Share

Bab 28

Author: Naomi Ataya
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56

Kuabaikan saja pesan dari Lia, lalu memutuskan pergi ke kamar. Fisik dan psikisku sudah benar-benar lelah dihantam badai halilintar, memejamkan mata sejenak sepertinya bisa membuatku sedikit tenang. 

Usai membersihkan diri dan memakai piyama, aku merebahkan diri di ranjang empuk. Mata yang semula ingin segera terpejam, kini terbuka lebar karna teringat sesuatu. 

"Astaga kenapa aku bisa lupa!" gumamku. 

Karena terlalu banyak kesibukan, aku sampai lupa membawa rambut Kikan dan Mas Hanif ke rumah sakit untuk melakukan test DNA. Aku melirik jam dinding, hari sudah malam rasanya tak mungkin jika aku pergi ke rumah sakit sekarang. Lebih baik besok saja, semoga saja Lia dan Mas Hanif belum melangsungkan pernikahan. 

Ting! 

Sebuah pesan masuk ke ponselku, Ibu mengirim sebuah video. Kubuka video berdurasi duapuluh menit itu. 

"Mas, aku enggak mau tahu pokoknya secepatnya nikahi aku!" rengek Lia, seraya menatap Mas Hanif.

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   Bab 29

    "Kamu dapat informasi ini dari mana?" tanyaku."Ya dari teman-temannya Ilham, bahkan Ilham itu dengan percaya dirinya menceritakan tentang Lia. Kebetulan salah satu teman Ilham itu istrinya bekerja di perusahaanku, jadi bisa kuulik-ulik."Raisa ini sudah seperti detektif, bahkan ia mencari sampai ke akar-akarnya."Makasih ya, Sa. Padahal kamu itu sahabatnya Mas Hanif, tapi malah berdiri di kubuku."Raisa tersenyum simpul, "sekalipun Hanif sahabatku, aku tak akan membela jika dia memang terbukti salah.Dia merangkulku. "Semangat ya, calon single parent!""Kamu ini nyemangatin atau ngejek aku yang mau jadi janda sih?" sungutku membuatnya tergelak."Ngejek dikit sih,"Kami tertawa bersama, membuat penat dihatiku hilang sejenak. Raisa mengajakku untuk makan siang bersama, dia juga bercerita tadi malam ibu mertuaku menangis menelponnya karena kutinggal pergi."Di sini beli

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   Bab 30

    "Maafkan Mama ya, anak-anak. Karena Mama, kalian merasakan kesedihan terus," ucapku menjadi mellow.Aldi berdiri, lalu memelukku. Entah kenapa, rasanya sesak yang selama ini kutahan, akhirnya meluap juga saat anak laki-lakiku memelukku."Mama tenang, kami tak apa. Kini semua sudah selesai. Kita sudah pindah rumah, saatnya memulai lembaran baru. Mama tak perlu khawatir sendirian, karena ada Aldi dan Anna yang selalu siap siaga menjaga Mama."Aku mengangguk. Tak terasa aku sudah semakin tua, karena anakku sudah dewasa. Terasa masih kemarin mereka masih anak-anak, kini sudah bisa menghibur dan jadi tempat curhatku. Terima kasih, anak-anak.Pagi ini, Anna tak mau berangkat sekolah. Meski sudah tahu alasannya, aku tak ingin langsung menembak begitu saja. Kuajak bicar dari hati ke hati, anak gadisku ini."Kenapa, Sayang?" tanyaku."Nggak papa, Ma. Lagian kan beberapa hari lagi

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   Bab 31

    [Van, di mana alamatmu?]Sebuah pesan masuk dari Ibu. Aku bimbang, haruskah kuberi alamatku di sini? Atau nanti saja saat semuanya sudah clear?[Ayahmu datang. Ibu bingung harus menjawab apa?]Badanku mendadak tegak. Bingung harus berbuat apa? Ayah ke rumah? Kenapa tak menghubungiku lebih dulu?[Bilang saja kalau Vania lagi main ke luar sama anak-anak, Bu. Nanti sore, Vania dan anak-anak akan ke rumah Ayah.] balasku pada akhirnya.Lama tak ada balasan lagi, sepertinya Ibu sedang berbicara dengan Ayah. Yah, semuanya sudah begini, apa lebih baik aku jujur saja pad orang tua tunggalku itu? Terlebih, sekarang Ayah sedang berada di rumah Ibu. Sudah pasti beliau melihat Lia ataupun Kikan, dan akan menjadi pertanyaan dalam benak beliau."Kenapa, Ma?" tanya Anna."Kakek kalian datang. Nanti sore, kita ke rumah Kakek, ya?""Oke, Ma.""Aldi n

