan hanya Ratu, tapi bayinya yang berstatus putra mahkota. Bagaimanapun, si
Kumar menegaskan, "Saat itu, Keluarga Barus pasti akan musnah karena diserang oleh 3 keluarga besar!" Kumar mendengus. Setelah itu, Keluarga Juwanto mulai membuat persiapan.Sementara itu, Keluarga Barus tentu sudah tahu bahwa Jihan yang mengurus pemerintahan. Farrel kaget saat mendengar kabar ini, tetapi Sigra malah merasa gelisah. Farrel berujar, "Ayah, Bibi sudah mengurus pemerintahan. Seharusnya, Keluarga Barus nggak perlu menyembunyikan diri lagi, 'kan?"Selama ini, Keluarga Barus terus bersembunyi. Tiga keluarga besar lain dan keluarga kerajaan juga mengetahui hal ini. Itulah sebabnya, tidak ada yang tahu seberapa besar kekuatan yang disembunyikan Keluarga Barus. Hanya saja, Sigra tetap merasa khawatir.Sigra menjelaskan, "Raja Bakir memang berniat baik, tapi Keluarga Barus sudah menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Keluarga Juwanto pasti nggak akan melepaskan Keluarga Barus dan posisi raja begitu saja. Selain itu, Keluarga Hartono sudah mendukung Keluarga Juwanto. Meskipun Kel
Farrel tertegun sejenak setelah mendengar perkataan Sigra, lalu bertanya, "Ayah, apa maksudmu ... Wira?"Farrel tidak menyangka bahwa Sigra menyuruh dirinya untuk membicarakan hal ini dengan Wira. Kemudian, Sigra mengangguk dan menjawab, "Benar. Farrel, temanmu itu pasti punya pendapatnya sendiri mengenai permasalahan ini. Jadi ... coba temui dia."Meskipun tidak bersedia mengakuinya, Wira memang seorang genius. Sigra benar-benar ingin mendengar pendapat Wira. Farrel menyahut, "Oke, Ayah. Aku akan segera berangkat."Farrel tahu bahwa situasinya sangat genting. Tanpa ragu-ragu lagi, Farrel langsung keluar dari ruang kerja ayahnya, lalu segera pergi dengan menunggangi kuda.Pada saat yang sama, pemerintahan menjadi heboh setelah Raja Bakir menyampaikan dekretnya. Raja Bakir yang sedang sakit tetap menghadiri rapat. Begitu dia duduk di takhtanya, para pejabat pun langsung berebutan untuk mengutarakan pendapat mereka."Yang Mulia, membiarkan Ratu mengurus pemerintahan bukan jalan keluar ya
Raja Bakir berkata lagi, "Aku tahu kalian menentang Ratu mengurus pemerintahan. Tapi, sekarang ... siapa yang bisa mengambil alih tanggung jawab ini? Coba kalian pikirkan baik-baik, aku juga nggak punya cara lain lagi, makanya aku baru membuat keputusan ini. Kalau bisa, aku juga ingin kalian semua yang memerintah Kerajaan Nuala bersama-sama."Para pejabat mendesah setelah Raja Bakir selesai bicara. Tentu saja, mereka tahu maksud Raja Bakir.Raja Bakir melanjutkan, "Tapi, kalian tenang saja. Aku tentu punya pertimbangan sendiri setelah memilih Ratu untuk mengurus pemerintahan. Kalau kalian bersedia bekerja keras demi aku dan Kerajaan Nuala, aku sangat berterima kasih. Tapi, kalau ada yang nggak bersedia tunduk pada perintah Ratu, aku juga nggak memaksa kalian."Raja Bakir menegaskan, "Mulai hari ini, pemerintahan Kerajaan Nuala akan diserahkan kepada Ratu. Kalau ada yang ingin mengundurkan diri, kalian boleh segera melapor dan aku akan menyetujuinya."Tadi, Raja Bakir masih melontarkan
