Acara berjalan dengan lancar. Maya merasa lega. Banyak pihak yang tertarik untuk menjadi bagian pada proyek baru perusahaannya. Bahkan juga ada investor asing yang ingin ikut terlibat.
Pak Robert terlihat bangga dengan Maya. Yang mampu menggiring audiens dengan apik.
"Terima kasih Maya. Banyak yang tertarik untuk investasi," kata Pak Robert.
"Itu juga karena presentasi Bapak yang memukau" balas Maya
Usai ramah tamah, para undangan sudah banyak yang bersiap pulang. Mereka berpamitan satu per satu kepada Pak Robert. Sebagian juga bersalaman dengan Maya.
Yonathan tampak masih bersantai dengan salah satu rekan bisnisnya. Bahkan sampai orang tersebut pulang, Yonathan belum juga berpamitan.
Melihat hal itu, Maya berinisiatif untuk segera meninggalkan lokasi itu terlebih dahulu. Apalagi acara sudah selesai. Namun langkahnya dicegah oleh Pak Robert.
"Maya, kamu ke mana? Kalau kembali ke kantor sama saya saya," ujar Pak
"Bukankah kalian bertunangan?" tanya Pak Robert. Deg. Jantung Maya hampir saja copot. Dia segera memegangi dadanya yang terasa nyeri di ulu hati. Letih tapi tidak berdarah. "Mengapa mendengar Jonathan sudah memiliki tunangan rasanya sesakit ini? " bisik Maya dalam hati. Belum sempat Jonathan menjawab pertanyaan Pak Robert, Maya sudah tidak tahan. Dia ingin segera menenangkan hatinya yang tiba-tiba begitu sakit "Pak maaf saya mohon ijin ke toilet dulu," ujar Maya segera bangkit dari tempat duduknya. Dia lalu berjalan dengan cepat bahkan setengah berlari meninggalkan ruangan tersebut. Dia ingin segera kabur dan berharap tidak bertemu dengan Jonathan lagi. Sesampainya di toilet Maya tidak buang air kecil ataupun air besar. Karena memang tujuannya bukan untuk itu. Dia ingin menenangkan diri saja Dia hanya berdiri di depan westafel, memandangi wajahnya yang pias. Matanya tiba-tiba berembun. Ada aliran
Maya merasa tidak asing dengan mobil tersebut Tidak lama kemudian pemilik mobil membuka kaca jendela kirinya. Betapa kagetnya Maya melihat orang yang duduk di kursi kemudi. "Bukankah itu," ucapnya tanpa bisa meneruskan kata-katanya. "Maya," panggil pemilik mobil itu. Maya pura-pura tidak mengenal. Dia justru mempercepat langkahnya untuk segera pulang ke rumah. Beberapa kali mobil sport tersebut membunyikan klakson. Namun Maya tetap tidak menghiraukan. Sampai kemudian dia menghilang masuk gang menuju rumah kostnya Ternyata mobil tersebut juga tetap mengikutinya. Anehnya saat dia masuk rumah, mobil tersebut tidak ikut berhenti. Namun tetap melaju ke gang berikutnya. Maya merasa lega. Ia langsung menuju kamarnya dan merebahkan diri. Setidaknya untuk kali ini dia akan dari kejaran Jonathan. "Seharusnya tadi aku tidak usah lari dan pura-pura tidak kenal," ada sedikit sesal di hatinya. Namun saat dia men
"Hadiah dari Aunty nanti biar Uncle yang membelikan Farel." Terdengar suara bariton yang berada di belakang Maya. Dan Maya sudah sangat hapal pemilik suara itu. Namun dia tidak berani menoleh ke arah sumber suara. Maya memilih berlalu dari tempat tersebut. "Farel, aunty bantu mama di belakang dulu ya," ujarnya kepada remaja tersebut. "Iya, Aunty," jawab Farel. "Pak Robert, Pak Jonathan, saya ijin ke belakang," ujar Maya berpamitan. Tanpa menunggu jawaban dari keduanya. Maya langsung menuju ke belakang. Ternyata untuk tamu perempuan dipisah dengan tamu laki laki. Untuk bagian depan di ruang tamu di tempati temu laki-laki. Sedangkan untuk tamu perempuan lesehan di ruang keluarga. Maya merasa aman dengan konsep tersebut. Setidaknya dia bisa menghindari dari Jonathan untuk beberapa saat. Meskipun masih berada di rumah Yeng sama Tepat pukul 19.00 acara dimulai. Tidak banyak undangan. Tanya sekitar 100 orang.