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 32

    [Hanif dan Lia akad nikah hari ini, Van.]Aku menatap layar ponsel dan surat hasil test DNA secara bergantian. Hari ini aku mendapatkan dua kabar yang sangat mengejutkan. Jemariku meremas kertas di tangan, entah keterangan di surat ini benar atau tidak aku tak tahu.Aku menghirup oksigen banyak-banyak, berusaha menetralkan diri yang dikuasai emosi.Setelah mengucapkan terima kasih pada Alvita, aku bergegas pergi meninggalkan rumah sakit. Ada yang berbeda dari gerak gerik Alvita, ia seolah menyembunyikan sesuatu, sejak tadi tatapan matanya padaku tersirat rasa bersalah.Tapi entahlah, aku tak mau memikirkan itu dulu. Lebih baik aku menyusun strategi baru untuk mengacaukan akad nikah Mas Hanif dan gundiknya.Ponselku kembali berdering, tertera nama ibu di sana. Untuk apa lagi beliau menelpon? Ingin membuatku semakin sakit hati kah? Bukankah sedari awal beliau adalah dalang dari masalah ini. Seandainya dulu, beliau tak menghala

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 33

    Setelah berhasil mengacaukan pernikahan Mas Hanif dan Lia aku pamit undur diri, ponselku sejak tadi dipenuhi notifikasi pesan dari teman-temanku yang menanyakan tentang kebenaran video yang tersebar di sosial media.Belum sampai satu jam, video itu sudah banyak yang membagikannya. Terlebih caption yang dibuat Ibu benar-benar menarik perhatian mamak-mamak pembasmi pelakor."Kamu akan hancur perlahan-lahan, Mas. Bahkan sebelum tangan ini bergerak, ada tangan lain yang menjatuhkanmu."Kulajukan mobil menuju salah satu rumah sakit cukup terkenal, aku akan kembali melakukan test DNA, beruntungnya aku memiliki dua sampel. Jika memang hasilnya berbeda dengan rumah sakit sebelumnya, berarti ada yang ingin bermain-main denganku.Setelah mengurus administrasi dan memberikan sampel pada pihak laboratorium, aku memutuskan untuk menjemput Raisa mengajaknya makan siang._"Videonya suamimu sudah dihapus tau, padahal rame banget

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 34

    "Kok nggak diangkat, Ma?" tanya Anna. "Dari Papa." "Angkat aja coba, Ma." Aku menuruti perintah Anna, setelah mengembuskan napas, kugeser tombol hijau di layar. "Halo, Assalamu'alaikum," ucapku. "Segala pake salam! Kamu kan, yang nyebar video itu? Sekarang, karirku hancur, Van. Puas kamu, hah?!" Aku sedikit terkejut mendengar tuduhan tak berdasar dari Mas Hanif. Meski sudah menyangka ia akan menuduhku, tapi rasanya kesal juga. "Jaga bicaramu, ya, Mas! Aku bahkan nggak sempat pegang ponsel. Kamu sendiri lihat kan, tadi ibu-ibu juga pada ngevideoin." "Kurang ajar kamu, Vania. Sekarang, Lia ngancam bunuh diri kalau aku nggak nikahin dia. Sementara aku malu, kalau binti-nya pake nama ibunya!" "Kamu benar-benar tak dewasa, Mas! Napsu terus yang kamu pikirkan! Harusnya kami berterima kasih padaku, karena tadi aku datang, belangnya Lia ketahuan. D

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 35

    BAB 35Lia segera menarik tanganku dan menjauh dari Kikan. Melihat wajahnya yang begitu panik, membuatku semakin yakin, kalau Kikan bukan lah anak kandung Mas Hanif. Aku tersenyum miring, ternyata ini kelemahanmu. Kuambil ponsel dari tas saat Lia menghampiri Kikan yang ngambek. Kupilih perekam suara, dan menyalakannya. Tepat saat itu, Lia datang sambil melipat tangannya di depan dada. "Apa maksudmu ngomong kaya gitu sama Kikan?" tanya Lia. "Apa? Aku hanya bilang ayah kandungnya. Bukankah itu Mas Hanif, tapi kenapa kamu panik gitu? Atau, jangan-jangan, kamu merahasiakan sesuatu darinya?" "Me-merahasiakan apa? Wah, jangan main-main deh, Van." "Ya kan aku cuma nebak aja. Siapa tahu, ayah kandungnya Kikan itu orang lain. Misalnya, Ilham, gitu," ucapku sambil tersenyum miring kepadanya. "I-Ilham? Kenapa kamu bawa-bawa dia?" tanya Vania semakin panik kala aku menyebutkan nama sahabat Ma