Kepala kasim istana menghampiri Yudha dan berucap, "Panglima Yudha, Yang Mulia menyuruhmu masuk ke istana."Yudha menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk dan menyahut, "Oke!"Di tengah perjalanan, Yudha merasa bimbang. Sebenarnya, dia sudah sering masuk istana, tetapi dia tidak pernah merasa seperti sekarang ini.Sekarang, Raja Bakir sudah sekarat. Namun, perasaan Yudha campur aduk. Saat teringat dendamnya, tentu saja dia berharap Raja Bakir segera mati untuk membalas kematian ayahnya. Hanya saja, sebagai pejabat, dia merasa tidak tenang dengan kondisi saat ini. Bagaimanapun, Raja Bakir adalah penguasa Kerajaan Nuala.Jika Raja Bakir mati, hal ini bukan ... kabar bagus bagi Kerajaan Nuala. Yudha juga tahu bahwa Ratu yang mengendalikan pemerintahan. Apabila wanita yang memegang kekuasaan, takutnya Kerajaan Nuala akan goyah.Awalnya, tindakan Raja Bakir selama beberapa tahun ini sudah membuat situasi di Kerajaan Nuala tidak stabil. Keputusan Raja Bakir kali ini sepertinya akan memperp
Adjie menyipitkan matanya saat melihat nyala obor itu, lalu melangkah maju. "Siapa kalian?"Salah satu pria itu tiba-tiba mencabut goloknya dan meletakkannya di leher Adjie, lalu tersenyum sinis dan berkata, "Hehe. Kamu sedang bercanda ya? Pengungsi? Mana mungkin seorang pengungsi bisa berlari sampai ke sini. Kamu pikir aku bodoh ya? Semua pengungsi berada di selatan."Ternyata situasinya memang seperti dugaan Adjie. Dia langsung tersenyum sinis dan berkata, "Hehe. Siapa yang bilang semua pengungsi ada di selatan? Dasar bodoh!"Melihat Adjie masih berani membantahnya, ekspresi pria itu menjadi panik dan langsung mengayunkan goloknya.Namun, Adjie langsung menghindari serangan itu dan merebut golok dari tangan pria itu, lalu langsung mengarahkannya ke leher pria itu. "Hehe. Maaf, ternyata kemampuanmu hanya begitu saja. Kalau bukan karena aku sudah membunuh seseorang dan dikejar orang-orang itu, aku juga nggak sudi datang ke tempat ini."Mendengar perkataan itu, pria lainnya di samping y
Adjie tertegun sejenak saat mendengar pertanyaan itu, lalu tersenyum dan berkata, "Hehe. Tuan, ini nggak perlu. Kalau aku membawa orang lain, justru akan lebih merepotkan. Lagi pula, kalau hanya aku sendirian saja, aku bisa bergerak dengan lebih fleksibel."Wira pun menganggukkan kepala. Setelah selesai mengatur semuanya, dia menepuk bahu Adjie dan berkata, "Baiklah, sekarang kamu pergi bersiap-siap dulu. Nanti baru temui aku lagi.""Baik," jawab Adjie, lalu segera keluar.Setelah Adjie pergi, Wira menatap peta di depannya dan menghela napas. Ini mungkin bisa berhasil jika semuanya berjalan sesuai rencananya, tetapi dia masih ragu apakah Adjie bisa merebut Desa Riwut ini. Meskipun dia tidak begitu paham dengan situasi di sana, kabarnya para perampok di sana sangat kejam. Dia juga tidak yakin apakah para perampok itu berani menghadapi pasukan utara.Saat Wira masih tenggelam dalam pemikirannya, waktu sudah berlalu sekitar setengah jam. Saat tirai tenda kembali terbuka, dia langsung terk