Setelah berpamitan, Maya dan Jonathan masuk ke dalam mobil. Tanpa diduga Maya, Jonathan membukakan pintu untuknya. Sekaligus menutupnya. Dia jadi ingat waktu dulu mereka pernah menjadi pacar pura-pura. Hal itu pula yang dilakukan Jonathan kini.Beberapa saat keduanya tampak canggung. Ini memang pertemuan keempat mereka setelah Maya kabur dari rumah Jonathan. Namun baru kali ini mereka benar-benar hanya berdua saja.Anehnya Jonathan tidak lagi bertanya di mana alamat kost Maya. Dengan lancar dia mengemudikan mobil sportnya membelah keramaian ibu kota."Kamu tidak bisa lagi lari dariku Maya," ujar Jonathan.Maya menunduk. Air matanya jatuh. Sulit untuk mendefinisikan ini adalah air mata bahagia atau sebaliknya. Ya, Maya memang sangat bahagia untuk saat ini. Bisa duduk berdampingan dengan pria yang dicintainya dalam diam.Di sisi lain dia juga sangat bersedih. Karena dia memiliki harapan yang berlebih untuk hubungan mereka. Padahal Maya su
Pintu rumah kost sudah dikunci. Karena jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Ini rekor pulang paling malam bagi Maya. Sebelum ini, dia pulang paling malam pukul 22.00. Itu saat Maya kuliah dan ada tugas yang harus diselesaikan.Beruntung setiap anak kost diberi tiga kunci. Yakni kunci pagar, kunci rumah kost dan satu lagi kucing kamar masing masing. Sehingga jam berapa pun anak kost pulang tidak merepotkan satu sama lain.Saat Maya hendak masuk kamar ternyata Adel juga sedang membuka pintu kamarnya. Tampaknya dia juga baru pulang kuliah dan mengerjakan tugas."Maya," teriaknya sambil berbisik. Agar tidak mengganggu penghuni kamar lainnya.Maklum di kost tersebut ada 20 penghuni. 10 orang di kamar atas dan 10 lainnya di lantai satu. Maya dan Adel mendapat kamar yang di lantai 2. Meskipun kamar mereka tidak berdekatan.Maya hanya melambaikan tangan. Seraya membuka daun pintu dengan kunci di tangannya. Sedangkan tangan lainnya memegang sebuah
Namun belum sempat Maya searching, sebuah notifikasi masuk dari nomor yang tidak dikenal.Sebuah pesan dia baca."Aku sudah menunggumu di bawah. (Jonathan)"."Apa?"" teriak Maya histeris.Maya langsung mengetik di handphone nya untuk memberi jawaban . "Aku belum mandi. Daripada kelamaan menunggu, pulang saja," usir Maya.Jonathan tidak terima. Dia langsung melakukan panggilan video. Beberapa kali Maya me-reject panggilan tersebut. Namun dia tidak putus asa. Sampai akhirnya Maya menerimanya."Turun dulu sebentar," ujar Jonathan. Kemudian telepon ditutup.Dengan malas-malasan Mays turun ke bawah. Dengan pakaian seadanya. Sebuah piyama panjang dan atasan sebatas siku. Dan rambut yang dicepol asal-asalan.Dia berharap Jonathan akan membenci dirinya melihat penampilannya yang acak-acakan baru bangun tidur. Dia juga mengira Jonathan hanya mampir sesaat saja. Sehingga tidak perlu berpakaian rapi."