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 36

    BAB 36 __"Itu semua kulakukan karena aku mencintaimu, Mbak!" Dengan entengnya dia menyatakan cinta, cinta yang tak seharusnya bersemi di dalam hati lelaki dihadapanku ini. Ya, tak seharusnya Fajri jatuh cinta kepadaku. Bahkan karena cintanya yang buta itu membuatnya begitu tega kepadaku dan keponakannya sendiri. Demi cinta di hatinya, ia tega membuat anak-anakku jauh dari ayahnya. "Itu bukan cinta, Fajri. Tapi ambisi! Kamu hanya berambisi dan nafsu ingin memilikiku!" ucapku seraya menunjuk wajahnya. Fajri menyeringai, "Mbak enggak usah sok tahu soal cinta, bukankah selama duapuluh tahun Mbak enggak pernah merasakan dicintai?" Aku membuang wajah. Benar, tahu apa aku soal cinta, duapuluh tahun berumah tangga aku tak pernah dicintai. Cintaku selama ini hanya bertepuk sebelah tangan. "Sudahlah, kamu mau bicara apa? Aku enggak punya banyak waktu buat ngobrolin hal enggak penting!" Fajri menghela napas kasar. "Menikahlah denganku, Mbak. Mari kita sama-sama menghancurkan Mas Hanif,

Latest chapter

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 117

    BAB 117 | ENDING __"Masakanmu enak juga, Na!" celetuk Haikal. Anna mendengkus pelan, "heh, kamu pikir makanan yang kita makan di rumah Mama itu masakan Mama? Itu masakanku, bodoh!" Lelaki jangkung itu tergelak, "kamu kenapa suka banget sih ngomong kasar, padahal anak-anak di kelasku pada bilang kamu tuh positif vibes, lemah lembut." Mendengar ucapan mantannya itu membuat Anna memberengut kesal. "Yang tahu-tahu aja lah, lagian aku enggak peduli sama penilaian orang." "Iya juga sih, makanya kamu mau aja nerima aku yang brengsek ini. Padahal aku terkenal bad boy," sahut Haikal, mengenang saat pertama kali ia kenal dengan Anna. Gadis berambut panjang itu terkekeh, "jujur sih, aku cuma penasaran aja pacaran sama bad boy." Haikal mendelik, "jadi semua kata rindu dan cintamu itu dusta?" Mereka saling tatap, lagi jantung Anna berdebar ketika bersitatap dengan pemilik iris mata cokelat itu. "Iya, dusta." Anna memalingkan wajahnya. Haikal terkekeh, ia tahu gadis di hadapannya itu ha

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 116

    BAB 116___Anna bergeming mendengar kata rindu yang keluar dari bibir mantan kekasihnya, seandainya saat ini status mereka bukan saudara tiri, mungkin ia akan memeluk Haikal menumpahkan kerinduan yang menumpuk di hatinya. Tapi, ia harus mengubur rasa cinta dan rindu di hatinya. Rasanya tak etis, jika diantara mereka memiliki hubungan lebih dari saudara. "Waras kan, lu?" ketus Anna, seraya membuang wajah. Ia tak mau berlama-lama menatap wajah Haikal, pertahanannya bisa goyah. Haikal menyentak napas kasar, ia mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar stres karena tak lagi bisa memiliki Anna, ia juga masih memiliki rasa pada mantan kekasihnya. Meskipun ia sudah berkali-kali mencari pengganti Anna, tapi tak ada yang bisa menggantikan wanita itu di hatinya. Hanya dengan Anna, ia merasakan ketulusan. "Lu mau balapan, ya?" tanya Anna to the point. "Tahu dari mana?" "Dari Tere." Haikal mendengkus pelan, "kalau iya kenapa?" "Kamu enggak kasihan sama Mama Papa?" tanya Anna. Lelaki