Mendengar hal itu, Adjie menganggukkan kepala. Setelah semuanya sudah diputuskan, langkah selanjutnya akan lebih mudah. Namun, sekarang mereka tetap harus menyusun rencananya secara menyeluruh sebelum menjalankannya.Pada saat itu, Adjie yang masih menatap lokasi Desa Riwut pun berkata, "Sebelumnya aku nggak memperhatikan tempat ini. Tapi, setelah melihatnya lagi, tempat ini memang cukup strategis."Keduanya pun menganggukkan kepala karena lokasi Desa Riwut ini menang strategis. Jika mereka bisa menguasai tempat ini, berarti mereka sudah menguasai jalur utama musuh. Selain itu, jika musuh ingin menguasai kota-kota di sekitar, musuh mereka juga harus melewati Desa Riwut ini terlebih dahulu.Setelah berpikir sejenak, Adjie memberi hormat dan berkata, "Kalau ini perintah Tuan, aku akan mengikutinya. Tapi, kapan aku harus berangkat?"Wira langsung menjawab, "Malam ini adalah waktu terbaik dan menguntungkan kalian juga. Tapi, sebelum pergi, kamu harus mengubah identitasmu dulu."Adjie yang
Setelah berpikir sejenak, Adjie berkata dengan pelan, "Kalau begitu, aku rasa boleh mencobanya. Tempat ini punya celah yang begitu besar, jadi ini benar-benar peluang yang bagus."Wira menganggukkan kepala karena dia juga merasa strategi ini cukup bagus karena Pulau Hulu ini memiliki tiga celah yang terbuka. Jika bisa menguasai celah ini, mereka bisa menjebak musuh di dalamnya. Meskipun pasukan utara bisa memiliki kemampuan untuk bergerak cepat, mereka tetap akan kesulitan untuk melarikan diri.Setelah mengamati jalur di sekitar Pulau Hulu, Wira menggerakkan jarinya ke atas peta dan berkata sambil menunjuk pada sebuah lokasi di bagian selatan Pulau Hulu, "Kamu lihat tempat ini."Adjie tertegun sejenak. Setelah melihat lokasi yang ditunjukkan Wira, dia berkata dengan pelan, "Tempat ini adalah Desa Riwut, markas besar sekelompok perampok besar. Tapi, apa hubungannya tempat ini dengan pasukan utara?"Wira tersenyum. Desa Riwut ini memang tidak memiliki hubungan dengan pasukan utara. Namun
Setelah memikirkannya, Wira berkata dengan pelan, "Soal urusan ini, nggak ada yang perlu dikatakan lagi. Kali ini kalian sudah menyelesaikan tugas dengan sangat baik, kamu ingin hadiah apa?"Mendengar pertanyaan itu, Latif segera berkata, "Semuanya terserah Tuan saja."Setelah berpikir, Wira perlahan-lahan berkata, "Kalau begitu, aku akan mengangkatmu sebagai letnan jenderal dari ketiga tim pasukan itu. Mulai sekarang, kamu akan selalu berada di sisiku. Bagaimana?"Begitu mendengar perkataan itu, Adjie merasa sangat gembira. Dia tahu masa depannya lebih prospektif jika mengikuti Wira daripada memimpin pasukan di medan perang. Lagi pula, jika saat ini mereka bisa menangani situasi ini dengan baik, pasti akan mendapatkan pencapaian yang besar. Menurutnya, berada di sisi Wira adalah pilihan terbaik.Tanpa ragu, Adjie langsung memberi hormat dan berkata, "Terima kasih, Tuan."Wira langsung tersenyum dan berkata, "Hehe. Baiklah. Kalau begitu, sekarang kamu bisa langsung membuktikan dirimu.