"Mas, Mbak," terdengar suara yang memanggil Maya dan Jonathan saat mereka duduk di kursi taman.Keduanya menoleh ke arah gadis kecil. Ternyata dia membawa dompet Maya yang tidak sengaja jatuh saat mereka berjalan. "Ini dompet mbak, tadi aku lihat jatuh," ujar gadis kecil itu.Maya segera meraihnya. Dan mengechek isinya. Memang benar itu dompetnya. Dan isinya tidak berkurang sedikit pun."Terima kasih adik baik. Ini kakak punya hadiah untukmu,"ujar Jonathan seraya menyerahkan dua lembar uang berwarna pink kepada gadis itu."Terima kasih kakek ganteng," ujarnya seraya pergi."Masih kecil udah tahu cowok ganteng," bisik Maya di telinga Jonathan."Kamu cemburu?" goda Jonathan.Pagi yang cerah. Secerah hati keduanya. Maya dan Jonathan berjalan bergandengan di sepanjang trotoar taman nasional itu. Dunia serasa milik berdua. Dan yang lain mengontrak."Kita cari sarapan yuk," ajak Jonathan."Ayuk. Aku juga sudah lapa
Saat mereka menonton film di bioskop, seseorang tampak memperhatikan Maya."Kamu Maya kan?" tanya laki-laki itu.Mata awalnya kebingungan karena ruangan yang agak gelap membuat dia tidak leluasa mengenali pemuda itu."Ya ampun Hengky ya?" tanya Maya. Dia masih ingat saat awal mereka melamar bekerja di resto. Hengki adalah teman pertamanya.Hengky mengangguk."Sama pacarmu?" tanya Maya seraya melirik perempuan yang duduk di sebelah Hengky."Iya. Kalau ini pacarmu juga?" tanya Hengky sambil melihat ke arah Jonathan.Belum sempat Maya menjawab. "iya, saya Jonathan pacar Maya," ujar Jonathan sambil mengulurkan tangannya.Karena film segera dimulai. Hengky kembali lagi ke tempat duduknya bersama pacarnya .Setelah acara nonton, Maya minta untuk pulang. Sebenarnya Jonathan tidak setuju, karena dia masih ingin menghabiskan waktu seharian bersama Maya. Bahkan kalau perlu sampai malam."Aku besok kerja Jonathan
Jonathan kecil tampak begitu bahagia. Dia membalas pelukan papanya dengan erat. "Horee, Papa sudah datang." Teriaknya histeris.Berputar putar mengelilingi toko yang mulai sepi karena hendak tutup. Sedangkan Jonathan besar tanpa menunda langsung memeluk kekasih hatinya itu. Segala rindu dia tumpahkan malam itu Sedangkan Maya awalnya sedikit malu malu dan khawatir dengan status Jonathan. Karena terakhir kali dia mendengar informasi dari satpam bahwa Jonathan sedang dalam persiapan menikah dengan gadis Eropa. "Mas, sudah. Tidak enak dilihat anak-anak. Lagian nanti ada yang cemburu lho," ujar Maya seraya mengurai pelukan Jonathan besar."Siapa yang cemburu? Apakah kamu sudah memiliki pacar?" tanya Jonathan sedikit ragu. Kalau suami, dari informasi yang dia dapatkan, Maya tidak sedang menikah dengan siapapun. Namun bisa jadi dia sedang menjalin hubungan dengan laki-laki lain untuk me jadi ayah tiri buat Jonathan yunior. Hal ini yang tidak dia pikirkan selama ini. Jonathan hanya berpik
"Tolong dikirimi list foto-fotonya ya," jawab Jonathan.Tidak beberapa lama kemudian belasan foto contoh buket bunga dikirim ke nomor Jonathan. Jonathan sendiri bingung mana yang harus dia pilih. Karena menurutnya semua bagus."Apakah semua bunga ini dirangkai sendiri oleh pemilik toko?" tanya Jonathan."Dulu begitu، namun sejak ada pegawai ibu sudah jarang ikut merangkai sendiri. Hanya bantu kalau toko ramai saja," jawab nomor tersebut."Boleh tahu nama pemilik tokonya siapa ya?" tanya Jonathan."Ibu Maya."Deg. Namun Jonathan sendiri tidak tahu nama panjang kekasihnya itu, jadi percuma juga dia menanyakan nama panjang Maya. Malah membuat penyidikannya diketahui saja."Oh ya ya, pernah sekali saya ke toko antar mama pesan bunga. Itu Bu Maya yang sudah memiliki anak laki-laki kecil itu ya?" tanya Jonathan."Anda benar sekali," jawab admin toko."Lucu dan ganteng. Sampai saya pingin mencubit pipinya," kata Jonathan."Banyak customer toko kami yang bilang begitu. Semua gemes gemes sama
Lima tahun kemudian...."Mama, mama belikan es krim itu dong," teriak seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun di taman balau kota. "Di rumah kan sudah banyak es krim, mengapa harus beli lagi?" tanya seorang perempuan berusia sekitar 27 tahun yang merupakan ibu dari anak itu Tidak jauh dari ibu dan anak tersebut, seorang laki-laki mengamati dengan takjub. Disampingnya ada perempuan paro baya, yang merupakan ibu dari laki-laki dewasa itu."Mama kok merasa wajah anak kecil itu sangat familier ya. Tapi siapa?" tanya perempuan paro baya yang rambutnya hampir separuhnya beruban.Laki-laki dewasa disampingnya menoleh. Memandang ke arah yang ditunjuk sang mama. Deg.Dia sangat hapal dengan wajah perempuan yang menjadi mama dari bocil imut itu. "Bukankah, bukanlah itu...""Siapa Jo? Kamu mengenalnya?" tanya sang mama."Oh maaf bukan Ma, justru Jo melihat anak kecil itu mirip dengan fotoku saat kecil," ujar laki-laki dewasa yang ternyata adalah Jonathan."Hmm masak sih. Iya juga ya.