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 115

    BAB 115__Vania terkejut ketika melihat anak bungsunya tergeletak di depan pintu kamar mandi. "Mas tolong!" teriak Vania, seraya menghampiri putrinya. Aldi dan Ibra yang masih berada di rumah, bergegas menghampiri Vania. Darah mengalir dari hidung Sela, membuat mereka semakin panik. "Kita ke rumah sakit aja, Ma!" ucap Ibra.Ibra mengangkat tubuh putrinya, sementara Aldi bergegas menyiapkan mobil. Dengan terburu-buru mereka pergi ke rumah sakit, bahkan tak sempat mengunci pintu. Tubuh Sela sangat panas, ada ruam merah di bagian lengan dan betis Sela. Sepanjang jalan, Aldi berusaha fokus, terlebih jalanan ibu kota di pagi hari sangatlah padat.Setelah menempuh perjalanan duapuluh menit, mereka sampai di lobby Instalasi Gawat Darurat. Mereka disambut oleh perawat dan dokter yang berjaga di bagian IGD. Ibra benar-benar cemas dengan kondisi anaknya, ia merasa bersalah karena tak punya banyak waktu untuk sang anak. Terlebih Sela jarang menghubunginya, putrinya bahkan tak pernah mereng

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 114

    BAB 114Sela memeluk Anna, ia mencurahkan kesedihan dan juga kesepian yang ia alami. "Tapi, semenjak aku tinggal di sini, aku tak lagi merasakan kesepian seperti ketika aku tinggal di rumah mama. Meskipun Papa masih sering keluar kota, tapi ada mama Vania yang setia menemaniku.""Lah itu, kita hanya perlu mengambil Sisi baiknya dan membuang Sisi buruknya dari semua kejadian yang kita alami. Sekarang kamu tidak sendirian, ada aku dan Bang Aldi serta Mama."Sela mengangguk, ia sadar selama ini telah salah karena menganggap Kakak tirinya itu sebagai saingan. Padahal mereka telah bersikap baik kepada dirinya, tapi Sela terlalu serakah. Menginginkan hal yang lebih dari apa yang ia terima. --Rima membuatkan Abangnya kopi, semalam waktu hari sampai rumah, Ia sibuk dengan Mira yang tengah sakit. "Gimana, Bang? Ketemu?" "Ada, Rim. Tapi pas sampai sana aku kaget banget ngelihat dia sudah tergeletak.""Apa? Maksudnya dibunuh?" tanya Rima."Aku nggak tahu, tapi mungkin nanti pemilik rumah ak

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 113

    BAB 113Hanif dan orang-orang melihat Lia yang tergeletak di lantai. Darah merembes ke lantai hingga sampai ke bagian tubuh Lia."Astagfirullah!"Hanif bersama pemilik rumah mengangkat tubuh dia dan memindahkannya ke tempat yang lebih bersih. Pemilik rumah memeriksa denyut nadi wanita yang tengah Hamil 3 Bulan itu."Masih ada nadinya, sebaiknya kita segera bawa ke rumah sakit.""Iya, Pak."Pemilik rumah membawa mobilnya yang berupa angkot, lalu Hanif menyetirnya. Sementara Lia di belakang bersama istri pemilik rumah.Aldi, Anna, dan Teresa segera naik ke mobil Hanif. Mereka mengikuti dari belakang hingga akhirnya sampai di rumah sakit umum yang tak jauh dari kontrakan Lia."Aku takut banget, Bang. Kita kan ke sini cuma mau menemui tante Lia, kenapa malah jadi adegan trailer begini.""Sudah, Nggak papa, An. Kita mana tahu kalau kejadiannya bakal begini."Anna dan Teresa mengangguk, Mereka pun menunggu di kantin rumah sakit bersama dengan Aldi.Tak lama kemudian, Hanif datang dan mengab

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 112

    BAB 112Malam harinya, Anna pulang ke rumah Vania untuk izin besok menemani ayahnya ke luar kota. Aldi yang mendengarnya menentang keras keinginan Anna. "Kita nggak tahu, perempuan itu di luar sana dilindungi oleh siapa. Bagaimana kalau kalian datang ke sana dan banyak preman? Papa itu nggak jago kelahi, kalau nanti kamu dan Tere diapa-apain bagaimana?""Betul itu, Nak. Mama juga khawatir kalau kamu ikut pergi Papa keluar kota, Papa Ibra pun pasti tak akan mengizinkan. Kamu ini anak perempuan, Kenapa papamu tak mengajak abang sekalian?" Anna mengangguk, Ia pun menghubungi Hanif dan mengabarkan jika Vania tak mengizinkan apabila Aldi tak diajak serta. "Papa tak mau mengajak, tapi kamu tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Abangmu."" Coba papa ngomong sendiri sama Abang, barangkali dia mau. Apalagi tadi yang paling menentang itu dia daripada Mama." Hanif merenungkan ucapan Anna sewaktu menelepon tadi, Ia pun mencari kontak Aldi dan menghubunginya. Sayangnya, telepon itu tak kunjun