Mendengar perkataan itu, semua orang tertegun sejenak.Melihat tidak ada yang berbicara, Wira langsung mengalihkan pandangannya pada Nafis dan Hayam. Saat Agha berniat memimpin pasukan, dia langsung memberikan lima ribu pasukan. Sementara itu, dia merasa Adjie lebih cocok menjadi penasihat militer dan kurang berpengalaman dalam memimpin pasukan di medan perang. Namun, pada saat kritis, Adjie tetap bisa diandalkan.Setelah berpikir sejenak, Wira berkata sambil menatap Nafis dan Hayam, "Bagaimana dengan kalian berdua? Siapa yang bersedia memimpin pasukan?"Nafis dan Hayam langsung saling memandang.Setelah berpikir sejenak, Hayam tersenyum dan berkata, "Tuan, lebih baik aku tetap memimpin 500 pasukan. Kamu juga tahu aku lebih cocok dengan tugas seperti menyergap dan membunuh diam-diam ini. Kalau urusan bertempur, lebih baik orang lain yang menanganinya saja.""Menurutku, lima ribu pasukan yang tersisa ini lebih baik langsung serahkan pada Nafis saja. Tuan sendiri juga sudah lihat bagaima
Saat ini, Wira tidak bersemangat untuk bersenang-senang dengan para prajurit lainnya. Dia khawatir bagaimana mereka harus menghadapinya jika pasukan utara kembali menyerang.Pada saat itu, Latif langsung masuk ke dalam tenda itu. Melihat Wira yang masih sibuk, dia maju dan berkata, "Tuan, kita sudah berhasil merekrut beberapa pengungsi untuk bergabung dengan pasukan kita. Sekarang jumlah pasukan di barak pusat sudah hampir mencapai 15 ribu orang."Wira merasa terkejut saat mendengar kabar jumlah pasukan sudah sebanyak itu. Menurutnya, lima sampai enam ribu pasukan saja sebenarnya sudah cukup. Namun, dia tidak menyangka jumlah pasukannya bisa meningkat menjadi puluhan ribu orang setelah merekrut para pengungsi itu.Memikirkan hal itu, Wira tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, urusan lain akan menjadi lebih mudah. Tapi, sekarang kita harus mencatat jumlah pasukan kita dengan detail dulu. Sebenarnya 15 ribu orang termasuk terlalu banyak, kita harus membagi mereka agar lebih mudah diatur.
Mendengar perkataan Trenggi, Wira merasa saran itu sangat masuk akal. Setelah berpikir sebentar, dia tiba-tiba teringat sesuatu dan berkata dengan pelan, "Kalau kita melakukan ini, sepertinya akan cukup merepotkan. Bagaimana kondisi para pengungsi itu sekarang?"Trenggi baru teringat sesuatu saat mendengar pertanyaan itu dan berkata, "Tempat tinggal untuk para pengungsi itu sudah mulai diatur, sepertinya mereka sangat dendam pada pasukan utara."Mendengar laporan itu, Wira menganggukkan kepala. Dia berpikir jika para pengungsi itu memang membenci pasukan utara, dia mungkin bisa langsung merekrut mereka menjadi pasukannya. Dengan begitu, semuanya akan menjadi lebih mudah.Namun, ada masalah lain yang lebih merepotkan, yaitu para pengungsi itu sulit untuk diatur. Jika ditangani dengan baik, hal ini justru akan menimbulkan kekacauan.Pada saat itu, Wira pun berkata dengan pelan, "Kalau begitu, aku serahkan tugas ini pada kalian. Pertama-tama, harus mengatur kembali para pengungsi ini dulu
Mendengar perkataan itu, semua orang tersenyum. Beberapa saat kemudian, orang-orang yang menyaksikan kejadian itu pun perlahan-lahan berkata, "Sebelumnya kita nggak yakin. Tapi, dilihat dari situasi sekarang, sepertinya semuanya berjalan dengan baik. Hanya saja, nggak disangka kita akan meraih kemenangan besar ini dengan begitu mudah."Kebanyakan orang yang mendengar perkataan itu juga ikut tersenyum.Setelah orang-orang itu selesai berbicara, Wira yang berada di samping pun tersenyum dan berkata, "Baiklah. Percepat laju pasukan, kita segera kembali ke gerbang kota."Setelah semua orang menganggukkan kepala, Wira segera memacu kudanya ke depan. Para jenderal di belakangnya juga segera mempercepat langkah mereka untuk mengikutinya. Saat tiba di gerbang kota dan melihat Trenggi bersama para pasukannya keluar dari kota untuk menyambut mereka, dia langsung maju dan berkata, "Aku nggak menyangka kalian begitu cepat menerima kabarnya."Mendengar perkataan itu, Trenggi tersenyum dan perlahan-