Sementara itu di Jerman, Jonathan uring-uringan. Dia mulai merasakan bahwa papanya sengaja mengirimnya ke Jerman untuk dijodohkan dengan Caroline. Bahkan Caroline sendiri tampak aktif untuk mendekati Jonathan."Ma, maksud papa ini apa sengaja menjebak saya untuk dijodohkan dengan Caroline. Jo tidak mau Ma. Jo sudah punya pacar," kata Jonathan saat menelepon mamanya. "Jo, dengarkan dulu. Tidak ada ceritanya orang tua yang ingin menjebak anaknya. Semua orang tua itu ingin memulihkan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk untukmu. Apalagi kamu anak tunggal," jawab mamanya di tanah air."Ingat Ma, kalau untuk urusan kerja,oke. Tapi kalau untuk perjodohan,no way" tegas Jonathan sambil menutup panggilan telepon.Nyonya Mulia sedang sarapan pagi dengan suaminya saat Jonathan telepon. "Ada apa dengan Jonathan, Ma?" tanya Tuan Mulia."Biasa curhat," jawab Nyonya Mulia. Dia tidak ingin Jonathan akan terlalu dipaksa dalam perjodohan yang memang sudah mereka rencanakan ini.Memang Nyonya Mulia jug
Maya menyeret kopernya keluar unitnya. Dia membuka pintu dan mengunci dari luar. Sesaat dia memandang dari luar, menitikkan air mata. Tempat yang membuat dirinya sempat melambung, namun kini terhempas ke dasar lembah yang paling dalam."Selamat tinggal," bisiknya lirih.Surat pengunduran diri dan surat untuk Adel sudah dia letakkan di atas meja makan. Agar Adel dengan mudah menemukan. Setelah mengunci apartemennya, dia menuju lift dan turun ke loby. Dia menuju ke resepsionis untuk menitipkan kartu masuk unitnya di sana. Sebab, apartemen tersebut adalah fasilitas perusahaannya. Sehingga pastinya cepat atau lambat akan diminta kembali perusahaan, seiring dengan kepergian dirinya. Dengan pengunduran dirinya."Mbak nitip kartu akses ya. Mungkin nanti akan ada temanku yang mengambilnya," kata Maya.Setelah itu dia memesan taksi online yang akan membawanya ke stasiun terdekat. Maya sudah memiliki kota tujuan yang ingin dia datangi. Yakni Kota Baru Malang. Di sana merupakan kota wisata. Ud
Mobil taksi online segera meninggalkan rumah tersebut. Maya memandang sekilas rumah yang dulu pernah dia tinggali sebulan. Berharap bisa melihat Jonathan di sana. "Sekuriti tersebut tidak berbohong, pasti saat ini Jonathan sedang berbahagia menyambut hari pernikahannya bersama gadis bule," batin Maya. Dadanya terasa sesak mengingat itu. Sampai taksi yang dia tumpangi sampai di bundaran air mancur di tengah tengah perumahan itu. Posisi taman air mancur tersebut memang di tengah tengah perumahan, sehingga siapapun yang masuk ke perumahanku itu akan melewatinya. Demikian juga saat keluar nanti."Pak, boleh berhenti beberapa menit di sini,"ujar Maya masih dengan suara habis menangis.Tanpa menjawab sopir taksi tersebut menepi dan mobil benar-benar berhenti. Maya tidak keluar, tapi hanya memandang air mancur tersebut dari mobil. Kaca jendelanya dia buka. Sehingga dia bisa menghirup udara segar dibawah rerimbunan pohon yang tumbuh sepanjang jalan. Pohon trembesi. Yang terkenal mampu mengi