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 111

    BAB 111__Anna menyadari perubahan ekspresi pada adik tirinya, ia cukup peka dengan suasana hati orang sekitarnya. Terlebih adik tirinya itu, tak bisa menyembunyikan wajah tak sukanya. "Kalian sudah makan siang?" tanya Vania."Sudah kok, Ma. Oh iya, Ma, kami masih ada yang mau dicari, kayaknya enggak bisa lama-lama di sini, Anna duluan ya!" ucap Anna seraya memberi kode pada Tere untuk beranjak. Anna mencium punggung tangan Vania. "Have fun ya sama Mama." Ia menepuk adik tirinya. Sebagai kakak, ia tak ingin egois. Terlebih ia tahu, Sela kekurangan kasih sayang dari mama kandungannya, kali ini ia memberi kesempatan pada mama dan adik tirinya untuk pendekatan. Teresa menatap sahabatnya kebingungan, "ada sesuatu ya diantara lu sama adik tiri lu?" Yang ditanya mengendikkan bahu, "gue cuma memberi ruang untuk mereka, gue sudah banyak mendapatkan kasih sayang berlimpah dari Mama, berbeda dengan Sela." "Tumben pemikiran lu dewasa, padahal waktu masalah bokap lu, udah kek reog!" cele

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 110

    BAB 110Anna dan Haikal sudah kembali ke kost-annya, rumah terasa sepi lagi karena Anna lah yang begitu banyak bicara. "Ma, Aldi kuliah dulu, ya?""Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa, hubungi Mama."Aldi mengangguk, lalu keluar melewati Sela yagng tengah duduk di ruang tamu. Dalam hati ela semakin iri dengan anak-anak Vania, karena ia tak pernah bermanja dan juga diperhatikan opleh ibu kandungnya sendiri. Vania melanjutkan pekerjaan, setelah Mbak Inah memutuskan untuk berhenti kerja karena akan menikah, Vania merasa tenang-tenang saja karena semua ada yang menghandlenya. Namun sekarang, ia sendiri kewalahan mengatur jam kerja dan juga jam bebenah rumah. Sela memperhatikan Vania yang tengah menyapu, ingin rasanya ia menawarkan bantuan, ttapi ia sendiri malu. Vania pun bukan perempuan yang tidak peka, ioa sebenarnya tahu jika Sela sedari tadi memperhatikannya. "Sela, bisa bantu Mama ngepel, Nak? Mama mau mandi dulu." "Iya, Ma." Sela yang memang sedang libur sekolah ka

  • Pelakor Yang Diundang Suamiku   BAB 109

    BAB 109__"Mama, Anna kangen!" pekik Anna ketika sampai di rumah. Anak gadis Vania itu memeluk sang mama dari belakang, Vania terkekeh dibuatnya. Ia juga merindukan sang putri, terlebih ini pertama kalinya mereka hidup terpisah dalam waktu lama. "Mama juga kangen, Sayang!" ucap Vania, seraya membalik tubuhnya. Ibu dan anak itu saling menumpahkan rindu, karena sudah lama ia tak pulang sejak tugas-tugas kuliahnya yang semakin banyak. Bahkan untuk membalas pesan mamanya pun, ia mencuri-curi waktu. "Gimana kuliahnya, lancar?'' tanya Vania. Anna mengangguk, "meskipun kepala hampir pecah, tapi aku bisa melaluinya." "Hebatnya anak Mama!" Anna membantu sang mama membersihkan sayuran, malam ini rencananya mereka akan makan bersama. "Sela mana, Ma? Kok aku enggak ada lihat dia dari tadi?" tanya Anna. "Di kamar sih tadi, dia juga lagi sibuk-sibuknya ngerjakan tugas sekolah." "Oh, gitu. Sela baik kan, sama Mama?" tanya Anna lagi. Vania mengangguk, wanita itu terdiam sejenak. Ia menghe

DMCA.com Protection Status