Maya memejamkan mata. Namun pikirannya justru melayang kemana-mana. Bahkan dia tidak mandi atau mengganti pakaian kerjanya untuk beberapa saat."Akh, mungkin berendam di air hangat membuat pikiranku lebih fresh," ujar Mata sambil melangkah ke kamar mandi.Benar saja, dia berendam di sana. Dalam waktu yang cukup lama. Bahkan hampir satu jam. Bahkan Adel yang mencari Maya untuk diajak makan malam sempat khawatir sahabatnya itu pingsan di kamar mandi."Maya, kamu di kamar mandi kah?" tanya Adel.Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Barulah panggilan ketiga Maya baru menyahut."Iya, aku di dalam," jawab Maya."Syukurlah. Khawatirnya kamu pingsan lagi."Tidak lama kemudian, Maya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih bugar. "Aku sudah pesan makanan untuk kita berdua," kata Adel."Kamu memang sahabat terbaik.""Aku pesan nasi goreng. Semoga kamu suka," kata Adel lagi."Pasti suka. Kita belum sempat makan sejak siang tadi," kata Maya."Iya, aku sendiri tidak tega meninggalkanmu m
Tidak lama setelah itu, mobil perusahaan disiapkan untuk membawa Maya ke rumah sakit. Bagaimanapun juga kejadian ini terjadi di kantor saat Maya bekerja. Sehingga dihitung sebagai kecelakaan kerja. Adel ikut mengantar Maya ke rumah sakit. Setelah ditangani di UGD lalu dibawa ke ruang perawatan. Di sana Maya baru siuman. Adel ingat saat suster meninggalkan ruangan terserah sempat berpesan, apabila pasien sadar untuk segera menghubungi perawat dengan menekan tombol yang tidak jauh dari tempat tidur Maya. Adel menekan tombol itu.Tidak beberapa lama seorang perawat datang. "Ada yang bisa dibantu?" tanya perempuan berbaju dan rok sebatas lutut berwarna putih itu dengan rambut diikat rapi ke belakang. Di atas rambutnya ada topi kecil. Tampak rapi."Pasien bangun Suster," kata Adel."Syukurlah. Habis ini akan ada dokter jaga yang melakukan visite ke mari. Anda bisa bertanya seputar masalah sakitnya pasien," ujar Suster tersebut kepada Adel."Apa saya tidak boleh bertanya sesuatu Suster?"
Pagi itu Maya bangun dengan malas. Dia merasakan tubuhnya kurang enak badan. Malas beraktivitas dan dada serta perutnya terasa penuh."Apa yang salah denganku?" batinnya.Namun, dia berusaha beranjak bangun dan menuju ke kamar mandi. Menyalakan shower air hangat untuk mandi. Agar tubuhnya bisa kembali bersemangat untuk menjalani aktivitas hari ini.Baru saja dia melepas pakaiannya untuk mandi, perutnya terasa mual. Huek huek huek.Dia menuju wastafel dan menumpahkan isi perutnya di sana. Namun karena belum makan apapun tidak ada yang keluar dari mulut Maya, selain air yang agak berwarna kuning. "Sepertinya aku masuk angin. Maklum cuaca begitu dingin di luar di bulan Juli ini," kata Maya.Usai mandi dan berganti baju, Maya berencana ke dapur. Seperti biasa, dia ingin menyiapkan sarapan pagi. Sebelum itu dia ingin membuat minuman jahe panas agar tubuhnya sedikit hangat. Baru saja dia memanaskan air dan menuang serbuk jahe instan di gelas, perutnya kembali mual. Dia kembali ingin memun